Kategori: Nusa Tenggara Barat

Asal Mula Kerajaan Tangko – Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat
Asal Mula Kerajaan Tangko – Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat

Seorang putra mahkota Kerajaan Sumbawa. Datu Panda’i namanya. Pada suatu hari Datu Panda’i bermimpi. Dalam impiannya ia menikah dengan Sari Bulan, seorang gadis yang sangat cantik wajahnya. Ketika terbangun, Datu Panda’i berniat kuat mewujudkan impiannya. Ia akan mencari seorang gadis seperti dalam impiannya dan memperistrinya.

Datu Panda’i menghadap ayahandanya dan mengemukakan niatnya. Ayahanda Datu Panda’i mengizinkan. Maka, dengan iringan para pengawalnya, Datu Panda’i memulai petualangannya untuk mencari Sari Bulan. Mereka menaiki kapal layar.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Lebih dari setahun kapal berlayar, namun sosok yang dicari putra mahkota Kerajaan Sumbawa itu belum ditemukan. Beberapa bulan kemudian waktu berlalu, hingga suatu hari mereka kehabisan air minum. Kapal layar pun merapat di sebuah pulau kecil. Datu Panda’i dan beberapa pengawalnya turun dari kapal layar. Mereka berharap menemukan mata air di pulau itu.

Datu Panda’i dan para pengawalnya menyusuri pulau kecil itu. Mereka terus berjalan hingga akhirnya bertemu sebuah sungai. Mereka melihat sekelompok gadis tengah bersenda gurau di pinggirsungai. Mendadak Datu Panda’i terkejut saat mendengar nama salah seorang gadis dipanggil oleh gadis-gadis lainnya. Nama gadis itu Sari Bulan!

Datu Panda’i memperhatikan gadis yang dipanggil Sari Bulan itu. Ia sangat terperanjat. Wajah gadis itu mirip dengan gadis dalam impiannya. Tak salah lagi, gadis itulah yang tengah ia cari.

Datu Panda’i memberanikan menemui Sari Bulan. Setelah mengetahui rumah Sari Bulan, Datu Panda’i pun menemui ayah Sari Bulan. Diceritakannya impiannya dan perjalanan beratnya untuk menemukan gadis bernama Sari Bulan.

“Paman, aku telah lama mencari Sari Bulan,” kata Datu Panda’i, “kini setelah kutemukan, bersediakah Paman memberi izin bagiku untuk menikahinya?”

Ayah Sari Bulan mengangguk-anggukkan kepala. Ia bisa melihat kesungguhan Datu Panda’i untuk memperistri anaknya. Ia pun memberi izin.

Datu Panda’i dan Sari Bulan lalu menikah. Betapa bahagianya Datu Panda’i setelah berhasil mewujudkan impiannya. Untuk sementara waktu, ia dan Sari Bulan bersama para pengawalnya tinggal di pulau kecil itu.

Waktu terus berlalu. Beberapa bulan kemudian Datu Panda’i meminta izin untuk pulang ke istana Kerajaan Sumbawa. Ketika itu Sari Bulan tengah mengandung tua. Katanya, “Tak berapa lama lagi aku akan diangkat untuk menggantikan kedudukan ayahanda Raja. Sari Bulan akan menjadi permaisuriku. Maka Paman, perkenankan aku dan Sari Bulan kembali ke Sumbawa.”

Ayah Sari Bulan mengizinkan.

“Dalam perjalananmu pulang,” kata Ayah Sari Bulan, “Ingatlah baik-baik pesanku. Jagalah istrimu yang sedang mengandung tua itu. Jangan sekali- kali kalian singgah di Pulau Dewa. Ketahuilah, di pulau itu tempat kediaman jin dan iblis. Mereka bisa membuatmu celaka!”

Datu Panda’i mengiyakan pesan ayah mertuanya.

Datu Panda’i, Sari Bulan, dan para pengawal Datu Panda’i kembali berlayar. Dengan kapal layar, mereka mengarungi lautan luas. Setelah berhari-hari menempuh pelayaran, persediaan bekal makanan mereka mulai menipis. Datu Panda’l berniat merapat ke sebuah pulau terdekat untuk mencari makanan. Kebetulan, Sari Bulan juga menginginkan memakan daging rusa.

Datu Panda’l melihat sebuah pulau asing. Ia pun memerintahkan nakhoda kapal layarnya untuk merapat. Tanpa mereka ketahui, pulau asing Itu Pulau Dewa adanya.

Datu Panda’l berikut seluruh pengawalnya bergegas turun dari kapal. Mereka hendak mencari makanan dan juga berburu rusa untuk memenuhi permintaan Sari Bulan. Sari Bulan tinggal di kapal sendirian.

Kedatangan kapal layar Itu diketahui para iblis. Salah satu iblis Itu bernama Kuntl. Ia adalah pelayan Iblis Doro. Telah lama Kunti mengimpikan dapat menjadi Istri raja. Ia tak ingin hidup terus- menerus hanya menjadi pelayan. Kunti mendatangi kapal layar. Muncul niat jahatnya saat melihat Sari Bulan sendirian dl dalam kapal layar.

Kunti menyerang Sari Bulan. Dengan kesaktiannya, Kunti mengambil dua bola mata Sari Bulan dan membuangnya ke laut. Dengan kejam, Kunti mendorong Sari Bulan yang tidak lagi bisa melihat Itu ke dalam laut. Ia lalu mengenakan pakaian yang dibawa Sari Bulan. Ia lalu berdiam dl tempat Sari Bulan semula berdiam.

Betapa malangnya Sari Bulan. Tak hanya la telah kehilangan penglihatan, la juga tercebur ke dalam laut. Tetapi, la tidak tenggelam ke dasar laut. Kain baju yang dikenakannya tersangkut pada kemudi kapal.

