Kategori: Betawi (Jakarta)

Juragan Boing – Cerita Rakyat Betawi (Jakarta)
Juragan Boing – Cerita Rakyat Betawi (Jakarta)

Di daerah Duren, Betawi pinggiran, pada masa lampau hiduplah seorang hartawan. Juragan Boing namanya. Ia lelaki terpandang di daerah kediamannya. Orang-orang segan padanya. Apalagi, ia juga pemarah. Kemarahannya akan segera meledak jika ada sesuatu yang tidak membuatnya senang.

Juragan Boing mempunyai seorang anak lelaki, namanya Mat Salim. Ia pemuda baik. Terbilang tampan wajahnya. Banyak gadis yang mengimpikan dapat menjadi istrinya.

Juragan Boing memiliki banyak sawah dan ladang, tersebar di berbagai tempat. Beberapa orang yang bekerja padanya, menggarap sawah dan ladang miliknya itu. Selain itu, Juragan Boing mengupah centeng untuk keamanan diri, keluarga, dan hartanya. Bokir nama centeng Juragan Boing. Seperti tuannya, Bokir juga pemarah. Bahkan, kemarahannya pada pekerja kerap melebihi kemarahan Juragan Boing sendiri.

Salah seorang pekerja Juragan Boing adalah Bang Maun. Bang Maun telah beristri. Mpok Ida nama istrinya. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Juleha namanya. Juleha cantik wajahnya. Banyak pemuda yang jatuh hati pada Juleha. Berminat menjadikan Juleha sebagai istrinya. Tetapi, Juleha tidak menanggapinya. Tampaknya, ia belum ingin berumah tangga.

Sebagai pekerja Juragan Boing, Bang Maun bekerja menggarap sawah dan ladang luas milik Juragan Boing. Ia pekerja yang baik. Rajin bekerja. Pagi-pagi ia telah memulai bekerja dan mengakhiri pekerjaannya ketika sore tiba. Juragan Boing mempercayai dan mengandalkannya.

Pada suatu hari Bang Maun jatuh sakit. Cukup parah sakitnya hingga tak bisa membuatnya bekerja seperti biasanya. Ia hanya rebahan di atas ranjang kayunya. Ia lalu memanggil istrinya. Katanya, “Ida, hari ini aku tidak bisa bekerja. Gantikan aku bekerja di sawah.”

“Ya, Bang,” jawab Mpok Ida.

Mpok Ida tak ingin meninggalkan suaminya sendirian dalam keadaan sakit. Ia memanggil Juleha. Katanya, “Leha, ayahmu lagi sakit. Jaga dan rawat ayahmu baik-baik, selama ibu bekerja di sawah.”

Juleha menganggukkan kepala dan menjawab, “Ya, Bu.”

Sementara di rumah Juragan Boing, Bokir sedang menemui Juragan Boing. Bokir baru saja tiba dari tugas memeriksa sawah dan ladang. Tugas yang biasa ia lakukan pada pagi dan sore hari.

“Sudah kau periksa sawah dan ladang?” tanya Juragan Boing.

“Sudah, Juragan,” jawab Bokir. “Sawah di sebelah barat hari ini tidak ada yang mengurus…”

“Sawah sebelah barat?” potong Juragan Boing. Matanya melotot membesar. “Ke mana Si Maun?”

“Saya tidak melihatnya, Juragan. Mungkin hari ini dia tidak masuk kerja,” jawab Bokir.

Juragan Boing marah. Sudah seharusnya Maun memberitahunya jika tidak masuk kerja. Dibayangkannya sawahnya terbengkalai karena tidak digarap Maun hari itu. Maka serunya, “Bokir! Antar aku ke rumah Maun!”

“Siap, Juragan.”

Juragan Boing dan centeng Bokir segera menuju rumah Bang Maun.

Juragan Boing langsung menggedor pintu rumah Bang Maun. Mpok Ida yang belum berangkat ke sawah bergegas membuka pintu. Ia terperanjat melihat Juragan Boing datang.

“Mana suamimu?” seru Juragan Boing.

