Kategori: Kalimantan Selatan

Lok Si Naga – Cerita Rakyat Kalimantan Selatan
Lok Si Naga – Cerita Rakyat Kalimantan Selatan

Suatu malam sepasang suami istri sedang mencari ikan di Sungai Amandit. Sang suami menggunakan tangguk besarnya. Biasanya, lima ekor ikan besar dapat masuk ke dalam alat penangkap ikan sang suami.

Setelah memasang tangguk di sungai, suami istri itu menunggu. Mereka memakan bekal yang mereka bawa dari rumah. Waktu terus berlalu, beberapa jam kemudian terlewati. Harapan mereka untuk mendapatkan ikan sangat besar. Namun, ketika sang suami mengangkat tangguknya, wajahnya membayang kekecewaan. Tidak ada seekor ikan pun yang didapatkannya.

Sang suami kembali memasang tangguknya. Kembali ia dan istrinya menunggu di pinggir sungai. Beberapa jam kemudian ia kembali mengangkat tangguknya. Dilihatnya iSi tangguknya. Ia kembali menelan kekecewaan. Tangguknya sama sekali tidak beriSi ikan. Kembali ia memasang tangguknya.

“Aneh,” kata sang suami sambil duduk di samping istrinya. “Malam ini Sungai Amandit seperti tak dihuni seekor ikan pun. Dua kali tangguk kuangkat, tak seekor ikan pun yang kudapat.”

“Sabarlah, Pak,” ujar Si istri menyerankan. “Waktu malam masih cukup panjang. Mudah- mudahan setelah ini tangguk kita beriSi ikan.”

Sang suami menganggukkan kepala.

Tetapi beberapa kali sang suami mengangkat tangguk, tetap tangguknya tidak beriSi seekor ikan pun. Kesabaran sang suami habis. Waktu tengah malam telah jauh terlewati.

“Jika sekali lagi tangguk kuangkat dan tidak kita dapatkan ikan, lebih baik kita pulang saja, Bu,” kata sang suami. “Mungkin, malam ini bukan malam keberuntungan kita.”

Ketika tangguk diangkat untuk yang kesekian kalinya, bukan ikan yang terdapat di dalamnya, melainkan sebutir telur besar.

“Telur apa ini?”

Si istri memperhatikan telur itu. “Bentuknya aneh, Pak. Seumur hidupku aku belum pernah melihat telur sebesar itu.”

“Ya. Aku pun belum pernah melihatnya,” jawab sang suami.

Sang suami takut. Telur besar itu dilemparkannya kembali ke sungai. Sang suami masih penasaran, ia kembali memasang tangguknya. Namun beberapa saat kemudian ia mengangkatnya, kembali bukan ikan yang didapatkannya, tetapi telur besar itu lagi. Berulang- ulang kemudian kejadian seperti itu terus berulang.

“Bu, bisa jadi telur besar ini rejeki kita malam ini,” kata sang suami. “Sebaiknya kita bawa pulang saja.”

Sang istri setuju.

Pagi hampir tiba. Keduanya lalu kembali pulang ke rumah. Setibanya di rumah, mereka mendapati anak mereka masih tertidur pulas.

“Bu, rebus saja telur besar itu.”

Si istri bergegas merebus telur besar itu. Setelah matang, ia memanggil suaminya. Keduanya lalu memakannya. Rasa telur besar itu ternyata sangat lezat. Belum pernah keduanya memakan telur seenak itu.

Setelah suami istri itu memakan telur besar, mendadak terjadi keajaiban. Tubuh keduanya berubah menjadi naga besar berwarna putih!

“Apa yang terjadi dengan kita, Bu?” tanya sang suami kebingungan.

Si istri hanya bisa menggelengkan kepala. Ia sangat sedih mendapati dirinya berubah menjadi seekor naga besar betina.

Anak mereka terbangun. Seketika membuka mata, ia langsung menjerit ketakutan.

“Toiooong… toloooong…!! Ada dua naga besar di rumahku! Toloooong…!!”

“Tenanglah, anakku,” kata naga jantan. “Aku ini bapakmu. Ini ibumu.”

“Tidak! Tidaaak…!!” teriak sang anak. “Kedua orang tuaku bukan naga besar!”

Dua naga besar berwarna putih menyilaukan mata itu menjelaskan apa yang terjadi pada diri mereka.

