Kategori: Bangka Belitung

Bujang Katak – Cerita Rakyat Bangka Belitung
Bujang Katak – Cerita Rakyat Bangka Belitung

Pada masa lampau hiduplah seorang pemuda aneh, tidak seperti kebanyakan manusia lainnya. Lehernya sangat pendek. Kulit tubuhnya tebal lagi licin, kehijau-hijauan warnanya. Ia menyerupai katak. Karena keadaan tubuhnya, warga kampung tempat Si pemuda tinggal menyebutnya Bujang Katak.

Bujang Katak tinggal berdua dengan ibu kandungnya. Ia tidak memiliki ayah. Ia lahir karena doa ibunya. Dahulu, ibunya kerap berdoa, memohon Tuhan agar dikaruniai seorang anak. Dalam doanya, ibunya menyatakan, meski anak yang dikaruniakan Tuhan itu kelak seperti katak, tetap ia akan menyayanginya. Doa itu dikabulkan Tuhan. Lahirlah seorang bayi yang menyerupai katak. Ibu Bujang Katak memenuhi ucapannya. Ia menyayangi anaknya itu sepenuh hati. Begitupun dengan Bujang Katak. Selain itu, Bujang Katak sangat patuh pada perintah ibunya. Ia juga ramah pada warga kampung. Bujang Katak ringan tangan membantu warga yang sedang membutuhkan bantuan.

Bujang Katak sangat rajin membantu ibunya bekerja di ladang. Pagi-pagi sekali ia telah bekerja. Matahari hampir tenggelam di langit barat baru ia berhenti bekerja.

Suatu hari Bujang Katak terlihat duduk melamun. Wajahnya murung. Ibunya keheranan melihatnya. Ia lalu menghampiri Bujang Katak. “Anakku,” katanya, “apa yang terjadi dengan dirimu? Apa yang engkau pikirkan hingga wajahmu murung seperti itu?”

Bujang Katak menjelaskan penyebab kemurungannya. Ia merasa telah dewasa. Sudah waktunya baginya menikah.

Ibu Bujang Katak senang mendengar keinginan anaknya. “Katakan pada Ibumu, gadis mana yang ingin engkau nikahi, Anakku.”

Ibu Bujang Katak sangat terkejut ketika Bujang Katak mengutarakan niatnya, “Aku ingin menikah dengan putri Raja, Bu.”

Untuk beberapa saat Ibu Bujang Katak hanya bisa terdiam. Sama sekali ia tidak menyangka anaknya berkeinginan seperti itu.

“Raja memiliki tujuh putri,” kata Bujang Katak. “Semuanya cantik jelita wajahnya. Maukah Ibu melamarkan salah seorang putri Raja itu untukku?”

Sesungguhnya Ibu Bujang Katak takut dan ragu-ragu memenuhi permintaan anaknya. Namun, ia akan memberanikan diri. Selain ia sangat menyayangi anaknya, ia juga mengenal sifat Sang Raja yang adil dan bijaksana. Siapa tahu Sang Raja berkenan menerima pinangannya.

Keesokan harinya Ibu Bujang Katak menuju istana. Ia menghadap Sang Raja dan mengutarakan maksud kedatangannya.

Sang Raja benar-benar terkejut. Ia mengetahui siapa Bujang Katak dan kehidupannya. Sangat bertolak belakang dengan keadaan dirinya. Namun, Sang Raja tidak serta merta langsung menolak lamaran itu. Ia memanggil tujuh putrinya. Katanya, “Wahai putri-putriku, ibu ini datang melamar untuk anak lelakinya. Apakah salah seorang dari kalian ada yang bersedia menikah dengan Bujang Katak?”

Enam putri Sang Raja serempak menggelengkan kepala. Tegas mereka katakan, mereka tidak sudi menikah dengan lelaki miskin berwajah seperti katak itu. Dalam hati, Sang Raja puas mendengar jawaban putri-putrinya. Namun, Sang Raja terkejut mendapati putri bungsunya masih tetap tinggal. Bertambah-tambah keterkejutannya saat melihat putri bungsunya itu mendekati Ibu Bujang Katak.

