Kategori: Kepulauan Riau

Asal Mula Selat Nasi – Cerita Rakyat Kepulauan Riau
Asal Mula Selat Nasi – Cerita Rakyat Kepulauan Riau

Tersebutlah seorang penguasa di Pulau Subi. Datuk Kaya namanya. Istrinya bernama Cik Wan. Mereka dikaruniai seorang putri, Nilam Sari namanya. Amat jelita paras Nilam Sari hingga tersebar berita kejelitaannya itu ke negeri-negeri jauh. Terkenal baik pula sifat dan perilaku putri cantik dari Pulau Subi itu. Ia tak ubahnya permata ayu kebanggaan keluarga serta masyarakat pulau itu.

Suatu hari sekelompok pedagang dari Palembang singgah di Pulau Subi. Mereka mendengar cerita tentang kejelitaan dan kebaikan perilaku Nilam Sari. Cerita itu pun mereka ceritakan di Palembang setelah mereka pulang. Cerita tentang Nilam Sari akhirnya menyebar dan didengar Raja Palembang dan Permaisurinya. Keduanya merasa, putri jelita dari Pulau Subi itu pantas menjadi istri Pangeran Demang Aji Jaya, anak lelaki mereka.

Permaisuri Raja Palembang mengungkapkan rencananya itu pada putranya. Ia merasa senang karena Pangeran Demang Aji Jaya menerima rencana itu. Raja Palembang juga turut senang. Sang Raja lalu mengirim utusan kerajaan ke Pulau Subi untuk meminang Nilam Sari. Mereka terdiri dari beberapa orang dan dipimpin seorang petinggi kerajaan. Berbagai hadiah indah dan berharga turut dibawa rombongan utusan itu.

Setelah berlayar beberapa waktu, utusan Raja Palembang tiba di Pulau Subi. Bergegas para utusan menemui Datuk Kaya dan mengungkapkan kepentingan kedatangan mereka.

Datuk Kaya berbahagia mendengar pinangan untuk putrinya itu. “Baiklah,” katanya, “Hamba terima pinangan untuk putri hamba ini.”

Para utusan merasa lega. Perjalanan mereka membawa hasil. Rencana pernikahan pun dibahas. Para utusan dan Datuk Kaya sepakat, pernikahan antara Nilam Sari dan Pangeran Demang Aji Jaya akan dilangsungkan pada bulan Syafar tanggal 10.

Setelah para utusan Raja Palembang pulang, Datuk Kaya segera mengadakan persiapan untuk pernikahan putrinya itu. Warga Pulau Subi berbahagia mendengar rencana pernikahan itu. Mereka lantas bekerja saling bahu-membahu membantu keluarga Datuk Kaya.

Pernikahan itu akan dilangsungkan besar- besaran. Puluhan kerbau dan kambing disembelih. Begitu pula ratusan ayam dan itik. Daging yang sangat banyak itu disiapkan untuk bahan masakan gulai, rendang, dan lauk-pauk. Beras, ketan, dan tepung dalam jumlah sangat banyak siap untuk dijadikan naSi dan aneka kue serta penganan. Menjelang waktu yang telah ditentukan, semua persiapan hampir selesai.

Tanggal 10 bulan Syafar akhirnya tiba. Semua persiapan telah rampung. Nilam Sari telah pula dihias. Kecantikan putri Datuk Kaya itu semakin terpancar anggun mempesona. Busana yang dikenakannya nampak indah gemerlap, membuat decak kagum orang-orang yang melihatnya. Pelaminan nan indah telah disiapkan. Begitu pula dengan aneka hiasan perayaan. Berbagai masakan siap untuk disantap para undangan. Berdandang- dandang nasi disajikan. Aneka masakan lezat siap untuk dinikmati. Berbagai kue dan penganan juga telah siap untuk disantap.

Menjelang siang, rombongan pengantin dari Kerajaan Palembang belum juga datang. Datuk Kaya terlihat resah dan tegang. Ia berjalan mondar-mandir, pandangannya menatap kejauhan berulang-ulang. Beberapa saat waktu berlalu, belum juga terlihat tanda-tanda kehadiran rombongan pengantin yang sangat ditunggunya.

Mengetahui kelakuan suaminya, Cik Wan mendekati. Katanya, “Sabar, Bang. Kurasa, mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sini.”

Datuk Kaya tidak menanggapi ucapan istrinya. Ia tetap gelisah menanti.

Menjelang sore, rombongan tamu yang ditunggu belum juga tiba. Kegelisahan Datuk Kaya semakin menjadi-jadi. Cik Wan berulang- ulang memintanya bersabar, memberinya harapan sebentar lagi rombongan dari Kerajaan Palembang akan segera datang. Tetapi hingga malam tiba, rombongan yang dinanti tidakjuga terlihat.

