Kategori: Lampung

Kumbang Macan dan Seekor Tawon – Cerita Rakyat Lampung
Kumbang Macan dan Seekor Tawon – Cerita Rakyat Lampung

Ada seekor tawon. Si tawon namanya. Ia tinggal bersama tawon-tawon lainnya di sebuah sarang yang terletak di tengah hutan. Mereka saling bekerja sama untuk mencari makan dan menjaga sarang dari serangan hewan-hewan lainnya.

Pada suatu pagi Si tawon mencari makan. Ia terbang mencari kebun bunga. Ia mendengar kabar, di pinggir hutan terdapat kebun bunga. Si tawon terbang bersemangat, meski ia belum mengetahui letak kebun bunga itu. Sambil terbang ia tersenyum. Wajahnya berseri-seri. Terbayang nikmatnya nektar yang akan disantapnya hari itu, jika ia menemukan kebun bunga yang dicarinya.

Ketika melewati pohon beringin besar, Si tawon melihat seekor kumbang macan. Si kumbang macan sedang duduk terdiam di atas dahan. Si tawon segera menghampiri. Katanya, “Salam wahai kumbang macan yang perkasa.”

Kumbang macan sedikit terkejut mendengar sapaan yang tiba-tiba itu. Ia menganggukkan kepala seraya menjawab, “Salam, wahai tawon.”

“Maaf kumbang macan yang perkasa, apakah boleh saya bertanya padamu?”

Kumbang macan menyahut, “Apa yang ingin engkau ketahui?”

“Konon, di pinggir hutan terdapat kebun bunga. Apakah engkau tahu, di mana letak kebun bunga itu?”

“Aku juga mendengar kabar seperti itu,” kata kumbang macan. “Menurut cerita, di tempat itu banyak saudara-saudaraku, para kumbang macan. Tetapi, letaknya di mana, aku sendiri juga tidak tahu. Aku pernah mencoba mencari, namun kebun bunga itu tidak kutemukan. Padahal, aku juga ingin ke sana untuk bertemu saudara-saudaraku itu.”

Si tawon terdiam. Tidak mudah ternyata menemukan kebun bunga yang dicarinya.

Mendadak Kumbang macan tersentak. Ia seperti teringat sesuatu. Katanya, “Beberapa hari lalu aku bertemu kawanan lebah madu pekerja. Mereka baru datang dari kebun bunga di pinggir hutan sebelah utara.”

Wajah Si tawon kembali berseri-seri. “Jika demikian,” ujarnya, “sebaiknya kita berangkat bersama-sama ke sana.”

“Pinggir hutan sebelah utara itu sangat jauh letaknya,” kata kumbang macan. “Jalan menuju tempat itu juga sulit untuk dicapai. Banyak rintangan dan hambatan yang menghadang.”

“Jika kita bersama-sama, kita akan bisa menghadapi rintangan dan hambatan itu,” jawab Si tawon. “Kita bisa saling tolong-menolong dalam perjalanan.”

Kumbang macan terdiam beberapa saat. Ia memikirkan ucapan Si tawon. “Baiklah,” katanya. “Kita berangkat bersama-sama.”

Kumbang macan dan Si tawon berangkat bersama. Keduanya terbang melintaSi semak belukar dan pepohonan. Sesekali sejenak mereka beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Suatu saat kumbang macan kembali meminta mereka sejenak beristirahat. Kumbang macan hinggap di dahan pohon. Si tawon beristirahat di pucuk dedaunan. Mendadak Si tawon melihat sesuatu yang bergerak perlahan menuju kumbang macan. Tubuh sesuatu itu berwarna cokelat kehijauan, mirip dengan warna batang pohon dan daun. Sesekali sesuatu itu menjulurkan lidahnya. Terperanjatlah Si tawon setelah mengamati. Sesuatu itu adalah seekor bunglon. Kumbang macan dalam bahaya, karena bunglon itu bersiap memangsanya!

Si tawon bergerak cepat. Ia menyengat bunglon seraya berteriak, “Kumbang macan, awas! Lekas terbang! Lekas!”

Kumbang macan terkejut. Ia bergegas terbang.

Bunglon itu urung memangsa kumbang macan akibat sengatan Si tawon berulang-ulang mengenai tubuhnya.

“Terima kasih, tawon,” ujar kumbang macan setelah terbebas dari bahaya besar yang mengancam jiwanya.

Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Mereka terbang berdekatan untuk menjaga kemungkinan yang menghambat perjalanan keduanya. Mendadak Si tawon melesat mendahului kumbang macan. Ia seperti ingin segera tiba di kebun bunga yang mereka tuju.

Tiba-tiba Si tawon tak lagi bisa terbang. Ia merasakan tubuhnya melekat pada sesuatu. Ia meronta-ronta untuk melepaskan diri. Namun, semakin ia bergerak, semakin kuat ia menempel pada sesuatu itu. Si tawon ternyata terjerat pada sarang laba-laba.

“Tolong… tolooongl!” jerit Si tawon.

Si tawon semakin ketakutan saat melihat laba- laba besar bergerak mendekatinya. Ia semakin keras meronta-ronta, tetapi sarang laba-laba semakin erat menjeratnya. Si tawon tak lagi berdaya. Tak bisa dibayangkannya sebentar lagi ia akan dimangsa laba-laba.

Kumbang macan terkejut melihat Si tawon terjerat sarang laba-laba. Bertambah keterkejutannya saat mendapati laba-laba bergerak perlahan mendekati Si tawon. Ia tak ingin sahabat perjalanannya itu dimangsa laba-laba. Ingin pula ia membalas pertolongan Si tawon. Maka, dengan sekuat tenaga diterjangnya sarang laba-laba. Dengan kepala dan tubuhnya yang keras serta kaki-kakinya yang kasar lagi kuat, ia merusak sarang laba-laba. Jaring-jaring pembentuk sarang itu putus dan berantakan. Sebelum laba-laba menyergap Si tawon, Si tawon telah berhasil membebaskan diri.

Si tawon selamat. “Terima kasih, kumbang macan,” katanya.

Kumbang macan menganggukkan kepala.

Si tawon dan kumbang macan kembali melanjutkan perjalanan. Mereka kembali terbang berdekatan. Si tawon bahkan tidak ingin berjauhan dari kumbang macan. Begitu pula sebaliknya. Mereka saling menjaga dan bersiap menolong jika masing-masing membutuhkan pertolongan.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, Si tawon dan kumbang macan akhirnya tiba di tempat tujuan mereka. Sebuah kebun bunga terbentang luas. Aneka bunga tumbuh subur di kebun bunga itu.

Tak terkirakan gembiranya Si tawon dan kumbang macan. Si tawon bisa mendapatkan nektar yang banyak. Begitu pula dengan kumbang macan. Ia dapat bertemu dengan saudara-saudaranya yang banyak berada di kebun bunga itu.

BERSATU DAN BEKERJASAMA SERTA SALING BANTU-MEMBANTU AKAN MEMBUAT SESUATU YANG BERAT DAPAT LEBIH MUDAH UNTUK DILAKUKAN.

Kisah Dua Pangeran – Cerita Rakyat Lampung
Kisah Dua Pangeran – Cerita Rakyat Lampung

Dua pangeran yang sangat mencintai ayahanda mereka. Keduanya tengah menuntut ilmu sebagai bekal untuk kehidupan mereka selanjutnya, termasuk melanjutkan takhta ayahandanya. Setelah mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang cukup, kedua pangeran itu pun kembali ke kerajaan. Ketika itu Pangeran Sulung telah mempunyai keterampilan memanah. Ia sangat mahir memanah, bidikan anak panahnya hampir tidak pernah meleset dari sasaran yang ditujunya. Pangeran Bungsu piawai melukis. Lukisan buatan tangannya sangat indah, mirip dengan sesuatu yang menjadi objek lukisannya.

Ketika dua pangeran itu tiba di istana kerajaannya, mereka sangat berduka. Ayahanda mereka ternyata telah wafat. Pemerintahan kerajaan untuk sementara dijalankan oleh Menteri Kerajaan. Sebelum wafat, Sang Raja telah berwasiat agar seluruh harta kekayaannya dibagi menjadi dua untuk kedua anaknya. Satu benda sangat berharga peninggalan Sang Raja, yakni cincin ajaib, akan diberikan kepada salah satu dari dua anaknya itu yang paling mencintainya.

Menteri Kerajaan lantas menjalankan wasiat Sang Raja setelah kedua pangeran itu tiba di istana kerajaan. Harta kekayaan Sang Raja yang banyak itu dibagi dua. Setengah bagian untuk Pangeran Sulung dan setengah bagian lainnya untuk Pangeran Bungsu. Adapun cincin ajaib peninggalan Sang Raja akan diberikan kepada salah satu dari dua pangeran itu melalui ujian berdasarkan kepandaian dan keterampilan mereka.

