Kategori: Kalimantan Tengah

Ambun dan Rimbun – Cerita Rakyat Kalimantan Tengah
Ambun dan Rimbun – Cerita Rakyat Kalimantan Tengah

Dua anak lelaki pada masa lampau. Keduanya kakak beradik. Ambun dan Rimbun nama keduanya. Sangat mirip wajah dan perawakan tubuh keduanya. Banyak orang menyangka, Ambun dan Rimbun adalah dua saudara kembar.

Ambun dan Rimbun adalah anak-anak yang baik. Keduanya sangat menghormati dan menyayangi ibu mereka. Terlebih-lebih setelah ayah mereka meninggal dunia. Keduanya juga hormat dan ringan tangan membantu warga sekitar kediaman mereka. Orang-orang pun menyayangi Ambun dan Rimbun.

Keluarga Ambun dan Rimbun hidup sangat sederhana. Ambun dan Rimbun berniat memperbaiki kehidupan mereka. Keduanya ingin merantau. Keinginan itu mereka sampaikan pada ibu mereka.

“Ibu, perkenankan kami untuk pergi merantau,” kata Ambun.

“Mengapa kalian ingin pergi merantau?”

Ambun dan Rimbun menjelaskan, mereka ingin merubah kehidupan keluarga mereka menjadi lebih baik. Selain itu, keduanya ingin mendapatkan pengalaman hidup yang lebih.

Ibu keduanya terdiam. Ia bisa membenarkan keinginan dua anaknya itu. Tapi, ia merasa berat hati berpisah dengan keduanya. Setelah memikirkan masak-masak, ia akhirnya mengizinkan.

“Kuizinkan kalian merantau,” kata sang ibu. “Namun, senantiasa ingatlah baik-baik pesanku ini.”

Arum dan Rimbun sungguh-sungguh mendengarkan pesan ibu mereka.

“Hendaklah kalian mengupayakan untuk selalu bersatu. Jika kalian terpaksa berpisah, kalian harus saling memberi kabar,” kata sang ibu. “Selain itu, kalian hendaklah senantiasa menghormati dan menyayangi orang-orang yang kalian temui. Berbuatlah baik kepada mereka, sekali-kali jangan kalian berbuat jahat.”

“Ya, Bu,”jawab Ambun dan Rimbun bersamaan.

Ambun dan Rimbun bersiap-siap.

Sebelum keesokan harinya berangkat, pada malam harinya sang ibu berdoa kepada Tuhan. Ia memohon agarTuhan melindungi dan memberkahi perjalanan kedua anaknya. Semoga Tuhan berkenan memberikan pertolongan-Nya pada Arum dan Rimbun. Semoga kebahagiaan yang akan didapatkan dua anaknya itu.

Pada malam hari itu pula sang ibu memanggil kedua anaknya. Di hadapan Ambun dan Rimbun, sang ibu membuka peti beSi kecil. Isinya dua keris pusaka peninggalan mendiang ayah Ambun dan Rimbun. Dua keris pusaka itu berlilitkan kain. Satu keris berlilitkan kain berwarna merah dan satu lainnya berwarna kuning.

“Telah kutunaikan wasiat ayah kalian,” kata sang ibu. “Peti beSi ini baru kubuka setelah kalian besar. Kini, kutunaikan wasiat ayah kalian lainnya. Masing-masing dari kalian kuberikan satu keris pusaka ini.”

Sang ibu memberikan keris pusaka berlilitkan kain berwarna merah untuk Ambun. Rimbun mendapat keris pusaka berlilitkan kain berwarna kuning.

“Anak-anakku,” kata sang ibu. “gunakan pusaka peninggalan ayah kalian itu hanya jika kalian dalam keadaan terdesak. Jangan kalian gunakan secara sembarangan.”

“Ya, Bu,” janji Ambun dan Rimbun.

Keesokan harinya, ibu Ambun dan Rimbun telah menyiapkan perbekalan untuk kedua anaknya itu. Ia memasak ketupat. Empat belas buah jumlahnya, untukAmbun dan Rimbun masing-masing tujuh buah ketupat. Juga telur rebus dengan jumlah yang sama untuk kakak beradik itu. Sang ibu juga telah menyembelih seekor ayam jantan dan merendam beras. Keduanya digunakan untuk ritual adat guna memohon keselamatan serta perlindungan Tuhan bagi Ambun dan Rimbun.

Waktu keberangkatan tiba. Tak banyak barang bawaan Ambun dan Rimbun. Keduanya lantas berpamitan. Sang ibu mencium kening Ambun dan Rimbun diiringi isak tangisnya.

“Berangkatlah anak-anakku, semoga perjalananmu diberkahi Tuhan.”

Ambun dan Rimbun memulai perjalanan pengembaraan mereka. Mereka berjalan ke arah barat tanpa tujuan pasti. Keduanya menyeberangi sungai, melewati lembah, dan mendaki bukit serta gunung. Jika mereka merasa leJah, Ambun dan Rimbun sejenak beristirahat. Mereka memakan bekal ketupat dan telur. Sengaja mereka memakan sedikit mengingat keduanya belum memiliki tujuan pasti.

Berhari-hari Ambun dan Rimbun terus berjalan. Pada hari ketujuh, Rimbun jatuh sakit. Entah penyakit apa yang menyerangnya, keluar darah segar dari mulut Rimbun. Tak terkirakan bingungnya Ambun. Ia berusaha mencari daun dan akar tanaman obat yang dikenalnya. Diberikannya ramuan obat itu pada adiknya. Namun, adiknya tidakjuga sembuh. Malah, penyakitnya semakin bertambah parah. Rimbun akhirnya meninggal dunia.

Tak terkirakan kesedihan Ambun. Ia menangis hebat sambil memeluk tubuh membeku adiknya. Ia merasa bersalah telah mengajak adiknya untuk mengembara. Jika tahu seperti itu jadinya, ia memilih untuk tetap tinggal bersama ibunya.

NaSi telah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa diperbuat Ambun kecuali menguburkan adik tercintanya itu. Bekal ketupat dan telur adiknya turut dimasukkannya ke dalam kuburan adiknya. Keris milik adiknya ditancapkannya pada bagian kepala kuburan adiknya, sementara sarung kerisnya ditancapkannya pada bagian kaki. Kain pelilit keris berwarna kuning diikatkannya pada sebatang kayu kecil, turut ditancapkannya pada kuburan adiknya.

Ambun melanjutkan perjalanan. Ia terus berjalan dan sejenak beristirahat jika didera lelah. Setelah beberapa hari berjalan, bekal perjalanannya telah habis. Ambun bingung memikirkan makanan untuk meneruskan perjalanan.

Mendadak Ambun melihat asapdi kejauhan. Ia bergegas menuju asap itu. Ia yakin, pasti ada seseorang yang ditemuinya di tempat sumber asap. Cukup jauh ternyata sumber asap itu. Hampir menjelang datangnya malam ia baru sampai. Ambun melihat sebuah rumah. Seorang perempuan tua dilihatnya di depan rumah itu.

Ambun menghampiri.

Perempuan tua itu terkejut mendapati kedatangan Ambun. Tanyanya, “Hei anak muda, siapakan engkau ini?”

Ambun menjelaskan siapa dirinya dan penyebab ia sampai di tempat itu. Diceritakannya pula nasib mengenaskan yang dialaminya karena kematian adiknya dalam perjalanan.

Si perempuan tua jatuh iba. Ia mengajak Ambun memasuki rumahnya. Diberikannya makanan dan minuman untuk Ambun. Sejak saat itu Ambun pun menemani Si perempuan tua yang telah menganggap Ambun sebagai cucunya.

