Kategori: Kalimantan Timur

Nyapu dan Moret – Cerita Rakyat Kalimantan Timur
Nyapu dan Moret – Cerita Rakyat Kalimantan Timur

Warga kampung di muara Sungai Kahayan tengah berduka. Mereka baru saja mendapat serangan musuh. Serangan itu berlangsung mendadak. Banyak warga yang tewas dan terluka. Banyak pula rumah yang porak-poranda.

Segenap warga kampung lalu berkumpul setelah berhasil mengusir musuh. Mereka membahas langkah mereka selanjutnya setelah kejadian itu. Hampir semua warga mengusulkan agar mereka memperkuat pertahanan.

“Kita buat benteng yang tinggi,” usul salah seorang warga kampung. “Dengan benteng yang tinggi, musuh tidak akan dapat mudah menyerang kita.”

“Kita tambah jumlah prajurit,” saran seorang warga kampung lainnya. “Persenjatai para prajurit itu dengan senjata perang yang lengkap. Mereka akan mampu menghalau musuh yang mencoba menyerang kita.”

Di antara semua warga, tersebutlah seorang warga kampung bernama Nyapu. Ia memberikan usul yang berbeda dibandingkan kebanyakan warga lainnya. Usulnya, “Sebaiknya kita pindah ke daerah lain. Kita dirikan kampung baru di tempat itu.”

Usulan Nyapu sama sekali tidak disetujui warga lainnya. Menurut mereka, mereka telah hidup tenang dan nyaman di tempat itu. Mereka hanya tinggal memperkuat pertahanan agar dapat menangkal serangan musuh yang biasa menyerang dari hutan.

Segenap warga kemudian bergotong royong membuat benteng pertahanan. Benteng itu terbuat dari kayu yang disusun rapat dan diikat rotan kuat-kuat. Benteng yang sangat kuat. Sulit untuk ditembus kekuatan musuh.

Mereka juga menambahjumlah prajurit. Para lelaki dilatih peperangan. Aneka senjata dibuat dan diadakan. Para prajurit setiap saat berkeliling kampung untuk berjaga-jaga.

Untuk beberapa waktu, warga kampung di muara Sungai Kahayan itu bisa merasa lega. Mereka aman. Tidak ada tanda-tanda kedatangan musuh.

Tetapi, kelegaan mereka tidak berlangsung lama. Mendadak musuh datang dalam jumlah sangat banyak. Mereka menyerang melalui hilir Sungai Kahayan. Dengan menaiki jukung-jukung, mereka menyerang mendadak.

Segenap warga kampung berjuang keras menghadapi serangan itu. Peperangan seru berlangsung cukup lama. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Warga kampung akhirnya berhasil mengusir penyerang, meski banyak di antara mereka yang menjadi korban. Kampung juga rusak parah.

Segenap warga yang tersisa kembali berkumpul untuk membahas kejadian memilukan yang mereka alami itu.

“Bukankah sudah kusarankan agar kita pindah ke daerah baru?” kata Nyapu dalam pertemuan itu. “Pembuatan benteng dan penambahanjumlah prajurit ternyata tidak membuat kita aman dari serangan musuh.”

Warga kampung tetap tidak menganggap saran Nyapu. Mereka tetap bersikeras tinggal di daerah itu.

“Baiklah,” kata Nyapu akhirnya. “Jika memang saranku tidak ditanggapi, perkenankan aku dan keluargaku untuk pindah. Aku akan menuju hulu sungai. Kami akan membuka ladang baru.”

“Kapan engkau akan pindah?”

“Besok pagi,” jawab Nyapu.

Nyapu tetap bertanggung jawab dengan kampung lamanya. Pada malam harinya la masih turut bergotong-royong bersama warga kampung lainnya untuk memperbaiki kampung.

Keesokan paginya Nyapu dan istrinya bersiap berangkat. Empat puluh warga ternyata berniat turut pindah bersama Nyapu. Mereka adalah para janda. Suami mereka telah meninggal dunia karena serangan musuh.

