Kategori: Kalimantan Utara

Legenda Naga Erau dan Putri Karang Melenu – Cerita Rakyat Kalimantan Utara
Legenda Naga Erau dan Putri Karang Melenu – Cerita Rakyat Kalimantan Utara

Kampung Melanti terletak di Hulu Dusun. Di kampung itu hiduplah sepasang suami istri. Keduanya adalah Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma.

Sepasang suami istri itu telah lama berumahtangga. Usia keduanya telah tua. Namun, mereka belum dikaruniai seorang anak pun. Keduanya terus memohon kepada Tuhan agar dikaruniai keturunan. Mereka tetap yakin, Tuhan akan mengabulkan doa dan permohonan mereka. Mereka sangat yakin, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Suatu ketika keadaan alam mendadak berubah memburuk, seperti tidak lagi bersahabat dengan manusia dan hewan. Hujan turun sangat deras. Tujuh hari tujuh malam hujan tidak juga kunjung reda. Kilat berkejap-kerjap disusul petir terdengar menggemuruh, terus susul-menyusul. Angin bertiup cukup kencang, menerbangkan beberapa atap yang tidak terikat kuat-kuat. Seluruh warga Kampung Melanti dicekam ketakutan. Mereka tidak berani keluar rumah. Mereka sangat khawatir, jika keadaan alam terus memburuk, mereka akan semakin kesulitan. Mereka tidak bisa mencari makanan. Bahkan, persediaan kayu bakar untuk memasak mereka semakin menipis.

Pada hari ketujuh, Babu Jaruma berkata pada suaminya, persediaan kayu bakar mereka telah habis. “Aku tidak lagi bisa memasak,” katanya dengan wajah bersedih.

Petinggi Huiu Dusun kebingungan mencari kayu bakar. Seketika ia menatap salah satu kayu kasau pada atap rumahnya, ia pun bergegas mengambilnya. Dijadikannya kayu itu untuk kayu bakar. Jika cuaca telah membaik, ia akan menggantinya.

Petinggi Hulu Dusun membelah kayu itu. Mendadak ia melihat seekor ulat kecil di dalam kayu. Ulat itu terlihat sangat lemah, namun lucu ketika menggeliat-geliatkan tubuh. Kedua matanya yang sangat kecil memandang Petinggi Hulu Dusun. Meski tidak bisa berbicara, ia seperti meminta agar dirinya dipelihara Petinggi Hulu Dusun.

Petinggi Hulu Dusun seperti bisa menangkap pesan itu. Ia lalu mengambil ulat kecil itu dan berniat memeliharanya.

Keajaiban terjadi. Seketika Petinggi Hulu Dusun mengambil ulat kecil itu, mendadak cuaca kembali nyaman seperti semula. Hujan deras langsung berhenti, langit cerah, kilat dan petir menghilang, dan angin bertiup sepoi-sepoi. Matahari yang terhalang awan tebal selama tujuh hari kembali menampakkan diri. Sinar hangatnya menerangi dan menghangati siapa pun juga.

Warga Kampung Melanti bergembira. Mereka bersyukur dan merasa lega. Kegiatan kehidupan mereka kembali dapat mereka lanjutkan.

Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma memelihara dan merawat ulat kecil itu dengan baik, setiap hari mereka memberinya makanan berupa daun-daun segar untuk ulat kecil. Mereka juga menjaga ulat kecil itu dari pemangsa.

Waktu berlalu. Ulat kecil itu telah membesar tubuhnya. Semakin hari semakin membesar tubuhnya hingga akhirnya sangat besar. Ulat kecil itu berubah menjadi seekor naga setelahjiesar!

Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma sama sekali tidak menyangka, ulat kecil yang mereka pelihara itu ternyata seekor naga.

Lantas, apa yang harus mereka lakukan?

Petinggi Hulu Dusun yang kebingungan akhirnya mendapat jawaban. Ketika ia tertidur, ia bermimpi. Dalam impiannya ia bertemu seorang gadis yang sangat cantik wajahnya.

“Siapa engkau ini, wahai gadis cantik?” tanya Petinggi Hulu Dusun.

“Aku putrimu, Ayah.”

“Putriku?”

Gadis cantik itu tersenyum. “Ayah, aku adalah jelmaan naga yang telah engkau rawat.”

Petinggi Hulu Dusun terkejut mendengar pengakuan gadis cantik itu.

