Kategori: Jawa Tengah

Timun Emas – Cerita Rakyat Jawa Tengah
Timun Emas – Cerita Rakyat Jawa Tengah

Hiduplah seorang perempuan tua pada zaman dahulu. Mbok Sirni namanya. Ia telah menjanda. Sejak masih bersuami, Mbok Sirni sangat menghendaki mempunyai anak. Namun, hingga suaminya meninggal dunia, belum juga ia dikaruniai anak. Meski demikian, keinginan Mbok Sirni untuk mempunyai anak tetap bergelora. Ia berharap ada seseorang yang berbaik hati yang bersedia memberikan anak kepadanya. Anak yang akan dirawatnya hingga akhirnya dapat membantunya bekerja setelah anak itu besar.

Pada suatu hari seorang raksasa datang menemui Mbok Sirni. Mbok Sirni sangat ketakutan akan dimangsa raksasa yang terlihat sangat menyeramkan tersebut. “Tuan raksasa,” kata Mbok Sirni dengan tubuh gemetar. “Jangan engkau memangsaku. Aku telah tua, tubuhku tidak lagi enak untuk engkau mangsa.”

“Sama sekali aku tidak ingin memangsamu, justru aku ingin memberimu sesuatu,” sahut Si raksasa. Ia memberikan biji-biji tanaman mentimun kepada Mbok Sirni seraya berujar, “Tanamlah biji- biji mentimun ini, niscaya engkau akan mendapatkan apa yang ingin engkau kehendaki selama ini.”

Si Raksasa berpesan pada Mbok Sirni agar tidak menikmati hasil dari biji mentimun pemberiannya itu, melainkan hendaknya berbagi dengannya sebagai ucapan terima kasih Mbok Sirni kepadanya.

Mbok Sirni setuju dengan pesan si raksasa. Ia lantas menanam bibit-bibit mentimun itu di halaman rumahnya. Bibit mentimun itu sangat cepat tumbuh. Hanya berselang beberapa hari kemudian bibit tanaman mentimun itu telah tumbuh dan juga berbuah. Buah-buahnya sangat besar. Di antara buah-buah itu terdapat satu buah yang sangat besar. Warnanya kekuningan yang berkilauan hingga seperti emas jika terkena sinar matahari.

Mbok Sirni mengambil buah yang sangat besar itu dan membelahnya. Mbok Sirni sangat terkejut ketika mendapati bayi perempuan yang cantik di dalam buah mentimun. Mbok Sirni sangat bersyukur karena keinginannya untuk mempunyai anak dikabulkan. Ia lantas memberi nama Timun Emas untuk bayi perempuannya itu.

Mbok Sirni merawat Timun Emas hingga Timun Emas tumbuh menjadi anak yang kian terlihat cantik seiring dengan berlalunya sang waktu. Mbok Sirni sangat menyayangi Timun Emas dan begitu pula sebaliknya.

Beberapa waktu kemudian Mbok Sirni kembali bertemu dengan Si raksasa ketika ia tengah mencari kayu bakar di hutan. Si raksasa memintanya memenuhi janjinya dahulu yang setuju untuk membagi hasil biji mentimun ajaib itu dengannya. Sesungguhnya Mbok Sirni sangat tidak rela jika harus membagi anak tersayangnya itu dengan Si raksasa. Ia juga kebingungan bagaimana cara membagi Timun Emas itu.

Si raksasa masih berbaik hati dengan mengizinkan Timun Emas untuk tinggal bersama Mbok Sirni setelah Mbok Sirni mengungkapkan kebingungannya. Ujar Si raksasa, “Gadis cantik itu boleh tinggal bersamamu hingga tujuh belas tahun umurnya. Setelah itu aku akan memangsanya.”

Mbok Sirni sangat gembira mendengar keleluasaan yang diberikan Si raksasa. Ia masih bisa bersama Timun Emas lagi selama beberapa tahun kemudian.

Timun Emas tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Sifat dan perilakunya baik. Ia taat dan penurut. Rajin pula ia membantu kerepotan Mbok Sirni yang telah dianggapnya sebagai ibu kandung. Aneka pekerjaan rumah tangga di rumah Mbok Sirni dikerjakannya dengan baik. Ia memasak, mencuci, menyapu, dan juga turut bersama Mbok Sirni mencari kayu bakar di hutan. Tidak berlebihan kiranya jika Mbok Sirni sangat menyayangi Timun Emas dan menganggapnya sebagai anak kandung. Namun demikian, seiring berjalannya waktu, Mbok Sirni menjadi sangat cemas jika teringat janjinya pada Si raksasa. Sungguh, sangat tidak rela ia jika anak kesayangannya itu akan dimangsa Si raksasa.