Datuk Kaya marah. Ia merasa dipermainkan. Kehormatannya dilecehkan. Serunya, “Berani benar mereka mengingkari janji!”

Cik Wan masih tetap berusaha menyabarkan suaminya. “Bisa jadi, mereka belum datang karena ada sesuatu yang menghadang perjalanan mereka, Bang.”

Tetapi, Datuk Kaya terlanjur marah. Ia kembali tidak menanggapi ucapan Cik Wan.

Waktu terus berlalu. Rombongan pengantin lelaki dari Palembang akhirnya datang pada tanggal 13 bulan Syafar. Nilam Sari dan Pangeran Demang Aji Jaya segera dinikahkan.

Cik Wan kebingungan. Semua masakan dan makanan untuk pesta pernikahan itu telah basi. Apa lagi yang harus mereka hidangkan untuk menyuguh tamu dan segenap undangan? Cik Wan memberitahukan masalah itu pada suaminya. Maka sarannya, “Sebaiknya kita masak lagi untuk suguhan para tamu dan undangan.”

Datuk Kaya yang sangat marah itu langsung menolak saran Istrinya. “Tidak!” tegas jawabnya. “Makanan yang telah kita buat itu pantas disantap mereka yang mengingkari janji!”

Cik Wan masih mencoba menyabarkan Datuk Kaya. “Kurasa,” katanya, “mereka tidak sengaja mengingkari janji. Pasti ada sesuatu yang menghadang perjalanan mereka. Hadangan itu yang membuat mereka tidak dapat datang pada tanggal sepuluh.”

Datuk Kaya tidak mau tahu. Ia tetap marah.

Benar ternyata dugaan Cik Wan. Perjalanan rombongan kerajaan Palembang itu dihadang badai. Kapal tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan menerjang badai yang mengganas. Nakhoda kapal lalu mengarahkan kapal menuju pulau untuk berlindung. Mereka baru melanjutkan perjalanan setelah badai mereda. Akibatnya, mereka terlambat tiga hari dari waktu yang telah sebelumnya mereka sepakati.

Cik Wan akhirnya mengetahui penyebab keterlambatan rombongan pengantin dari Kerajaan Palembang itu. Ia kembali menyabarkan suaminya dan menyarankan agar mereka kembali memasak untuk menyuguh tamu.

“Tidak!” seru Datuk Kaya. “Tamu tak tahu diri itu biarlah memakan makanan baSi itu!”

Cik Wan terus berusaha menyabarkan suaminya, namun Datuk Kaya tetap bersikeras dengan keputusannya. Kemarahan Cik Wan akhirnya tersulut. Katanya, “Jika Abang tetap bersikeras, jatuhkan talak satu padaku!”

Datuk Kaya murka. Ia tidak hanya menjatuhkan talak satu, melainkan talak tiga pada Cik Wan!

Datuk Kaya mengambil nasi basi dan menghambur-hamburkannya di tanah. Hamburan nasi basi itu memanjang hingga menyerupai bentuk sebuah selat. “Ingat!” seru Datuk Kaya. “Kita bercerai sebatas nasi basi ini!”

Mendadak laut bergolak dan badai datang menderu-deru. Badai menerjang Pulau Subl hingga pulau itu terbelah menjadi dua. Batas belahan itu tepat seperti hamburan naSi basi. Satu belahan kecil adalah bagian Cik Wan, sementara belahan besar milik Datuk Kaya. Adapun selat pembelah itu di kemudian hari dinamakan Selat Nasi.

 

KEMARAHAN DAN KETIDAKSABARAN HANYA AKAN MENDATANGKAN MUSIBAH DAN PENYESALAN DI KEMUDIAN HARI.

Dang Gedunai – Cerita Rakyat Kepulauan Riau
Dang Gedunai – Cerita Rakyat Kepulauan Riau

Di wilayah kepulauan Riau pada masa lampau hiduplah seorang anak lelaki bernama Dang Gedunai. Dang Gedunai hanya tinggal berdua dengan emaknya setelah ayahnya meninggal dunia. Dang Gedunai dikenal bodoh dan kerap menjadi bahan tertawaan orang lain karena kebodohannya. Namun demikian, emaknya amat menyayanginya.

Pada suatu hari Dang Gedunai mencari ikan di sungai dengan menggunakan tangguk. Ketika itu ia tidak mendapatkan ikan, walau seekor pun, namun malah mendapatkan sebutir telur besar. Dang Gedunai mengamat-amati telur besar temuannya itu. Sangat yakinlah ia kemudian jika telur yang ditemukannya itu adalah telur badak.

“Aku menemukan telur badak!” teriak Dang Gedunai dengan wajah menyemburat gembira. “Aku yakin, telur badak ini rasanya sangat lezat jika dimasak atau digoreng!”