“Ayah,” kata gadis cantikjelmaan naga itu lagi, “janganlah Ayah takut dengan Ananda. Begitu pula dengan warga kampung. Namun demikian, Ananda harus pergi. Tolong buatkan tangga agar Ananda dapat meluncur ke bawah.”

Setelah berujar, gadis cantik itu pun menghilang. Petinggi Hulu Dusun terbangun dari tidurnya.

Keesokan harinya Petinggi Hulu Dusun membuat tangga seperti pesan gadis cantikjelmaan naga dalam impiannya. Ia membuat tangga itu dari bambu. Naga besar itu bergerak menuju tangga setelah tangga selesai dibuat. Mendadak ia menghentikan langkah dan berujar perlahan kepada Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma, “Wahai Ayah dan Ibunda, bakarlah wijen hitam. Lumurilah sekujur tubuh Ananda dengan beras kuning.”

Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma menganggukkan kepala mereka. Keduanya melaksanakan pesan naga besar. Petinggi Hulu Dusun membakar wijen hitam. Ia dan istrinya lalu melumuri sekujur tubuh naga itu dengan beras kuning.

“Setelah Ananda tiba di tanah, ikutlah kemana pun Ananda merayap,” lanjut naga besar berpesan. “Begitu pun ketika Ananda telah merayap memasuki sungai Mahakam, tetaplah mengikuti Ananda. Ikutilah buih yang muncul di permukaan sungai Mahakam kemudian.”

Naga besar itu tiba di tanah dan mulai merayap menuju sungai Mahakam. Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma mengikuti. Ketika naga besar memasuki sungai Mahakam, Petinggi Hulu Dusun segera mendayung sampan untuk dapat terus mengikuti.

Sang naga berenang ke hulu dan hilir sungai Mahakam. Berturut-turut ia berenang sebanyak tujuh kali. Setelah itu, sang naga besar menuju Tepian Batu. Ia berenang ke arah kiri sebanyak tiga kali dan ke kanan juga sebanyak tiga kali. Sang naga besar akhirnya menyelam. Petinggi Hulu Dusun dan istrinya terus mengikuti gerakan berenang sang naga besar.

Seketika naga besar menyelam, cuaca yang semula cerah berubah menjadi menakutkan. Angin topan datang, menderu-deru. Petir menggelegar sambung-menyambung. Air sungai Mahakam bergolak-golak seperti tengah mendidih. Sampan yang dinaiki Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma terombang-ambing terkena gelombang air sungai Mahakam. Dengan sekuat tenaga Petinggi Hulu Dusun mengayuh hingga sampan akhirnya dapat menepi.

Beruntung, cuaca menakutkan itu tidak berlanjut. Keadaan kembali tenang seperti semula. Air sungai Mahakam tidak lagi berombak, angin topan menghilang, petir tak lagi terdengar. Cuaca kembali cerah. Matahari kembali bersinar, meski sinarnya diiringi jatuhnya gerimis.

Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma melihat permukaan sungai tempat naga besar itu menyelam. Mereka mencari-cari di mana naga besar itu berada.

Mendadak Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma melihat permukaan sungai Mahakam dipenuhi buih. Buih terus meninggi dan di atas buih itu terlihat pelangi indah berwarna-warni.

“Lihat! Buih itu bercahaya!” seru Babu Jaruma sambil menunjuk.

Petinggi Hulu Dusun membenarkan. Cahaya yang memancari dari buih yang meninggi itu berkilau-kilauan menyilaukan matanya saat menatapnya.

Petinggi Hulu Dusun kembali mengayuh sampan. Ia dan Babu Jaruma mendekati buih meninggi yang bercahaya itu. Terperanjatlah keduanya saat melihat apa yang terdapat dalam buih bercahaya. Seorang bayi perempuan! Bayi perempuan itu berbaring di atas gong, sementara gong ij&rdijunjung naga besar.

Gong beriSi bayi perempuan terus meninggi. Tidak hanya naga besar rupanya yang menjunjung gong itu, melainkan juga seekor hewan yang sangat aneh. Hewan itu bertubuh lembu, namun berkepala singa. Pada kepalanya terdapat mahkota indah terbuat dari emas. Ia juga memiliki belalai laksana gajah, dengan dua gading panjang yang terlihat tajam pada ujungnya. Keanehan lainnya, hewan itu mempunyai sepasang sayap seperti sayap burung garuda, dan tubuhnya bersisik laksana ikan.

