Kategori: Kalimantan Barat

Bujang Beji – Cerita Rakyat Kalimantan Barat
Bujang Beji – Cerita Rakyat Kalimantan Barat

Bujang Beji adalah seorang lelaki yang ternama sakti. Ia pemimpin pada masyarakatnya. Sikap dan perilakunya kurang terpuji. Karena menganggap dirinya sakti, ia menjadi sombong. Ia serakah, kejam, dan sewenang-wenang tindakannya. Hingga selama itu, tidak ada yang berani menentang atau melawannya. Takut pada kesaktian dan kekejamannya. Bujang Beji semakin buruk kelakuannya. Tindakan tidak terpujinya semakin menjadi-jadi.

Selain Bujang Beji, terdapat seorang pemimpin lainnya. Tumenggung Marubai namanya. Ia juga sosok yang sakti. Namun, ia tidak sombong, melainkan rendah hati. Tumenggung Marubai memimpin masyarakatnya dengan baik.

Masyarakat pimpinan Bujang Beji dan Tumenggung Marubai sama-sama mencari ikan. Agar tidak terjadi perselisihan tempat dalam mencari ikan, Bujang Beji dan Tumenggung Marubai bersepakat. Bujang Beji dan masyarakat pimpinannya akan mencari ikan di Sungai Simpang Kapuas. Tumenggung Marubai beserta masyarakat pimpinannya mencari ikan di Sungai Simpang Melawi. Masing-masing dari mereka tidak diperbolehkan mencari ikan di sungai yang bukan tempat mereka mencari ikan.

Tumenggung Marubai mengajari masyarakatnya untuk menangkap ikan dengan cara yang baik. Ia menggunakan bubu penangkap ikan. Hanya ikan-ikan yang besar saja yang ditangkapnya. Ikan-ikan kecil yang turut terperangkap dalam bubu dilepaskannya kembali.

“Tumenggung Marubai, mengapa ikan-ikan kecil itu dilepaskan kembali?” tanya salah seorang warga pimpinan Tumenggung Marubai.

Tumenggung Marubai menjelaskan, ikan-ikan kecil itu sebaiknya dibiarkan hidup terlebih dahulu. Biarkan mereka berkembang biak. “Kelak setelah ikan-ikan itu telah besar dan beranak pinak, barulah kita menangkapnya. Biarkan kembali ikan-ikan kecil yang turut tertangkap bersamanya nanti. Dengan cara itu ikan-ikan di Sungai Simpang Melawi ini tidak akan habis, meski kita terus menangkapnya,” jelas Tumenggung Marubai.

Segenap orang yang dipimpin Tumenggung Marubai menjalankan perintah pimpinannya itu. Benar, ikan di Sungai Simpang Melawi senantiasa banyakjumlahnya. Bahkan, semakin banyak, meski mereka terus menangkapnya.

Bagaimana dengan Bujang Beji?

Bujang Beji tidak ingin bersusah payah dalam menangkap ikan. Ia mengajari orang-orang yang dipimpinnya untuk menggunakan tuba. Ia mengambil akar dan batang tanaman hutan yang memabukkan untuk dijadikan tuba. Tuba itu lalu dimasukkan ke dalam sungai. Dengan cara itu, ikan-ikan di Sungai Simpang Kapuas mabuk. Tubuh mereka mengambang. Bujang Beji dan orang-orang yang dipimpinnya dengan mudah menangkapi ikan- ikan yang mabuk dan mengambang di permukaan air sungai itu.

“Nah, bukankah mudah untuk mendapatkan ikan?” kata Bujang Beji. “Dalam waktu singkat, kita telah mendapatkannya. Sangat banyak lagi jumlahnya!”

Tidak hanya ikan-ikan yang besar, melainkan juga ikan-ikan kecil turut mabuk dan akhirnya tertangkap. Bahkan, tidak sedikit pula ikan yang mati terkena tuba.

Dengan menggunakan tuba untuk menangkap ikan, jumlah ikan di Sungai Simpang Kapuas terus berkurang banyak. Bahkan, tidak lama kemudian sangat jarang ditemukan ikan di Sungai Simpang Kapuas!

Bujang Beji kebingungan saat warga pimpinannya mengeluh tidak lagi bisa mudah mendapatkan ikan.

