Kategori: nusa Tenggara Timur

Mane Loro dan Bete Dou – Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur
Mane Loro dan Bete Dou – Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur

Dua anak raja pada masa lampau. Keduanya adalah anak lelaki dan perempuan. Mereka tinggal di istana Wefulan. Anak lelaki itu bernama Manek Bot, sementara anak perempuan sang raja bernama Bete Dou. Baginda Raja dan Permaisuri sangat menyayangi keduanya.

Wajah Bete Dou sangat cantik. Sifatnya juga baik. Baginda Raja dan Permaisuri berniat memingit Bete Dou untuk menjaga kesuciannya. Baginda Raja lalu memerintahkan Manek Bot, “Buatlah rumah suci di atas pohon beringin besar.”

“Baik, Ayahanda.”

Manek Bot melaksanakan perintah ayahnya. Ia mencari pohon beringin besar lagi rimbun daunnya. Ia lalu membuat rumah kecil untuk tempat pingitan adiknya. Bahan rumah itu dari bilah-bilah kayu cendana yang sangat harum baunya. Dibuatnya pula anak-anak tangga untuk menuju rumah kecil di atas dahan pohon itu. Jumlahnya dua puluh satu anak tangga, terdiri tujuh anak tangga besar, tujuh anak tangga sedang, dan tujuh anak tangga kecil. Manek Bot bekerja keras selama seminggu untuk mewujudkan kehendak ayahnya.

Baginda Raja puas melihat hasil kerja Manek Bot. Ia pun meminta Bete Dou untuk tinggal di rumah kecil di atas pohon beringin itu.

Pada awalnya Bete Dou tidak mau hidup dalam pingitan. Ia takut hidup sendirian di rumah kecil itu.

“Anakku,” kata Permaisuri. “Kami semua sangat berharap engkau akan membawa berkah dan kesejahteraan bagi kita semua. Oleh karena itu, perlu bagi kami menjaga kesucianmu. Tinggallah engkau di rumah kecil itu agar kesucianmu tetap terjaga.”

Bete Dou akhirnya bersedia. Sejak saat itu ia tinggal sendirian di rumah kecil di atas pohon. Ia merasa bosan dan sedih hidup sendirian. Untuk menghilangkan kebosanannya, Bete Dou menyulam dan menganyam tikar. Jika malam tiba, ia bersenandung. Suara senandungnya sangat menyayat hati bagi orang-orang yang mendengarnya.

Waktu berlalu. Suatu malam suara senandung Bete Dou didengar Pangeran Mane Loro. Putra Raja Kerajaan Loro itu terkesima. Timbul niat Mane Loro untuk mengetahui siapa yang bersenandung sendu itu. Ia lalu mengerahkan kesaktiannya. Seketika itu tubuhnya terbang melesat mencari sosok penyenandung sendu itu. Mane Loro akhirnya mengetahui, sumber suara senandung itu dari dalam rumah kecil di atas pohon beringin besar. Segera ia mendekati rumah kecil itu.

Mane Loro mendekati rumah kecil. Dari celah kecil antara papan ia melihat seorang gadis. Meski remang-remang, ia bisa melihat, gadis itu sangat cantik wajahnya. Gadis itu tengah menganyam tikar sambil bersenandung. Mane Loro langsung jatuh hati.

Mane Loro perlahan-lahan mengetuk pintu.

Bete Dou tersentak. “Siapa di luar?” tanyanya.

“Bukalah pintu ini, agar bisa kujelaskan siapa diriku.”

Bete Dou tidak langsung membuka pintu. Ia mengintip dari lubang kecil. Ia tidak bisa melihat jelas siapa yang ada di luar rumah kecilnya.

“Siapa engkau ini?”

“Namaku Mane Loro. Aku anak Raja Loro.”

“Untuk apa engkau datang ke rumahku ini?”

“Aku tertarik mendengar senandungmu. Suaramu sangat merdu. Aku sangat mengaguminya,” jawab Mane Loro. “Wahai gadis cantik, bukalah pintu rumahmu ini. Izinkan aku untuk masuk.”

Bete Dou senang mendengar pujian Mane Loro. Ia pun membuka pintu rumah kecilnya. Dipersilakannya anak Raja Loro itu untuk masuk.

Keduanya saling bertatapan. Masing-masing terpesona. Wajah Mane Loro sangat tampan dalam pandangan Bete Dou. Keduanya lalu berkenalan. Tak lama kemudian keduanya telah akrab berbincang- bincang.

Bete Dou dan Mane Loro saling jatuh hati. Beberapa hari kemudian Mane Loro melamar Bete Dou. “Maukah engkau menjadi istriku?” katanya.

Bete Dou menerima lamaran Mane Loro. Keduanya pun menikah tanpa diketahui kedua keluarga masing-masing. Setiap malam Mane Loro tinggal di dalam rumah kecil Bete Dou. Mane Loro akan kembali ke istana kerajaannya ketika waktu fajar tiba. Hubungan mereka terus berlanjut tanpa diketahui siapa pun.

