Kategori: Jambi

Asal Mula bukit Kancah – Cerita Rakyat Jambi
Asal Mula bukit Kancah – Cerita Rakyat Jambi

Tersebutlah tiga orang saudara kandung yang hidup di tengah hutan pada masa lampau. Mereka terdiri dari Si Sulung, Si Tengah, dan Si Bungsu. Si Bungsu perempuan, dua kakak kandungnya lelaki. Kedua orang tua mereka telah meninggal dunia. Selama tinggal di tengah hutan, ketiganya bersahabat dengan berbagai jenis makhluk gaib penghuni hutan. Mereka tidak hanya bersahabat, melainkan mendapat berbagai ilmu kesaktian dari berbagai makhluk gaib itu. Tiga saudara kandung itu menjadi sakti mandraguna karenanya.

Pada suatu hari datang seseorang menemui tiga saudara kandung itu. Ia adalah pengawal Raja Negeri Tanjung. Katanya setelah bertemu, “Negeri Tanjung sedang diancam kekuatan negeri tetangga. Tuanku Raja berkehendak meminta bantuan kalian berdua, Sulung dan Tengah, untuk membela Negeri Tanjung.”

Si Sulung dan Si Tengah sejenak berembuk. Keduanya sepakat untuk membantu Negeri Tanjung.

Pengawal Raja Negeri Tanjung senang mendengar kesanggupan Si Sulung dan Si Tengah.

“Tuanku Raja meminta kalian datang ke istana sebelum bulan purnama datang.”

Si Sulung dan Si Tengah menyanggupi.

Setelah pengawal Raja Negeri Tanjung kembali ke istana, Si Sulung dan dua adiknya berembuk. Si Sulung dan Si Tengah siap memenuhi panggilan Raja Negeri Tanjung. Tapi, keduanya khawatir meninggalkan adik bungsu mereka sendirian. Bagaimana jika adik bungsu mereka diserang hewan buas? Bagaimana jika ada siluman jahat yang mengganggu adik bungsu mereka?

Si Tengah memberikan usul setelah teringat pada kancah atau kuali besar, “Sebaiknya, adik bungsu kita masukkan ke dalam kancah,” katanya. “Setelah berada di dalam kancah, Kakak hendaknya membacakan mantera padanya. Niscaya, adik kita tidak akan terlihat oleh makhluk apa pun.”

“Saran yang sangat baik, Tengah adikku,” puji Si Sulung. “Dengan cara itu kita bisa meninggalkan adik kita tanpa khawatir. Adik bungsu kita aman dalam kancah itu.”

Si Bungsu pun setuju dengan rencana dua kakaknya itu. Ia dan dua kakaknya lalu berpelukan. Tangis ketiganya pecah. Seumur hidupnya, Si Bungsu belum pernah berpisah dengan dua kakak kandungnya itu. Berpisah dengan mereka sangat membuatnya sedih. Namun, dua kakaknya memintanya untuk tidak terlalu bersedih.

“Setelah urusan kami selesai, kami akan secepatnya kembali,” janji Si Sulung. “Kita akan segera kembali bersama-sama lagi.”

Keesokan harinya Si Sulung dan Si Tengah meminta adik mereka memasuki kancah. Si Sulung lantas merapal mantera sakti. Seketika selesai Si Sulung membaca mantera sakti, tubuh Si Bungsu menghilang. Ia tidak lagi terlihat, meski Si Bungsu masih bisa bercakap-cakap seperti biasanya.

“Adikku,” kata Si Sulung pada adik bungsunya. “Kini engkau aman dalam kancah itu. Tidak ada seorang pun yang bisa melihatmu.”

”Ya, Kak,” sahut Si Bungsu. “Berhati-hatilah dalam perjalanan kalian nanti.”

“Ya, adikku,” jawab Si Tengah.

Si Sulung dan Si Tengah bergegas meninggalkan tengah hutan untuk menuju istana Negeri Tanjung. Berhar-hari mereka berjalan hingga akhirnya tiba di istana Negeri Tanjung. Keduanya bergegas menghadap Raja Negeri Tanjung.

Raja Negeri Tanjung sangat gembira menerima kedatangan Si Sulung dan Si Tengah. Ia lalu mengangkat keduanya menjadi panglima perang Negeri Tanjung.

Serangan negeri tetangga tiba. Si Sulung dan Si Tengah segera mengerahkan pasukan Negeri Tanjung untuk menghadang dan melawan. Terjadilah peperangan yang seru. Ketika mengetahui pasukan musuh sangat kuat, Si Sulung dan Si Tengah segera meminta bantuan makhluk-makhluk gaib penghuni hutan. Mereka bergegas berdatangan untuk memberikan bantuan. Dengan bantuan para makhluk gaib penghuni hutan, prajurit-prajurit Negeri Tanjung akhirnya memenangkan peperangan.

Sorak-sorai para prajurit Negeri Tanjung terdengar membahana setelah mereka memenangkan peperangan.

Raja Negeri Tanjung berbahagia. Ia lalu mengangkat Si Sulung dan Si Tengah menjadi hulubalang istana terpercaya. Keduanya mendapatkan tempat yang istimewa. Raja Negeri Tanjung kerap berbincang-bincang dengan mereka.

