Kategori: Aceh

Beungong Meulu dan Beungong Peukeun – Cerita Rakyat Aceh
Beungong Meulu dan Beungong Peukeun – Cerita Rakyat Aceh

Beungong Peukeun dan Beungong Meulu adalah dua kakak beradik. Keduanya tinggal di Aceh pada masa lampau. Ayah dan ibu keduanya telah meninggal dunia. Beungong Peukeun dan Beungong Meulu hanya hidup berdua. Keduanya hidup rukun, saling sayang-menyayangi.

Sehari-hari Beungong Peukeun mencari udang di danau. Suatu hari ia menemukan sebutir telur ketika mencari udang. Dibawanya telur itu dan direbusnya. Beungong Peukeun memakan telur itu tanpa mengetahui telur itu telur naga. Keanehan pun dialami Beungong Peukeun. Ia merasa sangat haus. Tubuhnya berubah memanjang. Muncul sisik-sisik di tubuhnya laksana sisik ikan. Berselang sehari kemudian, Beungong Peukeun berubah menjadi seekor naga!

Tak terkirakan terkejutnya Beungong Meulu mendapati kakaknya berubah menjadi naga. Ia sangat sedih. Ia sangat menyayangkan tindakan kakaknya.

NaSi telah menjadi bubur. Semuanya telah terlanjur. Beungong Peukeun menerima nasibnya. Ia berniat mengajak adiknya untuk mengembara. Sebelum berangkat, ia berpesan, “Adikku, petiklah tiga kuntum bunga yang tumbuh di belakang gubuk kita. Bawalah dalam perjalanan kita nanti.”

Beungong Meulu menuruti perintah kakaknya. Ia bergegas memetik tiga kuntum bunga.

“Adikku, lekaslah engkau menaiki punggungku,” kata Beungong Peukeun. “Peganglah erat-erat tiga kuntum bunga itu, jangan sampai terjatuh.”

“Ya, Kak.”

Naga jelmaan Beungong Peukeun lalu membawa Beungong Meulu. Mereka melewati sungai besar. Rasa haus yang dirasakan Beungong Peukeun membuatnya meminum air sungai itu. Tandas tak tersisa air di sungai besar itu.

Mendadak muncul seekor naga besar. Ia murka karena air sungai besar diminum habis Beungong Peukeun. Ia lalu menyerang Beungong Peukeun.

Terjadi pertarungan yang sangat seru. Masing-masing berusaha mengalahkan. Tetapi pada akhirnya Beungong Peukeun keluar sebagai pemenang. Sesaat setelah Beungong Peukeun mengalahkan naga besar, Beungong Meulu terkejut mendapati sekuntum bunga yang dipegangnya menjadi layu.

Beungong Peukeun dan adiknya kembali melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba muncul seekor naga besar lainnya yang menghadang Beungong Peukeun. Tanpa berucap apa pun, naga besar itu langsung menyerang Beungong Peukeun. Dalam pertarungan yang seru, Beungong Meulu melihat sekuntum bunga yang dipegangnya menjadi layu. Ia mengerti, kakaknya akan memenangkan pertarungan itu. Benar perkiraan Beungong Meulu. Naga besar itu akhirnya kalah dalam pertarungan

Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Beungong Peukeun membawa adiknya menyeberangi lautan luas. Tanpa mereka duga dari dalam laut muncul seekor naga yang luar biasa besar. Naga raksasa. Ia lalu menyerang Beungong Peukeun. Pertarungan yang sangat seru kembali terjadi.

Di punggung kakaknya, Beungong Meulu memperhatikan sekuntum bunga yang dipegangnya. Takjuga kunjung layu bunga itu Beungong Meulu cemas dan khawatir, kakaknya akan mengalami kekalahan.

Pertarungan terus berlangsung. Kekhawatiran Beungong Meulu kembali terjadi. Kakaknya terus terdesak naga raksasa itu. Beungong Peukeun terus oertarung dengan gigih. Namun, ia akhirnya menyadari, ia akan kalah. Ia tak ingin adiknya terluka atau terbunuh jika ia kalah. Maka, Beungong peukeun melemparkan Beungong Meulu kuat-kuat cari punggungnya. Tak berapa lama setelah melemparkan adiknya, Beungong Peukeun terkena serangan naga raksasa. Beungong Peukeun mati akibat serangan naga raksasa itu.

