Kategori: Bengkulu

Si Raja Tidur – Cerita Rakyat Bengkulu
Si Raja Tidur – Cerita Rakyat Bengkulu

Raja Jancur namanya. Ia raja adil dan bijaksana yang berkuasa di tanah Rejang. Rakyat Rejang menghormati dan mencintainya. Mereka hidup berkecukupan di bawah kepemimpinan Raja Jungur.

Raja Jungur dikaruniai seorang putri yang amat jelita parasnya. Putri Serindu namanya. Berita kecantikan Putri Serindu tersebar luas hingga ke negeri-negeri jauh. Para pangeran dan bangsawan merindukan dapat memperistri Putri Serindu. Lamaran mereka tertuju ke tanah Rejang. Namun, semua pinangan itu ditolak Putri Serindu. Penolakan itu sangat mengherankan Raja Jungur dan permaisuri. Padahal, mereka sangat menginginkan Putri Serindu segera menikah dan memberikan cucu kepada mereka. Raja Jungur dan permaisuri berharap cucu lelaki. Kelak, anak lelaki Putri Serindu itu akan mewariSi takhta Raja Jungur.

Permaisuri berusaha mengetahui penyebab Putri Serindu selalu menolak datangnya lamaran padanya.

Jawaban Putri Serindu mengejutkan permaisuri, “Ibunda, hamba hanya bersedia menikah dengan Raja Tidur.”

“Raja Tidur?”

“Benar, Ibunda,” jawab Putri Serindu. “Maafkan hamba, Ibunda. Bisa jadi pilihan hamba tidak membuat Ibunda dan Ayahanda Raja berkenan. Tetapi, hamba sungguh menginginkan seorang lelaki yang pintar tidur untuk menjadi suami hamba.”

Permaisuri bisa memaklumi keinginan putrinya. Ia lalu menjelaskan keinginan Putri Serindu itu pada Raja Jungur.

Raja Jungur juga terkejut dan keheranan. Keinginan putrinya itu sangat aneh. Namun, Raja Jungur berusaha memenuhinya. Raja Jungur lalu memerintahkan prajuritnya untuk mengadakan sayembara. Perintahnya, “Siapa saja lelaki yang paling lama tidurnya, ia akan kunobatkan menjadi Raja Tidur. Setelah kunobatkan, ia akan kunikahkan dengan Putri Serindu.”

Sayembara Raja Jungur segera disebarluaskan. Para prajurit mengumumkan sayembara Raja Jungur itu hingga ke pelosok-pelosok negeri. Didengar dan diketahui segenap rakyat tanah Rejang, termasuk diketahui Anak Lumang.

Anak Lumang seorang yatim piatu. Pemuda yang tampan wajahnya. Pekerjaannya sehari-hari adalah membuat bubu penangkap ikan. Ia cekatan dan terampil dalam bekerja. Ketika mendengar sayembara itu Anak Lumang berniat untuk mengikutinya. Namun, ia bingung meninggalkan pekerjaannya. Jika ia tidak membuat bubu, ia tidak mendapatkan uang. Berarti, ia tidak bisa membeli makanan. Tetapi, tawaran menjadi suami dari Putri Serindu sangat menggoda. Ia tidak ingin melepaskan kesempatan itu. Setelah memikirkan masak-masak, Anak Lumang akhirnya memutuskan untuk mengikuti sayembara Raja Jungur.

Sebelum mengikuti sayembara, Anak Lumang menyiapkan bambu, tali rotan, dan semua perlatan kerjanya. Ia akan tetap bekerja di tempat sayembara nanti. Bahkan, ia berniat membuat bubu yang terbesar dan terbaik yang bisa ia kerjakan. Ia seakan tidak menyadari jika sayembara itu diadakan untuk mencari Raja Tidur, mencari lelaki yang paling lama tidurnya.

Anak Lumang lalu menuju istana. Ia mengendong keranjangnya yang berisi peralatan dan juga bahan-bahan pekerjaannya. Setibanya di alun-alun istana, ia melihat banyak sekali lelaki peserta sayembara di tempat itu. Mereka membawa peralatan untuk tidur. Sebagian besar di antara mereka telah merebahkan tubuh dan memejamkan mata.