Ujian pertama untuk kedua anak raja itu adalah memanah burung. Ujian itu dapat dilakukan oleh kedua pangeran itu dengan sangat baik. Masing-masing anak Sang Raja itu dapat memanah tepat pada sasaran yang ditentukan.

Pangeran bungsu kemudian diminta melukis wajah ayahandanya. Sangat mirip lukisan itu dengan wajah mendiang Sang Raja setelah lukisan itu selesai. Menteri Kerajaan lantas meletakkan lukisan tersebut di suatu tempat.

“Silakan Pangeran berdua memanah tepat pada lukisan bola mata lukisan mendiang Baginda Raja itu,” kata Menteri Kerajaan.

Tanpa ragu-ragu Pangeran Sulung langsung mengarahkan anak panahnya pada lukisan bola mata kiri ayahandanya. Mengena tepat bidikan anak panahnya.

Ketika giliran Pangeran Bungsu untuk memanah tiba, Pangeran Bungsu menyatakan tidak sanggup untuk melakukannya. Katanya memberi alasan, “Meski itu hanya wajah Ayahanda, namun aku tidak sanggup untuk memanah gambar bola mata Ayahanda.”

Menteri Kerajaan lantas memutuskan Pangeran Bungsu yang berhak mendapatkan cincin ajaib peninggalan Sang Raja. Pangeran Bungsu dinilai lebih mencintai ayahandanya dibandingkan kakaknya. Pangeran Sulung dapat menerima keputusan Menteri Kerajaan itu.

Tidak berapa lama setelah kedua pangeran itu tinggal kembali di istana kerajaan, mendadak terjadi pemberontakan dan huru-hara besar. Kedua pangeran itu terpaksa harus melarikan diri dari istana kerajaan setelah kekuatan pemberontak dapat menguasai istana kerajaan. Kedua pangeran itu terusir dan sulit bagi mereka kembali lagi ke istana kerajaan. Dalam pelariannya, kedua pangeran itu akhirnya hidup seperti rakyat kebanyakan. Mereka tinggal di rumah yang sangat sederhana. Beruntung, harta peninggalan Sang Raja yang banyak itu mereka bawa turut serta dalam pelarian.

Pangeran Sulung kemudian menjadi pedagang dan Pangeran Bungsu menjadi petani. Keduanya rapat-rapat menutup jati diri mereka yang sesungguhnya agar tidak tertangkap kekuatan pemberontak.

Syahdan, kedua pangeran itu teringat pada pesan ayahanda mereka. Ketika itu Sang Raja berpesan, “Jika kalian ingin berhasil dalam kehidupan kalian, maka hendaklah kalian makan lauk-pauk yang kepalanya lebih dari seratus buah jumlahnya. Selain itu, jika kalian berangkat dan pulang dari tempat kerja atau usaha, hendaklah kalian jangan terkena sinar matahari.”

Pesan Sang Raja itu lantas dijalankan kedua pangeran tersebut.

Pangeran Sulung memakan lebih dari seratus ekor kepala hewan yang berbeda-beda jenisnya setiap kali ia makan. Ia memakan masakan kepala kerbau, sapi, kambing, ayam, bebek, dan kepala hewan-hewan lainnya. Ia merasa telah menjalankan pesan ayahandanya. Jalan menuju tempat usahanya juga diberinya atap sehingga ia tidak terkena sinar matahari, baik ketika berangkat maupun pulang. Begitu besar pengeluarannya sehari-hari hingga mengakibatkan ia bangkrut dan akhirnya jatuh miskin.

Berbeda dengan kakaknya, Pangeran Bungsu memakan kepala ikan-ikan teri dengan jumlah lebih dari seratus. Ketika berangkat ke sawah ia melakukannya pada waktu pagi hari sebelum matahari terbit. Ia pulang dari sawah setelah matahari terbenam. Karena sedikit pengeluarannya dan banyak hasil yang didapatkannya, harta miliknya kian bertambah-tambah. Pangeran Bungsu pun menjadi kaya raya.

