Kategori: Jawa Barat

Putri Kandita – Cerita Rakyat Jawa Barat
Putri Kandita – Cerita Rakyat Jawa Barat

Bertakhtalah seorang raja di Kerajaan Pakuan Pajajaran. Prabu Siliwangi nama sang raja. Ia raja yang memerintah dengan arif, adil, dan bijaksana. Segenap rakyat hidup cukup makmur di bawah pemerintahannya. Mereka menghormati dan mencintai sang raja.

Prabu Siliwangi beristrikan permaisuri yang ternama kecantikannya. Mereka dikaruniai anak perempuan yang amat jelita parasnya. Putri Kandita namanya. Selain beristrikan permaisuri, Prabu Siliwangi masih memiliki beberapa selir. Mereka juga cantik-cantik wajahnya. Meski, masih kalah cantik jika dibandingkan sang permaisuri. Apalagi, jika dibandingkan Putri Kandita.

Putri Kandita tidak hanya cantik wajahnya, baik pula budi pekertinya. Ia mewariSi sifat arif, adil, dan bijaksana dari ayahandanya. Prabu Siliwangi sangat menyayangi putrinya itu. Bahkan, berniat mengangkat Putri Kandita sebagai penerus takhtanya di kemudian hari.

Rencana Prabu Siliwangi itu diketahui para selir. Mereka iri dengan Permaisuri dan Putri Kandita. Mereka berniat jahat, menggagalkan rencana Prabu Siliwangi. Lebih jauh, mereka berniat mengusir Permaisuri dan Putri Kandita dari istana.

Para selir bersepakat menghubungi seorang dukun jahat berilmu hitam. Dukun itu ternama kesaktiannya. Ia sanggup melakukan kejahatan apa pun jika mendapat bayaran yang tinggi.

Para selir mengirim seorang utusan untuk menemui dukun hitam. Ia memberikan beberapa keping uang emas dengan syarat sanggup mencelakai Permaisuri dan Putri Kandita hingga keduanya terusir dari istana.

“Baiklah,” sahut dukun hitam setelah menerima bayaran. Ia tersenyum licik. “Sangat mudah bagiku untuk mewujudkan keinginanmu.”

Setelah sang utusan kembali, dukun hitam mengirimkan ilmu hitam saktinya. Ilmu hitam itu mengena pada Permaisuri dan Putri Kandita. Keduanya menderita penyakit aneh yang mengerikan. Di sekujur tubuh keduanya muncul luka borok. Luka yang menimbulkan bau busuk.

Permaisuri dan Putri Kandita sangat menderita karena penyakit kulit yang mereka alami. Prabu Siliwangi telah memerintahkan para tabib istana, namun mereka gagal menyembuhkan penyakit mengerikan itu. Beberapa tabib dan ahli pengobatan telah pula didatangkan ke istana. Semuanya menyerah. Penyakit kulit yang diderita Permaisuri dan Putri Kandita semakin menjadi-jadi.

Permaisuri kehilangan nafsu makan. Tubuhnya semakin kurus. Hanya berselang beberapa hari setelah jatuh sakit, Permaisuri meninggal dunia. Tak terkirakan sedihnya Prabu Siliwangi dan Putri Kandita. Terlebih-lebih bagi Prabu Siliwangi saat mendapati penyakit kulit yang diderita Putri Kandita nampak semakin parah. Prabu Siliwangi sangat cemas, putri semata wayangnya itu akan meninggal dunia seperti permaisurinya.

Prabu Siliwangi kerap terdiam. Ia bingung memecahkan masalah berat yang dihadapinya. Para selir lalu datang kepadanya. Mereka berpura-pura turut sedih. Dengan cerdik mereka menyebutkan keresahan yang dirasakan warga kerajaan dan juga rakyat Pakuan Pajajaran.

“Apa yang mereka resahkan?” tanya Prabu Siliwangi.

“Mereka takut Tuanku Raja tertular penyakit kulit yang diderita Putri Kandita,” jawab salah seorang selir. “Selain itu, mereka juga takut jika penyakit mengerikan itu menular pada mereka.”

“Benar, Tuanku Raja,” selir lainnya turut menyambung. “Jika penyakit kulit yang diderita Putri Kandita itu menyebar, rakyat Pakuan Pajajaran akan mengalami malapetaka yang mengerikan!”

Prabu Siliwangi bertambah bingung. “Lantas, apakah kalian mempunyai saran untuk mengataSi masalah ini?”

“Menurut hamba, Putri Kandita sebaiknya meninggalkan istana untuk sementara waktu,” sang selir memberikan saran jahatnya. “Jika penyakit yang dideritanya telah sembuh, barulah Putri Kandita diperkenankan kembali ke istana ini.”

Semula Prabu Siliwangi tidak setuju dengan saran itu. Ia tak bisa meminta putri yang sangat disayanginya itu untuk meninggalkan istana. Namun, para selir terus membujuk dan mendesaknya. Mereka terus memberikan gambaran mengerikan yang akan dialami rakyat Pakuan Pajajaran jika tertular penyakit kulit yang dialami Putri Kandita.

Prabu Siliwangi akhirnya termakan rencana jahat para selirnya. Dengan terpaksa dan berat hati, Prabu Siliwangi meminta putrinya itu untuk meninggalkan istana, demi kebaikan semua.