Anak Lumang duduk di antara para peserta sayembara lainnya. Namun, ia tidak segera tidur. Ia malah membuat bubu. Seperti biasanya, ia bekerja dengan tekun dan hati-hati. Ketika semua peserta sayembara lainnya telah tertidur, Anak Lumang masih sibuk dengan pekerjaannya. Menjelang tibanya waktu Subuh, Anak Lumang selesai membuat bubu. Besar dan sangat indah bubu buatannya. Anak Lumang puas melihat hasil kerjanya. Digantungkannya bubu buatannya itu. Ia tidak juga langsung tidur, meski ia telah sangat mengantuk. Ia bersihkan dahulu peralatan kerjanya dan menyimpannya di dalam keranjangnya. Sampah bekas pekerjaannya dibersihkannya pula. Anak Lumang tak lagi bisa menahan kantuknya. Ia lalu merebahkan tubuh dan tertidur tak lama kemudian.

Pagi datang. Putri Serindu dan Raja Jungur dengan iringan para menteri dan para prajurit tiba di tempat sayembara. Putri Serindu memeriksa peserta sayembara satu persatu. Langkahnya terhenti di dekat Anak Lumang yang sedang tertidur dengan nyenyak. Ia terpesona pada bubu buatan Anak Lumang. Ia tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala. Ia juga memeriksa keranjang milik Anak Lumang. Kembali ia tersenyum. Semua peralatan kerja Anak Lumang terlihat bersih dan terawat. Pandangan Putri Serindu tertuju pada Anak Lumang. Ia tahu, pemuda sederhana berwajah tampan itu telah bekerja keras sebelum tidur.

“Ayahanda Raja,” kata Putri Serindu, “hamba telah menemukan pemenang sayembara.”

Raja Jungur terkejut berbaur senang. Sejenak ia menatap Anak Lumang. Tanyanya, Apakah pemuda itu pemenang sayembara ini, Putriku?”

Putri Serindu mantap menganggukkan kepala.

Raja Jungur lalu meminta sayembara dihentikan. Semua peserta sayembara dibangunkan. Raja Jungur meminta putrinya untuk mengumumkan pemenang sayembara itu sendiri.

Di hadapan semua peserta sayembara, Putri Serindu berkata, “Tuan-tuan yang terhormat, saya telah menentukan pemenang sayembara ini.”

Para peserta sayembara saling terdiam. Masing-masing berharap diri mereka yang terpilih Putri Serindu.

Putri Serindu menentukan, pemenang sayembara adalah Anak Lumang. Lalu katanya, “Raja Tidur yang kucari sesungguhnya bukan pemuda yang suka tidur. Bukan pemuda yang hanya menghabiskan waktunya untuk tidur. Namun, pemuda yang rajin dan tekun bekerja. Pemuda yang pintar mengatur waktu tidurnya. Ia baru bisa tertidur jika waktunya tidur tiba. Itu dilakukannya setelah menyelesaikan pekerjaannya. Hasil pekerjaaannya juga berguna bagi orang lain.”

Anak Lumang senang dan berbahagia menjadi pemenang sayembara. Bertambah kebahagiaannya setelah Raja Jungur menikahkannya dengan Putri Serindu yang sangat jelita parasnya itu.

Pesta pernikahan antara Anak Lumang dan Putri Serindu dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam. Segenap rakyat diundang untuk menyaksikan perayaan pernikahan yang berlangsung sangat meriah itu.

Raja Jungur dan permaisuri senang, putri mereka telah menemukan jodohnya. Raja Jungur akan menyerahkan takhta pada anak lelaki Putri Serindu dan Anak Lumang yang terlahir kemudian.

SEORANG YANG PINTAR MEMANFAATKAN WAKTUNYA AKAN MENUAI KEBERHASILAN DI KEMUDIAN HARI.

