Kategori: Gorontalo

Asal Mula Nama-Nama Tapatopo, Tuladenggi, dan Panthungo – Cerita Rakyat Gorontalo
Asal Mula Nama-Nama Tapatopo, Tuladenggi, dan Panthungo – Cerita Rakyat Gorontalo

Raja Tilahunga mempunyai kebiasaan yang baik. Raja di Kerajaan Bolango itu gemar berkelana untuk mengunjungi rakyatnya. Ia mendengarkan keinginan rakyatnya dan berusaha mewujudkan keinginan rakyatnya itu. Selain itu, Raja Tilahunga juga mencari daerah-daerah baru yang subur dalam setiap pengembaraannya itu.

Suatu hari Raja Tilahunga berencana kembali berkelana. Ia merencanakan perjalanan yang cukup lama. Para prajurit diperintahnya untuk membawa bekal perjalanan yang banyak. Selain itu, berbagai peralatan kerja turut serta mereka bawa. Setelah semua bekal dan peralatan kerja disiapkan, rombongan besar itu segera berangkat meninggalkan istana kerajaan.

Rombongan itu menempuh perjalanan jauh. Mereka menyeberangi sungai, menuruni lembah, dan mendaki bukit. Hingga sejauh itu, Raja Tilahunga belum menemukan daerah yang subur. Suatu senja rombongan itu tiba di sebuah bukit. Raja Tilahunga meminta rombongan untuk berhenti.

“Kita beristirahat di daerah ini,” kata Raja Tilahunga.

Para prajurit segera menyiapkan perkemahan. Perbekalan turut pula disiapkan. Beberapa orang prajurit berencana membuat tempat ternyaman untuk Raja Tilahunga beristirahat. Tetapi, Raja Tilahunga menolak rencana itu. Ia ingin membaur dengan para prajuritnya.

“Dalam perjalanan ini, aku adalah sahabat seperjalanan kalian,” kata Raja Tilahunga.

Raja Tilahunga lalu melepaskan pakaian kebesarannya dan menitipkannya pada bukit yang sedang ia singgahi itu.

“Tapatto,” ucap Raja Tilahunga. Maknanya, menitipkan sesuatu untuk sementara waktu pada tempat yang tinggi. Maka, sejak saat Raja Tilahunga selesai berujar, daerah itu dinamakan Tapatopo.

Rombongan itu kembali melanjutkan perjalanan. Mereka melewati dataran luas. Matahari bersinar terik. Perjalanan terasa berat dan melelahkan. Segenap anggota rombongan merasa haus dan lapar. Namun, mereka terus berjalan. Ketika tiba di sebuah padang rumput, Raja Tilahunga memerintahkan rombongan untuk berhenti.

“Kita beristirahat di padang rumput ini,” perintah Raja Tilahunga. “Keluarkan perbekalan kita.”

Perbekalan dikeluarkan. Semua anggota rombongan memakan dan menimum bekal mereka. Rasa lapar dan haus yang mereka alami pun menghilang. Raja Tilahunga mengingatkan agar mereka tidak makan banyak-banyak, mengingat jauh dan lamanya perjalanan yang akan mereka tempuh. Raja Tilahunga tidak ingin mereka kehabisan bekal dalam perjalanan itu.

Perintah Raja Tilahunga didengarkan. Namun, tidak semua anggota rombongan sungguh- sungguh mematuhinya. Beberapa prajurit tetap makan banyak. Salah seorang di antara mereka, Denggi namanya, bahkan terus saja makan. Denggi sangat rakus. Ia tidak hanya memakan bekalnya saja, melainkan juga mencuri bekal milik anggota rombongan lainnya. Tindakan Denggi menimbulkan keributan.

“Apa yang terjadi?” tanya Raja Tilahunga setelah mengetahui keributan yang terjadi.

Salah seorang prajurit melapor, “Tuanku Raja, Denggi berbuat onar. Ia mencuri perbekalan anggota rombongan yang lain.”

Raja Tilahunga marah. Perintahnya, “Hadapkan Denggi padaku!”

Denggi segera dihadapkan pada Raja Tilahunga. Raja Tilahunga menasihati Denggi. Perbuatan Denggi merupakan perbuatan buruk. Perbuatan nista. Tidak seharusnya untuk dilakukan.

