Kategori: Jawa Timur

Keong Emas – Cerita Rakyat Jawa Timur
Keong Emas – Cerita Rakyat Jawa Timur

Prabu Kertamarta adalah Raja Daha pada zaman dahulu. Ia mempunyai dua anak perempuan bernama Galuh Ajeng dan Candra Kirana.

Candra Kirana mempunyai kecantikan wajah yang sangat memesona. Tunangannya adalah Raden Inu Kertapati yang merupakan putra mahkota Kerajaan Kahuripan.

Galuh Ajeng sebenarnya juga mencintai Raden Inu Kertapati yang terkenal tampan lagi gagah itu. Oleh karena itu ia sangat iri dengan keberuntungan adiknya. Dari perasaan iri itu akhirnya berkembang menjadi benci. Galuh Ajeng lantas merencanakan cara untuk menyingkirkan Candra Kirana dari istana Kerajaan Daha. Secara diam-diam Galuh Ajeng meminta bantuan nenek penyihir jahat yang diketahui mempunyai mantra kutukan yang sangat mengerikan. Kepada nenek penyihir jahat, Galuh Ajeng meminta agar Candra Kirana dikutuk menjadi sesuatu yang mengerikan wujudnya.

“Baiklah,” ujar nenek penyihir menyanggupi permintaan Galuh Ajeng. “Usahakan agar Candra Kirana dapat keluar dari istana hingga aku dapat bertemu langsung dengannya. Ketika itulah akan kukutuk ia menjadi sesuatu.”

Galuh Ajeng lantas bersiasat jahat. Ia melakukan fitnah kepada Candra Kirana. Akibat fitnah itu Prabu Kertamarta murka kepada Candra Kirana hingga mengusir anak bungsunya itu.

Candra Kirana meninggalkan istana kerajaan dengan hati sedih lagi terluka. Ia berjalan tak tentu arah hingga akhirnya tiba di pantai. Nenek sihir jahat mendadak muncul di hadapan Candra Kirana dan mengeluarkan kutukannya, “Jadilah engkau keong emas!”

Mantra kutukan nenek sihir jahat begitu kuat hingga seketika itu Candra Kirana berubah wujud menjadi keong emas.

Nenek sihir jahat lantas membuang keong emas jelmaan Candra Kirana ke laut seraya berseru, “Kutukanku akan hilang jika keong emas bertemu dengan tunangannya!”

Alkisah seorang nenek yang berasal dari desa Dadapan tengah mencari ikan dengan menggunakan jala. Keong emas tersangkut pada jala yang ditebarkan Si nenek. Si nenek membawa keong emas itu ke gubugnya. Semula ia hendak memasak keong emas. Namun, ketika memperhatikan keong emas itu terlihat indah, Si nenek urung memasaknya. Ia malah bermaksud memeliharanya. Maka Si nenek meletakkan keong emas temuannya itu ke dalam tempayan. Diberinya makanan untuk keong emas itu dan ditutupnya tempayan tersebut agar keong emas tidak keluar dan melarikan diri.

Keesokan harinya Si nenek kembali mencari ikan. Tampaknya ia kurang beruntung hari itu. Tidak ada seekor ikan pun yang berhasil dijaringnya. Ia pun pulang ke gubugnya dengan tangan kosong. Setibanya ia di gubugnya, Si nenek sangat terkejut mendapati makanan telah tersaji di atas mejanya. Si nenek kebingungan karena tidak merasa memasak dan juga tidak menyuruh siapa pun untuk memasak untuknya. Karena perutnya telah lapar, Si nenek pun memakan makanan itu dengan lahap.

Hari-hari berikutnya Si nenek mengalami kejadian aneh yang mengherankan itu. Setiap ia pulang dari mencari ikan, makanan telah tersaji di atas mejanya. Karena penasaran, Si nenek berusaha mengetahui siapa sesungguhnya yang telah memasak makanan untuknya itu.

Pada suatu hari ia berpura-pura hendak berangkat mencari ikan. Dengan langkah hati-hati, Si nenek kembali lagi ke gubugnya. Ia mengintip dari balik gubugnya. Beberapa saat mengintip, Si nenek dikejutkan dengan pemandangan yang mengherankan yang berlangsung di dalam gubugnya. Dari dalam tempayan keluarlah keong emas. Seketika telah berada di luar tempayan, keong emas itu mendadak berubah menjadi seorang gadis berparas sangat cantik yang tak lain Candra Kirana adanya. Si gadis lantas sibuk memasak di dapur.

Si nenek langsung masuk ke dalam rumahnya untuk memergoki Candra Kirana. Tanyanya setelah berhadapan, “Siapa engkau?”

Candra Kirana menjelaskan siapa dirinya yang sesungguhnya dan penyebab ia menjadi keong emas. Setelah menjelaskan siapa dirinya, Candra Kirana kembali menjadi keong emas.

Di tempat lain yang jauh dari desa Dadapan, Raden Inu Kertapati tengah disibukkan untuk mencari tunangannya yang mendadak menghilang. Putra mahkota Kerajaan Kahuripan itu telah mencari ke berbagai tempat, namun kabar keberadaan Candra Kirana tidak juga diketahuinya. Raden Inu Kertapati tidak juga menyerah. Ia tetap bertekad untuk menemukan tunangan yang amat dicntainya itu

Nenek sihir jahat mengetahui usaha Raden Inu Kertapati. Ia tidak ingin Raden Inu Kertapati berhasil menemukan Candra Kirana yang telah dikutuknya menjadi keong emas. Untuk menggagalkan usaha Raden Inu Kertapati, nenek sihir jahat lantas merubah dirinya menjadi burung gagak. Ia mendatangi Raden Inu Kertapati dan memberikan petunjuk yang kian menyesatkan pencarian yang dilakukan putra mahkota Kerajaan Kahuripan itu.

Dalam pencariannya, Raden Inu Kertapati pada suatu hari bertemu dengan seorang kakek yang terlihat membutuhkan pertolongan. Ketika Raden Inu Kertapati menghampiri, kakek itu menyatakan tengah kelaparan. Tanpa berpikir panjang, Raden Inu Kertapati lantas memberikan bekalnya untuk Si kakek. Si kakek makan dengan sangat lahap.

“Maaf Raden,” kata Si kakek setelah selesai makan. “Siapakah sesungguhnya Raden yang baik hati ini?”