Bujang Awang Tabuang – Cerita Rakyat Bengkulu
Bujang Awang Tabuang – Cerita Rakyat Bengkulu

Tersebutlah sebuah kerajaan besar bernama Peremban Panas. Sang pemangku takhta adalah Raja Kramo Kratu Agung. Sang raja memerintah dengan adil dan bijaksana. Rakyat sangat menghormati dan mencintai sang raja. Segenap titah dan perintah Raja Kramo Kratu Agung mereka turuti karena titah dan perintah itu lebih banyak demi kepentingan dan kesejahteraan mereka.

Raja Kramo Kratu Agung mempunyai permaisuri bernama Putri Rimas Bangesu. Keduanya telah enam tahun menikah, namun belum juga mereka dikaruniai anak. Kerabat kerajaan sangat takut jika Raja Kramo Kratu Agung tidak mempunyai keturunan yang akan menjadi pewaris takhta Peremban Panas. Mereka pun bersidang untuk membahas masalah itu. Keputusan dari sidang kerabat kerajaan itu sangat mengejutkan Putri Rimas Bangesu. Ia harus dibuang ke tengah hutan!

Sesungguhnya Putri Rimas Bangesu telah mengandung ketika ia harus melaksanakan hasil sidang kerabat kerajaan tersebut. Dengan ditemani seekor harimau dan sepasang kera, Putri Rimas Bangesu tinggal di sebuah gubug kecil di tengah hutan. Sekitar sembilan bulan kemudian Putri Rimas Bangesu melahirkan. Seorang bayi lelaki. Putri Rimas Bangesu memberinya nama Bujang Awang Tabuang.

Putri Rimas Bangesu mengasuh anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Bujang Awang Tabuang pun tumbuh membesar di dalam hutan itu. Ia tampak sehat, tubuhnya kuat, dan wajahnya tampan. Waktu terus bergulir hingga tujuh belas tahun telah terlewati. Hingga selama itu Bujang Awang Tabuang tetap berada di dalam hutan bersama ibunda, seekor harimau, dan juga sepasang kera. Berkat didikan ibundanya, Bujang Awang Tabuang juga berhasil mempunyai aneka kesaktian. Selain itu, harimau dan sepasang kera itu juga mengajarkan aneka kesaktian untuk melengkapi kesaktian Bujang Awang Tabuang.

Selama itu Putri Rimas Bangesu senantiasa berdusta terhadap Bujang Awang Tabuang jika anaknya itu bertanya perihal siapa ayahandanya. “Ayahmu adalah Dewata,” begitu jawaban Putri Rimas Bangesu. Namun, seiring dengan kian bertambahnya usia Bujang Awang Tabuang, Putri Rimas Bangesu merasa tidak bisa lagi berdusta. Ia pun menceritakan kejadian yang dialaminya sekaligus membuka tabir siapa sesungguhnya ayahanda Bujang Awang Tabuang.

“Jadi, ayahandaku adalah raja Peremban Panas yang bernama Raja Kramo Kratu Agung?” tanya Bujang Awang Tabuang.

“Benar, anakku.”

Bujang Awang Tabuang kemudian meminta izin kepada Putri Rimas Bangesu untuk berangkat menuju kerajaan Peremban Panas untuk mencari ayahandanya.

Dengan berat hati Putri Rimas Bangesu mengizinkan. “Berhati-hatilah engkau selama dalam perjalanan. Sebisa mungkin hindarkanlah pertengkaran atau perkelahian dalam perjalananmu nanti. Semoga Dewata memberikan berkah dan pertolongan kepadamu.”

Keesokan harinya Bujang Awang Tabuang berangkat menuju Peremban Panas. Berhari- hari ia menempuh perjalanannya seorang diri. Setelah berulang-ulang bertanya pada orang yang ditemuinya dalam perjalanan, akhirnya Bujang Awang Tabuang tiba di gerbang kerajaan Peremban Panas.

Bujang Awang Tabuang langsung saja masuk melewati pintu gerbang kerajaan. Para prajurit bergegas menghentikan langkahnya. Meski Bujang Awang Tabuang telah menyatakan kehendaknya untuk bertemu Raja Kramo Kratu Agung, namun para prajurit tidak mengizinkannya.

“Yang Mulia Raja Kramo Kratu Agung tidak bisa diganggu karena beliau hendak melangsungkan pernikahan dengan Putri Rambut Perak dari Kerajaan Pinang Jarang,” kata kepala prajurit penjaga pintu gerbang.

