Kategori: Banten

Kisah Telaga Warna – Cerita Rakyat Banten
Kisah Telaga Warna – Cerita Rakyat Banten

Prabu Sunarwalaya adalah seorang raja yang bertakhta di Kerajaan Kutatanggehan. Sang raja memerintah dengan adil dan bijaksana. Segenap rakyat hidup sejahtera berkecukupan. Mereka mencintai dan menghormati Prabu Sunarwalaya.

Prabu Sunarwalaya dan permaisuri telah lama menikah. Namun, keduanya belum dikaruniai seorang anak. Tak putus-putusnya mereka berdoa. Tapi, Tuhan belum mengabulkan doa permohonan mereka.

Pada suatu hari Prabu Sunarwalaya menuju hutan. Ia bermaksud bertapa. Dalam tapanya, Prabu Sunarwalaya memohon agar diberikan anak keturunan. Setelah berminggu-minggu ia bertapa, sebuah suara tanpa wujud menyapanya.

“Apa yang engkau kehendaki hingga bertapa di tengah hutan ini, wahai Prabu Sunarwalaya?”

Sang raja menjawab, “Hamba ingin memiliki anak kandung. Telah lama hamba berumahtangga, namun hamba belum dikaruniai anak.”

“Baiklah. Kini kembalilah engkau ke istana. Tak berapa lama lagi engkau akan dikaruniai anak.”

Setelah mendengar suara tanpa wujud itu sang raja mengakhiri tapanya. Ia bergegas kembali ke istana Kerajaan Kutatanggehan.

Tak berapa lama kemudian permaisuri mengandung. Tak terkirakan gembira dan bahagianya Prabu Sunarwalaya. Permohonannya telah dikabulkan Tuhan. Warga istana kerajaan yang mengetahui kejadian itu turut bergembira. Mereka berharap anak yang dikandung sang permaisuri sehat dan selamat ketika lahir. Mereka mengucapkan selamat kepada sang permaisuri danjuga mengirimkan berbagai hadiah. Berita itu terus menyebar, diketahui segenap rakyat Kerajaan Kutatanggehan. Rakyat menyambut gembira dan berharap anak Prabu Sunarwalaya kelak akan mewariSi kebaikan sifat dan perilaku sang raja.

Waktu terus berlalu. Usia kandungan sang permisuri terus membesar. Tibalah waktu yang ditunggu. Kabar dari istana membahagiakan segenap warga yang mendengarnya. Sang permaisuri melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi itu lahir selamat dan sehat, tanpa kurang suatu apa pun juga.

Prabu Sunarwalaya sangat berbahagia. Sebagai wujud kebahagiaannya, sang raja memerintahkan diadakan pesta perayaan. Tujuh hari tujuh malam pesta itu diselenggarakan. Segenap rakyat mendatangi pesta perayaan itu. Mereka bergembira menyambut kelahiran putri sang raja.

Di tengah-tengah pesta perayaan, Prabu Sunarwalaya memberikan pengumumannya, “Wahai rakyatku, aku telah menemukan nama yang pantas untuk putriku. Namanya… Putri Gilang Rukmini.”

“Hidup Putri Gilang Rukmini! Hidup Putri Gilang Rukmini! Hidup Prabu Sunarwalaya!!”

Putri Gilang Rukmini tumbuh dalam asuhan ayah dan bundanya. Ia hidup bergelimang kemewahan dan kemanjaan di dalam istana. Beberapa inang pengasuh siap mengiringi ke manapun sang putri hendak pergi. Apa pun juga keinginannya senantiasa dituruti. Tidak pernah ia mendapat penolakan. Tidak hanya warga istana, segenap rakyat mencintai dan menghormatinya.

Waktu terus berlalu. Putri Gilang Rukmini tumbuh menjadi gadis remaja. Sangat cantik wajahnya. Ia laksana mutiara cemerlang di Kerajaan Kutatanggehan. Semua rakyat mencintainya, mengelu-elukan namanya ketika bertemu.

Semua kemewahan yang diterimanya membuat Putri Gilang Rukmini menjadi putri yang buruk perangai. Sosoknya pemarah. Kemarahannya akan segera meledak jika keinginannya ditentang atau tidak dituruti. Tingkah lakunya kasar, gemar memerintah semena-mena. Ia juga terbiasa berkata- kata kasar yang tidak pantas diucapkan seorang putri raja.

Prabu Sunarwalaya dan permaisuri sesungguhnya mengetahui kelakuan putri mereka. Namun, mereka tetap menyayangi dan memanjakan Putri Gilang Rukmini. Begitu pula dengan rakyat Kerajaan Kutatanggehan. Mereka tetap menghormati dan menyayangi Putri Gilang Rukmini meski kelakuan sang putri buruk.

Ketika Putri Gilang Rukmini menjelang tujuh belas tahun usianya, rakyat Kerajaan Kutatanggehan berniat merayakan ulang tahunnya. Berbagai hadiah disiapkan rakyat. Kesemuanya hadiah yang indah lagi mewah. Berbagai perhiasan yang terbuat dari emas, berlian, intan, dan juga permata. Semuanya tulus mereka berikan untuk putri yang kecantikannya laksana bersaing dengan bidadari itu.