Raden Inu Kertapati menjelaskan siapa dirinya. Dijelaskannya pula usaha yang tengah dilakukannya untuk menemukan tunangannya. Sama sekali tidak disangka Raden Inu Kertapati, kakek itu sesungguhnya seorang yang sakti. Si kakek mengetahui jika Raden Inu Kertapati kian dijauhkan dari tunangan yang tengah dicarinya itu oleh burung gagak jelmaan nenek sihir jahat.

“Burung gagak itu jelmaan nenek sihir?” tanya Raden Inu Kertapati.

“Benar, Raden,” jawab Si kakek. “Untuk membuktikan kebenaran ucapan hamba, baiklah kita tunggu burung gagak itu di sini.”

Burung gagak jelmaan Si nenek sihir datang. Si kakek lalu meraih tongkatnya dan memukulkannya pada kepala burung gagak. Seketika itu burung gagak berubah menjadi asap dan menghilang.

Si kakek memberikan petunjuk berharganya. “Jika Raden ingin bertemu dengan tunangan Raden itu, pergilah ke desa Dadapan. Tunangan Raden berada di desa Dadapan itu.”

Raden Inu Kertapati segera memacu kuda tunggangannya menuju desa Dadapan. Berhari- hari ia menempuh perjalanan. Ketika Raden Inu Kertapati tiba di desa Dadapan, seluruh bekalnya telah habis. Raden Inu Kertapati merasa sangat haus. Ketika ia melihat sebuah gubug, ia lantas mengarahkan kuda tunggangannya menuju gubug itu. Ia berniat hendak meminta air dari pemilik gubug. Akan tetapi bukan air minum yang didapatkan Raden Inu Kertapati, melainkan tunangannya yang telah begitu lama dicarinya itu di dalam gubug!

Tak terkirakan suka cita dan bahagianya Raden Inu Kertapati setelah berhasil menemukan kekasih hatinya. Begitu pula halnya dengan Candra Kirana. Karena berhasil bertemu dengan tunangannya, kutukan Si nenek sihir jahat seketika itu pun musnah. Candra Kirana tidak lagi berubah wujudnya menjadi keong emas.

Raden Inu Kertapati segera memboyong Candra Kirana ke Kerajaan Daha. Si nenek yang baik hati itu diajaknya pula. Maka, terbukalah kedok jahat Galuh Ajeng setelah Raden Inu Kertapati dan Candra Kirana tiba di istana Kerajaan Daha.

Amat besar murka Prabu Kertamarta ketika mengetahui kelakuan jahat putri sulungnya. Prabu Kertamarta memerintahkan agar Galuh Ajeng dihukum seberat-beratnya sesuai kesalahannya.

Galuh Ajeng sangat ketakutan menerima hukuman berat dari ayahandanya. Dengan sembunyi-sembunyi ia lantas melarikan diri dari istana kerajaan Daha. Ia terus berlari menuju hutan. Ia terus berlari hingga akhirnya terperosok ke dalam jurang. Galuh Ajeng tewas terjatuh di jurang itu.

Candra Kirana dan Raden Inu Kertapati kemudian menikah. Pesta pernikahan mereka berlangsung semarak selama tujuh hari tujuh malam. Rakyat kerajaan Daha dan Kahuripan bersuka cita menyambut pernikahan agung itu. Segenap kekuatan Kerajaan Daha dan Kerajaan Kahuripan pun bersatu seperti bersatunya Candra Kirana dan Raden Inu Kertapati. Keduanya hidup berbahagia. Begitu pula dengan nenek baik hati yang berasal dari desa Dadapan itu. Si nenek tidak lagi tinggal di gubugnya di desa Dadapan, melainkan di istana Kerajaan Daha bersama Candra Kirana. Ia sangat berbahagia karena Candra Kirana tetap menganggapnya sebagai ibunya dan memperlakukannya laksana ibu kandungnya sendiri.

 

KEBENARAN AKAN MENGALAHKAN KEBATILAN ATAU KEJAHATAN. SIFAT IRI HATI ITU LAKSANA API YANG AKAN MEMBAKAR HABIS KAYU KERING KEBAIKAN. ORANG YANG IRI HATI AKAN MERASAKAN KEKALAHAN DAN KEHANCURAN DI KEMUDIAN HARI.

Joko Dolog – Cerita Rakyat Jawa Timur
Joko Dolog – Cerita Rakyat Jawa Timur

Seorang pangeran dari Madura, Situbondo namanya. Ia putra Adipati Cakraningrat. Pada suatu hari Pangeran Situbondo berlayar ke Kadipaten Surabaya dengan diiringi Gajah Seta dan Gajah Menggala. Ia disambut dengan ramah oleh Adipati Jayengrana, sang Adipati Surabaya. Maksud kedatangan Pangeran Situbondo ketika itu adalah untuk melamar Purbawati, putri Adipati Jayengrana.

Adipati Jayengrana mempersilakan putrinya untuk menjawab sendiri lamaran yang ditujukan kepadanya itu.

Purbawati sesungguhnya tidak mencintai Pangeran Situbondo. Cintanya hanya pada Pangeran Jaka Taruna dari Kadipaten Kediri. Namun, untuk menolak lamaran Pangeran Situbondo, Purbawati merasa tidak enak hati. Masalahnya, ayahandanya dan ayahanda Pangeran Situbondo sangat karib persahabatannya. Jika ia langsung menyatakan penolakannya, ia khawatir persahabatan antara ayahandanya dan ayahanda Pangeran Situbondo akan putus. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan akan terjadi peperangan antara Surabaya dan Madura itu!

Purbawati lantas menolak secara halus. Katanya kepada Pangeran Situbondo, “Aku bersedia diperistri Kanda Pangeran Situbondo, asalkan Kanda Pangeran Situbondo dapat membuka hutan di wilayah Kadipaten Surabaya ini. Hutan yang dibuka itu kelak akan menjadi tempat hunian anak keturunan kami.”

Syarat Purbawati itu, meski sesungguhnya sangat berat karena hutan itu terkenal angker dan berbahaya, disanggupi Pangeran Situbondo. Dengan kesaktiannya, Pangeran Situbondo sangat yakin mampu melaksanakan syarat yang diajukan putri Adipati Jayengrana yang sangat dicintainya itu. Pangeran Situbondo lantas membuka hutan seperti yang dikehendaki Purbawati.