Datu Panda’l kembali dari pencarian makanan. Ia terkejut melihat seorang wanita berwajah buruk duduk dl tempat duduk Sari Bulan.

“Apa yang terjadi denganmu?” tanya Datu Panda’i.

Kunti hanya terdiam. Wajahnya membayangkan kesedihan.

Datu Panda’i teringat pada pesan ayah mertuanya. Lalu tanyanya, “Apakah ini Pulau Dewa?”

Kunti menganggukkan kepala.

Datu Panda’i sangat menyesal karena telah mengabaikan pesan ayah mertuanya. Ia menyangka, keburukan besar yang kini didapatkannya. Wajah istrinya berubah menjadi mengerikan. Bayi yang dikandung istrinya pun menghilang.

“Oh… betapa malangnya nasibku,” ratap Datu Panda’i.

Kapal layar meneruskan perjalanan hingga akhirnya tiba di Sumbawa. Kedatangan Datu Panda’i dielu-elukan rakyat. Ayahandanya menyambut gembira kepulangannya. Datu Panda’i kemudian dinobatkan menjadi raja baru menggantikan ayahandanya. Sesuai janjinya, Datu Panda’i menjadikan istrinya selaku permaisurinya.

Sementara Datu Panda’i tinggal di istana kerajaan, Sari Bulan masih tersangkut pada kemudi kapal layar. Mendadak datang padanya seekor kerang raksasa. Kerang raksasa itu membuka mulutnya lebar-lebar. Ia tidak bermaksud menelan Sari Bulan, melainkan membawanya menuju daratan.

Setiba di daratan, Sari Bulan yang buta itu melahirkan. Seorang bayi lelaki yang tampan wajahnya. Sari Bulan memberinya nama Aipad. Sari Bulan merawat dan mengasuh Aipad dengan penuh kasih sayang.

Kehidupan Sari Bulan yang menyedihkan bertolak belakang dengan Kunti. Ia hidup penuh kemuliaan di istana kerajaan. Ia kejam dan sewenang-wenang. Sangat mudah baginya menjatuhkan hukuman berat bagi orang yang tidak menuruti keinginannya. Warga kerajaan tidak menyukainya. Begitu pula dengan rakyat Kerajaan Sumbawa. Mereka seperti tidak percaya, mengapa Raja Datu Panda’i bisa beristrikan wanita dengan keburukan perangai seperti itu.

Sari Bulan menderita dalam kehidupannya. Karena tidak bisa melihat, ia tidak bisa bekerja. Ia hanya meminta-minta belas kasih orang. Ketika Aipad beranjak besar, dimintanya pula anaknya itu untuk mengemis.

Suatu ketika Aipad melihat Tangko, seorang nelayan tua, yang baru pulang melaut. Ia mendatangi Tangko dan meminta-minta padanya. Tangko sangat iba melihat Aipad. Tangko lalu memberikan ikan terbesar tangkapannya pada Aipad.

“Masaklah ikan besar ini untukmu dan ibumu,” kata Tangko.

“Terima kasih,” jawab Aipad.

Dengan gembira Aipad pulang menemui ibunya. Diberikannya ikan besar itu. Sari Bulan berniat memasaknya. Ketika membelah tubuh ikan besar itu ia menemukan dua bola matanya. Aipad memasang dua bola itu pada rongga mata ibunya. Seketika itu Sari Bulan kembali bisa melihat.

Sari Bulan dan Aipad sangat gembira.

“Anakku, siapa yang memberikan ikan besar itu padamu?” tanya Sari Bulan.

“Nelayan tua bernama Tangko, Ibu.”

Sari Bulan dan Aipad menghadap Tangko. Keduanya mengucapkan terima kasih dan berniat menjadi pelayan Tangko. Sejak saat itu Sari Bulan dan Aipad menjadi pelayan di rumah Tangko. Kebetulan, Tangko tidak mempunyai anak, meski telah lama menikah. Ia dan istrinya lalu menganggap Tangko sebagai anak mereka sendiri. Tangko membelikan seekor kuda untuk Aipad. Ia juga melatih Aipad untuk menunggang kuda hingga akhirnya Aipad sangat terampil menaiki kuda.

Waktu terus berlalu. Aipad tumbuh menjadi pemuda gagah. Ia piawai mengendarai kuda pacu. Di daerahnya, tak ada pemuda yang mampu mengalahkan Aipad dalam beradu kecepatan menunggang kuda.

Suatu ketika Aipad mendengar pengumuman. Kerajaan Sumbawa berencana mengadakan lomba pacuan kuda. Hadiahnya luar biasa, yakni mahkota kerajaan. Tetapi jika kalah, peserta lomba harus menjadi budak di istana kerajaan untuk selama- lamanya.

Aipad berniat mengikuti lomba pacuan kuda itu. Ia ceritakan niatnya itu pada ibunya serta Tangko.

“Berangkatlah, Anakku,” ujar Sari Bulan. “Doa dan restu Ibu selalu mengiringimu.”

“Benar, Aipad,” sahut Tangko. “Memohonlah kepada Tuhan agar diberikan-Nya kemenangan dalam lomba itu.”

Setelah mendapat restu ibunya dan Tangko, Aipad menuju istana. Ia mendaftar dan mengikuti lomba. Ketika lomba pacuan kuda dimulai, Aipad menunjukkan kepiawaiannya. Tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya. Raja Datu Panda’i penasaran, ingin menjajal kemampuan Aipad.

“Wahai anak muda,jika engkau mengalahkanku, mahkota kerajaan akan kuberikan kepadamu. Aku akan menobatkanmu menjadi raja,” kata Raja Datu Panda’i. “Namun ingat, jika kau kalah, kau harus menjadi budak di kerajaanku ini untuk selama hidupmu.”