Kedudukan Si Sulung dan Si Tengah menimbulkan iri bagi para hulubalang istana lainnya. Mereka akhirnya benci dan berniat melenyapkan Si Sulung dan Si Tengah. Diam-diam mereka menyusun rencana jahat. Mereka akan memberontak. Tidak hanya untuk melenyapkan Si Sulung dan Si Tengah, mereka berniat meruntuhkan kekuasaan sang Raja.

Pada hari yang ditentukan, para hulubalang melancarkan serangan mendadak. Raja Negeri Tanjung terkejut. Sama sekali ia tidak menyangka. Ia lalu memerintahkan Si Sulung dan Si Tengah untuk menghadapi serangan itu.

“Padamkan pemberontakan mereka!” perintah sang Raja pada Si Sulung dan Si Tengah.

“Baik, Tuanku Raja,” jawab Si Sulung dan Si Tengah bersamaan.

Sesungguhnya kesaktian Si Sulung dan Si Tengah sulit ditandingi para hulubalang yang memberontak itu. Keduanya mampu mengalahkan serangan mereka. Namun, Si Sulung nampak ragu- ragu dalam peperangan. Ia merasa tak enak hati berperang melawan sesama hulubalang. Terlebih- lebih, mereka semua telah bahu-membahu mempertahankan Negeri Tanjung dari serangan kekuatan musuh.

Keragu-raguan Si Sulung membuatnya tidak mengeluarkan segenap kesaktiannya. Kesempatan itu dimanfaatkan para hulubalang pengkhianat. Mereka menyerang Si Sulung dengan gencar. Si Sulung akhirnya gugur dalam peperangan yang terjadi di dalam istana itu.

Si Tengah sangat marah melihat kematian kakaknya. Ia pun mengerahkan kesaktiannya. Tak berapa lama kemudian kekuatan para hulubalang pengkhianat berhasil dikalahkan.

Sekali lagi Si Tengah berhasil mengamankan Negeri Tanjung dari serangan musuh. Sang Raja sangat berterima kasih pada Si Tengah. Sang Raja menjadikan Si Tengah sebagai orang kepercayaannya. Lebih jauh, Sang Raja lantas menikahkan putrinya dengan Si Tengah. Ia juga berharap, kelak Si Tengah akan meneruskan kekuasaannya setelah ia turun takhta.

Pesta pernikahan dilangsungkan dengan meriah. Seusai pesta, Si Tengah tinggal di dalam istana. Si Tengah mendapatkan kehormatan tinggi setelah menjadi menantu sang Raja.

Si Tengah teringat pada adiknya di tengah hutan. Ia meminta izin pada sang Raja dan istrinya untuk menjemput adik bungsunya. Sang Raja dan istri Si Tengah memberikan izin.

Si tengah kembali ke tengah hutan. Ia menemukan kancah besar tempat tinggal adik bungsunya. Si tengah kebingungan. Ia sangat bahagia bertemu dengan adiknya, namun sosok adiknya tidak bisa dilihatnya. Hanya mendiang kakaknya yang menguasai mantera sakti penghilang adiknya. Si Tengah hanya bisa menumpahkan kerinduannya dengan berbincang-bincang dengan adik kandung yang sangat disayanginya itu. Si Tengah menjelaskan jika kini ia telah menjadi anak menantu Sang Raja. Diceritakannya pula kejadian mengenaskan yang menimpa kakak sulung mereka.

Si Bungsu terkejut dan sangat bersedih mendengar kabar kematian kakak sulungnya. Ia menangis tersedu-sedu. Katanya kemudian, “Lantas, bagaimana caranya agar aku bisa kembali terlihat, Kak?”

“Tenanglah, adikku,” jawab Si Tengah. “Aku akan mencari cara untuk membebaskanmu.”

Si Bungsu menerima penjelasan kakaknya.

“Kini, aku akan kembali ke istana. Aku akan mencari sosok sakti yang bisa membebaskanmu dari mantera sakti Kakak kita.”

Tangis Si Bungsu kembali pecah. Ia sangat sedih ditinggal kakak kandungnya untk yang kedua kalinya. Namun, ia sangat berharap, kakaknya akan dapat menemukan cara untuk membebaskan dirinya dari mantera sakti kakak sulungnya.

Si Tengah kembali ke istana. Di sela-sela kesibukannya, ia berusaha mencari sosok sakti yang bisa membebaskan adiknya dari mantera sakti kakaknya. Tetapi, hingga waktu bertahun- tahun kemudian, ia belum juga menemukan sosok sakti yang dicarinya. Tidak juga ditemukannya cara untuk membebaskan adik kandungnya itu.

Tanpa diketahui Si Tengah, kancah tempat kediaman Si Bungsu terus membesar. Setiap saat kancah itu semakin membesar dan terus membesar. Aneka tanaman perdu dan semak tumbuh subur di bagian atas kancah. Pepohonan besar akhirnya tumbuh pula di tempat itu. Kancah itu pun akhirnya berubah menjadi sebuah bukit. Di kemudian hari, bukti itu dinamakan Bukit Kancah.

 

PERSAUDARAAN HENDAKNYA TERUS DIJALIN. SFSAMA SAUDARA HENDAKNYA SALING SAYANG-MENYAYANGI DAN JUGA SALING TOLONG-MENOLONG. KEBERSAMAAN DI ANTARA SAUDARA MERUPAKAN SESUATU YANG SANGAT BERHARGA.