Ketika Pangeran Situbondo tengah membuka hutan, datanglah Pangeran Jaka Taruna ke Kadipaten Surabaya. Sangat terperanjat ia ketika mengetahui Pangeran Situbondo tengah membuka hutan sebagai syarat sebelum memperistri kekasih hatinya. Ia lantas memberanikan diri menghadap Adipati Jayengrana untuk melamar Purbawati. Kepada Adipati Jayengrana, Pangeran Jaka Taruna menyatakan jika ia dan Purbawati telah lama menjalin hubungan kasih.

Adipati Jayengrana tampak kebingungan. Agak menyesal ia mengapa Pangeran Jaka Taruna terlambat datang sehingga Pangeran Situbondo telah terlebih dahulu melaksanakan sayembara yang diminta Purbawati. Adipati Jayengrana kembali menyerahkan sepenuhnya masalah itu kepada putrinya mengingat hubungan baiknya dengan Adipati Kediri dan juga dengan ayahanda Pangeran Situbondo.

Purbawati lantas meminta Pangeran Jaka Taruna yang dicintainya itu untuk turut membuka hutan.

Pangeran Jaka Taruna lalu turut membuka hutan di dekat tempat Pangeran Situbondo tengah membuka hutan. Tak terkirakan kemarahan Pangeran Situbondo ketika mendapati Pangeran Jaka Taruna turut membuka hutan. Perselisihan antara dua putra Adipati itu pun tak terelakkan lagi disusul dengan pertarungan yang sengit. Kedua pangeran itu saling menumpahkan kesaktiannya untuk saling mengalahkan demi mendapatkan Purbawati.

Kesaktian Pangeran Situbondo masih di atas Pangeran Jaka Taruna. Pangeran Situbondo mampu memukul putra Adipati Kediri itu hingga tubuh Pangeran Jaka Taruna terpental jauh membumbung hingga tersangkut pada dahan pohon yang sangat tinggi. Pangeran Situbondo lantas meninggalkan tempat itu begitu saja.

Pangeran Jaka Taruna berteriak-teriak meminta tolong karena tidak mampu melepaskan diri dari kondiSi yang menjeratnya. Suara teriakannya keras menggema di hutan belantara itu. Namun, tidak ada yang datang menolongnya mengingat hutan belantara tersebut jarang dilewati orang. Pangeran Jaka Taruna terus berteriak-teriak meminta tolong.

Syahdan, lewatlah seorang pemuda di hutan belantara itu. Jaka Jumput namanya. Ia tengah mencari bahan-bahan untuk racikan obat-obatannya. Mendengar teriakan Pangeran Jaka Taruna, Jaka Jumput segera memberikan pertolongannya. Dengan kesaktiannya, Jaka Jumput berhasil melepaskan dan menurunkan Pangeran Jaka Taruna.

Pangeran Jaka Taruna lalu menceritakan kejadian yang dialaminya. Ia juga meminta agar Jaka Jumput membantunya untuk mengalahkan Pangeran Situbondo.

“Jika hamba bisa mengalahkan Pangeran Situbondo,” kata Jaka Jumput, “apa imbalan yang akan hamba dapatkan?”

“Apa pun juga yang engkau kehendaki, niscaya aku akan memberikannya,”jawab Pangeran Jaka Taruna.

“Baiklah,” kata Jaka Jumput.

Jaka Jumput lantas mencari Pangeran Situbondo. Seketika ditemukannya, Jaka Jumput lalu menantang Pangeran Situbondo. Tak terkirakan kemarahan Pangeran Situbondo mendapat tantangan Jaka Jumput. Keduanya segera terlibat dalam pertarungan yang sangat seru, sementara Pangeran Jaka Taruna hanya menonton dari kejauhan.

Jaka Jumput ternyata benar-benar tangguh. Amat tinggi kesaktiannya. Meski Pangeran Situbondo mengerahkan segenap kemampuan dan kesaktiannya, tak berdaya pula ia pada akhirnya menghadapi Jaka Jumput. Pangeran Situbondo lantas melarikan diri setelah merasa kalah. Ia terus berlari, tidak kembali ke Madura melainkan ke sebuah wilayah di sebelah timur dari Kadipaten Surabaya. Wilayah itu di kemudian hari disebut sesuai dengan nama pangeran dari Madura tersebut, Situbondo.

Ketika mendapati Pangeran Situbondo telah kalah dan melarikan diri, Pangeran Jaka Taruna bergegas kembali ke Kadipaten Surabaya. Segera ia menghadap Adipati Jayengrana dan menyatakan jika ia telah mengalahkan Pangeran Situbondo.

“Benar engkau mengalahkan Pangeran Situbondo?” tanya Adipati Jayengrana.

“Benar, Paman Adipati,” sahut Pangeran Jaka Taruna. “Setelah kami bertarung, Pangeran Situbondo dapat hamba kalahkan. Ia terus berlari ke arah timur tanpa berani lagi menghadapi hamba. Dengan ini hamba mohon perkenan Paman Adipati untuk memberikan restu kepada hamba yang ingin menyunting putri Paman.”

Namun, kebohongan Pangeran Jaka Taruna seketika itu terbongkar ketika Jaka Jumput juga datang di Kadipaten Surabaya dan menyergah, “Bohong! Pangeran Jaka Taruna telah berbohong kepada Paduka, Kanjeng Adipati!”

Adipati Jayengrana terperanjat mendengar sergahan Jaka Jumput. Tanyanya, “Bagaimana maksudmu dengan menyebut Pangeran Jaka Taruna berbohong?”

“Hamba yang mengalahkan Pangeran Situbondo, Kanjeng Adipati,” jawab Jaka Jumput. Ia lantas menceritakan kejadian yang dialaminya sejak ia bertemu dengan Pangeran Jaka Taruna yang tersangkut di dahan pohon tinggi hingga akhirnya mengalahkan Pangeran Situbondo.

Pangeran Jaka Taruna mati-matian menyanggah ucapan Jaka Jumput. Ia terus mengemukakan kebohongan demi kebohongan untuk menutupi kebohongan yang diucapkannya sebelumnya.