Pada suatu malam Mbok Sirni bermimpi. Dalam impiannya itu ia harus menemui seorang pertapa sakti yang berada di Gunung Gundul jika menghendaki anaknya selamat. Keesokan harinya Mbok Sirni menuju Gunung Gundul. Ia berjumpa dengan seorang pertapa. Ia meminta tolong kepada sang pertapa agar anaknya dapat terbebas dari Si raksasa.

Sang pertapa memberikan satu biji bibit tanaman mentimun, jarum, sebutir garam, dan sepotong terasi kepada Mbok Sirni. “Berikan semua itu kepada anakmu. Niscaya ia akan selamat dari raksasa yang hendak memangsanya,” kata sang pertapa. Sang pertapa juga menjelaskan cara menggunakan benda-benda pemberiannya itu.

Setelah mengucapkan terima kasih, Mbok Sirni bergegas kembali ke rumahnya. Diberikannya benda-benda pemberian sang pertapa itu kepada Timun Emas.

Hanya berselang beberapa saat, Si raksasa datang ke rumah Mbok Sirni. Telah meninggi keinginannya untuk memangsa Timun Emas hingga dari jauh pun ia telah berteriak-teriak, “Hei perempuan tua! Lekas engkau serahkan anakmu itu untuk kumangsa secepatnya!”

Mbok Sirni keluar dari rumahnya dan menyahut, “Tuan raksasa, anakku telah menuju hutan tempat tinggalmu. Ia siap untuk engkau jadikan santapan.”

Si raksasa melihat Timun Emas berlari di kejauhan. Tanpa menunggu waktu lagi, Si raksasa lantas mengejar Timun Emas. Air liur Si raksasa menetes-netes karena telah menguat keinginannya untuk sesegera mungkin memangsa Timun Emas.

Timun Emas telah mengerahkan segenap tenaganya untuk berlari secepat yang bisa diperbuat-nya. Namun, dengan langkah kakinya yang sangat lebar dan panjang, Si raksasa bisa dengan mudah mendekati dan hampir menyusulnya. Mendapati kian mendekatnya Si raksasa, Timun Emas lantas melemparkan sebutir bibit tanaman mentimun. Keajaiban terjadi. Satu bibit tanaman mentimun itu seketika berubah menjadi tanaman mentimun yang sangat lebat dan banyak sekali buahnya. Terlihat menggiurkan buah-buahnya untuk dimakan. Si raksasa dengan rakus lantas melahap semua buah mentimun itu. Namun, perutnya tetap belum kenyang. Ia kembali mengejar Timun Emas yang telah berlari menjauh.

Timun Emas lalu melemparkan jarum yang dibawanya ketika mengetahui Si raksasa kian mendekatinya. Keajaiban kembali terjadi. Jarum yang dilemparkan Timun Emas berubah menjadi hutan bambu yang sangat lebat. Batang-batang pohon bambu itu tinggi-tinggi serta tajam. Si raksasa agak kesulitan melewati hutan bambu itu. Kedua kakinya terluka karena tertusuk batang- batang bambu yang runcing. Namun, Si raksasa tidak mempedulikannya dan terus mengejar Timun Emas yang telah berlari menjauh.

Timun Emas kemudian melemparkan sebutir garam yang dibawanya saat mengetahui Si raksasa kembali mendekatinya. Lagi-lagi, keajaiban pun terjadi. Sebutir garam itu berubah menjadi lautan yang sangat luas yang menjadi penghalang antara Timun Emas dan Si raksasa.

Keinginan Si raksasa untuk memangsa Timun Emas telah begitu meninggi hingga ia pun berenang melintasi lautan luas itu. Ia berenang secapat yang bisa ia perbuat meski hal itu sangat menguras tenaganya. Si raksasa kelelahan ketika tiba di daratan seberang lautan, namun keinginannya untuk sesegera mungkin memangsa Timun Emas membuatnya kembali mengejar Timun Emas.

Timun Emas lantas melemparkan sepotong terasi yang dibawanya. Sepotong terasi itu kemudian berubah menjadi lumpur hisap yang sangat luas. Si raksasa yang terus mengejar akhirnya terperosok ke dalam lumpur hisap itu. Meski telah mengerahkan segenap kekuatannya, Si raksasa tak berdaya menghadapi kekuatan lumpur hisap. Tubuhnya terus tenggelam terhisap ke dalam tanah. Si raksasa menjerit dan meraung-raung meminta tolong, namun tidak ada yang bisa menolongnya lagi. Si raksasa pun akhirnya menemui ajalnya setelah seluruh tubuhnya tenggelam terhisap ke dalam tanah.

Timun Emas selamat. Ia mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah terbebas dari raksasa bengis pemangsa manusia. Ia lantas kembali pulang ke rumahnya untuk menemui Mbok Sirni.