Prabu Sunarwalaya sangat terharu dan berterima kasih atas pemberian rakyat untuk putrinya. Sang raja berniat menjadikan semua hadiah itu menjadi sebuah kalung.

Seorang empu pembuat perhiasan ternama ditunjuk untuk mewujudkannya. Sang empu dipanggil ke istana. Kata Prabu Sunarwalaya, “Jadikan semua perhiasan ini menjadi sebuah kalung yang sangat indah. Kalung itu hendaknya terdapat hiasan menyerupai tanaman, dedaunan, bunga-bunga, danjuga buah-buahan.”

“Hamba, Tuanku Raja,” jawab sang empu.

Sang empu segera bekerja memenuhi pesanan Prabu Sunarwalaya. Semua perhiasan berharga itu dileburnya dan dibentuknya menjadi sebuah kalung. Ia bekerja penuh semangat untuk menyelesaikan kalung pesanan itu.

Sungguh, amat indah kalung itu setelah jadi. Bulir-bulir kalung dibentuk menyerupai buah dari permata di atas dedaunan yang dibuat dari lembaran emas. Rantai kalung terbuat dari emas yang bertabur berlian. Amat luar biasa indah kalung itu, pantas dikenakan putri tunggal Prabu Sunarwalaya yang ternama jelita parasnya itu.

Upacara perayaan tujuh belas tahun usia Putri Gilang Rukmini akhirnya tiba. Upacara itu digelar di alun-alun istana. Rakyat datang berduyun-duyun menghadiri upacara perayaan itu. Mereka nampak gembira. Mereka juga tak sabar melihat kalung buatan sang empu untuk hadiah Putri Gilang Rukmini. Mereka membayangkan, Putri Gilang Rukmini yang cantik jelita itu akan semakin cantik jika mengenakan kalung hadiah mereka itu.

Prabu Sunarwalaya dan permaisuri keluar dari istana. Segenap rakyat mengelu-elukan keduanya. Prabu Sunarwalaya dan permaisuri lalu duduk di kursi kehormatan yang telah disediakan.

Tak berapa lama kemudian Putri Gilang Rukmini keluar dari istana. Puluhan dayang-dayang istana mengiringinya. Sang putri mengenakan busana yang sangat indah. Ia duduk di kurSi kehormatannya tanpa membalas lambaian tangan dan suara rakyat yang mengelu-elukannya.

Prabu Sunarwalaya lalu berdiri sambil membawa kotak kayu berukir indah. Ia meminta putrinya itu untuk berdiri di depannya.

“Wahai putriku, di dalam kotak kayu ini ada hadiah istimewa untukmu. Hadiah istimewa dari seluruh rakyat Kutatanggehan untukmu. Tanda cinta dan kasih sayang mereka untukmu,” kata Prabu Sunarwalaya.

Putri Gilang Rukmini hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab ucapan ayahandanya.

Prabu Sunarwalaya membuka peti kayu berukir yang dibawanya. Dikeluarkannya kalung indah buatan sang empu. Semua rakyat takjub melihat keindahan kalung itu.

“Wahai anakku,” kata Prabu Sunarwalaya, “kalung ini hadiah dari segenap rakyat Kutatanggehan. Kenakanlah hadiah segenap rakyat ini, anakku.”

Putri Gilang Rukmini menerima dan melihat kalung itu. Bibirnya mencibir setelah sejenak memperhatikan. Katanya dengan ketus, “Aku tidak suka kalung ini, Ayahanda. Kalung yang jelek! Sangat jelek!”

Prabu Sunarwalaya terkejut mendengar ucapan anaknya. Ia mencoba bersabar, “Anakku, perhatikan baik-baik. Bukankah kalung itu sangat indah?”

“Tidak!” Putri Gilang Rukmini menggelengkan kepala. “Kalung ini sangat buruk! Tidak pantas untuk kukenakan!”

Setelah berujar, Putri Gilang Rukmini mencampakkan kalung itu ke tanah. Kalung itu putus dan berhamburan di atas tanah.

Prabu Sunarwalaya terdiam. Begitu pula dengan segenap rakyat. Mereka tidak menyangka begitu buruknya tindakan Putri Gilang Rukmini.

Dalam keheningan itu mendadak terdengar isak tangis. Permaisuri rupanya yang menangis. Ia sangat sedih mendapati kelakuan putrinya. Tangisan sang permaisuri kian menjadi-jadi. Rakyat Kutatanggehan, terutama para wanita, turut menangis. Alun-alun istana seperti dirundung duka yang datang tiba-tiba.

Keajaiban mendadak datang. Dari dalam tanah mendadak muncul air. Deras sekali air yang memancar keluar. Dengan cepat air segera menggenangi alun-alun istana itu. Prabu Sunarwalaya, sang permaisuri, Putri Gilang Rukmini, warga istana, dan segenap rakyat Kutatanggehan tetap terdiam mendapati kejadian yang sangat mengejutkan itu. Mereka tidak berusaha berlari atau meninggalkan tempat itu. Semuanya terdiam terpaku.