Si Yatim – Cerita Rakyat Jambi
Si Yatim – Cerita Rakyat Jambi

Hiduplah seorang raja di Jambi pada masa lampau. Sang Raja terkenal kejam dan sewenang-wenang perilakunya. Mudah pula Sang Raja menjatuhkan hukuman bagi seseorang yang dianggapnya bersalah, termasuk hukuman yang terhitung berat. Sang Raja juga dikenal bodoh. Karena kebodohannya, sang raja mudah ditipu atau dikelabui orang lain.

Sang Raja banyak mempunyai kerbau. Kerbau-kerbau itu digembalakan oleh seorang anak remaja yang tidak lagi mempunyai bapak dan ibu. Si Yatim, begitu Si gembala itu biasa dipanggil.

Setiap pagi Si Yatim menggembalakan kerbau-kerbau milik Sang Raja di padang penggembalaan. Hampir seharian penuh Si Yatim menjaga kerbau-kerbau itu. Menjelang senja Si Yatim akan menggiring kerbau-kerbau itu kembali ke kandangnya. Ia cermat menghitung jumlah kerbau-kerbau gembalaannya karena tidak ingin mendapat hukuman yang sangat berat dari Sang Raja jika kerbau gembalaannya hilang.

Si Yatim mempunyai kegemaran ketika menggembala. Ia biasa menangkap ekor kerbau dengan seruas bambu. Jika kerbau mengibaskan ekornya, baik ke kanan atau ke kiri, Si Yatim akan bergerak cepat untuk menangkap ekor kerbau itu dengan bambunya. Hampir setiap saat Si Yatim melakukan kegemaran itu hingga ia sangat terampil menangkap gerakan ekor kerbau dengan bambu. Selain itu Si Yatim juga terampil memainkan pisau. Ia mempunyai sebilah pisau kecil yang tajam yang disimpannya di balik lipatan celananya.

Waktu terus berlalu. Si Yatim pun tumbuh menjadi pemuda yang gagah lagi tampan wajahnya.

Pada suatu hari Sang Raja memeriksa kerbau- kerbau miliknya. Semula Sang Raja sangat gembira mendapati jumlah kerbaunya kian meningkat banyak dan kesemuanya terlihat gemuk-gemuk tubuhnya. Namun, ketika Sang Raja mengamati ekor kerbau miliknya, ia menjadi keheranan. Kesemua ekor kerbau miliknya itu terlihat cacat karena luka. Dengan kemarahan yang mulai meninggi, Sang Raja lantas bertanya pada Si Yatim, “Mengapa semua ekor kerbau milikku ini terdapat bekas lukanya?”

Si Yatim menjawab jujur. Selama menggembala, ia biasa menangkap ekor-ekor kerbau itu dengan seruas bambu. “Ampun Tuan Raja, hamba melakukannya untuk mengurangi rasa jenuh yang hamba rasakan karena seharian berada di padang penggembalaan.”

Tak terperikan kemarahan Sang Raja mendengar jawaban Si Yatim. Ia merasa harus menghukum Si Yatim dengan hukuman yang sangat berat. Ia akan menghukum Si Yatim secara diam-diam. Dengan wajah dan sikap yang diusahakannya tidak menampakkan kemarahan, Sang Raja kemudian berkata, “Kukira engkau tidak lagi pantas menjadi penggembala, lebih pantas kiranya engkau menjadi prajurit. Tubuhmu kuat dan juga gerakanmu gesit. Sebagai calon prajurit, engkau harus diuji.”

“Ampun Tuan Raja, ujian apa yang harus hamba lakukan?” tanya Si Yatim.

“Engkau hendaknya menangkap aneka senjata yang kutusukkan,” jawab Sang Raja. “Aku akan menusukmu dengan keris, pedang, dan tombak. Engkau harus bisa menangkapnya. Engkau paham?”

“Paham, Tuan Raja,” Si Yatim menganggukkan kepala. “Hamba memohon diberikan sarung aneka senjata itu ketika menangkap.”

Bagi Sang Raja, ujian itu sesungguhnya hukuman bagi Si Yatim. Sang Raja akan menusukkan senjatanya ke tubuh Si Yatim. Jika Si Yatim lengah atau tidak cekatan, ia bisa terbunuh oleh tusukan Sang Raja dan Sang Raja tidak bisa disalahkan karenanya.

Sesuai permintaannya, Si Yatim mendapatkan sarung keris, sarung pedang, dan juga sarung tombak. Seketika ia mendapat tiga sarung itu, Sang Raja lantas melaksanakan niat buruknya. Dengan keris tajamnya ia menusuk tubuh Si Yatim. Si Yatim menghadapi tusukan itu seperti yang biasa ia lakukan ketika menangkap ekor kerbau dengan bambunya. Dengan gerakan gesit ia menangkap tusukan keris Sang Raja dengan sarung keris.

Sang Raja sangat marah mendapati tusukan kerisnya dapat dengan mudah dihadapi Si Yatim. Ia lantas menyabetkan pedangnya ke arah leher Si Yatim, lagi-lagi, sabetan pedang Sang Raja dapat dengan mudah ditangkap Si Yatim dengan menyarungkan sarung pedang ke dalam pedang. Sang Raja kian murka. Sang Raja lantas menghujamkan tombaknya ke tubuh Si Yatim. Tetapjuga hujaman tombak itu mudah ditangkap Si Yatim dengan menyarungkan sarung tombak yang dipegangnya.