Betapa gembira dan bahagianya Mbok Sirni mendapati Timun Emas selamat. Mbok Sirni dapat hidup tenang bersama Timun Emas tanpa khawatir harus menyerahkan Timun Emas kepada Si raksasa. Begitu pula halnya dengan Timun Emas. Ia dapat hidup tenang bersama sosok perempuan tua yang telah dianggapnya sebagai ibu kandungnya.

Mereka pun hidup berbahagia.

 

JIKA MENGHADAPI MASALAH ATAU COBAAN, HENDAKLAH KITA BERUSAHA SEKUAT TENAGA UNTUK BERUSAHA MENGATASINYA. JANGAN LUPA UNTUK BERDOA DAN MEMOHON KEPADA TUHAN, KARENA TUHAN-LAH MAHA PENENTU SEGALA YANG TERJADI DI DUNIA INI.

Jaka Tarub – Cerita Rakyat Jawa Tengah
Jaka Tarub – Cerita Rakyat Jawa Tengah

Disebuah desa bernama Tarub tinggallah seorang janda. Mbok Randa Tarub namanya. Ia mempunyai seorang anak angkat, seorang anak lelaki yang di kemudian hari setelah beranjak dewasa kerap disapa Jaka Tarub.

Jaka Tarub anak yang rajin dan berbakti kepada ibu angkatnya. Ia mengolah tanah di sawah dan ladang milik ibu angkatnya. Di sela- sela waktunya digunakannya untuk mencari kayu bakar di hutan. Kadang ia berburu dengan menggunakan sumpitnya. Jaka Tarub terkenal piawai memainkan sumpitnya, jarang meleset jika ia menyumpit. Wajahnya juga tampan hingga membuat gadis-gadis sangat menghendaki dapat disuntingnya. Namun, Jaka Tarub tampaknya belum berminat untuk berumah tangga. Mbok Randa Tarub senantiasa mengingatkannya, “Jaka anakku, sebelum ibumu ini tutup usia, aku ingin melihat engkau berumah tangga.”

Namun, hingga Mbok Randa Tarub meninggal dunia karena sakit, Jaka Tarub belum juga beristri.

Sepeninggal Ibu angkatnya, Jaka Tarub lebih banyak menghabiskan waktunya dengan melamun. Ia merasa sangat sedih ditinggalkan perempuan tua yang telah diakuinya sebagai ibu kandung itu. Pada suatu siang Jaka Tarub tidur dan bermimpi. Dalam impiannya itu ia memakan daging rusa. Amat lezat rasanya. Seketika ia terbangun, Jaka Tarub pun bergegas menuju hutan seraya membawa sumpitnya. Ingin benar ia memakan daging rusa seperti yang dirasakannya dalam impiannya itu.

Sangat mengherankan baginya, Jaka Tarub tidak menjumpai seekor hewan buruan pun. Tidak dilihatnya seekor rusa pun. Bahkan hingga Jaka Tarub menuju bagian hutan yang belum pernah dijelajahinya pun, tetap tidak dijumpainya seekor rusa di tempat itu. Jaka Tarub menjadi lelah. Duduklah ia kemudian di atas batu yang terdapat di pinggir telaga. Keadaan sepi dan ditambah dengan lelah yang dirasakannya membuat Jaka Tarub mengantuk. Tak berapa lama kemudian ia telah tertidur.

Baru beberapa saat Jaka Tarub tertidur, telinganya mendengar suara yang mengejutkan baginya. Suara perempuan-perempuan yang tengah bercanda. Jaka Tarub terheran-heran mendengar suara-suara itu. Mengapa pula ada perempuan- perempuan di tengah hutan? Siapakah mereka? Atau jangan-jangan, mereka adalah hantu-hantu perempuan penunggu hutan itu!

Jaka Tarub penasaran. Ia pun mencari sumber suara itu. Amat terpernjat Jaka Tarub ketika mendapati tujuh perempuan tengah mandi di telaga itu. Sangat cantik-cantik wajah mereka. Jaka Tarub berhasrat menikahi salah seorang dari mereka. Seketika dilihatnya tujuh selendang yang terletak di dekat telaga itu, Jaka Tarub langsung mengambil salah satu selendang. Segera disembunyikannya selendang itu.

Menjelang sore tujuh perempuan cantik itu hendak mengakhiri acara mandi mereka. Salah seorang perempuan itu mengajak enam perempuan lainnya untuk segera kembali ke Kahyangan. Mengertilah Jaka Tarubjika tujuh perempuan itu adalah tujuh bidadari.