“Ikan di Sungai Simpang Kapuas ini hampir habis. Sulit sekali ditangkap,” keluh salah seorang warga. “Berbeda dengan Sungai Simpang Melawi. Mereka sangat mudah menangkap ikan di sana. Jumlah ikan di sana tidak habis-habis.”

Bujang Beji ingin membuktikan ucapan salah seorang warga pimpinannya itu. Diam-diam ia mendatangi Sungai Simpang Melawi. Ia melihat Tumenggung Marubai dan warga pimpinannya sedang menangkap ikan dengan bubu-bubu. Ia terkejut, mereka sangat mudah mendapatkan ikan. Sangat banyak pula jumlahnya. Melihat itu, Bujang Beji menjadi iri. Sifat jahatnya mengemuka.

“Aku tidak bisa membiarkan Tumenggung Marubai dan warga pimpinannya mudah mendapatkan ikan,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Aku harus mencari cara agar mereka juga kesulitan menangkap ikan sepertiku.”

Bujang Beji mencari cara. Ia merenung memikirkan rencana jahatnya. Tak berapa lama kemudian ia menemukan cara.

“Aku akan menutup hulu Sungai Simpang Melawi. Ikan-ikan di Sungai Simpang Melawi akan mati kekurangan air,” gumam Bujang Beji. “Sementara di bagian hulu sungai ikan-ikan akan berkumpul. Mudah bagiku mendapatkannya.”

Bujang Beji bersiap menjalankan rencana jahatnya. Untuk menutup hulu Sungai Simpang Melawi ia akan menggunakan puncak Bukit Batu yang terdapat di daerah Nanga Silat. Dengan mengerahkan ajian saktinya, ia berhasil memotong puncak Bukit Batu. Bujang Beji lalu mencari tujuh lembar daun ilalang. Ia meletakkan potongan puncak Bukit Batu di atas tujuh lembar dan ilalang, kemudian membawanya menuju hulu Sungai Simpang Melawi.

Ketika Bujang Beji membawa potongan puncak Bukit Batu, ia mendengar suara tawa gadis-gadis. Suara itu berasal dari sebelah atas. Bujang Beji mendongak. Ia melihat Dewi-Dewi dari Negeri Kahyangan. Mereka itulah yang mentertawakannya.

“Apa yang kalian tertawakan?” seru Bujang Beji.

Para Dewi tidak menjawab pertanyaan Bujang Beji. Mereka tetap saja tertawa melihat kelakuan Bujang Beji.

Bujang Beji jengkel. Ia terus menatap ke arah langit sambil terus berjalan. Ketika ia tiba di persimpangan antara Sungai Simpang Kapuas dan Sungai Simpang Melawi ia menginjak duri beracun. Ia mengaduh kesaktian dan kemudian melompat. Karena gerakan tiba-tiba yang dilakukannya, tujuh lembar daun ilalang yang dipegangnya menjadi putus. Akibatnya, potongan puncak Bukit Batu yang dibawanya terlepas. Potongan puncak Bukti Batu itu jatuh menimpa aliran sungai yang disebut jetak.

Tak terkirakan Bujang Beji pada para Dewi Kahyangan. Gara-gara tawa mereka membuat rencananya tidak terwujud. Sambil tetap mendongak, ia mengeluarkan ancamannya, “Ingat!” serunya. ‘Aku tidak akan membiarkan perlakuan kalian ini padaku! Aku akan membalas tindakan kalian!”

Bujang Beji mendekati salah satu bukit di dekatnya. Dihentakkannya kakinya yang tertusuk duri beracun pada bukit itu. Bujang Beji bertekad terus mewujudkan rencananya. Ia melihat potongan puncak Bukit Batu yang terhujam di jetak. Ia bermaksud mencongkelnya. Bergegas ia mengangkat sebuah bukit memanjang dan digunakannya untuk mencongkel. Sayang, potongan puncak bukit itu telah terhujam kuat- kuat. Meski Bujang Beji telah mengerahkan segenap kekuatan dan kesaktiannya, potongan puncak bukit itu tetap berada di tempatnya. Usaha Bujang Beji tidak membuahkan hasil. Bujang Beji tidak serta merta menyerah. Ia kembali mencongkel potongan bukit yang terhujam dengan menggunakan bukit memanjang. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya. Akibatnya, bukit memanjang yang digunakan Bujang Beji patah.