Beungong Meulu terlemparjauh dari tengah laut. Ia akhirnya tersangkut di sebuah pohon di daratan. Ia sangat sedih mendapati kakak kandung tercinta itu mati. Air matanya bercucuran. Kini tinggal sebatang kara. Ia bertekad tidak akan tersenyum dan berbicara karena kesedihannya.

Tanah tempat Beungong Meulu terdampar itu milik seorang saudagar kaya raya. Para pekerja sang saudagar membawa Beungong Meulu menghadap sang saudagar.

“Siapa engkau ini?” tanya sang saudagar. “Mengapa pula engkau terdampar di tanah milikku?”

Beungong Meulu hanya terdiam. Wajahnya terlihat sedih.

Sang saudagar menyadari, gadis cantik di depannya itu tentu telah mengalami kejadian menyedihkan hingga ia terlihat sedih. Sang saudagar tertarik pada kecantikan dan penampilan Beungong Meulu. Ia pun mengutarakan niatnya memperistri Beungong Meulu.

Beungong Meulu menganggukkan kepala, menerima lamaran sang saudagar kaya raya, keduannya pun lantas menikah. Beungong Meulu menjadi istri sang saudagar yang telah memiliki anak itu.

Setelah menikah, sang saudagar sangat keheranan mendapati sikap istrinya. Beungong Meulu tidak pernah dilihatnya tersenyum. Tidak pernah pula didengarnya istrinya itu berbicara, padahal ia tahu, istrinya bukan bisu.

Apa yang terjadi dengan istriku?” gumam sang saudagar dalam hati. “Mengapa pula ia selalu tampak bersedih?”

Sang saudagar mencari cara untuk mengetahui penyebab keanehan sikap istrinya. Setelah merenung, ia akhirnya menemukan cara. Ia akan berpura-pura mati.

Tak terkirakan terkejutnya Beungong Meulu mendapati kematian suaminya. Ia sangat sedih. Kesedihannya kian bertambah-tambah saat melihat anak tirinya menangis tersedu-sedu di dekat tubuh suaminya yang terbujur kaku.

Beungong Meulu merasa harus menghibur. Maka katanya, “Wahai anakku, Ibu tahu betapa sedih dan kehilangan yang kita rasakan karena ditinggal orang yang kita cintai.”

Sang saudagar yang berpura-pura mati dan juga anaknya terkejut mendengar ucapan Beungong Meulu. Beungong Meulu ternyata bisa berbicara.

“Ibu pernah juga merasakannya?” tanya anak sang saudagar kaya.

Beungong Meulu menganggukkan kepala. Ia ceritakan kejadian sedih yang dialaminya. Sejak kecil ia telah ditinggal mati kedua orang tuanya. Ia hanya tinggal berdua dengan kakak lelakinya. “Untuk engkau ketahui,” kata Beungong Meulu, “Kakak lelaki Ibu itu dibunuh seekor naga di lautan. Ibu sangat sedih karenanya. Bahkan, hingga kini pun, Ibu masih merasa sedih.”

Sang saudagar akhirnya mengetahui penyebab kesedihan istrinya. Ia lalu bangun. Beungong Meulu dan anak sang saudagar terkejut, meski keduanya akhirnya merasa senang mengetahui sang saudagar ternyata masih hidup. Ia hanya berpura-pura mati.

Keesokan harinya sang saudagar mengajak Beungong Meulu ke lautan. Katanya, “Istriku, tunjukkan di mana kakak lelakimu itu dahulu dibunuh naga raksasa.”

Beungong Meulu menunjukkan tempat kakaknya bertarung melawan naga raksasa. Sang saudagar lantas mengajak Beungong Meulu menuju pantai. Terlihat tulang-tulang berserakan di pantai

itu. Sejenak mengamati dan memperhatikan, Beungong Meulu yakin, tulang-tulang itu tulang- tulang kakak kandungnya. Beungong Meulu lalu mengumpulkan tulang-tulang itu.

Sang saudagar berdoa di depan tumpukkan tulang-tulang. Ia lalu memercikkan air bunga pada tumpukkan tulang-tulang. Keajaiban terjadi. Tumpukkan tulang-tulang itu seketika berubah menjadi Beungong Peukeun!

Tak terkirakan gembiranya Beungong Meulu mendapati kakak tersayangnya kembali hidup. Begitu pula dengan Beungong Peukeun. Keduanya berpelukan, menumpahkan kerinduan masing- masing.