Bujang Awang Tabuang tetap saja memaksa. Maka, para prajurit langsung menyerangnya untuk mengusirnya menjauh dari pintu gerbang. Pertarungan antara Bujang Awang Tabuang melawan para prajurit itu pun terjadi. Bujang Awang Tabuang mampu mengalahkan para prajurit yang mengeroyoknya itu. Bahkan ketika para prajurit lainnya datang membantu dan mengeroyoknya beramai-ramai, Bujang Awang Tabuang tetap mampu mengalahkan mereka semua. Para prajurit pun akhirnya berlarian menjauhi pintu gerbang kerajaan.

Karena kelelahan bertarung, Bujang Awang Tabuang lantas tertidur di bawah pohon beringin di dalam alun-alun kerajaan. Begitu pulasnya ia tertidur hingga ia mendengkur.

Dengkuran Bujang Awang Tabuang membuat tiang-tiang istana bergetar. Seluruh penghuni istana kerajaan terkejut dan berhamburan keluar istana kerajaan karena menyangka ada gempa bumi. Persiapan pernikahan Raja Kramo Kratu Agung dengan Putri Rambut Perak yang sedianya akan dilangsungkan pada hari itu menjadi terganggu. Mereka kian terperanjat dan keheranan karena getaran yang berlangsung itu terjadi secara teratur dan berulang-ulang.

Patih kerajaan Peremban Panas yang bernama Raden Tumenggung berusaha mencari sumber getaran tersebut. Ia pun akhirnya mengetahui jika sumber getaran itu berasal dari suara dengkuran seorang pemuda yang tengah tertidur di bawah pohon beringin di alun-alun kerajaan.

Raden Tumenggung segera membangunkan Bujang Awang Tabuang dengan sikap kasar. “Hei pemuda gembel! Siapa dirimu itu dan apa keperluanmu datang ke kerajaan Peremban Panas ini?”

Bujang Awang Tabuang bangun. Setelah menggosok-gosok kedua kelopak matanya, ia segera bangkit dan berjalan tenang menuju istana kerajaan tanpa menghiraukan Raden Tumenggung. Raden Tumenggung berusaha mencegah, namun Bujang Awang Tabuang tetap juga berjalan. Maka, Raden Tumenggung pun menyerang Bujang Awang Tabuang.

Pertarungan antara Bujang Awang Tabuang melawan Raden Tumenggung tidak terelakkan. Namun, pertarungan itu tidak berjalan lama. Bujang Awang Tabuang mampu mengalahkan Patih Kerajaan Peremban Panas itu.

Bujang Awang Tabuang lantas mengamuk di dalam istana kerajaan. Para prajurit kerajaan yang mencoba menghadangnya dibuatnya berlarian karena tak mampu melawan kesaktian Bujang Awang Tabuang. Raja Kramo Kratu Agung akhirnya turun tangan sendiri. Segera dihadangnya Bujang Awang Tabuang. Pertarungan antara anak dan bapak yang sama-sama tidak mengetahui siapa sesungguhnya lawannya itu pun terjadi.

Pertarungan itu berlangsung sangat seru. Keduanya sama-sama sakti. Meski telah mengerahkan segenap kesaktiannya, masing- masing tidak dapat segera memenangkan pertarungan itu. Hingga waktu terus bergulir selama sehari semalam, pertarungan antara Bujang Awang Tabuang dan Raja Kramo Kratu Agung terus berlangsung.

Setelah merasakan kemampuannya seimbang dan bisajadi akan terus berlarut-larut berlangsung, Raja Kramo Kratu Agung meminta pertarungan mereka dihentikan. Tanyanya kemudian setelah pertarungan berhenti, “Siapa engkau ini sesungguhnya, wahai anak muda?”

“Nama hamba Bujang Awang Tabuang. Ibunda hamba bernama Putri Rimas Bangesu dan ayahanda hamba adalah Raja Kramo Kratu Agung,” jawab Bujang Awang Tabuang.

Raja Kramo Kratu Agung terperanjat mendengar jawaban Bujang Awang Tabuang. “Engkau ini anakku, wahai anak muda?”