Bujang Beji sangat marah. Menurutnya, semua itu karena kelakuan para Dewi hingga rencananya gagal. Ia harus membalas dendam pada Dewi-Dewi Kahyangan itu. Ia akan menuju Kahyangan dan menumpahkan kemarahannya. Untuk sampai ke Kahyangan, ia akan memanjat pohon raksasa yang dinamakan Kumpang mambu. Pohon itu sangat tinggi menjulang, pucuknya tak terlihat dari tanah. Bujang Beji yakin, ia akan dapat tiba di Kahyangan setelah melewati pucuk pohon Kumpang mambu.

Sebelum menuju Kahyangan, Bujang Beji berniat mengadakan ritual adat. Ia akan memberi sesaji kepada para roh halus. Ia berharap para roh halus tidak mengganggu atau menggagalkan rencananya. Ia juga memberi sesaji kepada seluruh hewan di sekitarnya. Seperti halnya kepada para roh halus, ia berharap hewan-hewan juga tidak mengganggu usahanya.

Berbagai hewan dikumpulkan Bujang Beji dan diberinya sesaji. Meski telah berusaha memberikan sesaji kepada semua hewan, terdapat dua hewan yang terluput. Keduanya adalah kelompok hewan rayap dan beruang.

Rayap-rayap dan para beruang bertemu di suatu tempat.

“Bujang Beji telah melupakan kita,” kata rayap. I “Kita sama sekali tidak dianggapnya.”

“Benar,” sahut beruang. “Bujang Beji harus I merasakan akibat dari tindakan buruknya kepada I kita.”

“Lantas, apa yang akan kita lakukan?”

“Bujang Beji akan menaiki pohon Kumpang I mambu untuk menuju Kahyangan,” kata beruang. I “Kita harus menggagalkannya! Kita gerogoti batang pohon Kumpang mambu itu hingga putus.”

“Ya!” sahut para rayap. “Dengan cara itu Bujang I Beji tidak akan pernah sampai di Kahyangan.”

Para rayap dan para beruang segera bersiaga. Mereka bersembunyi di sekitar pohon Kumpang mambu. Ketika mereka melihat Bujang Beji telah cukup lama memanjat, bergegas mereka keluar dari persembunyian. Para rayap dan beruang segera menggerogoti batang pohon Kumpang mambu. Gigi-gigi tajam dua kelompok hewan itu ganas menggerogoti bagian bawah batang pohon. Dua kelompok hewan itu terus bekerja keras hingga batang pohon Kumpang mambu akhirnya putus.

Ketika batang pohon Kumpang mambu terputus, Bujang Beji hampir mencapai Kahyangan. Ia terjatuh bersamaan dengan tumbangnya pohon Kumpang mambu. Seketika jatuh terhempas ke atas tanah, Bujang Beji pun akhirnya tewas.

 

SIFAT IRI DAN DENGKI HANYA AKAN MENIMBULKAN KERUGIAN DAN BENCANA BAGI DIRI SENDIRI DI KEMUDIAN HARI.

Semangka Emas – Cerita Rakyat Kalimantan Barat
Semangka Emas – Cerita Rakyat Kalimantan Barat

Di daerah Sambas pada zaman dahulu hiduplah dua saudara. Muzakir dan Dermawan nama keduanya. Ayah keduanya adalah seorang saudagar kaya raya. Ketika ayah mereka meninggal dunia, ia mewariskan harta warisan yang sangat banyak jumlahnya. Harta warisan tersebut lantas dibagi dua. Setengah bagian untuk Muzakir dan setengah bagian sisanya untuk Dermawan. Keduanya lantas hidup terpisah, masing-masing menempati sebuah rumah yang besar lagi mewah.