“Ibu yang baik,” kata putri bungsu Sang Raja, “kini pulanglah. Katakan kepada putramu itu untuk datang sendiri melamarku.”

“Wahai putri bungsuku,” seru Sang Raja. Wajahnya terlihat cemas. “Apakah engkau sungguh- sungguh ingin menerima pinangan Bujang Katak? Aku sekedar mengingatkan, sosok Bujang Katak itu menyerupai katak, Anakku. Ia juga hanya pemuda miskin.”

Sang Raja sangat khawatir jika putri bungsunya menikah dengan Bujang Katak. Selain paling cantik wajahnya, di antara tujuh putrinya, putri bungsunya itu juga cerdas serta bijaksana sifatnya. Sang Raja paling menyayanginya. Sang Raja tidak rela jika Bujang Katak memperistri putri kesayangannya itu.

Putri bungsu Sang Raja tegas menjawab, “Ayahanda Raja, hamba mendengar Bujang Katak itu seorang lelaki yang baik. Hamba ingin menikah dengan lelaki yang baik.”

Jawaban putri bungsu melegakan Ibu Bujang Katak. Ia bergegas kembali ke rumahnya untuk memberitahukan kabar gembira itu kepada anak semata wayangnya.

Keesokan harinya Bujang Katak datang ke istana. Ia langsung menghadap Sang Raja. Seperti permintaan putri bungsu Sang Raja, ia datang untuk melamar putri bungsu.

“Bujang Katak, lamaranmu kuterima, jika engkau sanggup memenuhi syarat yang kuajukan,” kata Sang Raja.

“Ampun Tuanku Raja, syarat apakah yang Paduka kehendaki?”

“Buatlah sebuah jembatan emas yang menghubungkan istana ini dengan desa kediamanmu,” kata Sang Raja. “Jembatan emas itu akan kugunakan untuk menengok putriku nanti di desamu. Dengan demikian aku tidak perlu menaiki sampan untuk menyeberangi sungai besar pemisah istana ini dengan desamu.”

Syarat yang diajukan Sang Raja itu sangat berat. Sengaja Sang Raja meminta syarat yang sangat berat itu untuk menolak lamaran Bujang Katak secara halus. Bagaimana bisa Bujang Katak yang miskin itu membuat jembatan emas?

“Bagaimana Bujang Katak? Apakah engkau sanggup memenuhi syarat yang kuajukan?”

“Hamba akan berusaha untuk memenuhinya, Tuanku Raja,” tegas jawab Bujang Katak.

“Baiklah. Kuberikan waktu seminggu untuk mewujudkan jembatan emas itu. Jika dalam waktu seminggu engkau bisa membuat jembatan emas itu, engkau kuperkenankan menikahi putri bungsuku.”

Bujang Katak kembali ke rumahnya. Kepada ibunya, ia menceritakan syarat yang diajukan Sang Raja sebelum memperkenankannya menikahi putri bungsunya.

Ibu Bujang Katak terkejut. Ia merasa, anaknya tidak mungkin bisa memenuhi syarat Sang Raja. “Kita ini hanya keluarga miskin,” ujar Ibu Bujang Katak. “Untuk membeli sepotong kecil emas pun kita tidak mampu. Apalagi untuk membangun jembatan!”

Bujang Katak tersenyum. Jawabnya, “Ibu, aku akan berdoa dan memohon kepada Tuhan. Sungguh, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.”

Pada malam harinya Bujang Katak memenuhi niatnya. Semalaman ia khusyuk berdoa. Tidak putus- putusnya ia memohon agar Tuhan menolongnya. Ia yakin, Tuhan akan menolongnya.