Salah seorang bidadari, Nawang Wulan namanya, tidak menemukan selendangnya. Bidadari bungsu itu berusaha keras mencari selendang¬nya, namun tetap tidak diketemukannya. Enam kakaknya turut pula mencari. Tetap, selendang Nawang Wulan tidak ditemukan. Enam kakak Nawang Wulan akhirnya meninggalkan Nawang Wulan sendirian. Mereka terbang ke Kahyangan dengan menggunakan selendang mereka masing- masing.

Sepeninggal enam kakaknya, Nawang Wulan menangis. Ia sangat sedih karena tidak bisa kembali ke Kahyangan. Dunia manusia merupakan sesuatu yang sangat asing baginya. Ia merasa akan kesulitan untuk tinggal di dunia manusia itu, terlebih-lebih tidak ada seorang pun yang dikenalnya di dunia manusia itu.

Jaka Tarub segera mendekat dan mengajak berkenalan. Dikemukakannya kesediaannya untuk menolong Nawang Wulan. Merasa tidak ada lagi sosok yang dapat dimintai tolong, Nawang Wulan pun menyatakan kesediaannya ketika Jaka Tarub mengajaknya pulang ke rumah Jaka Tarub.

Beberapa waktu kemudian Jaka Tarub menikahi Nawang Wulan. Keduanya hidup berbahagia. Jaka Tarub tidak lagi bermalas-malasan karena merasa telah mempunyai tanggung jawab. Terlebih-lebih ketika istrinya mengandung dan kemudian melahirkan seorang bayi perempuan. Jaka Tarub memberi nama anaknya itu Nawangsih.

Setelah menikah, Jaka Tarub sesungguhnya merasa heran. Lumbung padinya serasa tidak pernah berkurang isinya, melainkan bertambah. Panen yang kemarin belum habis, panen berikutnya telah didapatkannya. Padahal, setiap hari istrinya itu menanak nasi. Lantas, bagaimana hal itu bisa terjadi? Jaka Tarub tidak menanyakan masalah itu, melainkan disimpannya di hatinya saja. Meski, hal itu membuat rasa penasarannya kian meninggi.

Pada suatu hari Nawang Wulan berpesan kepada Jaka Tarub,”Kakang (kakak), aku tengah memasak nasi. Tolong jagakan apinya. Pesanku, jangan sekali-kali Kakang membuka tutup kukusan (Alat pengukus berbentuk kerucut yang terbuat dari anyaman bambu) ini. Tunggu hingga aku pulang dari sungai.”

Sepeninggal istrinya, Jaka Tarub sangat penasaran akan larangan istrinya. Jaka Tarub pun melanggar pesan istrinya. Ia membuka tutup kukusan. Betapa terperanjatnya Jaka Tarub ketika mendapati setangkai padi di dalam kukusan. Istrinya menanak nasi hanya dari setangkai padi!

“Pantas padi di lumbungku serasa tidak pernah habis-habis dan bahkan terus bertambah,” gumam Jaka Tarub. “Rupanya istriku menanak setangkai padi untuk menjadi nasi satu kukusan penuh!”

Ketika Nawang Wulan pulang dari sungai, ia membuka tutup kukusan. Dilihatnya setangkai padi yang diletakkannya masih berupa setangkai padi. Mengertilah ia jika suaminya telah melanggar pesannya untuk tidak membuka tutup kukusan. Kesaktiannya yang selama itu dirahasiakannya akhirnya musnah. Ia harus berlaku laksana manusia di bumi untuk menanak nasi. Ia harus menumbuk padi, menampi, hingga akhirnya menanak beras itu menjadi nasi. Nawang Wulan terpaksa bekerja keras seperti ibu-ibu lainnya. Maka, persediaan padi di lumbung suaminya terus berkurang. Hingga suatu waktu padi di lumbung itu tinggal sedikit hingga alas lumbung pun terlihat. Ketika itulah Nawang Wulan menemukan selendangnya!

Nawang Wulan amat sedih sekaligus geram, suaminya itu ternyata yang menyembunyikan selendangnya. Ia merasa, suaminya memang telah merencanakan agar ia tinggal di bumi dan kemudian menikahinya. Nawang Wulan segera mengenakan selendangnya dan terbanglah ia menemui suaminya. Katanya, “Kakang, aku akan kembali ke Kahyangan. Jaga dan rawatlah Nawangsih baik-baik. Buatlah dangau di sekitar rumahmu ini dan letakkan Nawangsih pada setiap malam harinya. Aku akan datang untuk menyusuinya. Pesanku, sekali-kali janganlah engkau mengintip atau datang mendekat!”

Jaka Tarub tidak dapat mencegah kepergian istrinya setelah kedoknya terbongkar. Ia terpaksa mengiyakan pesan istrinya.

Nawang Wulan lantas terbang menuju langit setelah mencium Nawangsih.