Orang-orang yang tengah mencari ikan bersama Dang Gedunai terperanjat mendengar teriakan Dang Gedunai. Mereka bergegas mendatangi Dang Gedunai. Mereka terkejut melihat Dang Gedunai memegang sebutir telur besar. Mereka tidak tahu telur apa yang dipegang Dang Gedunai itu.

“Ini telur badak,” kata Dang Gedunai menjawab pertanyaan orang-orang itu.

“Telur badak?” mereka keheranan. “Bukankah badak itu beranak dan bukan bertelur?”

“Lantas, telur apa ini jika bukan telur badak? Jika ini telur burung, burung apakah yang bertelur sebesar ini?” Dang Gedunai gigih mempertahankan pendapatnya.

“Aku tidak tahu itu telur apa, namun yang jelas itu bukan telur badak!” salah seorang dari mereka tegas berujar. “Badak itu tidak bertelur. Jangan engkau umbar kebodohanmu itu dengan menyebutkan itu telur badak!”

Namun, Dang Gedunai tidak peduli. Menurutnya, teluryang didapatkannya itu adalah telur badak. Dengan wajah gembira berseri- seri, Dang Gedunai membawa telur temuannya itu pulang ke rumah. Ditemuinya ibunya dan ditunjukkannya telur yang baru saja didapatkannya itu. “Ibu, lihat. Aku menemukan telur badak.”

Sejenak mengamat-amati, emak Dang Gedunai menjadi terkejut. Katanya, “Anakku, ini bukan telur badak. Ini telur naga!”

Kedua alis Dang Gedunai menaik. “Ini telur naga?” tanyanya untuk meyakinkan.

“Benar, itu telur naga,” sahut emaknya.

“Mungkinkah naga datang ke sungai?” sanggah Dang Gedunai. Kepala Dang Gedunai menggeleng-geleng dan kemudian berujar, ”Aku tidak yakin, Mak. Menurutku, ini telur badak. Seekor badak betina datang ke sungai itu dan bertelur.”

Emak Dang Gedunai mencoba menyabarkan diri dan memberikan penjelasannya, “Anakku, badak itu tidak bertelur melainkan beranak. Percayalah pada Ibu, itu telur naga. Sekali-kali janganlah engkau berani memakannya! Ingatlah akan pesan Emak ini.”

Dang Gedunai tetap percaya jika telur temuannya itu adalah telur badak. Ia tetap yakin jika telur itu nikmat rasanya jika dimakan. Ia bersikeras untuk memakannya. Maka, keesokan harinya Dang Gedunai berpura-pura sakit ketika emaknya mengajaknya berangkat ke ladang. Sepeninggal emaknya, Dang Gedunai lantas memasak dan memakan telur besar itu. “Emm … lezat sekali rasa telur badak ini,” katanya. “Nanti aku akan mencari telur badak lagi.”

Setelah memakan telur besar itu Dang Gedunai merasa mengantuk. Ia lalu merebahkan diri di ranjang dan sebentar kemudian ia telah tertidur. Amat lelap tidurnya. Dang Gedunai pun bermimpi. Dalam impiannya itu ia didatangi seekor naga betina yang sangat besar. Naga betina itu berkata kepada Dang Gedunai, “Siapa pun juga yang berani memakan telurku, maka ia akan menjadi naga sebagai pengganti anakku!”

Dang Gedunai langsung terbangun. Ia sangat takut jika impiannya itu menjadi kenyataan. Tiba- tiba ia merasa sangat haus. Ia pun bergegas mengambil air minum. Segelas, dua gelas, tiga gelas, hingga tujuh gelas air telah diminumnya. Aneh, ia tetap merasa sangat haus. Ia pun menuju belakang dapur dan meminum air dari tempayan. Air satu tempayan penuh langsung diminumnya, namun ia tetap merasa sangat haus.

Amat terkejutlah emak Dang Gedunai ketika pulang dari ladang mendapati keadaan anaknya yang terus-menerus merasa kehausan itu. Semua air di rumah itu telah habis diminum Dang Gedunai, namun Dang Gedunai masih tetap merasa haus. “Mak, aku haus! Sangat haus! Aku minta minum, Mak!”

Emak Dang Gedunai sangat keheranan mendapati anaknya terus-menerus kehausan. Ia menjadi yakin kemudian, anaknya itu pasti telah memakan telur naga. “Anakku, apakah telur naga itu engkau makan?”

“Ya, Mak,” jawab Dang Gedunai. “Rasanya enak sekali. Namun, aku menjadi sangat haus. Aku haus, Mak! Haus sekali!”