Dalam sekejap alun-alun Istana tenggelam. Begitu pula dengan istana kerajaan. Tempat Itu berubah menjadi sebuah telaga. Air terus memancar sangat deras hingga telaga itu terus membesar dan meluas. Semua yang ada di Kerajaan Kutatanggehan tenggelam di dalamnya.

Di kemudian hari telaga itu kerap memancarkan warna-warni dari dasarnya, terutama pada saat matahari tengah bersinar terang. Orang-orang yang melihatnya terpukau karenanya. Mereka menyangka warna-warni itu karena kalung Putri Gilang Rukminiyang berceceran. Karena keindahan warna-warninya, telaga itu pun dinamakan Telaga Warna.

KESOMBONGAN HANYA AKAN MEMBUAT PETAKA DAN MENCELAKAKAN DIRI SENDIRI DI KEMUDIAN HARI.

Legenda Cikaputria – Cerita Rakyat Banten
Legenda Cikaputria – Cerita Rakyat Banten

Hiduplah seorang putri raja pada zaman dahulu. Sang putri raja dikaruniai wajah yang sangat menawan. Amat jelita. Akan tetapi sifat dan perilakunya sangat buruk. Tidak terpuji. Merasa dirinya adalah putri seorang raja, Sang Putri sangat manja. Segala keinginannya harus dituruti. Jika tidak dituruti ia akan merajuk dan marah-marah. Sang Putri juga dikenal pemalas. Ia kerap menghabiskan waktunya untuk berhias untuk kemudian mengagumi kecantikannya sendiri. Satu sifat buruk pada diri Sang Putri yang lain adalah kesombongannya. Sang Putri merasa dirinya adalah perempuan yang sempurna, selain putri seorang raja, ia juga mempunyai wajah yang sangat cantik.

Sang Raja pernah memberikan sebuah puri yang indah untuk putrinya itu setelah putrinya itu meminta setengah memaksa. Puri itu sangat indah, terletak di kaki gunung. Selain luas lagi megah bangunannya, puri itu juga dilengkapi dengan taman yang sangat asri. Berbagai tanaman bunga ditanam di taman indah itu. Serasa untuk melengkapi keindahannya, terdapat sebuah danau di dekat puri itu.

Danau di dekat puri itu berair sangat jernih serasa dapat digunakan untuk berkaca. Jika Sang Putri berada di purinya, Sang Putri kerap mandi di danau itu. Sang Putri tidak memperkenankan siapa pun juga untuk mandi di danau berair jernih itu tanpa izinnya. Sang Putri akan meminta ayahandanya untuk menjatuhkan hukuman yang berat kepada siapa pun yang mandi di danau itu tanpa izinnya.

Pada suatu hari Sang Putri berada di purinya. Seperti biasanya, Sang Putri mandi di danau itu seorang diri. Dayang-dayangnya bahkan tidak diperkenankannya untuk mendekati danau itu. Sang Putri seperti ingin menguasai sepenuhnya danau itu sendirian, enggan berbagi dengan siapa pun juga.

Ketika Sang Putri tengah mandi, seorang perempuan tua berpakaian kumal lagi compang- camping datang ke danau itu. Entah dari mana asal si perempuan tua itu karena mendadak ia muncul ke dekat danau. Sepertinya ia ingin mandi atau mencuci muka di danau itu.

Sang Putri sangat terperanjat mendapati kedatangan Si perempuan tua berpakaian kumal itu. Ia segera mendatangi dan bertolak pinggang di hadapan Si perempuan tua. Katanya dengan wajah menyiratkan kemarahannya dan jari telunjuk kanannya teracung ke arah Si perempuan tua, “Hei perempuan tua, siapa engkau?”

Si perempuan tua terperanjat. Ia hanya terdiam, menatap keheranan pada Sang Putri.

“Mau apa engkau ke danau ini? Mau mandi?”

Si perempuan tua masih tetap terdiam. Ia seperti kebingungan dan keheranan mendengar sergahan Sang Putri.

“Hei perempuan tua! Tulikah telingamu hingga tidak mendengar pertanyaanku?” kedua mata Sang Putri melotot ke arah Si perempuan tua. “Atau jangan-jangan engkau buta pula hingga tidak bisa melihat jika danau ini milik pribadiku? Danau ini hanya khusus untukku, putri raja, bukan untuk perempuan tua dekil seperti engkau ini!”.

Si perempuan tua tetap terdiam. Bibirnya tampak gemetar seperti berat baginya untuk menahan kemarahan.

Mendapati Si perempuan tua tetap terdiam dan juga tidak beranjak pergi, Sang Putri kembali menyergah dengan kasar, “Perempuan dekil, lekas engkau pergi menjauh dari danau ini! Pergi! Air di danau yang sangat jernih ini akan kotor terkena tubuhmu yang dekil lagi berbau itu!”

“Betapa sombongnya engkau ini,” akhirnya berkata pula Si perempuan tua.

“Apa katamu?” Sang Putri langsung menyela. “Lancang sekali mulutmu! Apakah engkau itu tidak mengetahui dengan siapa engkau ini tengah berhadapan?”