“Hamba bersedia, Tuanku Raja,” jawab Aipad.

Perlombaan antara Aipad dan Raja Datu Panda’i pun dilangsungkan. Meski telah mengerahkan segenap kemampuannya dalam mengendarai kuda pacu, namun Raja Datu Panda’i harus mengakui keunggulan Aipad.

“Baiklah,” kata Raja Datu Panda’i setelah kelah dalam perlombaan. “Datanglah esok hari bersama orang tuamu. Aku akan menobatkanmu menjadi raja.”

Keesokan harinya Aipad datang bersama ibunya.

Seketika melihat Sari Bulan, Raja Datu Panda’i sangat terkejut. “Sari Bulan? Sari Bulan istriku?”

Suami istri itu kembali bertemu. Keduanya saling berpelukan dan bertangisan. Mendadak Raja Datu Panda’i melepaskan pelukannya dan menatap ke arah permaisurinya. Katanya, “Lantas, siapa permaisuriku selama ini?”

Sari Bulan pun menceritakan kejadian yang dialaminya, terutama ketika sedang sendirian di kapal layar menunggu kedatangan Datu Panda’i. Tak terkirakan marahnya Raja Datu Panda’i setelah mengetahui kejadian itu.

“Pengawal, tangkap wanita buruk perangai itu!” seru Raja Datu Panda’i. “Masukkan ia ke dalam penjara istana!”

Para pengawal bergerak cepat menangkap Kunti. Mereka memasukkan Kunti yang jahat itu ke dalam penjara kerajaan.

“Istriku,” kata Raja Datu Panda’i sambil menatap Aipad. “Apakah pemuda ini anak kita?”

“Benar,” Sari Bulan menganggukkan kepala. “Kuberi nama ia Aipad.”

“Aipad anakku,” kata Raja Datu Panda’i. Ia lalu memeluk tubuh anaknya itu erat-erat, seperti enggan untuk berpisah kembali. “Syukurlah, takhta kerajaanku akhirnya jatuh ke tangan anak kandungku sendiri.”

Datu Panda’i menyerahkan takhtanya kepada Aipad. Sebagai raja, Aipad lalu mengumumkan berita penting. Sebagai rasa terima kasihnya pada Tangko, nama kerajaan yang dipimpinnya berubah menjadi Kerajaan Tangko.

 

KESABARAN DALAM MENERIMA UJIAN AKAN MEMBUAHKAN HASIL YANG BAIK DI KEMUDIAN LIARI. KEJAHATAN PADA AKHIRNYA AKAN TERUNGKAP MESKI DITUTUP RAPAT.

Papuq Mame dan Papuq Ki Ne – Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat
Papuq Mame dan Papuq Ki Ne – Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat

Papuq Mame dan Papuq Ki Ne adalah sepasang sandal kesayangan seorang raja. Keduanya merupakan pasangan suami istri. Sang suami adalah Papuq Mame dan istrinya adalah Papuq Ki Ne. Keduanya terbuat dari kulit kerbau. Papuq Mame terbuat dari kulit kerbau jantan dan Papuq Ki Ne terbuat dari kulit kerbau betina. Amat kuat dan lentur bahan keduanya hingga sang raja senantiasa mengenakannya ke mana pun Sang Raja bepergian. Sang Raja mengenakan Papuq Mame di kaki kanannya dan Papuq Ki Ne di kaki kirinya.

Pada suatu hari hujan turun dan ketika itu Sang Raja tengah mengenakan sepasang sandal kesayangannya itu. Tubuh Papuq Mame dan Papuq Ki Ne menjadi basah dan sang raja lantas meletakkan keduanya di bawah kolong tempat tidurnya.

Setiap kali diletakkan di bawah kolong tempat tidur, tikus-tikus akan datang dan mengendus- endus Papuq Mame dan Papuq Ki Ne. Kejadian seperti itu sangat tidak disukai sepasang sandal kesayangan Sang Raja itu. Papuq Mame khawatir jika tubuhnya dan juga tubuh istrinya digigiti tikus-tikus itu. Tentu menyakitkan rasanya.

“Lantas, apa yang harus kita perbuat, wahai suamiku?” tanya Papuq Ki Ne ingin tahu.

Jawab suaminya, “Sebaiknya kita berdoa kepada Tuhan dan memohon agar kita dijadikan sepasang tikus. Dengan demikian tikus-tikus itu tidak akan berani menggigit kita.”

Papuq Ki Ne setuju dengan saran suaminya. Keduanya lantas berdoa dan memohon kepada Tuhan agar dijadikan sepasang tikus. Tuhan mem-perkenankan doa sepasang sandal itu. Keduanya lantas dijadikan Tuhan menjadi sepasang tikus.

Seperti halnya tikus-tikus lainnya, Papuq Mame dan Papuq Ki Nejuga kerap berulah di istana kerajaan, terutama di dapur istana. Mereka kerap mengambil makanan dan juga menimbulkan kerusakan. Sang Raja sangat murka karena tin¬dakan mereka, terutama karena mendengar suara mencicit dari Papuq Mame dan Papuq Ki Ne. Raja lantas memerintahkan parjuritnya untuk mencari kucing.

Kucing-kucing lalu didatangkan. Mereka segera menangkap tikus-tikus yang kerap berbuat onar itu. Telah banyak tikus-tikus yang berhasil ditangkap dan dimangsa kucing-kucing itu. Namun hingga sejauh itu Papuq Mame dan Papuq Ki Ne dapat lolos dari kejaran dan terkaman kucing- kucing.