Hewan aneh itu adalah Lembuswana!

Petinggi Hulu Dusun dan istrinya sangat ketakutan melihat kemunculan Lembuswana. Petinggi Hulu Dusun bergegas mengayuh sampannya untuk menjauh. Sebentar kemudian ia telah menepikan sampannya.

Naga besar dan Lembuswana seperti hendak mengantarkan gong beriSi bayi perempuan saja. Setelah gong beriSi bayi perempuan itu tiba di permukaan sungai Mahakam, keduanya langsung kembali menyelam.

Gong beriSi bayi perempuan terapung-apung di atas permukaan sungai Mahakam. Petinggi Hulu Dusun kembali mengayuh sampannya mendekati gong beriSi bayi perempuan itu. Ia mengambil gong dan Babu Jaruma bergegas mendekap bayi perempuan itu. Petinggi Hulu Dusun dan istrinya bergegas kembali pulang.

Dengan cara yang aneh lagi luar biasa, permohonan Petinggi Hulu Dusun dan istrinya telah dikabulkan Tuhan. Petinggi Hulu Dusun lalu memberi nama pada bayi perempuan itu Putri Karang Melenu.

Bayi perempuan itu terus tumbuh membesar dalam perawatan dan asuhan Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma. Semakin bertambah besar semakin terlihat kecantikannya. Ketika telah dewasa usianya, kecantikan wajahnya sungguh mempesona. Tak terbilang pemuda yang ingin menyuntingnya. Namun, Putri Karang Melenu belum menjatuhkan pilihannya. Sang Putri akhirnya menerima pinangan seorang pemuda sakti mandraguna. Aji Batara Agung Dewa Sakti namanya. Keduanya pun menikah. Aji Batara Agung Dewa Sakti kemudian mendirikan Kerajaan Kutai Kertanegara dan bertakhta menjadi raja pertama kerajaan itu.

 

TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI TUHAN UNTUK MENGABULKAN PERMOHONAN HAMBA-HAMBA-NYA KEPADA-NYA.

Monumen Telur Pecah – Cerita Rakyat Kalimantan Utara
Monumen Telur Pecah – Cerita Rakyat Kalimantan Utara

Lelaki Gagah itu bernama Ku Anyi. Ia pemimpin suku Dayak Kayan, dari Puak Ma- Afan. Ia sosok ternama yang sangat dihormati segenap anggota sukunya. Anggota suku yang dipimpinnya berdiam di tepi Sungai Payan. Mereka hidup damai dan tidak kekurangan. Daerah hunian mereka subur. Hutan di sekitar kediaman mereka banyak dihuni hewan-hewan buruan. Aneka ikan melimpah jumlahnya di Sungai Payan.

Ku Anyi hidup berkecukupan. Tetapi, masih ada satu keinginannya yang sangat dirindukannya. Ia ingin memiliki anak. Meski telah tua usianya, tak putus-putusnya ia berdoa, memohon kepada Tuhan agar dikaruniai keturunan.

Pada suatu hari Ku Anyi berburu. Seperti biasanya, anjing kesayangannya diajaknya turut serta. Ku Anyi ternama piawai berburu. Namun, hari itu ia tidak menjumpai seekor pun hewan buruan. Entah mengapa. Padahal, hutan yang dijelajahinya banyak dihuni hewan-hewan buruan. Hingga sore tiba, takjuga seekor hewan buruan pun didapatkannya.

Di tengah keheranannya, mendadak Ku Anyi dikejutkan dengan suara keras gonggongan anjingnya. Itu pertanda anjingnya melihat sesuatu. Bisa jadi, sesuatu itu hewan buruan. Bergegas ia menghampiri, bersiap ia melepaskan senjata berburunya. Ia melihat anjingnya menyalak pada sesuatu yang terdapat pada serumpun bambu petung. Ku Anyi semakin bersiaga dan berhati-hati mendekati rumpun bambu betung itu. Namun, bukan hewan buruan yang ia lihat, melainkan sebilah bambu dan sebutir telur.

“Telur apa ini?” gumam Ku Anyi pada dirinya sendiri. Sejenak ia melihat ke sekelilingnya. Tidak dilihatnya siapa pun juga. “Siapa pula yang meletakkan telur dan bilah bambu di tempat ini?”