Pangeran Sulung yang jatuh miskin selalu meminta bantuan adiknya. Mengingat tetap juga besar pengeluarannya karena salah mengartikan pesan ayahandanya, Pangeran Bungsu akhirnya bangkrut dan jatuh miskin pula setelah berusaha menolong kakaknya.

Pada suatu malam Pangeran Bungsu bermimpi. Ayahandanya datang dalam impiannya dan memintanya untuk pergi ke arah matahari terbit dan ia tidak diperbolehkan kembali sebelum berhasil dalam usahanya. Tanpa menunggu waktu lagi, Pangeran Bungsu langsung berangkat menuju arah timur setelah berpamitan kepada kakaknya.

Pangeran Bungsu terus berjalan ke arah timur hingga tibalah ia di sebuah hutan yang terkenal sangat angker. Hutan itu menjadi wilayah kekuasaan Raja Jin. Ketika Pangeran Bungsu memasuki hutan angker, Raja Jin langsung menangkap dan hendak memangsa hatinya. Meski ketakutan, Pangeran Bungsu berujar pada Raja Jin, “Jika engkau hendak memangsaku, maka tunggulah beberapa waktu lagi hingga hatiku membesar.”

Raja Jin menuruti permintaan Pangeran Bungsu. “Baik,” katanya, “Kuberi waktu tiga hari untukmu agar hatimu membesar terlebih dahulu hingga aku dapat memangsanya.”

Pangeran Bungsu dikurung dalam sebuah penjara agar tidak melarikan diri. Selama dalam kurungan itu Pangeran Bungsu terus mencari cara untuk mengalahkan Raja Jin yang gemar memangsa hati manusia itu.

Tiga hari kemudian Raja Jin menagih janji. Ia akan memangsa hati Pangeran Bungsu. Namun Pangeran Bungsu menyatakan jika hatinya belum membesar. “Jika engkau mau,” ujar Pangeran Bungsu kepada Raja Jin, “aku akan mencarikan hati yang lebih besar dibandingkan hatiku. Engkau tentu akan puas untuk menyantapnya.”

Raja Jin sangat gembira mendengar janji Pangeran Bungsu. “Jika engkau dapat membawakan hati yang lebih besar dari hatimu, aku akan memberimu barang-barang berharga milikku.”

Pangeran Bungsu mencari cara untuk melenyapkan Raja Jin yang sangat jahat itu. Didapatkannya cara itu. Ia lalu membuat lem dari umbi tanaman yang ditemukannya di hutan itu. Pangeran Bungsu membuat lem dalam jumlah yang banyak. Dibawanya satu panci lem ketika ia kembali menemui Raja Jin. “Wahai Raja Jin, aku membawakan obat untukmu,” kata Pangeran Bungsu.

“Obat?”

“Benar, Raja Jin,” Pangeran Bungsu menunjukkan panci dan membuka tutupnya. “Ini obat yang dapat membuat tubuhmu menjadi kuat perkasa. Selain itu, obat ini juga membuatmu awet muda lagi panjang umur.”

Raja Jin sangat gembira mendengar penjelasan Pangeran Bungsu. Tanpa ragu-ragu lagi ia langsung mengambil panci berisi lem itu dan langsung menelannya sekaligus. Raja Jin meronta-ronta karena tenggorokannya tersumbat lem. Ia berusaha mengeluarkan kembali lem yang ditelannya, namun tetap lem itu menyumbat tenggorokannya. Tubuhnya limbung dan terjatuhlah ia dengan kepala membentur batu besar. Raja Jin itu pun tewas!

Pangeran Bungsu tidak hanya terbebas dari kekejaman Raja Jin, melainkan juga mendapatkan banyak barang berharga milik Raja Jin. Dibawanya pulang kembali barang-barang berharga itu.

Sepeninggalnya, kakaknya ternyata tidak bekerja dan terus menggunakan harta kekayaan Pangeran Bungsu yang tersisa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang boros. Akibatnya harta Pangeran Bungsu habis, hingga rumah milik Pangeran Bungsu pun dijualnya. Pangeran Sulung bahkan menjadi pengemis.

Pangeran Bungsu terkejut saat mengetahui rumahnya telah dijual dan kakaknya menjadi pengemis. Dengan harta yang dibawanya, Pangeran Bungsu lantas membeli rumah baru. Dicarinya kakaknya dan diajaknya pulang kembali. Ia memaafkan kesalahan kakaknya. Pangeran Bungsu tetap sayang dengan kakaknya, betapa pun besar kesalahannya terhadapnya. Ia merasa, sebagai saudara hendaknya saling tolong- menolong dan mengingatkan jika saudaranya itu melakukan kesalahan.