Papuq Mame dan Papuq Ki Ne merasa sedih hidup sebagai tikus. Mereka merasa tidak aman dari incaran kucing-kucing. Jika mereka tidak waspada dan hati-hati, niscaya nasib mereka tidak akan berbeda dengan tikus-tikus lainnya yang telah tertangkap dan menjadi mangsa kucing-kucing.

“Hidup sebagai tikus ternyata tidak enak,” kata Papuq Mame. “Sebaiknya kita memohon kepada Tuhan agar Tuhan mengubah kita menjadi kucing. Hidup sebagai kucing tentu jauh lebih menyenangkan dibandingkan menjadi tikus.”

Papuq Ki Ne setuju dengan saran suaminya.

Papuq Mame dan Papuq Ki Ne lalu berdoa kepada Tuhan agar Tuhan mengubah mereka menjadi kucing. Tuhan pun memperkenankan. Seketika itu keduanya berubah menjadi sepasang kucing. Tidak hanya kucing biasa, melainkan kucing istimewa dengan bulu-bulu yang lebat lagi lembut. Sang Permaisuri sangat menyukai keduanya hingga menjadikan Papuq Mame dan Papuq Ki Ne selaku hewan kesayangan.

Hidup sebagai kucing kesayangan Sang Permaisuri ternyata tidak membuat Papuq Mame dan Papuq Ki Ne menjadi senang. Keduanya merasa iri dengan anjing-anjing yang dimiliki Sang Raja. Jika Sang Raja berburu, anjing-anjing itu senantiasa diajak serta sementara keduanya hanya tinggal di dalam istana. Mereka ingin pula diajak berburu Sang Raja.

Lantas, apa yang harus dilakukan Papuq Mame dan Papuq Ki Ne?

Papuq Mame dan Papuq Ki Ne kembali berembuk dan bersepakat untuk memohon kepada Tuhan agar mengubah mereka menjadi sepasang anjing. Tuhan kembali mengabulkan permohonan mereka. Papuq Mame dan Papuq Ki Ne berubah menjadi sepasang anjing istimewa. Keduanya sangat cepat berlari dan gesit menangkap hewan- hewan buruan. Sang Raja sangat sayang dengan dua anjing itu. Setiap kali berburu, Papuq Mame dan Papuq Ki Ne senantiasa diajaknya dan hasil perburuan Sang Raja kian banyak dengan bantuan Papuq Mame dan Papuq Ki Ne.

Akan tetapi hidup sebagai anjing ternyata juga tidak membuat Papuq Mame dan Papuq Ki Ne menjadi senang. Sebaliknya, mereka merasa sangat sedih. Sehari-hari keduanya tidak bisa hidup bebas karena harus berada di dalam kandang besi. Keduanya baru dikeluarkan dari dalam kandang beSi jika Sang Raja hendak berburu.

“Hidup sebagai anjing ternyata tidak menye-nangkan,” kata Papuq Mame. “Sebaiknya kita kem-bali memohon kepada Tuhan agar Tuhan mengubah kita menjadi sepasang manusia. Lebih enak lagi jika aku menjadi raja dan engkau menjadi permaisuri!”

Lagi-lagi, Papuq Ki Ne membenarkan dan mengiyakan ucapan suaminya. Keduanya kembali berdoa dan memohon kepada Tuhan agar ber¬kenan mengubah diri mereka menjadi manusia dan menjabat sebagai raja.

Tuhan Yang Mahabaik memperkenankan permohonan Papuq Mame dan Papuq Ki Ne. Seketika itu Tuhan mengubah Papuq Mame dan Papuq Ki Ne menjadi sepasang manusia.

Papuq Mame dan Papuq Ki Ne lantas pergi mengembara mencari wilayah yang dapat mereka jadikan sebagai wilayah kerajaan. Mereka temukan wilayah itu. Papuq Mame lalu mendirikan istana kerajaan di tempat itu. Banyak orang yang kemudian datang ke wilayah itu. Terbentuklah sebuah kerajaan dan orang-orang pun sepakat mengangkat Papuq Mame sebagai raja mereka dan Papuq Ki Ne menjadi permaisuri.

Setelah bertakhta sebagai raja, Papuq Mame berniat memperluas wilayah kekuasaannya. Jika memungkinkan, ia hendak menguasai seluruh Pulau Lombok. Ia pun berencana menyerang kerajaan di mana ia dan istrinya dahulu tinggal.

Rencana itu didengar raja bekas majikan Papuq Mame dan Papuq Ki Ne. Merasa tidak ingin didahului diserang, ia memerintahkan segenap prajuritnya untuk menyerang terlebih dahulu.

Kerajaan tempat Papuq Mame bertakhta belum siap menerima serangan. Kekuatan mereka hancur ketika mendapat serangan. Para prajurit banyak yang tewas. Keberuntungan masih menaungi Papuq Mame dan Papuq Ki Ne. Keduanya masih sempat meloloskan diri dari istana kerajaan dan bersembunyi dl dalam hutan.

“Wahai suamiku, apalagi yang harus kita lakukan?” tanya Papuq Ki Ne.

Papuq Mame sejenak merenung. Timbullah niat luar biasa beraninya. Katanya, “Sebaiknya kita memohon kepada Tuhan agar dijadikan- Nya Tuhan! Jika kita menjadi Tuhan, kita akan dapat mengubah diri kita menjadi apa punjuga yang kita kehendaki. Kita pasti hidup senang jika menjadi Tuhan!”

Papuq Mame dan Papuq Ki Ne lantas berdoa dan memohon agar dijadikan Tuhan.

Tuhan pun murka kepada keduanya karena keserakahan mereka. Tuhan lantas mengubah mereka menjadi sepasang sandal yang terbuat dari kulit kerbau seperti keadaan mereka semula.