Tak terkirakan sedihnya sang anak setelah mendengar cerita bapak dan ibunya.

“Sudahlah, anakku, janganlah engkau larut dalam kesedihanmu,” bujuk naga besar betina. “Ini sudah suratan takdir kami.”

“Benar, anakku,” sambung naga besarjantan. “Kini, kuminta engkau mencari empat pisau tajam untuk kujadikan taring. Siapkan juga batang pohon besar yang bisa kubuat meluncur turun menuju sungai.’

“Apa yang akan Ayah dan Ibu lakukan selanjutnya?” tanya sang anak.

“Kami akan bertarung melawan naga merah penghuni dasar Sungai Amandit,” jawab naga besarjantan. “Selama ini naga merah itu sering mengganggu warga. Selain itu, kami membutuhkan lubang kediaman naga merah itu untuk tempat tinggal kami selanjutnya. Doakan agar kami bisa

mengalahkannya.”

Sang anak menuruti perintah kedua orang tuanya. Ia mencarikan empat pisau yang sangat tajam dan menyiapkan batang pohon besar. Naga besarjantan dan betina segera meluncur mendekati Sungai Amandit. Sebelum memasuki sungai, naga besarjantan berpesan, “Anakku, amatilah baik-baik permukaan sungai ini. Jika permukaan sungai ini berwarna merah darah, itu berarti naga merah bisa kami tewaskan. Namun, jika kau lihat permukaan sungai ini berawarna putih, itu berarti kami kalah dari naga merah itu.”

“Amatilah baik-baik, Anakku,” sambung naga besar betina.

Sang anak hanya bisa menganggukkan kepala. Ia memandang sedih pada dua naga besar itu ketika memasuki Sungai Amandit. Ia berdoa, semoga ayah dan bundanya bisa mengalahkan naga merah dan kembali wujudnya seperti semula.

Pertarungan antara sepasang naga putih melawan naga merah berlangsung sangat seru. Pertarungan mereka diiringi hujan yang sangat deras, petir yang terus berkerjap-kerjap menakutkan, serta gelegar petir yang terdengar sambung-menyambung. Warga desa ketakutan dan gempar karenanya. Kegemparan mereka semakin menjadi-jadi karena mendapati Sungai Amandit meluap. Banjir besar melanda warga. Mereka berbondong-bondong mengungSi untuk menyelamatkan diri. Beberapa rumah warga hancur diterjang banjir besar itu.

Keadaan alam mereda, kembali seperti semula. Sang anak menyadari, pertarungan antara kedua orang tuanya melawan naga merah telah berakhir. Bergegas ia menuju Sungai Amandit untuk melihat warna permukaan sungai.

Permukaan Sungai Amandit berwarna merah darah. Itu berarti sepasang naga putih jelmaan kedua orang tua sang anak memenangkan pertarungan. Naga merah telah tewas. Sang anak gembira. Ia berharap kedua orang tuanya dapat kembali berwujud seperti semula.

Sang anak terus menunggu kemunculan kedua orang tuanya di pinggir sungai. Namun, kedua orang tua sang anak tidakjuga kunjung muncul. Sang anak terpaksa pulang ke rumahnya. Sejak saat itu ia hidup sebatang kara.

Tersiar kabar kemudian, sepasang naga putih itu menetap di lubang tempat kediaman naga merah sebelumnya. Sejak saat itu, Sungai Amandit dinamakan Sungai Lok Si Naga yang berarti Sungai Naga.

 

JANGAN GEGABAH DAN TERBURU-BURU MENGAMBIL KEPUTUSAN, KARENA BISA BERAKIBAT TIDAK BAIK DI KEMUDIAN HARI.

Asal Mula Burung Punai – Cerita Rakyat Kalimantan Selatan
Asal Mula Burung Punai – Cerita Rakyat Kalimantan Selatan

Seorang pemuda bernama Andin. Ia adalah seorang pengembara. Andin seorang diri kerap menjelajahi desa-desa dan juga berbagai negeri.

Pada suatu hari Andin tiba di sebuah desa yang bersungai dan berawa-rawa. Desa Pakan Dalam namanya. Pekerjaan penduduk desa itu kebanyakan menangkap atau menjerat burung dengan getah. Karena Andin juga piawai menangkap burung dengan getah dan burung- burung di desa itu sangat banyak jumlahnya, Andin lantas memutuskan untuk menetap di desa tersebut.