“Jangan lakukan lagi perbuatan buruk itu!” tegas ucapan Raja Tilahunga.

Denggi mengakui kesalahannya. Ia lalu meminta maaf pada kawan-kawannya yang telah dirugikannya. Ia berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan buruknya.

Karena kejadian yang dipicu ulah Denggi yang rakus itu, daerah padang rumput itu kemudian dinamakan Tuladenggi. Denggi yang rakus, maknanya.

Rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Mereka menjelajahi hutan hingga tiba di Danau Limboto. Mereka menyusuri pinggir danau luas itu. Raja Tilahunga memperhatikan daerah itu dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, itu daerah yang sangat subur. Sangat sesuai untuk lahan pertanian dan perkebunan. Raja Tilahunga memerintahkan mereka untuk berhenti.

“Dirikan perkemahan di daerah ini,” perintah Raja Tilahunga. “Siapkan peralatan kerja kalian. Kita akan membuka lahan di daerah ini.”

Para prajurit bergegas mematuhi perintah Raja Tilahunga. Mereka mengeluarkan aneka peralatan kerja yang mereka bawa. Mereka terkejut mendapati peralatan kerja mereka banyak yang rusak. Tangkai-tangkai aneka peralatan kerja mereka banyak yang patah. Mereka segera melaporkan kejadian itu pada Raja Tilahunga.

“Perbaiki peralatan kerja kalian,” kata Raja Tilahunga. “Tangkai-tangkai peralatan kerja yang patah hendaknya segera diganti.”

Para prajurit segera mengganti tangkai-tangkai peralatan kerja yang patah. Bagian-bagian dari alat kerja yang rusak juga diperbaiki. Alat kerja yang tumpul kembali diasah, yang terlepas disambung dan diikat kuat kembali. Setelah semua perlatan kerja kembali baik kondisinya, Raja Tilahunga memerintahkan mereka untuk membuka lahan.

Daerah di pinggir Danau Limboto itu kemudian dinamakan Panthungo. Tangkai pegangan alat berkebun, artinya.

Benar perkiraan Raja Tilahunga, Panthungo merupakan daerah yang subur. Segala kebutuhan hidup tersedia. Tanah subur yang membuat tanaman mereka tumbuh baik dan mendatangkan hasil yang melimpah. Ikan yang sangat banyak terdapat di Danau Limboto. Mereka bisa mendapatkannya dengan memancingnya.

Raja Tilahunga merasa senang dan bahagia. Perjalanannya untuk mendapatkan daerah subur telah terpenuhi.

Beberapa tahun kemudian Raja Tilahunga memutuskan untuk kembali ke istana kerajaan. Para prajurit diperintahnya untuk bersiap-siap. Namun, tidak semua prajurit ingin kembali ke kerajaan bersama Raja Tilahunga. Sebagian di antara mereka berniat tetap tinggal di daerah Panthungo itu.

Mereka yang ingin tetap tinggal lalu menghadap Raja Tilahunga. Salah seorang dari mereka berujar, “Ampun Tuanku Raja, jika Paduka memperkenankan, kami ingin tetap tinggal di Panthungo ini.”

Raja Tilahunga bisa memaklumi keinginan itu. Ia memperkenankan mereka untuk tetap tinggal di Panthungo. Keputusan raja disambut lega. Mereka sangat berterima kasih dengan kebijaksanaan Raja Tilahunga.

Raja Tilahunga dengan diiringi prajurit lainnya meninggalkan Panthungo. Mereka kembali melakukan perjalanan menuju Kerajaan Bolango, kediaman Raja Tilahunga yang ternama bijaksana, arif, serta adil dalam memerintah itu.

 

SEORANG PEMIMPIN HENDAKNYA BERSIKAP ADIL, ARIF, DAN BIJAKSANA DALAM MENERAPKAN KEPEMIMPINANNYA.

Legenda Batu Liodu – Cerita Rakyat Gorontalo
Legenda Batu Liodu – Cerita Rakyat Gorontalo

Konon sesuai legenda, hiduplah seorang pemuda sakti bernama Piilu Le Laholite. Biasa ia disapa Laholite. Pekerjaan sehari-harinya adalah berladang dan mencari ikan. Sesekali iajuga mencari rotan di hutan dan juga berburu hewan.