“Aku tahu, aku tengah berhadapan dengan seorang putri raja,” jawab Si perempuan tua. “Namun, apakah karena engkau seorang putri raja lantas engkau dapat sewenang-wenang dengan orang lain?”

“Apa pedulimu?” Sang Putri bertambah marah. “Aku putri raja, aku bebas berbuat apa pun yang aku suka, termasuk mengusirmu! Pergi engkau hei perempuan dekil buruk rupa!”

“Engkau memang putri raja, namun tidak seharusnya putri raja bebas bertindak sewenang- wenang! Tidak seharusnya putri raja bebas mengumbar ucapan kesombongannya! Meski putri raja, engkau sesungguhnya tetaplah manusia adanya. Ucapan kasar lagi sombongmu itu tidak pantas keluar dari mulut manusia. Ucapanmu sungguh-sungguh berbisa dan hanya ular hitam berbisa saja yang bermulut seperti itu!”

Seketika Si perempuan tua selesai berujar terjadilah keajaiban. Langit mendadak berubah menjadi gelap. Mendung tebal bergulung-gulung, sangat menakutkan untuk dilihat. Tiba-tiba cahaya menyilaukan mata menerangi kegelapan langit yang kemudian disusul dengan suara petir yang sangat menggelegar. Petir mengerikan dari langit seakan ditujukan pada tubuh Sang Putri. Seketika tubuh putri raja itu terkena petir, berubahlah wujudnya. Ia tidak lagi bewujud seorang perempuan yang sangat cantik wajahnya, melainkan seekor ular hitam berbisa!

Sang putri raja terkutuk menjadi seekor ular berbisa karena kesombongannya!

Ular hitam berbisa jelmaan putri raja terlihat sangat sedih. Air matanya bercucuran. Air mata penyesalan. Mulutnya terlihat bergerak-gerak dan suaranya yang mendesis seolah-olah meminta maaf atas perlakuan buruknya terhadap Si perempuan tua. Namun, airmata dan penyesalannya hanya tinggal airmata dan penyesalan semata-mata karena wujud sang putri raja tetap berwujud seekor ular hitam berbisa.

Dari langit tiba-tiba terdengar suara yang tertuju pada ular hitam berbisa jelmaan sang putri raja, “Karena kesombonganmu, engkau memang tidak pantas menjadi manusia. Engkau hanya pantas menjadi seekor ular berbisa untuk selama-lamanya!”

Kutukan telah jatuh dan tetap untuk sang putri raja.

Meski menggunung penyesalannya, tetaplah sang putri raja berwujud ular hitam berbisa. Wujudnya tidak bisa lagi kembali seperti semula. Dengan airmata yang terus mengucur, ular hitam berbisa itu memasuki danau. Ia sangat malu hingga harus bersembunyi di dasar danau. Ia menemukan sebuah batu besar berongga di dasar danau yang dapat digunakannya menjadi tempat persembunyian baginya.

Terkenanya sang putri raja oleh kutukan hingga berubah wujudnya menjadi ular hitam berbisa diketahui para penduduk yang berdiam di sekitar danau itu. Mereka lantas menamakan danau itu dengan Cikaputria yang berarti danau tempat sang putri mandi.

 

HENDAKLAH KITA MENJAUHI SIFAT SOMBONG KARENA KESOMBONGAN AKAN MERUGIKAN DAN MERUNTUHKAN KITA DI KEMUDIAN HARI.

Legenda Tanjung Lesung – Cerita Rakyat Banten
Legenda Tanjung Lesung – Cerita Rakyat Banten

Hiduplah seorang pengembara bernama Raden Budog. Ia dipercaya berasal dari laut Selatan. Suatu ketika Raden Budog bermimpi bertemu dengan seorang gadis. Sangat cantik wajah gadis itu. Raden Budog sangat terpesona dan langsung jatuh hati. Ia lalu memutuskan untuk kembali mengembara untuk mencari keberadaan Si gadis berwajah sangat jelita itu.

Dengan menunggangi kuda kesayangannya, Raden Budog menuju arah utara. Anjing miliknya turut pula menemani kepergiannya. Mereka terus menuju arah utara hingga tiba di Gunung Walang. Di tempat itu pelana Raden Budog robek hingga ia tidak lagi menunggung kuda. Raden Budog menuntun kudanya dan anjingnya tetap setia menemani pengembaraan Raden Budog. Mereka akhirnya tiba di pantai Cawar. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Raden Budog berniat mandi di pantai yang indah itu.

Setelah puas mandi dan membersihkan dirinya, Raden Budog berniat melanjutkan perjalanannya kembali. Diajaknya kuda dan anjingnya itu untuk kembali berjalan. Namun, dua hewan yang biasanya sangat setia kepadanya itu seperti enggan meninggalkan pantai Cawar. Keduanya hanya terdiam dan tidak menuruti perintah Raden Budog. Setelah berulang-ulang ajakannya tidak dipatuhi kuda dan anjingnya, Raden Budog pun menjadi marah. Dikutuknya dua hewan itu menjadi batu karang.