Tanpa diketahui Ambun, Si perempuan tua itu sesungguhnya merupakan keluarga Raja daerah itu. Si perempuan tua diusir dari istana kerajaan karena menikah dengan suaminya yang tidak direstui kerajaan. Si perempuan tua terpaksa hidup sendirian dalam pengasingannya hingga akhirnya bertemu dengan Ambun.

Berita tentang seorang pemuda yang menemani Si perempuan tua didengar Sang Raja. kebetulan, Sang Raja akan mengadakan sayembara untuk mencari suami bagi putrinya. Maka, Sang Raja memerintahkan para prajurit untuk mendatangi Ambun dan Si perempuan tua.

Lima prajurit kerajaan datang menemui Si perempuan tua dan Ambun. Salah seorang prajurit mengatakan, “Raja memintamu untuk mengikuti sayembara. Sangat besar hadiah yang dianugerahkan Sang Raja bagi pemenang sayembara. Ia akan dinikahkan dengan Putri Raja.”

“Sayembara apa yang bisa diikuti cucuku ini?” tanya Si perempuan tua.

“Peserta sayembara harus bisa melompat dari halaman istana untuk mengambil bunga melati yang ditempatkan di atas istana,” jawab Si prajurit. “Setelah mengambilnya, ia harus menyerahkannya pada Putri Raja.”

Si perempuan tua terkejut dan sedih. Sayembara itu terlalu berat untuk diikuti Ambun. Terlebih-lebih ia mengetahui, Sang Raja pasti akan menimpakan hukuman yang sangat berat bagi peserta sayembara yang gagal.

“Apa hukuman bagi peserta sayembara yang gagal?” tanya Si perempuan tua.

“Dihukum gantung di alun-alun kerajaan!” jawab Si prajurit. “Sayembara akan diadakan esok hari. Sang Raja mengharap kedatanganmu, anak muda. Jangan sampai engkau tidak datang!”

Si perempuan tua menangis sedih sepeninggal para prajurit itu. Ia merasa akan kehilangan Ambun yang telah dianggapnya sebagai cucunya itu. Sementara Ambun tetap bersikap tenang.

Ketika malam tiba, Ambun menunjukkan keris pusaka miliknya. Diserahkannya keris itu pada Si perempuan tua.

“Nenek,” kata Ambun. “Aku mohon doa dan restumu untuk mengikuti sayembara esok hari.”

“Doa dan restuku akan senantiasa mengiringimu, cucuku.”

Si perempuan tua melakukan ritual adat untuk memohon Tuhan agar Ambun diberi- Nya keselamatan serta keberhasilan dalam mengikuti sayembara. Ia membakar kemenyan dan menaburkan beras kuning.

Keesokan harinya Ambun bersiap. Ia meminta Si perempuan tua untuk melihatnya mengikuti sayembara.

“Baiklah, cucuku,” jawab Si perempuan tua.

Lima prajurit kerajaan kembali datang. Mereka mengajak Ambun menuju istana kerajaan. Si perempuan mengikuti mereka dari belakang. Sepanjang perjalanan, Si perempuan tidak putus-putusnya berdoa demi keselamatan dan keberhasilan Ambun.

Halaman istana telah dipenuhi penonton. Para peserta sayembara telah pula bersiap untuk mengikuti sayembara. Di antara mereka terdapat tujuh pangeran yang berasal dari Kerajaan Sang Sambaratih. Mereka ternama sakti dan yakin bisa memenangkan sayembara.

Kedatangan Ambun disambut ledekan dan cemoohan para peserta sayembara lainnya. Tujuh pangeran dari Kerajaan Sang Sambaratih bahkan mentertawakannya.

“Hei anak kampung!” salah seorang pangeran meledek. “Untuk apa kamu mengikuti sayembara? Lebih baik engkau menggembala kambingmu saja!”

“Jangan kau terlalu tinggi berharap bisa bersanding dengan Putri Raja,” sambung seorang pangeran lainnya.

“Apa kau tidak sayang dengan nyawamu?” ujar seorang pangeran lainnya. “Bisa jadi hari ini engkau akan menjalani hukuman gantung jika engkau gagal!”

Ambun tidak menanggapi semua ledekan dan cemoohan yang tertuju padanya.

Sayembara dimulai. Masing-masing peserta mencoba menunjukkan kemampuannya. Ternyata sayembara itu sangat sulit. Semua peserta tidak mampu melompat tinggi hingga mencapai atap istana untuk mengambil bunga melati. Tujuh pangeran dari Kerajaan Sang Sambaratih pun gagal. Peserta yang tersisa hanya tinggal Ambun.

Ambun mengambil ancang-ancang. Ia berlari kencang-kencang dan menjejakkan kaki di tanah sambil menghunus keris pusakanya. Ia menyebut nama ayahnya ketika mulai melompat.

Tubuh Ambun melesat ke atas. Gerakan tubuhnya cepat laksana menembus angin. Dengan cekatan ia menyambar bunga melati di atap istana dan melompat turun di hadapan Sang Putri. Dengan sikap hormat, Ambun menyerahkan bunga melati itu pada Sang Putri. Para penonton terperangah melihat kemampuan hebat yang ditunjukkan Ambun. Mereka bersorak-sorai dan riuh bertepuk tangan menyambut keberhasilan Ambun.

Sang Raja tersenyum melihat keberhasilan Ambun. Ia berdiri dan meminta semua untuk hening.

“Dengan ini kuumumkan,” kata Sang Raja, “pemenang sayembara ini adalah Ambun!”

“Tunggu!” mendadak terdengar seruan dari salah seorang Pangeran dari Kerajaan Sang Sambaratih. “Kami tidak bisa menerima kemenangannya!”

“Bukankah kalian telah gagal dalam sayembara tadi? Lantas, apa keinginan kalian?”

“Kami nyatakan kerajaan kami berperang melawan kerajaan ini!”

“Siapa yang kalah, hendaklah bersiap menjadi budak sang pemenang!” seru salah seorang pangeran lainnya.

Sang Raja terkejut. Tantangan perang itu sangat mendadak dan tidak pada tempatnya. Sang Raja menghampiri Ambun. Katanya, “Bagaimana pada pendapatmu? Apakah kita menerima tantangan perang dari Kerajaan Sang Sambaratih?”

“Hamba akan mencoba mencari jalan terbaik, Tuanku Raja,” jawab Ambun.

Ambun lalu menghampiri tujuh pangeran dari Kerajaan Sang Sambaratih. Ia meminta baik- baik agar tujuh pangeran itu mengurungkan niat mereka berperang. Perang hanya akan menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan. Tidak ada untungnya suatu masalah diselesaikan melalui jalan peperangan.

Tujuh pangeran Kerajaan Sang Sambaratih yang sombong itu tidak mau mendengarkan ucapan Ambun. Mereka bahkan menyerang Ambun dengan serangan gencar lagi mematikan. Tidak ada pilihan lain bagi Ambun selain melawan.

Pertarungan yang seru terjadi. Ambun terus terdesak karena keroyokan tujuh pangeran sombong itu. Terpaksa ia mengeluarkan keris pusakanya. Tak berapa lama kemudian ia telah mampu mengalahkan tujuh pangeran itu.

Tujuh pangeran Kerajaan Sang Sambaratih menyatakan kesediaan mereka menjadi budak Ambun setelah mereka kalah. Namun, Ambun meminta mereka untuk kembali ke kerajaannya.

Sang Raja sangat gembira melihat kebijakan Ambun. Ia pun segera mengumumkan rencana pernikahan putrinya dengan Ambun. Semua warga kerajaan dan rakyat menyambut gembira rencana pernikahan itu. Mereka bergembira ketika pernikahan Ambun dan Putri Raja dilangsungkan secara meriah.