Pada suatu hari, ketika Laholite tengah mencari rotan, ia mendengar suara perempuan- perempuan yang tengah mandi di telaga. Laholite mencari dan menemukan sumber suara itu yang berasal dari tujuh Putri lo Owabu (Bidadari atau putri Kahyangan). Wajah tujuh bidadari itu sangat jelita. Laholite tertarik untuk memperistri salah satu dari mereka. Laholite lantas mengubah dirinya menjadi ayam hutan jantan dan mengambil sayap dari salah satu bidadari itu. Disembunyikan sayap bidadari tersebut di dalam lumbung padinya yang berada di kolong rumahnya. Setelah menyembunyikan sayap sang bidadari, Laholite kembali ke pinggir telaga.

Ketika hari menjelang senja, tujuh bidadari itu berniat pulang kembali ke Negeri Kahyangan. Bidadari bungsu, Boilode Hulawa namanya, tidak menemukan sayapnya. Enam kakak-kakaknya terpaksa meninggalkannya. Boilode Hulawa hanya bisa menangis di pinggir telaga setelah tidak dapat kembali ke Negeri Kahyangan.

Laholite lantas datang mendekati. Ia berpura- pura tidak mengetahui penyebab sedihnya Si bidadari bungsu. Ia menghibur Boilode Hulawa agar tidak usah bersedih tinggal di bumi. Ia bersedia menolong dan mengajak Si bidadari bungsu itu untuk tinggal bersamanya.

Boilode Hulawa menyatakan kesediaannya. Ia juga bersedia diperistri Laholite beberapa waktu kemudian. Laholite dan Boilode Hulawa hidup berbahagia sebagai suami istri.

Selama menjadi istri Laholite, Boilode Hulawa menggunakan kesaktiannya. Untuk makanan ia dan suaminya, ia hanya memasak sebutir beras. Laholite akhirnya mengetahui rahasia itu yang menyebabkan kesaktian istrinya menjadi hilang. Boilode Hulawa terpaksa harus bekerja keras untuk menumbuk padi sebelum menanak nasi. Padi di lumbung rumahnya pun berkurang dengan cepat hingga akhirnya sekitar setahun kemudian habis tak tersisa. Ketika itulah Boilode Hulawa menemukan kembali sayapnya yang disimpan di bawah tumpukan padi di lumbung itu. Boilode Hulawa mengenakan sayapnya dan terbang kembali ke Negeri Kahyangan.

Tak terkirakan kesedihan Laholite setelah men¬dapati istrinya telah kembali ke Negeri Kahyangan. Karena ia sangat mencintai istrinya, Laholite pun mencari cara agar dapat menuju Negeri Kahyangan. Ia terus meminta tolong kepada siapa pun yang ditemuinya yang bisa menolongnya agar dapat ke Negeri Kahyangan. Semua yang dimintainya tolong menyatakan ketidaksanggupannya hingga akhirnya ia bertemu dengan pohon Hutia Mala yang bersedia menolongnya.

Pohon Hutia Mala mempunyai syarat sebelum menolong Laholite. “Jagalah agar batangku tidak dimangsa tikus.”

Laholite menyatakan kesediaannya.

Pohon Hutia Mala lantas melentikkan batang-nya hingga Laholite terlontarjauh menembus pintu langit hingga akhirnya tiba di Negeri Kahyangan. Laholite merasakan kebingungan setibanya di Negeri Kahyangan. Ia mendapati tujuh bidadari yang sama persis wajah dan bentuk tubuhnya. Ketujuh bidadari itu sama-sama mengaku bernama Boilode Hulawa. Laholite yakin, salah satu dari tujuh bidadari itu adalah istrinya.

Laholite benar-benar kebingungan. Ia hanya bisa menumpahkan kesedihannya me¬lalui tangisnya. Seorang lelaki tua kemudian mendatanginya dan memberikan bantuannya. Katanya, “Perhatikan tujuh bidadari itu. Salah satu bidadari yang di antara garis keningnya dihinggapi kunang-kunang itulah istrimu.”