Beungong Meulu mengajak kakaknya untuk tinggal bersamanya. Sang saudagar mengizinkan. Sang saudagar merasa senang, karena sejak saat itu Beungong Meulu tidak lagi membisu. Tidak juga berwajah murung berbalut kesedihan.

Pada suatu Beungong Peukeun berjalan-jalan di pantai. Ia terkejut melihat seekor ikan raksasa. Warna kulitnya kemerah-merahan. Beungong Peukeur segera menghunus pedang saktinya. Bergegas ia menghampiri ikan raksasa itu. Kedatangannya! langsung disambut ikan raksasa dengan serangan ganasnya. Terjadi pertarungan yang sangat seru. I Beungong Peukeun menancapkan pedang saktinya pada tubuh ikan raksasa. Mata ikan raksasa itu j dicongkelnya dan dilemparkannya jauh-jauh.

Mata ikan raksasa melesat jauh melewat lautan. Mata ikan raksasa akhirnya tiba di halama- rumah seorang penguasa daerah itu. Seketika menyentuh tanah, mata ikan raksasa berubah menjadi gunung.

Sang penguasa daerah kebingungan dan keheranan mendapati kemunculan gunung di halaman rumahnya. Ia lalu mengumumkan sayembara. Siapa saja yang dapat memindahka gunung itu, ia akan mendapatkan hadiah yang sangat besar darinya. Orang itu akan dinikahkannya dengan anak gadisnya dan diangkatnya menjadi penggantinya.

Sayembara disebarluaskan. Tidak hanya diketahui segenap warga daerah itu, melainkan jauh warga di daerah-daerah jauh. Diketahui pula oleh Beungong Peukeun.

Beungong Peukeun bergegas menuju saerah itu. Telah banyak orang yang mencoba peruntungannya dengan mengikuti sayembara itu. Namun, tidak seorang pun yang mampu memindahkan gunung di halaman rumah sang penguasa daerah. Beungong Peukeun mengikuti sayembara. Ia tancapkan pedang saktinya pada dataran di pinggir gunung. Sejenak ia berdoa sebelum ia mencongkel gunung dengan pedang saktinya.

Keajaiban terjadi. Gunung besar itu terangkat. Beungong Peukeun mengerahkan kesaktiannya dengan melemparkan gunung itu jauh-jauh.

Sang penguasa daerah terpesona dengan kesaktian Beungong Peukeun. Ia tepati janjinya. Anak gadisnya dinikahkannya dengan Beungong Peukeun. Tak berapa lama setelah pernikahan dilangsungkan, sang penguasa daerah lalu mengangkat Beungong Peukeun menjadi penggantinya.

Beungong Peukeun hidup berbahagia. Begitu pula dengan Beungong Meulu yang hidup berbahagia bersama keluarganya. Dua saudara kandung itu sering saling mengunjungi, semakin memperkuat persaudaraan di antara keduanya dan juga kedua keluarga mereka.

PERSAUDARAAN HENDAKNYA TETAP TERJALIN KUAT. DALAM KEADAAN DAN SITUASI APA PUN JUGA.

Burek Kura – Cerita Rakyat Aceh
Burek Kura – Cerita Rakyat Aceh

Burek Kura adalah seorang pemuda miskin dengan wujud aneh. Wujudnya menyerupai kura-kura. Meski dengan wujud kura-kura, Bruek Kura dikenal selaku pemuda yang baik hati. Ia rajin bekerja membantu kedua orangtuanya. Orangtuanya sangat mencintai dan menyayangi Bruek Kura. Begitu pula halnya dengan Bruek Kura. Orang-orang yang mengenal Bruek Kura juga menghormati dan menyayangi pemuda baik hati itu tanpa mempedulikan wujud Bruek Kura yang aneh itu.

Ketika Bruek Kura telah dewasa usianya, Bruek Kura jatuh cinta pada seorang gadis berwajah cantik anak seorang saudagar kaya raya. Ia pun meminta kedua orangtuanya untuk meminang gadis yang dicintainya itu. Ibu Bruek Kura lantas menuju rumah gadis idaman anaknya. Orangtua Si gadis serta merta menolak lamaran Ibu Bruek Kura. Mereka tidak menghendaki anak gadisnya menjadi istri seorang pemuda berwujud kura- kura yang miskin itu.