Ambun telah menjadi menantu raja. Ia tinggal di istana. Hubungan Sang Raja dan Si perempuan tua juga dipulihkan. Si perempuan tua diperkenankan lagi tinggal di lingkungan istana.

Waktu terus berlalu. Suatu hari Sang Raja menyatakan jika ia tidak mampu lagi memerintah kerajaan. Ia memutuskan untuk mengangkat Ambun menjadi penggantinya. Ambun pun dinobatkan menjadi raja kerajaan itu.

Setelah bertakhta, Ambun memerintahkan para prajuritnya untuk mengiringinya menuju desa kelahirannya. Raja Ambun mengajak ibunya untuk tinggal di istana.

Ibu Ambun gembira tinggal di istana. Namun, ia merasa sangat sedih jika mengingat Rimbun. Ia terus berduka kehilangan salah seorang anaknya itu.

Raja Ambun menyadari. Ia lalu meminta para prajuritnya untuk mengiringinya. Mereka akan menuju Bukit Kaminting. Di bukit itu mereka akan mencari Danum Kaharingan Belom atau air kehidupan. Perjalanan menuju Bukit Kaminting sulit dilakukan. Penuh halangan dan hambatan. Namun, berkat semangat dan tekad yang membara, Raja Ambun dan segenap prajuritnya mampu melewati hambatan itu. Mereka tiba di Bukit Kaminting. Raja Ambun mendapatkan air kehidupan, setelah melalui perjuangan yang berat.

Raja Ambun lalu menuju kuburan adiknya. Susah payah Raja Ambun mencari kuburan yang dibuatnya dulu hingga akhirnya ia menemukannya. Di atas kuburan Rimbun, Raja Ambun menuangkan Danum Kaharingan Belom. Keajaiban pun terjadi. Rimbun kembali hidup. Dua saudara itu saling berpelukan melepas kerinduan. Raja Ambun membawa adik tercintanya itu ke istana. Mereka kemudian hidup berbahagia bersama ibu yang sangat mereka cintai dan mencintai mereka.

 

DOA DAN RESTU ORANG TUA SANGAT BERGUNA BAGI SEORANG ANAK. SELAIN ITU, SEORANG ANAK HENDAKLAH MENGHORMATI JASA DAN PENGORBANAN ORANG TUA.

Batu Bagaung – Cerita Rakyat Kalimantan Tengah
Batu Bagaung – Cerita Rakyat Kalimantan Tengah

Seorang putri raja yang akan mandi di sungai dengan ditemani tujuh dayang- dayangnya. Dengan dibantu empat dayang- dayangnya, sang putri raja lantas mencuci rambutnya dengan bahan khusus. Bahan itu terdiri dari biji-biji wijen dan jeruk nipis. Biji-biji wijen yang digoreng kemudian ditumbuk hingga halus dan lalu dicampurkan dengan perasan air jeruk nipis. Gampuran bahan itu biasa digunakan sang putri raja untuk mencuci rambut hingga rambutnya dapat tumbuh lebat lagi indah. Selesai mencuci rambut, sang putri raja lantas berendam di sungai. Empat orang dayang-dayangnya turut pula berendam di dekat sang putri. Sementara itu tiga orang dayang-dayang lainnya memetik bunga- bunga yang tumbuh subur di pinggir sungai. Bunga-bunga itu akan mereka buat hiasan untuk dikenakan Sang Putri Raja setelah selesai mandi.

Suasana yang tenang lagi tenteram itu mendadak dipecahkan oleh kedatangan gelombang air yang bergerak dahsyat. Gelombang air yang datang tiba-tiba tersebut menenggelamkan sang putri raja beserta empat orang dayang-dayangnya. Maka, kegemparan pun seketika melanda kerajaan ketika sang putri raja beserta empat orang dayang- dayangnya itu menghilang ketika gelombang air telah berlalu. Segenap warga kerajaan dan juga penduduk beramai-ramai mencari putri raja. Namun, putri raja beserta empat orang dayang- dayangnya itu tidak juga berhasil ditemukan.

Takterperikan kesedihan Sang Raja mendapati hilangnya putrinya. Ia pun teringat pada seorang pertapa sakti yang berdiam di pinggir hutan yang tidak jauh dari istana kerajaannya. Sang pertapa sakti itu kerap disebut Sang Pangelaran karena ia mampu memasuki kerajaan bawah air dengan tubuh tetap kering. Sang Pangelaran itu segera dipanggil untuk datang ke istana kerajaan guna menghadap Sang Raja.

Dengan mengenakan pakaian kuning keemas-an yang menjadi ciri khasnya, Sang Pangelaran datang menghadap Sang Raja. Katanya kemudian, “Putri Paduka masih hidup. Paduka sendiri yang harus datang menjemputnya ke kerajaan Bawah Air.”

Sang Raja menyatakan kesediaannya. Ia dengan iringan Sang Pangelaran lantas menuju sungai. Sang Pangelaran meminta Sang Raja memejamkan mata. Seketika Sang Raja diminta membuka mata, ia telah berada di sebuah kerajaan. Sangat ramai kerajaan itu seperti hendak mengadakan sebuah pesta yang meriah. Hanya satu hal yang membuat Sang Raja keheranan. Ia tidak mendapati adanya anak-anak di kerajaan itu. kebanyakan orang yang ditemui dan dilihatnya adalah orang-orang tua yang terlihat lemah dan tidak berdaya.

Sang Pangelaran terus mengajak Sang Raja menuju istana Kerajaan Bawah Air. Kepada para prajurit yang menjaga pintu gerbang istana kerajaan, Sang Pangelaran menyatakan hendak menghadap Maharaja Bawah Air. Sang Pangelaran dan Sang Raja lantas dibawa ke sebuah balairung yang megah.

Maharaja Bawah Air datang ketika Sang Pangelaran dan Sang Raja telah duduk di kurSi indah berlapis emas yang disediakan untuk tamu agung kerajaan Bawah Air. Maharaja Bawah Air mengenakan pakaian yang indah gemerlapan laksana terbuat dari lempengan-lempengan emas murni. Ia juga mengenakan mahkota kerajaan yang sangat berkilauan sehingga Sang Raja sangat sulit menatap wajah Maharaja Bawah Air itu.

Sang Raja menyampaikan permohonannya untuk menjemput putri tercintanya.

Maharaja Bawah Air tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan Sang Raja. Ia lantas menyebutkan keadaan istana kerajaannya yang terlihat kotor. Katanya pula, “Tidakkah Paduka melihat rakyat kerajaanku? Anak-anak kami mati dan rakyatku yang tersisa telah tua usianya lagi menyedihkan keadaannya! Mereka lemah dan tidak berdaya. Untuk Paduka ketahui, semua itu disebabkan putri Paduka!”

Sang Raja terperanjat mendengar ucapan Maharaja Bawah Air. “Bagaimana mungkin semua kerusakan itu disebabkan oleh putri saya?” tanyanya.

“Ketahuilah,” seru Maharaja Bawah Air, “Putrimu itu gemar mencuci rambutnya dengan tumbukan biji wijen yang digoreng dan kemudian dicampurjeruk nipis. Ketahuilah, bahan-bahan itu adalah racun bagi rakyat kami! Anak-anak kami mendadak mati terkena racun itu! Rakyat kami yang telah tua usianya menjadi lemah tubuhnya dan tidak berdaya. Bahkan, untuk berjalan pun mereka sempoyongan! Maka, siapa yang melakukan kerusakan, dia pula yang harus menanggung akibatnya. Putrimu harus menjadi tumbal karena perbuatan buruknya kepada kami!”