Adipati Jayengrana segera menengahi perselisihan pendapat antara Pangeran Jaka Taruna dan Jaka Jumput. “Apa bukti yang kalian miliki jika kalian sama-sama mengaku mengalahkan Pangeran Situbondo?”

Pangeran Jaka Taruna tidak mempunyai bukti. Ia hanya meminta agar Adipati Jayengrana memercayai penjelasannya. Berbeda dengan Pangeran Jaka Taruna, Jaka Jumput mempunyai bukti berupa keris milik Pangeran Situbondo. Bukti itu pun diserahkan Jaka Jumput kepada Adipati Jayengrana.

Adipati Jayengrana memeriksa keris itu. Kata-nya kemudian, “Benar keris ini milik Pangeran Situbondo.”

Pangeran Jaka Taruna amat malu karena kebohongannya telah terbongkar. Namun, ia tetap bersikeras menyatakan jika dirinyalah yang mengalahkan Pangeran Situbondo. Bahkan, untuk membuktikan kesaktiannya, ia menantang Jaka Jumput untuk bertarung.

“Baiklah,” kata Adipati Jayengrana. “Siapa di antara kalian yang menang, maka berhak ia menyunting putriku.”

Pangeran Jaka Taruna dan Jaka Jumput segera terlibat dalam pertarungan yang seru. Pangeran Jaka Taruna bersenjatakan keris pusakanya, sementara Jaka Jumput menghadapinya dengan senjata andalannya berupa cambuk yang diberinya nama Kyai Gembolo Geni. Beberapa saat terlibat dalam pertarungan, Pangeran Jaka Taruna tak mampu menandingi kesaktian Jaka Jumput. Tubuh Pangeran Jaka Taruna tergeletak di atas tanah setelah terkena cambuk sakti Kyai Gembolo Geni.

Pangeran Jaka Taruna kalah.

“Hei Pangeran Jaka Taruna!” seru Adipati Jayengrana, “Telah terbukti engkau membohongiku! Betapa beraninya engkau berbohong kepadaku dengan mengaku mampu mengalahkan Pangeran Situbondo!”

Pangeran Jaka Taruna hanya terdiam. Ia benar-benar rnalu.

“Mengapa engkau hanya terdiam saja, hei Pangeran Jaka Taruna?” tanya Adipati Jayengrana dengan perasaan jengkel. “Mengapa engkau tidak menjawab pertanyaanku?”

Pangeran Jaka Taruna tetap terdiam.

Adipati Jayengrana kian jengkel mendapati Pangeran Jaka Taruna tetap terdiam. “Jaka Taruna!” seru Adipati Jayengrana, “Mengapa engkau hanya diam seperti patung?”

Keajaiban pun terjadi. Ucapan Adipati Jayengrana menjadi kenyataan. Tubuh Pangeran Jaka Taruna seketika itu berubah menjadi patung yang di kemudian hari dinamakan patung Joko Dolog.

 

JANGANLAH KITA MEMBIASAKAN DIRI UNTUK BERBOHONG KARENA JIKA KITA BERBOHONG KITA AKAN KEMBALI BERBOHONG UNTUK MENUTUPI KEBOHONGAN KITA SEBELUMNYA. BAGAIMANAPUN JUGA, KEBOHONGAN ITU AKAN TERBONGKAR KARENA SERAPAT-RAPATNYA BANGKAI ITU DITUTUPI. NISCAYA BAU BUSUKNYA AKAN TERCIUM PULA.

Cindelaras – Cerita Rakyat Jawa Timur
Cindelaras – Cerita Rakyat Jawa Timur

Raden Putra, Raja Jenggala, mempunyai dua orang istri. Keduanya adalah permaisuri dan selir. Selain cantik wajahnya, Sang Permaisuri juga baik hatinya. Sang Selir juga sangat cantik wajahnya. Namun, ia sangat buruk kelakuannya. Ia iri hati pada Sang Permaisuri. Ia merencanakan untuk menyingkirkan Sang Permaisuri dari istana kerajaan, agar perhatian dan kasih sayang Raden Putra semata-mata tertuju kepadanya.

Sang Selir bekerja sama dengan tabib istana untuk mewujudkan rencana jahatnya. Ia berpura- pura sakit. Ketika Raden Putra bertanya pada tabib istana; perihal penyebab sakitnya Sang Selir, tabib istana mengatakan jika sakit yang diderita Sang Selir disebabkan oleh racun. “Racun itu dibubuhkan pada minuman yang diberikan untuk Sang Selir,” kata tabib istana.

“Siapa yang tega memberikan minuman beracun untuk selirku itu?” tanya Raden Putra.

“Permaisuri Paduka sendiri,”jawab Sang Selir. “Tampaknya Permaisuri iri hati pada hamba hingga bermaksud membunuh hamba.”

Tak terkirakan kemarahan Raden Putra. Seketika itu ia mengusir Sang Permaisuri dari istana kerajaan dan membuangnya ke hutan belantara. Raden Putra bahkan memerintahkan patihnya untuk membunuh Sang Permaisuri ketika telah tiba di hutan.

Sang Permaisuri yang tengah mengandung itu terpaksa menerima perlakuan buruk yang ditimpakan kepadanya. Meski, sama sekali ia tidak melakukan keburukan seperti yang dituduhkan kepadanya itu.

Patih kerajaan Jenggala merasa jika Sang Permaisuri tidak bersalah. Menurutnya, Sang Permaisuri yang baik hati itu mustahil meracuni Sang Selir. Menurutnya pula, Sang Selir telah melakukan fitnah untuk menyingkirkan Sang Permaisuri dari istana. Oleh karena itu ia tidak melaksanakan perintah Raden Putra untuk membunuh Sang Permaisuri.

Patih kerajaan Jenggala lantas menangkap kelinci. Disembelihnya kelinci itu. Darahnya diusap- usapkannya pada keris pusakanya. Katanya kepada Sang Permaisuri, “Hamba akan menghadap Raden Putra dan menyatakan jika hamba telah membunuh Paduka. Darah kelinci pada keris pusaka hamba ini akan hamba jadikan bukti.”

“Terima kasih, Paman Patih,” ujar Sang Permaisuri.

Sepeninggal Patih kerajaan Jenggala, Sang Permaisuri hidup sendirian di dalam hutan belantara. Seiring berjalannya sang waktu, kian membesar kandungannya. Ia pun melahirkan sendirian di hutan belantara itu. Bayinya lelaki dan diberinya nama Cindelaras.