Bruek Kura tidak menyerah meski lamarannya ditolak. Ia kembali meminta ibunya untuk datang ke rumah gadis idamannya. Ibu Bruek Kura terpaksa menuruti kehendak anaknya.

Orangtua Si gadis sangat kesal mendapati Ibu Bruek Kura kembali datang dan kembali mengutarakan keinginannya untuk melamar putrinya. Dengan wajah bersungut-sungut menahan kemarahannya, ayah Si gadis berujar, “Tanyakan sendiri pada anak gadisku! Apakah anak gadisku yang cantik wajahnya dan berasal dari keluarga saudagar kaya raya itu bersedia dinikahi seekor kura-kura yang miskin? Tanyakan langsung padanya!”

Ibu Bruek Kura lalu bertanya pada Si gadis, “Wahai gadis yang baik, apakah engkau bersedia menjadi istri dari anakku yang berwujud kura- kura lagi miskin itu?”

Sangat mengejutkan, Si gadis menyatakan kesediaannya!

Tak terkirakan kemarahan orangtua Si gadis ketika mendengar anak gadis mereka bersedia diperistri Bruek Kura. Ayah Si gadis berujar keras-keras, “Jika engkau tetap bersedia dinikahi kura-kura miskin itu, pergi engkau dari rumah ini!”

Si gadis tetap pada pendiriannya. Ia pun pergi dari rumah orangtuanya dan mengikuti ibu Bruek Kura. Bruek Kura dan Si gadis kemudian menikah. Mereka tinggal di sebuah gubug kecil yang dibangun Bruek Kura. Gubug kecil itu berdiri tidak jauh dari rumah mewah milik keluarga Si gadis.

Ketika malam tiba, Bruek Kura bergerak perlahan-lahan meninggalkan istrinya yang telah tertidur pulas. Bruek Kura melepaskan cangkang kura-kuranya. Berubahlah ia kemudian menjadi seorang pemuda yang gagah, bertubuh kuat, lagi sangat tampan wajahnya. Bruek Kura yang telah berubah wujud menjadi pemuda gagah lagi tampan itu kemudian pergi meninggalkan gubugnya. Ia lantas membeli aneka perhiasan indah dan juga barang-barang kebutuhan istrinya. Setibanya di gubug, Bruek Kura kembali memasuki cangkang kura-kuranya setelah meletakkan semua perhiasan dan juga kebutuhan istrinya.

Istri Bruek Kura sangat terperanjat ketika mendapati perhiasan indah dan aneka kebutuhannya berada di dekatnya. Ia tidak mengetahui siapa yang memberinya perhiasan indah dan aneka kebutuhannya itu meski ia yakin, suaminya tentu yang melakukannya. Keheranan istri Bruek Kura kian menjadi-jadi setelah hampir setiap pagi ia menemukan perhiasan indah dan juga kebutuhannya tergeletak di dekat tempatnya tertidur.

Istri Bruek Kura ingin mengetahui siapa sesungguhnya pelakunya. Maka, pada suatu malam ia berpura-pura tidur. Ia tetap berpura- pura tidur ketika Bruek Kura meninggalkan dirinya. Dengan berjingkat-jingkat ia mengintip apa yang dilakukan suaminya. Amat terperanjat istri Bruek Kura ketika melihat suaminya berubah wujud menjadi seorang pemuda yang gagah lagi sangat tampan wajahnya. Ketika suaminya pergi, istri Bruek Kura segera mengambil cangkang kura-kura yang ditinggalkan suaminya. Ia menghendaki suaminya tetap dalam wujud manusia. Maka, cangkang kura-kura itu lantas dibakarnya.

Keajaiban pun terjadi. Seketika cangkang kura-kura itu terbakar, mendadak cangkang itu berubah menjadi sebuah rumah besar yang sangat mewah. Laksana sebuah gedung istana! Mendadak muncul pula aneka hewan ternak di belakang rumah megah itu. Berjenis-jenis hewan ternak itu telah berada di dalam kandangnya masing-masing.

Ketika Bruek Kura pulang, ia terperanjat mendapati sebuah gedung mewah di dekat tempat tinggalnya. Ia juga tidak bisa menemukan kembali cangkang kura-kuranya. Berulang-ulang ia mencari, cangkang kura-kuranya itu tidakjuga diketemukannya. Sadarlah ia jika ia tidak lagi bisa menjelma menjadi kura-kura. Ia tetap menjad manusia untuk selama-lamanya.