Sang Raja amat sedih mendengar penjelasan Maharaja Bawah Air. Sama sekali tidak diduganya jika kebiasaan putri tunggalnya itu berdampak kerusakan bagi kerajaan Bawah Air. Sang Raja lantas berujar, “Maafkan kesalahan putri saja, Maharaja. Sesungguhnya ia tidak mengetahui sama sekali jika perbuatannya itu menimbulkan kerusakan di kerajaan Paduka. Maafkan anak perempuan satu-satunya yang saya miliki itu.”

Maharaja Bawah Air terdiam beberapa saat. Ia seperti bisa merasakan kepedihan Sang Raja jika harus berpisah dengan putri satu-satunya itu untuk selama-lamanya. Katanya kemudian setelah merenung, “Apakah Paduka bersedia mengadakan perjanjian denganku seandainya putrimu itu kembali kepadamu?”

Sang Raja langsung menganggukkan kepala. “Saya bersedia,” tegasnya.

“Baiklah, aku mengadakan dua perjanjian denganmu,” kata Maharaja Bawah Air. “Pertama, semua warga kerajaan Paduka tidak diperkenankan sekali-kali untuk mencuci rambut di sungai dengan campuran biji wijen yang digoreng dan jeruk nipis. Kedua, perjanjian ini terus berlangsung hingga anak keturunan kita selama-lamanya. Bagaimana? Apakah Paduka dapat menerima perjanjian ini?”

Secara langsung Sang Raja telah melihat kerusakan parah dan juga kehancuran di kerajaan Bawah Air akibat kegemaran putrinya mencuci rambut. Ia dapat merasakan kesedihan Maharaja Bawah Air. Seandainya rakyatnya sendiri yang mengalami kerusakan seperti itu, bisa jadi ia tidak hanya bersedih, melainkan akan murka pula. Sang Raja dengan mantap menganggukkan kepala. Katanya, “Saya bersedia mengikat perjanjian dengan Paduka.”

“Jika perjanjian ini dilanggar, maka siapa pun juga yang melanggar harus membayar ganti rugi yang sepadan dengan bentuk pelanggarannya,” kata Maharaja Bawah Air selanjutnya. “Apakah Paduka juga setuju dengan pernyataanku ini?”

“Saya setuju,” jawab Sang Raja.

Maharaja Bawah Air segera memanggil prajuritnya untuk membawa Sang Raja dan Sang Pangelaran menuju tempat putri raja berada. Sang Raja sangat keheranan karena dibawa ke kendang kambing. Di kandang kambing itu Sang Raja tidak melihat putri dan juga empat dayang-dayang. Yang dilihatnya hanyalah lima ekor kambing yang langsung mengembik ketika melihatnya datang. Belum juga reda keheranan Sang Raja, ia juga mendapati para prajurit Kerajaan Bawah Air yang mengantarnya juga telah menghilang.

“Di mana putriku dan empat dayang- dayangnya?” tanya Sang Raja. “Lantas, apa pula yang harus kita lakukan?”

Sang Pangelaran lantas menggapit tangan Sang Raja untuk membawa lima kambing itu keluar dari kandang kambing. Seketika kambing- kambing itu telah dikeluarkan dari kandang kambing, mendadak istana Kerajaan Bawah Air itu menghilang. Semuanya berubah menjadi hitam. Sang Raja terpaksa memejamkan matanya. Ketika ia membuka matanya kembali, Sang Raja telah berada di pinggir sungai. Ia tidak sendirian, melainkan bersama Sang Pangelaran danjuga putri tunggalnya beserta empat dayang-dayangnya. Takterperikan kegembiraan Sang Raja mendapati putrinya telah kembali.

Sang Raja lantas mengumpulkan segenap rakyat yang dipimpinnya di alun-alun kerajaan. Di hadapan sekalian rakyatnya itu Sang Raja menyampaikan perjanjian yang telah dibuatnya bersama Maharaja Bawah Air. Segenap rakyat yang dipimpinnya dilarangnya untuk mencuci rambut dengan menggunakan tumbukan biji wijen yang digoreng yang dicampur dengan jeruk nipis. “Semua itu akan mengakibatkan kerusakan dan kehancuran di Kerajaan Bawah Air. Apakah kalian dapat menerima perjanjianku ini?”

Segenap rakyat menyatakan persetujuannya. Mereka merasa harus turut menjaga kelestarian Kerajaan Bawah Air.

“Siapa pun juga yang berani melanggar aturanku ini, maka ia akan dikenakan hukuman dan denda yang berat sesuai dengan pelanggarannya!” lanjut Sang Raja.

Sejak saat itu warga kerajaan tidak ada lagi yang berani mencuci rambut dengan menggunakan bahan-bahan yang menjadi racun bagi warga kerajaan Bawah Air. Mereka terus menjaga perintah Sang Raja dan tidak berani untuk melanggarnya. Mereka takut terkena hukuman, baik yang akan ditimpakan Sang Raja maupun Maharaja Bawah Air.

Konon, kerajaan Bawah Air tempat Maharaja Bawah Air bertakhta itu berada di sebuah teluk di Sungai Lamandau yang oleh masyarakat disebut Batu Bagaung. Hingga kini perjanjian antara Sang Raja dan Maharaja Bawah Air tetap dijaga dan dipertahankan.

 

KITA HENDAKLAH MENIAGA KELESTARIAN LINGKUNGAN DEMI KESEJAHTERAAN KITA BERSAMA DAN JUGA ANAK KETURUNAN KITA DI KEMUDIAN HARI. KERUSAKAN LINGKUNGAN TIDAK HANYA MENYENGSARAKAN KITA. NAMUN JUGA MENYENGSARAKAN ANAK KETURUNAN KITA.

Legenda Pulau Nusa – Cerita Rakyat Kalimantan Tengah
Legenda Pulau Nusa – Cerita Rakyat Kalimantan Tengah

Seorang lelaki bernama Nusa. Ia tinggal di pinggir Sungai Kahayan bersama istri dan adik iparnya. Nusa setiap hari menggarap sawah danjuga menangkap ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Suatu ketika terjadi musim kemarau yang terus berkepanjangan. Sungai dan mata air mengering. Aneka tanaman merenggas dan layu. Seperti halnya warga lainnya, Nusa merasakan kesulitan yang sangat dalam musim kemarau yang berkepanjangan itu. Tanaman di sawahnya layu dan mati, ia pun kesulitan untuk mencari ikan di sungai yang surut airnya itu. Nusa pun berkehendak untuk pindah ke daerah lain yang masih mempunyai sumber air untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Setelah menyiapkan bekal secukupnya, Nusa mengajak istri dan adik iparnya untuk berangkat. Dengan menaiki sebuah perahu kecil, mereka menuju hilir Sungai Rungan.

Perjalanan mereka menuju hilir Sungai Rungan itu tidak dapat lancar mereka lakukan. Sebatang pohon besar yang tumbang menghalangi laju perahu mereka. Satu-satunya cara agar mereka dapat meneruskan perjalanan adalah memotong batang pohon besar itu. Nusa dan adik iparnya segera bekerja memotong batang pohon itu dengan kapak. Sangat besar batang pohon itu hingga Nusa dan adik iparnya harus bekerja keras selama berjam-jam. Akibatnya, Nusa merasa lapar yang sangat. Nusa berkehendak mencari makanan di hutan untuk menghemat bekal mereka yang tidak seberapa. Nusa lalu mengajak adik iparnya menuju hutan.