Pangeran Sulung menjadi sadar. Ia meniru sikap hemat dan rajin yang dicontohkan adiknya. Keduanya pun akhirnya menjadi orang-orang kaya lagi terpandang di desanya. Keduanya hidup rukun dan berbahagia meski tidak harus tinggal di istana kerajaan dan juga tidak harus menjadi raja pengganti ayahanda mereka.

 

BERHEMATLAH DALAM KEHIDUPAN KARENA HEMAT ADALAH PANGKAL KAYA DAN BOROS AKAN MENUNTUN KE JURANG KEMISKINAN DAN KEHANCURAN.

Unang Batin – Cerita Rakyat Lampung
Unang Batin – Cerita Rakyat Lampung

Unang Batin adalah seorang anak yang tinggal di kampung Putih Doh pada masa lampau. Sejak kecil Unang Batin telah mendapat didikan agama dan bela diri langsung dari ayahnya. Berkat didikan ayahnya, Unang Batin menguasai ilmu agama dan juga ilmu bela diri yang cukup. Ayahnya berharap Unang Batin akan dapat menjadi hulubalang kerajaan yang terampil, cakap, dan berani membela kebenaran. Pesan yang senantiasa berulang-ulang disampaikan ayahnya untuk Unang Batin adalah, “Jadilah seorang yang rendah hati. Gunakan ilmu padi, semakin merunduk jika engkau semakin berisi. Senantiasalah bersikap jujur, karena kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana pun juga engkau berada. Janganlah engkau sombong, karena kesombongan itu akan meruntuhkanmu di kemudian hari.”

Ketika Unang Batin menginjak usia remaja, ia pun mulai berkelana untuk menambah ilmu, terutama ilmu bela diri dan kesaktian. Berbagai daerah telah disinggahinya. Ia mulai pengembaraannya di daerah Palembang. Berturut- turut kemudian ia menuju Bengkulu, Pariaman Aceh, dan bahkan meneruskan pengembaraannya hingga ke Kelantan Melaka (Malaysia). Selama mengembara di daerah-daerah itu Unang Batin berguru berbagai ilmu kesaktian dan juga pengetahuan. Ia belajar ilmu silat, berbagai ilmu kesaktian, seperti ilmu kebal, ilmu pukulan jarak jauh, tenaga dalam, ilmu penangkal racun dan teluh, serta ilmu-ilmu lainnya. Unang Batin juga mempelajari ilmu perbintangan. Dengan kecerdasan dan tekad kuatnya, semua ilmu-ilmu itu dikuasai Unang Batin dan menjadikan dirinya selaku pendekar yang tangguh sekaligus tinggi pengetahuannya.

Unang Batin senantiasa mengingat dan menerapkan pesan ayahandanya dengan baik. Di mana punjuga ia berada, ia senantiasa merendah. Tidak pernah ia menunjukkan ketinggian ilmunya. Ia bahkan lebih suka menghindar jika mendapat tantangan. Ia baru akan mengeluarkan ilmunya jika jalan perdamaian tidak lagi bisa ditempuhnya. Selain itu, Unang Batin juga dikenal selaku sosok yang sangat jujur. Ia pandai memegang amanat dan berani membela kebenaran dan kebaikan. Unang Batin adalah musuh bagi kejahatan.

Setelah menguasai berbagai macam ilmu kesaktian dan pengetahuan, Unang Batin lantas kembali ke daerahnya. Ayahnya begitu bangga mendapati anaknya pulang dengan mendapatkan berbagai ilmu kesaktian dan pengetahuan serta tetap menunjukkan sifat dan sikap seperti yang dipesankan.

Ayah Unang Batin lantas menyerahkan tugas dan jabatan serta penguasaan harta benda yang selama itu dipegangnya kepada Unang Batin. Unang Batin menjalankan kepercayaan itu dengan sebaik-baiknya. Dikerjakannya semampu yang bisa dilakukannya. Ayahnya sangat puas mendapati hasil pekerjaan anaknya itu.