Para tetangga Dang Gedunai terkejut mendengar suara teriakan Dang Gedunai. Mereka lantas berdatangan ke rumah Dang Gedunai. Mereka kemudian mengambil air dari rumah mereka masing-masing untuk minum Dang Gedunai. Namun hingga semua air itu habis diminum Dang Gedunai, Dang Gedunai tetap merasa haus. Seperti tidak bisa lagi mencegah rasa hausnya, Dang Gedunai menuju sumur. Air di dalam sumur itu diminumnya hingga tandas. Aneh, tetap juga Dang Gedunai merasa haus.

Emak Dang Gedunai lantas membawa anaknya itu ke danau. Dang Gedunai meminum air danau itu. Benar-benar mengherankan, seluruh air di danau itu habis diminumnya. Orang-orang sangat terperangah melihat pemandangan yang sangat mengejutkan sekaligus mengherankan itu. Bertambah-tambah keheranan dan keterkejutan mereka ketika mendapati Dang Gedunai masih juga merasa haus.

Emak Dang Gedunai yang kebingungan lalu membawa anaknya itu ke sungai.

Setibanya di sungai, Dang Gedunai berkata, “Mak, aku akan mengikuti arus sungai ini hingga sampai ke laut. Maafkan aku, Mak. Aku rasa, aku akan menjadi seekor naga.”

Emak Dang Gedunai sangat sedih mendengar ucapan anaknya itu. Meski anaknya telah melanggar pesannya, namun ia sangat menyayangi anak semata wayangnya itu. Ia sangat sedih jika harus berpisah. Dengan airmata bercucuran dipandanginya tubuh anak tercintanya yang sedang berenang cepat mengikuti arus sungai itu. Ia kemudian berjalan menuju muara sungai sementara Dang Gedunai berenang dengan cepat hingga akhirnya tiba di laut.

Setibanya di pantai, Emak Dang Gedunai tidak mendapati anaknya. Airmatanya kian deras mengucur. Dipandanginya laut yang terus berombak tiada henti itu. Tetap ia berharap anaknya akan muncul dan kembali kepadanya. Namun, yang ditunggunya tidak juga muncul. Hingga berhari-hari ia berdiam di pantai itu, Dang Gedunai yang sangat dicintainya itu tidak juga muncul.

Pada suatu hari Emak Dang Gedunai melihat laut berombak sangat besar. Air laut serasa diaduk-aduk oleh kekuatan raksasa yang tidak terlihat. Semua yang dilihatnya itu membuat Emak Dang Gedunai menjadi keheranan berbaur dengan rasa terkejut. Keterkejutan Emak Dang Gedunai bertambah-tambah saat mendapati seekor naga besar muncul dari laut. Naga besar itu bergerak cepat menuju pantai tempat Emak Dang Gedunai berada.

“Mak,” panggil Si naga besar.

Emak Dang Gedunai menyadari jika naga besar itu tak lain adalah jelmaan anak semata wayangnya. Dengan pandangan penuh kasih sayang ditatapnya anak tercintanya itu.

“Mak, maafkan aku yang tidak mendengarkan nasihatmu. Mak telah memintaku untuk tidak memakan telur naga itu, namun aku bersikeras untuk memakannya. Maafkan aku, Mak. Karena kesalahanku akibat tidak mendengarkan nasihatmu, kini aku berubah menjadi seekor naga. Tempat tinggalku tidak lagi di rumah bersamamu, melainkan di lautan luas ini.”

Emak Dang Gedunai kian mencucurkan airmata mendengar pengakuan dan penyesalan anak kandungnya itu.

“Mak, jika Emak rindu untuk bertemu denganku, datanglah ke pantai ini. Pandangilah laut luas yang terbentang di hadapanmu. Perhatikan keadaan laut. Jika laut dalam keadaan tenang, itu berarti aku tengah tertidur, Mak. Namun, jika laut tampak berombak besar, itu pertanda aku tengah mencari makan. Ingatlah baik-baik pesanku ini, Mak.”

“Ya, Dang Gedunai anakku. Emakmu ini akan senantiasa mengingat-ingat pesanmu itu.”

“Selamat tinggal, Mak,” kata Dang Gedunai. “Meski wujudku telah berubah menjadi naga besar, aku ini tetap anakmu, Mak. Aku tetap Dang Gedunai. Oleh karena itu, aku mohon doa dan restumu, Mak.”

“Ya, anakku. Doa dan restuku senantiasa tercurah kepadamu.”

Naga besar jelmaan Dang Gedunai Itu lantas menyelam kembali ke dasar laut, meski Emak Dang Gedunai semula hendak menyentuhnya. Ia telah kembali ke kediamannya yang baru.