Kutukan Raden Budog mewujud dalam kenyataan. Kuda dan anjing itu menjadi batu karang yang diam membisu di pantai Cawar.

Raden Budog meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki. Dilewatinya berbagai hambatan dan rintangan yang ditemuinya di tengah perjalanan. Tibalah ia kemudian di sebuah desa setelah melewati sungai yang meluap airnya karena banjir.

Syahdan, di desa yang didatangi Raden Budog itu berdiam seorang janda bernama Nyi Siti. Ia mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik jelita wajahnya. Sri Poh Haci namanya.

Sri Poh Haci setiap hari menumbuk padi dengan menggunakan antan dan lesung. Antan itu dipukulkannya ke lesung hingga menghasilkan irama tertentu yang terdengar merdu di telinga. Tindakan Sri Poh Haci itu mengundang anak- anak perempuan lain untuk meniru tindakannya. Mereka beramai-ramai menumbuk padi dengan cara seperti yang dilakukan Sri Poh Haci. Anak- anak perempuan itu biasanya meminta Sri Poh Haci memimpin hingga akhirnya tercipta sebuah permainan menyenangkan yang mereka beri nama ngagondang. Warga desa sangat menggemari permainan itu. Sebelum mereka menanam padi, mereka mendahuluinya dengan permainan ngagondang terlebih dahulu. Namun demikian mereka mempunyai pantangan, yaitu tidak bermain ngagondang pada hari Jum’at.

Ketika Raden Budog tiba di desa itu kebetulan permainan ngagondang tengah dilakukan. Raden Budog sangat tertarik ketika mendengarnya. Ia pun datang mendekat. Terbelalaklah ia ketika melihat salah seorang pemukul lesung itu. Wajahnya sangat mirip dengan wajah perempuan yang dilihatnya dalam impiannya. Perempuan itu tidak lain Sri Poh Haci adanya.

Raden Budog lantas mendatangi rumah Sri Poh Haci dan berkenalan dengan perempuan berwajah cantik jelita itu. Diungkapkannya cintanya pada Sri Poh Haci. Ketika Sri Poh Haci juga menyatakan cinta pada Raden Budog, Raden Budog lalu mendatangi Nyi Siti untuk melamar Sri Poh Haci.

Raden Budog dan Sri Poh Haci menikah. Pernikahan mereka dilangsungkan secara sederhana. Segenap warga desa datang menghadiri dan turut bergembira atas berlangsungnya pernikahan itu. Raden Budog kemudian tinggal di desa itu.

Setelah menikah, Sri Poh Haci tetap memimpin ngagondang. Suaminya tidak hanya memperbolehkannya, melainkan turut pula dalam permainan memukul antan pada lesung secara berirama itu. Bahkan, Raden Budog sangat menggemari permainan tersebut hingga ia serasa tidak mengenal waktu untuk memainkannya. Serasa setiap saat ia asyik ngagondang. Ia tetap nekat bermain meski istri, mertua, maupun orang-orang lain telah mengingatkannya. Telinganya seperti telah tersumbat hingga tidak mendengarkan peringatan orang lain.

Raden Budog benar-benar keras kepala, sulit untuk dinasihati.

Ketika hari Jum’at tiba, Sri Poh Haci mengingatkan suaminya, “Suamiku, hari Jum’at adalah hari yang dikeramatkan warga desa. Sebaiknya engkau tidak ngagondang dahulu.”

Raden Budog hanya terdiam, meski keinginannya untuk memainkan alu pada lesung untuk menimbulkan irama tidak bisa dicegahnya.

Nyi Siti khawatir juga pada menantunya itu. Nyi Siti juga mengingatkan Raden Budog untuk tidak ngagondang pada hari Jum’at itu. Bahkan, sesepuh desa turut pula mengingatkan Raden Budog. “Hendaklah engkau menghormati adat dan juga pantangan yang berlaku di desa kita ini. Engkau boleh ngagondang pada hari-hari lain, namun jangan engkau lakukan pada hari Jum’at. Hari Jum’at adalah hari pantangan bagi warga desa untuk ngagondang. Semoga menjadi pantangan pula bagimu untuk bermain ngagondang pada hari Jum’at ini.”

Meski telah banyak orang yang mengingat-kannya, Raden Budog ternyata tetap bersikeras untuk ngagondang. Peringatan istri, mertua, dan bahkan sesepuh desa sama sekali tidak dianggapnya. Baginya, tidak ada pantangan baginya untuk memuaskan kesenangannya memainkan antan pada lesung. Hari apa pun adalah hari bebas baginya untuk ngagondang.

Hari Jum’at itu Raden Budog tetap ngagondang. Ia tidak peduli meski hanya bermain sendirian. Ia bahkan kian bersemangat dengan melompat-lompat ketika memukulkan antan pada lesung. Ia berharap orang-orang akan datang dan turut bermain bersamanya. Orang-orang hanya memandangnya dengan keheranan dan Raden Budog terus bertambah semangatnya untuk bermain. Ia meloncat ke sana dan ke sini ketika bermain. Wajahnya begitu gembira seolah sangat puas dapat bermain ngagondang pada hari Jum’at yang dikeramatkan itu.