“Suamiku lagi sakit. Ia ada… ada di…”

Belum selesai Mpok Ida menjawab, Juragan Boing telah masuk ke dalam rumah Bang Maun. Ia langsung menuju kamar Bang Maun.

Bang Maun yang masih rebahan terkejut melihat kedatangan Juragan Boing. Dengan tubuh gemetar, ia berusaha bangkit. Katanya dengan suara lirih, “Juragan, hari ini saya tidak bisa bekerja. Saya lagi sakit…”

Juragan Boing akan berujar saat dilihatnya Juleha memasuki kamar Bang Maun. Juragan Boing terpesona pada kecantikan Juleha. Ia urungkan kemarahannya. Lalu katanya, “Ya, sudah. Kamu istirahat dulu.”

“Terima kasih, Juragan.”

Juragan Boing mengambil uang dari sakunya. Diberikannya uang itu pada Bang Maun. “Biar kamu cepat sembuh, segera berobat. Pakai uang itu,” katanya sambil melirik ke arah Juleha.

“Terima kasih, Juragan.”

Juragan Boing lalu meninggalkan rumah Bang Maun. Bokir mengiringi di belakang Juragan Boing. Kecantikan wajah Juleha selalu terbayang di benak Juragan Boing. Ia tak menyangka jika anak Bang Maun begitu cantik wajahnya. Juragan Boing terus memikirkan Juleha hingga berketetapan hati untuk melamar Juleha.

Seminggu kemudian Juragan Boing kembali datang ke rumah Bang Maun. Bokir mengikutinya. Kata Juragan Boing di depan Bang Maun dan Mpok Ida, “Maun, aku datang untuk melamar Juleha. Apakah kamu membolehkan?”

Bang Maun dan Mpok Ida terkejut. Keduanya saling bertatap pandang untuk beberapa saat. Wajah keduanya membayang kegembiraan dan kebahagiaan. Jawab Bang Maun, “Tentu saja boleh, Juragan. Saya sangat setuju.”

“Engkau Setuju?”

“Tentu saja saya setuju,” tegas Bang Maun. “Sudah waktunya anak saya itu berumah tangga. Sangat pantas dia menjadi istri Mat Salim, putra Juragan.”

“Juleha bukan untuk anakku, tapi akan kunikahi sendiri!” tegas jawab Juragan Boing.

Bang Maun dan Mpok Ida sangat terkejut. Semula mereka menyangka, Juragan Boing melamar Juleha untuk dinikahkan dengan Mat Salim. Tapi ternyata akan dinikahi Juragan Boing sendiri. Bang Maun dan Mpok Ida sesungguhnya tidak setuju jika anak mereka dijadikan istri kedua Juragan Boing. Namun, Bang Maun tidak bisa menolak lamaran Juragan Boing itu, karena ia telah menyatakan persetujuannya.

Bang Maun dan Mpok Ida hanya bisa pasrah.

“Engkau setuju?” ulang Juragan Boing.

Bang Maun perlahan menganggukkan kepala.

Juragan Boing lalu menentukan tanggal pernikahan. Ia minta rencana pernikahannya itu berlangsung dengan baik. Masalah uang, Juragan Boing meminta Bang Maun dan Mpok Ida tidak perlu khawatir. Ia akan memberikan uang yang cukup untuk rencana pesta pernikahannya.

Centeng Bokir diam-diam mendatangi Mat Salim. Rencana pernikahan Juragan Boing itu diceritakannya pada Mat Salim.

Mat Salim sangat terkejut. Ia tidak setuju jika ayahnya menikahi Juleha. Ia ingin menggagalkan rencana pernikahan ayahnya itu. Namun, ia tidak mengerti bagaimana caranya. Diam-diam ia meninggalkan rumah. Ia lalu menuju warung Mpok Ani.

“Lim, apa yang terjadi padamu?” tanya Mpok Ani ketika Mat Salim tiba di warungnya. “Wajahmu terlihat kusut begitu!”

Mat Salim menceritakan kebingungannya untuk menggagalkan rencana pernikahan ayahnya.

Mpok Ani terdiam mendengarkan. Lalu katanya, “Sebenarnya, mudah saja bagimu untuk menggagalkan rencana pernikahan ayahmu itu, Lim.”