Pesan Dang Gedunai disebarluaskan emaknya. Sejak saat itu para nelayan akan senantiasa melihat kondiSI laut terlebih dahulu sebelum melaut. Jika laut berombak ganas, mereka urungkan niat mereka untuk melaut. Mereka tahu, naga besar jelmaan Dang Gedunai tengah mencari mangsa ketika Itu. Mereka takut menjadi mangsa Dang Gedunai. Hanya ketika naga besarjelmaan Dang Gedunai Itu tertidur saja mereka baru berani melaut untuk mencari Ikan.

 

HENDAKLAH KITA SENANTIASA MENDENGARKAN DAN MEMATUHI NASIHAT ORANGTUA. KARENA NASIHAT ORANGTUA SESUNGGUHNYA DEMI KEBAIKAN KITA SENDIRI.

Legenda Pulau Si Jangoi – Cerita Rakyat Kepulauan Riau
Legenda Pulau Si Jangoi – Cerita Rakyat Kepulauan Riau

Seorang panglima ternama Negeri Riau pada masa lampau. Panglima Kawal namanya. Selain cerdas dan pemberani, Panglima Kawal terkenal sakti. Karena keberanian, kecerdasan, dan kesaktian Panglima Kawal, Negeri Riau senantiasa terbebas dari bajak laut dan perompak yang berniat menyerang atau menguasai.

Pada suatu hari datang beberapa kapal ke pelabuhan Riau. Kapal-kapal itu ternyata kapal- kapal perompak yang langsung dipimpin Jangoi, pemimpin bajak laut yang sangat ditakuti. Seketika kapal-kapal bajak laut itu merapat di pelabuhan, Si Jangoi langsung ditemui beberapa hulubalang Negeri Riau.

“Maaf Tuan, siapakah Tuan ini dan ada maksud apakah Tuan datang ke negeri kami?”

“Aku Jangoi!” teriak pemimpin bajak laut yang kejam itu dari atas geladak kapalnya. “Kedatanganku ke Riau ini untuk menguasai Riau! Hendaklah seluruh rakyat negeri ini menyatakan ketaklukkan dan ketundukkannya kepadaku, niscaya mereka akan kuampuni! Mereka akan selamat! Namun, jika mereka berani melawan, perintahkan segenap rakyat untuk beramai-ramai membuat lubang kubur mereka sendiri!”

Para hulubalang Negeri Riau sesungguhnya sangat muak dengan kesombongan Jangoi. Namun, mereka masih mencoba bersabar. Pemimpin hulubalang Negeri Riau menyatakan, “Hendaklah Tuan menunggu sebentar, kami akan melaporkan kedatangan Tuan ini kepada panglima kami.”

“Terserah kepada siapa kalian hendak melapor, aku tidak peduli! Sebutkan, pada panglimamu atau rajamu sekalian, Si Jangoi yang perkasa dan menggetarkan namanya di seantero Kamboja, Serawak, Brunei, dan Sumatera tengah menunggu di sini. Aku tidak sudi datang menghadap, panglima atau rajamu itu yang harus menghadapku!”

Pemimpin hulubalang lantas menemui Panglima Kawal. Dijelaskannya kedatangan Si Jangoi. Lapornya, “Pemimpin perompak itu kini tengah berada di kapalnya yang sedang merapat di pelabuhan untuk menunggu kedatangan Tuan.”

Mendapati laporan itu, Panglima Kawal lantas berniat mengadakan perundingan. Betapa pun sakti dan pemberaninya ia, namun Panglima Kawal lebih memilih menempuhjalan perdamaian dibandingkan peperangan. Ia tidak ingin melihat terjadinya korban jika terjadi peperangan. Perang baru akan dilakukannya jika jalan perundingan telah tertutup atau tidak bisa lagi dilakukan.

Panglima Kawal datang sendirian ke kapal Si Jangoi. Tanpa iringan pengawal dan tanpa pula menyandang senjata. Ia berjalan tenang menaiki kapal tempat di mana Si Jangoi berada.

Kedatangan Panglima Kawal mengejutkan Si Jangoi. Kian terperanjat ia saat mengetahui Panglima Kawal datang sendirian untuk menemuinya. Menurutnya, hanyalah orang pemberani yang berkemampuan tinggi saja yang berani melakukannya. Bagaimanapun halnya, ia kagumjuga dengan keberanian Panglima Kawal itu. Ia perlu memberikan penghormatan kepada Panglima Kawal, meski diselipkannya rencana jahatnya untuk mencelakakan Panglima Negeri Riau itu.

Si Jangoi menerima Panglima Kawal dan mempersilakannya untuk duduk. Untuk menghormati Panglima Kawal, Si Jangoi menghidangkan sirih lengkap dengan kapur dan juga pinang. “Silakan, Tuan,” kata Si Jangoi mempersilakan.