“Benar, ayahanda,” jawab Bujang Awang Tabuang.

Bujang Awang Tabuang lantas menceritakan kejadian yang dialami ibu dan dirinya selama dalam pembuangan di tengah hutan. Selesai bercerita, Bujang Awang Tabuang lantas bersujud di kaki Raja Kramo Kratu Agung.

Raja Kramo Kratu Agung meminta anaknya itu untuk berdiri. Dipeluknya dengan penuh kasih sayang. Ia meminta maaf karena tidak menyangka jika istri tercintanya dahulu tengah mengandung ketika dibuang ke tengah hutan. Ia lantas mengumumkan untuk membatalkan rencana pernikahannya dengan Putri Rambut Perak.

Keesokan harinya Raja Kramo Kratu Agung beserta para prajurit bersenjata lantas menuju ke hutan tempat pembuangan Putri Rimas Bangesu. Sebuah kereta indah yang ditarik empat ekor kuda gagah tampak dalam rombongan Raja Kramo Kratu Agung itu. Kereta indah itu dipersiapkan untuk kendaraan Putri Rimas Bangesu. Sementara Bujang Awang Tabuang memimpin di barisan depan rombongan sebagai penunjukjalan.

Bertemulah kembali Raja Kramo Kratu Agung dengan istri tercintanya. Keduanya saling menangis. Putri Rimas Bangesu kemudian diajak kembali ke istana kerajaan dengan menaiki kereta indah.

Bujang Awang Tabuang hidup berbahagia di istana kerajaan bersama ayahanda dan ibunda tercintanya. Ia pun tidak melupakan harimau dan juga sepasang kera yang tetap memilih berada di tengah hutan. Kerap Bujang Awang Tabuang mengunjungi sahabat-sahabatnya itu. Mereka pun bermain dan bercengkrama seperti yang dahulu biasa mereka lakukan ketika Bujang Awang Tabuang dan ibundanya masih tinggal di tengah hutan itu.

 

KITA HENDAKIAH SABAR DAN TABAH KETIKA MENGHADAPI MUSIBAH. KESABARAN DAN KETABAHAN AKAN MENUAI KEBAHAGIAAN DI KEMUDIAN HARI. SELAIN ITU. JANGANLAH MELUPAKAN BUDI BAIK SAHABAT YANG MENEMANI KITA KETIKA MENGALAMI MUSIBAH. KARENA SAHABAT YANG BAIK ADALAH SAHABAT YANG BERSEDIA MENEMANI KETIKA KITA TENGAH TERPURUK ATAU MENGALAMI MUSIBAH.

Legenda Batu Kuyung – Cerita Rakyat Bengkulu
Legenda Batu Kuyung – Cerita Rakyat Bengkulu

Hiduplah sepasang suami istri di dusun Tanjungmeranti pada zaman dahulu. Mata pencaharian keduanya adalah bertani dan juga mencari ikan. Suami istri itu telah dikaruniai dua orang anak. Anak sulung mereka laki-laki bernama Dimun dan anak bungsu mereka perempuan bernama Meterei.

Suami istri itu sangat sibuk bekerja. Pagi-pagi mereka telah menuju sungai untuk mengambil bubu yang telah mereka pasang malam sebelumnya. Ikan yang mereka dapatkan akan segera dimasak sang ibu. Sementara sang ayah akan segera ke sawah dan ladang. Sepulang dari bertani, sang ayah masih juga bekerja. Dengan dibantu istrinya, sang ayah akan membuat aneka kerajinan dari bambu. Keduanya membuat bubu, beronang (Sejenis keranjang yang dibawa di belakang tubuh di mana talinya diikatkan ke kepala), dan juga bakul. Hasil kerajinan tangan itu mereka jual di pasar.

Begitu sibuknya suami istri itu bekerja hingga kedua anak mereka menjadi terbengkalai. Dimun dan Meterei tidak mendapat pendidikan dan pengajaran yang baik. Keduanya tumbuh menjadi anak-anak yang nakal, budi pekerti mereka buruk. Mereka kerap mencemooh orang lain dan ucapan mereka terdengar kasar lagi jorok.