Tak terkirakan hancurnya hati dan perasaan Putri Kandita. Ia meninggalkan istana seraya menangis. Ia tidak tahu ke mana harus pergi. Ia hanya menuruti langkah kakinya, tanpa mempunyai tujuan.

Berhari-hari Putri Kandita berjalan hingga akhirnya ia tiba di pinggir laut. Ia menghentikan langkah dan beristirahat di atas batu karang. Ia merasa sangat lelah. Maka, ia lalu merebahkan diri di atas batu karang itu. Berselang beberapa saat kemudian, Putri Kandita telah tertidur.

Belum lama Putri Kandita tidur, terdengar suara tanpa wujud yang memanggil putri Prabu Siliwangi itu, “Wahai Putri Kandita! Jika engkau ingin sembuh dari penyakit kulitmu itu, menceburlah ke dalam lautan Ini. Lakukanlah wahai Putri Kandita!”

Putri Kandita terbangun. Ia menatap berkeliling. Tidak ditemukannya siapa pun juga di sekitarnya. Ia hanya sendirian. Namun, suara itu begitu jelas didengarnya. Jelas menyebut namanya, jelas menyuruhnya agar penyakit kulit mengerikan yang dideritanya menghilang.

Putri Kandita kemudian berdiri. Tanpa ragu- ragu lagi, ia bermain air laut yang ada di depannya.

Keajaiban pun terjadi. Seketika tubuhnya terkena air laut, penyakit kulit mengerikan yang dideritanya langsung menghilang. Ia kembali sehat. Bahkan, ia bisa hidup di dalam air laut dan memiliki kesaktian yang luar biasa. Meski ia bisa kembali ke istana kerajaan Pakuan Pajajaran, namun Putri Kandita tetap memilih tinggal di lautan.

Berita tentang seorang wanita yang sangat cantik, sakti mandraguna, dan berdiam di laut menyebar. Para pangeran dan bangsawan dari berbagai kerajaan berdatangan. Masing-masing dari mereka melamar Putri Kandita. Mendapati lamaran itu Putri Kandita mengajukan syarat. Ia bersedia diperistri lelaki yang sanggup mengalahkan kesaktiannya. Namun, jika ia yang menang, lelaki itu harus menjadi pengikutnya. Berulang-ulang terjadi pertarungan, tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkan Putri Kandita dalam berbagai pertarungan itu. Semakin berlalunya sang waktu, semakin banyak orang yang menjadi pengikut Putri Kandita. Putri Kandita kemudian bertakhta selaku ratu di Laut Selatan. Ia kemudian dikenal sebagai Ratu Laut Selatan.

 

IRI DAN DENGKI AKAN MENYEBABKAN ORANG BERBUAT KEBURUKAN DAN KEJAHATAN PADA ORANG LAIN YANG DIIRIKANNYA DAN DIDENGKINYA.

Lutung Kasarung – Cerita Rakyat Jawa Barat
Lutung Kasarung – Cerita Rakyat Jawa Barat

Hiduplah seorang putri raja pada zaman dahulu. Purbasari namanya. Ia putri bungsu Prabu Tapa Agung, raja Kerajaan Pasir Batang. Purbasari mempunyai enam orang kakak perempuan. Mereka adalah Purbararang, Purbadewata, Purbaendah, Purbakancana, Purbamanik, dan Purbaleuih.

Purbasari sangat baik sifat dan kelakuannya. Ia lembut, manis budi, dan juga suka menolong siapa pun juga yang membutuhkan pertolongan. Adapun kakak sulung Purbasari yang bernama Purbararang sangat jahat kelakuannya. Ia kasar, sombong, kejam, dan iri hati terhadap siapa pun juga.

Setelah bertakhta dalam waktu yang cukup lama, Prabu Tapa Agung berniat turun takhta. Telah dipikirkannya masak-masak, Purbasari adalah sosok yang paling pantas untuk menggantikannya. Bukan Purbararang, meski Purbararang adalah anak sulungnya. Penyebabnya karena sifat dan perilaku putri sulungnya yang buruk itu. Prabu Tapa Agung khawatir, jika Purbararang yang menjadi penggantinya, ketenteraman dan kedamaian kehidupan rakyat kerajaan Pasir Batang akan menjadi rusak karena kepemimpinan putri sulungnya itu.

Di hadapan seluruh pembesar kerajaan dan juga tujuh putri raja, Prabu Tapa Agung menyerahkan takhtanya kepada Purbasari. Prabu Tapa Agung lantas meninggalkan istana kerajaannya untuk memulai hidup barunya sebagai pertapa.

Purbararang sangat berang mendapati takhta Kerajaan Pasir Batang diserahkan kepada adik bungsunya dan tidak kepada dirinya. Maka, berselang sehari setelah Purbasari dinobatkan menjadi Ratu Kerajaan Pasir Batang, Purbararang menghubungi Indrajaya, tunangannya. Keduanya segera meminta bantuan nenek sihir jahat untuk mencelakai Purbasari.

Nenek sihir jahat memberikan boreh (Zat berwara hitam yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan) kepada Purbararang. Katanya, “Semburkan boreh ini ke wajah dan seluruh tubuh Purbasari.”

Purbararang melaksanakan pesan nenek sihir jahat. Boreh itu disemburkannya ke wajah dan tubuh Purbasari. Akibatnya, di wajah dan sekujur tubuh Purbasari terlihat bercak-bercak hitam yang sangat mengerikan.