Kedatangan Andin diterima warga Pakan Dalam. Setelah bermukim, setiap hari Andin menjerat burung dengan getah. Pagi-pagi ia telah berangkat dan baru pulang ke rumahnya pada waktu sore. Kadang, hingga senja ia baru pulang. Karena kebiasaannya itu, warga pun akhirnya memanggilnya Andin Pulutan. Kepiawaiannya dalam memulut atau menjerat burung dengan getah serasa tiada tandingannya hingga sebagian besar warga juga menyebutnya Datu Pulut. Orang yang piawai memulut makna namanya.

Pada suatu pagi Datu Pulut berangkat memulut. Ia menaiki jukungnya menuju hilir sungai. Dibawanya keranjang kecilnya. Setelah menemukan tempat yang sesuai baginya untuk memulut, Datu Pulut lantas menghentikan laju jukungnya. Ia kemudian memasang getah-getah di beberapa tempat. Ia menunggu seraya tiduran di atas jukungnya. Mendadak turun hujan. Datu Pulut lalu berteduh di bawah pohon besar lagi rindang. Takjauh dari tempatnya berteduh terdapat sebuah telaga yang sangat jernih airnya.

Hujan pun reda, berganti dengan gerimis. Datu Pulut lantas berniat melihat getah-getah yang dipasangnya. Namun, diurungkannya niatnya itu ketika ia mendengar suara-suara yang mencurigakannya. Suara-suara perempuan yang tengah bersenda gurau. Datu Pulut mencari sumber suara itu. Terperanjatlah Datu Pulut ketika melihat tujuh bidadari terbang dari langit menuju telaga. Seketika tujuh bidadari itu tiba di telaga, seketika itu pula di langit terlihat sebuah pelangi yang sangat indah. Datu Pulut segera bersembunyi di balik pohon untuk mengintip apa yang akan dilakukan tujuh bidadari itu.

Tujuh bidadari itu rupanya hendak mandi. Mereka melepaskan selendang yang semula diguhakan untuk terbang dan meletakkannya di atas bebatuan. Mereka lantas mandi sambil bercengkerama.

Dari tempat persembunyiannya, Datu Pulut melihat tujuh bidadari yang tengah mandi itu. Ia amat terpesona mendapati kecantikan para bidadari itu. Tergerak hatinya untuk memperistri salah satu bidadari itu. Maka, ia pun segera mengambil salah satu selendang dan menyembunyikannya di dalam keranjang kecil yang dibawanya.

Hari pun beranjak sore. Matahari telah condong di langit barat. Tujuh bidadari itu menghentikan mandi mereka. Salah seorang bidadari tidak dapat menemukan selendangnya. Enam sudaranya telah berusaha turut mencari, selendang itu tidakjuga mereka temukan. Tidak ada yang bisa dilakukan enam bidadari itu selain meninggalkan bidadari yang malang itu ketika hari menjelang senja.

Si bidadari malang menangis sepeninggal enam saudaranya. Ia sangat ketakutan hidup di bumi yang sangat asing baginya. Ia terus menangis dan memanggil ayah dan bundanya agar bersedia menolongnya.

Ketika waktu malam tiba, Datu Pulut mendekati dan menyapa bidadari malang itu. Keduanya lantas berkenalan. Kata Datu Pulut kemudian, “Jika engkau tidak mempunyai sanak saudara atau siapa pun juga di bumi ini, engkau dapat tinggal bersamaku.”

Si bidadari setuju dengan ajakan Datu Pulut.

Tidak berapa lama setelah tinggal bersama, Datu Pulut melamar Si bidadari. Keduanya lantas menikah dan tetap tinggal di desa Pakan Dalam itu. Setelah menikah, Datu Pulut kian rajin mencari burung. Pagi-pagi sekali ia telah berangkat dan baru pulang ketika waktu malam hampir tiba. Burung- burung yang berhasil dijeratnya dijualnya dan hasil penjualan itu digunakannya untuk mencukupi kebutuhan hidup ia dan istrinya. Kebahagiaan Datu Pulut kian lengkap setelah istrinya melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik.