“Bagaimana caranya, Mpok?”

Mpok Ani lalu memberinya saran. Mat Salim mengangguk-anggukkan kepala. Ia akan menjalankan saran Mpok Ani.

Hari pernikahan Juragan Boing dan Juleha tiba. Juragan Boing tiba di rumah Bang Maun. Rumah telah dihias. Upacara pernikahan tampaknya akan segera dilakukan. Penghulu juga telah datang.

“Maun, panggil calon pengantin perempuan,” kata penghulu.

Bang Maun dan Mpok Ida ke kamar Juleha. Keduanya sangat terkejut mendapati kamar anaknya itu telah kosong. Juleha tidak ada di kamarnya!

Kegemparan pun terjadi ketika Bang Maun dan Mpok Ida memberitahukan bahwa Juleha tidak ada di kamarnya. Juleha hilang! Tak terkirakan marahnya Juragan Boing. Ia minta Juleha segera dicari dan ditemukan. Rencana pernikahannya tidak boleh gagal!

Ketika semua orang bersiap-siap mencari Juleha, mendadak Juleha datang bersama Mat Salim, Keduanya bergandengan tangan.

Semuanya terkejut, terlebih-lebih Juragan Boing.

“Juleha,” panggil penghulu, “bagaimana engkau ini? Upacara pernikahan akan dilangsungkan, tapi kamu malah pergi!”

Jawab Juleha, “Pak Penghulu, sebenarnya saya tidak mau menikah dengan Juragan Boing. Saya sudah mempunyai calon sendiri.”

“Siapa calonmu, Leha?” tanya Juragan Boing.

Juleha menatap ke arah Mat Salim. “Inilah calon suami saya.”

“Salim?” seru Juragan Boing. Ia sama sekali tidak menyangka jika anaknya adalah calon suami Juleha.

“Benar, Yah,” kata Mat Salim. “Sebenarnya saya dan Juleha sudah lama mengikat janji. Kami berencana akan menikah. Namun, saya takut menceritakan masalah Ini kepada Ayah. Saya takut Ayah akan marah.”

Juragan Boing terdiam merenungkan ucapan anaknya. Mendadak ia tersadar. Juleha sudah seharusnya menikah dengan anaknya, bukan dengan dirinya.

“Baiklah,” kata Juragan Boing. “Rencana pernikahan ini harus terus dilangsungkan. Juleha harus tetap menikah. Bukan dengan saya, tapi dengan Salim, anak saya.”

Keputusan Juragan Boing disambut lega. Juleha dan Mat Salim kemudian menikah. Keduanya pun hidup berbahagia.

 

BERBUAT SEWENANG-WENANG KEPADA ORANG LAIN HENDAKNYA DIHINDARI. KARENA HAL ITU HANYA AKAN MENDATANGKAN KEBURUKAN DI KEMUDIAN HARI.

Kisah Pangeran Sarif – Cerita Rakyat Betawi (Jakarta)
Kisah Pangeran Sarif – Cerita Rakyat Betawi (Jakarta)

Pangeran Sarif adalah salah seorang ulama di Betawi. Ia terpaksa menyingkir keluar dari Jayakarta setelah Jayakarta dikuasai Kompeni Belanda. Bersama para ulama dan kekuatan lain yang menentang Kompeni Belanda, Pangeran Sarif menyusun kekuatan secara sembunyi-sembunyi. Ia sangat membenci penjajahan manusia atas manusia lainnya seperti yang dilakukan Kompeni Belanda terhadap bangsanya. Pangeran Sarif yakin, suatu saat kekuatan Kompeni Belanda akan dapat diusir dari Jayakarta.

Dalam pengungsiannya, Pangeran Sarif tetap aktif menyebarkan agama Islam. Ia memberikan pelajaran menulis huruf Arab dan membaca Al Qur’an. Dengan ketinggian ilmu agama yang dimilikinya, Pangeran Sarif juga menjelaskan makna dan tafsir ayat-ayat Al Qur’an tersebut. Penjelasannya disampaikannya dalam bahasa sederhana yang kerap diselingi dengan humor hingga dapat ditangkap dengan mudah oleh murid-muridnya. Kian bertambah hari kian banyak saja orang yang datang kepada Pangeran Sarif dan meminta menjadi muridnya.