Istri Bruek Kura amat gembira bersuamikan Bruek Kura yang ternyata lelaki gagah berwajah amat tampan. Bertambah-tambah kegembiraannya setelah mengetahui suaminya sesungguhnya seorang alim ulama yang sangat sakti. Masyarakat di sekitar tempat tinggal mereka juga sangat gembira karena di daerah mereka terdapat seorang alim ulama yang dapat menjadi tempat mereka untuk belajar agama.

Bruek Kura dan istrinya hidup berbahagia. Keduanya hidup rukun, saling sayang-menyayangi. Berlimpah-limpah kekayaan yang mereka miliki dan mereka tidak ragu-ragu untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Burek Kura dan istrinya kemudian dikenal sebagai seoasang suami istri dermawan.

Lantas, bagaimana dengan orangtua istri Bruek Kura?

Mereka benar-benar malu dan sangat menyesal. Kura-kura buruk rupa yang telah mereka tolak pinangannya dahulu ternyata adalah jelmaan seorang alim ulama yang melimpah ruah kekayaannya. Berlipat-lipat kali kekayaannya dibandingkan kekayaan mereka yang telah ternama selaku saudagar kaya raya. Mereka hanya bisa menyesali diri dan merasa malu atas perbuatan buruk mereka dahulu.

JANGAN MEMANDANG RENDAH KEPADA ORANG LAIN. KEMULIAAN DAN KEHORMATAN ORANG SESUNGGUHNYA TIDAK TERLETAK PADA KEKAYAAN YANG DIMILIKINYA. MELAINKAN PADA SIFAT DAN PERILAKUNYA YANG BAIK DAN TERPUJI.

Kisah Si Layar – Cerita Rakyat Aceh
Kisah Si Layar – Cerita Rakyat Aceh

Sebuah kerajaan di Tanah Alas pada zaman dahulu. Sang Raja memerintah dengan sifat adil dan bijaksana. Rakyat pun hidup dalam kedamaian, keamanan, serta kesejahteraan. Sang raja mempunyai seorang penasihat. Tande Wakil namanya. Apa pun juga yang disebutkan Tande Wakil, Sang Raja akan menurutinya.

Dalam kehidupannya, Sang Raja belum juga dikaruniai seorang anak pun meski telah lama berumah tangga. Kenyataan itu membuatnya kerap bersedih hati. Begitu pula dengan Sang Permaisuri. Keduanya tak putus-putusnya berdoa dan memohon agar dikaruniai anak. Hingga suatu hari Sang Raja bermimpi. Dalam impiannya itu seorang kakek datang kepadanya dan memberitahunya, hendaklah Sang Permaisuri meminum ramuan yang dibuat oleh seorang tabib yang tinggal di sebuah hutan di ujung wilayah kerajaan.

Keesokan paginya Sang Raja lantas memerintahkan para prajurit untuk mencari keberadaan Si tabib dan mengajaknya untuk datang ke istana kerajaan. Tak berapa lama kemudian tabib yang dimaksud telah datang ke istana kerajaan. Si tabib segera membuatkan ramuan setelah Sang Raja memintanya. Benar pesan Si kakek dalam impian Sang Raja, tak berapa lama setelah meminum ramuan buatan Si tabib, Permaisuri pun mengandung. Sembilan bulan kemudian Permaisuri melahirkan bayi lelaki. Sang Raja memberi nama Layar untuk anak lelakinya itu.

Begitu gembiranya hati Sang Raja dan Permaisuri setelah dikaruniai seorang anak. Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Belum juga genap sebulan usia Layar, Tande Wakil menghadap Sang Raja dan menjelaskan perihal impiannya. Kata Tande Wakil, “Hamba bermimpi, bahwa kelahiran putra Paduka itu adalah petaka sekaligus bencana besar bagi segenap rakyat! Putra Paduka itu hendaklah dibuang ke hutan agar bencana itu tidak mewujud dalam kenyataan.”

“Apakah tidak ada cara lain selain membuang putraku itu ke hutan agar bencana itu tidak mewujud?” tanya Sang Raja.

“Ampun Yang Mulia,” kata Tande Wakil. “Menurut impian hamba, satu-satunya cara untuk mencegah datangnya bencana dan petaka yang akan melanda negeri kita ini hanyalah dengan membuang putra Paduka ke hutan.”