Pada suatu hari Si bidadari hendak menanak nasi. Dilihatnya beras di padaringan (Tempat untuk menyimpan beras) telah habis. Ia pun menuju lumbung padi untuk mengambil padi. Selama ia hidup bersama suaminya, Si bidadari belum pernah sekalipun memasuki lumbung padi itu karena suaminya telah melarangnya. Namun, ia terpaksa melanggar larangan suaminya mengingat ia harus menanak nasi.

Ketika berada di dalam lumbung padi, Si bidadari menemukan keranjang kecil yang terbuat dari bambu. Terperanjat bukan alang kepalang ia ketika mendapati selendangnya di dalam keranjang kecil itu. Mengertilah ia, suaminya itulah ternyata yang menyembunyikan selendangnya. Ia lantas mengambil selendang itu dan bersiap untuk kembali ke Kahyangan setelah suaminya datang dari mencari burung.

Datu Pulut sangat terkejut ketika pulang dari mencari burung. Dilihatnya istrinya telah mengenakan selendangnya dan tengah mendekap anak perempuannya. “Istriku, hendak ke mana engkau?” tanyanya was-was.

“Suamiku, aku hendak kembali ke Kahyangan,” jawab Si bidadari.

“Lantas, bagaimana dengan anak perempuan kita? Apakah engkau tega meninggalkannya? Bukankah ia masih menyusu?”

“Hendaknya engkau memelihara anak kita itu baik-baik,” kata Si bidadari. “Jika ia menangis karena hendak menyusu, buatkanlah ayunan di pohon berunai. Ketika itu aku dan saudara-saudaraku akan datang dan aku akan menyusui anak kita. Hanya pesanku, janganlah sekali-kali engkau berani mendekati tempatku menyusui itu. Itu pantangan! Camkan baik-baik pesanku ini dan jangan engkau berani melanggar pantanganku itu.”

Setelah memberikan pesannya, Si bidadari lantas terbang kembali ke Kahyangan.

Datu Pulut mengingat pesan istrinya. Ketika anak perempuannya menangis karena hendak menyusu, ia segera membuatkan ayunan pada pohon berunai. Ditinggalkannya bayi perempuannya itu di dalam ayunan. Sama sekali ia tidak berani mendekat karena itu pantangan dari istrinya. Datu Pulut hanya bisa menyaksikannya dari kejauhan.

Waktu terus berlalu. Datu Pulut sangat rindu untuk bertemu dengan istrinya. Berulang-ulang ditahannya rasa rindunya itu, namun serasa kian membesar saja kerinduannya untuk bertemu. Datu Pulut tidak lagi bisa memendam rasa rindunya. Maka, ketika istrinya dengan kawalan enam saudaranya tengah menyusui anak perempuannya, Datu Pulut melanggar pantangan istrinya. Ia mendekati ayunan di pohon berunai. Dengan hati tak sabar karena diamuk perasaan rindu, hendak dipegangnya istri tercintanya yang tengah menyusui anaknya itu.

Keanehan pun terjadi. Seketika tangan Datu Pulut hendak menyentuh tubuh istrinya, istrinya dan enam saudaranya seketika itu berubah wujud menjadi tujuh ekor burung punai!

Tujuh ekor burung punai itu langsung terbang ke alam bebas.

Datu Pulut sangat menyesali perbuatannya. Ia hanya bisa memandangi tujuh ekor burung punai yang terbang itu dengan perasaan menyesal. Ketika anaknya menangis, ia meletakkannya di dalam ayunan di pohon berunai. Namun, istrinya yang telah berubah wujud menjadi burung punai itu tidakjuga datang. Istrinya tidak pernah lagi datang.

 

HENDAKLAH KITA TIDAK BERANI MELANGGAR PANTANGAN YANG DIBERIKAN ORANG LAIN. jIKA KITA MELANGGARNYA, KITA BISA JADI AKAN MENDAPATKAN KERUGIAN DAN MERASA MENYESAL DI KEMLID1AN HARI.

Putmaraga – Cerita Rakyat Kalimantan Selatan
Putmaraga – Cerita Rakyat Kalimantan Selatan

Sebuah keluarga miskin yang tinggal di desa Kalampaian. Keluarga itu terdiri se¬orang ibu dan anak lelaki satu-satunya. Putmaraga nama anak lelaki itu. Sepeninggal sang ayah, kehidupan keluarga itu bertambah kesulitan. Kerap Putmaraga dan ibunya merasakan kekurangan.

