Asal Mula Nama Bengkulu – Cerita Rakyat Bengkulu

Tersebutlah seorang pangeran bernama Anak Dalam Muara Bengkulu. Ia putra Ratu Agung yang bertakhta di Kerajaan Serut. Ia mempunyai enam saudara. Adik bungsunya seorang perempuan bernama Putri Gading Cempaka.

Ketika Ratu Agung wafat, Anak Dalam Muara Bengkulu dinobatkan menjadi raja Serut yang baru. Anak Dalam Muara Bengkulu memerintah dengan adil dan bijaksana melanjutkan keadilan dan kebijaksanaan yang diterapkan ayahandanya. Rakyat Kerajaan Serut pun hidup dalam kedamaian, ketenangan, dan kesejahteraan. Perdagangan Kerajaan Serut maju pesat. Hasil hutan dan perkebunan Kerajaan Serut banyak dibeli para pedagang yang di antaranya berasal dari negeri- negeri yang jauh dari Kerajaan Serut.

Putri Gading Cempaka tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik wajahnya. Amat elok pula perangainya. Tidak sedikit lelaki yang mengidam- idamkan dapat hidup bersanding dengan adik bungsu Raja Anak Dalam Muara Bengkulu itu.

Syahdan, kecantikan Putri Gading Cempaka diketahui oleh seorang pangeran dari Kerajaan Aceh. Sang pangeran yang terpikat segera mengutus utusan untuk datang ke Kerajaan Serut guna meminang Putri Cempaka Gading. Namun, pinangan itu ditolak Raja Anak Dalam Muara Bengkulu dengan halus.

Penolakan itu membuat Putra Raja Aceh menjadi berang. Segenap kekuatan Kerajaan Aceh segera disiagakan. Dengan menaiki kapal-kapal perang, berangkatlah kekuatan Kerajaan Aceh untuk menyerang Kerajaan Serut.

Raja Anak Dalam Muara Bengkulu mengetahui rencana serangan itu. Ia juga merasa kekuatan Kerajaan Aceh sangat kuat, perlu baginya menerapkan siasat khusus untuk menghadapinya.

“Untuk menghambat laju gerakan danjuga mencegah kapal-kapal Kerajaan Aceh itu mendarat di wilayah Serut, maka hanyutkan batang-batang kayu di hulu sungai!” perintah Raja Anak Dalam Muara Bengkulu.

Para prajurit Kerajaan Serut pun bersiaga. Mereka menebang pepohonan dan menyiapkan batang-batang kayu di pinggir sungai di bagian hulu.

Balatentara Kerajaan Aceh akhirnya tiba. Kapal-kapal perang mereka melewati sungai siap menggempur Kerajaan Serut. Seketika dirasa telah tiba waktunya, Raja Anak Dalam Muara Bengkulu lantas memerintahkan penghanyutan batang- batang kayu dari hulu. Para prajurit danjuga penduduk bahu-membahu menghanyutkan batang-batang kayu itu untuk menghambat laju gerakan balatentara Kerajaan Aceh.

Para prajurit Kerajaan Aceh terperanjat ketika melihat banyaknya batang-batang kayu yang hanyut di sungai dari arah hulu. Mereka bekerja keras untuk menghindarkan kapal yang mereka naiki terkena batang-batang kayu. Namun demikian, tak urung kapal-kapal perang mereka terkena batang-batang kayu itu dan laju pergerakan mereka menuju pusat Kerajaan Seru menjadi terhambat. Mendapati kenyataan itu beberapa prajurit Aceh berseru, “Empang ka hulu! Empang ka hulu!”

Panglima Perang Kerajaan Aceh terus menyerukan agar menghindari dan menyingkirkan batang-batang kayu yang hanyut itu. Berkat keija keras mereka, kapal- kapal mereka akhirnya dapat melaju dan mendarat di sebuah kaki bukit. Seketika mendarat, para prajurit Aceh itu berlompatan ke daratan.

Para prajurit Serut yang telah menunggu segera menyerbu. Maka, peperangan yang dahsyat segera terjadi di bukit itu. Kedua belah pihak berperang dengan gigih. Korban-korban mulai berjatuhan dari kedua belah pihak. Namun hingga perang berlangsung beberapa saat, belum juga terlihat kekuatan mana yang lebih unggul. Tampaknya kedua kekuatan terlihat seimbang.

Tak terperikan kesedihan Raja Anak Dalam Muara Bengkulu mendapati banyaknya korban yang berjatuhan. Ia seperti tak bisa lagi menyaksikan pertumpahan darah itu. Dengan diiringi enam adiknya, kerabat kerajaan, dan juga beberapa pengikutnya yang setia, Raja Anak Dalam Muara Bengkulu bergegas menyingkir menuju Gunung Bungkuk. Mereka bertahan di tempat itu.

Perang akhirnya berhenti tanpa ada yang menang maupun kalah. Kedua kekuatan sepakat berdamai. Namun demikian Raja Anak Dalam Muara Bengkulu beserta seluruh pengikutnya tetap berada di Gunung Bungkuk.

Nama wilayah Kerajaan Serut kemudian berubah penyebutan namanya. Dari teriakan para prajurit Aceh, Empang ka hulu, nama wilayah tersebut berubah menjadi Pangkahulu. Dalam sebutan penduduk, kata Pangkahulu itu berubah kemudian menjadi Bangkahulu dan akhirnya menjadi Bengkulu.

 

PERSELISIHAN, PERKELAHIAN. DAN JUGA PEPERANGAN HANYA AKAN MERUGIKAN KEDUA BELAH PIHAK YANG TERLIBAT DI DALAMNYA. TIDAK ADA KEMENANGAN SEJATI DALAM PEPERANGAN. NAMUN KEHANCURAN PASTI AKAN DIRASAKAN.

Leave a comment