Cindelaras tumbuh menjadi anak lelaki yang kuat tubuhnya dan tampan wajahnya. Sejak kecil ia telah bergaul dengan aneka hewan yang terdapat di hutan tempat tinggalnya. Hewan-hewan itu senang berada di dekat Cindelaras dan mereka menuruti perintah Cindelaras.

Pada suatu hari, ketika Cindelaras tengah bermain, seekor burung rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam di dekat Cindelaras. Cindelaras lantas mengeramkan telur ayam tersebut pada ayam hutan betina yang menjadi sahabatnya. Tiga minggu kemudian telur itu menetas.

Cindelaras merawat anak ayam itu baik-baik hingga tumbuh menjadi ayam jago yang kuat lagi gagah. Tubuhnya terlihat kuat lagi kekar. Paruhnya kokoh dan runcing seperti paruh burung rajawali. Kedua kakinya kekar berotot dengan kuku-kukunya yang runcing lagi tajam. Suara kokoknya terdengar aneh dan mengherankan, “Kukuruyuuuk … Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra …”

Cindelaras keheranan mendengar kokok ayam jantannya. Ia lantas bertanya kepada ibunya perihal ayamnya. Cindelaras akhirnya mengetahui jika dirinya adalah anak Raden Putra, Raja Jenggala. Ia juga mengetahui penyebab ibu dan dirinya terusir dari istana kerajaan Jenggala. Cindelaras ingin membuka keburukan perilaku ibu tirinya.

Dengan izin dan restu ibunya, Cindelaras berangkat menuju istana kerajaan Jenggala. Ayam jago kesayangannya dibawanya pula. Dalam perjalanannya, Cindelaras mendapati beberapa orang tengah mengadu jago dengan taruhan. Ketika mereka melihat Cindelaras membawa ayam jago, mereka pun menantang untuk mengadu.

“Aku tidak mempunyai taruhan,” kata Cindelaras.

“Taruhanmu adalah dirimu,” jawab salah se orang penyabung. “Jika jagomu kalah, engkau harus bekerja dan mengabdi kepadaku selama beberapa tahun. Namun, jika ayam jagomu menang, aku akan memberikan banyak harta untukmu.”

Cindelaras semula tampak ragu-ragu. Namun, ayam jagonya terus meronta-ronta seperti memintanya untuk menerima tantangan itu. Cindelaras akhirnya setuju.

Kedua ayam jago lantas diadu. Hanya dalam beberapa gebrakan saja ayam jago Cindelaras telah dapat mengalahkan musuhnya. Ayam-ayam jago lainnya yang diadu melawan ayam jago Cindelaras juga tidak berkutik. Rata-rata mereka hanya bertahan dalam beberapa gebrakan saja untuk kemudian berkaok-kaok melarikan diri.

Cindelaras sangat banyak mendapatkan uang dan juga perhiasan karena kemenangan ayam jagonya itu. Para penyabung ayam benar-benar terperangah mendapati keperkasaan ayam jago Cindelaras. Berita perihal kehebatan ayam jago Cindelaras segera menyebar. Banyak penyabung yang menemui Cindelaras untuk mengadu jago. Ayam jago Cindelaras benar-benar tangguh, semua lawan-lawannya dikalahkan dalam beberapa gebrakan pertarungan saja.

“Tampaknya hanya ayam jago milik Gusti Prabu Putra saja yang mampu menandingi ayam jago anak ini,” kata salah seorang penyabung. “Sama halnya dengan ayam jago milik anak ini, ayam jago milik Gusti Prabu Putra juga tidak pernah terkalahkan. Pertarungan kedua ayam jago itu pasti akan seru jika terjadi.”

Raden Putra akhirnya mendengar kehebatan ayam jago Cindelaras. Ingin benar ia mengadu ayam dengan Cindelaras. Maka, Raden Putra lantas memerintahkan para prajuritnya untuk mendatangkan Cindelaras ke istana kerajaan.

Cindelaras datang dan langsung menghadap Raden Putra. Meski ia mengetahui sosok yang di hadapannya itu adalah ayah kandungnya, namun Cindelaras bersikap layaknya rakyat yang datang menghadap rajanya. Ia duduk bersila setelah menghaturkan sembah. Ayam jagonya juga duduk bersila di sampingnya. Sangat mengherankan, ayam jago itu tidak berkokok selama Cindelaras menghadap Raden Putra.

“Namamu Cindelaras?” tanya Raden Putra.

“Benar, Gusti Prabu.”

“Kudengar engkau mempunyai ayamjago yang hebat. Apakah engkau berani mengadu ayam jagomu itu dengan ayam jago milikku?”

“Hamba siap, Gusti Prabu,” jawab Cindelaras.

“Apa taruhanmu?”

Cindelaras sejenak berpikir sebelum akhirnya memberikan jawabannya, “Hamba hanya mempunyai selembar nyawa. Jika ayam jago hamba kalah, maka hamba serahkan nyawa hamba kepada Gusti Prabu. Namun jika ayam jago Gusti Prabu kalah, hamba meminta setengah wilayah kerajaan Jenggala.”

“Baik,” Raden Putra menyatakan kesediaannya. “Bersiap-siaplah untuk menyerahkan nyawamu. Lehermu akan dipenggal algojo kerajaan setelah ayam jagomu itu kalah!”

Alun-alun istana kerajaan segera disiapkan untuk menjadi arena pertarungan dua jago milik Cindelaras dan Raden Putra. Berduyun-duyun orang datang ke alun-alun untuk menyaksikan peristiwa yang sangat langka itu. Beberapa petaruh juga turut datang dan masing-masing mempertaruhkan uang yang dimilikinya untuk mendukung jago Cindelaras atau jago milik Raden Putra.

Ketika telah dihadapkan, jago milik Cindelaras terlihat kalah besar dan kalah kekar tubuhnya dibandingkan jago milik Raden Putra. Namun jago Cindelaras tidak memperlihatkan ketakutannya, bahkan seperti tak sabar ingin segera bertarung. Maka, dengan iringan sorak sorai penonton, kedua ayam jago itu pun memulai pertarungannya.