 

KiTA HENDAKLAH BERSYUKUR DENGAN APA PUN JUGA YANG DIKARUNIAKAN TUHAN  KEPADA KITA. JlKA KITA BERSYUKUR. NISCAYA TUHAN AKAN MENAMBAHKAN KARUNIA-NYA. NAMUN. JIKA KITA MENGINGKARI NIKMAT-NYA, TUHAN PUN AKAN MURKA KEPADA KITA.

Putri Kesupuk – Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat
Putri Kesupuk – Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat

Putri Kesupuk adalah putri bungsu raja yang bertakhta di Bumi Sasak. Dibandingkan enam kakaknya, Putri Kesupuk paling cantik wajahnya. Karena kecantikan wajah dan baik budi pekertinya, banyak pemuda yang berniat menyunting Putri Kesupuk. Bahkan, para pemuda itu berniat saling bertarung demi memperebutkan cinta dan kasih sayang Putri Kesupuk. Untuk mencegah hal-hal buruk yang mungkin terjadi, ayahanda Putri Kesupuk pun berujar, “Siapa yang mampu membangun bendungan tempatku melepas ikan-ikan untuk segenap rakyatku, maka berhak ia menyunting putri bungsuku itu.”

Para pemuda pun segera mencoba peruntungan mereka dengan mengubah sawah menjadi bendungan. Namun tidak mudah ternyata mewujudkan sayembara yang dititahkan Sang Raja. Mereka akhirnya menyerah setelah berusaha keras membangun bendungan yang dikehendaki Sang Raja.

Ketika para pemuda itu telah menyerah, datanglah seekor kerbau jantan. Kerbau Putih namanya. Rupanya Kerbau Putih hendak pula mengikuti sayembara tersebut. Ia segera bekerja keras. Dengan mengerahkan sepasang tanduk danjuga kaki-kakinya, Kerbau Putih bekerja keras seolah tidak mengenal lelah. Bertahun-tahun Kerbau Putih itu bekerja hingga terciptalah Laut Selatan. Di tengah-tengah laut tersebut terlihat tumpukan bebatuan. Selesailah bendungan seperti yang dikehendaki Sang Raja. Kerbau Putih pun menghadap Sang Raja untuk meminta hadiah sayembara yang dimenangkannya.

Sang Raja yang adil dan bijaksana sifatnya itu tidak mengingkari janjinya. Meski pemenang sayembaranya seekor kerbau, Sang Raja menyerahkan Putri Kesupuk kepada Kerbau Putih.

Putri Kesupuk mengikuti Kerbau Putih. Ia duduk di atas punggung Kerbau Putih ketika meninggalkan istana kerajaan. Tibalah mereka di sebuah sungai. Kerbau Putih mempersilakan Putri Kesupuk untuk mandi.

Ketika Putri Kesupuk mandi, datanglah seekor kera betina. Kera Hitam namanya. Ia membujuk Putri Kesupuk untuk melarikan diri dari Kerbau Putih. Putri Kesupuk menuruti ajakan Kera Hitam.

Kera Hitam memerintahkan kera-kera lainnya untuk membangun sebuah rumah pohon. Kera Hitam berpesan kepada Putri Kesupuk, “Sekali- kali janganlah engkau menjatuhkan daun, walau sehelai pun!”

Putri Kesupuk mengiyakan pesan Kera Hitam.

Syahdan, tak terkirakan kemarahan Kerbau Putih ketika mendapati Putri Kesupuk melarikan diri. Ia lantas mencari Putri Kesupuk ke sana kemari. Tak juga ditemukan putri bungsu Raja Bumi Sasak itu.

Putri Kesupuk yang tetap bersembunyi di dalam rumah pohonnya melihat Kerbau Putih yang berusaha keras mencari dirinya. Terbit rasa kasihannya. Maka, dijatuhkannya sebatang ranting. Kerbau Putih akhirnya mengetahui keberadaan Putri Kesupuk. Dengan kemarahannya yang sangat, Kerbau Putih menyeruduk pohon tempat Putri Kesupuk berada. Begitu kerasnya serudukan Kerbau Putih hingga kedua tanduknya menghujam kuat- kuat pada batang pohon. Kerbau Putih berusaha sekuat tenaga menarik tanduknya, namun tetap tanduknya terhujam kuat-kuat pada batang pohon. Kerbau Putih tak berdaya hingga ia menemui kematiannya.

Setelah Kerbau Putih mati, Putri Kesupuk lantas tinggal di hutan bersama Kera Hitam dan kawanan kera. Di hutan itu terdapat sebuah gua yang menjadi tempat tinggal seorang raksasa.

Pada suatu pagi Kera Hitam bertemu dengan Si raksasa ketika ia sedang mencari buah- buahan. Kera Hitam sangat takut tertangkap Si raksasa dan menjadi santapan Si raksasa. Ia pun berusaha mencari cara agar lepas dari tangkapan Si raksasa. Maka katanya, “Ada seorang perempuan bersamaku. Aku dapat mempersembahkan kepadamu jika engkau tidak menangkapku.”

Si raksasa membiarkan Kera Hitam kembali untuk membawa manusia yang dapat disantapnya.

Kera Hitam mengungkapkan masalah yang dihadapinya pada Putri Kesupuk. “Aku terpaksa berjanji pada Si raksasa untuk menyerahkanmu karena aku sangat takut ditangkapnya.”

Putri Kesupuk lantas memberikan rencananya, “Temuilah Si raksasa. Mintalah beras dan kunyit padanya. Sebutkan, beras dan kunyit itu untuk upah orang-orang yang akan membantu membawaku kepadanya. Mintalah pula perhiasan yang akan kukenakan sebelum dimangsanya.”

Kera Hitam lantas menemui raksasa dan mengungkapkan pesan Putri Kesupuk. Si raksasa dapat menerima alasan Kera Hitam. Diberikannya beras dan kunyit dalam jumlah yang cukup banyak. Juga perhiasan.