Sejenak menunggu, Ku Anyi akhirnya membawa sebilah bambu dan telur itu kembali ke rumahnya.

“Apa yang engkau bawa, suamiku?” tanya istri Ku Anyi ketika melihat Ku Anyi pulang.

Ku Anyi memberikan sebilah bambu dan sebutir telur. Katanya, “Hanya ini yang kudapatkan hari ini. Aku tidak melihat seekor hewan buruan pun di hutan.”

Istri Ku Anyi lalu menyimpan sebilah bambu dan sebutir telur itu di atas para-para dapurnya.

Malam itu hujan turun deras sekali. Kilat dan petir menggelegar berulang-ulang. Angin bertiup sangat kencang hingga rumah Ku Anyi berderak- derak terkena tiupannya.

Ku Anyi dan istrinya tertidur lelap. Mendadak mereka dikejutkan suara tangis bayi. Keduanya serentak terbangun. Keduanya sejenak berpandangan setelah merasa suara tangisan bayi itu berasal dari dapur rumah mereka.

“Suara tangisan bayi itu berasal dari dapur,” kata istri Ku Anyi. “Bayi siapa?”

Ku Anyi mengangkat kedua bahunya.

Ku Anyi dan istrinya bergegas menuju dapur. Terperanjatlah keduanya mendapati dua bayi di dapur mereka!

Bayi lelaki berasal sebilah bambu betung dan bayi perempuan berasal dari sebutir telur. Permohonan Ku Anyi dan istrinya telah dikabulkan Tuhan. Kini, Ku Anyi dan istrinya telah mempunyai anak. Tidak hanya seorang, melainkan sepasang.

Ku Anyi memberi nama Jau Iru untuk bayi lelaki itu. Guntur besar artinya. Adapun untuk bayi perempuan itu, diberinya nama Lamlai Suri.

Ku Anyi merawat dan mengasuh Jau Iru dan Lamlai Suri dengan baik. Keduanya mencurahkan cinta dan kasih sayang mereka untuk dua anak itu. Keduanya juga mengajarkan berbagai keterampilan ketika Jau Iru dan Lamlai Suri semakin besar.

Jau Iru tumbuh menjadi pemuda gagah. Ia seperti mewariSi kegagahan Ku Anyi. Ia pintar dan terampil dalam berburu. Berbagai keterampilan lainnya ia kuasai dengan baik, wajahnya tampan. Sementara Lamlai Suri tumbuh menjadi gadis yang cantik. Berkat didikan ibu angkatnya, ia terampil menguasai berbagai keterampilan wanita. Setelah Jau Iru dan Lamlai Suri dewasa, keduanya dinikahkan Ku Anyi.

Waktu terus berjalan. Ku Anyi semakin tua. Ia merasa sudah waktunya untuk mundur dari jabatannya selaku pemimpin suku. Ia lalu mengangkat Jau Iru sebagai penggantinya. Segenap anggota suku Dayak Kayan menyambut gembira penunjukkan itu. Mereka senang dipimpin Jau Iru yang gagah, berani, lagi piawai dalam berbagai keterampulan itu.

Jau Iru memimpin dengan baik, adil, dan bijaksana. Suku Dayak Kayan menjadi suku besar yang terpandang. Suku yang disegani kawan dan ditakuti lawan. Wilayah kekuasaan suku Dayak Kayan terus meluas. Mereka menjadi suku yang kuat. Warga suku hidup berkecukupan, ekonomi mereka tertata dengan baik.

Anak keturunan Jau Iru kemudian mendirikan kerajaan yang diberi nama Kesultanan Bulungan. Nama kerajaan itu berasal dari kata bulu tengon yang berarti bambu betulan. Asal usul kerajaan itu di kemudian hari diabadikan dalam wujud monumen yang diberi nama Monumen Telur Pecah.

 

KESABARAN DALAM BERDOA DAN MEMOHON KEPADA TUHAN AKAN MEMBUAHKAN KEBAIKAN DI KEMUDIAN HARI.

Yaki Yamus – Cerita Rakyat Kalimantan Utara
Yaki Yamus – Cerita Rakyat Kalimantan Utara

Di Kampung Tana Lia pada masa lampau hiduplah empat orang bersaudara. Anak bungsu dari mereka ternama sakti mandraguna. Yaki Yamus namanya.