Nyapu memimpin rombongan itu menuju hulu Sungai Kahayan. Mereka menaiki beberapa jukung. Tidak mudah menempuh perjalanan itu mengingat mereka harus menentang arus sungai. Berhari-hari mereka menghabiskan waktu hingga akhirnya tiba di muara Sungai Mm.

Nyapu mengarahkan jukungnya menyusuri Sungai Miri. Jukung-jukung lainnya mengikuti. Mereka menuju bagian hulu Sungai Miri. Setelah beberapa saat kemudian, mereka bertemu muara Sungai Napoi. Nyapu yang berada di bagian terdepan lalu membelok ke arah Sungai Napoi dan menuju arah hulu. Mereka terus menempuh perjalanan hingga sampai di muara sungai yang belum pernah mereka datangi sebelumnya. Mereka tidak tahu nama sungai itu.

Nyapu memandang berkeliling. Ia melihat daerah itu cocok untuk tempat tinggal mereka. Ia pun menepikan jukungnya.

“Sungai apa ini?” salah seorang pengikut rombongan bertanya.

Nyapu menggelengkan kepala. Lantas katanya, “Apa nama yang sesuai untuk nama sungai ini?”

“Bagaimana kalau Sungai Bolo?”

Usulan itu akhirnya mereka setujui.

“Nyapu, apakah kita berhenti di Sungai Bolo

ini?”

“Ya,” tegas Nyapu. “Tanah daerah ini subur. Banyak sungai kecil di sekitar daerah ini. Kebutuhan air kita akan terpenuhi. Inilah daerah hunian baru kita.”

Mereka lalu membangun perkampungan di pinggir Sungai Bolo Itu. Mereka juga membuka ladang. Benar perkiraan Nyapu, daerah baru mereka subur tanahnya. Hasil ladang mereka banyak. Ikan mudah mereka dapatkan. Buah dan hasil hutan melimpah. Kehidupan mereka membaik. Mereka tidak pernah kekurangan pangan.

Setelah beberapa lama tinggal di daerah baru itu, Nyapu berbahagia mendapati istrinya mengandung. Sembilan bulan lebih kemduian, istri Nyapu melahirkan. Seorang bayi perempuan. Kulitnya bersih, cantik wajahnya. Nyapu memberinya nama Moret untuk anak perempuannya itu.

Waktu terus berlalu. Suatu ketika datang orang-orang dari kampung Nyapu yang lama. Kebanyakan mereka terluka. Mereka kembali mendapat serangan musuh. Mereka meminta izin Nyapu untuk turut berdiam di daerah itu. Dengan senang hati Nyapu mengizinkan. Beberapa warga kampung lainnya berdatangan kemudian. Mereka kembali bersatu dengan Nyapu di kampung pinggir Sungai Bolo itu.

Moret putri Nyapu tumbuh menjadi gadis istimewa. Sangat cantik wajahnya. Lembut dan baik hatinya. Tutur katanya sopan. Tapi, ia juga gadis yang terampil, tangkas, lagi pemberani. Kecantikan dan keberanian Moret menyebar, bahkan hingga ke daerah-daerah jauh.

Moret menjadi buah bibir para pemuda. Telah banyak pemuda yang meminang Moret. Namun, Moret belum memutuskan siapa pemuda yang akan menjadi suaminya. Hingga suatu hari Moret bermimpi. Suara tanpa wujud memberitahunya jika suaminya akan membawa kemakmuran, kebahagiaan, dan ketenteraman warga kampungnya.

Setelah terbangun, Moret merenung. Ia seperti mendapat gambaran siapa yang akan menjadi suaminya. Kepada ayahnya, ia menyampaikan syarat yang harus dipenuhi calon suaminya.

“Ia harus mengiSi lumbung terbesar milik Ayah dengan biji buah-buahan,” kata Moret. “Biji buah-buahan itu akan ditanam ketika pernikahanku dilangsungkan.”

Nyapu lalu memberitahukan syarat yang diajukan putrinya itu kepada para pemuda yang berminat meminang Moret.