Pangeran Sarif kerap berkeliling dari daerah ke daerah lainnya untuk menyebarkan agama Islam dan juga menyusun kekuatan untuk menentang Kompeni Belanda. Pada suatu hari Pangeran Sarif menuju daerah Pasar Minggu. Ia hendak menuju desa Bendungan. Ketika sampai di pinggir kali Ciliwung, gerimis turun. Pangeran Sarif segera mengenakan kerudung di kepalanya untuk melindungi kepalanya dari air hujan. Mendadak Pangeran Sarif melihat sebuah perahu yang terlihat menuju arah kota.

Sejenak berbincang-bincang, pemilik perahu menyatakan kepada Pangeran Sarif bahwa ia hendak menuju kota. Pangeran Sarif lalu meminta diri dan secepatnya menyelinap dijalan setapak di antara semak-semak. Pangeran Sarif perlu melakukan tindakan itu untuk menghilangkan jejak. Ia perlu berhati-hati, terutama kepada orang yang hendak menuju kota. Bisa jadi, orang itu akan melaporkan keberadaannya kepada Kompeni Belanda. Menurut kabar yang didengarnya, dirinya termasuk salah satu orang yang paling dicari oleh pemerintah Kompeni Belanda karena dianggap amat luas pengaruhnya untuk menentang pemerintah Kompeni Belanda.

Seketika Pangeran Sarif menyelinap, Si tukang perahu buru-buru mengarahkan perahunya untuk mengikuti Pangeran Sarif. Begitu pula ketika Pangeran Sarif berbelok arah dengan memasuki sebuah terowongan, Si tukang perahu buru-buru pula mengikutinya. Terowongan itu tembus hingga ke sungai Sunter di dekat Pondok Gede. Hingga ke daerah itu Si tukang perahu terus mengikuti.

Si tukang perahu merasakan keanehan. Terowongan yang tadi dilewatinya terlihat sempit dan gelap. Hingga saat itu ia belum pernah melewatinya. Bahkan, ia belum pernah mendengar adanya terowongan itu. Ketika menyadari keanehan itu, ia pun bermaksud untuk kembali ke sungai Ciliwung dengan memasuki terowongan sempit lagi gelap itu. Benar-benar mengherankan, terowongan itu sudah tidak ada lagi!

Si tukang perahu lantas menghampiri Pangeran Sarif. Katanya, “Ampunilah saya wahai Wan Haji. Sungguh, saya tidak bermaksud buruk dengan mengikuti Wan Haji.”

“Jangan meminta ampun kepadaku,” jawab Pangeran Sarif. “Mintalah ampun kepada Allah, karena hanya Allah yang pantas engkau mintai ampun.”

Si tukang perahu lantas memohon ampun kepada Allah dengan cara mengikuti ucapan Pangeran Sarif. Katanya kemudian, “Saya ingin menjadi murid Wan Haji. Saya ingin mendapatkan ilmu dan pengetahuan agama Islam yang dapat saya terapkan dalam kehidupan saya.”

Pangeran Sarif bersedia mengajarkan agama Islam kepada Si tukang perahu. Sejak saat itu Si tukang perahu menjadi murid sekaligus pengikut Pangeran Sarif yang sangat setia.

Adapun terowongan gaib yang sempat dilewati Si tukang perahu di kemudian hari disebut Lubang Buaya oleh penduduk yang mengetahui ceritanya.

 

MENDEKAT DAN BERBAKTI LAH KEPADA TUHAN, NISCAYA TUHAN AKAN MEMBERIKAN PERTOLONGAN-NYA.

Si Jampang – Cerita Rakyat Betawi (Jakarta)
Si Jampang – Cerita Rakyat Betawi (Jakarta)

Si Jampang adalah lelaki Betawi yang hidup pada masa Indonesia masih dijajah Belanda. Ia dikenal tinggi ilmu silatnya. Piawai pula memainkan golok untuk senjata. Sejak masih muda usianya, Si Jampang suka merampok. Hingga kemudian ia menikah, tetapjuga kebiasaannya merampok itu dilakukannya. Bahkan ketika istrinya meninggal dunia dan anaknya telah beranjak remaja.