Syahdan, ketua adat kampung Putih Doh, Cukuhbalah, berencana menunjuk seseorang yang akan mewakili kampung Putih Doh dalam pertandingan silat antar kampung. Musyawarah pun diadakan. Cukuhbalah dan segenap warga kampung Putih Doh sepakat menunjuk Unang Batin sebagai wakil mereka. Selaku ujang baru atau wakil kampung Putih Doh, Unang Batin diberi gelar Mas Motokh. Pertandingan silat itu akan dilakukan pada hari kedua Lebaran.

Waktu pertandingan pun tiba. Halaman rumah Lamban balak (Kepala Adat) yang dijadikan arena pertandingan telah dipenuhi para pesilat yang menjadi wakil daerah masing-masing. Dalam pertandingan silat itu Unang Batin akan menghadapi pesilat yang telah tenar ketangguhannya yang bernama Marga Pertiwi.

Meski menghadapi pesilat ternama, Unang Batin tidak menunjukkan kegentarannya. Ia siap meladeni jurus-jurus silat Marga Pertiwi. Ia tetap bersikap merendah. Berbeda dibandingkan Marga Pertiwi yang congkak. Ia memandang rendah pesilat wakil dari kampung Putih Doh itu. Menurut anggapannya, dua atau tiga jurus saja ia akan dapat menjatuhkan Unang Batin!

Pertarungan silat antara Unang Batin dan Marga Pertiwi pun dimulai. Sorak sorai kedua kubu terdengar membahana ketika memberi semangat pesilat masing-masing. Meski semula memandang enteng Unang Batin, Marga Pertiwi mulai kerepotan setelah pertarungan silat berlangsung beberapa waktu. Jurus-jurus andalannya mampu ditandingi Unang Batin. Tenaga dalam yang dikerahkannya pun tetap tidak magipu menjatuhkan pesilat wakil kampung Putih Doh itu. Bahkan, kekuatan batin yang kerahkannya pun tetap dapat diimbangi Unang Batin. Hingga dalam sebuah kesempatan Unang Batin mampu mendaratkan pukulan dan tendangan kerasnya yang telak mengenai tubuh Marga Pertiwi. Pesilat yang ternama ketangguhannya itu jatuh terjerembap ke atas tanah dan tidak mampu lagi melanjutkan pertarungan.

Unang Batin dinyatakan sebagai pemenang.

Kekalahan Marga Pertiwi berbuntut panjang. Kubu Marga Pertiwi serasa tidak bisa menerima kekalahan itu. Mereka pun mendendam dan ingin mencelakai Unang Batin dan warga kampung Putih Doh. Pada malam harinya mereka mengirim teluh ke kampung Putih Doh. Cahaya putih yang menakutkan terlihat nyata di kampung Putih Doh. Sasaran teluh itu tak lain Unang Batin adanya.

Unang Batin tidak bisa tinggal diam menghadapi ulah jahat kubu Marga Pertiwi. Segera dikeluarkannya ilmu penolak teluh yang dikuasainya. Dari rumah Unang Batin keluar cahaya kuning yang kuat. Pertarungan antara cahaya putih dan kuning segera terjadi. Hanya berlangsung beberapa saat pertarungan itu setelah cahaya kuning mampu mengalahkan dan mengusir cahaya putih dari desa Putih Dot. Seandainya Unang Batin berkehendak, ia bisa mengirim balik teluh kubu Marga Pertiwi tersebut. Namun, Unang Batin tidak melakukannya. Ia tidak ingin mencelakai orang lain, sekali pun orang lain berniat jahat kepadanya. Semua itu kian menunjukkan ketinggian budi pekertinya. Namanya pun kian dikagumi banyak orang. Meski demikian, Unang Batin tidak juga merasa sombong. Ia tetap merunduk laksana padi yang telah berisi.

Dendam mereka yang benci pada Unang Batin tidak juga padam. Malah kian meninggi. Secara sembunyi-sembunyi mereka menuju kampung Putih Dot untuk mencari cara guna melumpuhkan Unang Batin. Ketika mereka mendapati Unang Batin sedang tidak berada di rumahnya, mereka pun merusak tangga dan mengganjal tiang rumah Unang Batin dengan batu. Mereka lantas bersiaga dengan senjata tajam di tangan.

Sepulang dari pesta yang dihadirinya, Unang Batin pun kembali ke rumah. Ia jatuh terjerembab ketika menginjak anak tangga rumahnya yang telah dirusak. Seketika ia terjatuh, musuh-musuhnya segera mengepungnya dengan mengarahkan senjata tajam mereka ke tubuh Unang Batin.