Pada suatu malam ibu Putmaraga bermimpi didatangi seorang nenek renta. Si nenek renta berujar kepadanya, “Galilah tanah di belakang rumahmu, di antara pohon nangka.”

Keesokan harinya ibu Putmaraga mengajak anaknya untuk menggali tanah di belakang rumah-nya sesuai pesan nenek renta dalam impiannya. Tidak mereka duga, mereka menemukan sebuah guci Cina yang sangat besar. ISi guci besar itu membuat ibu Putmaraga dan Putmaraga amat tercengang. Mereka mendapati intan dan berlian yang sangat banyak jumlahnya di dalam guci.

Putmaraga memberikan usulnya, “Kita bawa intan dan berlian ini kepada Kepala Suku. Kita tanyakan kepada beliau, kepada siapa kita hen-daknya menjual intan dan berlian ini j’

Ibu Putmaraga setuju dengan usul anaknya. Mereka lantas membawa intan dan berlian temuan mereka itu kepada Kepala Suku.

Kepala Suku menyarankan agar mereka mem-bawa intan dan berlian itu ke Medangkamulan. Katanya, “Raja Medangkamulaan terkenal kaya raya. Ia tentu mampu membeli intan dan berlian kalian yang sangat mahal harganya ini.”

Ibu Putmaraga akhirnya meminta anaknya itu berangkat menuju Medangkamulan. Ia berpesan agar anaknya itu senantiasa bersikap jujur dan tidak sombong. “Lekas engkau kembali setelah berhasil menjual intan dan berlian ini.”

Putmaraga berjanji akan mematuhi semua pesan ibunya. Dengan menumpang sebuah kapal besar milik seorang saudagar, Putmaraga akhirnya tiba di Medangkamulan. Benar seperti saran Kepala Suku, Raja Medangkamulan bersedia membeli intan dan berlian itu dengan harga yang pantas. Raja Medangkamulan malah menyarankan agar Putmaraga tinggal di Medangkamulan.

Putmaraga lantas berdagang. Usaha per-dagangannya membuahkan hasil yang banyak baginya. Di Medangkamulan itu Putmaraga terus membesarkan usaha dagangnya hingga beberapa tahun kemudian Putmaraga telah dikenal sebagai seorang saudagar yang sangat berhasil. Ia adalah saudagar terkaya di Medangkamulan.

Raja Medangkamulan sangat terkesan dengan semangat dan usaha Putmaraga. Ia pun meni¬kahkah salah satu putrinya dengan Putmaraga. Usaha dagang Putmaraga kian membesar setelah ia menjadi menantu Raja Medangkamulan.

Putmaraga menyatakan kepada istrinya bah¬wa ia masih mempunyai ibu. Ia bahkan men¬janjikan kepada istrinya untuk menemuinya ibunya. Karena janjinya itu maka istrinya berulang-ulang menyatakan keinginannya untuk bertemu de¬ngan ibu Putmaraga itu. Karena terus didesak istrinya, Putmaraga tak lagi bisa mengelak. Ia segera memerintahkan kepada anak buahnya untuk menyiapkan kapal yang besar lagi mewah miliknya yang akan digunakannya untuk berlayar ke kampung halamannya.

Setelah berlayar beberapa waktu lamanya, kapal besar lagi mewah milik Putmaraga itu akhirnya merapat di pelabuhan Banjar, di wilayah asal Putmaraga. Dalam waktu tak berapa lama, kedatangan Putmaraga dengan kapal miliknya itu menyebar diketahui warga. Kekaguman warga pun tertuju pada Putmaraga, seseorang yang dahulu mereka kenal hidup miskin bersama ibunya.

Tak terkirakan gembira dan bahagianya hati Ibu Putmaraga ketika mendengar kedatangan anaknya. Sampan kecilnya segera dikayuhnya menuju tempat di mana kapal anaknya tengah merapat. Kerinduannya bertahun-tahun kepada anaknya itu hendak dituntaskannya. Seketika mendekati kapal yang besar lagi mewah itu, Ibu Putmaraga lantas menyebutkan kepada penjaga kapal, “Saya ini ibu Putmaraga. Sampaikan kepada Putmaraga, saya ingin bertemu dengannya.”