Keanehan pun terjadi…

Anak-anak desa berdatangan ke tempat Raden Budog bermain ngagondang. Mereka sangat terheran-heran melihat pemandangan aneh yang terjadi di hadapan mereka. Dalam pandangan mereka, bukan Raden Budog yang tengah bermain ngagondang, melainkan seekor lutung (Kera hitam berekor panjang)!

“Ada lutung bermain lesung! Ada lutung bermain lesung!” teriak anak-anak itu seraya menunjuk-nunjuk.

Raden Budog yang tidak menyadari jika dirinya telah berubah menjadi lutung terus memainkan antan pada lesung. Kian bersemangat ia bermain karena menyangka anak-anak itu terpesona pada permainannya.

Kejadian mengherankan itu cepat menyebar. Warga desa berdatangan ke tempat Raden Budog tengah bermain ngagondang itu. Benar-benar mereka terheran-heran mendapati seekor lutung tengah bermain lesung seraya melompat-lompat penuh suka cita.

“Ada lutung bermain lesung! Ada lutung bermain lesung!”

Teriakan beramai-ramai itu tak urung membuat Raden Budog terkejut. Sejenak dihentikannya permainannya dan ditatapnya orang-orang. Masih didengarnya ada warga desa yang menyatakan ada lutung bermain lesung. Diperhatikannya tempat di sekitarnya. Tidak ada yang bermain ngagondang di tempat itu selain hanya dirinya sendiri. Lantas, mengapa orang-orang itu menyebutkan adanya lutung yang bermain lesung?

Terperanjatlah Raden Budog ketika mengamati dirinya. Kedua tangannya berbulu amat lebat berwarna hitam laksana bulu lutung! Begitu pula dengan bulu-bulu lebat berwarna hitam di kedua kakinya. Dirabanya wajahnya, penuh dengan bulu lebat berwarna hitam pula. Begitu pula dengan tubuhnya. Kian lengkaplah keterkejutannya ketika mendapati sebuah ekor panjang berbulu hitam keluar dari bagian belakang tubuhnya.

Raden Budog telah utuh berubah menjadi lutung!

Setelah mendapati dirinya berubah menjadi lutung, Raden Budog segera berlari dari tempat itu. Ia sangat malu. Dengan gerakan gesit, lutung jelmaan Raden Budog lantas memanjat pohon. Gerakan memanjatnya sangat cepat. Tangkas pula ia bergelantungan dari dahan ke dahan serta berlompatan dari satu pohon ke pohon lainnya.

“Lutung Kasarung! Lutung Kasarung!” teriak warga ketika melihat lutung jelmaan Raden Budog itu berlompatan dari satu pohon ke pohon lainnya.

Teriakan-teriakan itu kian membuat malu Raden Budog hingga ia terus berusaha menjauh dari desa itu sejauh-jauhnya. Ia memasuki hutan dan terus bergerak menuju tengah hutan. Ia pun memutuskan untuk tinggal di tengah hutan itu untuk seterusnya.

Sri Poh Haci sangat sedih mendapati kenyataan itu. Suaminya telah berubah menjadi seekor lutung. Ia serasa tidak mempunyai keberanian lagi untuk tinggal di desanya. Secara diam-diam ia pun meninggalkan desa kediamannya itu. Entah kemana istri Raden Budog itu pergi, tidak ada yang mengetahuinya. Bahkan, Nyi Siti sendiri pun tidak mengetahuinya. Konon, Sri Poh Haci kemudian juga menjelma menjadi Dewi Padi.

Desa di mana terjadinya peristiwa yang sangat mengherankan lagi mengejutkan itu kemudian disebut Desa Lesung. Mengingat letaknya berada di sebuah tanjung, desa itu pun akhirnya disebut Tanjung Lesung.

 

KITA HENDAKNYA MEMATUHI. DAN MENGHORMATI ADAT ISTIADAT YANG BERLAKU DI SUATU DAERAH. SEPERTI MAKNA PERIBAHASA DI MANA TANAH DIPIJAK. DI SITU LANGIT DIJUNJUNG. YANG BERARTI DI MANA PUN JUGA KITA BERADA ATAU BERTEMPAT TINGGAL. HENDAKLAH KITA MENURUTI ADAT ISTIADAT DAN KEBIASAAN YANG BERLAKU DI DAERAH ITU.

Asal Mula Rawa Danau – Cerita Rakyat Banten
Asal Mula Rawa Danau – Cerita Rakyat Banten

Tersebutlah seorang ulama dari Negeri Arab bernama Syekh Muhidin. Ia dikirim dari Negeri Arab ke Negeri Jawa untuk menyebarluaskan agama Islam, dengan menaiki perahu, tibalah Syekh Muhidin di Bulakan, daerah Cisalak, Pulau Jawa. Ketika ia tiba bersamaan dengan tibanya waktu Dhuhur. Syekh Muhidin lalu mengerjakan salat.

Tanpa disadari Syekh Muhidin, empat puluh penduduk Bulakan memperhatikan gerak-geriknya. Sembahyang yang dilakukan Syekh Muhidin membuat mereka keheranan. Namun mereka hanya memperhatikan saja.