Nusa menemukan telur yang cukup besar. Sekitar dua kali ukuran telur angsa. Nusa tidak mengetahui telur apa yang ditemukannya itu. Ia kemudian merebus telur itu dan memakannya sendirian karena istri dan adik iparnya tidak mau memakannya. Istrinya bahkan menyarankan agar Nusa tidak memakan telur itu. Namun, Nusa tetap bersikeras untuk memakannya.

Di tengah malam, Nusa terbangun dari tidurnya. Ia merasakan tubuhnya gatal luar biasa. Di sekujur tubuhnya juga terlihat bintik- bintik kemerah-merahan. Nusa telah menggaruk bagian-bagian tubuhnya, namun tidak juga mereda rasa gatal yang dirasakannya. Segera dibangunkannya istri dan adik iparnya untuk membantunya menggaruk. Namun demikian, Nusa tetap merasa gatal. Berbagai cara telah dilakukan, tetapjuga rasa gatal yang dirasakan Nusa itu tidak juga berkurang. Adik ipar Nusa yang kebingungan lantas mencari bantuan ke perkampungan terdekat.

Keesokan paginya tubuh Nusa mengalami perubahan yang sangat mengejutkan. Bintik-bintik berwarna kemerah-merahan di sekujur tubuh Nusa telah berubah menjadi sisik-sisik. Tubuh Nusa dari bagian perut hingga kaki telah juga memanjang hingga menyerupai bentuk naga. Hanya bagian wajah hingga dadanya saja yang masih menyerupai manusia. Dalam keadaan seperti itu Nusa pun berujar pada istrinya, “Aku rasa, semua yang terjadi pada diriku ini bermula dari telur yang kumakan. Telur itu tentu telur naga. Sungguh, aku menyesal karena tidak mendengarkan nasihatmu. Namun, bagaimanapun halnya, penyesalanku tidak lagi berguna. Tuhan telah menakdirkan aku menjadi naga. Aku harus menerima takdirku ini.”

Istri Nusa hanya bisa bersedih hati mendapati kejadian yang menimpa suaminya. Sementara warga yang dimintai tolong adik ipar Nusa akhirnya berdatangan. Mereka terheran-heran mendapati wujud Nusa tanpa bisa melakukan suatu tindakan apa pun untuk menolong Nusa.

Di hadapan semuanya, Nusa berpesan malam nanti akan turun hujan yang sangat leca: disertai angin badai yang dahsyat. Guntur da- petirakansambar-menyambar. Air sungai Runga’ akan meluap hingga membanjiri daerah-daera-. di sekitar sungai Rungan itu. Nusa juga berpesa- agar istrinya, adik iparnya, dan juga segenap warga mengungSi ke daerah yang aman. Nusa lantas meminta agar tubuhnya yang telah beruban menjadi naga dengan panjang lebih dari tiga kali pohon kelapa itu digulingkan ke sungai. Ia tidak tahan dengan terik panas sinar matahari. Naga jelmaan Nusa itu lantas berenang menuju muara Sungai Kahayan.

Pesan Nusa terbukti benar. Pada malam harinya keadaan di daerah itu persis seperti yang dipesankan Nusa. Hujan turun sangat deras, angin badai dahsyat menerjang, diiringi guntur dan petir yang sambung-menyambung. Permukaan Sungai Rungan terus meninggi dengan cepat. Banjir pun terjadi. Ketinggian air di daerah itu bahkan melebihi tingginya pepohonan. Istri Nusa, adik ipar Nusa, dan warga yang mendengarkan pesan Nusa dapat selamat setelah mengungSi di tempat yang aman.

Banjir besar di Sungai Rungan menyebabkan tubuh Nusa terbawa arus hingga akhirnya ia tiba di Sungai Kahayan. Sebelum menuju lautan luas, Nusa berkehendak berdiam di sebuah teluk yang dalam. Ia pun memangsa ikan-ikan yang berada di teluk itu.

Ikan-ikan yang berdiam di muara Sungai Kahayan itu menjadi cemas dengan kehadiran Nusa. Dengan nafsu makannya yang luar biasa, para ikan khawatir, Nusa akan memangsa mereka semua. Para ikan lantas bertemu dan berunding untuk mencari cara agar terbebas dari malapetaka yang diakibatkan Nusa itu. Ikan saluang (Sejenis ikan teri) tampil dengan rencananya yang akhirnya disetujui oleh para ikan.

Ikan saluang lalu menghampiri Nusa untuk mewujudkan rencananya. Ia sebutkan kepada Nusa, bahwa di laut luas ada seekor naga besar yang hendak menantang Nusa. Katanya, “Tuan Naga, naga di laut itu ingin mengadu kesaktian dengan Tuan untuk membuktikan siapa naga terkuat.”

Nusa sangat geram mendengar laporan ikan saluang. “Seberapa besar naga di laut itu?” tanyanya.

“Sesungguhnya naga itu tidak sebesar Tuan Naga,”jawab ikan saluang. “Namun keberaniannya sungguh luar biasa tinggi. Ia sangat terusik dengan kehadiran Tuan Naga di muara Sungai Kahayan ini. Menurut kabar yang saya dengar, naga itu tengah menuju ke muara Sugai Kahayan ini untuk menyerang Tuan Naga!”

Bertambah-tambah kegeraman Nusa. Ingin segera didatanginya naga itu dan mengadu ke-kuatan dengannya. Namun, ikan saluang menya-rankan agar Nusa menunggu saja di muara Sungai Kahayan itu. “Hendaklah Tuan Naga menyimpan tenaga untuk menghadapi naga besar itu di tempat ini. Jika Tuan Naga mencarinya di laut luas, bisa jadi Tuan Naga akan kelelahan. Bukankah naga itu bisa mengalahkan Tuan Nagajika Tuan Naga kelelahan?”

Nusa setuju dengan saran ikan saluang. Berhari-hari Nusa terus menunggu kedatangan naga besar dari laut dengan sikap waspada. Selama menunggu itu ia tidak berani tidur. Ia khawatir naga di laut itu akan menyerangnya ketika ia tengah tertidur. Karena telah berhari-hari tidak tidur, Nusa menjadi sangat mengantuk. Tertidurlah ia tak lama kemudian.

Ketika mengetahui Nusa tertidur, ikan saluang mendekati ekor Nusa. Berteriaklah ia sekeras- kerasnya, “Bangun Tuan Naga! Musuhmu telah datang! Musuhmu telah datang!”

Nusa terperanjat mendengar teriakan ikan saluang. Cepat ia memutarkan kepalanya. Ge-rakannya yang tiba-tiba itu membuat air sungai bergolak-golak. Ia menyangka bergolaknya air sungai itu disebabkan kedatangan musuhnya yang akan menyerangnya. Padahal, bergolaknya air itu disebabkan oleh gerakan ekornya sendiri. Nusa langsung menyerang. Digigitnya ekornya sendiri yang disangkanya musuhnya itu hingga ekornya terputus!

Nusa menjerit kesakitan ketika ekornya putus.

Ikan saluang segera memanggil ikan-ikan lainnya untuk menggigiti luka pada tubuh Nusa. Nusa yang tidak berdaya kian kesakitan akibat gigitan ikan-ikan itu. Kekuatan tubuhnya terus melemah dan ia pun akhirnya tewas setelah kehabisan darah. Seluruh ikan terus memangsa dagingnya hingga hanya tersisa tulang-belulang Nusa.

Tulang-belulang Nusa akhirnya tertimbun oleh lumpurdan tanah. Aneka pepohonan kemudian tumbuh di tempat itu hingga akhirnya terbentuk sebuah pulau. Warga menyebut pulau di muara Sungai Kahayan itu dengan nama Pulau Nusa.