Pagi datang. Bujang Katak bersiap ke ladang. Seperti kebiasaannya, sebelum berangkat ia mandi terlebih dulu. Pagi itu Bujang Katak merasakan kejaiban ketika sedang mandi. Setiap kali ia mengguyurkan air ke tubuhnya, kulit tubuhnya yang tebal berwarna kehijauan itu terkelupas karenanya. Kulit-kulitnya menumpuk setelah semuanya terkelupas. Kulit tubuh Bujang Katak menjadi kecokelatan, seperti warna kulit kebanyakan manusia.

Selesai mandi, Bujang Katak bercermin. Ia terperanjat melihat sosok yang dilihatnya di dalam cermin. Seorang pemuda yang sangat tampan. Bujang Katak seperti tak percaya jika dirinya telah berubah menjadi pemuda berwajah sangat tampan seperti itu.

Ibu Bujang Katak pun tak kalah terkejutnya ketika melihat Bujang Katak. Ia seperti tak percaya dengan pandangannya sendiri melihat anak semata wayangnya itu berubah seperti itu.

Keajaiban kembali terjadi. Kelupasan kulit tubuh Bujang Katak yang menumpuk itu berubah menjadi emas! Tak terkirakan syukurnya Bujang Katak melihat kejaiban itu. Keyakinannya terwujud, Tuhan menolongnya.

“Ibu,” kata Bujang Katak sambil menunjukkan tumpukkan emas. “Doakan agar aku bisa memenuhi syarat Sang Raja. Dengan emas ini, aku akan membuat jembatan penghubung desa kita dan istana.”

Ibu Bujang Katak memberikan doa dan restunya.

Bujang Katak bekerja keras. Siang malam ia bekerja mewujudkan syarat yang diajukan Sang Raja. Apalagi, Sang Raja hanya memberinya waktu seminggu.

Seminggu sejak menghadap, Ibu Bujang Katak dan Bujang Katak kembali menghadap Sang Raja. Sang Raja terkejut melihat Bujang Katak yang telah berubah menjadi pemuda berwajah sangat tampan.

“Apa yang terjadi denganmu, Bujang Katak?” tanya Sang Raja.

Bujang Katak dengan jujur menceritakan kejadian yang dialaminya.

Sang Raja mengangguk-anggukkan kepala. Lalu katanya, “Bagaimana dengan syarat yang kuajukan? Apakah engkau telah menyelesaikannya?”

“Hamba telah membuat jembatan emas itu, Tuanku Raja,” jawab Bujang Katak.

Sang Raja, Permaisuri, tujuh putri Sang Raja, dan para hulubang istana ialu keluar dari istana. Mereka ingin melihat jembatan emas yang dibangun Bujang Katak.

Terbelalaklah mereka ketika melihat jembatan emas buatan Bujang Katak. Terbentang panjang dari istana hingga desa tempat tinggal Bujang Katak. Jembatan itu nampak sangat indah, berkilau- kilauan ketika tertimpa sinar matahari. Semuanya kagum ketika melihatnya.

Tidak ada lagi alasan bagi Sang Raja untuk menolak lamaran Bujang Katak pada putri bungsunya. Syarat yang sangat berat itu telah dipenuhi Bujang Katak. Apalagi, Bujang Katak telah berubah menjadi pemuda yang sangat tampan wajahnya.

Putri bungsu Sang Raja berbahagia. Pilihannya tidak salah. Keikhlasannya menerima lamaran Bujang Katak berbuah kebahagiaan padanya. Calon suaminya itu tidak hanya sangat tampan wajahnya, melainkan juga pekerja keras. Bujang Katak telah menunjukkan kerja kerasnya demi mewujudkan keinginannya untuk memperistrinya.

Pernikahan Bujang Katak dan putri bungsu Sang Raja dilangsungkan secara meriah. Para undangan terpesona melihat kecantikan dan ketampanan sepasang pengantin kerajaan itu. Mereka turut berbahagia seperti kebahagiaan yang dirasakan Bujang Katak dan putri bungsu Sang Raja. Pesta perayaan pernikahan dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam.

Bagaimana dengan enam putri Sang Raja lainnya?