Sang Raja serasa kebingungan untuk mengalahkan Si Yatim. Akhirnya ia memerintahkan prajuritnya untuk menangkap Si Yatim dan memasukkannya ke dalam keramba. “Tenggelamkan keramba itu ke sungai!” perintah Sang Raja.

Perintah kejam Sang Raja itu dilakukan. Si Yatim dimasukkan ke dalam keramba dan kemudian ditenggelamkan ke dalam sungai. Sang Raja sangat yakin jika Si Yatim akan menemui kematiannya.

Ketika di dalam keramba yang ditenggelamkan di dalam sungai, Si Yatim lalu mengeluarkan pisau kecil dari balik lipatan celananya. Tali pengikat keramba berhasil diputuskannya dengan irisan pisau kecilnya yang sangat tajam itu. Ia lalu naik ke permukaan sungai dan berenang menuju daratan.

Si Yatim tidak bisa tinggal diam mendapati kekejaman dan kesewenang-wenangan Sang Raja. Ia akan menghukum Sang Raja. Dipikirkannya cara yang cerdik untuk menghukum Sang Raja. Cara itu pun didapatkannya. Ia lalu membeli baju baru dengan uang simpanannya. Dengan mengenakan baju baru, Si Yatim kemudian menghadap Sang Raja.

Sang Raja sangat terkejut mendapati si Yatim dapat lolos dari hukuman mengerikannya.

“Ampun Tuan Raja,” kata Si Yatim setelah menghadap. “Kedatangan hamba untuk menghadap Tuan Raja ini untuk menyatakan terima kasih hamba yang tidak terkira.”

“Bagaimana maksudmu?” tanya Sang Raja dengan wajah menyiratkan keheranan dan kebingungan.

“Keramba itu ternyata jalan menuju surga, Tuan Raja,” kata Si Yatim dengan wajah berseri- seri. “Ketika hamba berada di dalam surga, hamba bertemu dengan kedua orangtua hamba. Lihatlah pakaian yang hamba kenakan Ini! Pakaian indah ini adalah pemberian kedua orangtua hamba. Betapa bahagianya hamba mendapatkan semua ini dan bertambah-tambah kebahagiaan hamba ketika juga menemukan kedua orangtua Tuan Raja di surga itu!”

“Engkau bertemu dengan kedua orangtuaku?”

“Benar, Tuan Raja,” jawab Si Yatim. “Kedua orangtua Tuan Raja itu sangat rindu bertemu Tuan Raja. Mereka mengharapkan Tuan Raja dapat menjenguk mereka.”

Sang Raja yang bodoh itu percaya dengan penjelasan Si Yatim. Ia pun memerintahkan prajuritnya untuk membuatkan sebuah keramba yang besar yang dapat dimasukinya untuk menuju surga. Sebelum memasuki keramba, Sang Raja berpesan, selama ia tengah menuju surga, maka semua urusan kerajaan hendaklah ditangani Si Yatim yang telah ditunjuknya menjadi wakilnya.

Sang Raja pun memasuki keramba dan meminta segera ditenggelamkan ke dalam sungai. Sesuai perintah Sang Raja, selama Sang Raja berada di dalam keramba, semua urusan kerajaan dilakukan oleh Si Yatim. Si Yatim melakukan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Prajurit dan rakyat merasakan kedamaian dan ketenangan dalam pemerintahan Si Yatim. Rakyat bahkan berharap Sang Raja lebih lama lagi berada di surga agar mereka dapat lebih lama lagi hidup tenang dan tenteram.

Seminggu kemudian prajurit-prajurit yang menjaga pinggir sungai tempat ditenggelamkannya keramba berisi Sang Raja sangat terperanjat. Mereka mendapati Sang Raja mati mengapung di dalam keramba. Mereka segera membawa mayat Sang Raja dan menghadapkannya pada Si Yatim.

“Aku rasa Sang Raja salah mengambil jalan menuju surga,” kata Si Yatim. “Jika tidak, Sang Raja tentu ingin berkuasa di surga. Jelas, para prajurit surga tidak akan membiarkan raja asing bertakhta di surga. Sang Raja meninggal karena diserang prajurit-prajurit surga itu.”

Si Yatim lantas memerintahkan menguburkan jenazah Sang Raja. Seusai penguburan, Si Yatim melamar putri Sang Raja. Putri Sang Raja yang sesungguhnya telah lama memendam rasa cintanya pada Si Yatim tentu saja menyatakan kesediaannya. Mereka pun menikah dan pesta pernikahan mereka dilangsungkan secara besar- besaran selama tujuh hari tujuh malam.

Rakyat dan segenap prajurit menunjuk Si Yatim menjadi raja baru pengganti Sang Raja. Mereka telah merasakan ketenangan dan kedamaian selama dalam pemerintahan Si Yatim yang hanya beberapa hari saja selama menunggu Sang Raja kembali dari surga.

Si Yatim pun berkuasa di kerajaan itu. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana.

Kecakapan dan kecerdikannya digunakannya untuk menyejahterakan kehidupan rakyat. Rakyat pun hidup aman, damai, dan sejahtera dalam pemerintahan Si Yatim.