Dari geladak kapalnya, Putmaraga melihat kedatangan ibunya. Mendadak ia merasa malu hati mengakui jika perempuan tua yang berpakaian lusuh lagi kumal itu adalah ibunya. Putmaraga menolak kedatangan ibunya dan bahkan memerintahkan kelasinya untuk mengusir ibunya. Katanya keras-keras seraya bertolak pinggang, “Usir perempuan tua buruk rupa yang mengaku ibu kandungku itu! Ia bukan ibuku! Ia hanya mengaku-ngaku!”

Tak terkirakan terperanjatnya Ibu Putmaraga mendengar ucapan anaknya. Ia berusaha keras untuk menyadarkan anaknya, namun Putmaraga tetap juga menolak untuk mengakui sebagai anaknya. Bahkan, ketika istrinya pun turut menyadarkan, Putmaraga tetap bersikukuh jika perempuan tua itu bukan ibunya.

Ibu Putmaraga bergegas pulang ke rumahnya. Ia mengambil ayam bekisarjantan dan ikan ruan yang dahulu dipelihara Putmaraga. Seketika ia telah kembali ke kapal besar milik Putmaraga, ia pun menunjukkan dua hewan itu seraya berkata, “Putmaraga anakku, lihatlah dua binatang kesayanganmu ini. keduanya tetap Ibu rawat selama engkau pergi ke Medangkamulan. Apakah engkau masih tidak percaya jika aku ini ibumu?”

“Tidak!” seru Putmaraga. “Engkau bukan ibuku! Engkau hanya perempuan tua yang mengakungaku sebagai ibuku karena menginginkan harta kekayaanku! Kelasi, usir perempuan tua itu dari kapalku ini!”

Putmaraga sangat jengkel karena melihat ibunya tetap berusaha menjelaskan jika ia adalah ibu Putmaraga. Karena jengkelnya, Putmaraga lantas melempari ibunya dengan kayu-kayu. Salah satu lemparan itu telak mengena ibunya hingga ibunya jatuh terpelanting.

Ibu Putmaraga merasa putus asa. Sakit benar hatinya mendapati sikap anaknya yang durhaka terhadapnya itu. Ia pun kembali ke rumahnya seraya mengayuh sampan kecilnya. Airmatanya terus bercucuran ketika meninggalkan kapal milik anaknya itu. Dengan hati remuk redam, ia pun berdoa kepada Tuhan, “Ya Tuhan, sadarkanlah kedurhakaan anak hamba itu.”

Seketika setelah ibu Putmaraga berdoa, alam tiba-tiba menampakkan kemarahannya. Langit yang semula cerah berubah menjadi amat gelap. Awan hitam bergulung-gulung.

Kilat berkerjapan laksana merobek-robek langit yang disusul dengan gelegar petir berulang-ulang. Angin topan mendadak datang, menciptakan gelombang yang menderu-deru dengan kekuatan dahsyatnya. Semua kemarahan alam itu seperti tertuju pada Putmaraga yang kebingungan serta ketakutan di dalam kapal besar lagi mewahnya.

Kapal Putmaraga seketika itu digulung gelombang air berkekuatan dahsyat.

Sadarlah Putmaraga akan kedurhakaan besar-nya terhadap ibu kandungnya. Ia pun berteriak- teriak meminta ampun kepada ibunya. Namun, semuanya telah terlambat bagi Putmaraga. Kedur-hakaan besarnya kepada ibunya tidak berampun.

Kapal besar lagi mewah itu sirna ditelan ombak besar bergulung. Seketika alam telah kembali tenang, kapal besar lagi mewah milik Putmaraga itu mendadak menjadi batu.

 

KEDURHAKAAN KEPADA ORANGTUA. TERUTAMA IBU. AKAN BERBUAH KEMURKAAN TUHAN. SEKALI-KALI JANGANLAH KITA BERANI DURHAKA JIKA TIDAK INGIN MENDAPATKAN KEMURKAAN TUHAN.

Kisah Pangeran Biawak – Cerita Rakyat Kalimantan Selatan
Kisah Pangeran Biawak – Cerita Rakyat Kalimantan Selatan

Sebuah kerajaan besar yang di¬pimpin oleh seorang raja yang adil dan bijak¬sana. Sang Raja mempunyai tujuh orang putri. Kesemuanya cantik dan menarik.