Yaki Yamus memiliki empat mata. Dua mata di sebelah depan dan dua mata lainnya di bagian belakang kepalanya. Jika dua mata di bagian depan tertutup, dua mata di sebelah belakang kepalanya terbuka. Begitu pula sebaliknya. Selain itu, Yaki Yamus memiliki senjata mandau yang sangat tajam. Ia sering mengasah senjata andalannya itu.

Seperti penduduk Kampung Tana Lia lainnya, Yaki Yamus dan tiga kakaknya juga bertani dan mencari ikan. Warga Kampung Tana Lia biasa menggunakan perangkap ikan yang terbuat dari anyaman bambu. Mereka meletakkan perangkap ikan itu di pesisir pantai hingga ke laut. Mereka menangkap ikan yang terjebak dalam perangkap itu.

Jika mencari ikan, Yaki Yamus menggunakan cara yang sangat berbeda dibandingkan semua warga kampung. Ia membunuh orang dan menjadikannya sebagai umpan penangkap ikan!

Yaki Yamus memang terkenal sangat kejam. Warga kampung tidak berani melawannya karena takut pada kesaktiannya.

Kekejaman Yaki Yamus membuat penduduk Kampung Tana Lia hidup dalam ketakutan. Mereka lalu melaporkan tindakan Yaki Yamus kepada Sugang Sipuon, salah seorang kakak Yaki Yamus.

Sugang Sipuon sangat terkejut. Ia sama sekali tidak mengetahui kekejaman perilaku adiknya. Ia tidak menyangka dan merasa sangat malu.

Sugang Sipuon memikirkan cara agar Yaki Yamus tidak kembali menebar kekejaman. Ia lalu membuat sebuah tempat. Sangat kuat tempat itu karena semuanya terbuat dari besi. Setelah tempat itu jadi, Sugang Sipuon memanggil Yaki Yamus.

“Adikku, aku telah membuat tempat ini,” kata Sugang Sipuon. ‘Aku ingin mengujinya, apakah tempat ini kuat atau tidak.”

“Bagaimana cara mengujinya, Kak?”

“Masuklah engkau ke dalam tempat ini,” jawab Sugang Sipuon. “Jika engkau bisa keluar dari tempat ini, berarti tempat ini tidak kuat.”

Yaki Yamus menurut. Tanpa merasa curiga, ia memasuki tempat itu.

Seketika Yaki Yamus masuk, Sugang Sipuon langsung menutup dan merantai tempat itu dengan rantai besi. Tidak ada celah sedikitpun bagi Yaki Yamus untuk meloloskan diri.

Sugang Sipuon menunggu. Beberapa saat kemudian ia terperanjat. Rantai beSi dan tempat buatannya yang sangat kokoh itu mendadak meleleh dan hancur. Tempat terbuat dari beSi itu tidak kuat menahan Yaki Yamus di dalamnya. Yaki Yamus selamat, tanpa cidera sedikitpun.

Sugang Sipuon tidak menyangka, adik bungsunya itu sangat sakti. Ia kembali mencari cara.

Keesokan harinya Sugang Sipuon membuat suatu tempat. Dibuatnya dari anyaman rotan. Setelah selesai, kembali ia memanggil Yaki Yamus. Ia meminta Yaki Yamus untuk menguji tempat buatannya.

Yaki Yamus memasuki tempat itu. Seketika Yaki Yamus telah masuk, Sugang Sipuon lalu mengikat tempat itu erat-erat dengan menggunakan rotan. Yaki Yamus tidak dapat bergerak sedikitpun. Sugang Sipuon lantas menghanyutkan tempat beriSi Yaki Yamus itu ke perairan Tana Lia.

Yaki Yamus akhirnya sadar, kakaknya ingin membuangnya. Ia pun marah. “Kakak,” serunya. “Betapa teganya engkau padaku! Apa salahku hingga engkau membuangku? Bukankah aku ini saudara kandungmu sendiri?”

Sugang Sipuon sangat sedih mendengar ucapan Yaki Yamus. Air matanya bercucuran. Namun, ia tidak menjawab seruan adiknya. Ia hanya bergumam di dalam hati, “Semua ini terpaksa kulakukan, adikku. Inilah jalan terbaik bagi kita semua.”

Tujuh hari tujuh malam Yaki Yamus murka. Tetapi tetap ia tidak bisa melepaskan diri. Akhirnya ia berkata pada Sugang Sipuon, “Baiklah, Kak. Dengarkan baik-baik. Aku akan pergi. Jangan engkau mencariku lagi. Tidak akan aku bisa engkau temukan. Aku tidak akan berwujud seperti manusia lagi!”