Jaka Tarub lantas membuat dangau di sekitar rumahnya. Sesuai pesan istrinya, setiap malam ia meletakkan Nawangsih di dalam dangau itu. Ia merasa sangat menyesal karena pernah melanggar pesan istrinya, maka kini ia memegang teguh pesan istrinya itu. Sama sekali ia tidak berani mengintip atau datang mendekati dangau ketika istrinya tengah menyusui Nawangsih, buah hati mereka.

 

KEBOHONGAN ATAU KEDUSTAAN, MESKI DITUTUP RAPAT-RAPAT, PADA AKHIRNYA AKAN TERBUKA. MENUTUP KEBOHONGAN ATAU KEDUSTAAN TAK UBAHNYA MENYIMPAN BANGKAI. BAU BUSUKNYA PASTI AKAN TERCIUM PULA MESKI TELAH RAPAT-RAPAT DITUTUP.

Kawah Sikidang – Cerita Rakyat Jawa Tengah
Kawah Sikidang – Cerita Rakyat Jawa Tengah

Di wilayah Dieng pada zaman dahulu berdiri sebuah kerajaan. Istana kerajaan itu sangat megah lagi indah. Putri Shinta Dewi berdiam di istana kerajaan itu.

Shinta Dewi amat terkenal kecantikannya. Layaknya dapat disejajarkan dengan kecantikan bidadari Kahyangan. Tidak sedikit pangeran dan putra bangsawan yang berkehendak melamar dan memperistri Shinta Dewi. Namun hingga selama itu belum ada pemuda yang berani datang mengajukan pinangannya pada Shinta Dewi.

Syahdan, tersebutlah seorang pangeran kaya raya. Kidang Garungan namanya. Kekayaan sang pangeran begitu terkenal, laksana semua kemewahan dimilikinya. Selain itu, Pangeran Kidang Garungan juga terkenal sakti. Shinta Dewi mendengar pula adanya seorang pangeran yang sangat kaya raya lagi sangat sakti itu.

Pada suatu hari datang utusan Pangeran Kidang Garungan ke istana kerajaan di Dieng. Utusan itu mengemban amanat dari Pangeran Kidang Garungan untuk melamar Shinta Dewi.

Mendapati datangnya lamaran dari Pangeran Kidang Garungan, Shinta Dewi langsung menyatakan persetujuannya. “Baiklah,” katanya kepada sang utusan, “sampaikan kepada Pangeran Kidang Garungan bahwa aku menerima pinangannya. Silahkan Pangeran Kidang Garungan untuk datang ke istana kerajaan ini untuk membahas pernikahan yang akan kami lakukan.”

Utusan itu pun kembali setelah mendapat jawaban yang baik dari Shinta Dewi. Pangeran Kidang Garungan lalu mengadakan persiapan menuju Dieng setelah mendengar lamarannya diterima Shinta Dewi. Kereta indah berlapis emas disiapkan untuk menjadi kendaraan sang pangeran untuk menuju istana tempat tinggal calon istrinya itu. Kuda-kuda pilihan disiagakan pula. Tak lupa, berbagai hadiah yang kesemuanya indah telah disiapkan untuk diberikan kepada Shinta Dewi. Pada hari yang telah ditentukan berangkatlah Pangeran Kidang Garungan dengan iringan para pengawal.

Shinta Dewi telah mengadakan persiapan penyambutan. Istana kerajaan telah dihias dengan berbagai hiasan yang menyedapkan pandangan. Aneka hiburan telah pula disiapkan. Juga aneka makanan serta minuman yang kesemuanya enak dan lezat. Semuanya telah menunggu kedatangan pangeran kaya raya lagi sakti itu.

Namun, betapa terperanjatnya Shinta Dewi setelah bertemu dengan Pangeran Kidang Garungan. Sosok pangeran itu bukan seperti yang dibayangkannya. Tubuh Pangeran Kidang Garungan memang tegap lagi gagah. Akan tetapi kepala Pangeran Kidang Garungan ternyata menyerupai kepala kijang jantan!

Dalam hati, Shinta Dewi seketika itu menyatakan penolakannya menjadi istri Pangeran Kidang Garungan. Namun, apa yang harus dilakukannya untuk menggagalkan rencana pernikahannya?

Setelah memikirkan berbagai cara, akhirnya Shinta Dewi pun mengajukan syarat kepada Pangeran Kidang Garungan sebelum diperistri. Katanya, “Hendaklah pangeran membuatkan aku sebuah sumur yang sangat besar lagi dalam. Pembuatan sumur itu harus pangeran sendiri yang mengerjakannya.”

Pangeran Kidang Garungan terheran-heran mendengar permintaan calon istrinya itu. Namun, ia bisa menerima permintaan Shinta Dewi setelah calon istrinya itu menjelaskan padanya jika mereka akan menggunakan air sumur itu untuk mandi bersama.