Putri Kesupuk dan Kera Hitam lantas me-numbuk beras pemberian raksasa hingga menjadi tepung. Dengan ditambah air, tepung itu lantas dibentuk menjadi patung yang menyerupai tubuh Putri Kesupuk. Patung itu lantas dilumuri kunyit hingga makin mirip dengan tubuh Putri Kesupuk. Perhiasan pemberian Si raksasa dikenakan pada patung. Patung itu pun lantas dibawa ke gua tempat tinggal Si raksasa.

Si raksasa begitu gembira mendapat per-sembahan putri sesuai janji Kera Hitam. Segera dimangsanya patung itu dengan lahap. Amat suka ia hingga ia meminta diberikan persembahan lagi. Putri Kesupuk kembali membuat patung dan kembali mempersembahkannya pada Si raksasa. Terus-menerus Si raksasa meminta diberi persembahan hingga Putri Kesupuk menjadi lelah karenanya.

Putri Kesupuk lantas mencari cara untuk melenyapkan Si raksasa. Ia meminta Kera Hitam dan kawanan kera untuk mencari lumut yang banyak menempel di batang-batang pohon aren. Putri Kesupuk lantas memerintahkan menutup pintu gua tempat tinggal Si raksasa dengan lumut-lumut. Setelah pintu gua tertutup rapat, gua itu pun lalu dibakar dari luar. Si raksasa amat terperanjat dan berusaha melarikan diri. Namun, karena pintu gua tempat tinggalnya telah tertutup rapat lumut dan api berkobar dari luar, Si raksasa tidak bisa keluar dari gua tempat tinggalnya. Ia pun mati terbakar.

Putri Kesupuk, Kera Hitam, dan segenap ka-wanan kera bergembira mendapati Si raksasa telah mati. Mereka merasa aman karena tidak ada lagi raksasa yang sangat mengganggu dan meng¬ancam keselamatanjiwa mereka. Putri Kesupuk, Kera Hitam, dan kawanan kera lantas tinggal di dalam gua. Mereka hidup aman dan tenteram.

Pada suatu hari seorang pangeran pergi berburu ke dalam hutan. Ketika tengah beristirahat dalam perburuannya, Sang Pangeran melihat Putri Kesupuk tengah mengambil air. Sang Pangeran tertarik dan kemudian mendekati Putri Kesupuk. Sang Pangeran memperkenalkan diri.

Sesungguhnya Putri Kesupuk mengetahui jika Sang Pangeran itu tak lain adalah saudara misannya sendiri. Namun, Putri Kesupuk berpura- pura tidak mengenal Sang Pangeran, sementara Sang Pangeran tidak menyadarinya. Keduanya pun berkenalan dan tidak lama kemudian mereka telah bersahabat dengan baik. Sang Pangeran kerap mendatangi gua tempat tinggal Putri Kesupuk dan berbincang-bincang dengan Putri Kesupuk, Kera Hitam, dan juga kawanan kera yang selama itu menjadi sahabat-sahabat Putri Kesupuk.

Pada suatu hari Sang Pangeran mengajak Putri Kesupuk untuk datang ke istana kerajaannya ketika kerajaan hendak mengadakan sebuah pesta. Putri Kesupuk pun datang sendirian. Kera Hitam dan kawanan kera tidak berani turut serta ke istana kerajaan karena khawatir dengan keselamatan mereka.

Pesta kerajaan itu berlangsung amat meriah. Aneka makanan dan minuman disajikan dan bebas dinikmati para undangan. Begitu pula aneka hiburan digelar serta aneka permainan diadakan. Sang Pangeran turut serta dalam permainan perang- perangan. Putri Kesupuk merasa khawatir dengan keselamatan Sang Pangeran hingga ia pun turun ke tengah gelanggang permainan untuk menghentikan permainan perang-perangan tersebut,

Gemparlah sekalian penonton dan pemain saat mendapati seorang perempuan memasuki arena permainan. Ketika itulah Putri Kesupuk lantas membuka jati dirinya yang sesungguhnya. “Ketahuilah,” katanya dengan suara lantang, “Aku adalah Putri Kesupuk, putri bungsu Raja Sasak. Akulah putri yang dahulu dibawa pergi Kerbau Putih yang menjadi pemenang sayembara yang diadakan ayahandaku.”

Kian gemparlah segenap hadirin, termasuk pula Sang Pangeran, setelah mengetahui siapa sesungguhnya perempuan yang berada di tengah arena permainan perang-perangan itu. Putri Kesupuk lantas dibawa ke Kerajaan Sasak untuk dipertemukan dengan kedua orangtuanya.

Putri Kesupuk kemudian dinikahkan dengan Sang Pangeran. Keduanya hidup rukun dan bahagia. Meski telah tinggal di dalam istana kerajaan, namun Putri Kesupuk tidak melupakan hubungannya dengan Kera Hitam dan juga kawanan kera. Sesekali ia bersama suaminya datang ke gua tempat tinggalnya dahulu untuk bertemu dengan kawan-kawannya itu.

 

KITA HENDAKLAH SAUNG BANTU-MEMBANTU DAN BERSATU DEMI TUiUAN BERSAMA. SAHABAT YANG BAIK ADALAH SAHABAT KETIKA SUSAH DAN SENANG. OLEH KARENA ITU KITA HCNDALAH TETAP BERSAHABAT DALAM KEADAAN APA PUN DENGAN SAHABAT-SAHABAT KITA.