 

KESEWENANG-WENANGAN HANYA AKAN MERUGIKAN DIRI SENDIRI DAN AKAN DAPAT DIKALAHKAN KEBENARAN DI KEMUDIAN HARI. SELAIN I LU. GUNAKAN AKAL SEHAT DAN KECERDIKAN KETIKA MENGHADAPI SESUATU MASALAH.

Kisah Tan Talanai – Cerita Rakyat Jambi
Kisah Tan Talanai – Cerita Rakyat Jambi

Tan Talanai adalah seorang raja Jambi pada masa lampau. Ia berasal dari Rabu Menarah. Ia menjadi raja menggantikan Raja Jambi sebelumnya, yakni Si Pahit Lidah, yang telah wafat.

Tan Talanai memerintah Kerajaan Jambi dengan adil dan bijaksana. Kesejahteraan rakyat pun meningkat dan segenap titah Tan Talanai dipatuhi segenap rakyatnya. Tan Talanai hidup berbahagia, mendapatkan penghormatan dan kemuliaan. Namun demikian hidup Tan Talanai serasa belum lengkap karena ia belum dikaruniai seorang anak setelah lama berumah tangga. Ia menghendaki seorang anak yang akan dapat melanjutkan takhtanya.

Tan Talanai senantiasa berdoa agar dikaruniai anak. Doa dan permohonan Raja Jambi itu akhirnya dikabulkan Tuhan. Istrinya mengandung dan sembilan kemudian lahirlah seorang bayi lelaki. Tak terkirakan gembira dan bahagianya hati Tan Talanai. Namun, kegembiraan dan kebahagiaan itu kiranya tidak berlangsung lama. Hanya beberapa saat setelah bayi lelaki itu lahir, ahli nujum istana menjelaskan adanya bahaya dengan kelahiran bayi lelaki itu.

“Anak Paduka ini kelak akan membunuh Paduka!”

Tak terkirakan terkejutnya Tan Talanai mendengar ramalan ahli nujum istana. Ia sangat khawatir jika ramalan itu mewujud menjadi kenyataan. Ia lantas memerintahkan Datuk Emping Besi untuk menghanyutkan anaknya itu di lautan.

Datuk Emping Besi memasukkan bayi lelaki itu ke dalam kotak kayu dan kemudian menghanyutkannya ke laut lepas sesuai perintah Tan Talanai.

Kotak berisi bayi itu dipermainkan ombak hingga berhari-hari kemudian kotak itu terdampar di tanah Siam. Kebetulan Ratu Siam tengah berada di pantai untuk mencari ikan. Ketika mendapati kotak yang terdampar itu ia lantas memerintahkan prajuritnya untuk mengambilnya. Betapa terperanjatnya Ratu Siam ketika membuka peti itu dan mendapati seorang bayi di dalamnya. Dari tanda-tanda yang terdapat pada peti, Ratu Siam mengetahui jika bayi lelaki itu berasal dari Kerajaan Jambi. Ratu Siam sangat yakin jika bayi lelaki itu adalah putra Raja Jambi.

Ratu Siam merawat bayi lelaki itu dengan penuh kasih sayang laksana bayi lelaki itu anak kandungnya sendiri. Bayi itu pun tumbuh menjadi anak yang sehat lagi kuat. Seiring bertambahnya sang waktu, anak itu pun berubah menjadi seorang pemuda yang gagah. Tampan pula wajahnya. Berulang- ulang ia menanyakan siapakah sesungguhnya ayahandanya karena sejak kecil ia senantiasa diledek sebagai anak yang tidak mempunyai ayah. Ratu Siam akhirnya menjelaskan siapa dirinya. “Menurutku engkau adalah putra Raja Jambi.”

Si pemuda sangat murka ketika mendengar kisah hidupnya. Ia bahkan berjanji akan membunuh bapaknya yang telah tega membuangnya ketika ia masih bayi. Ia pun berniat menyerang kerajaan Jambi. Kekuatan Kerajaan Siam pun segera disusun dan disiagakan. Waktu penyerangan pun dicanangkan, setahun kemudian.

Ratu Siam lantas berkirim surat kepada Tan Talanai. Ia menjelaskan, anak Tan Talanai akan datang memimpin prajurit-prajurit Siam guna menyerang Kerajaan Jambi.

Tan Talanai sangat murka mendengar rencana penyerangan Kerajaan Siam tersebut. Terlebih-lebih pemimpin penyerangan itu adalah anak kandungnya sendiri. Tan Talanai lantas memerintahkan segenap prajuritnya untuk bersiaga.

Setahun kemudian kekuatan Kerajaan Siam pun datang ke Jambi. Peperangan yang sengit segera terjadi. Para prajurit Siam mengerahkan segenap kekuatannya untuk menyerang dan kekuatan Kerajaan Jambi mencoba menghadang serta memukul balik. Anak Tan Talanai mengamuk tak terkira, laksana hendak menumpahkan segenap kesaktiannya untuk kian menghancurkan. Tan Talanai pun tak kalah dahsyat sepak terjangnya untuk menghancurkan kekuatan Kerajaan Siam.