Dalam keadaan sangat terdesak dan tidak bisa lagi memberikan perlawanan, Unang Batin pun berujar, “Ingatlah baik-baik. Jika kalian membunuhku maka, empat puluh hari setelah kematianku, kalian semua akan juga menemui kematian kalian sendiri. Kalian semua! Tidak itu saja, anak keturunan kalian juga tidak akan ada yang selamat!”

Mereka tidak gentar dengan ancaman Unang Batin. Mereka membunuh Unang Batin beramai- ramai dan membuang mayat Unang Batin ke laut

Meski peristiwa pembunuhan Unang Batin itu tidak diketahui warga Putih Dot dan juga keluarga Unang Batin, namun para pembunuh itu akhirnya mengakuinya. Sangat mengherankan mereka memilih untuk bunuh diri kemudiam Semua pembunuh Unang Batin mengakhiri hidup mereka masing-masing. Lebih mengherankan lagi, anak keturunan mereka benar-benar tidak ada yang selamat!

Kutukan Unang Batin telah mewujud dalam kenyataan.

 

RAJIN-RAJINLAH MENUNTUT ILMU DAN MENGGUNAKANNYA DEMI KEBENARAN DAN KEBAIKAN. ORANG BAIK AKAN DIKENANG KEBAIKANNYA DAN BEGITU PULA DENGAN ORANG JAHAT AKAN DIKENANG PULA KEJAHATANNYA.

Kisah Kambing, Beruang, dan Harimau – Cerita Rakyat Lampung
Kisah Kambing, Beruang, dan Harimau – Cerita Rakyat Lampung

Hiduplah seekor induk kambing pada zaman dahulu. Si induk kambing mempunyai seekor anak. Keduanya menjadi hewan peliharaan Raja Maskhaja.

Pada suatu hari Raja Maskhaja berniat menikahkan putranya dengan putri dari negeri seberang. Karena terjadi musim kemarau yang berkepanjangan, Raja Maskhaja lantas mengundang sanak kerabatnya untuk membantu mewujudkan rencana pernikahan putranya itu. Pada pertemuan dengan seluruh sanak kerabatnya, Raja Maskhaja menyebutkan akan menyembelih dua ekor kambing miliknya.

Anak kambing yang tengah berada di bawah rumah pertemuan Raja Maskhaja dengan sanak kerabatnya itu mendengar rencana Raja Maskhaja yang akan menyembelih dirinya dan induknya. Si anak kambing lantas membangunkan induknya yang tengah tidur. Katanya, “Ibu, aku mendengar rencana majikan kita yang akan menyembelih kita pada pesta pernikahan putra majikan kita. Aku sangat takut, Bu! Lantas, apa yang seharusnya kita lakukan?”

Induk kambing lalu mengajak anaknya itu untuk melarikan diri malam itu juga. “Mumpung mereka masih berembuk, kita melarikan diri sekarang ini juga.”

Induk kambing dan anaknya segera berjalan mengendap-endap meninggalkan tempat mereka dipelihara. Kegelapan malam membantu pelarian mereka hingga dua ekor kambing itu berhasil tiba di pinggir hutan. Meski sesungguhnya takut memasuki hutan, namun induk kambing dan anaknya nekat melakukannya. “Lebih baik kita bersembunyi di hutan ini daripada harus menjadi korban,” kata induk kambing.

Induk kambing dan anaknya terus berjalan memasuki kelebatan hutan. Keduanya berjalan tak tentu arah karena yang terpenting bagi mereka adalah dapat sejauh mungkin dari istana Raja Maskhaja. Mereka terus berjalan hingga akhirnya waktu pagi pun tiba. Induk kambing dan anaknya telah jauh memasuki hutan. Induk kambing menyarankan agar mereka beristirahat terlebih dahulu.

“Ya, Bu,” ujar Si anak kambing. “Lagipula, selain lelah, aku juga sudah sangat lapar.”

Mereka mendapati di bagian hutan itu banyak tumbuh rumput. Keduanya lantas makan rumput dengan amat lahapnya. Ketika keduanya tengah makan, mendadak mereka mendengar auman seekor harimau.

Tubuh induk kambing dan anaknya seketika itu menjadi gemetar. Mereka sangat ketakutan. Serasa sia-sia perjalanan jauh mereka untuk melarikan diri dari rencana penyembelihan Raja Maskhaja, mereka kini harus berhadapan dengan seekor harimau yang bisa saja memangsa mereka!