Pada suatu hari suami istri itu sibuk bekerja membuat berbagai barang kerajinan tangan dari bambu yang hendak mereka jual di pasar. Begitu sibuknya mereka bekerja, Dimun dan Meterei menjadi lapar karena ibu mereka tidak memasak makanan. Setelah berulang-ulang meminta makan namun tidak juga dipenuhi, Dimun dan Meterei menjadi marah. Keduanya merusak barang-barang yang telah dibuat ayah dan ibu mereka.

“Untuk apa bubu dan beronang jelek ini?” kata Dimun sambil menendang bubu dan beronang buatan orangtua mereka. “Keduanya tidak bisa membuat perut menjadi kenyang!”

Meterei tidak kalah buruk kelakuannya dibandingkan kakaknya. Ia mengacak-acak dan membanting aneka barang buatan orang tuanya. Ia bahkan menangis karena sudah sangat lapar.

Meski sangat jengkel karena perlakuan buruk kedua anaknya, Si bapak dan istri kemudian memperbaiki barang-barang buatan mereka yang dirusak Dimun dan Meterei. Jika tidak diperbaiki, barang-barang itu tentu tidak laku untuk dijual.

Dimun dan Meterei mendekati ibu mereka, “Bu,” kata Dimun, “kami lapar. Sejak pagi perut kami belum terisi makanan!”

“Benar, Bu,” sambung Meterei sambil memegangi perutnya yang dirasanya sangat melilit. “Aku sudah sangat lapar. Lapar sekali! Sulit kutahan lagi rasa laparku ini!”

Ibu mereka yang jengkel langsung menghardik, “Mintalah makanan pada ayah kalian itu!”

Dimun dan Meterei mendekati ayah mereka. Sama seperti yang mereka lakukan terhadap ibu mereka, keduanya merengek meminta makanan kepada ayah mereka. “Kami lapar, Yah. Kata ibu, kami disuruh minta makanan kepada Ayah.”

“Pergi sana, jangan ganggu aku!” sergah ayah Dimun dan Meterei. “Minta makanan sama ibu kalian!”

Dimun dan Meterei kembali menemui ibu mereka untuk meminta makanan. Namun, ibu mereka menyuruh keduanya meminta makanan kepada ayah mereka. Begitu terus berulang-ulang hingga Dimun dan Meterei menjadi sangat jengkel serta marah. Keduanya lantas menuju kebun di belakang rumah mereka. Mereka duduk di atas batu besar yang mereka sebut batu kuyung. Setelah keduanya duduk di atas batu kuyung, mereka pun mendendangkan lagu kesedihan. Dalam dendangnya, mereka meminta batu kuyung untuk terbang tinggi membawa mereka karena kedua orangtua mereka tidak memberi makan.

Keajaiban terjadi. Seketika Dimun dan Meterei selesai berdendang, batu kuyung itu mendadak meninggi. Batu kuyung itu kian meninggi setelah Dimun dan Meterei kembali selesai berdendang. Begitu seterusnya yang terjadi hingga batu kuyung itu telah sangat tinggi keberadaannya, jauh melebihi aneka pepohonan tinggi di dusun Tanjungmeranti itu.

Orangtua Dimun dan Meterei seperti baru tersadarkan setelah mereka tidak mendengar suara kedua anak mereka. Ibu Dimun dan Meterei lantas memanggil kedua anaknya setelah ia selesai memasak. “Dimun, Meterei, di mana kalian? Lekas pulang! Ayo kita makan bersama!”

Dimun dan Meterei tidak menyahut panggilan ibu mereka itu.

Mendapati keanehan itu Si ibu lantas meminta suaminya untuk mencari kedua anak mereka. Si ayah tidak menemukan kedua anaknya. Suami istri itu lantas mencari kedua anak mereka. Keduanya sangat terperanjat ketika mendapati batu kuyung di kebun mereka telah meninggi melebihi tingginya pepohonan. Mereka mendengar suara kedua anak mereka di puncak batu kuyung.

“Dimun! Meterei! Lekas kalian turun!” panggil ayah dua anak itu. “Lekas kalian turun dan selekasnya kita makan bersama!”