Selintas mengamati, Panglima Kawal mengetahui, daun sirih yang dihidangkan untuknya itu bukan daun sirih biasa, melainkan daun jelatang. Daun jelatang memang sejenis dengan daun sirih, namun sangat beracun. Panglima Kawal tersenyum dan menolak untuk makan sirih.

Si Jangoi tidak tersinggung atas penolakan Panglima Kawal. Jika seseorang tidak memakan sirih, tentu ia memakan bakik1, begitu pikirnya. Si Jangoi lantas menghidangkan bakik yang terdapat dalam tapak sirih. Tetap dengan siasat jahatnya, karena sebelumnya ia telah menempatkan paku- paku beracun di dalam bakik.

Panglima Kawal tersenyum. Tanpa ragu- ragu diambilnya bakik yang dihidangkan itu dan langsung memakannya. Seraya mengunyah, Panglima Kawal berujar, “Mari kita makan bakik ini bersama-sama, Tuan Jangoi.”

Si Jangoi tampak kikuk serta bingung mendengar ajakan Panglima Kawal untuk makan bakik bersama. Mendadak kegentaran merayapi hatinya. Panglima Kawal makan bakik berisi paku beracun itu dengan tenang, padahal racun yang dibubuhkannya sangat kuat. Hanya beberapa saat setelah terkena, orang biasanya akan menemui kematiannya. Terlebih-lebih jika memakannya! Tetapi racun itu ternyata tidak berpengaruh pada Panglima Kawal. Panglima Kawal tetap segar bugar dan tetap mengunyah bakik beriSi paku beracun itu.

“Ayolah Tuan Jangoi,” ajak Panglima Kawal lagi. “Bakik ini sangat enak rasanya. Bagi orang Riau, bakik seperti inilah yang dimakan sebagai pengganti makan sirih.”

Si Jangoi kian kikuk dan bingung. Kegentaran hatinya kian pula menjadi-jadi saat melihat Panglima Kawal mematah-matahkan bakik itu dengan jari-jari tangannya. Semua itu secara langsung menunjukkan betapa tingginya ilmu dan kesaktiannya mengingat bakik-bakik itu beriSi paku beracun. Bisa dibayangkannya seandainya jari-jari tangan Panglima Kawal itu mematah- matahkan tulang-tulang tubuhnya!

“Maafkan kami, Tuan,” mendadak Si Jangoi berujar seraya menghaturkan sembah. “Kami menyerah kalah.”

Si Jangoi mengurungkan niatnya untuk menyerang dan menguasai Riau. Secara langsung ia telah melihat sendiri betapa saktinya Panglima Kawal. Bisa diperkirakannya, ia pasti akan kalah jika bertarung melawan Panglima Kawal. Bahkan, seandainya ia dan segenap anak buahnya mengeroyok Panglima Kawal, belum tentu mereka dapat mengalahkannya. Apalagi, kekuatan Negeri Riau tidak hanya pada Panglima Kawal semata- mata.

Si Jangoi segera memerintahkan segenap anak buahnya untuk mengangkat jangkar dan segera meninggalkan pelabuhan Riau. Sebelum kapal-kapal itu berlayar, Si Jangoi membuang bakik-bakik itu ke laut seraya bersumpah, “Jika bakik ini tidak timbul, aku tidak akan datang lagi ke tempat ini!”

Bakik-bakik yang dilemparkan Si Jangoi ternyata tidak timbul.

Negeri Riau kembali seperti semula dalam keadaan aman, tenteram, dan damai. Tidak ada lagi perompak atau bajak laut yang mencoba menyerang atau menguasai Riau. Kabar keberanian dan kesaktian Panglima Kawal telah menyebar kemana-mana. Jika Si Jangoi yang sangat ditakuti di seantero Kamboja, Serawak, Brunei, dan Sumatera saja merasa gentar menghadapi Panglima Kawal, apalagi para perompak yang belum setenar Si Jangoi namanya.

Waktu terus bergulir. Rakyat Negeri Riau yang tenang dan damai itu mendadak dikejutkan oleh meninggalnya Panglima Kawal. Kesedihan pun seketika itu merebak di Negeri Riau karena kematian panglima terbaik yang pernah dimiliki Negeri Riau itu. Rakyat menangisi kepergian sosok panglima yang terkenal berani lagi sakti namun sangat mencintai perdamaian itu.

Kematian Panglima Kawal didengarjuga oleh Si Jangoi. Niatnya untuk menyerang dan menguasai Riau kembali menyala dan terus berkobar. Tidak ada lagi sosok yang ditakutinya itu membuatnya segera memerintahkan segenap anak buahnya untuk berlayar menuju Riau. “Kita serang dan kuasai Riau!” teriaknya penuh semangat.