Berkat bantuan Si lelaki tua, Laholite akhirnya berhasil menemukan istrinya. Keduanya hidup di Negeri Kahyangan, karena Boilode Hulawa tak ingin lagi kembali ke bumi. Ia jera tinggal di bumi karena harus bekerja keras dan dalam keadaan susah payah. Laholite yang sangat mencintai istrinya itu senang tinggal di Negeri Kahyangan. Sebagai suami Boilode Hulawa, Laholitejuga di¬perlakukan layaknya seorang pangeran di Negeri Kahyangan.

Namun, meski Laholite berkehendak dapat terus hidup di Negeri Kahyangan, istrinya tidak memperkenankannya. Penyebabnya karena di kepala Laholite tumbuh uban. Menurut adat dan peraturan yang berlaku di Negeri Kahyangan, siapa pun juga yang tinggal di Negeri Kahyangan tidak diperkenankan beruban. Uban pertanda tua. Segenap warga Negeri Kahyangan harus menjalani kehidupan abadi. Jika uban di kepala Laholite diketahui, ia dan istrinya niscaya akan diusir dari Negeri Kahyangan.

Laholite dan Boilode Hulawa mencari cara untuk mengataSi masalah besar yang mereka hadapi. Namun, tidak ada jalan lain lagi selain mereka harus kembali ke bumi. Laholite lantas menuju pintu langit untuk turun ke bumi dengan menuruni pohon Hutia Mala. Laholite amat terperanjat saat mengetahui pohon Hutia Mala telah tumbang akibat batangnya digigiti tikus.

“Karena pohon Hutia Mala telah tumbang, aku tidak bisa kembali ke bumi,” kata Laholite kepada istrinya.

Boilode Hulawa terdiam beberapa saat. Ia lantas mencabut satu rambutnya. Katanya kemu¬dian, “Suamiku, hendaklah engkau berpegangan pada ujung rambutku ini.”

Setelah Laholite berpegangan dan bergelan-tungan pada rambutnya, Boilode Hulawa kembali mencabut rambutnya dan kemudian menyam¬bungnya dengan rambut yang telah dicabutnya terlebih dahulu. Begitu seterusnya yang ia lakukan hingga akhirnya seluruh rambutnya telah ia cabuti. Kepalanya menjadi gundul. Boilode Hulawa telah berkorban begitu besar sebagai wujud cinta kasihnya kepada suaminya itu.

Namun, hingga tak tersisa rambut di kepala Boilode Hulawa, Laholite belum juga dapat mendarat di bumi. Tubuh Laholite melayang-layang di antara langit dan bumi. Tiba-tiba cuaca cerah berubah menjadi mendung. Angin kencang bertiup dan petir menyambar-nyambar. Tubuh Laiohite yang melayang-layang itu tersambar petir hingga terbelah menjadi dua. Kaki kanannya patah dan jatuh di pantai Pohe. Kaki kirinya jatuh di pantai Kwandang. Seiring berlalunya sang waktu, kaki tersebut hanya menyisakan tapak kakinya saja dan kemudian berubah menjadi batu.

Masyarakat yang menemukan batu dengan bekas telapak kaki kanan itu kemudian menamakannya Botu Liodu Lei Lahilote.

 

KITA HENDAKLAH BERDIAM DI TEMPAT YANG SESUAI DENGAN YANG KITA KEHENDAKI. JANGAN MEMAKSAKAN DIRI BERADA DI TEMPAT YANG TIDAK SESUAI DENGAN KONDISI KITA.

Asal Mula Danau Limboto – Cerita Rakyat Gorontalo
Asal Mula Danau Limboto – Cerita Rakyat Gorontalo

Wilayah Umboto pada masa lampau merupakan wilayah laut yang luas. Suatu ketika air laut surut hingga wilayah itu pun menjadi hamparan hutan yang luas. Di hutan itu muncul beberapa mata air. Salah satunya adalah mata air Tupalo yang berair sangat jernih. Tujuh bidadari bersaudara dari Kahyangan kerap mandi di mata airTupalo itu.

Tersebutlah seorang penduduk Kahyangan datang berkunjung ke bumi. Ia menjelma menjadi manusia. Jilumoto sebutannya.