Pangeran Kidang Garungan menerima syarat itu. Tanpa membuang waktu, hari itu juga ia langsung bekerja. Dengan mengerahkan segenap kesaktiannya ia segera bekerja untuk menciptakan sebuah lubang yang besar lagi dalam. Kedua tangannya yang kekar lagi kokoh terus menggali tanah. Tanduknya digunakannya pula untuk menggali tanah yang keras. Tidak berapa lama lubang yang besar lagi dalam telah tercipta. Sumur hampir selesai.

Shinta Dewi sangat terperanjat melihat kemampuan Pangeran Kidang Garungan yang dalam waktu tak berapa lama hampir menyelesaikan sumur yang dibuatnya. Ia sangat takut jika sumur itu akhirnya selesai dalam waktu tak berapa lama lagi. Ia harus bertindak untuk menggagalkan pekerjaan Pangeran Kidang Garungan. Ketika mendapati Pangeran Kidang Garungan masih berada di dalam lubang besar lagi dalam itu, Shinta Dewi pun memerintahkan para prajuritnya untuk menutup kembali lubang tersebut dengan tanah.

Pangeran Kidang Garungan yang masih berada di dalam lubang menjadi marah tak terkira ketika mendapati dirinya tertimbun di dalam lubang. Ia tahu, Shinta Dewi bermaksud mencelakakan dirinya. Ia pun mengerahkan kesaktiannya untuk menembus tanah yang digunakan untuk menimbun dirinya. Terjadi ledakan yang besar ketika tubuh Pangeran Kidang Garungan keluar dari timbunan tanah. Tanah di sekitar lubang itu bergetar hebat karenanya. Namun, sebelum tubuh Pangeran Kidang Garungan berhasil keluar dari lubang, Shinta Dewi memerintahkan para prajuritnya untuk kembali menimbun lubang tersebut. Para prajurit bekerja keras memenuhi perintah Shinta Dewi untuk menimbun lubang dengan tanah hingga Pangeran Kidang Garungan tidak dapat muncul ke permukaan tanah.

Pangeran Kidang Garungan terus berusaha untuk dapat keluar dari timbunan tanah. Setiap kali ia menerobos tanah yang digunakan untuk menimbunnya, setiap kali itu terdengar suara ledakan yang keras. Tanah menjadi bergetar dan permukaannya terasa panas.

Meski telah berusaha keras, tetap Pangeran Kidang Garungan tidak dapat keluar dari lubang yang dibuatnya sendiri karena para prajurit terus menimbun lubang dengan tanah. Menyadari dirinya tidak bisa lagi keluar dari lubang, Pangeran Kidang Garungan pun mengeluarkan sumpah kutukannya, “Shinta Dewi! Karena perbuatan burukmu pada diriku ini, maka seluruh anak keturunanmu kelak akan berambut gimbal!”

Sumur yang meledak hingga membuat tanah bergetar dan permukaannya terasa panas itu di kemudian hari dinamakan Kawah Sikidang (Kidang dalam bahasa Jawa berarti Kijang). Di dalam kawah itu dipercaya terdapat Pangeran Kidang Garungan. Tanah yang bergetar hebat dan permukaannya yang terasa panas dipercayai bermula dari kemarahan menggelegak dari Pangeran Kidang Garungan yang dijebak oleh Shinta Dewi. Adapun beberapa warga di Dieng yang berambut gimbal juga dipercaya merupakan anak keturunan Shinta Dewi.

 

JANGAN MUDAH BERJANJI SEBELUM MEMIKIRKANNYA BAIK-BAIK. JIKA KITA BERJANJI HENDAKLAH KITA TEPATI. PENGINGKARAN JANJI AKAN MENYEBABKAN KERUGIAN BAGI KITA DI KEMUDIAN HARI DAN JUGA MERUGIKAN ORANG LAIN YANG TELAH MENDAPAT JANJI TERSEBUT.

Aji Saka – Cerita Rakyat Jawa Tengah
Aji Saka – Cerita Rakyat Jawa Tengah

Seorang pemuda sakti yang tinggal di desa Medang Kawit. Aji Saka namanya. Ia mempunyai dua pembantu yang sangat setia. Dora dan Sembada nama keduanya.

Suatu hari Aji Saka berniat ke wilayah Medang Kamulan. Ia mendengar perilaku Raja Medang Kamulan yang bernama Prabu Dewata Cengkaryang sangat jahat. Prabu Dewata Cengkar gemar memangsa manusia. Setiap hari ia harus makan daging manusia. Patih Medang Kamulan yang bernama Jugul Muda harus sibuk mencari manusia untuk dipersembahkan kepada rajanya yang sangat kejam itu. Rakyat Medang Kamulan sangat ketakutan dan mereka memilih untuk mengungsi dari Medang Kamulan dibandingkan harus menjadi santapan Prabu Dewata Cengkar. Aji Saka berniat menghentikan kekejaman penguasa kerajaan Medang Kamulan yang gemar memakan manusia itu untuk selama-lamanya.