Kapal yang dinaiki Si Jangoi tiba di wilayah perairan tempat Si Jangoi dahulu bersumpah untuk tidak datang kembali ke Riau jika bakik yang dilemparkannya ke laut tidak timbul. Wilayah perairan itu terletak di antara Pulau Penyengat dan Teluk Keriting. Ketika itu Si Jangoi tengah berada di anjungan kapal. Mendadak Si Jangoi terjatuh dan sakit. Tampak parah sakit yang diderita pemimpin perompak yang terkenal kejam itu. Tabib yang kemudian didatangkan untuk mengobati penyakitnya pun tak mampu berbuat banyak. Tidak mampu ia menyembuhkan penyakit Si Jangoi.

Si Jangoi merasa, sakit yang dialaminya itu karena ia telah melanggar sumpahnya dahulu. Ia sungguh-sungguh sangat menyesal. Namun, penyesalannya telah terlambat. Ia merasa ajalnya hampir tiba. Maka ia berpesan kepada sekalian anak buahnya untuk mengubur jenazahnya di tempat itu jika ia meninggal. Tak berapa lama setelah berpesan, Si Jangoi pun menghembuskan napas terakhirnya. Sesuai pesan terakhirnya, jenazah Si Jangoi diceburkan ke laut tempatnya dahulu ia bersumpah, di antara Pulau Penyengat dan Teluk Keriting.

Keajaiban pun terjadi setelah mayat Si Jangoi tenggelam ke dasar laut. Mendadak muncul sebuah pulau di tempat itu. Pulau itu lantas diberi nama sesuai nama pemimpin perompak, Pulau Si Jangoi.

 

JIKA KIJA BERSUMPAH. HENDAKNYA KITA TEPATI. JANGAN PERNAH MELANGGAR SUMPAH SENDIRI KARENA TIDAK BAIK AKIBATNYA DI KEMUDIAN HARI.

Legenda Batu Rantai – Cerita Rakyat Kepulauan Riau
Legenda Batu Rantai – Cerita Rakyat Kepulauan Riau

Seorang raja yang memerintah Kerajaan Tumasik. Paduka Seri Maharaja begitu biasa sang Raja Tumasik itu disebut.

Paduka Seri Maharaja dikenal buruk sifat dan perangainya. Ia kejam dan sewenang-wenang. Selain itu ia juga sangat tamak dan iri hati.

Syahdan, negeri Tumasik mendapatkan musibah. Secara tak terduga, ratusan ribu ikan todak datang menyerang warga. Tidak hanya mereka yang tinggal di pantai saja, warga yang tinggal di daerah pedalaman pun tak luput dari serangan ikan berparuh panjang yang runcing lagi tajam itu. Banyak rakyat yang menjadi korban keganasan ikan todak.

Mendapati keganasan ikan todak, Paduka Seri Maharaja lantas memerintahkan agar rakyat berpagar betis untuk menghadapi serangan ikan todak. Namun, usaha itu pun tidak membuahkan hasil. Ikan-ikan todak terus mengamuk dan meningkatkan serangan hingga kian banyak rakyat yang menjadi korban.

Dalam keadaan bingung dan resah, seorang anak lelaki kecil datang menghadap Paduka Seri Maharaja dan dengan lantang berujar, “Ampun Baginda Raja, sia-sia saja rakyat Paduka minta berpagar betis. Semua itu tidak akan dapat menghentikan serangan ikan-ikan todak. Sebaliknya, rakyat akan semakin banyak menjadi korban.”

Paduka Seri Maharaja amat murka mendengar ucapan Si anak lelaki. “Engkau pikir siapa engkau ini, hei budak, hingga berani-beraninya engkau memberikan nasihat kepadaku?”

“Nama hamba Kabil, Baginda Raja. Hamba berasal dari Bintan Penaungan. Hamba sangat mengenal perilaku ikan todak itu. Serangan ikan todak tidak akan dapat dihentikan dengan betis manusia. Hanya dengan batang-batang pisang saja ikan-ikan todak itu dapat dilumpuhkan.”

Meski sebenarnya sangat jengkel dengan keberadaan Kabil, Paduka Seri Maharaja menuruti pula saran Kabil itu. Ia tidak mempunyai pilihan lain. Ia lantas memerintahkan pemagaran daerah Tumasik dengan batang-batang pisang.

Segenap rakyat bersatu padu menebang pohon-pohon pisang dan menjajarkannya hingga menyerupai pagar. Rakyat bekerja keras serasa tidak membiarkan waktu berlalu selain membentengi daerah mereka dengan batang-batang pisang. Negeri Tumasik kemudian laksana berubah menjadi negeri berpagar batang pisang.