Jilumoto yang berwajah tampan itu suatu hari melintas di dekat mata air Tupalo. Pada saat yang bersamaan tujuh bidadari bersaudara dari Kahyangan tengah mandi di mata air Tupalo. Jilumoto terperanjat mendapati kecantikan tujuh bidadari itu. Ia pun sangat berhasrat memperistri salah satu bidadari itu. Ia lalu mengambil dan menyembunyikan salah satu sayap yang ditang¬galkan para bidadari itu selama mereka mandi: Menjelang sore, tujuh bidadari itu selesai mandi. Mereka hendak kembali ke Kahyangan. Bidadari tertua, Mbu’i Bungale namanya, tidak me¬nemukan sayapnya. Enam adiknya telah berusaha mencari, sayap Mbu’i Bungale tidakjuga mereka temukan. Mereka terpaksa meninggalkan kakak sulung mereka di bumi.

Mbu’i Bungale sangat sedih setelah tidak da¬pat kembali ke Kahyangan. Ia menangis di pinggir mata airTupalo. Jilumoto lantas mendekati dan berpura-pura menanyakan penyebab sedihnya bidadari itu. Jilumoto lalu melamar Mbu’i Bungale setelah mereka berkenalan beberapa saat. Mbu’i Bungale menerima lamaran itu. Keduanya pun menikah dan tinggal di sebuah rumah yang mereka dirikan di puncak bukit Huntu lo Ti’opo (Bukit kapas). Di ladang dekat rumahnya, Jilumoto kemudian bercocok tanam.

Setelah beberapa saat tinggal di bumi dan menjadi istri Jilumoto, Mbu’i Bungale mendapat kiriman dari Kahyangan berupa bimulela, yaitu se¬buah batu mustika sebesartelur itik. Mbu’i Bungale menyimpan batu mustika berharga itu di dekat mata airTupalo. Untuk menyamarkannya, Mbu’i Bungale menutupinya dengan sebuah tudung.

Beberapa waktu kemudian terdapat empat orang yang melintas di dekat mata air Tupalo. Mereka kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Empat orang itu lantas meminum air dari mata airTupalo. Salah seorang dari mereka melihat tudung. Ia memberitahukan hal itu pada tiga temannya. Ketika mereka mencoba mendekati, tiba-tiba muncul angin besar yang menderu ke arah mereka. Hujan yang sangat lebat seketika itu juga mengguyur tempat itu. Empat orang itu terpaksa berlarian untuk berlindung. Ketika mereka telah menjauh dari tudung, mendadak angin pun mereda dan hujan berhenti.

Salah seorang dari empat orang itu menge¬tahui, kejadian aneh tersebut berhubungan de¬ngan tudung yang mereka lihat. Ia pun segera makan sirih dan meludahi tudung itu dengan air sepah yang telah dimantrainya. Tudung itu akhirnya dapat mereka angkat dan terkejutlah mereka ketika mendapati mustika sebesartelur itik di bawah tudung.

Sebelum empat orang itu mengambil mustika bimulela di bawah tudung itu, Mbu’i Bungale dan Jilumoto datang ke tempat itu. Kedatangan suami istri itu hendak mengambil mustika bimulela.

“Jangan kalian sentuh atau ambil mustika milikku itu!” seru Mbu’i Bungale.

Terjadilah perselisihan pendapat karena empat orang itu mengaku sebagai pemilik mustika bimulela. Bahkan, merekajuga mengaku sebagai pemilik wilayah itu. Mbu’i Bungale mengingatkan agar mereka tidak berbohong dengan mengakui wilayah di mana mata airTupalo berada itu sebagai milik mereka.

“Jika kalian mengaku pemilik wilayah ini, cobalah kalian memperluas mata airTupalo itu,” tantang Mbu’i Bungale.

Empat orang itu menerima tantangan Mbu’i Bungale. Keempatnya segera menyatukan kesaktian mereka untuk memperluas mata airTupalo. Meski mereka telah mengerahkan segenap kemampuan dan kesaktian mereka, mata air Tupalo tidak bisa mereka perluas. Mereka akhirnya menyerah.

“Apakah engkau sendiri dapat memperluas mata air ini?” kata salah seorang dari empat orang itu.

Mbu’i Bungale tidak menjawab. Ia lalu du¬duk dan bersedekap kemudian berkata, “Woyi … air kehidupan, mata air sakti, mata air yang mempunyai berkah, melebar dan meluaslah! Wahai mata air para bidadari … membesar dan meluaslah! Membesar dan meluaslah!”