Dalam perjalanan menuju kerajaan Medang Kamulan, Aji Saka dan dua pembantunya tiba di daerah pegunungan Kendeng. Aji Saka meminta Sembada untuk tinggal di daerah itu dan menyerahkan keris saktinya. Katanya, “Kutitipkan keris sakti pusakaku ini kepadamu. Sekali-kali jangan engkau serahkan keris sakti pusakaku ini kepada siapa pun kecuali hanya kepadaku saja! Aku sendiri yang akan datang mengambil keris pusakaku ini.”

Sembada mengiyakan pesan Aji Saka.

Aji Saka bersama Dora melanjutkan perjalanan. Di sebuah tempat, Aji Saka meminta Dora untuk tinggal karena ia akan ke kerajaan Medang Kamulan seorang diri.

Syahdan, Aji Saka bertemu dengan Patih Jugul Muda yang tampak kebingungan karena tidak mendapatkan seorang manusia pun yang dapat dipersembahkan untuk Prabu Dewata Cengkar.

“Jika itu yang menjadi kebingunganmu, serahkan aku kepada rajamu, wahai Patih Jugul Muda,” kata Aji Saka.

Patih Jugul Muda sangat keheranan mendengar ucapan Aji Saka. Jika orang lain akan lari terbirit-birit jika hendak dijadikan korban guna memuaskan nafsu Prabu Dewata Cengkar itu, Aji Saka malah menawarkan dirinya!

Patih Jugul Muda lantas membawa Aji Saka ke istana kerajaan Medang Kamulan. Berbeda dengan orang-orang lainnya yang sangat ketakutan ketika dihadapkan pada Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka tampak tenang. Sama sekali ia tidak menunjukkan ketakutan. Katanya di hadapan Raja Medang Kamulan yang sangat kejam itu, “Sebelum hamba Paduka makan, perkenankan hamba mengajukan satu syarat terlebih dahulu.”

“Syarat?” Prabu Dewata Cengkar melototkan kedua bola matanya, “Syarat apa yang engkau kehendaki?”

“Hamba meminta imbalan tanah seluas surban yang hamba kenakan ini,” jawab Aji Saka.

Tak terkirakan gembiranya hati Prabu Dewata Cengkar mendengar syarat yang diajukan Aji Saka. Syarat yang sangat mudah menurutnya. Hanya dengan memberikan imbalan tanah seluas surban yang dikenakan Aji Saka ia telah dapat memangsa Aji Saka. Maka katanya kemudian dengan wajah berseri-seri, “Aku akan penuhi permintaanmu! Lekas engkau buka surbanmu itu dan gelarlah. Aku telah sangat lapar!”

Aji Saka membuka surbannya dan mulai menggelarnya. Sangat mengherankan, surban itu ternyata sangat panjang. Surban seolah-olah tidak putus-putusnya digelar hingga wilayah Kerajaan Medang Kamulan pun kurang panjang. Surban bagai terus memanjang hingga membentang dari istana kerajaan menjangkau wilayah gunung, sungai, hutan, dan bahkan hingga ke lembah- lembah. Semua tidak menyangka jika surban yang dikenakan Aji Saka itu begitu panjang lagi luas. Begitu pula dengan Prabu Dewata Cengkar tidak menyangkanya.

Sesuai perjanjian yang telah disepakati Prabu Dewata Cengkar yang akan menyerahkan tanah seluas surban yang dikenakan Aji Saka, itu berarti wilayah kekuasaan Prabu Dewata Cengkar diserahkan kepada Aji Saka. Prabu Dewata Cengkar pun sangat murka. Ia langsung menangkap Aji Saka untuk dimangsanya. Namun, Aji Saka bukan pemuda sembarangan. Ia bisa menghindari serangan tiba-tiba Prabu Dewata Cengkar itu. Sebaliknya, Prabu Dewata Cengkar tidak berdaya ketika terlilit surban Aji Saka. Meski telah meronta- ronta sekuat tenaga, Prabu Dewata Cengkar tidak dapat melepaskan diri dari lilitan surban. Semakin keras ia berusaha melepaskan diri, semakin kuat ia terbelit surban Aji Saka. Dengan kesaktiannya, Aji Saka mampu melemparkan tubuh Prabu Dewata Cengkar ke Laut Selatan. Seketika itu Raja Medang Kamulan yang gemar memakan daging manusia itu menemui kematiannya.