Semangat bertarung ayam jago Cindelaras sangat besar. Tendangan kaki dan patukan paruhnya begitu kuat bertenaga hingga ayam jago milik Raden Putra terlihat kewalahan. Ayam jago Cindelaras juga cerdik lagi piawai menghindari serangan yang dilancarkan ayam jago milik Raden Putra. Pertarungan itu terus berlangsung dan ayam jago milik Raden Putra mulai terlihat kepayahan. Beberapa saat kemudian ayam jago milik Raden Putra tak lagi sanggup melayani perlawanan ayam jago Cindelaras. Ia berkaok-kaok melarikan diri dari arena pertarungan tanda menyerah kalah. Sebagian penonton yang menjagokan ayam jago Cindelaras bersorak-sorak gembira setelah mengetahui ayam jago Cindelaras memenangkan pertarungan.

Raden Putra sangat terkejut mendapati ayam jagonya kalah. Janji pertaruhan yang diucapkannya pun dipenuhinya. Setengah wilayah kerajaan Jenggala diberikan kepada Cindelaras.

Ayam jago Cindelaras mendadak berkokok dengan nyaring, “Kukuruyuuuk … Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahandanya Raden Putra …”

Raden Putra kembali terkejut mendengar kokok ayam jago milik Cindelaras itu. Diperha-tikannya baik-baik Cindelaras yang tetap berdiri dengan sikap hormatnya. “Cindelaras, benarkah apa yang disebutkan ayam jagomu itu?”

“Benar, Gusti Prabu. Hamba adalah putra Gusti Prabu. Ibu hamba adalah Permaisuri Paduka yang tinggal di hutan.”

Raden Putra terlihat bingung. Menurutnya, permaisurinya itu telah meninggal dunia di tangan patihnya yang mengemban titahnya. Ketika itu ia juga telah ditunjukkan darah yang terdapat pada keris patihnya yang disebutkan patihnya sebagai darah permaisurinya.

Patih Jenggala segera menghadap Raden Putra dan menceritakan kejadian yang sesungguhnya.

Ia memang tidak jadi membunuh sang permaisuri sesuai titah Raden Putra karena ia sangat yakin dan mengetahui jika sang permaisuri sama sekali tidak bersalah. Menurutnya, Sang Permaisuri menjadi korban fitnah.

“Fitnah? Fitnah siapa?” tanya Raden Putra.

“Fitnah dari selir Paduka yang bekerja sama dengan tabib istana, Gusti Prabu,” jawab Patih Jenggala.

Sang Selir dan tabib istana segera dihadapkan pada Raden Putra. Keduanya akhirnya mengakui perbuatan jahat mereka. Tak ayal lagi, Raja Jenggala itu lantas menjatuhkan hukuman yang berat bagi keduanya. Tabib istana dijatuhi hukuman mati. Sementara Sang Selir dijatuhi hukuman buang ke hutan.

Terbukalah kebenaran itu. Raden Putra lalu memeluk tubuh Cindelaras seraya meminta maaf. Raja Jenggala itu juga memerintahkan para prajurit Jenggala untuk segera menjemput permaisurinya.

Sang Permaisuri kembali dengan segala kehormatannya ke istana kerajaan Jenggala. Ia hidup berbahagia bersama suami dan juga Cindelaras.

 

KEBENARAN AKAN MENGALAHKAN KEBATILAN ATAU KEIAHATAN. KECURANGAN AKAN TERBUKA DAN AKAN MENGALAMI KEKALAHAN DI KEMUDIAN HARI.

Damar Wulan dan Menakjingga – Cerita Rakyat Jawa Timur
Damar Wulan dan Menakjingga – Cerita Rakyat Jawa Timur

Menakjingga adalah seorang adipati di daerah Blambangan. Terkenal sakti mandraguna dirinya. Ia mempunyai pusaka yang luar biasa ampuh lagi bertuah. Gada Wesi Kuning namanya. Merasa dirinya sakti dan juga mempunyai senjata yang luar biasa ampuh, Menakjingga menjadi sosok yang angkuh, kejam, lagi sewenang-wenang. Apa pun juga yang dikehendakinya harus terwujud dalam kenyataan. Ia akan mengamuk sejadi-jadinya jika keinginannya tidak dituruti.

Suatu hari Adipati Menakjingga mengirimkan utusan ke Kerajaan Majapahit. Adipati Menakjingga hendak melamar penguasa Majapahit, Ratu Ayu Kencana Wungu, yang belum bersuami itu. Ratu Ayu Kencana Wungu menolak pinangan Adipati Menakjingga itu. Sang ratu tak ingin diperistri adipati yang congkak, kejam, lagi telah banyak mempunyai istri itu.

Tak terkirakan kemarahan Adipati Menakjingga ketika utusannya kembali ke Kadipaten Blambangan dan menyatakan lamaran sang adipati ditolak Ratu Majapahit. Tanpa berpikir panjang, Adipati Menakjingga segera memerintahkan segenap prajurit Blambangan untuk bersiap-siap guna menyerang Majapahit. Adipati Menakjingga langsung memimpin penyerangan tersebut.

Perang dahsyat segera meletus setelah kekuatan Majapahit dikerahkan untuk menghadapi kekuatan Blambangan.

Adipati Menakjingga mengamuk dalam peperangan dahsyat itu. Dengan senjata Gada Wesi Kuning saktinya, ia menghadapi ratusan prajurit Majapahit yang ditugaskan untuk meringkusnya. Benar-benar menggetarkan kesaktian Adipati Menakjingga, karena dengan sekali tebasan Gada Wesi Kuningnya, belasan hingga puluhan prajurit Majapahit tewas karenanya.

Para prajurit Majapahit akhirnya mundur karena tidak sanggup menghadapi amukan Adipati Menakjingga dan juga keperkasaan para prajurit Blambangan.

Ratu Ayu Kencana Wungu sangat bersedih mendapati kekalahan para prajuritnya. Ia pun lantas bersemedi, memohon petunjuk dari Dewa untuk mengatasi masalah besar yang tengah dihadapinya tersebut. Petunjuk itu pun didapatkan sang ratu. “Menakjingga akan binasa jika berhadapan dengan pemuda bernama Damar Wulan!”

Ratu Ayu Kencana Wungu lantas memerintahkan Patih Logender untuk mencari pemuda bernama Damar Wulan.