Purbararang mempunyai alasan untuk mengusir Purbasari. Katanya, “Orang yang dikutuk hingga mempunyai penyakit mengerikan itu tidak pantas menjadi Ratu Pasir Batang. Sudah seharusnya ia diasingkan ke hutan agar penyakit mengerikannya itu tidak menular!”

Purbararang lantas mengambil alih takhta Kerajaan Pasir Batang. Ia memerintahkan Uwak Batara Lengser untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Penasihat Kerajaan Pasir Batang itu tidak bisa berbuat banyak, selain menuruti perintah Purbararang.

Ketika Purbasari tengah diasingkan di hutan, terjadilah masalah besar di Kahyangan. Pangeran Guruminda tidak berkehendak menikah dengan bidadari Kahyangan seperti yang diperintahkan Sunan Ambu, ibunya. Pangeran Guruminda hanya bersedia menikah dengan perempuan yang wajahnya secantik ibunya.

Sunan Ambu menjelaskan, sosok perempuan yang secantik dirinya hanya terdapat di dunia manusia. Jika Pangeran Guruminda bersikeras hanya bersedia untuk menikah dengan perempuan yang secantik dirinya, Pangeran Guruminda dimintanya untuk pergi ke dunia manusia. Bukan sebagai Pangeran Guruminda yang tampan dan gagah, melainkan dalam wujud penyamarannya sebagai seekor lutung. “Lutung Kasarung namamu,” kata Sunan Ambu. “Apakah engkau bersedia melakukannya?”

Pangeran Guruminda menyatakan kesediaannya. Setelah menjelma menjadi Lutung Kasarung, Pangeran Guruminda segera melompat ke dunia manusia. Ia tiba di hutan. Tak berapa lama kemudian ia telah menjadi pemimpin para lutung dan kera di hutan itu karena tidak ada seekor lutung atau kera pun yang mampu menandingi kekuatan, keperkasaan, dan kecerdasannya.

Lutung Kasarung mengetahui keburukan dan kekejaman Purbararang yang bertakhta sebagai Ratu Pasir Batang. Ia benar-benar ingin memberi pelajaran pada ratu yang bengis lagi sewenang- wenang itu. Maka, ketika ia mendengar rencana Purbararang untuk mencari hewan kurban di hutan, Lutung Kasarung sengaja membiarkan dirinya ditangkap oleh orang suruhan Purbararang.

Sebelum dijadikan hewan kurban, Lutung Kasarung tiba-tiba mengamuk dan menimbulkan kerusakan di istana kerajaan Pasir Batang. Para prajurit Pasir Batang yang berniat menangkapnya dibuatnya tidak berdaya. Kalang kabut semua yang berniat meringkusnya. Lutung Kasarung tampaknya menunjukkan permusuhan sengitnya dan hanya kepada Uwak Batara Lengser saja ia tidak terlihat bermusuhan.

Purbararang lantas memerintahkan Uwak Batara Lengser untuk membawa Lutung Kasarung ke hutan tempat Purbasari diasingkan. Ia menghendaki Purbasari tewas diterkam lutung besar yang sangat galak itu.

Uwak Batara Lengser membawa Lutung Kasarung ke hutan di mana Purbasari diasingkan. Seperti yang diyakininya jika Lutung Kasarung memahami ucapannya, Uwak Batara Lengser memberikan pesannya ketika telah berhadapan dengan Purbasari, “Lutung, putri yang di depanmu ini adalah putri Prabu Tapa Agung. Ia adalah putri yang baik hati dan seharusnya menjadi Ratu Pasir Batang. Hanya karena kekuatan jahatlah ia akhirnya tersingkir dan diasingkan di hutan ini. Oleh karena itu hendaklah engkau menjaga junjungan kami ini. Lutung, apakah engkau bersedia menjaganya?”

Lutung Kasarung menganggukkan kepalanya. Maka, sejak saat itu Lutung Kasarung menjaga sekaligus menjadi sahabat dekat Purbasari. Dengan hadirnya Lutung Kasarung di sisinya, Purbasari tidak lagi merasa sedih. Ia mendapatkan sahabat yang menghiburnya dan berusaha memenuhi . kebutuhannya karena Lutung Kasarung telah memerintahkan segenap lutung dan kera untuk menyediakan buah-buahan untuk makanan Purbasari. Seiring berlalunya sang waktu, Purbasari menyayangi Lutung Kasarung dan begitu pula halnya, Lutung Kasarung menyayangi Purbasari.

Tanpa diketahui Purbasari, Lutung Kasarung memohon kepada Sunan Ambu agar dibuatkan taman yang indah dan juga tempat mandi untuk Purbasari. Sunan Ambu lantas mengirimkan para pujangga sakti dan juga para bidadari ke hutan. Mereka membuat taman yang indah dan tempat mandi untuk Purbasari.

Tempat untuk mandi Purbasari itu disebut Jamban Salaka. Sangat indah Jamban Salaka itu setelah jadi. Pancurannya terbuat dari emas murni. Dinding dan lantainya terbuat dari batu pualam. Air yang digunakan untuk mandi Purbasari berasal dari telaga kecil yang jernih. Para bidadari juga menyiapkan pakaian yang terbuat dari awan yang sangat lembut. Aneka warna pada pakaian itu berasal dari warna pelangi. Amatlah indah pakaian itu, tidak ada’pakaian di bumi yang mampu menandingi keindahannya.