Sang Raja pun menurut. Betapa pun ia sangat mencintai anak lelakinya itu, namun jika kehadirannya akan membawa petaka dan bencana bagi segenap rakyat yang dipimpinnya, ia pun berketetapan hati untuk membuang Layar ke hutan.

Layar yang masih bayi itu lantas dibuang ke hutan. Seekor kera sakti merawat Layar. Dalam asuhan Si kera sakti, Layar pun tumbuh membesar. Beberapa tahun kemudian Layar telah berubah menjadi seorang pemuda. Wajahnya sangat tampan. Tubuhnya kuat dan kekar. Si kera sakti mengajarinya sopan santun dan tata krama hingga Layar tumbuh menjadi pemuda yang baik hati dan mengenal sopan santun.

Pada suatu hari Layar keluar hutan. Di pinggir hutan ia berjumpa dengan seorang kakek. Setelah saling bertegur sapa, sang kakek akhirnya mengetahui siapa sesungguhnya Layar. Si kakek lantas mengajak Layar untuk kembali ke istana kerajaan.

“Ayahanda Paduka telah wafat,” kata Si kakek dalam perjalanannya menuju istana kerajaan. “Kini yang memerintah kerajaan adalah Paman Paduka. Sangat jauh pemerintahannya jika dibandingkan Ayahanda Paduka. Paman Paduka itu memerintah dengan kejam dan sewenang-wenang. Sangat mudah ia menjatuhkan hukuman, bahkan terhadap orang yang sesungguhnya tidak bersalah. Beberapa orang harus menemui kematiannya setelah dianggap berani menentang kehendak Raja. Rakyat pun hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Raja sama sekali tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat dan kejahatan pun tumbuh subur laksana jamur di musim penghujan.”

Layar sangat sedih mendengar cerita Si kakek. “Lantas, bagaimana dengan nasib Ibu?” tanyanya.

“Ibu Paduka masih hidup dan tinggal di sebuah gubug di luar istana. Setiap hari Ibu Paduka dipaksa untuk bekerja keras layaknya seorang pembantu. Kerap Ibu Paduka tidak diberi makanan karena dianggap pekerjaannya tidak baik. Bahkan, makanan untuknya pun kadang makanan yang telah basi.”

Layar kian merasa sedih. Ia berniat kuat untuk menemui pamannya dan meminta agar pamannya tidak sewenang-wenang dalam memerintah dan tidak berlaku aniaya terhadap ibunya.

Layar pun tiba di istana kerajaan. Pamannya sangat tidak suka mendapati kedatangannya. Ia khawatir, Layar meminta takhta yang seharusnya memang menjadi haknya. Raja lantas memperlakukan Layar dengan cara buruk. Layar dipaksanya untuk bekerja keras, melebihi kerja yang dilakukan pembantu. Jika Layar tidak bekerja, Layar tidak diberi makanan. Layar juga dilarang untuk bertemu dengan ibunya. Para prajurit juga diberi kewenangan oleh Sang Raja untuk memukul Layar jika Layar dianggap tidak baik dalam bekerja. Layar terpaksa menerima perlakuan buruk terhadapnya itu. Ia tidak berani melawan karena para prajurit itu kuat-kuat dan juga bersenjata.

Sang Raja telah berulangkali berusaha untuk mencelakai Layar. Secara diam-diam ia telah memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk membunuh Layar. Namun, hingga sejauh itu Layar tetap selamat.

Suatu hari Sang Raja memerintahkan seorang kepercayaannya bernama Penghulu Mude untuk membunuh Layar. Penghulu Mude lantas mengajak Layar untuk membeli kerbau. Di tengah jalan, Layar didorongnya hingga terjatuh ke jurang. Penghulu Mude lantas kembali ke istana kerajaan dan menghadap Sang Raja setelah memastikan Layar tentu akan menemui kematiannya setelah terjatuh ke jurang.

Layar terjatuh ke dalam jurang yang dalam. Namun, ia selamat karena ditolong jin baik bernama Siah Ketambe. Sama sekali ia tidak terluka dan bahkan sedikit pun kulit tubuhnya tidak lecet.