Bertemulah Tan Talanai dan anaknya sebagai musuh. Keduanya saling serang dengan sengit. Hingga beberapa saat, pertarungan keduanya terlihat seimbang karena keduanya sama-sama sakti. Keduanya saling serang dan saling tangkis. Hingga suatu ketika terbersit di benak Tan Talanai untuk mengalah agar tidak banyak lagi prajurit dari kedua belah pihak yang menjadi korban perang tersebut. Katanya kemudian, “Wahai anakku, jika engkau ingin mengalahkanku, ambilah sebuah batu. Pancunglah sekali batu itu dan gunakan untuk menikamku! Dengan cara itu aku akan menemui kematianku dan engkau akan keluar sebagai pemenang pertarungan kita ini.”

Anak Tan Talanai terperanjat mendengar penuturan ayahandanya yang membukakan rahasia kesaktiannya agar dirinya dapat memenangkan pertarungan yang sangat sengit itu.

“Sebelum engkau membunuhku, perlu kiranya engkau mendengar penjelasanku dahulu,” kata Tan Talanai lagi. “Aku sungguh- sungguh telah melakukan kesalahan. Aku terlalu percaya pada ahli nujum istana ketika itu hingga membuangmu karena ketakutan dan kekhawatiranku bahwa aku akan mati di tanganmu! Aku serasa telah mendahului kehendak Tuhan. Oleh karena itu aku memohon maaf padamu atas kesalahanku dan silakan engkau membunuhku jika ini memang telah menjadi kehendak Tuhan.”

Anak Tan Talanai langsung mendekati Tan Talanai. Bukan hendak menusukkan senjata pusakanya, melainkan memeluk kaki ayahandanya. Ia menangis dan memohon maaf atas kelancangan dan keberaniannya melawan ayahandanya itu. Ia terlalu menuruti kemarahan hatinya tanpa berpikir jernih.

Tan Talanai dan anaknya saling memaafkan. Bersamaan dengan bersatunya Tan Talanai dan anaknya itu maka perang antara Kerajaan Siam dan Kerajaan Jambi pun berakhir. Kedua kekuatan bahkan saling memaafkan meski sebelumnya saling serang untuk menggapai kemenangan.

Anak Tan Talanai kemudian mengajak kedua orangtuanya itu menuju Siam. Mereka hidup berbahagia bersama Ratu Siam. Ia dan kedua orangtuanya terus tinggal di Siam. Anak Tan Talanai bahkan akhirnya menjadi Raja Siam. Raja-raja Siam berikutnya adalah anak keturunannya. Maka, hingga kini orang-orang pun masih percaya jika Raja Siam itu sesungguhnya berasal dari Jambi. Sementara itu orang-orang pun percayajika Raja Jambi itu berasal dari Turki, berawal dari Tan Talanai.

 

SEBUAH KEDURHAKAAN BESAR BAGI SEORANG ANAK YANG BERANI TERHADAP KEDUA ORANGTUANYA. ANTARA KELUARGA MEMANG SUDAH SEHARUSNYA SALING MEMAAFKAN JIKA TERJADI KESALAHPAHAMAN DI ANTARA MEREKA. BERSATU ITU AKAN SALING MENGUATKAN. SEMENTARA BERTENGKAR AKAN MEMBAWA PERSELISIHAN DAN KERUNTUHAN.

Cerita Si Kelingking – Cerita Rakyat Jambi
Cerita Si Kelingking – Cerita Rakyat Jambi

Hiduplah sepasang suami istri miskin pada zaman dahulu. Keduanya telah lama berumah tangga, namun belum juga mereka dikaruniai anak, walau seorang anak pun. Sangat ingin mereka mempunyai anak. Maka, mereka pun berdoa dan memohon agar keinginan mereka untuk mempunyai anak itu dapat terwujud. Bahkan, karena sangat inginnya mereka mempunyai anak, mereka menyatakan akan sangat berbahagia mempunyai anak meski tubuh anak mereka itu hanya sebesar kelingking.

Permohonan itu akhirnya dikabulkan.

Sang istri mengandung dan ketika waktu melahirkannya tiba, ia melahirkan seorang bayi lelaki yang sangat kecil tubuhnya, hanya sebesar kelingking orang. Suami istri itu sangat gembira mendapati kelahiran anak mereka dan mereka pun lantas memberi nama Si Kelingking untuk anak lelaki mereka itu.

Waktu terus berlalu dan Si Kelingking pun tumbuh dewasa. Tubuhnya tetap sebesar kelingking. Meski demikian, ia tampak sehat dan kuat. Tetap pula ia mendapat curahan kasih sayang kedua orangtuanya.

Syahdan, negeri Jambi digemparkan oleh kedatangan hantu pemakan makhluk hidup. Nenek GergaSi nama hantu itu. Ia sangat banyak menimbulkan korban karena ulahnya. Orang-orang lantas berniat pindah dari Jambi untuk menghindari jadi mangsa Nenek Gergasi. Termasuk mereka yang berniat pindah adalah kedua orangtua Si Kelingking. Namun, Si Kelingking menyatakan tetap akan tinggal dan bahkan berniat ingin menumpas kekejaman Nenek Gergasi.

“Jika engkau tetap tinggal, bisa jadi engkau akan dimangsa Nenek Gergasi itu, anakku,” kata Ayah Si Kelingking mengingatkan.

“Ayah jangan khawatir,” sahut Si Kelingking. “Tubuhku ini sangat kecil, sulit kiranya dilihat hantu pemakan manusia itu. Doakan aku Ayah agar dapat menumpas hantu kejam itu. Nanti jika aku berhasil membunuhnya, aku akan beritahukan kepada Ayah, Emak, dan semua penduduk negeri Jambi.”