Sosok pemuda yang dimaksud akhirnya diketemukan. Ia tinggal jauh di luar kota raja Majapahit. Ia segera diiringkan untuk menghadap Ratu Ayu Kencana Wungu di istana kerajaan Majapahit.

“Damar Wulan,” kata Ratu Ayu Kencana Wungu setelah Damar Wulan duduk bersimpuh di hadapannya, “kuperintahkan engkau untuk melenyapkan Adipati Menakjingga yang telah merusuh dan menyebabkan kerusakan di Majapahit. Bawa kepala Menakjingga di hadapanku sebagai wujud rasa baktimu pada Majapahit dan juga diriku!”

“Hamba, Gusti Prabu.”

Setelah menghaturkan sembahnya, Damar Wulan segera menuju Blambangan seorang diri. Seketika tiba di alun-alun Kadipaten Blambangan, Damar Wulan lalu menantang bertarung Adipati Menakjingga. Tak terkirakan kemarahan Adipati Menakjingga. Segera dilayaninya tantangan Damar Wulan. Setelah melalui pertarungan yang sengit, Adipati Menakjingga mampu mengalahkan Damar Wulan. Damar Wulan pingsan terkena hantaman Gada Wesi Kuning. Para prajurit Blambangan lantas menangkap dan memenjarakan Damar Wulan di penjara Kadipaten Blambangan.

Pertolongan akhirnya tiba bagi Damar Wulan. Tanpa diduganya, dua setir (Perempuan yang diambil sebagai istri tidak resmi) Adipati Menakjingga memberikan bantuannya. Dewi Wahita dan Dewi Puyengan nama kedua selir tersebut. Keduanya sesungguhnya sangat membenci Adipati Menakjingga. Mereka sangat berharap Damar Wulan mampu membunuh Adipati Menakjingga agar diri mereka terbebas dari penguasa Kadipaten Blambangan yang kejam lagi sewenang-wenang itu.

Dewi Wahita dan Dewi Puyengan membuka rahasia kesaktian Adipati Menakjingga. “Rahasia kesaktian Adipati Menakjingga berada pada Gada Wesi Kuningnya,” kata mereka. “Tanpa senjata sakti andalannya itu, niscaya engkau akan dapat mengalahkannya.”

Damar Wulan meminta tolong kepada Dewi Wahita dan Dewi Puyengan untuk mengambil senjata andalan Adipati Menakjingga tersebut. Dengan diam-diam, Gada Wesi Kuning itu akhirnya berhasil diambil dua selir Adipati Menakjingga tersebut. Gada Wesi Kuning lantas diserahkan kepada Damar Wulan. Dengan bersenjatakan Gada Wesi Kuning, Damar Wulan pun kembali menantang Adipati Menakjingga.

Pertarungan antara Adipati Menakjingga dan Damar Wulan kembali terjadi. Sangat seru pertarungan mereka. Akhirnya Adipati Blambangan yang terkenal sombong, kejam, lagi sewenang-wenang itu menemui kematiannya setelah tubuhnya terkena hantaman Gada Wesi Kuning. Kepalanya dipenggal. Damar Wulan lantas membawa potongan kepala Adipati Menakjingga kembali ke Majapahit.

Sesungguhnya perjalanan Damar Wulan ke Blambangan itu diikuti oleh dua anak Patih Logender yang bernama Layang Seta dan Layang Kumitir. Keduanya mengetahui keberhasilan Damar Wulan menjalankan titah Ratu Ayu Kencana Wungu. Keduanya lantas merencanakan siasat licik untuk merebut potongan kepala Adipati Menakjingga dan mengakui sebagai pembunuh Adipati Menakjingga di hadapan Ratu Ayu Kencana Wungu. Dengan demikian mereka berharap akan mendapatkan hadiah yang sangat besar dari penguasa takhta Majapahit itu.

Dalam perjalanan pulang kembali ke Majapahit, Damar Wulan dicegat Layang Seta dan Layang Kumitir. Terjadilah pertarungan di antara mereka. Damar Wulan dikeroyok dua saudara kandung anak Patih Logender tersebut. Pada suatu kesempatan, mereka berhasil merebut kepala Adipati Menakjingga dan bergegas meninggalkan Damar Wulan.

Setibanya di istana Majapahit, Layang Seta dan Layang Kumitir segera menghadap Ratu Ayu Kencana Wungu. Mereka menyatakan bahwa mereka telah berhasil mengalahkan Adipati Menakjingga. Mereka lantas menyerahkan potongan kepala Adipati Menakjingga kepada Ratu Ayu Kencana Wungu.

Sebelum Ratu Ayu Kencana Wungu berujar, datanglah Damar Wulan. Damar Wulan menyatakan keberhasilannya mengalahkan Adipati Menakjingga dan memenggal kepalanya. “Ampun Gusti Prabu, di tengah jalan hamba dihadang dua orang dan potongan kepala Adipati Menakjingga itu berhasil mereka rebut.”

Ucapan Damar Wulan segera disanggah Layang Seta dan Layang Kumitir yang menyatakan jika mereka itulah yang berhasil mengalahkan Adipati Menakjingga. Damar Wulan akhirnya mengetahui jika dua orang itulah yang menghadangnya dan merebut potongan kepala Adipati Menakjingga.

Perselisihan antara Damar Wulan dan dua anak Patih Logender itu pun kian memanas. Ratu Ayu Kencana Wungu menengahi perselisihan itu. Katanya, “Untuk membuktikan pengakuan siapakah di antara kalian yang benar, maka selesaikan secara jantan. Bertarunglah kalian. Siapa yang menang di antara kalian, maka dialah yang benar.”

Pertarungan antara Damar Wulan melawan Layang Seta dan Layang Kumitir kembali terjadi. Kebenaran itu akhirnya terbuka setelah Damar Wulan berhasil mengalahkan kakak beradik anak Patih Logender tersebut. Layang Seta dan Layang Kumitir akhirnya mengaku bahwa yang mengalahkan Adipati Menakjingga sesungguhnya Damar Wulan. Meski mereka telah mengakui, namun tak lepas pula mereka dari hukuman. Ratu Ayu Kencana Wungu memerintahkan prajurit untuk memenjarakan Layang Seta dan Layang Kumitir karena telah berani berdusta kepadanya.