Seketika Purbasari mandi di Jamban Salaka, seketika itu pula boreh yang menempel di wajah dan tubuhnya menghilang. Kecantikannya telah kembali. Lutung Kasarung terperangah menatap kecantikan Purbasari yang dinilainya sebanding dengan kecantikan ibunya.

Kembalinya kecantikan Purbasari didengar Purbararang. Purbararang tak percaya, mengingat boreh yang disemburkannya dahulu disertai mantra sakti pemberian nenek sihir jahat. Purbararang lantas mengajak tunangannya untuk membuktikan kebenaran berita itu. Betapa terperanjatnya ia ketika mendapati adik bungsunya itu telah kembali cantik, jauh lebih cantik dibandingkan dirinya sendiri.

Purbararang khawatir, telah kembalinya kecantikan Purbasari akan mengancam takhta yang direbutnya. Ia pun memikirkan cara untuk kembali menyingkirkan adiknya, jika memungkinkan menyingkirkan untuk selama-lamanya. Purbararang lantas menantang adik bungsunya itu untuk beradu panjang rambut. Katanya, “Jika rambutku lebih panjang dibandingkan rambut Purbasari, maka leher Purbasari harus dipenggal algojo kerajaan!”

Purbararang menelan kekecewaan yang besar setelah rambutnya yang sepanjang betisnya ternyata kalah panjang dibandingkan rambut Purbasari yang sepanjang tumit. Purbararang sangat malu mendapati kekalahannya. Untuk menutupi kekalahannya, Purbararang mengemukakan tantangan barunya kepada Purbasari. “Jika wajah tunanganmu lebih tampan dibandingkan wajah tunanganku, takhta Pasir Batang akan kuserahkan kepadamu. Namun jika sebaliknya, maka engkau hendaklah merelakan lehermu dipenggal algojo kerajaan.”

Purbasari merasakan kesulitan jika menerima tantangan kakak sulungnya itu. Siapa pun juga mengetahui ketampanan Indrajaya yang merupakan tunangan kakak sulungnya, sementara dirinya belum mempunyai tunangan. Purbasari sangat kebingungan. Siapa yang harus menjadi tunangannya? Tak ada yang bisa diperbuat Purbasari selain menarik tangan Lutung Kasarung, karena Lutung Kasarung itulah sosok yang paling dekat dengannya selama itu. Katanya kepada Lutung Kasarung, “Sudah seharusnya memang engkau menjadi suamiku.”

Purbararang tertawa terbahak-bahak, “Monyet hitam itu tunanganmu?”

Purbasari mantap menganggukkan kepala,

“Ya.”

Sebelum Purbararang memerintahkan algojo kerajaan untuk memenggal leher Purbasari, mendadak Lutung Kasarung duduk bersila dengan mata terpejam. Mulutnya terlihat berkomat-kamit. Tiba-tiba asap tebal terlihat menyelimuti tubuh Lutung Kasarung. Tak berapa lama kemudian asap tebal itu berangsur-angsur menghilang. Seiring dengan menghilangnya asap, menghilang pula sosok Lutung Kasarung dan berganti dengan sosok Pangeran Guruminda.

Terperanjatlah semua yang hadir di tempat itu mendapati keajaiban yang luar biasa tersebut. Betapa tampannya wajah Pangeran Guruminda, jauh melebihi ketampanan Indrajaya.

Pangeran Guruminda lantas menyebutkan jika ratu mereka yang sesungguhnya adalah Purbasari. Purbararang telah mengalami kekalahan dalam tantangannya.

Purbararang pun mengakui kekalahannya. Tak ada lagi yang bisa diperbuatnya selain menyerahkan takhta kerajaan Pasir Batang kepada Purbasari. Ia meminta maaf kepada Purbasari. Purbasari yang baik hati itu memaafkan kesalahan kakak sulungnya itu.

Sejak saat itu Purbasari kembali bertakhta sebagai ratu. Segenap rakyat kerajaan Pasir Batang bergembira dan berbahagia karena terlepas dari belenggu pemerintahan Purbararang yang kejam lagi sewenang-wenang. Mereka semakin bergembira ketika mendapati ratu mereka yang cantik jelita itu menikah dengan Pangeran Guruminda yang amat tampan wajahnya. Purbasari dan Pangeran Guruminda pun hidup berbahagia.

 

KEBAIKAN DAN KEBENARAN AKAN DAPAT MENGALAHKAN KEBATILAN DAN KESEWENANG-WENANGAN. KEBENARAN PADA AKHIRNYA AKAN KELUAR SEBAGAI PEMENANG.

Si Kabayan – Cerita Raktyat Jawa Barat
Si Kabayan – Cerita Raktyat Jawa Barat

Seorang lelaki di tanah Pasundan pada masa lampau. Si Kabayan namanya. Ia lelaki yang pemalas lagi bodoh. Banyak akal pula dirinya meski akalnya itu kerap digunakannya untuk mendukung kemalasannya.

SI Kabayan telah beristri. Nyi Iteung nama istrinya.

Pada suatu hari Si Kabayan disuruh mertuanya untuk mengambil siput-siput sawah. Si Kabayan melakukannya dengan malas-malasan. Setibanya di sawah, ia tidak segera mengambil siput-siput sawah yang banyak terdapat di sawah itu, melainkan hanya duduk-duduk di pematang sawah.