Meski tetap khawatir, Ayah dan Emak Si Kelingking akhirnya meninggalkan anak mereka itu dan segera mengungsi bersama orang-orang lainnya. Si Kelingking lantas bersembunyi di dalam lubang tiang rumah dan menunggu kedatangan Nenek Gergasi.

Nenek Gergasi akhirnya datang. Betapa marahnya ia karena tidak mendapati seorang manusia atau juga hewan di tempat itu yang dapat dimangsanya. Padahal ia telah sangat lapar. Ia berteriak keras-keras meminta orang-orang untuk keluar dari persembunyiannya agar dapat selekasnya ia mangsa.

Mendadak Nenek GergaSi mendengar suara yang menggema yang memanggil namanya, “Hei Nenek Gergasi!”

Nenek Gergasi sangat terkejut mendengar suara yang memanggilnya. Pandangannya lalu mengedar mencari sosok yang memanggilnya. Namun, tidak dilihatnya siapa pun juga di tempat itu. Meski terkenal kejam dan gemar memangsa manusia serta hewan, Nenek Gergasi takut pula pada akhirnya mendapati kenyataan yang tengah dihadapinya itu. “Si… siapa engkau?” suara Nenek Gergasi terdengar bergetar. “Lekas eng… engkau keluar, biar dapat… dapat kumangsa!”

Suara pemanggil Nenek Gergasi yang tak lain suara Si Kelingking kembali menggema diawali dengan suara tertawa terbahak-bahaknya. “Engkau ingin memangsaku? Haa… haa… haa…! Justru aku yang hendak memangsamu, hei Nenek Gergasi! Setelah semua manusia dan hewan di tempat ini kumangsa, masih juga aku merasakan lapar yang sangat. Lekas engkau ke sini, hei Nenek Gergasi, biar kumangsa engkau utuh-utuh! Biar rasa laparku ini berkurang!”

Seketika itu Nenek GergaSi lari tunggang langgang karena takut dimangsa makhluk yang tidak berwujud itu. Begitu takutnya menjadi mangsa makhluk yang dianggapnya sangat menyeramkan itu, Nenek GergaSi berlari tak tentu arah hingga akhirnya terjerumus ke dalam jurang. Seketika itu Nenek GergaSi menemui kematiannya setelah terjatuh di dasar jurang.

Dari dalam lubang tiang rumah persembunyiannya, Si Kelingking mendengar jika Nenek GergaSi melarikan diri karena takut dengan gertakannya. Namun, yang tidak ia ketahui adalah makhluk kejam pemangsa manusia dan hewan itu sesungguhnya telah mati akibat terjatuh ke dalam jurang.

Kepergian Nenek Gergasi diketahui orang- orang. Mereka pun berbondong-bondong kembali ke desa masing-masing. Mereka pun bergembira dan kagum dengan Si Kelingking yang mampu mengusir makhluk jahat pemakan manusia tersebut.

Berita terusirnya Nenek Gergasi akhirnya didengar Sang Raja yang kemudian berkenan memanggil Si Kelingking untuk datang menghadap. Tanya Sang Raja, “Benarkah engkau yang berhasil mengusir Nenek Gergasi?”

“Benar, Paduka Yang Mulia,” jawab Si Kelingking.

“Sanggupkah engkau tidak hanya mengusir melainkan melenyapkan Nenek Gergasi yang kejam itu?”

“Saya sanggup, Paduka Yang Mulia.”

“Jika engkau sanggup melaksanakan tugasmu, engkau akan kuberikan hadiah yang sangat besar,”

kata Sang Raja. “Engkau akan kuangkat menjadi raja muda!”

Si Kelingking lantas mencari keberadaan Nenek Gergasi. Berhari-hari ia mencari hingga akhirnya ia mengetahuijika makhlukjahat pemakan manusia dan hewan itu telah menemui kematiannya di dasar jurang. Si Kelingking kemudian kembali menghadap Sang Raja. Dijelaskannya jika Nenek GergaSi telah mati dan ia meminta janji Sang Raja.

Sang Raja memenuhi janjinya. Ia mengangkat Si Kelingking sebagai raja muda, meski tidak mempunyai prajurit, hulubalang, maupun juga permaisuri.

Sebagai raja muda, Si Kelingking menghendaki dirinya mempunyai permaisuri. Ia menghendaki putri Sang Raja menjadi permaisurinya. Ayah dan Emaknya dimintanya untuk melamar putri Sang Raja. Meski takut, Ayah dan Emak Si Kelingking akhirnya memberanikan diri datang menghadap Sang Raja dan mengajukan pinangannya kepada putri Sang Raja.

Sangat mengejutkan, sang putri menyatakan kesediaannya untuk diperistri Si Kelingking. Meski Sang Raja memintanya untuk memikirkan baik- baik, namun Sang Putri tetap bersikeras dengan keinginannya. “Meski Kelingking itu tubuhnya kecil, namun ia telah menunjukkan jasa besarnya kepada negeri kita. Ia berani berkurban demi kepentingan negeri dan juga orang banyak. Orang yang bersifat seperti itu adalah orang mulia hingga hamba bersedia diperistrinya.”