Namun, Dimun dan Meterei tidak juga turun. Bahkan, keduanya tidak berusaha menengok ke arah bawah ke tempat kedua orangtua mereka. Keduanya malah terus bernyanyi hingga batu kuyung yang mereka duduki kian meninggi.

Ayah Dimun dan Meterei sangat khawatir melihat kedua anaknya itu. Ia pun bergegas kembali ke dalam rumah dan keluar seraya menggenggam kapak. Ditebangnya batu kuyung itu. Namun, meski ayah Dimun dan Meterei telah mengerahkan tenaga sekuatnya, batu itu tidak juga roboh terkena hantaman kapak besarnya. Bahkan, batu kuyung itu terus meninggi karena Dimun dan Meterei terus juga bernyanyi. Kedua anak itu benar-benar gembira mendapati diri mereka berada di ketinggian yang membuat keduanya dapat memandang daerah-daerah yang luas. Lapar yang mereka rasakan sebelumnya tidak lagi mereka rasakan.

Tidak ada lagi yang bisa dilakukan ayah dan ibu Dimun dan Meterei untuk menghentikan meningginya batu kuyung. Keduanya terus berteriak-teriak memanggil, namun Dimun dan Meterei tidak menjawab panggilan keduanya. Suami istri itu akhirnya hanya bisa berlutut dan sangat menyesal karena tidak memenuhi permintaan makan anak mereka sebelumnya.

Batu kuyung itu terus meninggi hingga akhirnya sampai di langit. Seketika tubuh kedua anak itu menyentuh langit, menghilanglah tubuh keduanya. Setelah tubuh Dimun dan Meterei menghilang, mendadak batu kuyung itu roboh dengan menimbulkan suara keras. Batu kuyung itu roboh menimpa rumah ayah dan ibu Dimun dan Meterei. Tidak hanya rumah mereka yang roboh tertimpa batu kuyung, melainkan juga tubuh kedua orangtua Dimun dan Meterei. Keduanya tewas seketika.

 

ORANGTUA HENDAKLAH MENGUSAHAKAN AGAR ANAK-ANAKNYA MENDAPATKAN PENDIDIKAN SETINGGI MUNGKIN. SELAKU ANAK. HENDAKNYA KITA BELAJAR DAN MENUNTUT ILMU UNTUK BEKAL KEHIDUPAN KITA DI MASA MENDATANG.

Asal Mula Nama Bengkulu – Cerita Rakyat Bengkulu
Asal Mula Nama Bengkulu – Cerita Rakyat Bengkulu

Tersebutlah seorang pangeran bernama Anak Dalam Muara Bengkulu. Ia putra Ratu Agung yang bertakhta di Kerajaan Serut. Ia mempunyai enam saudara. Adik bungsunya seorang perempuan bernama Putri Gading Cempaka.

Ketika Ratu Agung wafat, Anak Dalam Muara Bengkulu dinobatkan menjadi raja Serut yang baru. Anak Dalam Muara Bengkulu memerintah dengan adil dan bijaksana melanjutkan keadilan dan kebijaksanaan yang diterapkan ayahandanya. Rakyat Kerajaan Serut pun hidup dalam kedamaian, ketenangan, dan kesejahteraan. Perdagangan Kerajaan Serut maju pesat. Hasil hutan dan perkebunan Kerajaan Serut banyak dibeli para pedagang yang di antaranya berasal dari negeri- negeri yang jauh dari Kerajaan Serut.

Putri Gading Cempaka tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik wajahnya. Amat elok pula perangainya. Tidak sedikit lelaki yang mengidam- idamkan dapat hidup bersanding dengan adik bungsu Raja Anak Dalam Muara Bengkulu itu.

Syahdan, kecantikan Putri Gading Cempaka diketahui oleh seorang pangeran dari Kerajaan Aceh. Sang pangeran yang terpikat segera mengutus utusan untuk datang ke Kerajaan Serut guna meminang Putri Cempaka Gading. Namun, pinangan itu ditolak Raja Anak Dalam Muara Bengkulu dengan halus.