Para pemuda mencoba memenuhi syarat yang diajukan Moret. Tetapi ternyata syarat itu sangat berat. Mencari biji buah-buahan dalam jumlah yang sangat banyak Itu sangat sulit. Baru beberapa saat dikumpulkan, biji-biji itu telah busuk dan tidak bisa ditanam lagi.

Suatu ketika datang seorang pemuda. Karang namanya. Ia pemuda sakti. Karang juga berminat melamar Moret.

“Apakah engkau tahu syarat yang diajukan putriku?” tanya Nyapu.

“Saya tahu,” jawab Karang.

“Baiklah,” ujar Nyapu. “Jika engkau bisa mengiSi lumbung terbesarku dengan biji buah-buahan hingga penuh, engkau akan kunikahkan dengan putriku.”

Karang lalu ke dalam hutan. Ia mengerahkan kesaktiannya. Biji buah-buahan yang sangat banyak jumlahnya berhasil ia kumpulkan. Ketika biji buah- buahan itu dimasukkan ke dalam lumbung terbesar milik Nyapu, biji buah-buahan itu memenuhi lumbung itu.

Karang memenuhi syarat yang diajukan Moret.

Karang dan Moret akhirnya dinikahkan. Pada acara pernikahan, tamu yang sangat banyak jumlahnya berdatangan. Mereka menyambut gembira pernikahan putri Nyapu.

Pada saat pernikahan, Nyapu meminta semua tamunya untuk membantu menanam biji buah- buahan. Dengan suka hati mereka memenuhi permintaan Nyapu. Ladang Nyapu yang luas mereka tanami biji buah-buahan. Begitu pula dengan ladang empat puluh janda yang dahulu mengikuti pindah Nyapu.

Moret dan Karang hidup berhagia. Begitu pula dengan warga yang tinggal di pinggir Sungai Bolo itu. Syarat yang diajukan Moret dahulu ternyata membawa kemakmuran hidup mereka. Biji buah- buahan yang dahulu ditanam telah tumbuh menjadi aneka pohon buah-buahan. Sangat banyak jumlahnya. Mereka tidak pernah kekurangan buah- buahan. Jika mereka menghendaki, mereka tinggal memetiknya di ladang-ladang milik mereka sendiri.

 

MEMIKIRKAN MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK SANGAT DIANJURKAN UNTUK DILAKUKAN.

Legenda Keramat Sungai Kerbau – Cerita Rakyat Kalimantan Timur
Legenda Keramat Sungai Kerbau – Cerita Rakyat Kalimantan Timur

Beberapa ratus tahun silam berdirilah sebuah kerajaan. Kutai Kertanegara namanya. Tepian Batu nama ibukotanya.

Syahdan, Kerajaan Kutai Kertanegara ketika itu dipimpin Sultan Kutai Kertanegara III. Kejayaan, kebesaran, dan kekuatan Kerajaan Kutai Kertanegara memuncak ketika itu. Kemakmuran dan kesejahteraan tercapai. Kekayaan alamnya yang melimpah-ruah mampu diolah sebaik-baiknya demi kesejahteraan rakyat. Terlebih-lebih Kerajaan Kutai Kertanegara juga mendapatkan upeti dari berbagai kerajaan yang menyatakan tunduk pada kekuasaan Kerajaan Kutai Kertanegara.

Suatu ketika Sultan Kutai Kertanegara III berkehendak memperindah istana kerajaannya. Baginda Sultan menginginkan istana kerajaan¬nya itu dipenuhi dengan berbagai ukiran yang indah. Untuk mewujudkan keinginan Baginda Sultan, Pangeran Mangkubumi menyarankan agar mendatangkan ahli-ahli ukir dari Keraton Jawa. “Baginda Sultan, mereka telah terbiasa mengukir istana. Jika kita mendatangkan mereka, niscaya mereka akan dapat mewujudkan keinginan Ba¬ginda Sultan.”

Sultan Kutai Kertanegara III menyetujui saran Pangeran Mangkubumi. Segera dikirimkan utusan ke Keraton Jawa untuk meminta bantuan ahli pahat Keraton Raja Jawa untuk mengukir di istana Kerajaan Kutai Kertanegara.