Setelah mengerjakan salat, Syekh Muhidin lantas meninggalkan daerah itu. Tas bawaannya tertinggal. Empat puluh penduduk Bulakan lalu mendatangi tas itu. Mereka tertarik untuk mengetahui isi tas orang asing itu. Ketika mereka membukanya, mereka mendapati biji-bijian tanaman di dalamnya. Mereka lantas menyebarkan biji-bijian itu. Keajaiban pun terjadi. Seketika biji- bijian itu disebarkan di tanah, tumbuhlah pohon- pohon. Cepat sekali pohon-pohon itu tumbuh hingga dalam waktu sekejap itu pohon-pohon itu telah berbuah.

Tidak ada seorang pun penduduk Bulakan itu yang mengetahui pohon apakah yang cepat tumbuh dan berbuah itu. Mereka tidak berani memakan buah-buah dari aneka pohon itu dan bahkan tidak tahu bagaimana cara memakannya. Empat puluh penduduk Bulakan itu lantas bersepakat mencari orang asing itu untuk bertanya perihal buah-buah aneh itu. Syekh Muhidin mereka temukan di tepi laut di daerah Cikonang.

“Maaf,” salah seorang penduduk Bulakan itu bertanya, “Siapakah Tuan ini?”

“Nama saya Syekh Muhidin. Saya berasal dari Negeri Arab. Kedatangan saya ke daerah ini untuk menyebarluaskan agama Islam,” jawab Syekh Muhidin.

Penduduk Bulakan itu lantas menjelaskan adanya bibit-bibit tanaman yang terdapat di dalam tas Syekh Muhidin yang telah mereka sebarkan hingga menjadi aneka pohon yang telah berbuah. “Pohon apakah itu dan bagaimana cara memakan buahnya?”

Syekh Muhidin bersedia menjawab pertanyaan itu asalkan para penduduk Bulakan itu bersedia masuk agama Islam. Empat puluh penduduk Bulakan itu menyatakan kesediaannya untuk memeluk agama Islam. Syekh Muhidin lantas mengislamkan mereka dan menjadikan mereka selaku murid-muridnya. Syekh Muhidin menjelaskan aneka pohon berikut cara memakannya.

Syekh Muhidin lantas mengajak murid- muridnya itu untuk mendirikan masjid. Dengan bekerja keras dan bergotong royong, masjid itu pun akhirnya berdiri. Masjid itu berbentuk panggung. Dindingnya terbuat dari kayu dan bambu, sementara atapnya terbuat dari daun kirai.

Di masjid itu Syekh Muhidin mengajarkan agama Islam kepada murid-muridnya. Mereka juga melaksanakan salat berjama’ah, termasuk melaksanakan salat Jum’at.

Ketika hendak melaksanakan salat Jum’at itulah Syekh Muhidin mendadak ingin buang air kecil. Ia lantas buang air kecil di dalam batok kelapa. Diletakkannya batok kelapa beriSi air seninya itu di atas balai bambu. Ia lalu kembali ke dalam masjid setelah berwudhu.

Ketika Syekh Muhidin memimpin salat Jum’at, seekor babi hutan betina lewat di tempat balai bambu dan kemudian meminum air seni Syekh Muhidin. Terperanjatlah Syekh Muhidin ketika mendapati batok kelapa tempatnya menyimpan air seninya itu telah kosong seusai melaksanakan salat Jum’at.

Waktu terus berlalu. Sembilan bulan kemudian telah terlewati. Ketika salat Jum’at selesai dilaksanakan, mendadak Syekh Muhidin dan jama’ah masjid mendengar tangis bayi. Mereka bergegas mencari dan menemukan bayi itu berada di kolong masjid di bagian pengimaman. Kegemparan pun terjadi, mereka bertanya-tanya perihal bayi perempuan siapakah yang berada di kolong masjid itu?

Anak-anak yang tengah bermain di depan masjid lantas bercerita, bahwa bayi perempuan itu diletakkan oleh seekor babi hutan di bawah kolong masjid. Orang-orang akhirnya mengambil bayi itu dan merawatnya bersama secara bergiliran. Dalam perawatan orang-orang, bayi itu terus tumbuh membesar hingga ia bisa merangkak kemudian. Orang-orang tetap penasaran, siapa sesungguhnya ayah dari anak perempuan tersebut. Juga perihal nama yang paling pantas untuk Si anak perempuan. Mereka lantas mengungkapkannya kepada Syekh Muhidin.

Syekh Muhidin menyarankan agar masing- masing mereka membuat berbagai jenis kue. Katanya, “Kue siapa yang pertama kali dimakan anak itu akan menjadi ayahnya. Ia berhak pula memberinya nama.”

Segenap murid Syekh Muhidin menyetujui saran Syekh Muhidin.