Induk kambing dan anaknya lantas bersembunyi di balik pepohonan besar.

Namun, Si harimau mengetahui tempat persembunyian mereka. Teriak Si harimau, “Hei, sedang apa kalian?”

Begitu takutnya Si induk kambing, hingga ia menjawab terbata-bata dan terlepas jawabannya, “Kami… kami sedang makan … bawang.”

Syahdan, seekor beruang berada tak jauh dari Si induk kambing dan juga anaknya. Si beruang mendengar jawaban Si induk kambing. Karena ucapan Si induk kambing terbata-bata, Si beruang salah dengar. Dalam pendengarannya, Si induk kambing sedang memakan beruang!

Si beruang sangat takut. Seumur hidupnya ia belum pernah melihat kambing dan ia percaya jika kambing adalah makhluk pemangsa beruang. Si beruang pun langsung memanjat pohon untuk menghindar menjadi mangsa Si kambing.

Si harimau terheran-heran melihat Si beruang memanjat pohon dengan tergesa-gesa. “Apa yang hendak engkau perbuat hei beruang? Mengapa engkau memanjat pohon itu?”

“Ada kambing yang sedang memakan beruang,” jawab Si beruang.

Si harimau tertawa terbahak-bahak. “Apa katamu? Ada kambing yang sedang makan beruang?”

“Ya,” jawab Si beruang tetap dengan ketakutannya.

“Engkau salah dengar, beruang. Kambing itu tidak sedang makan beruang, melainkan sedang makan bawang,” jelas Si harimau.

Si beruang tetap tidak percaya dengan penjelasan Si harimau. Ia bahkan menyangka Si harimau hendak menjerumuskannya agar menjadi mangsa Si kambing. Ia menyangka Si harimau berbohong padanya.

“Aku tidak berbohong,” jawab Si harimau. “Turunlah. Engkau tidak perlu merasa takut kepada kambing. Kambing tidak sedang memakan beruang, melainkan sedang memakan bawang.”

Si beruang tetap saja ketakutan. Katanya kemudian, “Harimau, aku mau turun jika engkau bersedia mengawalku. Bahkan, aku mau berkenalan dengan kambing itu jika engkau tetap mengawalku. Sungguh, aku tidak ingin menjadi mangsa kambing!”

“Pengawalan bagaimana yang engkau kehendaki?” tanya Si harimau.

“Aku meminta ekor kita terikat menjadi satu. Dengan cara itu maka engkau telah menunjukkan jika engkau tidak berniat menjerumuskanku untuk menjadi mangsa kambing.”

Si harimau akhirnya setuju. Si beruang pun turun dan kemudian mendekati Si harimau. Keduanya saling mengikatkan ekor masing-masing.

Semua percakapan antara Si harimau dan Si berung itu didengar dan diketahui induk kambing dan anaknya. Sesungguhnya keduanya benar-benar telah ketakutan berhadapan dengan harimau dan juga beruang. Namun, karena mereka mengetahui beruang takut bertemu dengan mereka, keberanian mereka pun timbul. Bahkan, mereka mempunyai rencana untuk membebaskan diri dari kemungkinan menjadi mangsa harimau atau beruang.

Ketika Si harimau dan Si beruang dengan kedua ekor saling terikat datang mendekat, induk kambing dan anaknya segera berteriak keras-keras. Sangat keras teriakan mereka hingga membuat Si beruang terperanjat bukan alang kepalang. Karena terperanjat, Si beruang pun lari tunggang langgang. Ketika berlari menjauh itulah ekornya terputus dan tetap menyatu dengan ekor harimau!

Konon, sejak saat itu ekor beruang pendek dan ekor harimau bertambah panjang dengan tambahan ekor beruang padanya.

 

KECERDIKAN DAN KEBERANIAN AKAN DAPAT MENGALAHKAN KEKUATAN ATAU KEPERKASAAN. AKAL AKAN DAPAT MENGALAHKAN OTOT. OLEH KARENA ITU KITA HENDAKLAH TETAP MENGEDEPANKAN KECERDIKAN DAN JUGA KEBERANIAN KETIKA MENGHADAPI SITUASI DAN KONDlSl YANG BAGAIMANAPUN JUGA. TERMASUK SITUASI DAN KONDISI YANG BERBAHAYA SEKALIPUN.