Siah Ketambe menjelaskan, bahwa jatuhnya Layar ke jurang itu karena siasat pamannya. “Pamanmu itu menghendaki engkau mati setelah terjatuh ke jurang ini,” kata Siah Ketambe.

Layar bisa membenarkan penjelasan Siah Ketambe. Berulang-ulang ia telah merasakan berbagai usaha pamannya untuk mencelakakan dirinya.

Siah Ketambe mengharapkan agar Layar mempunyai ilmu bela diri yang cukup untuk menjaga dirinya dari berbagai tindakan yang ditujukan untuk mencelakakan dirinya itu. Siah Ketambe kemudian mengajarkan ilmu bela diri kepada Layar. Layar berlatih dengan tekun. Semua ilmu yang diajarkan Siah Ketambe dapat diterimanya dengan baik. Hingga tak berapa lama kemudian Layar pun telah mengusai ilmu bela diri. Siah Ketambejuga membekali Layar dengan berbagai kesaktian lainnya. Setelah dirasa cukup, Layar diperintahkan Siah Katambe untuk kembali ke istana kerajaan. Siah Katambe memberikan pesannya kepada Layar, “Gunakan ilmu dan kesaktianmu itu baik-baik. Sebisa mungkin hindarkanlah perkelahian. Namun, jika engkau terdesak atau mendapati dirimu berada dalam bahaya, barulah engkau gunakan ilmumu itu untuk membela diri.”

Layar lantas kembali ke istana kerajaan. Kedatangannya sangat mengejutkan Sang Raja dan juga Penghulu Mude. Layar langsung menemui Penghulu Mude. Penghulu Mude mendadak menyerang Layar untuk menutupi tindakan busuknya. Namun, dengan mudah Layar berhasil mengalahkannya. Begitu pula dengan prajurit-prajurit bersenjata lengkap dibuat tak berdaya ketika mencoba melawan Layar. Ilmu bela diri dan kesaktian Layar terbukti jauh melebihi kemampuan para prajurit itu hingga akhirnya mereka pun menyatakan takluk dan bahkan balik mendukung Layar.

Sang Raja begitu terperanjat mendapati kemampuan keponakannya itu begitu luar biasa. Ia pun merasa tidak akan mampu menghadapi Layar, terlebih-lebih para prajurit yang selama itu setia padanya menjadi berbalik dengan mendukung Layar. Ia pun menemui Layar dan berujar, “Layar keponakanku. Maafkan pamanmu yang telah sangat khilaf ini. Ampuni aku. Dengan ini kuserahkan takhta yang memang sudah seharusnya engkau duduki. Sekali lagi, maafkan kesalahan pamanmu ini dan jangan engkau sakiti pamanmu yang telah renta ini.”

Layar memaafkan kesalahan pamannya. Ia juga memaafkan kesalahan Penghulu Mude karena mengetahui Penghulu Mude hanyalah menjalankan perintah pamannya. Layar memaafkan mereka yang bersalah selama mereka berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan mereka.

Setelah penyerahan kekuasaan itu, Layar akhirnya dinobatkan menjadi raja baru. Layar langsung menjemput ibunya dan mendudukkannya di sampingnya dengan penuh penghormatan. Segenap rakyat pun merasa lega karena pemangku takhta kerajaan adalah sosok yang memang seharusnya menjabat selaku raja. Mereka bertambah gembira dan berbahagia karena dalam pemerintahannya, Raja Layar menegakkan hukum dengan sebaik-baiknya. Para perusuh mulai ditangkap dan diadili. Kesejahteraan rakyat diperhatikan. Rakyat pun hidup senang dan sejahtera. Mereka berbahagia seperti kebahagiaan yang dirasakan Layar yang dapat kembali bersatu dengan ibunda tercintanya.

ORANG YANG BAIK AKAN MENDAPATKAN KEBAIKANNYA DAN ORANG YANG JAHAT JUGA AKAN MENDAPATKAN KEJAHATAN ATAS PERILAKUNYA. HAK SESEORANG AKAN KEMBALI KEPADANYA MESKI HARUS MELALUI PERIUANGAN YANG PANJANG BERLIKU-LIKU.

Legenda Sepasang Batu di Tepi Danau Air Tawar – Cerita Rakyat Aceh
Legenda Sepasang Batu di Tepi Danau Air Tawar – Cerita Rakyat Aceh

Di negeri Aceh pada zaman dahulu hiduplah seorang  gadis berwajah cantik. Si gadisamat menyayangi dan mencintai keluarganya. Begitu pula dengan keluarganya, sangat menyayangi dan mencintai Si gadis.