Raja Jawa berkenan mengirimkan dua ahli ukir istana ke Kerajaan Kutai Kertanegara. Keduanya adalah kakak beradik. Kepiawaian keduanya dalam mengukir kayu segera terlihat sesampainya mereka di Kerajaan Kutai Kertanegara. Berbagai motif ukiran dapat mereka buat untuk memperindah bagian- bagian istana kerajaan sesuai kehendak Baginda Sultan. Kedua ahli ukir itu mampu memadukan seni ukir dari daerah-daerah setempat dengan seni ukir Jawa hingga menghasilkan ukiran yang indah serta unik. Keduanya bekerja dengan giat lagi tekun dan serasa dibantu tenaga gaib hingga mereka dapat menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu relatif singkat.

Sultan Kutai Kertanegara III sangat terkagum- kagum dengan hasil ukiran dua kakak beradik yang dikirimkan Raja Jawa itu. Berbagai hadiah yang indah pun diberikan Baginda Sultan kepada kedua ahli ukir itu. Selain itu, Baginda Sultan juga memperkenankan kedua ahli ukir itu untuk tinggal di dalam lingkungan dalam istana. Mereka diperkenankan berhubungan dengan keluarga Baginda Sultan. Kedua ahli ukir itu menyatakan terima kasih. Mereka tetap mengedepankan sopan santun dan tata krama meski mendapat kebebasan yang luas dari Baginda Sultan.

Baginda Sultan sangat kagum dengan kepribadian dua ahli ukir dari Keraton Jawa itu. Baginda Sultan menghormati dua ahli ukir itu. Namun, tidak bagi beberapa pejabat Kerajaan Kutai Kertanegara. Mereka iri dan merasa tersingkirkan. Mereka lantas berembuk untuk mencari cara guna menyingkirkan dua ahli ukir dari Keraton Jawa itu. Dua cara pun akhirnya mereka dapatkan. Cara pertama adalah melakukan fitnah terhadap dua ahli ukir itu dan cara kedua adalah menghasut Baginda Sultan.

Fitnah yang mereka lancarkan sangat keji. Mereka menyebutkan jika dua ahli ukir itu telah melakukan perbuatan tercela terhadap dayang- dayang istana. Mereka mengadu kepada Baginda Sultan.

“Aku tidak percaya jika dua ahli ukir itu melakukan tindakan tercela seperti yang kalian laporkan,” kata Baginda Sultan. “Bagaimana mungkin dua orang yang sangat sopan lagi menjunjung tinggi tata krama itu berbuat begitu rendah.”

Para pejabat istana itu berusaha keras meyakinkan agar Baginda Sultan percaya dengan laporan mereka. Mereka pun menjalankan siasat kedua mereka, “Jika dua ahli ukir itu mendapat pengampunan Baginda Sultan dan dibiarkan hidup, kelak mereka akan dapat bekerja untuk raja atau sultan lain. Mereka akan dapat mengukir di istana kerajaan lain. Dengan demikian keindahan istana kerajaan ini pun akan dapat tersaingi oleh istana-istana lain. Cita-cita Baginda Sultan untuk membuat istana kerajaan terindah akan sia-sia karenanya.”

Karena kepintaran para pejabat istana itu dalam menghasut, Sultan Kutai Kertanegara III pun akhirnya terhasut. Baginda Sultan lantas menjatuhkan hukuman mati bagi kedua ahli ukir itu atas perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan.

Dua ahli ukir yang sesungguhnya sangat sakti itu pun lantas ditangkap dan dipenjarakan. Sehari sebelum pelaksanaan hukuman mati, salah seorang ahli ukir itu dapat melarikan diri. Ia menghilang dari pandangan para prajurit yang hendak membawanya. Salah seorang lainnya akhirnya harus merelakan nyawanya meski tidak melakukan perbuatan tercela seperti yang dituduhkan padanya. Sebelum ia melaksanakan hukuman mati, Si ahli ukir berujar, “Sepuluh hancur luluh, sebelas menjadi alas!”