Tujuh putri raja itu pun beranjak dewasa usianya. Sangat mengherankan, ketujuh putri itu tidak menampakkan keinginannya untuk segera berumah tangga. Sang Raja menjadi sedih ha¬tinya. Ia berkehendak melihat putri-putrinya itu menikah sebelum ia meninggal dunia. Namun, ketika kehendak Sang Raja itu disampaikan, tujuh putri Sang Raja memberikan alasan yang senada. Kata Putri Sulung yang mewakili enam adik-adiknya, “Ampun Ayahanda, kami belum berminat menikah karena kami belum menemukan sosok yang pantas menjadi suami kami. Kami menghendaki calon suami kami adalah pemuda- pemuda yang tidak hanya tampan wajahnya, namun juga mempunyai kesaktian tinggi.”

“Kesaktian seperti apakah yang kalian kehendaki?” tanya Sang Raja.

“Pemuda itu harus bisa membangun sebuah istana yang sangat megah di seberang sungai,” jawab Putri Sulung.

Sang Raja lantas mengadakan sayembara. Kepada pemuda yang mampu membangun sebuah istana megah di seberang sungai, maka ia berhak menikah dengan putri-putrinya.

Beberapa hari kemudian datanglah enam pemuda gagah yang menyatakan kesanggupan mereka untuk memenuhi sayembara Sang Raja. Mereka segera bekerja keras dan bahu-membahu untuk membangun sebuah istana di seberang sungai. Keenamnya mengerahkan kesaktian mereka hingga sebuah istana yang megah dapat mereka bangun dalam waktu tak berapa lama. Istana itu lengkap isinya danjuga dihiaSi sebuah taman yang sangat indah.

Sang Raja dan tujuh putrinya terlihat puas melihat istana yang megah itu. Namun, Sang Raja sedikit kecewa karena tidak ada sebuah jem¬batan yang menghubungkan istananya dengan istana megah itu. Sang Raja akhirnya kembali mengumumkan sayembaranya. “Siapa punjuga yang sanggup membangun sebuah jembatan besar yang menghubungkan istanaku dan istana megah di seberang sungai ini, maka ia akan kunikahkan dengan salah satu dari putriku.”

Sayembara itu segera disebarluaskan oleh para prajurit hingga menjangkau wilayah-wilayah terjauh kerajaan. Namun berhari-hari kemudian tidak ada juga seorang pemuda yang datang untuk memenuhi sayembara tersebut. Sang Raja menjadi cemas sekaligus heran. “Mungkinkah negeri ini sudah tidak ada lagi seorang pemuda sakti?” tanyanya mengungkapkan keprihatin¬annya.

Waktu terus berlalu. Beberapa saat kemudian datang seorang perempuan tua ke istana kerajaan. Ia membawa seekor biawak. Si perempuan tua lalu menghadap Sang Raja dan mengungkapkan, “Ampun, Baginda. Kedatangan hamba menghadap Baginda ini untuk menjawab sayembara Baginda. Anak hamba sanggup membuat jembatan besar seperti yang Baginda kehendaki.”/

“Sayembara itu terbuka bagi siapa punjuga, termasuk untuk anakmu itu, perempuan tua,” jawab Sang Raja.

“Meskipun hamba hanya seorang yang miskin?”

“Aku tidak membeda-bedakan. Jika anakmu mampu mewujudkan jembatan itu, niscaya ia akan kunikahkan dengan salah seorang putriku.”

Di hadapan Sang Raja danjuga para punggawa kerajaan, Si perempuan tua lantas berbicara dengan biawak yang dibawanya, “Anakku, telah engkau dengar sendiri ucapan Baginda Raja, bukan? Kini, buktikan kesanggupanmu untuk mewujudkan kehendak Baginda Raja itu.”

Sang Raja dan semua yang hadir di balairung istana kerajaan itu tersengang saat mengetahui anak Si perempuan tua itu adalah seekor biawak. Kian tercengang mereka ketika mereka mendengar, Si biawak mampu menjawab, “Baiklah, Bu. Saya sanggup untuk mewujudkan sayembara Baginda Raja. Saya memohon doa restumu, Ibu.”

Si biawak ternyata mempunyai kesaktian yang luar biasa. Dalam waktu kurang dari semalam, jembatan yang besar telah tercipta. Istana Baginda Raja dan istana di seberang sungai itu pun akhirnya dapat dihubungkan.