Kecantikan Si gadis terdengar hingga ke negeri seberang lautan. Seorang pemuda tampan yang berasal dari keluarga terhormat datang ke desa di mana Si gadis tinggal. Si pemuda mengajukan pinangannya untuk memperistri Si gadis. Si gadis tidak serta-merta menerima pinangan itu, ia harus berembuk dahulu dengan keluarganya.

“Tampaknya, ia pemuda yang baik dan bertang­gung jawab. Sikapnya santun dan bersahaja. Pantas kiranya ia menjadi suamimu,” kata ayah Si gadis.

Si gadis akhirnya menerima pinangan Si pemuda setelah keluarganya memberi restu padanya.

Pesta pernikahan pun lantas dilangsungkan. Amat meriah pesta itu. Segenap keluarga, kerabat, dan tetangga datang dengan wajah suka cita untuk menjadi saksi pernikahan Si gadis. Setelah beberapa hari tinggal di desa tempat Si gadis berada, Si pemuda pun mengajak Si gadis yang telah menjadi istrinya itu untuk kembali ke kampung halamannya di seberang lautan.

Meski telah menjadi istri Si pemuda, hati Si gadis sesungguhnya amat berat meninggalkan keluarga dan juga desa tempat tinggalnya itu. Namun ia harus mengikuti ajakan suaminya sebagai tanda kesetiaan dan baktinya pada suaminya.

Sebelum berangkat, ayah Si gadis berpesan, “Wahai anakku, tinggallah engkau baik-baik di negeri suamimu. Ingatlah pesanku, selama engkau dalam perjalanan, jangan sekali-kali engkau menoleh ke belakang! Jangan sekali-kali! Jika engkau berani melakukannya, niscaya engkau
akan menjadi batu!”

“Baiklah ayah,” ujar Si gadis menyanggupi. Si gadis dan suaminya pun segera meninggalkan desa itu untuk memulai perjalanan jauhnya menuju negeri seberang lautan. Dari desa tempat tinggalnya, Si gadis harus menembus kepekatan hutan belantara, mendaki bukit, dan menyeberangi danau Laut Tawar. Selama dalam
perjalanannya itu Si gadis tetap teguh memegang pesan ayahandanya. Sama sekali ia tidak berani menolehkan wajahnya ke arah belakang. Hingga tibalah keduanya di danau Laut Tawar. Dengan menaiki sebuah sampan, Si gadis dan suaminya menyeberangi danau Laut Tawar.

Beberapa saat sampan itu mengarungi danau Laut Tawar, Si gadis terus didera penasaran yang sangat. Ia mendengar sayup-sayup suara ibu tercintanya. Suara ibu tercintanya yang memanggil-manggilnya. Batin dan perasaan Sigadis menjadi terpecah, antara tetap menjagapesan ayahandanya untuk tidak menoleh danmenoleh untuk memenuhi panggilan ibunya.Beberapa saat kejadian itu terus berlangsung.Ternyata, panggilan ibu tercintanya itu yangakhirnya lebih dituruti Si gadis. Ia pun menolehkanwajahnya ke arah belakang.Petaka pun terjadi. Sesaat setelah Si gadismenolehkan wajahnya ke arah belakang, seketikaitu pula tubuh Si gadis berubah menjadi batu!

Tak terkirakan kesedihan suami Si gadis ketika mendapati tubuh istrinya telah berubah menjadi batu. Karena rasa cinta dan sayangnya, suami Si gadis berkehendak dapat bersama-sama dengan istrinya. Ia lantas memohon agar dirinya juga dapat berubah menjadi batu. Permohonannya pun dikabulkan. Selesai ia memohon, tubuh lelaki yang berasal dari negeri seberang itu pun berubah pula menjadi batu.

Sepasang batu itu tetap berada di pinggir danau Air Tawar. Keduanya berdekatan laksana telah berdekatannya keduanya ketika menjadi suami istri.

KITA HENDAKLAH SENANTIASA MENURUTI PESAN DAN NASIHAT ORANGTUA. MELANGGAR PESAN DAN NASIHAT ORANGTUA AKAN MERUGIKAN DIRI KITA DAN MEMBUAT KITA MENYESAL DI KEMUDIAN HARI.