Hukuman mati pun dijatuhkan atas diri Si ahli ukir. Mayatnya lantas dibuang ke Sungai Kerbau. Keanehan pun terjadi. Mayat ahli ukir itu tidak hanyut ke hilir, melainkan terapung-apung menuju hulu sungai. Karena keanehan itu, maka sungai itu pun kemudian disebut Keramat Sungai Kerbau.

Adapun ucapan Si ahli ukir sebelum dijatuhi hukuman mati akhirnya terwujud. Kerajaan Kutai Kertanegara mengalami kehancuran total pada waktu pemerintahan Sultan Kutai Kertanegara kesepuluh karena serangan para perompak kejam dari Philipina Selatan.

Pada pemerintahan Sultan Kutai Kertanegara kesebelas, ibukota Kerajaan Kutai Kertanegara itu menjadi alas atau hutan.

 

IRI DAN DENGKI ADALAH PERBUATAN KEJI YANG SUDAH SEHARUSNYA KITA HINDARI. ADAPUN FITNAH ADALAH TINDAKAN YANG SESUNGGUHNYA JAUH LEBIH KEJAM DIBANDINGKAN PEMBUNUHAN HINGGA PANTAS UNTUK DITINGGALKAN ATAU DIHINDARI JAUH-JAUH.

Legenda Danau Lipan – Cerita Rakyat Kalimantan Timur
Legenda Danau Lipan – Cerita Rakyat Kalimantan Timur

Hiduplah seorang putri yang memimpin kerajaan yang berdiri di Muara Kaman Ulu pada zaman dahulu. Putri Aji Bedarah Putih namanya.

Putri Aji Bedarah Putih sangat cantik wajahnya. Kulitnya sangat putih dan bening seperti kaca. Jika Putri Aji Bedarah Putih makan sirih dan menelan airnya, maka air sepahan itu terlihat jelas mengalir melalui tenggorokannya jika dilihat dari luar.

Kecantikan serta keanehan kulit tubuh Putri Aji Bedarah Putih menyebar ke berbagai negeri. Didengar Raja Cina pula. Raja Cina sangat tertarik untuk meminang Putri Aji Bedarah Putih. Ia lantas memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk berlayar menuju Muara Kaman Ulu .Jung-jung (Perahu besar buatan Cina yang biasa digunakan untuk berlayar di lautan) besar segera berangkat meninggalkan negeri Cina menuju Muara Kaman Ulu.

Setelah mengarungi lautan luas, jung-jung dari negeri Cina itu akhirnya tiba di Muara Kaman Ulu. Raja Cina langsung menuju istana kerajaan untuk bertemu dengan Putri Aji Bedarah Putih. Raja Cina kian berhasrat memperistri Putri Aji Bedarah Putih setelah langsung melihat kecantikan wajah dan keanehan kulit tubuh putri penguasa kerajaan di Muara Kaman Ulu itu.

Meski Raja Cina belum mengutarakan niat¬nya, namun Putri Aji Bedarah Putih telah mengetahui dan memahaminya. Oleh karena itu Putri Aji Bedarah Putih berkehendak menguji sosok yang menghendaki dirinya menjadi istri itu. Ia lantas memerintahkan dayang-dayang istana kerajaannya untuk memberikan hidangan untuk menjamu tamu agung dari Cina itu.

Aneka hidangan segera disajikan. Putri Aji Bedarah Putih mempersilakan Raja Cina berikut pengiringnya untuk menikmati sajian yang di- hidangkannya.

Ketika Raja Cina makan ia langsung menyesap dengan mulutnya dan tidak menggunakan tangan-nya. Cara makan ini memang menjadi kebiasaan Raja Cina. Namun, sangat menjijikkan dalam pan-dangan Putri Aji Bedarah Putih. Cara makan seperti itu biasanya dilakukan hewan. Maka, ketika Raja Cina mengajukan pinangannya, Putri Aji Bedarah Putih dengan tegas menolaknya. Kata Putri Aji Bedarah Putih, “Maafkan hamba, Paduka. Hamba tidak dapat bersuamikan seseorang yang cara makannya saja menyerupai hewan ketika makan!”