Lama ditunggu tidak kembali, mertua Si Kabayan pun menyusul ke sawah. Terperanjatlah la mendapati Si Kabayan hanya duduk di pematang sawah. “Kabayan! Apa yang engkau lakukan? Mengapa engkau tidak segera turun ke sawah dan mengambil tutut-tutut (Siput sawah) itu?”

“Abah* (Bapak), aku takut turun ke sawah karena sawah ini sangat dalam. Lihatlah, Bah, begitu dalamnya sawah Ini hingga langit pun terlihat dl dalamnya,” jawab Si Kabayan.

Mertua Si Kabayan menjadi geram. Didorongnya tubuh Si Kabayan hingga menantunya itu terjatuh ke sawah.

Si Kabayan hanya tersenyum-senyum sendiri seolah tidak bersalah. “Ternyata sawah ini dangkal ya, Bah?” katanya dengan senyum menyebalkannya. Ia pun lantas mengambil siput- siput sawah yang banyak terdapat di sawah itu.

Pada hari yang lain mertua Si Kabayan menyuruh Si Kabayan untuk memetik buah nangka yang telah matang. Pohon nangka itu tumbuh di pinggir sungai dan batangnya menjorok di atas sungai. Si Kabayan sesungguhnya malas untuk melakukannya. Hanya setelah mertuanya terlihat marah, Si Kabayan akhirnya menurut. Ia memanjat batang pohon. Dipetiknya satu buah nangka yang telah masak. Sayang, buah nangka itu terjatuh ke sungai. Si Kabayan tidak buru-buru turun ke sungai untuk mengambil buah nangka yang terjatuh. Dibiarkannya buah nangka itu hanyut.

Mertua Si Kabayan terheran-heran melihat Si Kabayan pulang tanpa membawa buah nangka. “Apa yang terjadi?” tanyanya dengan raut wajah jengkel. “Mana buah nangka yang kuperintahkan untuk dipetik?”

Dengan wajah polos seolah tanpa berdosa, Si Kabayan menukas, “Lho? Bukankah buah nangka itu tadi telah kuminta untuk berjalan duluan? Apakah buah nangka itu belum juga tiba?”

“Bagaimana maksudmu, Kabayan?”

“Waktu kupetik, buah nangka itu jatuh ke sungai. Rupanya ia ingin berjalan sendirian. Maka, kubiarkan ia berjalan dan kusebutkan agar ia lekas pulang ke rumah. Kuperingatkan pula agar ia segera membelok ke rumah ini. Dasar nangka tua tak tahu diri, tidak menuruti perintahku pula!”

“Ah, itu hanya alasanmu yang mengada-ada saja, Kabayan!” mertua Si Kabayan bersungut- sungut. “Bilang saja kalau kamu itu malas membawa nangka itu ke rumah!”

Si Kabayan hanya tertawa-tawa meski dimarahi mertuanya.

Pada waktu yang lain mertua Si Kabayan mengajak menantunya yang malas lagi bodoh itu untuk memetik kacang koro di kebun. Mereka membawa karung untuk tempat kacang koro yang mereka petik. Baru beberapa buah kacang koro yang dipetiknya, Si Kabayan telah malas untuk melanjutkannya. Si Kabayan mengantuk. Ia pun lantas tidur di dalam karung.

Ketika azan Dhuhur terdengar, mertua Si Kabayan menyelesaikan pekerjaannya. Ia sangat keheranan karena tidak mendapati Si Kabayan bersamanya. “Dasar pemalas!” gerutunya. “Ia tentu telah pulang duluan karena malas membawa karung beriSi kacang koro yang berat!”

Mertua Si Kabayan terpaksa menggotong karung beriSi Si Kabayan itu kembali ke rumah. Betapa terperanjatnya ia saat mengetahui ¡Si karung yang dipanggulnya itu bukan kacang koro, melainkan Si Kabayan!

“Karung ini bukan untuk manusia tapi untuk kacang koro!” omel mertua Si Kabayan setelah mengetahui Si Kabayan lah yang dipanggulnya hingga tiba di rumah.

Keesokan harinya mertua Si Kabayan kembali mengajak menantunya itu untuk ke kebun lagi guna memetik kacang-kacang koro. Mertua Si Kabayan masih jengkel dengan kejadian kemarin. Ia ingin membalas dendam pada Si Kabayan. Ketika Si Kabayan sedang memetik kacang koro, dengan diam-diam mertua Si Kabayan masuk ke dalam karung dan tidur. Ia ingin Si Kabayan memanggulnya pulang seperti yang diperbuatnya kemarin.

Adzan Dhuhur terdengar dari surau di kejauhan. Si Kabayan menghentikan pekerjaannya. Dilihatnya mertuanya tidak bersamanya. Ketika ia melihat ke dalam karung, ia melihat mertuanya itu tengah tertidur. Tanpa banyak bicara, Si Kabayan lantas mengikat karung itu dan menyeretnya.

Terperanjatlah mertua Si Kabayan mendapati dirinya diseret Si Kabayan. Ia pun berteriak-teriak dari dalam karung, “Kabayan! Ini Abah! Jangan engkau seret Abah seperti ini!”

Namun, Si Kabayan tetap saja menyeret karung beriSi mertuanya itu hingga tiba di rumah. Katanya seraya menyeret, “Karung ini untuk tempat kacang koro, bukan untuk manusia.”