Segenap murid Syekh Muhidin lantas membuat aneka kue. Masing-masing kue buatan mereka berbeda-beda, baikjenis, bahan, maupun warnanya. Masing-masing membuat kue semenarik mungkin untuk menarik perhatian anak perempuan kecil itu. Masing-masing dari mereka ingin menjadi ayah angkat anak perempuan itu. Berbeda dengan sekalian muridnya, Syekh Muhidin membuat kue dari dedak halus. Tidak pula dibuatnya semenarik mungkin agar terpilih Si anak perempuan. Tampaknya, Syekh Muhidin tidak berminat menjadi ayah angkat anak perempuan itu. Masing-masing kue dijajarkan dan Si anak perempuan yang baru bisa merangkak itu diminta untuk memilih. Sangat mengejutkan, Si anak perempuan ternyata memilih kue buatan Syekh Muhidin.

Syekh Muhidin akhirnya menyadari, Si anak perempuan itu sebenarnya anaknya. Ia bermula dari air seni yang ditampungnya di dalam batok kelapa yang diminum babi hutan betina. Syekh Muhidin lantas memberi nama anak itu Nyi Hartati.

Beberapa tahun kemudian terlewati. Syekh Muhidin tetap mengajarkan ajaran agama Islam kepada empat puluh muridnya itu. Ia juga mendidik Nyi Hartati agar menjadi anak salehah. Hingga suatu hari ia mengundang seluruh muridnya dan menyatakan hendak kembali ke Negeri Arab. Ia berpesan kepada seluruh muridnya itu untuk tetap menjalankan ajaran agama Islam seperti yang telah diajarkannya. Ia juga menitipkan Nyi Hartati kepada mereka, “Didik dan asuhlah anakku itu dengan sebaik-baiknya. Jadikan ia seorang yang taat pada ajaran Islam.”

Selesai berpesan, Syekh Muhidin lantas meninggalkan Nyi Hartati dan empat puluh muridnya itu. Kepulangannya ke Negeri Arab diiringi keharuan dan kesedihan Nyi Hartati dan empat puluh muridnya.

Waktu kembali berlalu. Nyi Hartati telah tumbuh menjadi seorang gadis yang amat jelita parasnya. Serasa tak terbilang banyaknya pemuda yang mengimpikan dapat menyuntingnya.

Syahdan pada suatu hari orang-orang menemukan sebuah jamur yang tumbuh di kolong masjid. Jamur yang aneh. Tidak hanya bentuknya yang besar, batangnya juga terlihat sangat kokoh. Beberapa orang mencoba mencabut, namun jamur besar itu tetap tidak tercabut. Orang-orang menjadi penasaran. Mereka mencoba menebang batang jamur tersebut. Namun, jamur itu tetap utuh tanpa terluka sedikit pun. Pisau, golok, pedang, dan aneka senjata tajam lainnya tidak mampu menciderainya meski ditebaskan sekuat tenaga dan berulang-ulang.

Orang-orang menjadi keheranan dan juga cemas. Menurut mereka, jika jamur itu terus tumbuh membesar niscaya akan merobohkan masjid. Seketika terbayang mereka pada Syekh Muhidin, mereka pun segera menghubungi Nyi Hartati. Mereka jelaskan perihal tumbuhnya jamur aneh di tempat Nyi Hartati dahulu diketemukan ketika masih bayi.

“Jika kita biarkan, jamur itu akan terus membesar dan bisa jadi masjid kita akan roboh jika jamur itu telah tumbuh membesar. Oleh karena itu, tolonglah Nyi, barangkali jamur aneh itu akan tercabut jika engkau yang mencabutnya,” pinta mereka.

Nyi Hartati lantas menuju kolong masjid untuk melihat jamur aneh yang diributkan murid-murid ayahandanya itu. Setelah mengamati, Nyi Hartati pun berujar, “Aku bersedia mencabut jamur itu asalkan kalian membuatkan aku sebuah perahu.”

Empat puluh murid Syekh Muhidin itu lantas bekerja sama bahu-membahu membuat perahu yang diminta Nyi Hartati. Tak berapa lama perahu itu pun telah jadi. Kebetulan hari itu hari Jum’at. Selesai membuat perahu, empat puluh murid Syekh Muhidin itu lalu melaksanakan salat Jum’at. Ketika mereka melaksanakan salat Jum’at itulah Nyi Hartati mencabut jamur aneh. Sangat mengherankan, jamur itu sangat mudah dicabut Nyi Hartati.

Keanehan pun terjadi. Seketika jamur itu dicabut Nyi Hartati, dari tempat tumbuhnya jamur itu mendadak memancar air yang sangat deras. Begitu derasnya air yang memancar tersebut hingga daerah itu langsung terbenam. Masjid berikut empat puluh murid Syekh Muhidin tenggelam.

Daerah itu pun berubah menjadi sebuah danau. Orang-orang pun menyebutnya Rawa danau. Adapun empat puluh murid Syekh Muhidin kemudian menjelma menjadi buaya-buaya yang diyakini masyarakat menjadi penunggu Rawa danau.

 

KITA HENDAKNYA MEMERCAYAI SEPENUHNYA TAKDIR YANG TELAH DITETAPKAN TUHAN. BETAPA PUN KITA BERUSAHA MENGHINDAR, NISCAYA TAKDIR TUHAN AKAN TETAP TERJADI PADA DIRI KITA.