Meski dikenal sebagai perampok, Si Jampang tidak ingin anaknya itu mengikuti jejaknya. Ia menghendaki anaknya menjadi ahli agama. Maka, hendak dimasukkannya anaknya itu ke pesantren. Anak Si Jampang bersedia masuk pesantren dengan syarat ayahnya itu menghentikan tindakan buruknya. “Masa anaknya mengaji di pesantren tapi babenya (bapak) kerjaannya merampok? Apa kata orang nanti, Be?”

Si Jampang hanya tertawa mendengar ucapan anaknya.

Pada suatu hari Si Jampang mengunjungi Sarba, sahabat lamanya. Ia telah lama tidak berkunjung. Sama sekali tidak disangkanya jika sahabatnya itu telah meninggal dunia. Ia ditemui Mayangsari, istri mendiang Sarba.

Mayangsari bercerita, ia dan suaminya itu dahulu berziarah ke Gunung Kepuh Batu. Mereka berdoa di tempat itu dan memohon agar dikaruniai anak. Sarba berjanji, jika doanya dikabulkan, ia akan menyumbang dua ekor kerbau. Doa mereka akhirnya dikabulkan Tuhan. Mayangsari hamil dan akhirnya melahirkan seorang anak lelaki yang mereka beri nama Abdih. Ketika Abdih beranjak remaja, Sarba meninggal dunia. “Kata orang, suami aye (saya) itu meninggal karena lupa pada janjinya yang akan menyumbang dua ekor kerbau.”

Mendapati Mayangsari telah menjanda sementara dirinya juga telah menduda, Si Jampang lantas melamar Mayangsari. Namun, Mayangsari menolak dengan kasar pinangan Si Jampang.

Si Jampang yang sakit hati lalu mencari dukun untuk mengguna-gunai Mayangsari. Dengan bantuan keponakannya yang bernama Sarpin, didapatkannya dukun itu. Pak Dul namanya, seorang dukun dari kampung Gabus. Si Jampang lantas mengguna-gunai Mayangsari dengan guna-guna dari Pak Dul.

Mayangsari jadi gila setelah terkena guna- guna. Ia sering berbicara dan tertawa sendiri. Abdih yang sangat prihatin pun berusaha mencari cara untuk menyembuhkan kegilaan yang dialami ibunya. Abdih lantas mencari dukun. Kebetulan dukun yang ditemuinya adalah Pak Dul dari kampung Gabus hingga Pak Dul dapat dengan mudah melepaskan guna- guna yang mengena pada diri Mayangsari.

Si Jampang lantas menemui Abdih dan menyatakan minatnya untuk memperistri ibu Abdih itu.

“Aye tidak menolak pinangan Mang (Paman) Jampang untuk ibu aye, tapi aye minta syarat, Mang,” jawab Abdih.

“Syarat apa yang kamu minta?”

“Aye minta sepasang kerbau untuk mas kawinnya, Mang,”

Si Jampang menyanggupi, meski sepasang kerbau bukan perkara yang gampang untuk didapatkan Si Jampang. Si Jampang berusaha memikirkan cara untuk mendapatkan sepasang kerbau. Teringatlah ia pada Haji Saud yang tinggal di Tambuh. Haji Saud sangat kaya, namun sangat kikir. Si Jampang lantas menghubungi Sarpin dan mengajak keponakannya itu merampok rumah Haji Saud.

Rupanya, rencana perampokan itu telah diketahui Haji Saud. Haji Saud telah menghubungi polisi. Para poliSi segera bersiaga di sekitar rumah Haji Saud. Maka, ketika Si Jampang dan Sarpin yang mengenakan baju hitam-hitam itu datang hendak merampok, para poliSi segera mengepungnya.

Si Jampang ditangkap dan dipenjarakan. Ia kemudian dijatuhi hukuman mati.