Muzakir sangat kikir. Semua harta kekayaannya dimasukkan dalam peti yang terkunci rapat. Ia tidak mau memberikan sedikit harta kekayaannya itu kepada siapa pun juga yang membutuhkan. Sebaliknya, Dermawan sangat pemurah lagi baik hati. Jika ada orang yang datang meminta bantuan, Dermawan tidak pernah menolaknya. Orang- orang miskin akhirnya berduyun-duyun datang ke rumah Dermawan untuk meminta bantuan. Dermawan senantiasa mengulurkan tangannya untuk memberi dan membantu. Lama-kelamaan harta kekayaan Dermawan habis. Rumah besar lagi mewah yang dihuninya pun dijualnya untuk kemudian dibelikannya rumah yang kecil dan sederhana. Uang sisa penjualan rumahnya yang besar itu juga diberikan kepada orang-orang miskin yang datang meminta kepadanya.

Setelah harta kekayaannya habis, Dermawan pun bekerja dengan upah tidak seberapa. Semua itu diterima Dermawan dengan ikhlas dan senang hati. Sama sekali ia tidak menyesali apa yang telah dilakukannya.

Ketika mendapati adiknya jatuh miskin, Muzakir mendatangi Dermawan. Ia tidak berusaha memberikan bantuan, melainkan mencela dan mentertawakannya, “Betapa bodohnya engkau ini! Itulah yang akan engkau dapatkan jika engkau berlagak baik dengan memberikan bantuan kepada orang-orang miskin yang pemalas itu! Mereka maunya hanya meminta, tidak ingin berusaha atau bekerja. Setelah engkau jatuh miskin seperti ini, apakah mereka kembali berdatangan untuk membantumu?”

Dermawan tidak terlalu mempedulikan ucapan kakaknya.

Pada suatu hari Dermawan duduk-duduk di halaman rumahnya. Mendadak seekor burung pipit jatuh di dekat Dermawan duduk. Dermawan memperhatikan, sayap burung pipit itu patah. Ia pun mengobati dan merawat burung pipit itu. Disediakannya beras untuk makanan Si burung pipit. Tak berapa lama burung pipit itu telah sembuh. Ia dapat terbang kembali. Namun demikian ia tidak berusaha terbang menjauh dari Dermawan. Ia telah jinak terhadap orang yang gemar menolong itu.

Burung pipit itu pada suatu hari datang mendekati Dermawan seraya membawa sebutir benih tanaman. Diletakkannya benih tanaman itu di dekat Dermawan. Ia lalu bercicit-cicit.

Dermawan menyadari, burung pipit itu memberikan benih tanaman itu kepadanya. Ia mengucapkan terima kasih dan kemudian menanam benih tanaman itu di belakang rumahnya.

Beberapa hari kemudian benih tanaman itu tumbuh menjadi tanaman semangka. Dermawan merawat tanaman itu baik-baik. Tanaman semangka itu pun tumbuh subur. Bunganya banyak, di sana- sini. Bunga-bunga itu nantinya akan menjadi bakal buah sebelum akhirnya menjadi buah.

Dermawan agak terkejut ketika kemudian mendapati hanya satu buah yang terdapat pada tanaman semangkanya. Sangat besar ukuran buah itu jauh lebih besar dibandingkan ukuran buah semangka biasanya. Kian bertambah hari kian bertambah besar pula buah semangka itu. Ketika buah semangka itu masak, Dermawan memetiknya. Ia terengah-engah keberatan ketika mengangkat buah semangka itu ke dalam rumahnya.

Dermawan sangat terkejut setelah membelah buah semangkanya. Isinya bukan daging buah semangka, melainkan pasir berwarna kekuning- kuningan. Setelah Dermawan mengamati, pasir berwarna kekuning-kuningan itu ternyata biji emas murni!

Dermawan menjual sebagian biji emas murni miliknya itu. Ternyata sangat mahal harganya. Baru sebagian emas murni yang dijualnya telah dapat digunakan Dermawan untuk membangun sebuah rumah yang indah lagi besar serta membeli kebun yang luas. Dermawan mempekerjakan beberapa orang untuk membantunya mengurus kebun luasnya itu. Orang-orang miskin kembali berdatangan ke rumah Dermawan untuk meminta dan Dermawan tanpa ragu-ragu memberikan pertolongan dan bantuannya. Semakin banyak orang miskin yang datang kepadanya, semuanya diterima Dermawan dengan baik dan dipenuhinya permintaan mereka. Terlebih-lebih setelah kebun Dermawan yang sangat luas itu memberikan hasil yang berlimpah untuknya.