Enam putri Sang Raja itu merasa iri dengan kebahagiaan adik bungsu mereka. Mereka menyesal menolak pinangan Bujang Katak. Setelah pesta perayaan pernikahan itu usai dilaksanakan, mereka lalu memerintahkan para prajurit untuk menangkap katak sawah. Enam katak sawah ditangkap. Masing- masing putri Sang Raja menyimpan katak-katak itu di dalam lemari dalam kamar mereka. Enam putri Sang Raja itu berharap katak-katak itu akan berubah menjadi manusia setampan dan sesakti Bujang Katak.

Seminggu kemudian mereka membuka lemari penyimpan katak. Tidak mereka dapati sosok tampan seperti Bujang Katak, melainkan katak-katak yang telah mati karena tidak diberikan makanan. Bau bangkai katak menyebar hingga Sang Raja dan segenap warga istana muntah- muntah karena mencium bau busuknya.

Sang Raja memerintahkan enam putrinya membersihkan kamar masing-masing.

Bujang Katak dan istrinya hidup berbahagia. Kebahagiaan mereka bertambah setelah Sang Raja mengangkat Bujang Katak menjadi penggantinya. Sebagai raja, Bujang Katak memerintah dengan adil dan bijaksana. Rakyat menghormati dan mencintainya.

 

JANGAN SEKALI-KALI MENILAI SESEORANG DARI PENAMPILAN FISIKNYA. SESEORANG YANG BEKERJA KERAS DENGAN IRINGAN RESTU ORANG TUA SERTA BERDOA KEPADA TUHAN AKAN MENUAI KEBERHASILAN DI KEMUDIAN HARI.

Paga – Cerita Rakyat Bangka Belitung
Paga – Cerita Rakyat Bangka Belitung

Paga adalah seorang pemuda yang hidup pada zaman dahulu. Tubuhnya terbilang kecil namun keberaniannya sangat mengagumkan. Pada suatu hari ia datang ke desa Penyak di Pulau Bangka. Ia merasa betah tinggal di desa itu hingga akhirnya memutuskan untuk menetap, walau sesungguhnya keamanan desa Penyak tidaklah terlalu baik. Kerap kali terjadi perampokan dan penjarahan di desa Penyak. Yang mengherankan, para perampok dan penjarah itu langsung menghilang setelah melakukan akSi jahat mereka. Warga desa tidak mengetahui dari mana para perampok itu berasal dan kemana pula mereka pergi. Para perampok itu seperti hilang ditelan bumi setelah melakukan akSi jahatnya.

Di desa Penyak itu juga terdapat hutan yang terkenal angker. Tidak pernah ada penduduk desa Penyak yang berani memasuki hutan. Menurut mereka, hutan itu dihuni oleh hantu, jin, setan, dan dedemit yang sangat menyeramkan. Mereka percaya, siapa pun juga yang nekat memasuki hutan itu akan berakhir dengan kematiannya karena dimangsa makhluk-makhluk gaib yang menyeramkan itu.

Warga desa Penyak secara turun-temurun memang tidak berani memasuki hutan angker itu. Namun, tidak bagi Paga!

Paga tidak hanya berniat memasuki hutan angker itu melainkan juga hendak membuka hutan untuk dijadikannya lahan garapan bercocok tanam. Beberapa warga desa yang mengetahui rencana Paga itu mencoba menasihati agar Paga mengurungkan niatnya. Saran mereka, “Paga, daripada engkau mati konyol di dalam hutan angker itu, sebaiknya engkau urungkan saja niatmu. Masih banyak lahan di desa Penyak ini yang dapat engkau garap.”

Namun, Paga bersikeras untuk tetap memasuki hutan angker itu. Warga desa Penyak akhirnya membiarkan Paga untuk mewujudkan rencananya.