Mendengar penolakan Putri Aji Bedarah Putih itu membuat Raja Cina menjadi amat murka. Ia merasa sangat terhina karena penolakan Putri Aji Bedarah Putih merujuk pada cara makannya. Ia segera kembali ke jungnya. Ia tidak segera memerintahkan para prajuritnya untuk kembali ke Cina, melainkan memerintahkan segenap kekuatan pendukungnya itu untuk menyerang kerajaan yang dipimpin Putri Aji Bedarah Putih!

Para prajurit Cina segera menyerbu dengan kekuatan yang mereka miliki. Para prajurit pen-dukung Putri Aji Bedarah Putih tidak bisa tinggal diam mendapati serangan itu. Maka, perang yang dahsyat segera terjadi.

Para prajurit Cina berperang dengan ganas. Mereka terus merengsek maju. Para prajurit pendukung Putri Aji Bedarah Putih telah me-ngerahkan segenap kekuatan dan kemampuan mereka untuk menangkis, namun serangan para prajurit Cina yang datang bagai gelombang itu sulit mereka tangkis. Mereka pun terdesak hebat. Tidak sedikit para prajurit pendukung Putri Aji Bedarah Putih yang gugur dalam peperangan itu. Tidak sedikit pula mereka yang terluka. Kekalahan tampaknya telah membayang di depan mereka.

Putri Aji Bedarah Putih sangat sedih men-dapati kekuatan pendukungnya mampu dipo¬rak-porandakan para prajurit Cina. Putri ber¬wajah amat jelita itu merasa kebingungan. Ia pun memikirkan cara untuk menyelamatkan kekuatan pendukungnya dari kekalahan yang telah membayang itu. Putri Aji Bedarah Putih kesulitan menemukan cara untuk mengalahkan para prajurit Cina itu. Ia hampir putus asa. Ia pun lantas berdoa, memohon perlindungan Tuhan. Ia lantas mengambil sirih dan memakannya setelah berdoa. Katanya, “Jika benar aku ini keturunan raja sakti, maka sepah-sepahku ini akan menjadi lipan-lipan yang akan memusnahkan Raja Cina beserta seluruh prajuritnya!”

Putri Aji Bedarah Putih lalu menyemburkan sepahnya itu ke tengah-tengah peperangan. Ke-ajaiban pun terjadi. Sepah-sepah yang disem¬burkan Putri Aji Bedarah Putih berubah menja¬di ribuan lipan besar. Hewan-hewan itu terlihat sangat garang. Mereka segera menyerang para prajurit Cina.

Para prajurit Cina terperanjat mendapati serangan hewan-hewan aneh itu. Kekuatan me¬reka akhirnya porak poranda setelah gigitan dan sengatan lipan-lipan besar itu mulai menim¬bulkan korban yang sangat banyak di kalangan mereka.

Raja Cina akhirnya memerintahkan praju¬ritnya yang tersisa untuk kembali ke jung-jung. Mereka hendak meninggalkan wilayah yang sangat mengerikan itu. Akan tetapi ribuan lipan ganas itu tampaknya tidak membiarkan mereka dapat melarikan diri. Ribuan lipan besar itu terus menyerbu hingga memasuki jung-jung. Raja Cina berikut para prajuritnya terus berusaha melawan, namun tidak berdaya pula mereka pada akhirnya. Raja Cina berikut seluruh prajuritnya mati mengenaskan. Jung-jung mereka pun ditenggelamkan oleh lipan-lipan ganas itu.

Bersamaan dengan matinya Raja Cina dan juga tenggelamnya jung-jung, mendadak Putri Aji Bedarah Putih menghilang secara gaib. Kerajaan yang dipimpin putri berwajah amat jelita itu pun turut menghilang. Laut tempat jung-jung yang tenggelam itu juga mendadak berubah menjadi sebuah daratan yang luas. Daratan itu pun kemudian disebut Danau Lipan.