Benarlah saran Kabil. Dengan pagar batang pisang yang rapat, serangan ikan-ikan todak itu berhasil ditanggulangi. Amat banyak ikan todak yang tersangkut pada batang pisang. Paruh mereka yang runcing lagi tajam menghujam ke batang- batang pisang. Mereka menjadi tak berdaya. Rakyat lantas menangkap dan memotong ikan-ikan todak. Ketika mereka mengetahui daging ikan todak ternyata lezat rasanya, rakyat pun berebut menangkap ikan-ikan todak dan memasaknya.

Rakyat bersuka cita setelah berhasil menanggulangi serangan ikan-ikan todak. Bahkan, mereka bersyukur pula pada akhirnya karena tidak perlu bersusah payah mencari lauk untuk makan karena serasa tinggal mengambil ikan-ikan todak yang tersangkut di batang-batang pisang.

Jika rakyat merasa suka cita dan berbahagia, tidaklah demikian dengan para pejabat dan pembesar istana Kerajaan Tumasik. Mereka sangat khawatir jika rakyat akhirnya mendukung Kabil dan mendepak Paduka Seri Maharaja dari takhta. Jika itu yang terjadi, kedudukan mereka selaku pejabat dan pembesar istana Kerajaan Tumasik pun menjadi terancam. Mereka lantas menghadap Paduka Seri Maharaja dan mengungkapkan kekhawatiran itu.

“Kekhawatiran kalian seperti itu terbersit pula di hatiku. Kita memang seharusnya menyingkirkan Kabil dari Tumasik agar pengaruhnya tidak meluas,” ujar Paduka Seri Maharaja. “Namun, kita perlu berhati-hati melaksanakannya. Kabil itu anak yang cerdas. Jika kita mengusirnya, niscaya ia akan kembali. Bisa jadi ia kemudian akan menggalang kekuatan untuk meruntuhkan kekuasaanku.”

“Ampun Baginda Raja, lantas tindakan apa yang sebaiknya kita lakukan?” tanya salah seorang pembesar istana Kerajaan Tumasik.

Paduka Seri Maharaja sejenak merenung sebelum akhirnya memberikan perintah kejamnya, “Tangkap Kabil. Lilitkan rantai besi pada seluruh tubuhnya dan kemudian masukkan ia ke dalam kurungan baja. Tenggelamkan ia dalam laut. Dengan cara itu, maka Kabil akan menemui kematiannya dan kekhawatiran kita tidak menjadi kenyataan.”

Perintah kejam Paduka Seri Maharaja pun dilaksanakan. Para prajurit Kerajaan Tumasik menangkap Kabil. Tubuh Kabil diikat dengan rantai beSi dan kemudian dimasukkan ke dalam kurungan yang terbuat dari baja. Kurungan itu lantas dibawa menuju perairan Pulau Segantang Lada untuk ditenggelamkan.

Sebelum ditenggelamkan, Kabil masih sempat berujar kepada Paduka Seri Maharaja, “Beginikah cara Baginda Raja membalas saran kebaikan yang hamba berikan? Bukankah serangan ganas ikan- ikan todak itu bisa ditanggulangi karena Baginda Raja menuruti saran hamba? Bukankah rakyat Tumasik terbebas dari bencana mengerikan yang diakibatkan ikan-ikan todak itu? Lantas, mengapa hamba diperlakukan begitu buruk seperti ini? Apa kesalahan hamba? Sungguh, hamba belum merasa rela hati mati muda dengan cara seperti ini!” Paduka Seri Maharaja tidak mempedulikan ucapan Kabil. Ia tetap memerintahkan agar kurungan baja tempat mengurung Kabil itu ditenggelamkan ke dalam laut. Kurungan baja itu tenggelam di karang Kepala Sambu. Kabil pun menemui kematiannya secara mengenaskan. Sarannya yang menghindarkan beribu-ribu rakyat Tumasik dari kematian akibat ganasnya serangan ikan-ikan todak tidak dihargai. Bukan penghargaan atau ucapan terima kasih yang diterima anak lelaki cerdas itu, melainkan kematian!

Setelah kurungan baja beriSi tubuh Kabil itu ditenggelamkan, air di sekitar tempat itu mendadak berpusar-pusar dengan keras laksana tengah meronta-ronta. Begitu kerasnya pusaran air laut itu hingga para nakhoda senantiasa menghindari kapal yang mereka nakhodai itu melintas di sekitar perairan kepulauan Sambu itu. Penduduk pun menamakan tempat ditenggelamkannya Kabil itu dengan nama Batu Rantai.

 

IRl, TAMAK. DAN GILA KEKUASAAN AKAN MENUTUP DAN BERUSAHA MEMBUNGKAM KEBENARAN. ORANG YANG TAMAK DAN GILA KEKUASAAN AKAN MENGHALALKAN SEGALA CARA DEMI MERAIH KEKUASAAN YANG DIKEHENDAKINYA.