Penolakan itu membuat Putra Raja Aceh menjadi berang. Segenap kekuatan Kerajaan Aceh segera disiagakan. Dengan menaiki kapal-kapal perang, berangkatlah kekuatan Kerajaan Aceh untuk menyerang Kerajaan Serut.

Raja Anak Dalam Muara Bengkulu mengetahui rencana serangan itu. Ia juga merasa kekuatan Kerajaan Aceh sangat kuat, perlu baginya menerapkan siasat khusus untuk menghadapinya.

“Untuk menghambat laju gerakan danjuga mencegah kapal-kapal Kerajaan Aceh itu mendarat di wilayah Serut, maka hanyutkan batang-batang kayu di hulu sungai!” perintah Raja Anak Dalam Muara Bengkulu.

Para prajurit Kerajaan Serut pun bersiaga. Mereka menebang pepohonan dan menyiapkan batang-batang kayu di pinggir sungai di bagian hulu.

Balatentara Kerajaan Aceh akhirnya tiba. Kapal-kapal perang mereka melewati sungai siap menggempur Kerajaan Serut. Seketika dirasa telah tiba waktunya, Raja Anak Dalam Muara Bengkulu lantas memerintahkan penghanyutan batang- batang kayu dari hulu. Para prajurit danjuga penduduk bahu-membahu menghanyutkan batang-batang kayu itu untuk menghambat laju gerakan balatentara Kerajaan Aceh.

Para prajurit Kerajaan Aceh terperanjat ketika melihat banyaknya batang-batang kayu yang hanyut di sungai dari arah hulu. Mereka bekerja keras untuk menghindarkan kapal yang mereka naiki terkena batang-batang kayu. Namun demikian, tak urung kapal-kapal perang mereka terkena batang-batang kayu itu dan laju pergerakan mereka menuju pusat Kerajaan Seru menjadi terhambat. Mendapati kenyataan itu beberapa prajurit Aceh berseru, “Empang ka hulu! Empang ka hulu!”

Panglima Perang Kerajaan Aceh terus menyerukan agar menghindari dan menyingkirkan batang-batang kayu yang hanyut itu. Berkat keija keras mereka, kapal- kapal mereka akhirnya dapat melaju dan mendarat di sebuah kaki bukit. Seketika mendarat, para prajurit Aceh itu berlompatan ke daratan.

Para prajurit Serut yang telah menunggu segera menyerbu. Maka, peperangan yang dahsyat segera terjadi di bukit itu. Kedua belah pihak berperang dengan gigih. Korban-korban mulai berjatuhan dari kedua belah pihak. Namun hingga perang berlangsung beberapa saat, belum juga terlihat kekuatan mana yang lebih unggul. Tampaknya kedua kekuatan terlihat seimbang.

Tak terperikan kesedihan Raja Anak Dalam Muara Bengkulu mendapati banyaknya korban yang berjatuhan. Ia seperti tak bisa lagi menyaksikan pertumpahan darah itu. Dengan diiringi enam adiknya, kerabat kerajaan, dan juga beberapa pengikutnya yang setia, Raja Anak Dalam Muara Bengkulu bergegas menyingkir menuju Gunung Bungkuk. Mereka bertahan di tempat itu.

Perang akhirnya berhenti tanpa ada yang menang maupun kalah. Kedua kekuatan sepakat berdamai. Namun demikian Raja Anak Dalam Muara Bengkulu beserta seluruh pengikutnya tetap berada di Gunung Bungkuk.

Nama wilayah Kerajaan Serut kemudian berubah penyebutan namanya. Dari teriakan para prajurit Aceh, Empang ka hulu, nama wilayah tersebut berubah menjadi Pangkahulu. Dalam sebutan penduduk, kata Pangkahulu itu berubah kemudian menjadi Bangkahulu dan akhirnya menjadi Bengkulu.

 

PERSELISIHAN, PERKELAHIAN. DAN JUGA PEPERANGAN HANYA AKAN MERUGIKAN KEDUA BELAH PIHAK YANG TERLIBAT DI DALAMNYA. TIDAK ADA KEMENANGAN SEJATI DALAM PEPERANGAN. NAMUN KEHANCURAN PASTI AKAN DIRASAKAN.