Mbu’i Bungale lantas mengajak suaminya untuk naik ke atas pohon. Ia juga memperingatkan kepada empat orang itu untuk segera menyingkir dari tempat itu karena tidak lama lagi wilayah itu akan terendam air.

Setelah Mbu’i Bungale, Jilumoto, dan empat orang itu telah menyingkir, terdengar suara bergemuruh dari dalam tanah. Perlahan-lahan mata air Tupalo membesar dan meluas. Air yang memancar keluar dari mata air itu kian membesar dan terus membesar. Dengan cepat wilayah itu tergenang air. Air meninggi dan terus meninggi.

Empat orang yang mengakui wilayah itu adalah wilayah mereka merasa takjub dan tercengang. Mereka sangat takut tenggelam, terlebih-lebih airterus meninggi hingga hampir mengenai tempat di mana mereka berada. Mereka berteriak-teriak, “Maafkan kami Mbu’i Bungale, ampun! Kami mengaku salah! Kami bukan pemilik wilayah ini, engkaulah pemilik yang sesungguhnya! Maafkan kami! Ampuni kami!”

Mbu’i Bungale kembali bersedekap dan berdoa. Tak berapa lama kemudian air tidak lagi cepat meninggi. Semburan air dari mata air Tupalo kembali memancar seperti awalnya. Empat orang itu segera menghampiri Mbu’i Bungale untuk menyatakan permohonan maaf mereka. Mbu’i Bungale menerima permohonan maaf mereka.

Mbu’i Bungale memegang mustika bimulela. Keajaiban pun terjadi. Dari mustika bimulela itu keluar bayi perempuan. Wajah Si bayi terlihat cantik, bercahaya seperti rembulan. Mbu’i Bungale memberinya nama Tolango Hula (Berasal dari Tilango lo Hulalo yang berarti cahaya bulan).

Mbu’i Bungale dan Jilumoto segera membawa Tolango Hula ke rumah mereka. Namun, sebelum Mbu’i Bungale meninggalkan tempat itu, ia melihat lima buah jeruk terapung-apung di tengah danau. Mbu’i Bungale mengambil buah jeruk itu. Ia keheranan, buah jeruk itu sama dengan buah jeruk yang terdapat di Negeri Kahyangan. Keheranan Mbu’i Bungale kian menjadi-jadi saat melihat satu pohon jeruk yang tengah berbuah amat lebat. Segera dipanggilnya suminya, “Suamiku, lekaslah ke sini!”

Jilumoto datang mendekat.

“Suamiku, bukankah pohon jeruk ini berasal dari Kahyangan?”

Jilumoto membenarkan pertanyaan istrinya. Ia juga keheranan mengapa pohon dari Kahyangan itu bisa tumbuh di daerah tempat tinggal mereka.

Mbu’i Bungale yakin, tumbuhnya pohon jeruk yang biasa tumbuh di Kahyangan itu karena kebesaran Tuhan. Oleh karena itu, untuk mengenang kejadian tersebut, Mbu’i Bungale dan Jilumoto kemudian menamakan danau itu dengan nama Bulalo lo limu o tutu (Danau dari jeruk yang berasal dari Kahyangan.).

Masyarakat pun kemudian menyebut danau itu dengan nama Bulalo lo Limutu dan lebih terkenal ia dengan nama danau Limboto.

 

 

JANGANLAH KITA BERBOHONG KARENA BOHONG HANYA AKAN MERUGIKAN KITA SENDIRI DI KEMUDIAN HARI.

Tulap dan Lelaki Tua – Cerita Rakyat Gorontalo
Tulap dan Lelaki Tua – Cerita Rakyat Gorontalo

Di sebuah hutan belantara hiduplah raksasa ganas bernama Tulap. Ia dikenal pemangsa manusia danjuga hewan-hewan di hutan. Orang- orang yang berani memasuki hutan belantara itu akan dimangsa Tulap. Setiap hari, Tulap Si Raksasa berburu manusia danjuga hewan di wilayah hutan belantara.

Pada suatu hari ketika Tulap Si Raksasa tengah berburu, ia mendapati seorang lelaki tua. Segera didekati dan dihardiknya lelaki tua itu, “Apa yang engkau lakukan di sini, hei lelaki tua?”