Setelah berucap, tubuh Yaki Yamus berubah menjadi sebuah pulau.

Di kemudian hari, pulau itu dinamakan Pulau Sulumun. Keajaiban terjadi di pulau itu. Di pulau itu tumbuh tiga pohon kelapa. Buah-buahnya cukup banyak. Buah-buah kelapa itu tidak akan pernah jatuh, kecuali jika ada anak keturunan Yaki Yamus datang ke pulau itu.

 

KEKEJAMAN PERILAKU AKAN MEMBUAT PELAKUNYA DIJAUHI DAN DISINGKIRKAN DARI PERGAULAN MASYARAKAT LUAS.

Kisah Wafatnya Raja Bunu – Cerita Rakyat Kalimantan Utara
Kisah Wafatnya Raja Bunu – Cerita Rakyat Kalimantan Utara

Raja Bunu tengah sakit. Semakin bertambah hari semakin bertambah parah penyakit yang dideritanya. Sang raja hanya bisa berbaring di ranjangnya tanpa berdaya. Para tabib istana telah berupaya untuk menyembuhkan sang raja, namun usaha mereka tidak membuahkan hasil. Para tabib dan ahli pengobatan dari berbagai daerah juga telah didatangkan. Tetapi, mereka juga tidak bisa menyembuhkan penyakit yang diidap Raja Bunu.

Segenap warga kerajaan berduka. Begitu pula dengan rakyat. Mereka berdoa dan berharap, Raja Bunu akan segera kembali sehat seperti semula. Kesedihan juga dirasakan Raja Sangen dan Raja Sangiang. Keduanya adalah saudara kandung Raja Bunu. Mereka berduka melihat saudara kandung mereka tak berdaya akibat penyakit yang dideritanya.

Suatu hari Raja Sangen dan Raja Sangiang kembali menjenguk Raja Bunu. Keduanya membawa berita penting. Setiba di istana kerajaan, mereka menemui anak sulung Raja Bunu. Pangeran Paninting Tarung, namanya.

“Paninting Tarung,” kata Raja Sangen, “Kami mendengar sepasang tabib ternama yang tinggal di pinggir Telaga Mantuk. Keduanya adalah Nyai Jaya dan Mangku Amat. Mereka sakti mandraguna. Dengan kesaktiannya, berbagai penyakit dapat mereka sembuhkan.”

Pangeran Paninting Tarung mendengarkan sungguh-sungguh.

“Tidak hanya berbagai penyakit,” sambung Raja Sangiang. “Dengan kesaktian yang mereka miliki, mereka juga mampu menghidupkan orang yang telah mati.”

“Paninting Tarung,” kata Raja Sangen selanjutnya. “Datang dan temuilah Nyai Jaya dan Mangku Amat. Ajak keduanya ke istana ini. Kita minta bantuan keduanya untuk mengobati ayahandamu. Semoga ayahandamu dapat sembuh dari penyakitnya.”

Pangeran Paninting Tarung bergegas menuju Telaga Mantuk. Ia tidak menemui hambatan yang berarti dalam perjalanannya. Selamat ia tiba di Telaga Mantuk dan menemukan rumah tempat tinggal Nyai Jaya dan Mangku Amat. Namun, rumah itu kosong. Tampaknya Nyai Jaya dan Mangku Amat sedang bepergian. Tanpa menunggu, Pangeran Paninting Tarung bergegas kembali pulang ke istana.

Setibanya Pangeran Paninting Tarung di istana, Raja Sangen menemuinya. Tanyanya, “Bagaimana Paninting Tarung? Apakah engkau telah menemui Nyai Jaya dan Mangku Amat?”

Pangeran Paninting Tarung menggelengkan kepala. “Nyai Jaya dan Mangku Amat sedang pergi,” jawabnya. “Rumah mereka kosong, tidak kutemukan siapa pun juga di dalamnya.”

“Jika engkau sabar menunggu mereka, bisa jadi kini mereka telah bersamamu ke istana ini,” kata Raja Sangen menyayangkan.

Raja Sangen kembali meminta Pangeran Paninting Tarung untuk kembali ke Telaga Mantuk. Katanya, “Semoga Nyai Jaya dan Mangku Amat sudah kembali. Temuilah dan ajaklah keduanya ke istana ini.”