Doyan Nada – Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat
Doyan Nada – Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat

Perempuan dari bangsajin pada zaman dahulu. Dewi Anjani namanya. Ia adalah ratu jin. Puncak gunung Rinjani tempatnya bertakhta. Dalam menjalankan pemerintahannya, Dewi Anjani dibantu oleh Patih Songan. Pulau tempat Dewi Anjani bertakhta sebagai ratu jin ketika itu belum dihuni seorang manusia pun.

Dewi Anjani memelihara seekor burung berparuh perak dan berkuku amat tajam karena terbuat dari baja. Beberi nama burung piaraan Dewi Anjani tersebut.

Pada suatu waktu Dewi Anjani bermimpi. Dalam impiannya itu kakeknya datang dan ber-pesan padanya agar mengiSi pulau tempatnya bertakhta itu dengan manusia. Dewi Anjani lantas mengajak Patih Songan untuk memeriksa keadaan pulau tempat kediaman mereka. Mereka mendapati pulau itu dipenuhi aneka pepohonan yang tumbuh amat rapat seolah saling berjalin. Begitu rapatnya aneka pepohonan besar itu tumbuh hingga Patih Songan menjadi kesulitan untuk berjalan karenanya. Mengetahui keadaan pepohonan yang begitu rapat tersebut, Dewi Anjani lalu berujar, “Paman Patih, karena daratan pulau ini penuh sesak ditumbuhi aneka pepohonan, maka pulau ini kuberi nama Pulau Sasak (Pulau itu kini disebut Pulau Lombok).”

Dewi Anjani memerintahkan burung Beberi untuk meratakan sebagian hutan itu untuk dijadi¬kan lahan pertanian. Dengan paruhnya yang amat tajam, burung Beberi bekerja keras menebang aneka pepohonan besar dan juga meratakan tanah. Tak berapa lama kemudian telah tercipta lahan pertanian sesuai dengan perintah Dewi Anjani. Lahan tersebut siap untuk diolah manusia.

Dewi Anjani lantas memanggil seluruh bangsa jin yang berdiam di Gunung Rinjani. Ratu jin itu menyatakan hendak mengubah jin-jin tersebut menjadi manusia. Sebagian jin- jin itu bersedia, namun sebagian yang lainnya menolak. Dewi Anjani sangat marah terhadap jin-jin yang menolak perintahnya. Ia perintahkan para prajurit jin untuk menangkap jin-jin yang membangkang itu. Sebagian jin pembangkang berhasil ditangkap, sebagian lainnya bersembunyi di balik pepohonan dan batu-batu besar serta melarikan diri dari Pulau Sasak.

Dewi Anjani mengubah dua puluh pasang jin bangsawan menjadi manusia. Salah seorang jin lelaki itu ditunjuknya menjadi pemimpin. Tak berapa lama setelah mereka tercipta menjadi ma-nusia, istri sang pemimpin mengandung. Sembilan bulan kemudian lahirlah seorang bayi lelaki.

Bayi lelaki itu amat aneh, tidak seperti keba-nyakan bayi lainnya. Seketika ia dilahirkan, bayi itu dapat berbicara, dapat berlari, dan bahkan telah dapat makan sendiri. Sangat luar biasa nafsu makan bayi itu. Sekali makan, bayi itu sanggup menghabiskan tiga bakul naSi besar dengan aneka lauk yang banyak jumlahnya. Ayah dan ibu Si bayi benar-benar terperanjat mendapati kelakuan anak mereka itu. Ayah Si bayi lantas memberinya nama Doyan Nadai.

Doyan Nada cepat tumbuh membesar karena nafsu makannya yang luar biasa itu. Ia kerap mengikuti ayahnya untuk datang ke acara kendurian. Di acara kendurian itu Doyan Nada merasa dapat memuaskan nafsu makannya (Julukan untuk seseorang yang kuat nafsu makannya). Ia makan sangat banyak. Kerap, seluruh hidangan dalam acara kendurian itu dihabiskannya sendirian. Ayahnya sangat malu mendapati kelakuan Doyan Nada. Berulang-ulang ia masih bisa menerima sikap Doyan Nada. Namun, lama-kelamaanjengkel dan marahlah ia hingga ia berujar, “Carilah makan sendiri! Aku sudah tidak kuat lagi memberimu makan!”

Doyan Nada terpaksa meminta makanan kepada para tetangganya setelah kedua orangtua- nya tidak sanggup lagi memberinya makan.

Ayah Doyan Nada lantas bersiasat untuk melenyapkan anaknya itu. Ia mengajak Doyan Nada ke hutan untuk menebang pohon. Ketika pohon besar itu hampir tumbang, ia memerintahkan Doyan Nada untuk berdiri di tempat tertentu. Ayah Doyan Nada lantas menjatuhkan batang pohon besar itu mengarah pada tubuh Doyan Nada. Seketika tertimpa batang pohon besar, Doyan Nada pun menemui kematiannya. Ayah Doyan Nada lantas pulang dan berbohong ketika istrinya bertanya mengapa anaknya tidak ikut pulang. “Aku tidak tahu kemana anak itu pergi. Mungkin ia tersesat di hutan.”

Kematian Doyan Nada disaksikan Dewi Anjani. Ratu jin itu lantas memerintahkan burung Beberi untuk memercikkan air Banyu Urip. Seketika tubuh Doyan Nada terperciki air Banyu Urip, Doyan Nada kembali hidup. Doyan Nada lantas memanggul batang pohon besar yang menimpanya itu ke rumahnya.

Tak terperikan keterkejutan ayah Doyan Nada mendapati anaknya pulang kembali ke rumah seraya memanggul batang pohon besar. Benar-benar takjub ia pada kemampuan anaknya. Namun demikian, tetap pula ia merencanakan siasat keji untuk melenyapkan anaknya yang luar biasa banyak nafsu makannya tersebut.