Tak terkirakan terkejutnya Si lelaki tua ketika mendapati Tulap Si Raksasa telah berada di dekatnya. Tubuhnya langsung gemetar. Dengan terbata-bata ia menjawab, “Aku … sedang men … mencari kayu bakar.”

Tulap Si Raksasa terlihat senang melihat Si lelaki tua ketakutan. Ia tidak ingin memangsa lelaki tua itu ketika itu. Ia pun mengajak Si lelaki tua untuk mencari burung untuk santapannya.

Si lelaki tua terpaksa menuruti ajakan Tulap Si Raksasa. Jika ia menolak, bisa dipastikannya jika Tulap Si Raksasa akan segera memangsanya. Sambil berjalan bersama Tulap, ia akan mencari cara agar terlepas dari raksasa ganas pemangsa manusia itu.

Tulap Si Raksasa meminta Si lelaki tua berjalan di depannya. Si lelaki tua kian ketakutan. Dengan berjalan di depan Tulap, ia khawatirjika raksasa itu langsung menangkap dan memangsanya. Hingga mereka berjalan beberapa saat, kekhawatiran Si lelaki tua tidak terwujud. Tulap Si Raksasa tampaknya belum berhasrat memangsa Si lelaki tua ketika itu.

Dalam perjalanan itu Si lelaki tua melihat peniti dan jarum tergeletak di jalan. Tulap Si Raksasa juga melihatnya. Ia malah memerintahkan Si lelaki tua untuk mengambil peniti dan jarum itu untuk dibawa pulang ke rumahnya, Keduanya kembali meneruskan perjalanan hingga di sebuah tempat mereka melihat sebuah pohon pisang yang tengah berbuah. Sebagian buah-buah pisang itu telah masak. Tulap SI Raksasa memerintahkan Si lelaki tua untuk memetik buah-buah pisang yang telah masak. Setelah berjalan beberapa saat, keduanya memutuskan untuk sejenak beristirahat. Ketika itu mereka melihat sebatang kayu pemukul yang biasa digunakan untuk memukul sagu. Tulap Si Raksasa memerintahkan Si lelaki tua untuk mengambil kayu pemukul itu.

Setelah beristirahat sejenak, mereka kembali meneruskan perjalanan. Dalam perjalanan itu Si lelaki tua hampir menginjak seekor tikus jantan besar. Tulap Si Raksasa lalu berkata, “Tikus jantan, ikutlah engkau dengan kami untuk mencari makanan yang lezat.”

Tikus jantan yang ketakutan terpaksa menuruti ajakan Tulap Si Raksasa. Jika ia menolak atau melarikan diri, niscaya Tulap Si Raksasa akan menangkap dan memangsanya.

Dalam perjalanan berikutnya, mereka bertemu dengan seekor lipan besar. Tulap Si Raksasa juga mengajak lipan besar itu untuk turut bersamanya. Lipan besar yang takut dimangsa Tulap Si Raksasa terpaksa pula menurut. Ia turut bergabung dengan Si lelaki tua dan tikus jantan. Tak berapa lama kemudian mereka bertemu dengan seekor burung mutuo yang hendak bertelur. Tulap Si Raksasa mengajak burung mutuo itu untuk turut bersamanya. Katanya, “Engkau dapat membuat sarang dan bertelur dengan nyaman di rumahku.”

Burung mutuo terpaksa pula mengikuti ajakan Tulap Si Raksasa karena takut dimangsa raksasa ganas itu.

Setelah berjalan beberapa saat, Tulap Si Raksasa merasa lelah. Ia ingin beristirahat sejenak. Namun, ia memerintahkan Si lelaki tua, tikus jantan, lipan besar, dan burung mutuo untuk berjalan terlebih dulu. Ia akan menyusul kemudian.

Sambil berjalan, Si lelaki tua mengungkapkan kekhawatirannya. “Pada akhirnya,” katanya, “Tulap akan memangsa kita semua.”

Ucapan Si lelaki tua diiyakan tikus jantan, lipan besar, dan burung mutuo. Ketiga hewan itu sangat yakin, setibanya mereka di rumah Tulap, mereka semua akan dimangsa Tulap.

“Lantas, apa langkah yang sebaiknya kita lakukan?” tanya tikus jantan.