Muzakir sangat keheranan ketika mengetahui keadaan kehidupan adiknya yang mendadak kaya raya dan mempunyai kebun yang sangat luas serta rumah yang besar lagi indah. Ia pun mendatangi adiknya untuk mencari tahu penyebab semua itu.

Dermawan dengan jujur menceritakan kejadian yang dialaminya.

Muzakir ingin pula mendapatkan keberhasilan seperti yang didapatkan adiknya. Ia lantas memerintahkan para pegawainya untuk mencari burung pipit yang terluka atau patah sayapnya. Jika memungkinkan, sebanyak-banyaknya. Namun ternyata sangat sulit mendapatkan burung pipit yang patah atau terluka sayapnya. Muzakir tidak juga kehilangan akal. Ia lantas memerintahkan para pegawainya itu untuk menyumpit burung pipit dengan sasaran sayap burung pipit. Cara seperti itu membuahkan hasil bagi Muzakir. Seekor burung pipit patah sayapnya terkena sumpit yang dilepaskan pegawai Muzakir.

Seperti halnya Dermawan, Muzakir merawat burung pipit yang patah sayapnya itu. Sama sekali tidak diduga Muzakir, Si burung pipit sebenarnya mengetahui penyebab luka yang dialaminya. Bahkan, Si burung pipit itu juga mengetahui siapa sesungguhnya yang menjadi penyebab utama sayapnya patah hingga ia tidak bisa terbang untuk beberapa saat lamanya.

Dalam perawatan Muzakir, burung pipit itu akhirnya sembuh. Ia dapat kembali terbang. Beberapa saat setelah ia terbang, burung pipit itu kembali kepada Muzakir seraya membawa sebutir benih tanaman. Diberikannya sebutir benih tanaman itu sebelum akhirnya ia terbang menjauh.

Muzakir lalu menanam benih tanaman itu di lahan pertanian terbaiknya. Ia melakukan perawatan dan penjagaan secara khusus. Benih tanaman itu tumbuh menjadi tanaman semangka yang sangat subur. Daunnya rimbun, bunganya banyak. Sama halnya dengan tanaman semangka yang ditanam Dermawan, tanaman semangka yang ditanam Muzakir juga hanya berbuah satu pada akhirnya. Sangat besar ukuran buah semangka itu, jauh lebih besar dibandingkan buah semangka milik Dermawan. Muzakir telah membayangkan biji emas di dalam buah semangkanya akan jauh lebih banyak dibandingkan biji emas milik Dermawan. Telah dibayangkannya pula perihal kekayaannya yang akan berlipat-lipat kali lebih banyak.

Ketika buah semangka itu telah masak, Muzakir segera memetiknya. Ia memerintahkan dua pekerjanya untuk membawa buah semangka itu ke rumahnya. Seketika telah berada di dalam rumahnya, Muzakir memerintahkan semua pekerjanya untuk pergi menjauh. Ia tidak ingin biji emas yang akan didapatkannya itu diketahui orang lain. Ia lantas mengambil parang dan serasa tak sabar ketika membelahnya.

Akan tetapi, bukan biji emas yang terdapat di dalam buah semangka itu melainkan lumpur hitam bercampur kotoran yang sangat busuk baunya!

Lumpur hitam bercampur kotoran yang berbau sangat busuk seperti bau bangkai itu menyembur ke wajah Muzakir. Pakaian yang dikenakan Muzakir terkena semburannya pula. Begitu pula dengan permadani dan perabot rumah tangganya. Muzakir terpaksa keluar dari rumahnya seraya menjerit-jerit. Orang-orang yang berdatangan tidak berusaha menolongnya, melainkan buru- buru menjauh karena tidak tahan dengan bau busuk yang terdapat pada diri Muzakir.

 

IRI HATI DAN TAMAK ADALAH DUA SIFAT YANG SANGAT BURUK HINGGA SUDAH SELAYAKNYA KITA JAUHI AGAR KITA TIDAK MENDAPAT KERUGIAN DAN PENYESALAN DI KEMUDIAN HARI.