Keesokan harinya ayah Doyan Nada mengajak Doyan Nada untuk mencari ikan di sebuah lubuk yang besar lagi dalam. Ketika Doyan Nada tengah sibuk mencari ikan, ayah Doyan Nada mendorong sebuah batu besar ke arah anaknya. Doyan Nada tertimpa batu besar hingga seketika itu ia meninggal dunia. Ayah Doyan Nada lantas kembali pulang dan kembali berdusta kepada istrinya. “Anak kita itu pergi entah kemana,” katanya.

Dewi Anjani kembali memerintahkan burung Beberi untuk memercikkan air Banyu Urip. Seketika terperciki, Doyan Nada kembali hidup. Dipanggulnya batu besar itu untuk dibawanya pulang. Dibantingnya batu besar itu di halaman rumahnya. Karena tindakannya tersebut, desa tempat tinggal Doyan Nada di kemudian hari disebut Selaparang (Sela berarti batu dan parang berarti besar dan kasar).

Ibu Doyan Nada akhirnya menyadari jika suaminya telah berbohong. Ia menjadi khawatir jika suaminya akan mencelakai Doyan Nada. Oleh karena itu ia meminta anaknya untuk pergi mengembara. Ia memberi bekal tujuh buah ketupat untuk Doyan Nada.

Doyan Nada memulai perjalanan pengemba-raannya. Ia menyeberangi sungai, mendaki bukit dan gunung, serta menuruni lembah. Hutan-hutan belantara diterobosnya. Ketika ia dihadang hewan- hewan buas, dilemparnya hewan-hewan buas itu dengan ketupat bekalnya. Aneh, setiap kali hewan buas itu memakan ketupat bekalnya, hewan itu menjadi jinak dan memberinya jalan untuk lewat. Doyan Nada terus melanjutkan perjalanannya hingga tibalah ia di Gunung Rinjani. Ketika di hutan di kaki Gunung Rinjani, Doyan Nada mendengar suara rintihan. Ditemukannya seorang pertapa lelaki. Telah bertahun-tahun Si lelaki itu bertapa untuk mewujudkan keinginannya menjadi Raja Lombok hingga akhirnya ia terbelit akar-akar pohon beringin. Doyan Nada membebaskan Si pertapa dari belitan akar beringin. Si pertapa pun menjadi sahabat Doyan Nada dan Doyan Nada memberinya nama Tameng Muter.

Doyan Nada melanjutkan perjalanan bersama Tameng Muter. Beberapa saat setelah mereka berjalan, mereka mendengar tangisan yang berasal dari seorang lelaki pertapa. Telah begitu lama Si lelaki itu bertapa hingga tubuhnya terbelit rotan. Doyan Nada dan Tameng Muter membebaskan Si pertapa. Doyan Nada memberinya nama Sigar Penjalin. Ketiganya melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Rinjani. Selama dalam perjalanan itu mereka berburu kijang-kijang liar untuk makanan mereka. Daging kijang itu mereka bakar dan menjadikannya daging dendeng.

Pada suatu malam daging dendeng simpanan mereka dicuri raksasa bernama Limandaru yang tinggal di dalam gua di Sekaroh. Doyan Nada mengejar raksasa itu hingga sampai di dalam gua tempat tinggal sang raksasa. Setelah melalui pertarungan yang seru, Doyan Nada akhirnya berhasil membunuh Si raksasa.

Di dalam gua tempat tinggal Si raksasa itu terdapat tiga putri berwajah cantik. Ketiganya berasal dari Majapahit, Mataram, dan Madura. Doyan Nada lantas memperistri putri yang berasal dari Majapahit. Tameng Muter memperistri putri dari Mataram, sementara putri dari Madura diperistri Sigar Penjalin.

Beberapa waktu kemudian merapatlah sebuah kapal besar yang berasal dari Pulau Jawa ke Pulau Sasak. Doyan Nada dan dua sahabatnya menemui nakhoda kapal dan mempersilakan untuk turun. Seketika melihat tiga putri yang telah diperistri Doyan Nada dan dua sahabatnya, Si nakhoda kapal menjadi tertarik. Katanya, “Jika kalian mau, aku bersedia menukar seluruh muatan kapal besar itu dengan tiga putri itu. Bagaimana? Apakah kalian bersedia menukarkannya?”

Tawaran Si nakhoda kapal membuat Doyan Nada menjadi marah. Pertarungan antara Doyan Nada dan Si nakhoda kapal pun terjadi. Doyan Nada berhasil mengalahkan Si nakhoda kapal. Si nakhoda kapal tunduk dan menyatakan kesediaannya menjadi abdi Doyan Nada. Segenap anak buah kapal pun menyatakan tunduk pada Doyan Nada. Doyan Nada kemudian membagi seluruh muatan kapal besar itu dengan dua sahabatnya.

Doyan Nada dan dua sahabatnya di kemudian hari mendirikan kerajaan-kerajaan di Pulau Sasak. Doyan Nada mendirikan kerajaan Selaparang. Tameng Muter menjadi raja di Pejanggi dan Sigar Penjalin bertakhta selaku raja di Kerajaan Sembalun. Ketiganya tetap bersahabat karib, saling bantu-membantu laksana yang mereka perbuat ketika ketiganya menempuh perjalanan bersama dahulu.

 

KITA HENDAKLAH SAUNG BANTU-MEMBANTU DAN BERSATU DEMI TUJUAN BERSAMA. ORANG YANG GIGIH DALAM BERUSAHA AKAN MENDARATKAN APA YANG DICITA-CITAKANNYA. SELAIN ITU, JANGANLAH KITA MENYINGGUNG PERASAAN ORANG LAIN KARENA HAL ITU AKAN DARAT MEMICU MUNCULNYA PERSELISIHAN DAN PERTENGKARAN.