“Kita akan terus merasa terancam jika raksasa ganas itu masih hidup,” ujar Si lelaki tua. “Satu- satunya cara untuk menyelamatkan diri kita ma¬sing-masing adalah dengan melenyapkan raksasa ganas itu untuk selama-lamanya!”

Lipan besar mengemukakan pertanyaannya, “Lelaki tua, apakah engkau mempunyai cara untuk itu?”

Setelah merenung beberapa saat, Si lelaki tua mengemukakan rencananya. Mereka akan berbagi tugas untuk melenyapkan Tulap Si Raksasa. Jika mereka nanti mendapati Tulap telah tertidur, Si lelaki tua akan meletakkan jarum dan peniti di dekat tempat Tulap tidur. Ia juga akan meletakkan kulit- kulit pisang di depan pintu rumah Tulap. Si lelaki tua meminta tikus jantan untuk menggigit daun telinga Tulap ketika tidur. Lipan besar bertugas menggigit lengan Tulap. Burung mutuo bertugas mengepak-ngepakkan sayap untuk mematikan lampu di rumah Tulap dan kemudian mengepak- ngepakkan sayapnya di dekat mata Tulap agar mata Tulap terkena debu.

Tikusjantan, lipan besar, dan burung mutuo menyetujui saran Si lelaki tua. Mereka terus mematangkan rencana seraya terus berjalan beriringan menuju rumah Tulap.

Tulap Si Raksasa pulang ke rumahnya setelah mendapatkan mangsa. Ia terlihat kekenyangan dan juga kelelahan. Sesampainya di rumah, ia langsung tertidur. Lelap sekali tidurnya raksasa ganas pemangsa manusia dan hewan itu.

Rencana Si lelaki tua segera diwujudkan. Si lelaki tua meletakkan jarum dan peniti di dekat Tulap Si Raksasa tidur. Ia juga memasang kulit-kulit pisang di depan pintu rumah Tulap. Si lelaki tua lantas bersiaga dengan kayu pemukul di balik pintu.

Tikus jantan lalu beraksi. Dengan gigi-giginya yang tajam ia menggigit daun telinga Tulap.

Tulap Si Raksasa yang kesakitan langsung terbangun dan bangkit. Dengan kelopak mata yang masih terkatup ia meloncat dari tempat tidurnya. Ketika kedua kakinya menginjak lantai, ia berteriak kesakitan karena kedua kakinya itu terkena jarum dan peniti yang dipasang Si lelaki tua. Tulap Si Raksasa lantas berniat menuju sumur untuk mencuci wajahnya. Burung mutuo segera beraksi. Ia mengepak-ngepakkan kedua sayapnya hingga lampu di rumah Tulap Si Raksasa menjadi padam. Debu-debu beterbangan di dekat mata Tulap karena burung mutuo itu terus mengepak-ngepakkan kedua sayapnya. Mata Tulap kemasukan debu hingga ia tidak bisa melihat. Dengan meraba- raba ia pun berjalan menuju sumur. Ia hendak membasuh wajahnya untuk menghilangkan debu yang membuatnya tidak bisa melihat.

Giliran lipan besar yang berakSi sesuai rencana yang digagas Si lelaki tua. Ia menggigit lengan Tulap hingga Tulap menjerit kesakitan. Tulap Si Raksasa mengurungkan niatnya ke sumur. Ia menuju pintu luar rumahnya, tetap dengan berjalan seraya meraba-raba. Tulap langsung jatuh setelah ia menginjak kulit pisang. Keras berdebum ketika tubuh raksasa ganas itu menghentak tanah. Si lelaki tua segera menghantamkan kayu pemukulnya ke kepala Tulap Si Raksasa. Begitu keras hantaman itu hingga Tulap roboh terjengkang dan akhirnya tewas.

Si lelaki tua dan tiga hewan itu akhirnya kembali ke rumah masing-masing. Mereka merasa lega karena terbebas dari bahaya yang mengancam jiwa mereka. Tak ada lagi raksasa ganas yang harus mereka takuti.

 

KERJASAMA, BERSATU PADU, DAN KEBERSAMAAN AKAN MENGHASILKAN KEKUATAN YANG BESAR HINGGA DAPAT MENGALAHKAN SESUATU YANG KUAT.