Sesungguhnya Paga tidak asal nekat. Beberapa minggu sebelumnya, Paga memergoki beberapa orang asing memasuki hutan angker itu secara sembunyi-sembunyi. Paga mengetahui, mereka bukan warga desa Penyak. Mungkinkah mereka berhubungan dengan para perampok dan penjarah yang sangat meresahkan warga desa Penyak selama itu?

Paga sangat penasaran. Ia yakin, orang-orang asing yang memasuki hutan angker secara diam- diam itu berhubungan dengan para perampok yang sangat meresahkan warga desa Penyak.

Dengan membawa peralatan kerja, Paga mulai memasuki hutan angker. Dari pinggir hutan hingga memasuki hutan, Paga tidak menemukan hal- hal yang mencurigakan. Tidak pula ia dihadang aneka makhluk gaib menyeramkan seperti yang dituturkan warga desa Penyak. Yang ditemuinya adalah kelebatan hutan dan aneka hewan hutan yang berlarian dan beterbangan ketika berjumpa dengannya.

Di tempat yang dirasanya cocok, Paga mulai menebang pohon-pohon. Ia hendak berladang di tempat itu. Sejak pagi hingga sore hari Paga bekerja keras menebang pohon dan membersihkan tempat itu. Jika malam tiba, Paga tidur di atas dahan pohon besar. Berminggu-minggu Paga bekerja seorang diri hingga lahan untuknya bercocok tanam akhirnya jadi dan siap untuk ditanami.

Ketika Paga tengah sibuk menyiapkan lahan garapannya di hutan angker, warga desa dikejutkan dengan adanya berita menghebohkan. Para perompak ganas akan berakSi di desa Penyak. Mereka tidak hanya akan mengambil dan merampas harta benda yang dimiliki warga desa, melainkan juga akan menculik dan memaksa warga untuk dijadikan budak belian.

Warga desa Penyak segera mengungSi ke tempat yang aman. Mereka pergi berbondong- bondong meninggalkan desa seraya membawa harta benda yang dapat mereka bawa. Hewan- hewan ternak milik warga turut pula diungsikan.

Berita itu ternyata benar adanya. Beberapa waktu setelah semua warga desa Penyak mengungsi, para perompak ganas tiba di desa Penyak. Mereka dipimpin Si Biru, kepala perompak yang terkenal kejam dan sangat ditakuti. Amat terperanjat mereka mendapati keadaan desa Penyak yang sepi tiada penghuni laksana desa Penyak itu desa mati. Si Biru sangat marah. Ia pun memerintahkan kepada segenap anak buahnya untuk membakar dan menghancurkan rumah- rumah warga desa Penyak. Mereka lantas kembali ke kapal mereka dengan tangan kosong. Kapal pun segera berlayar setelah Si Biru memerintahkan untuk berangkat.

Kapal para perompok itu ternyata kemudian berlabuh tidak jauh dari desa Penyak, di bagian tersembunyi di hutan angker. Setelah menyembunyikan kapal, Si Biru dan segenap anak buahnya memasuki hutan angker yang telah mereka jadikan markas sejak lama.

Kedatangan mereka sesungguhnya diketahui Paga secara tidak sengaja. Dari tempat persembunyiannya, Paga terus mengamati dan mengikuti kemana para perompak itu menuju. Akhirnya Paga mengetahui di mana para perompak itu bermarkas yang ternyata tidak terlalu jauh dari bagian hutan yang telah dipersiapkannya untuk lahan garapan!

Setelah mengamati kekuatan para perompak, Paga segera beraksi. Ia menggertak dengan suara lantang yang sangat mengagetkan para perompak. Selaku pemimpin perompak, Si Biru lantas menghadapinya dengan pedang besar di tangan ketika melihat Paga muncul dari tempat persembunyiannya. Si Biru bahkan meminta puluhan anak buahnya itu untuk tidak membantunya setelah ia melihat tubuh Paga yang kecil itu.