Tak terkirakan kegembiraan rakyat Medang Kamulan setelah mendengar kematian Prabu Dewata Cengkar. Berbondong-bondong mereka kembali ke desa mereka masing-masing. Segenap rakyat pun akhirnya sepakat menunjuk Aji Saka sebagai pemimpin mereka. Maka, Aji Saka lantas bertakhta sebagai Raja Medang Kamulan menggantikan Prabu Dewata Cengkar. Kian gembira dan berbahagia rakyat Medang Kamulan mendapati Aji Saka memerintah dengan adil dan bijaksana.

Pada suatu hari Aji Saka teringat pada keris sakti pusakanya yang masih ditinggalkannya di pegunungan Kendeng yang dijaga Sembada. Ia lantas memerintahkan Dora untuk mengambil keris pusakanya itu.

Berangkatlah Dora memenuhi perintah Aji Saka. Bertemulah ia dengan sahabat dekatnya yang masih tetap setia berada di pegunungan Kendeng. Setelah berbincang-bincang melepas kerinduan, Dora menyatakan maksud kedatangannya. “Aku diutus junjungan kita untuk mengambil keris pusaka yang dititipkannya kepadamu.”

Sembada sama sekali tidak curiga mendengar ucapan Dora. Namun, ia tidak bisa menyerahkan keris pusaka milik Aji Saka itu kepada sahabat dekatnya itu. “Untuk engkau ketahui wahai Dora sahabatku, junjungan kita pernah berpesan kepadaku untuk tidak sekali-kali menyerahkan keris pusaka itu kepada siapa pun juga! Aku dipesannya untuk hanya menyerahkan keris pusaka itu kepadanya saja. Junjungan kita itu juga telah berjanji kepadaku untuk mengambil keris pusakanya sendiri.”

“Sembada sahabatku, apakah engkau mencurigai aku? Demi Sang Hyang Dewata Agung, aku sungguh-sungguh menjalankan perintah junjungan kita!” ujar Dora untuk meyakinkan.

Namun, tetap juga Sembada tidak berkenan memberikan keris pusaka milik Aji Saka itu. Ia tetap bersikeras hanya akan menyerahkan keris pusaka itu kepada Aji Saka sesuai amanat yang diterimanya. Sementara Dora juga tetap bersikeras untuk meminta keris pusaka Aji Saka sesuai perintah yang diterimanya. Keduanya saling bersikeras hingga akhirnya terjadilah perselisihan di antara mereka. Perselisihan itu terus meruncing hingga akhirnya terjadilah pertarungan di antara dua sahabat dekat itu.

Syahdan Aji Saka terus menunggu di istana Kerajaan Medang Kamulan. Benar-benar heran ia karena Dora yang diutusnya belum juga kembali. Menurutnya, Dora seharusnya telah kembali. Karena keheranan dan penasarannya, Aji Saka pun bergegas menuju pegunungan Kendeng.

Tak terkirakan terperanjatnya Aji Saka ketika tiba di pegunungan Kendenga. Ia mendapati dua pembantu setianya itu telah tewas karena pusaka masing-masing. Mengertilah Aji Sakajika kedua pembantu setianya itu telah bertarung demi menjaga amanat yang diberikannya. Sembada akan mati-matian menjaga amanatnya untuk tidak memberikan keris pusaka titipannya kepada siapa pun selain kepada dirinya sendiri, sementara Dora akan mati-matian pula meminta keris pusaka itu sesuai perintahnya.

Aji Saka sangat merasa bersalah atas tewasnya dua pembantu setianya itu. Benar- benar ia terharu dan memberikan kehormatan besarnya terhadap Sembada dan Dora yang begitu setia kepadanya. Keduanya rela mati demi menjaga amanat dan perintah yang mereka emban. Sebagai wujud penghormatannya atas kesetiaan dua pembantunya, Aji Saka lantas menuliskan huruf-huruf di atas batu. Bunyi tulisan itu adalah:

ha na ca ra ka

da ta sa wa la

pa dha ja ya nya

ma ga ba tha nga

Makna tulisan itu adalah Ada utusan, (utusan Itu) saling bertengkar, (keduanya) sama-sama sakti, (keduanya pun) mati bersama.

Tulisan Aji Saka itu kemudian dikenal dengan nama Carakan dan menjadi asal mula huruf Jawa yang hingga kini masihjuga menjadi tulisan dan juga bacaan orang-orang Jawa.

 

MEMEGANG DAN MENJALANKAN AMANAT HENDAKLAH DI LAKUKAN SEBAIK DAN SEKUAT YANG DAPAT KITA LAKUKAN. ORANG YANG MEMEGANG DAN MENJALANKAN AMANAT DENGAN BAIK AKAN MENDAPATKAN KEHORMATAN DI KEMUDIAN HARI.