 

KITA HENDAKLAH MENDENGARKAN SARAN DAN NASIHAT ORANG LAIN DEMI KEBAIKAN KITA SENDIRI. ORANG YANG KERAS KEPALA DENGAN MENGABAIKAN SARAN KEBAIKAN AKAN MERASAKAN KERUGIAN SENDIRI DI KEMUDIAN HARI.

Sangi Sang Pemburu – Cerita Rakyat Kalimantan Tengah
Sangi Sang Pemburu – Cerita Rakyat Kalimantan Tengah

Di daerah ali ran Sungai Mahoroi hiduplah seorang lelaki bernama Sangi. Ia dikenal sebagai pemburu tangguh. Piawai ia menyumpit. Sangat jarang sumpitannya meleset dari sasaran yang dibidiknya.

Pada suatu hari ia kembali berburu di hutan. Ketika itu Sangi merasakan keanehan yang sangat mengherankannya. Sama sekali ia tidak melihat seekor hewan buruan. Tidakjuga hewan-hewan besar maupun hewan-hewan kecil. Karena tidak juga menemukan hewan buruan setelah berusaha keras mencari, Sangi pun berniat pulang kembali ke rumahnya. Hatinya kesal berbaur sedih. Serasa untuk pertama kali dalam perburuannya, Sangi pulang dengan tangan hampa.

Dalam perjalanan pulangnya, Sangi melewati pinggir sungai. Terbelalak la ketika melihat kondiSi pinggir sungai itu yang terlihat keruh. Sangi mengerti, itu pertanda ada babi hutan yang baru saja minum air dari sungai itu. Dengan hati-hati Sangi meneliti. Benar dugaannya. Ia menemukan jejak-jejak kaki babi hutan di tanah di dekat sungai itu. Sangi pun bergegas mengikuti jejak kaki tersebut.

Sangi akhirnya menemukan babi hutan itu. Namun, sangat mengerikan keadaannya. Sebagian tubuh babi hutan itu telah berada di dalam mulut seekor ular raksasa!

Sangi hanya terdiam, tidak sempat ia berlari atau bersembunyi.

Sementara itu Si ular raksasa terus berusaha menelan mangsanya. Beberapa kali ia berusaha namun babi hutan itu tidakjuga berhasil ditelannya. Akhirnya dikeluarkannya lagi tubuh babi hutan itu. Pandangan galaknya segera tertuju kepada Sangi. Seketika itu Si ular raksasa menjelma menjadi seorang pemuda gagah berwajah tampan. Ia berjalan tenang menghampiri Sangi. Katanya seraya memegang tangan Sangi, “Telanlah utuh- utuh babi hutan itu!”

Sangi sangat terkejut. “Aku … aku tidak bisa melakukannya …”

“Cepat lakukan!” bentuk Si pemuda.

Sangi menurut. Ditangkapnya babi hutan itu dan kemudian menelannya. Sangat mengherankan, ia mampu menelan tubuh babi hutan itu utuh-utuh!

“Karena engkau telah melihatku ketika menelan babi hutan, maka kini engkau pun menjadi ular jadi-jadian!” kata Si pemuda.

Si pemuda jelmaan ular itu lantas menjelaskan bahwa Sangi yang telah menjadi ular jadi-jadian itu akan dapat hidup abadi dan mempertahankan kemudaannya. “Semua itu akan terjadi jika engkau dapat menjaga rahasiamu ini. Sekali rahasiamu ini engkau buka, maka engkau akan menjadi ular raksasa! Engkau paham?”

Sangi berjanji untuk tidak sekali-kali mem-bocorkan rahasia dirinya itu. Jika diminta memilih, ia tidak ingin menjadi ular raksasa. Ia tetap ingin menjadi manusia. Sangat senang pula ia jika dapat hidup abadi dan mempertahankan kemudaannya jika ia mampu menjaga rahasia besar dirinya itu sesuai pesan Si pemuda jelmaan ular raksasa.

Seak saat itu Sangi senantiasa menutup rapat-rapat rahasianya. Kepada siapa pun juga ia tidak mengungkapkannya. Termasuk kepada istri dan anak-anaknya maupun juga kerabat dekatnya. Namun, anak-anak Sangi yang merasa keheranan dan penasaran. Sejak mereka masih kanak-kanak hingga dewasa dan akhirnya tua, mereka mendapati ayah mereka tetap muda. Ayah mereka tetap seperti pemuda meski umurnya telah mencapai seratus lima puluh tahun!

Berawal dari keheranan dan penasaran itu anak-anak Sangi pun berulang-ulang bertanya pada Sangi, mengapa Sangi tetap terlihat muda meski telah sangat panjang usianya.

Semula Sangi masih dapat menjaga rahasianya dengan mengemukakan berbagai alasan. Namun, karena keluarganya terus mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, jengkel pula Sangi dibuatnya. Sangi yang tidak tahan lagi akhirnya membuka rahasia dirinya. Akibatnya, tubuh Sangi mengalami perubahan. Sangi berubah menjadi ular raksasa. Dengan kemarahan yang meluap, Sangi pun mengutuk, “Kalian semua akan mati seluruhnya dalam waktu singkat dalam pertikaian antarsesamamu!”

Sangi kemudian mengambil harta kekaya-annya yang berupa keping-keping emas yang disimpannya dalam sebuah guci besar. Ia lantas menuju Sungai Kahayan dan memutuskan menjadi penjaga Sungai Kahayan di bagian hulu. Seketika tiba di pinggir Sungai Kahayan, Sangi menyebarkan emas-emas miliknya seraya mengemukakan kutukannya, “Siapa saja yang berani mendulang emas di daerah ini, maka ia akan mati tak lama setelah itu! Emas hasil dulangannya akan dipergunakan untuk mengupacarakan kematiannya!”

Maka sejak saat itu anak Sungai Kahayan tempat di mana Sangi menjaga itu kemudian disebut Sungai Sangi. Sungai itu sangat dikeramatkan orang. Mereka tidak berani mendulang emas di tempat itu meski mereka meyakini emas sebesar labu kuning banyak terdapat di sana. Semuanya takut terkena kutukan Sangi. Ketakutan mereka tampaknya beralasan, karena tidak sedikit dari penduduk yang mengaku pernah melihat ular raksasa sedang duduk bersantai di atas bongkahan batu sungai saat bulan purnama di musim kemarau. Mereka yakin, ular raksasa itu adalah jelmaan Sangi.

 

JANJI HENDAKLAH DITEPATI. SELAIN ITU, RAHASIA DIRI DAN KELUARGA HENDAKLAH DITUTUP RAPAT- RAPAT.

Legenda Sungai Landak – Cerita Rakyat Kalimantan Barat
Legenda Sungai Landak – Cerita Rakyat Kalimantan Barat

Pada zaman dahulu sepasang suami istri yang berdiam di pinggir hutan. Keduanya bekerja sebagai petani. Hasil pertanian yang mereka usahakan itu biasa mereka jual ke pasar. Sebagian uang hasil penjualan itu mereka gunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup dan sebagian sisanya mereka simpan. Suami istri itu hidup dalam kesederhanaan. Namun demikian, mereka gemar berbagi atau menolong orang lain yang tengah membutuhkan. Karena kebaikan hati keduanya, orang-orang pun menyenangi suami istri itu.

Pada suatu malam Si istri telah tertidur dan suaminya masih terbangun. Ketika itulah sang suami melihat keanehan pada istrinya. Dari kepala istrinya ia melihat asap yang muncul dan kemudian diikuti dengan keluarnya seekor lipan berwarna putih. Lipan itu terus berjalan dan merayap keluar rumah. Sang suami mengikuti hingga akhirnya lipan itu berada di ceruk sungai di belakang rumahnya. Di tempat itulah lipan aneh itu mendadak menghilang.