Sang Raja akhirnya menyatakan persetujuannya untuk menikahkan putrinya dengan Si Kelingking. Pesta pernikahan pun dilangsungkan dengan meriah selama tujuh hari tujuh malam. Sang Raja lantas memberikan hadiah berupa sebidang tanah dan juga beberapa prajurit. Atas perintah Sang Raja, istana untuk Si Kelingking pun didirikan.

Dalam kehidupan sehari-hari setelah berumah tangga, Si Kelingking mempunyai kebiasaan aneh yang menjengkelkan istrinya. Dalam waktu-waktu tertentu Si Kelingking pergi entah kemana. Yang lebih mengherankan bagi istri Si Kelingking, setelah kepergiannya itu datang seorang pemuda gagah yang tampan wajahnya ke istana Si Kelingking. Kerap Si pemuda tampan itu menanyakan keberadaan Si Kelingking.

“Suamiku tengah bepergian,” begitu jawaban istri Si Kelingking jika pemuda gagah itu bertanya perihal suaminya.

“Bolehkah aku menunggu kedatangannya di istanamu ini dan berdua denganmu?”

“Tidak!” tegas jawaban istri Si Kelingking. “Aku tidak mengizinkan pemuda asing sepertimu ini berdua denganku. Selama suamiku tidak memberiku izin, aku sekali-kali tidak akan mengizinkanmu untuk menunggu di tempat ini.”

Si pemuda tampak bersungut-sungut wajahnya. Ia kemudian akan segera berlalu dan tidak lama kemudian Si Kelingking pun kembali.

Istri Si Kelingking menjadi penasaran untuk mengetahui siapakah sesungguhnya pemuda gagah berwajah tampan itu. Mengapa pula Si pemuda tampan itu hanya muncul ketika suaminya tengah bepergian? Lantas, kemana pula suaminya pergi? Berbagai pertanyaan bergejolak di benak istri Si Kelingking. Ia pun memutuskan untuk mengikuti kemana suaminya pergi secara diam-diam.

Pada suatu hari Si Kelingking kembali berpamitan hendak pergi. Istri Si Kelingking lantas mengikutinya secara sembunyi-sembunyi. Si Kelingking rupanya menuju sungai yang tidak jauh dari istananya. Setibanya ia di pinggir sungai, Si Kelingking membuka bajunya dan menyembunyikan di semak-semak yang berada di pinggir sungai. Si Kelingking lantas memasuki air sungai. Tak berapa lama kemudian dari sungai itu muncul Si pemuda gagah berwajah tampan. Si pemuda tampan langsung menaiki kuda putihnya dan memacunya ke arah istana Si Kelingking.

Istri Si Kelingking akhirnya mengetahui, Si pemuda gagah berwajah tampan itu tidak lain adalah jelmaan suaminya sendiri. Ia pun mencari cara agar suaminya tetap berwujud pemuda gagah berwajah tampan itu. Maka dengan berjalan mengendap-endap ia menghampiri tempat suaminya menyimpan pakaiannya. Diambilnya pakaian itu dan dibawanya pulang ke istana. Istri Si Kelingking lantas membakar pakaian itu setibanya ia di istana.

Seperti biasanya, Si pemuda gagah datang ke istana Si Kelingking dan menanyakan di mana Si Kelingking. Ia juga tetap berusaha menunggu kedatangan Si Kelingking dan meminta berduaan dengan istri Kelingking. Seperti biasanya pula istri Si Kelingking menolak permintaannya dan Si pemuda akan segera meninggalkan istana Si Kelingking. Setelah pakaiannya tidak dapat ia temukan, ia kembali lagi ke istana Si Kelingking.

“Mengapa engkau kembali lagi?” tanya istri Si Kelingking dengan berpura-pura tidak mengetahui kejadian yang dialami pemuda itu.

“Aku tidak dapat menemukan pakaian yag semula kusembunyikan di semak-semak di dekat sungai,” jawab Si pemuda berwajah tampan itu. “Jika engkau memercayaiku, sesungguhnya aku ini suamimu, Si Kelingking.”

“Suamiku seorang lelaki yang tubuhnya sangat kecil, hanya sebesar kelingkingku. Bukan lelaki gagah seperti dirimu ini,” kata istri Si Kelingking dengan sikap pura-puranya.

Si pemuda gagah yang sesungguhnyajelmaan Si Kelingking lantas menjelaskan siapa dirinya yang sesungguhnya. “Maafkan aku karena telah mempermainkanmu, istriku,” katanya mengakhiri penjelasannya.

“Aku juga meminta maaf kepadamu, karena pakaianmu itu telah kubakar.”

Suami istri itu akhirnya saling memaafkan. Sejak saat itu wujud Si Kelingking tak berbeda dengan kebanyakan manusia biasa lainnya. Meski demikian, ia tetap dipanggil dengan nama aslinya: Si Kelingking.

Si Kelingking dan istrinya pun hidup berbahagia sebagai suami istri di istana mereka yang indah.

 

SEKALI-KALI JANGANLAH KITA MEMANDANG RENDAH ATAU MENGHINA ORANG LAIN HANYA KARENA BENTUK TUBUHNYA YANG BERBEDA DENGAN KEBANYAKAN ORANG. Dl BALIK KEKURANGANNYA, PASTI AKAN ADA KELEBIHAN YANG DIMILIKINYA KARENA TUHAN TIDAK PERNAH SIA-SIA DALAM MENCIPTAKAN SEGALA SESUATU.