Karena kejadian itu mertua Si Kabayan sangat marah kepada Si Kabayan. Ia mendiamkan Si Kabayan. Tidak mau mengajaknya berbicara dan bahkan melengoskan wajah jika Si Kabayan menyapa atau mengajaknya bicara. Ia terlihat sangat benci dengan menantunya yang malas lagi bodoh itu.

Si Kabayan menyadari kebencian mertuanya itu kepadanya. Bagaimanapun juga ia merasa tidak enak diperlakukan seperti itu. Ia lantas mencari cara agar mertuanya tidak lagi membenci dirinya. Ditemukannya cara itu. Ia pun bertanya pada istrinya perihal nama asli mertuanya.

“Mengetahui nama asli mertua itu pantangan, Akang (Kak),” kata Nyi Iteung memperingatkan. “Bukankah Akang sudah tahu masalah ini?”

Si Kabayan berusaha membujuk. Disebutkannya jika ia hendak mendoakan mertuanya itu agar panjang umur, selalu sehat, murah rejeki, danjauh dari segala mara bahaya. “Jika aku tidak mengetahui nama Abah, bagaimana nanti jika doaku tidak tertuju kepada Abah dan malah tertuju kepada orang lain?”

Nyi Iteung akhirnya bersedia memberitahu jika suaminya itu berjanji untuk tidak menyebarkan rahasia itu. katanya, “Nama Abah yang asli itu Ki Nolednad. Ingat, jangan sekali-kali engkau sebutkan nama Abah itu kepada siapa pun!”

Setelah mengetahui nama asli mertuanya, Si Kabayan lantas mencari air enau yang masih mengental. Diambilnya pula kapuk dalam jumlah yang banyak. Si Kabayan menuju lubuk, tempat mertuanya itu biasa mandi. Ia lantas membasahi seluruh tubuhnya dengan air enau yang kental dan menempelkan kapuk di sekujur tubuhnya. Si Kabayan kemudian memanjat pohon dan duduk di dahan pohon seraya menunggu kedatangan mertuanya yang akan mandi.

Ketika mertuanya sedang asyik mandi, Si Kabayan lantas berseru dengan suara yang dibuatnya terdengar lebih berat, “Nolednad! Nolednad!”

Mertua Si Kabayan sangat terperanjat mendengar namanya dipanggil. Seketika ia menatap arah sumber suara pemanggilnya, kian terperanjatlah ia ketika melihat ada makhluk putih yang sangat menyeramkan pada pandangannya. “Si … siapa engk… engkau itu?” tanyanya terbata-bata.

“Nolednad, aku ini Kakek penunggu lubuk ini,” kata Si Kabayan. “Aku peringatkan kepadamu Nolednad, hendaklah engkau menyayangi Kabayan karena ia cucu kesayanganku. Jangan berani-berani engkau menyia-nyiakannya. Urus dia baik-baik. Urus sandang dan pangannya. Jika engkau tidak melakukan pesanku ini, niscaya engkau tidak akan selamat!”

Mertua Si Kabayan sangat takut mendengar ucapan ‘Kakek penunggu lubuk’ itu. Ia pun berjanji untuk melaksanakan pesan ‘Kakek penunggu lubuk’ itu.

Sejak saat itu mertua Si Kabayan tidak lagi membenci Si Kabayan. Disayanginya menantunya itu. Dicukupinya kebutuhan sandang dan pangan Si Kabayan. Bahkan, dibuatkannya pula rumah, meski kecil, untuk tempat tinggal menantunya tersebut.

Setelah mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari mertuanya, Si Kabayan juga sadar akan sikap buruknya selama itu. Ia pun mengubah sikap dan perilakunya. Ia tidak lagi malas-malasan untuk bekerja. Ia pun bekerja sebagai buruh. Kehidupannya bersama istrinya membaik yang membuat istrinya itu bertambah sayang kepadanya. Si Kabayanjuga bertambah sayang kepada Nyi Iteung seperti sayangnya kepada mertuanya yang tetap baik perlakuannya terhadapnya. Mertuanya tetap menyangka Si Kabayan sebagai cucu ‘Kakek penunggu lubuk. Ki Nolednad sangat takut untuk memusuhi atau menyia-nyiakan Si Kabayan karena takut tidak akan selamat dalam hidupnya seperti yang telah dipesankan ‘Kakek penunggu lubuk’!

 

HENDAKLAH KITA MENGHINDARI SIKAP BERMALAS-MALASAN KARENA SIKAP MALAS HANYA AKAN MENDATANGKAN KERUGIAN BAGI DIRI SENDIRI MAUPUN ORANG LAIN .

Sangkuriang – Cerita Rakyat Jawa Barat
Sangkuriang – Cerita Rakyat Jawa Barat

Seekor babi hutan tengah melintas di sebuah hutan. Babi hutan itu merasa haus. Seketika ia melihat ada air yang tertampung di daun pohon keladi hutan, diminumnya air itu. Tanpa disadarinya, air itu adalah air seni Raja Sungging Perbangkara. Karena kesaktian Raja Sungging Perbangkara, babi hutan itu pun mengandung setelah meminum air seninya. Sembilan bulan kemudian Si babi hutan melahirkan seorang bayi perempuan.

Raja Sungging Perbangkara mengetahui adanya bayi perempuan yang terlahir karena air seninya itu. Ia pun ke hutan untuk mencarinya. Diketemukannya bayi perempuan itu. Ia pun memberinya nama Dayang Sumbi dan membawanya pulang ke istana kerajaan.