Ratu Ayu Kencana Wungu kemudian memberikan hadiah yang luar biasa bagi Damar Wulan. Damar Wulan diperkenankan Ratu Ayu Kencana Wungu untuk menikahinya. Pesta pernikahan antara Ratu Ayu Kencana Wungu dan Damar Wulan pun dilangsungkan secara besar-besaran. Segenap rakyat Majapahit bergembira karena ratu mereka akhirnya bersuami. Suami sang ratu adalah sosok yang terbukti besar rasa baktinya kepada Majapahit karena berhasil mengalahkan Adipati Menakjingga yang telah memporak-porandakan kedamaian dan ketenteraman Majapahit.

 

KEBENARAN PADA AKHIRNYA AKAN TERBUKA MESKI BERUSAHA UNTUK DITUTUP-TUTUPI. BEGITU PUIA DENGAN KEJAHATAN AKAN TERSINGKAP PULA MESKI BERUSAHA UNTUK DITUTUPI SERAPAT MUNGKIN. KEBENARAN AKAN MENDAPATKAN KEBAIKAN DI KEMUDIAN HARI.

Asal Usul Nama Surabaya –  Cerita Rakyat Jawa Timur
Asal Usul Nama Surabaya –  Cerita Rakyat Jawa Timur

Konon pada zaman dahulu hiduplah seekor buaya besar bernama Baya. Ia mempunyai musuh bebuyutan berupa seekor ikan hiu besar bernama Sura. Hampir setiap hari kedua hewan itu saling berkelahi. Keduanya sama-sama kuat, tangguh, dan tangkas hingga tidak ada yang menang maupun yang kalah. Jika Sura dan Baya berkelahi, perairan di sekitar mereka menjadi bergelombang besar lagi keruh. Hewan-hewan air lainnya merasa terganggu karenanya. Mereka telah berusaha mendamaikan Sura dan Baya, namun buaya besar dan juga ikan hiu besar itu tetap juga tidak bisa didamaikan. Keduanya terus bermusuhan dan berkelahi.

Terus-menerus bermusuhan dan berkelahi pada akhirnya membuat keduanya lelah dan bosan. Mereka pun bersepakat untuk menghentikan permusuhan mereka untuk sementara waktu.

Sura dan Baya bertemu untuk menggagas penghentian permusuhan mereka. Pada pertemuan itu Sura memberikan usulnya, “Untuk menghindari perselisihan di antara kita, sebaiknya kita membagi wilayah kekuasaan.”

“Bagaimana maksudmu?”

“Aku berkuasa di air dan engkau di darat. Semua mangsa yang berada di air menjadi bagianku dan semua yang berada di darat menjadi bagian untuk engkau mangsa. Adapun batas antara wilayah kekuasaanku dan kekuasaanmu adalah daerah di mana air laut mencapainya ketika waktu pasang.”

Baya merenung sejenak baru kemudian mengangguk-anggukkan kepala. “Baiklah. Aku setuju dengan saranmu itu.”

Persetujuan antara Sura dan Baya tercapai. Keduanya akhirnya tidak lagi berkelahi setelah keduanya saling membagi wilayah kekuasaan. Semua yang berada di air menjadi mangsa Sura dan semua yang berada di darat menjadi mangsa Baya.

Perdamaian antara Sura dan Baya tampaknya tidak berlangsung lama. Sura mulai melanggarnya. Ia tidak hanya mencari mangsa di laut seperti biasanya, melainkan juga mencari di sungai. Ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui Baya. Namun, betapa pun rapi dan tersembunyinya perilaku curang Sura itu, Baya pada akhirnya mengetahuinya.

Baya amat marah ketika mengetahui Sura mencari mangsa ke sungai. Segera didatanginya Sura dan ditegurnya keras-keras, “Hei Sura! Mengapa engkau melanggar perjanjian perdamaian di antara kita? Berani-beraninya engkau melanggar wilayah kekuasaanku!”

“Siapa yang melanggar wilayah kekuasaanmu?” sergah Sura dengan suara yang tak kalah lantang dibandingkan Baya. “Perjanjian perdamaian di antara kita menyebutkan, aku menguasai seluruh perairan dan engkau menguasai seluruh wilayah daratan. Lantas, apakah aku salah jika mencari mangsa di sungai ini? Bukankah sungai ini juga merupakan wilayah air yang berarti juga menjadi wilayah kekuasaanku?”

Baya merasa, Sura hanya mencari-cari alasan. Sergahnya kemudian, “Engkau benar-benar licik, hei Sura! Engkau hanya ingin mencari mangsa di daratan dan berpura-pura berdamai denganku. Kini, tidak ada lagi perdamaian di antara kita! Siapa yang terkuat di antara kita, maka dialah sang penguasa sesungguhnya yang bebas mencari mangsa di mana pun juga yang dikehendakinya!”

Tantangan Baya segera disambut Sura. “Kita buktikan siapa yang terkuat di antara kita!” serunya.

Pertarungan Sura dan Baya kembali terjadi. Berlangsung sangat seru. Masing-masing menggigit bagian tubuh lawannya. Dengan gigi-gigi runcingnya, Sura menggigit pangkal ekor Baya. Baya yang bergigi kuat itu menggigit ekor Sura hingga hampir putus. Sura yang sangat kesakitan akhirnya kembali ke laut. Baya merasa menang. Terkekeh-kekeh ia tertawa meski ia juga merasa kesakitan. Akibat gigitan Sura, ekornya senantiasa membelok ke arah kiri.

Warga yang mengetahui begitu serunya pertarungan antara Sura dan Baya itu menjadi sangat terkesan karenanya. Mereka pun menamakan wilayah hunian mereka itu dengan gabungan nama Sura dan Baya, yakni Surabaya. Hingga kini Surabaya tetap menjadi nama wilayah yang termasuk salah satu kota terbesar di Indonesia itu.

 

DAMAI ITU INDAH, BERSELISIH ATAU BERKELAHI HANYA AKAN MEMBUAT RUGI. PIHAK YANG MERASA MENANG PUN SESUNGGUHNYA MENGALAMI KERUGIAN DAN MENJADI KORBAN. OLEH KARENA ITU HENDAKLAH MASALAH DISELESAIKAN DENGAN CARA YANG BAIK DAN MENGHINDARI PERSELISIHAN ATAU PERKELAHIAN.