Si biawak dinyatakan sebagai pemenang sayembara Sang Raja. Ia berhak untuk menikah dengan salah satu putri Sang Raja. Namun, siapakah dari tujuh putri raja itu yang bersedia menikah dengannya?

Putri Sulung hingga putri keenam menyatakan penolakannya untuk menikah dengan Si biawak.

“Bagaimana denganmu, putri bungsuku, apakah engkau juga menolak menikah dengan biawak pemenang sayembara itu?” tanya Sang Raja.

Putri Bungsu tersenyum. Jawabnya, “Ayahanda, sesungguhnya ucapan seorang raja hendaklah terlaksana. Janji seorang raja hendaklah ditepati. Jika Ayahanda telah menjanjikan pemenang sayembara itu akan dinikahkan dengan salah seorang dari kami, maka hendaklah hal itu dilaksanakan pula. Jika semua kakak hamba tidak bersedia, maka hamba bersedia menikah dengan biawak, putra ibu perempuan itu.”

Maka, pernikahan antara Putri Bungsu dan Si biawak pun dilangsungkan dengan menggelar pesta yang meriah. Meski bersuamikan seekor biawak, namun Putri Bungsu menerimanya dengan ikhlas.

Ketika malam setelah pesta pernikahan itu berakhir, Putri Bungsu pun tidur di dalam kamarnya bersama Si biawak. Putri Bungsu langsung tertidur karena lelahnya, sementara Si biawak dengan gerakan perlahan-lahan menuruni ranjang. Ketika tengah malam tiba, Putri Bungsu mendadak terbangun. Ia sangat kaget saat mendapati seorang lelaki yang sangat tampan wajahnya berbaring di sisinya. Ia pun berteriak sekeras-kerasnya dengan menyebutkan adanya pemuda asing di dalam kamarnya. Para prajurit pun segera berdatangan ke kamar Putri Bungsu. Mereka terheran-heran ketika mendapati tidak ada pemuda asing yang disebutkan Putri Bungsu. Putri Bungsu sendiri juga terheran-heran karena pemuda asing itu mendadak menghilang.

Kejadian itu membuat Putri Bungsu merasa sangat penasaran. Ia tidak sedang bermimpi ketika mendapati seorang pemuda berwajah tampan berbaring di sebelahnya. Lantas, siapakah pemuda berwajah tampan itu? Mengapa pula pemuda itu bisa leluasa memasuki kamarnya tanpa diketahui para prajurit penjaga? Ke mana pula suaminya yang berwujud biawak itu berada?

Putri Bungsu merasa harus membuka rahasia besar itu. Keesokan malamnya ia berpura-pura tidur. Dalam keadaan terjaga itu ia merasakan kehadiran seorang lelaki yang berbaring di sampingnya. Dengan gerakan cepat, Putri Bungsu langsung memegang tangan Si pemuda dan berujar keras, “Siapakah engkau? Mengakulah, sebelum aku berteriak memanggil prajurit penjaga!”

“Janganlah engkau berteriak-teriak seperti itu, istriku,” jawab Si pemuda.

“Apa? Aku ini istrimu? Jangan engkau semba- rangan berbicara! Suamiku adalah seekor biawak!”

Si pemuda berwajah tampan itu pun mem-buka siapa jati dirinya. Ia adalah seorang’lelaki yang dikutuk Dewa hingga menjadi seekor biawak karena kesalahannya. Katanya kemudian, “Lihatlah sendiri kulit biawak yang kuletakkan di sudut kamar itu.”

Putri Bungsu langsung mengambil kulit biawak itu dan membakarnya. Sejak saat itu Si pemuda berwajah amat tampan itu tidak lagi bisa mengubah diri menjadi biawak. Kutukan Dewa padanya musnah seiring musnahnya kulit biawak itu dibakar oleh orang yang bersedia lagi ikhlas menikah dengannya.

Putri Bungsu akhirnya hidup berbahagia bersama suaminya yang sangat tampan wajahnya lagi sangat sakti itu. Keenam kakak Putri Bungsu merasa menyesal telah menolak menikah dengan biawak yang ternyata seorang pangeran berwajah sangat tampan itu.

 

ORANG YANG IKHLAS MENERIMA SESUATU AKAN MENDAPATKAN KEUNTUNGAN DI KEMUDIAN HARI.