Dayang Sumbi tumbuh menjadi perempuan yang sangat cantik wajahnya. Serasa tak terbilang jumlah raja, pangeran, dan bangsawan yang berkehendak memperistri anak perempuan Raja Sungging Perbangkara itu. Namun, semua pinangan itu ditolak Dayang Sumbi dengan halus. Sama sekali tidak diduga oleh Dayang Sumbi, mereka yang ditolak pinangannya itu saling berperang sendiri untuk memperebutkan dirinya.

Dayang Sumbi sangat sedih mendapati kenyataan itu. Ia pun memohon kepada Raja Sungging Perbangkara untuk mengasingkan diri. Ia akhirnya mengasingkan diri di sebuah bukit diperkenankan oleh ayahandanya. Seekor anjing jantan bernama Si Tumang menyertai pengasingannya. Untuk mengiSi waktu luangnya selama dalam pengasingan, Dayang Sumbi pun menenun.

Syahdan, ketika Dayang Sumbi sedang menenun, peralatan tenunnya terjatuh. Ketika itu Dayang Sumbi merasa malas untuk mengambilnya. Terlontarlah ucapan yang seolah tidak terlalu disadarinya, “Siapa pun juga yang bersedia mengambilkan peralatan tenunku yang terjatuh itu, seandainya itu lelaki, ia akan kujadikan suami. Jika perempuan, ia akan kujadikan saudara.”

Si Tumang mengambil peralatan tenun yang terjatuh itu dan memberikannya kepada Dayang Sumbi.

Tak ada yang diperbuat Dayang Sumbi selain memenuhi ucapannya. Ia menikah dengan Si Tumang yang ternyata titisan Dewa. Si Tumang adalah Dewa yang dikutuk menjadi hewan dan dibuang ke bumi. Beberapa saat setelah menikah, Dayang Sumbi pun mengandung dan akhirnya melahirkan seorang bayi lelaki. Dayang Sumbi memberinya nama Sangkuriang.

Waktu terus berlalu. Beberapa tahun kemudian terlewati. Sangkuriang telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan wajahnya. Gagah. Tubuhnya kuat dan kekar. Sakti mandraguna pula anak Dayang Sumbi itu.

Sejak kecil Sangkuriang telah senang berburu. Setiap kali melakukan perburuan di hutan, Sangkuriang senantiasa ditemani Si Tumang. Sama sekali Sangkuriang tidak mengetahui jika Si Tumang itu adalah ayah kandungnya.

Pada suatu hari Sangkuriang dengan ditemani Si Tumang kembali melakukan perburuan di hutan. Sangkuriang berniat mencari kijang karena ibunya sangat menghendaki memakan hati kijang. Setelah beberapa saat berada di dalam hutan, Sangkuriang melihat seekor kijang yang tengah merumput di balik semak belukar. Sangkuriang memerintahkan Si Tumang untuk mengejar kijang itu. Sangat aneh, Si Tumang yang biasanya penurut, ketika itu tidak menuruti perintah Sangkuriang. Sangkuriang menjadi marah. Katanya, “Jika engkau tetap tidak mau menuruti perintahku, niscaya aku akan membunuhmu!”

Ancaman Sangkuriang seakan tidak dipedulikan Si Tumang. Karena kejengkelan dan kemarahannya, Sangkuriang lantas membunuh Si Tumang. Hati anjing hitam itu diambilnya dan dibawanya pulang ke rumah. Sangkuriang memberikan hati Si Tumang itu kepada ibunya.

Tanpa disadari oleh Dayang Sumbi bahwa hati yang diberikan anaknya itu adalah hati suaminya, ia lalu memasak dan memakannya. Maka, tak terperikan kemarahan Dayang Sumbi setelah akhirnya mengetahui. Ia lalu meraih gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan dipukulkannya ke kepala Sangkuriang.

Kepala Sangkuriang pun terluka karenanya.

Sangkuriang sangat marah dan sakit hati karena tindakan ibunya itu. Menurutnya, ibunya itu lebih mementingkan dan menyayangi Si Tumang dibandingkan dirinya. Maka, tanpa pamit kepada ibunya, Sangkuriang lantas pergi mengembara ke arah timur.

Dayang Sumbi sangat menyesal setelah mengetahui kepergian anaknya. Ia pun bertapa dan memohon ampun karena perbuatannya yang salah. Dewa yang mengetahui tindakan Dayang Sumbi menerima permohonan ampun Dayang Sumbi. Dewa lalu mengaruniakan kecantikan abadi untuk Dayang Sumbi.

Syahdan, Sangkuriang terus mengembara tanpa tujuan yang pasti, serasa hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Bertahun-tahun lamanya Sangkuriang mengembara hingga akhirnya tanpa disadarinya ia kembali ke tempat Dayang Sumbi berada.

Terpesonalah Sangkuriang pada seorang perempuan yang sangat jelita wajahnya yang ditemuinya. Perempuan yang tak lain Dayang Sumbi itu ternyata juga menyambut cinta Sangkuriang. Keduanya sama-sama tidak mengetahui jika mereka sesungguhnya adalah ibu dan anak. Mereka merencanakan untuk menikah.