 

JANGANLAH KITA MEMAKSAKAN KEHENDAK KITA KEPADA ORANG LAIN. KARENA KEHENDAK KITA BELUM TENTU DAPAT DITERIMA OLEH ORANG LAIN. SELAIN ITU. TIDAK BAIK PULA BAGI KITA MENGHINA ADAT ATAU KEBIASAAN ORANG LAIN.

Legenda Pesut Mahakam – Cerita Rakyat Kalimantan Timur
Legenda Pesut Mahakam – Cerita Rakyat Kalimantan Timur

Sebuah keluarga yang hidup di rantau Mahakam pada zaman dahulu. Keluarga itu terdiri dari sepasang suami istri beserta dua anak mereka yang terdiri dari seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan. Keluarga itu mengupayakan pertanian untuk menopang kehidupan mereka. Hasil perladangan dan perkebunan mereka banyak hingga mereka dapat hidup berkecukupan. Keluarga itu pun berbahagia.

Kebahagiaan keluarga itu tampaknya tidak berlangsung lama. Sang Ibu mendadak jatuh sakit. Meski telah diupayakan untuk diberi ramuan obat-obatan dan juga didatangkan beberapa tabib untuk mengobati, namun penyakit yang diderita sang Ibu bertambah parah. Hingga akhirnya sang Ibu pun menghembuskan napas terakhirnya.

Sepeninggal sang Ibu, sang Ayah lantas menikah lagi dengan seorang perempuan yang baru dikenalnya dalam sebuah pesta. Tidak jelas asal-usul perempuan itu. Ia pun menjadi ibu pengganti dua anak piatu tersebut.

Ternyata, perempuan itu kejam sifatnya terha-dap kedua anaktirinya. Si ibu tiri memerintahkan kedua anak itu bekerja keras di rumah. Semua pekerjaan rumah dibebankan kepada keduanya untuk mengerjakannya. Jika kedua anak itu dilihatnya malas-malasan, Si ibu tiri tidakjarang memukul dan menganiaya dua anak tirinya itu. Adapun makanan yang diberikannya kepada dua anak tirinya itu adalah makanan sisa dari ayah keduanya. Ayah kedua anak itu sesungguhnya mengetahui tindakan kejam istrinya terhadap dua anaknya itu. namun, ia hanya diam saja karena rasa cinta dan sayangnya kepada istrinya.

Pada suatu hari ibu tiri itu memerintahkan dua anak tirinya untuk mencari kayu bakar di hutan. “Jangan kalian pulang sebelum kalian men-dapatkan banyak kayu bakar,” perintah Si ibu tiri.

Kedua anak itu berangkat menuju hutan. Mereka bekerja keras untuk mencari dan mengumpulkan kayu bakar. Meski telah seharian bekerja keras, kayu bakar yang mereka dapatkan mereka anggap belum cukup banyak. Keduanya lantas memutuskan untuk bermalam di hutan itu. Mereka berniat melanjutkan pencarian kayu bakar keesokan harinya.

Keesokan harinya kedua anak itu kembali mencari dan mengumpulkan kayu bakar. Hingga tengah hari keduanya mencari hingga akhirnya mereka hentikan pencarian karena mereka me¬rasa sangat lapar. Mereka berusaha mencari se¬suatu yang dapat mereka makan. Namun, karena makanan yang mereka cari tidak mereka temukan, keduanya hanya bisa terduduk. Tak berapa lama kemudian keduanya tergeletak di atas tanah karena tubuh mereka lemas.

Tiba-tiba muncul seorang kakek yang lantas menyapa keduanya. Kedua anak itu menceritakan kejadian yang mereka alami. Si kakek sangat iba hati. Katanya kemudian seraya menunjuk ke suatu tempat di hutan itu, “Pergilah kalian ke tempat itu. Di sana banyak tumbuh aneka tanaman buah. Kalian bisa mengambil dan memakannya hingga kalian tidak lagi kelaparan.”

Dua anak itu akhirnya menemukan aneka tanaman buah seperti yang disebutkan Si kakek. Mereka memakan buah-buahan yang telah masak dengan sangat lahapnya hingga keduanya merasa kenyang. Setelah perut mereka kenyang, keduanya memutuskan untuk kembali ke rumah seraya membawa kayu bakar yang banyak.