Legenda Sungai Landak – Cerita Rakyat Kalimantan Barat
Legenda Sungai Landak – Cerita Rakyat Kalimantan Barat

Pada zaman dahulu sepasang suami istri yang berdiam di pinggir hutan. Keduanya bekerja sebagai petani. Hasil pertanian yang mereka usahakan itu biasa mereka jual ke pasar. Sebagian uang hasil penjualan itu mereka gunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup dan sebagian sisanya mereka simpan. Suami istri itu hidup dalam kesederhanaan. Namun demikian, mereka gemar berbagi atau menolong orang lain yang tengah membutuhkan. Karena kebaikan hati keduanya, orang-orang pun menyenangi suami istri itu.

Pada suatu malam Si istri telah tertidur dan suaminya masih terbangun. Ketika itulah sang suami melihat keanehan pada istrinya. Dari kepala istrinya ia melihat asap yang muncul dan kemudian diikuti dengan keluarnya seekor lipan berwarna putih. Lipan itu terus berjalan dan merayap keluar rumah. Sang suami mengikuti hingga akhirnya lipan itu berada di ceruk sungai di belakang rumahnya. Di tempat itulah lipan aneh itu mendadak menghilang.

Sang suami sangat keheranan mendapati keanehan itu. Setelah ia kembali ke rumahnya ia kian sulit memejamkan mata meski ia telah membaringkan tubuh di ranjang.

Keesokan harinya sang suami menjelaskan kejadian aneh yang dialaminya semalam kepada istrinya. Sang istri juga menjelaskan, semalam ia bermimpi. Dalam impiannya, sang istri berjalan di sebuah padang tandus. Ia terus berjalan hingga akhirnya menjumpai sebuah danau yang sangat luas. Di tengah-tengah danau ia melihat seekor landak raksasa. Bulunya berwarna kuning keemasan dan kedua matanya terlihat menyala menyeramkan. Karena seramnya, sang istri pun berlari menjauh.

Sang suami lantas mengajak istrinya menuju ceruk tempat lipan aneh yang keluar dari kepala istrinya itu menghilang. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam ceruk. Tanpa diduganya, tangannya menyentuh benda keras. Terperanjatlah suami istri itu ketika mengetahui benda keras yang menyentuh sang suami tersebut ternyata sebuah patung landak yang terbuat dari emas. Kedua bola mata patung landak itu terbuat dari berlian. Suami istri itu lalu membawa patung landak yang sangat indah lagi mahal itu kembali ke rumah mereka.

Pada malam harinya sang suami bermimpi. Dalam impiannya, seekor landak raksasa mendatanginya dan berujar padanya, “Aku sesungguhnya adalah patung landak yang engkau temukan di ceruk sungai belakang rumahmu itu. Jika engkau menghendaki sesuatu, maka usaplah patung landak itu dengan kain kuning dan ucapkan mantra. Niscaya, apa yang engkau kehendaki akan terwujud.”

Landak raksasa itu mengajarkan mantra yang harus diucapkan jika menghendaki sesuatu. Begitu pula landak raksasa itu juga mengajarkan mantra untuk menghentikan permintaannya. Setelah mengajarkan mantra-mantra, landak raksasa itu pun menghilang.

Keesokan harinya sang suami mencoba melakukan pesan landak raksasa dalam impiannya. Ia menghendaki berlian. Seketika ia mengusap tubuh patung landak emas dengan iringan mantra, dari mulut patung landak itu lantas keluar berlian. Terus keluar berlian itu dari mulut patung landak dan baru berhenti setelah Si suami mengucapkan mantra untuk berhenti.

Tak terkirakan gembiranya suami istri itu mendapati keajaiban yang mereka alami. Keduanya lantas kembali mencoba meminta nasi berikut lauk pauk yang banyak jumlahnya. Seketika itu muncul nasi berikut lauk pauk dalam jumlah banyak seperti yang diminta sang suami. Maka, sejak saat itu suami istri itu menjadi orang yang sangat kaya karena permintaan mereka senantiasa terwujud dalam kenyataan.

Syahdan tersebutlah seorang perampok yang sangat keheranan mendapati kekayaan suami istri yang tetap berdiam di pinggir hutan itu. Ia sangat ingin mengetahui rahasia penyebab kekayaan melimpah yang dimiliki suami istri itu. Dengan penyamarannya, Si perampok akhirnya mengetahui rahasia penyebab suami istri itu dapat begitu kaya raya. Ia juga mengetahui mantra untuk mendapatkan sesuatu dari patung landak emas tersebut. Ia pun merencanakan siasatnya untuk mengambil patung landak emas yang dimiliki suami istri tersebut.