Kematian Si Jampang disambut gembira para tauke dan tuan tanah karena merasa terbebas dari keonaran yang dilakukan Si Jampang. Namun, kematian Si Jampang ditangiSi rakyat miskin. Meski dikenal selaku perampok, namun Si Jampang banyak memberikan bantuannya kepada mereka. Kebanyakan Si Jampang membagi-bagikan hasil rampokannya itu kepada mereka yang membutuhkan. Bagi rakyat miskin, Si Jampang adalah sosok pahlawan.

 

MENEGAKKAN KEBENARAN MEMANG BERAT. MESKI DEMIKIAN HENDAKLAH KITA SENANTIASA MENEGAKKAN KEBENARAN KARENA KEBENARAN ADALAH SESUATU YANG AKAN DIKENANG SEPANJANG ZAMAN.

Si Pitung – Cerita Rakyat Betawi (Jakarta)
Si Pitung – Cerita Rakyat Betawi (Jakarta)

Terdapat seorang pemuda gagah serta pemberani yang tinggal di daerah Rawa Belong pada zaman dahulu. Pitung namanya.

Sejak kecil Si Pitung telah belajar mengaji agama dan juga belajar silat dari Haji Naipin. Bertambah usianya makin bertambah pula pengetahuan agamanya dan juga kepiawaiannya bermain silat. Pada akhirnya sulit dicari tandingannya dalam permainan silat ketika itu. Si Pitung juga berguru perihal kesaktian lainnya hingga ia diketahui tubuhnya kebal, tidak mempan dilukai oleh senjata tajam. Bahkan, peluru juga tidak dapat menembusnya. Si Pitung pun menjadi pendekar yang namanya disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan.

Si Pitung dikenal baik akhlaknya, pemberani, dan senantiasa membela mereka yang lemah dan teraniaya. Maka, betapa gusar dan marahnya ia ketika mendapati kekejaman dan kesewenang- wenangan Kompeni Belanda memperlakukan rakyat Betawi. Begitu pula ia marah terhadap para tauke (Majikan) dan juga tuan-tuan tanah yang hidup senang karena memeras rakyat. Rakyat Betawi yang miskin bertambah miskin.

Si Pitung tidak bisa membiarkan kejadian menyedihkan itu kian berlarut-larut. Ia merasa harus melakukan sesuatu demi memperbaiki nasib rakyat yang miskin. Ia juga hendak memberi pelajaran keras bagi Kompeni Belanda, para tauke, dan juga tuan-tuan tanah. Langkah pertama yang dilakukannya adalah mencari orang-orang yang sependirian dengannya. Dua orang sahabatnya, Rais dan Ji’i, ternyata juga sepaham dengannya. Mereka pun menggagas tindakan untuk menolong rakyat miskin.

Si Pitung, Rais, dan Ji’i melakukan perampokan terhadap para tauke dan tuan-tuan tanah kaya yang berpihak pada Kompeni Belanda. Hasil rampokan itu lalu diberikan kepada rakyat miskin. Rakyat miskin dan mereka yang tertindas serta teraniaya amat berterima kasih mendapatkan bantuan dari Si Pitung. Namun demikian, sepak terjang Si Pitung itu juga sangat meresahkan para tauke dan juga tuan-tuan tanah.

Untuk menghadapi aksi perampokan Si Pitung, para tauke dan tuan-tuan tanah lantas menyewa centeng-centeng atau tukang-tukang pukul bayaran. Mereka mencari centeng yang dikenal mempunyai kemampuan silat tingkat tinggi dan bersedia membayar mahal jika para centeng itu mampu menjaga harta benda mereka agar tidak dirampok. Mereka mencari hingga ke daerah-daerah yang jauh. Meski demikian, para centeng yang terkenal mempunyai kemampuan silat tinggi itu tidak berdaya juga menghadapi Si Pitung dan kawan-kawannya. Harta kekayaan para tauke dan tuan-tuan tanah itu tak mampu mereka jaga setelah mereka dikalahkan Si Pitung.

Para tauke dan tuan-tuan tanah akhirnya melaporkan kejadian yang mereka alami itu kepada pemerintah Kompeni Belanda. Pemerintah Kompeni Belanda lantas mengirimkan pasukan bersenjatanya untuk menangkap Si Pitung.