Sama sekali Paga tidak gentar berhadapan dengan Si Biru dengan bersenjatakan pedang besarnya itu. Dengan tangan kosong dilayaninya serangan Si Biru. Beberapa saat pertarungan itu terjadi dan pada kesempatan yang tepat, Paga melancarkan serangan telaknya. Si Biru jatuh terjerembap terkena pukulan keras Paga yang mendarat telak di ulu hatinya. Begitu kerasnya pukulan Paga hingga pemimpin perompak ganas itu jatuh pingsan karenanya.

Beberapa orang anak buah Si Biru bergegas mengurung Paga dan beramai-ramai mereka mengeroyok pemuda bertubuh kecil namun amat pemberani itu. Paga kembali menunjukkan kemampuan bertarungnya yang luar biasa. Pukulan dan tendangan kerasnya membuat pengeroyoknya terjatuh. Paga sengaja mengarahkan jatuhnya para perompak itu ke rerimbunan rumput jelatang yang banyak tumbuh di hutan itu. Akibatnya, para perompak yang jatuh ke rerimbunan rumput jelatang merasakan kulit mereka gatal dan panas yang sangat menyiksa. Mereka berteriak-teriak kesakitan.

Para perompak yang lain merasa takut. Mereka menganggap Paga mempunyai kesaktian yang luar biasa. Mereka pun beramai-ramai meletakkan senjata mereka dan menyembah- nyembah meminta ampun kepada Paga.

Setelah mereka menyatakan bertaubat, Paga lantas menyadarkan dan menyembuhkan Si Biru serta beberapa perompak yang terluka akibat pukulan dan tendangan kerasnya. Mendapati perlakuan Paga yang baik, Si Biru akhirnya menyatakan taubat dan penyesalannya. Ia perintahkan seluruh anak buahnya untuk menghentikan perbuatanjahat mereka dan kembali meniti jalan kebaikan seperti yang disarankan Paga. Si Biru menyebut Paga sebagai pemimpin mereka dan ia siap menjalankan perintah Paga.

Paga lantas memerintahkan Si Biru dan seluruh anak buah Si Biru itu untuk membabat hutan. Mereka bergotong royong membuat lahan pertanian. Dengan kerja keras mereka, lahan pertanian pun segera tercipta. Para bekas perompak itu mulai berladang, menanam aneka tanaman pangan. Merekajuga mendirikan rumah- rumah di dekat ladang garapan mereka.

Desa Penyak berubah menjadi desa yang aman setelah para perompak itu meninggalkan pekerjaan jahat mereka. Warga desa sangat berterima kasih kepada Paga. Mereka juga sadar, aneka makhluk gaib menyeramkan yang selama itu menghuni hutan angker itu ternyata bohong. Kabar bohong itu ternyata diberitakan dan disebarluaskan oleh para perompak untuk menakut-nakuti warga desa Penyak agar markas persembunyian mereka tidak diketahui warga desa Penyak.

Paga hidup berbahagia bersama Si Biru dan puluhan bekas perompak yang kesemuanya telah dianggapnya sebagai sahabat.

 

KABAR BURUNG MEMANG KERAP MEMBINGUNGKAN DAN KADANG MALAH MENYESATKAN. OLEH KARENA ITU JANGANLAH TERLALU PERCAYA PADA KABAR BURUNG ATAU BERITA YANG BELUM TENTU AKAN KEBENARANNYA.

Cerita Putri Pinang Gading – Cerita Rakyat Bangka Belitung
Cerita Putri Pinang Gading – Cerita Rakyat Bangka Belitung

Sebuah kubok (Kumpulan beberapa rumah) yang tidak jauh letaknya dari Gunung Beluru. Kelekak Nangak nama kubok itu. Di kubok itu tinggalah sepasang suami istri. Pak Inda dan Bu Tumina namanya. Keduanya tinggal di gubug. Pekerjaan Pak Inda sehari-hari adalah bertani dengan menanam padi di ladang. Bu Tumina senantiasa membantu pekerjaan suaminya. Selain bertani, Pak Inda kadang juga mencari ikan di laut jika masih tersedia waktu senggang baginya.