Si perampok membuat patung landak yang sangat mirip dengan patung landak milik suami istri itu. Dengan siasatnya, Si perampok akhirnya berhasil menukar patung landak itu. Ia lantas menuju daerah Ngabang setelah mendapatkan patung landak ajaib.

Ketika Si perampok tiba di daerah Ngabang, daerah itu tengah mengalami musim kemarau yang berkepanjangan. Air sangat sulit didapatkan. Si perampok berkehendak menarik simpati warga Ngabang dengan mengadakan air. Ia sangat berharap warga akan bersepakat menunjuknya sebagai pemimpin mereka.

Si perampok lantas mengusap patung landak emas itu dengan kain kuning dan mengucapkan mantra. Seketika itu air memancar deras dari mulut landak ajaib. Warga seketika bersuka cita mendapati air yang telah lama tidak mereka temukan waktu itu muncul berlimpah ruah dari mulut patung landak. Dengan berbagai peralatan yang dimiliki, warga mendapatkan air yang sangat mereka butuhkan. Semua warga Ngabang telah mendapatkan air, namun air terus deras memancar dari mulut patung landak ajaib. Si perampok yang tidak mengetahui mantra untuk menghentikan permintaannya menjadi kebingungan. Ia telah berusaha meminta patung landak ajaib itu untuk berhenti mengeluarkan air, namun air tetap deras memancar. Si perampok telah berusaha menutup mulut patung landak ajaib, namun tetap saja air terus memancar keluar.

Si perampok kebingungan berbaur takut. Air yang terus memancar dari mulut landak ajaib itu telah menggenangi daerah di mana si perampok berada. Karena kebingungan dan rasa takutnya yang kian menjadi-jadi, Si perampok berusaha melepaskan patung landak ajaib itu dari tangannya. Aneh, patung landak itu tidak bisa dilepaskannya dari tangannya.

Air yang terus memancar keluar dari mulut patung itu akhirnya menggenang dan semakin meninggi. Terbentuklah sebuah sungai yang kian lama kian meninggi permukaannya hingga menenggelamkan Si perampok. Si perampok pun akhirnya tewas. Sungai yang kecil itu terus membesar. Penduduk lantas menamakannya Sungai Landak karena asal sungai itu dari mulut patung landak emas ajaib.

 

SIKAP IRI HATI YANG DIIKUTI DENGAN KELICIKAN ATAU KECURANGAN AKAN MEMBUAHKAN KERUGIAN DAN PENYESALAN DI KEMUDIAN HARI BAGI PELAKUNYA.

Legenda Batu Menangis – Cerita Rakyat Kalimantan Barat
Legenda Batu Menangis – Cerita Rakyat Kalimantan Barat

Hiduplah seorang janda miskin pada masa lampau. Mak Dasah namanya. Ia tinggal di sebuah gubug reyot di pinggir hutan. Mata pencahariannya sehari-hari adalah bekerja di ladang sempit peninggalan mendiang suaminya. Sepulang dari berladang, Mak Dasah biasa mencari kayu bakar di hutan. Kayu-kayu bakar itu lantas dijualnya di perkampungan penduduk yang jauh letaknya dari tempat tinggalnya.

Mak Dasah mempunyai seorang anak gadis. Jelita namanya. Sesuai namanya, wajah Jelita amatlah cantik. Sayang, Jelita sangat pemalas. Hari-harinya dihabiskannya untuk berdandan dan bercermin. Ia sangat mengagumi kecantikan dirinya. Meski berulang-ulang Mak Dasah mengingatkannya agar ia mengubah kelakuannya itu, namun Jelita enggan menuruti nasihat ibunya. Ia tetap sangat malas, enggan ia membantu kerepotan ibunya.

Selain pemalas, Jelita juga sangat manja. Apa pun yang dikehendakinya harus dituruti ibunya. Jika tidak dituruti, Jelita akan marah- marah. Meski begitu buruk kelakuan anaknya, Mak Dasah tetap sayang dengan anak perempuannya itu. Meski sangat kerepotan, namun Mak Dasah akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi setiap permintaan Jelita. Namun, Jelita senantiasa meminta dan terus meminta, ia tidak peduli dengan keadaan ibunya.