Dua kakak beradik itu amat terperanjat ketika tiba di rumah. Rumah mereka terlihat kosong. Ayah dan ibu tirinya ternyata telah pergi membawa semua harta benda mereka. Dua anak itu memutuskan untuk mencari ayah mereka. Beberapa tetangga yang merasa iba dengan nasib dua anak itu akhirnya menukarkan makanan mereka dengan kayu bakar. Dengan bekal makanan itulah dua anak itu pergi mencari ayah mereka. Keduanya terus berjalan hingga dua hari dua malam. Perbekalan mereka pun akhirnya habis. Beruntung mereka menemukan rumah seorang kakek. Si kakek menolong keduanya. Tidak hanya memberikan makanan, Si kakek juga memberitahukan ke mana orangtua dua anak itu berada.

Dua anak itu kembali melanjutkan perjalanan. Tibalah keduanya di tempat yang ditunjukkan Si kakek setelah mereka menempuh perjalanan selama dua hari dua malam. Mereka menemukan sebuah rumah. Terperanjat bercampur gembira keduanya ketika mendapati pakaian ayah mereka tersampir di tali jemuran. Mereka bergegas memasuki rumah itu. Ayah dan ibu tiri mereka tidak mereka temukan di dalam rumah. Yang mereka temukan adalah bubur yang tengah dimasak di dalam periuk.

Si kakak tidak lagi bisa menahan rasa laparnya. Buburyang masih berada di dalam periuk itu lantas diambil dan dimakannya. Ia sangat kepanasan. Si adik tidak mau ketinggalan. Buburyang masih panas itu pun dimakannya. Ia juga kepanasan. Keduanya lantas berlarian untuk mencari sesuatu yang dapat membuat tubuh keduanya dingin. Mereka mencari sungai. Namun, karena sudah tidak tahan dengan panas yang mereka rasakan, keduanya bergantian memeluk batang-batang pisang. Batang-batang pisang menjadi layu dan kering setelah mereka peluk. Ketika keduanya akhirnya menemukan sungai, kakak beradik itu langsung terjun ke dalam sungai.

Ayah dan ibu tiri dua anak itu kembali ke rumah. Keduanya keheranan saat mendapati ba-nyak pohon pisang yang layu dan hangus. Si Ayah sangat terkejut ketika tiba di rumah dan men-dapati dua mandau milik anaknya tergeletak di dapur. Ia dan istrinya lantas bergegas mencari. Keduanya akhirnya tiba di sungai. Mereka me¬lihat dua ekor ikan besar yang senantiasa me-nyemburkan air dari kepalanya yang mirip dengan kepala manusia. Seumur hidupnya Si ayah belum pernah menyaksikan ikan seperti itu. Si ayah yang keheranan bertambah heran saat mendapati istrinya telah menghilang secara gaib. Sadarlah dirinya jika istrinya itu adalah makhluk gaib. Ia sangat menyesal karena beristrikan makhluk gaib yang menyebabkannya berpisah dengan dua anaknya.

Berita perihal dua ikan dengan kepala menyerupai kepala manusia itu segera tersebar. Warga berbondong-bondong datang ke sungai itu untuk membuktikan. Mereka terheran-heran ketika akhirnya melihat dua ekor ikan besar yang berulang-ulang menyembulkan kepalanya ke permukaan air sungai seraya menyemburkan air. Mereka pun menamakannya ikan pesut. Ikan yang mereka percayai merupakan penjelmaan dua anak yang berusaha menemukan ayah mereka yang telah terbujuk perempuan makhluk gaib hingga meninggalkan keduanya.

 

SEBELUM MELAKUKAN SUATU TINDAKAN HENDAKLAH KITA MEMIKIRKAN DAN MEMPERTIMBANGKAN MASAK-MASAK. KECEROBOHAN AKAN MENYEBABKAN KERUGIAN DAN PENYESALAN DI KEMUDIAN HARI.