Balas Budi Si Burung Beo – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Ambo Upe adalah seorang anak petani yang hidup pada zaman dahulu. Ia sangat rajin bekerja membantu orangtuanya. Sangat patuh pula ia pada kedua orangtuanya. Sehari-hari Ambo Upe menggembalakan kerbau.

Pada suatu hari Ambo Upe kembali meng-gembalakan enam kerbaunya. Dibiarkannya kerbau-kerbaunya itu bebas merumput semen¬tara ia beristirahat di bawah pohon asam yang rindang. Mendadak seekor anak burung jatuh di dekat Ambo Upe. Anak burung itu terlihat terluka. Ambo Upe lantas mengambil anak burung itu. Dibawanya pulang ke rumah dan diberinya obat pada luka yang diderita Si anak burung. Dengan penuh kasih sayang dirawatnya anak burung itu.

Setelah beberapa saat merawat, Ambo Upe mengetahui jika anak burung yang dirawatnya itu adalah anak burung beo. Seiring kian ber-tambahnya sang waktu, burung beo itu menjadi jinak dengan Ambo Upe. Meski burung beo itu tidak dikandangkan, ia tidak juga terbang men¬jauh. Kerap ia hinggap di bahu Ambo Upe jika dilihatnya Ambo Upe tengah duduk atau beris¬tirahat. Setiap kali Ambo Upe menggembalakan kerbau-kerbaunya, tak lupa burung beo itu turut serta dengannya.

Pada suatu hari Ambo Upe tertidur ketika tengah menggembalakan kerbau-kerbaunya. Seekor ular berbisa merayap ke arah Ambo Upe. Si burung beo yang mengetahui bahaya yang mengancam Ambo Upe segera bertin¬dak. Dengan cepat dipatuknya mata ular ber¬bisa itu. Ular berbisa itu menggeliat-geliatkan tubuhnya karena kesakitan sebelum akhirnya merayap pergi. Si burung beo lantas mengepak -ngepakkan sayapnya di dekat telinga Ambo Upe hingga Ambo Upe terbangun. Seketika me-ngetahui peristiwa yang hampir membahayakan jiwanya, Ambo Upe berterima kasih kepada Si burung beo. Dielus-elusnya kepala burung beo itu seraya mengucapkan terima kasih.

Beberapa waktu kemudian terjadi musim kemarau yang berkepanjangan. Rumput-rumput di padang penggembalaan mengering. Ambo Upe lantas berniat menggembalakan kerbau- kerbaunya di pinggir hutan yang masih banyak terdapat rumput di sana. Para penggembala lain¬nya tidak berani menggembalakan hewan gem- balaan di tempat itu karena daerah itu adalah daerah rawan. Hutan itu kerap dijadikan tempat persembunyian para perampok.

Benarlah kekhawatiran para penggembala. Beberapa saat Ambo Upe membiarkan kerbau- kerbaunya merumput di tempat itu, dua peram¬pok datang dan menyergap Ambo Upe. Mere¬ka mengikat Ambo Upe di sebuah pohon dan membawa enam kerbau gembalaan Ambo Upe ke dalam hutan.

Si burung beo melihat semua kejadian itu. Ia terbang mengikuti kemana kerbau-kerbau milik Ambo Upe itu akan disembunyikan para peram¬pok. Setelah mengetahui enam ekor kerbau itu disembunyikan di dalam gua di dalam hutan, Si burung beo lantas terbang secepatnya ke rumah Ambo Upe.

Ayah Ambo Upe keheranan mendapati burung beo peliharaan anaknya itu kembali ke rumah dan mengoceh. Sama sekali ia tidak me¬ngetahui apa yang diucapkan Si burung beo. Namun, karena Si burung beo seperti hendak mengajaknya, ayah Ambo Upe akhirnya menya¬dari akan bahaya yang tengah dialami anaknya.

Bersama beberapa tetangganya, ayah Ambo Upe lantas mengikuti ke mana Si burung beo terbang. Tak lupa mereka membawa senjata untuk menghadapi hal-hal burukyang mungkin akan mereka temui. Amat terperanjatlah mereka kemudian saat mendapati Ambo Upe terikat pada batang pohon sementara enam kerbau gemba-laannya telah menghilang.

Ambo Upe lantas menceritakan kejadian yang dialaminya. Katanya, “Aku tidak tahu dibawa kemana enam kerbau gembalaanku itu setelah aku disergap dan diikat dua perampok Itu.”

Ayah Ambo Upe dan orang-orang lainnya bersepakat untuk mencari di mana dua perampok Itu berada untuk mengambil kembali kerbau- kerbau yang telah mereka rampok. Namun, me¬reka merasa bingung hendak mencari ke mana. Mendadak Si burung beo terbang di dekat Ambo Upe dan seperti memberi isyarat agar Ambo Upe mengikutinya.

Orang-orang pun akhirnya mengikuti arah terbangnya Si burung beo. Mereka memasuki hutan. Beberapa saat berjalan, mereka akhirnya menemukan sebuah gua. Secara sembunyi- sembunyi mereka mengintai. Mereka mende¬ngar suara kerbau dari dalam gua.

“Rupanya gua ini menjadi tempat persem-bunyian para perampok serta tempat untuk me-nyembunyikan barang-barang hasil rampokan mereka,” bisik ayah Ambo Upe. “Mari kita tangkap para perampok itu!”

Dengan senjata terhunus pada tangan masing-masing, orang-orang itu pun segera me-ngepung gua. Mereka bergerak hati-hati ketika memasuki gua. Mereka dapati berpuluh-puluh ekor kerbau berada di dalam gua itu. Mereka lihat pula dua perampok itu tengah tertidur di dalam dua lubang kecil dl dalam gua. Serentak mereka menangkap dua perampok Itu dan mengikat kedua tangan mereka.

Dua perampok segera mereka gelandang dan kerbau-kerbau hasil rampokan dua perampok Itu segera mereka giring keluar dari dalam gua.

Kedatangan mereka disambut suka cita pen-duduk, terutama mereka yang telah kehilangan kerbau. Kerbau-kerbau mereka telah berhasil di-temukan kembali dan dua perampok yang selama itu meresahkan warga akhirnya dapat diringkus.

Ambo Upe sama sekali tidak menyangka, Si burung beo itu dapat membalas budi begitu besar terhadapnya. Ia hanya sekali menyelamat¬kan Si burung beo, namun berulangkali burung beo itu menyelamatkan dari berbagai bahaya yang mengancam jiwanya. Sungguh-sungguh berterima kasihlah Ambo Upe kepada burung beo piaraannya itu. Ia pun berketetapan hati untuk menyayangi hewan-hewan lainnya, ka¬rena hewan pun sesungguhnya bisa membalas budi jika mendapat perlakuan yang baik. Seperti yang ditunjukkan Si burung beo piaraannya itu.

 

KITA HENDAKLAH MENYAYANGI HEWAN KARENA HEWAN JUGA MAKHLUK HIDUP CIPTAAN TUHAN. HEWAN PUN DAPAT MLMBALAS BUDI. JIKA HEWAN KITA PERLAKUKAN DENGAN BAIK. HEWAN PUN AKAN MEMPERLAKUKAN KITA DENGAN BAIK PULA.

Leave a comment