Pada suatu hari Mak Dasah mengajak Jelita ke pasar. Jelita mau diajak ke pasar dengan memberikan syarat, “Aku tidak mau berjalan bersama dengan Ibu. Ibu harus berjalan di belakangku.”

Mak Dasah terpaksa menuruti permintaan anak gadisnya itu.

Jelita berangkat ke pasar dengan mengenakan pakaian terbaru sekaligus terbaik yang dimilikinya. Ia juga berdandan secantik-cantiknya seperti jika ia hendak menghadiri sebuah pesta. Ia lantas berjalan di depan ibunya yang mengenakan pakaian lusuh. Ibu dan anak itu begitu jauh, berbeda dalam penampilan hingga orang yang tidak mengenal mereka tentu tidak akan menyangka jika mereka sesungguhnya ibu dan anak.

Tersebutlah seorang pemuda yang bertanya pada Jelita, “Wahai gadis cantik, apakah wanita berbaju lusuh yang berjalan di belakangmu itu ibumu?”

Jelita sejenak memandang pemuda yang bertanya padanya. Tampan wajah pemuda itu. Melihat ketampanan pemuda itu, Jelita tiba-tiba merasa sangat malu mengakui Mak Dasah selaku ibu kandungnya. “Bukan!” katanya. “Ia bukan ibuku, melainkan pembantuku.”

Betapa sedih dan sakit hati Mak Dasah ketika mendengar jawaban anak perempuannya. Dinasihatinya agar Jelita tidak berani lagi berkata seperti itu. “Jelita, anakku. Aku ini ibumu, orang yang melahirkanmu. Sungguh, sangat durhaka kelakuanmu jika engkau berani menganggapku sebagai pembantumu! Sadarlah engkau, wahai anakku.”

Namun, Jelita tak menganggap nasihat ibunya. Ia bahkan kian menjadi-jadi. Kepada orang- orang yang bertanya padanya selama dalam perjalanan itu, Jelita senantiasa tegas menjawab jika perempuan tua yang berjalan di belakangnya itu adalah pembantunya.

Hati dan perasaan Mak Dasah sangat sakit seperti teriris sembilu. Ketika ia tidak lagi dapat menahan kesakitan hatinya, berdoalah Mak Dasah kepada Tuhan, “Ya Tuhan, hamba tidak sanggup lagi menahan penghinaan anak hamba ini! Benar- benar telah membatu hati anak hamba ini. Oleh karena itu, Ya Tuhan, hukumlah anak hamba yang durhaka itu menjadi batu!”

Doa Mak Dasah dikabulkan-Nya.

Tak berapa lama kemudian kedua kaki Jelita berubah menjadi batu. Jelita sangat terkejut lagi takut. Betapa mengerikannya perasaan yang dialaminya ketika mendapati kedua kakinya berubah menjadi batu. Ia kian ketakutan saat mendapati pinggangnya pun berubah menjadi batu. Sadarlah ia, semua itu terjadi karena kedurhakaan besarnya kepada ibunya. Maka ia pun berteriak-teriak, “Mak, ampuni aku! Ampuni aku! Ampuni kedurhakaan anakmu ini, Mak!”

Namun, semuanya telah terlambat bagi Jelita. Mak Dasah hanya terdiam. Sama sekali Mak Dasah tidak berusaha mengabulkan permohonan anaknya yang telah berbuat durhaka terhadapnya. Ia merasa telah cukup mengalami penderitaan yang diakibatkan anaknya itu. Hingga akhirnya seluruh tubuh Jelita berubah menjadi batu.

Batu jelmaan Jelita itu terus meneteskan air seperti airmata penyesalan yang menetes dari mata Jelita. Orang-orang yang mengetahui adanya air yang terus menetes dari batu itu kemudian menyebutnya Batu Menangis.

 

DURHAKA TERHADAP IBU ATAU IUGA KEDUA ORANGTUA AKAN BERBUAH KEMURKAAN TUHAN KEPADA PELAKUNYA. KITA HENDAKNYA SENANTIASA MENGHORMATI ORANGTUA DAN PATUH TERHADAP NASIHAT MEREKA.