Pada suatu hari Pak Inda berniat mencari ikan selepas bekerja di ladang. Ia terbiasa menggunakan bubu untuk mencari ikan. Bubu telah dipasang sebelumnya dan ia tinggal mengambil ikan-ikan yang terjebak di dalamnya.

Ketika Pak Inda berjalan di pantai, kakinya tersandung seruas batang bambu. Dipungutnya seruas batang bambu itu dan kemudian dilemparkannya ke laut agar dapat hanyut dibawa arus laut. Sejenak dilihatnya seruas batang bambu itu terapung-apung dipermainkan arus laut.

Pak Inda mendekati bubunya. Kembali ia tersandung seruas batang bambu. Dipungutnya batang bambu yang membuatnya kembali tersandung dan hendak dilemparkannya ke laut Namun, sebelum dilemparkannya, Pak Inda sempat melihat batang bambu itu. Agak terkejut ia ketika mendapati seruas batang bambu itu adaah seruas batang bambu yang membuatnya tersandung di pantai tadi. Pak Inda lantas kembali melemparkan seruas batang bambu itu ke laut. Arus laut langsung mempermainkan seruas batang bambu itu.

Pak Inda sangat gembira ketika melihat cubunya. Sangat banyak ikan yang terjebak di dalam bubunya. Dimasukkannya ikan-ikan itu ke dalam ambong2nya *(Keranjang untuk menggendong barang). Tidak cukup ternyata ambongnya untuk tempat ikan-ikan tangkapannya. Beberapa ikan lantas dicucuknya dengan rotan untuk kemudian dijinjingnya. Dengan hati senang Pak Inda lalu kembali ke rumahnya.

Di tengah perjalanannya, Pak Inda lagi-lagi tersandung. Lagi-lagi ia tersandung seruas batang bambu. Sangatlah terkejut Pak Inda saat mendapati batang bambu itu adalah batang bambu yang telah dua kali membuatnya tersandung. Sangat mengherankan, batang bambu itu bisa di darat setelah dilemparkannya ke laut tadi. Padahal, waktu itu laut tengah surut. Batang bambu itu jelas melawan arus laut hingga tiba di daratan. Pak Inda lantas memungut batang bambu itu. Tidak untuk dilemparkannya ke laut, melainkan hendak dibawanya pulang. Ia yakin, batang bambu itu bukan sembarang batang bambu. Digunakannya batang bambu itu untuk memikul ikan tangkapannya.

Sesampainya di rumah, Pak Inda menceritakan kejadian aneh yang dialaminya berkenaan dengan seruas batang bambu itu. “Tampaknya, ini bukan sembarang bambu,” kata Pak Inda seraya menyerahkan batang bambu yang digunakannya untuk memikul itu kepada istrinya. Bu Tumina seperti tidak terlalu percaya dengan keanehan batang bambu itu. Digunakannya batang bambu itu untuk penindih padi-padi yang dijemurnya agar tidak beterbangan.

Waktu terus bergulir, tibalah hari Jum’at. Selepas waktu dhuhur Pak Inda mendengar sebuah letusan yang keras membahana. Pak Inda sangat terkejut karena letusan keras itu berasal dari rumahnya. Ia tergopoh-gopoh datang ke rumahnya. Di halaman rumahnya ia melihat istrinya yang terlihat berdiri dengan wajah yang menyiratkan keheranan. Diketahuinya sumber letusan itu dari seruas batang bambu dan yang membuat keheranan Bu Tumina adalah munculnya seorang bayi perempuan dari dalam batang bambu. Kemunculan Si bayi diiringi sinar yang menyilaukan mata.

Pak Inda dan Bu Tumina lantas mengambil bayi itu sebagai anak. Bayi perempuan itu mereka beri nama Putri Pinang Gading.

Sejak Putri Pinang Gading bersama mereka, kehidupan Paklnda dan Bu Tumina kian membaik. Hasil panen padi mereka senantiasa melimpah dan ikan tangkapan Pak Inda pun bertambah banyak.