Sebelum pernikahan dilangsungkan, Sangkuriang berniat untuk berburu. Dayang Sumbi membantu Sangkuriang untuk mengenakan ikat kepala. Ketika itulah Dayang Sumbi melihat bekas luka di kepala calon suaminya itu. Teringatlah ia pada anak lelakinya yang telah meninggalkannya. Ia sangat yakin jika pemuda gagah itu tak lain anak kandungnya sendiri.

Dayang Sumbi lalu menjelaskan bahwa ia sesungguhnya adalah ibu kandung Sangkuriang. Oleh karena itu ia tidak bersedia menikah dengan anak kandungnya sendiri. Namun, Sangkuriang tidak mempedulikan penjelasan Dayang Sumbi. Sangkuriang tetap berniat untuk menikahi Dayang Sumbi.

“Jika memang telah begitu kuat keinginanmu untuk menikahiku, aku mau engkau peristri asalkan engkau memenuhi syarat yang kuajukan,” kata Dayang Sumbi.

“Apa syarat yang engkau kehendaki?” tanya Sangkuriang.

Dayang Sumbi mengajukan syarat yang luar biasa berat. Sangkuriang hendaklah membendung sungai Citarum dan membuat perahu besar. “Semua itu harus dapat engkau selesaikan dalam waktu semalam,” kata Dayang Sumbi. “Sebelum fajar terbit, dua permintaanku itu harus telah selesai engkau kerjakan.”

Tanpa ragu-ragu, Sangkuriang mengiyakan permintaan Dayang Sumbi. “Baiklah,” katanya, “aku akan memenuhi persyaratanmu itu.”

Sangkuriang segera bekerja mewujudkan permintaan Dayang Sumbi. Pertama kali ia berniat membuat perahu. Ia menebang pohon yang sangat besar. Cabang dan ranting pohon yang tidak dibutuhkannya lantas ditumpuknya. Tumpukkan cabang dan ranting pohon itu kemudian menjelma menjadi Gunung Burangrang. Begitu pula tunggul (Pangkal pohon yang masih tinggal tertanam di dalam tanah setelah ditebang) pohon itu kemudian berubah menjadi sebuah gunung yang kemudian terkenal dengan nama gunung Bukit Tunggul.

Perahu besar itu akhirnya selesai dibuat Sangkuriang. Pemuda sakti itu lantas berniat membendung aliran sungai Citarum untuk membuat sebuah danau. Sangkuriang memanggil makhluk-makhluk halusyang pernah dikalahkannya untuk membantu pekerjaannya. Sekalian makhluk halus itu bersedia pula membantu pekerjaan Sangkuriang.

Semua yang dilakukan Sangkuriang diketahui Dayang Sumbi. Terbit kecemasan di hati Dayang Sumbi setelah melihat Sangkuriang hampir menyelesaikan dua syarat yang diajukannya. Ia harus menggagalkan pekerjaan Sangkuriang agar pernikahannya dengan anak kandungnya itu urung terlaksana. Ia pun memohon kepada Dewa agar Dewa berkenan memberikan pertolongan kepadanya.

Setelah mendapat petunjuk dari Dewa, Dayang Sumbi lantas menebarkan boeh raring (Kain putih hasil tenunan). Seketika itu fajar pun terbit. Hari baru telah tiba.

Para makhluk halus yang membantu pekerjaan Sangkuriang sangat ketakutan ketika mendapati terbitnya sang fajar. Mereka segera berlarian meninggalkan pembuatan perahu besar yang hampir selesai itu.

Sangkuriang sangat marah. Ia merasa Dayang Sumbi telah berlaku curang kepadanya. Ia sangat yakin jika fajar sesungguhnya belum tiba. Ia merasa masih tersedia cukup waktu baginya untuk menyelesaikan pembuatan perahu besar itu. Dengan kemarahan meninggi, Sangkuriang lantas menjebol bendungan di Sanghyang Tikoro. Sumbat aliran sungai Citarum lantas dilemparkannya ke arah timur yang kemudian menjelma menjadi gunung Manglayang. Air yang semula memenuhi danau itu pun menjadi surut. Serasa belum reda kemarahannya, Sangkuriang lantas menendang perahu besar yang dibuatnya itu hingga terlempar jauh dan jatuh tertelungkup. Menjelmalah perahu besar itu menjadi sebuah gunung yang kemudian disebut gunung Tangkubanparahu.

Kemarahan Sangkuriang tetap juga belum reda. Ia mengetahui, semua itu sesungguhnya merupakan siasat Dayang Sumbi untuk menggagalkan pernikahannya. Dengan kemarahan yang terus meluap, Dayang Sumbi pun dikejarnya.

Dayang Sumbi yang ketakutan terus berlari untuk menghindar. Ia terus berlari hingga akhirnya tiba di Gunung Putri. Ketika itulah tubuhnya menghilang dan berubahlah dirinya menjadi bunga Jaksi.

Sangkuriang yang terus mengejar akhirnya tiba di Ujung Berung. Di tempat itu tubuh Sangkuriang pun menghilang ke alam gaib.

 

BERSIKAPLAH UNTUK JUJUR KARENA KEJUJURAN AKAN MEMBAWA KEBAIKAN DAN KEBAHAGIAAN DI KEMUDIAN HARI. PERBUATAN CURANG AKAN MERUGIKAN DIRI SENDIRI. MENDATANGKAN MUSIBAH BAGI DIRI SENDIRI SERTA ORANG LAIN.