Sang suami sangat keheranan mendapati keanehan itu. Setelah ia kembali ke rumahnya ia kian sulit memejamkan mata meski ia telah membaringkan tubuh di ranjang.

Keesokan harinya sang suami menjelaskan kejadian aneh yang dialaminya semalam kepada istrinya. Sang istri juga menjelaskan, semalam ia bermimpi. Dalam impiannya, sang istri berjalan di sebuah padang tandus. Ia terus berjalan hingga akhirnya menjumpai sebuah danau yang sangat luas. Di tengah-tengah danau ia melihat seekor landak raksasa. Bulunya berwarna kuning keemasan dan kedua matanya terlihat menyala menyeramkan. Karena seramnya, sang istri pun berlari menjauh.

Sang suami lantas mengajak istrinya menuju ceruk tempat lipan aneh yang keluar dari kepala istrinya itu menghilang. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam ceruk. Tanpa diduganya, tangannya menyentuh benda keras. Terperanjatlah suami istri itu ketika mengetahui benda keras yang menyentuh sang suami tersebut ternyata sebuah patung landak yang terbuat dari emas. Kedua bola mata patung landak itu terbuat dari berlian. Suami istri itu lalu membawa patung landak yang sangat indah lagi mahal itu kembali ke rumah mereka.

Pada malam harinya sang suami bermimpi. Dalam impiannya, seekor landak raksasa mendatanginya dan berujar padanya, “Aku sesungguhnya adalah patung landak yang engkau temukan di ceruk sungai belakang rumahmu itu. Jika engkau menghendaki sesuatu, maka usaplah patung landak itu dengan kain kuning dan ucapkan mantra. Niscaya, apa yang engkau kehendaki akan terwujud.”

Landak raksasa itu mengajarkan mantra yang harus diucapkan jika menghendaki sesuatu. Begitu pula landak raksasa itu juga mengajarkan mantra untuk menghentikan permintaannya. Setelah mengajarkan mantra-mantra, landak raksasa itu pun menghilang.

Keesokan harinya sang suami mencoba melakukan pesan landak raksasa dalam impiannya. Ia menghendaki berlian. Seketika ia mengusap tubuh patung landak emas dengan iringan mantra, dari mulut patung landak itu lantas keluar berlian. Terus keluar berlian itu dari mulut patung landak dan baru berhenti setelah Si suami mengucapkan mantra untuk berhenti.

Tak terkirakan gembiranya suami istri itu mendapati keajaiban yang mereka alami. Keduanya lantas kembali mencoba meminta nasi berikut lauk pauk yang banyak jumlahnya. Seketika itu muncul nasi berikut lauk pauk dalam jumlah banyak seperti yang diminta sang suami. Maka, sejak saat itu suami istri itu menjadi orang yang sangat kaya karena permintaan mereka senantiasa terwujud dalam kenyataan.

Syahdan tersebutlah seorang perampok yang sangat keheranan mendapati kekayaan suami istri yang tetap berdiam di pinggir hutan itu. Ia sangat ingin mengetahui rahasia penyebab kekayaan melimpah yang dimiliki suami istri itu. Dengan penyamarannya, Si perampok akhirnya mengetahui rahasia penyebab suami istri itu dapat begitu kaya raya. Ia juga mengetahui mantra untuk mendapatkan sesuatu dari patung landak emas tersebut. Ia pun merencanakan siasatnya untuk mengambil patung landak emas yang dimiliki suami istri tersebut.

Si perampok membuat patung landak yang sangat mirip dengan patung landak milik suami istri itu. Dengan siasatnya, Si perampok akhirnya berhasil menukar patung landak itu. Ia lantas menuju daerah Ngabang setelah mendapatkan patung landak ajaib.

Ketika Si perampok tiba di daerah Ngabang, daerah itu tengah mengalami musim kemarau yang berkepanjangan. Air sangat sulit didapatkan. Si perampok berkehendak menarik simpati warga Ngabang dengan mengadakan air. Ia sangat berharap warga akan bersepakat menunjuknya sebagai pemimpin mereka.

Si perampok lantas mengusap patung landak emas itu dengan kain kuning dan mengucapkan mantra. Seketika itu air memancar deras dari mulut landak ajaib. Warga seketika bersuka cita mendapati air yang telah lama tidak mereka temukan waktu itu muncul berlimpah ruah dari mulut patung landak. Dengan berbagai peralatan yang dimiliki, warga mendapatkan air yang sangat mereka butuhkan. Semua warga Ngabang telah mendapatkan air, namun air terus deras memancar dari mulut patung landak ajaib. Si perampok yang tidak mengetahui mantra untuk menghentikan permintaannya menjadi kebingungan. Ia telah berusaha meminta patung landak ajaib itu untuk berhenti mengeluarkan air, namun air tetap deras memancar. Si perampok telah berusaha menutup mulut patung landak ajaib, namun tetap saja air terus memancar keluar.

Si perampok kebingungan berbaur takut. Air yang terus memancar dari mulut landak ajaib itu telah menggenangi daerah di mana si perampok berada. Karena kebingungan dan rasa takutnya yang kian menjadi-jadi, Si perampok berusaha melepaskan patung landak ajaib itu dari tangannya. Aneh, patung landak itu tidak bisa dilepaskannya dari tangannya.

Air yang terus memancar keluar dari mulut patung itu akhirnya menggenang dan semakin meninggi. Terbentuklah sebuah sungai yang kian lama kian meninggi permukaannya hingga menenggelamkan Si perampok. Si perampok pun akhirnya tewas. Sungai yang kecil itu terus membesar. Penduduk lantas menamakannya Sungai Landak karena asal sungai itu dari mulut patung landak emas ajaib.

 

SIKAP IRI HATI YANG DIIKUTI DENGAN KELICIKAN ATAU KECURANGAN AKAN MEMBUAHKAN KERUGIAN DAN PENYESALAN DI KEMUDIAN HARI BAGI PELAKUNYA.

Ande-Ande Lumut – Cerita Rakyat Jawa Tengah
Ande-Ande Lumut – Cerita Rakyat Jawa Tengah

Dewi Candra Kirana adalah sosok perempuan yang sangat cantik wajahnya. Ia telah bersuami. Suaminya adalah putra mahkota Kerajaan Jenggala. Raden Putra namanya. Karena Raden Putra menolak menjadi raja menggantikan ayahandanya, ia pun diusir dari istana Kerajaan Jenggala. Raden Putra lantas pergi tanpa mengajak Dewi Candra Kirana. Tidak diketahui di mana keberadaan Raden Putra kemudian.

Dewi Candra Kirana lantas mencari keberadaan suami tercintanya itu. Untuk menutupi jati dirinya, Dewi Candra Kirana menyamar laksana perempuan desa biasa. Dalam pengembaraannya, Dewi Candra Kirana bertemu dengan seorang janda kaya bernama Mbok Randa Karangwulusan. Ia pun diangkat anak oleh janda kaya itu dan diberi nama Kleting Kuning.

Mbok Randa Karangwulusan telah mempunyai tiga anak perempuan. Kleting Abang, Kleting Wungu, dan Kleting Biru nama mereka. Oleh Mbok Randa Karangwulusan, Kleting Kuning dipersaudarakan dengan ketiga anaknya dan dianggap sebagai anak bungsu.