Waktu terus berlalu, bertahun-tahun kemudian telah terlewati. Putri Pinang Gading telah tumbuh menjadi remaja putri berusia limabelas tahun. Cantik wajahnya. Sigap dan cekatan sikapnya. Sejak kecil ia telah gemar memanah dan kian bertambah umurnya kian mahir ia memanah. Hampir tidak pernah meleset bidikan panahnya pada sasaran yang diincarnya. Aneka hewan buruan di hutan berhasil dipanahnya.

Sejak Putri Pinang Gading berusia remaja itu setiap tahun di Kelekak Remban terjadi musibah yang diakibatkan mengamuknya seekor burung besar. Masyarakat menyebut burung besar itu dengan Gerude. Setiap kali datang mengamuk setiap tahunnya, Gerude senantiasa menimbulkan kerusakan dan juga korban. Amukan ganas burung besar itu membuat rumah-rumah rusak dan beberapa orang harus menjadi korban untuk dimangsanya. Penduduk yang ketakutan akhirnya membangun dan memperkuat rumah mereka. Rumah-rumah mereka itu dibuat dari bilah-bilah kayu yang dijalin rapi dengan menggunakan rotan sebagai tali pengikat.

Mendengar adanya burung besar yang kerap menimbulkan kerusakan dan korban manusia itu, Putri Pinang Gading pun menuju Kelekak Remban. Dibawanya busur dan anak-anak panah. Diberinya racun pada mata anak panah untuk kemudian digunakannya untuk memanah Garude.

Putri Pinang Gading lantas bersiaga menunggu kedatangan Garude.

Burung besar yang ditunggu Putri Pinang Gading akhirnya datang. Segera ia melakukan pengrusakan pada bangunan rumah-rumah penduduk. Cakar-cakarnya yang besar lagi kuat digunakannya untuk menghancurkan rumah untuk mencari orang yang bersembunyi di dalamnya yang akan dimangsanya. Burung besar pemakan manusia itu terus menimbulkan kerusakan tanpa menyadari Putri Pinang Gading telah bersiaga dengan panah beracunnya.

Pada saat yang dianggapnya tepat, Putri Pinang Gading menarik tali busur panahnya. Anak panah beracun yang dilepaskannya melesat cepat membelah angin dan telak mengena pada tubuh Garude. Seketika itu Garude terlonjak dan kemudian jatuh ke tanah dengan menimbulkan bunyi menggemuruh. Konon, tempat jatuh berdebumnya burung besar pemangsa manusia itu lantas berubah menjadi tujuh anak sungai. Sementara anak panah beracun yang dilepaskan Putri Pinang Gading akhirnya berubah menjadi serumpun bambu.

Masyarakat Kelekak Remban bersuka cita setelah mengetahui telah tewasnya Garude di tangan Putri Pinang Gading. Mereka berterima kasih dan mengelu-elukan nama Putri Pinang Gading.

Serumpun bambu yang terjadi dari anak panah beracun yang dilepaskan Putri Pinang Gading terus tumbuh dengan baik. Beranak panak. Syahdan pada suatu hari seorang nelayan menebang bambu itu untuk membuat joran pancing. Secara tak sengaja tangannya tersayat ketika tengah memotong bambu. Si nelayan langsung jatuh dan meninggal dunia tak lama kemudian. Masyarakat akhirnya mengetahui jika bambu-bambu itu masih beracun. Masyarakat pun kemudian menamakannya bulo berantu yang kemudian berubah menjadi Buloantu sebelum akhirnya berubah menjadi Belantu.

Kini, kata Belantu itu telah berubah nama menjadi membalong.

 

KEJAHATAN. BETAPAPUN KUATNYA, AKAN DAPAT DIKALAHKAN OLEH KEBENARAN. JADILAH ORANG YANG MEMBELA KEBENARAN KARENA NAMA ORANG YANG MEMBELA KEBENARAN AKAN SENANTIASA DIKENANG ORANG.