Akan tetapi menangkap Si Pitung bukan perkara yang mudah. Selain serangan- serangan mendadaknya sangat merugikan pasukan bersenjata itu, rakyat juga memberikan perlindungannya kepada Si Pitung. Keberadaan Si Pitung saja sulit diketahui pasukan bersenjata itu.

Pemerintah Kompeni Belanda lalu menerapkan siasat lain. Mereka menyatakan, “Siapa saja yang bersedia memberikan keterangan perihal di mana keberadaan Pitung akan diberikan hadiah yang sangat besar.”

Iming-iming hadiah besar itu tidak menarik minat rakyat Betawi, terutama mereka yang miskin, menderita, dan teraniaya. Selama itu mereka telah mendapatkan berbagai bantuan dari Si Pitung, tentu mereka tidak bersedia membantu pemerintah Kompeni Belanda. Si Pitung adalah pahlawan rakyat miskin. Bagaimana mungkin mereka bersedia membantu pemerintah Kompeni Belanda yang menjajah dan membuat kehidupan mereka menjadi menderita? Meski sebagian besar dari mereka disiksa pemerintah Kompeni Belanda untuk menunjukkan keberadaan Si Pitung, tetap saja mereka enggan menyebutkannya.

Sementara pemerintah Kompeni Belanda terus disibukkan mencari keberadaan Si Pitung, Si Pitung dan kawan-kawannya terus menebarkan akSi menakutkannya. Mereka tetap merampok dengan menjadikan para tauke dan tuan tanah kaya sebagai sasaran. Hasil rampokannya tetap mereka bagi-bagikan kepada rakyat miskin.

Apa yang harus dilakukan pemerintah Kompeni Belanda?

Seperti yang dilakukan di daerah-daerah lain di Indonesia, pemerintah Kompeni Belanda melakukan perbuatan licik. Mereka menangkap orangtua Si Pitung dan memenjarakannya. Selain itu, merekajuga menangkap Haji Naipin danjuga memenjarakannya. Mereka menyiksa orangtua Si Pitung danjuga Haji Naipin agar bersedia memberitahu keberadaan Si Pitung danjuga rahasia kesaktian Si Pitung, terutama ilmu kebalnya.

Betapa kejinya mereka menyiksa kedua orangtua Si Pitung danjuga Haji Naipin dengan siksaan yang melewati batas-batas kemanusiaan!

Tidak tahan lagi dengan siksaan yang sangat pedih itu, orangtua Si Pitung akhirnya memberitahu di mana Si Pitung dan kawan- kawannya bersembunyi. Haji Naipin yang sangat menderita karena siksaan yang dialaminya akhirnya juga memberitahu rahasia kesaktian Si Pitung. Katanya, “Jika tubuh Si Pitung terkena telur busuk, maka kekebalan tubuhnya akan menghilang.”

Pemerintah Kompeni Belanda lantas mengirimkan pasukan bersenjata yang lebih besar jumlah anggotanya untuk menangkap Si Pitung dan kawan-kawannya di tempat persembunyian mereka. Pasukan yang lengkap bersenjata itu juga membawa banyak telur busuk untuk menghilangkan kekebalan tubuh Si Pitung.

Pertarungan yang sengit terjadi di daerah yang menjadi tempat persembunyian Si Pitung. Semula Si Pitung dan kawan-kawannya masih mampu merepotkan pasukan bersenjata itu. Amukan mereka mampu menimbulkan banyak korban di pihak pasukan bersenjata. Hingga pasukan bersenjata itu melempari tubuh Si Pitung dengan telur-telur busuk sebelum menghujaninya dengan tembakan.

Si Pitung, pahlawan Betawi pembela kebenaran itu, akhirnya menghembuskan napas terakhirnya terkena tembakan-tembakan. Si Pitung meninggal dunia selaku pahlawan pembela rakyat miskin dan tertindas akibat kekejaman dan kesewenang- wenangan penjajah.

 

HARGAILAH JERIH PAYAH PAHLAWAN KARENA PAHLAWAN ITU TELAH RELA BERKORBAN JIWA DAN RAGA DEMI MENEGAKKAN KEADILAN DAN KEBENARAN YANG TELAH DIRUSAK OLEH PENJAJAH.