Dalam kehidupan sehari-hari, tiga anak Mbok Randa Karangwulusan sangat jahat perilakunya pada Kleting Kuning. Mereka iri dengan kecantikan wajah Kleting Kuning. Karena perasaan irinya, mereka sengaja meminta Kleting Kuning mengenakan pakaian yang jelek dan kumal hingga Kleting Kuning tampak seperti pembantu yang telah kehilangan kewarasan. Mereka juga meminta Kleting Kuning mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Dari mulai mencuci, memasak, dan membersihkan rumah harus dikerjakan Kleting Kuning sendirian. Kadang mereka juga meminta Kleting Kuning untuk mengerjakan pekerjaan yang sangat sulit, seperti mencuci periuk tembaga yang telah lama digunakan hingga menjadi kembali bersih dan baru. Tubuh Kleting Kuning berbau karena seperti tidak ada kesempatan baginya guna membersihkan diri. Semua itu diterima Kleting Kuning dengan sabar dan ikhlas. Kleting Kuning yakin, kesabaran dan keikhlasannya akan membuahkan hasil yang baik baginya di kemudian hari.

Syahdan Mbok Randa Karangwulusan mendengar berita yang bersumber dari desa Dadapan. Kabar itu menyebutkan jika Mbok Randa Dadapan mempunyai anak angkat, seorang pemuda yang sangat tampan wajahnya. Ande-ande Lumut namanya. Ketampanan Ande-ande Lumut sangat terkenal, menjadi buah bibir di mana-mana. Banyak gadis yang datang ke desa Dadapan untuk melamar anak angkat Mbok Randa Dadapan itu. Banyak pula orangtua yang datang menemui Mbok Randa Dadapan guna menjodohkan anak gadis mereka dengan Ande-ande Lumut.

Mbok Randa Karangwulusan juga berkehendak agar salah satu dari anak-anaknya dapat menjadi istri Ande-ande Lumut. Diperintahkannya tiga anak gadisnya itu menuju desa Dadapan, sementara Kleting Kuning diperintahkannya untuk tetap tinggal di rumah.

Kleting Abang, Kleting Wungu, dan Kleting Biru segera berangkat menuju desa Dadapan. Mereka mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki. Sesuai nama ketiganya, Kleting Abang mengenakan pakaian berwarna merah. Kleting Wungu mengenakan pakaian berwarna ungu dan Kleting Biru mengenakan pakaian berwarna biru. Sebelum ketiga anak Mbok Randa Karangwulusan itu tiba di desa Dadapan, mereka kebingungan karena harus menyeberangi sungai yang lebar lagi berair dalam. Tidak ada rakit atau perahu yang bisa mereka tumpangi untuk menyeberang. Di tengah kebingungan itu mendadak muncul kepiting raksasa. Yuyu Kangkang namanya. Ia bersedia menolong menyeberangkan tiga gadis itu dengan diberikan imbalan.

“Apa imbalan yang engkau kehendaki dari kami?” tanya Kleting Abang.

“Jika engkau mau aku cium dan menciumku, maka aku akan menyeberangkanmu,” jawab Yuyu Kangkang.

Kleting Abang, Kleting Wungu, dan Kleting Biru tidak berkeberatan mencium dan dicium Yuyu Kangkang. Bagi mereka yang terpenting adalah dapat menyeberangi sungai lebar Itu guna meneruskan perjalanan menuju desa Dadapan.

Kleting Kuning pun juga berniat datang ke desa Dadapan untuk bertemu dengan Ande-ande Lumut. Keinginan itu disampaikannya kepada Mbok Randa Karangwulusan.

“Apa? Engkau ingin juga melamar Ande- ande Lumut yang amat tampan itu?” Mbok Randa Karangwulusan benar-benar melecehkan Kleting Kuning. “Bercerminlah dahulu dirimu itu hei Kleting Kuning, jangan sampai Ande-ande Lumut yang tampan itu menjadi muak ketika melihat wujudmu yang menyedihkan itu.”

Namun, Kleting Kuning tetap bersikeras. Mbok Randa Karangwulusan akhirnya mengizinkannya.

Dengan tetap mengenakan pakaian kumal hingga tubuhnya berbau, Kleting Kuning menuju desa Dadapan. Seperti halnya tiga saudara angkatnya, Kleting Kuning pun kesulitan untuk menyeberangi sungai lebar berair dalam itu. Muncul kemudian Yuyu Kangkang. Kepiting raksasa itu sebenarnya tidak mau menyeberangkan Kleting Kuning karena tubuh Kleting Kuning yang bau itu. Namun ia tetap juga bersedia menyeberangkan asalkan Kleting Kuning mau dicium dan menciumnya.

“Apa? Engkau akan menciumku dan aku harus menciummu? Aku tidak sudi!” tegas Kleting Kuning.

“Jika engkau tak sudi, silakan menyeberang sendiri!”

Kleting Kuning lantas mengeluarkan senjata yang selama itu disimpannya rapat-rapat. Senjata itu berupa lidi sakti. Seketika lidi sakti itu dipukulkan pada sungai, air sungai itu pun surut. Yuyu Kangkang menjerit-jerit meminta tolong. Ia tidak bisa hidup di luar air. Ia memohon kepada Kleting Kuning agar mengembalikan air sungai itu lagi. Untuk itu ia akan menyeberangkan Kleting Kuning hingga sampai ke daratan seberang.

Kleting Kuning menyatakan kesediaannya. Ia pun diseberangkan Yuyu Kangkang tanpa harus dicium dan mencium kepiting raksasa itu.

Tibalah kemudian Kleting Kuning di desa Dadapan. Kleting Kuning mendapati tiga kakak angkatnya telah ditolak Ande-ande Lumut. Penyebabnya, Ande-ande Lumut mengetahui jika tiga anak Mbok Randa Karangwulusan itu telah dicium dan mencium Yuyu Kangkang. Sangat mengejutkan, ketika Ande-ande Lumut mengetahui kedatangan Kleting Kuning, ia bergegas menyambutnya.

Mbok Randa Dadapan benar-benar terheran-heran mendapati sikap anak angkatnya itu. Begitu banyaknya gadis-gadis berwajah cantik dan menarik yang datang kepadanya senantiasa ditolaknya, namun ketika melihat Kleting Kuning yang berpakaian kumal lagi bau badannya itu anak angkatnya itu malah menyambutnya dengan wajah berseri-seri.

“Ibu jangan melihat penampilan luarnya,” kata Ande-ande Lumut, “Sesungguhnya gadis ini mampu menjaga kehormatan dirinya. Tidak seperti gadis-gadis lainnya. Ia tidak sudi dijamah Yuyu Kangkang. Dialah calon istri yang terbaik untukku.”

Di hadapan sekalian orang, Kleting Kuning lantas mengubah diri menjadi Dewi Candra Kirana. Tak terkirakan keterkejutan orang-orang ketika melihat sosoknya yang sangat cantik. Kleting Abang, Kleting Wungu, dan Kleting Biru benar- benar terperangah ketika mengetahui jika sosok yang selama itu mereka perlakukan dengan tidak baik itu ternyata Dewi Candra Kirana adanya.

Kegemparan pun kian menjadi-jadi saat Ande-ande Lumut juga membuka jati dirinya. Ia tak lain Raden Putra yang tengah menyamar. Takterperikan kegembiraan Dewi Candra Kirana ketika bertemu kembali dengan suami tercintanya. Keduanya lantas hidup sebagai suami istri kembali seperti yang mereka lakukan dahulu di istana Kerajaan Jenggala.

 

KESABARAN AKAN MEMBUAHKAN KEBAIKAN DI KEMUDIAN HARI. SELAIN ITU. KEHORMATAN DIRI HENDAKNYA DIPEGANG KUAT-KUAT. ORANG YANG MULIA ADALAH ORANG YANG MAMPU MENJAGA KEHORMATAN DIRINYA.