Pangeran Paninting Tarung kembali melakukan perjalanan menuju Telaga Mantuk. Tetapi, Nyai Jaya dan Mangku Amat belum juga kembali setelah Pangeran Paninting Tarung tiba di rumah mereka. Tanpa menunggu, Pangeran Paninting Tarung bergegas kembali ke istana. Ia melapor pada Raja Sangen dan Raja Sangiang.

“Cobalah sekali lagi engkau ke Telaga Mantuk,” ujar Raja Sangen. “Ajak keduanya ke Istana untuk mengobati ayahandamu.”

Raja Sangiang turut menyarankan, “Tunggu mereka hingga pulang. Jangan kembali ke istana jika tidak bersama mereka.”

Pangeran Paninting Tarung merasa jengkel. Kedua pamannya itu dirasanya tidak mempercayainya. Dua kali ia telah mendatangi rumah Nyai Jaya dan Mangku Amat, namun kembali kedua pamannya itu memintanya pergi lagi. Dengan perasaanjengkel yang semakin meninggi, ia kembali menuju Telaga Mantuk.

Nyai Jaya dan Mangku Amat belum juga kembali. Pangeran Paninting Tarung hanya menemui rumah dua tabib sakti itu kosong. Ia memikirkan cara agar kedua pamannya itu percaya, jika ia telah tiba di rumah Nyai Jaya dan Mangku Amat dan kedua tabib sakti itu tidak ada di rumah mereka. Pangeran Paninting Tarung lalu merobohkan rumah Nyai Jaya dan Mangku Amat. Ia lalu mengambil berbagai peralatan pengobatan Nyai Jaya dan Mangku Amat. Juga bagian-bagian dari rumah itu dan membawanya ke istana kerajaan.

Setibanya di istana, Pangeran Paninting Tarung menemui kedua pamannya. Ia menunjukkan barang- barang yang dibawanya. Katanya, “Inilah buktijika aku telah sampai di rumah Nyai Jaya dan Mangku Amat. Keduanya tetap belum kembali. Kuharap Paman berdua kini mempercayai tindakanku.”

Sementara itu Nyai Jaya dan Mangku Amat kembali dari bepergian. Keduanya terperanjat mengetahui rumah mereka telah roboh. Berbagai peralatan pengobatan mereka hilang. Bagian- bagian rumah merekajuga hilang. Keduanya lalu mengerahkan kesaktian mereka untuk mengetahui apa yang telah terjadi ketika mereka sedang bepergian? Siapa yang merusak rumah mereka?

Nyai Jaya dan Mangku Amat akhirnya mengetahui jika pelaku perusakan itu Pangeran Paninting Tarung. Merekajuga mengetahui penyebab anak Raja Bunu itu melakukan tindakan buruknya. Keduanya ingin turut berusaha menyembuhkan penyakit yang diderita Raja Bunu. Namun, karena peralatan pengobatan mereka hilang dibawa Pangeran Paninting Tarung, mereka tidak bisa melakukan pengobatan. Keduanya khawatir, Raja Bunu akan segera meninggal dunia jika tidak mendapat pengobatan yang tepat dan segera.

Kekhawatiran Nyai Jaya dan Mangku Amat terbukti. Tak berapa lama kemudian Raja Bunu menghembuskan napas terakhirnya.

Kematian Raja Bunu juga diketahui Nyai Jaya dan Mangku Amat. Mereka turut menyesal. Seandainya saja Pangeran Paninting Tarung bersedia sabar menunggu kepulangan mereka, mereka bisa mengobati sakit yang diderita Raja Bunu. Bahkan, seandainya peralatan pengobatan itu tidak dihancurkan Pangeran Paninting Tarung, mereka bisa menghidupkan kembali Raja Bunu.

Nyai Jaya dan Mangku Amat hanya bisa menyesal, seperti penyesalan Raja Sangen dan Raja Sangiang yang tidak bisa memberikan pengobatan yang sesuai untuk saudara kandung mereka.

 

SIFAT SABAR DIBUTUHKAN UNTUK MELAKUKAN SUATU TINDAKAN. TERLALU GEGABAH DAN TERBURU-BURU AKAN DAPAT MENDATANGKAN MALAPETAKA DAN PENYESALAN DI KEMUDIAN HARI.