Pada suatu ketika ayah Mane Loro jatuh sakit. Mane Loro harus merawat ayahnya. Berhari-hari ia merawat ayahnya hingga tidak dapat menemui istrinya.

Ketika Mane Loro sedang merawat ayahnya, suatu malam Manek Bot datang menjenguk Bete Dou. Bete Dou sangat terkejut mendapati kedatangan kakaknya yang tiba-tiba itu. Ia belum sempat menyembunyikan pakaian Mane Loro ketika kakaknya masuk.

Manek Bot sangat terkejut melihat pakaian lelaki yang tergantung di dinding rumah kecil adiknya.

“Adikku, pakaian siapa ini?” bentak Manek Bot. Ia sangat marah.

Bete Dou hanya terdiam. Ia menundukkan wajah.

“Bete Dou! Apakah engkau tak mendengar pertanyaanku? Jawab! Pakaian siapakah itu?”

Bete Dou akhirnya mengaku. Pakaian itu adalah pakaian Pangeran Mane Loro, suaminya. Ia dan Pangeran Mane Loro telah menikah.

Tak terkirakan terkejutnya Manek Bot. Kemarahannya meninggi. Bergegas ia menuruni anak tangga. Seketika tiba di atas tanah, ia berteriak- teriak keras memanggil Bete Dou.

“Bete Dou! Turun kau! Tindakan buruk itu telah membuat malu kerajaan! Turun!”

Bete Dou merasa sangat bersalah. Ia menyesal telah melakukan perbuatan yang membuat kakak dan keluarganya marah. Tak ada yang bisa diperbuatnya lagi. Ia menuruti perintah kakaknya. Ia pasrah. Dengan langkah perlahan ia menuruni anak-anak tangga rumahnya sambil bersenandung.

Manek Bot tidak bisa menahan kemarahannya. Ia memukul adiknya. Akibat pukulannya, Bete Dou langsung meninggal dunia. Tubuh kaku Bete Dou tergeletak di atas tanah.

Bersamaan dengan meninggalnya Bete Dou, Mane Loro terbangun dari tidurnya. Jantungnya berdebar-debar. Ia merasa ada sesuatu yang buruk yang menimpa istrinya. Bergegas ia melesat terbang menuju rumah kecil Bete Dou.

Tak terkirakan terkejutnya Mane Loro mendapati Bete Dou telah meninggal dunia. Ia melesat menyambar tubuh Bete Dou dan membawanya terbang.

Manek Bot seperti tak percaya mendapati kejadian itu. Ia hanya terdiam membisu.

Sementara itu Mane Loro tiba di istana kerajaannya. Ia sangat sedih. Diletakkannya tubuh membeku Bete Dou. Ia lalu mengerahkan kesaktiannya untuk mengobati Bete Dou, dengan permohonan kepada Tuhan agar istrinya kembali hidup. Tuhan berkenan mengabulkan permohonan Mane Loro. Tak berapa lama kemudian Bete Dou kembali membuka mata. Ia kembali hidup.

Bete Dou dan Mane Loro menyadari kesalahan mereka. Mereka telah menikah tanpa izin dan restu kedua orang tua mereka. “Besok kita akan menghadap ayah dan ibumu,” kata Mane Loro. “Kita meminta kedua orang tuamu untuk merestui pernikahan kita.”

Bete Dou setuju.

Keesokan harinya Bete Dou dan Mane Loro datang ke istana Wefulan. Keduanya menghadap ayah dan ibu Bete Dou. Keduanya bersujud memohon ampun dan bersiap menerima hukuman apa pun yang akan ditimpakan kepada mereka.

Ayah dan ibu Bete Dou memaafkan kesalahan Bete Dou dan Mane Loro. Mereka merestui pernikahan itu.

Bete Dou dan Mane Loro berbahagia. Pernikahan mereka mendapat restu kedua orang tua Bete Dou. Mereka pun hidup berbahagia selaku suami dan istri.

 

RESTU KEDUA ORANG TUA MERUPAKAN SESUATU YANG SANGAT PENTING DAN BERHARGA DALAM KEHIDUPAN KITA.

Skolong dan Cue – Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur
Skolong dan Cue – Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur

Seorang pemuda bernama Skolong Rebo Todo yang hidup di Kampung Manggarai pada masa lampau. Skolong dikenal sebagai pemuda yang rajin. Wajahnya juga tampan. Orangtua Skolong telah saling berjanji dengan keluarga adiknya untuk menjodohkan anak mereka. Oleh karena ketika bibi Skolong tengah hamil tua, Skolong diperintahkan ayahnya untuk tinggal di rumah bibinya. Ayah Skolong berpesan, “Jika anak bibimu itu nanti lahir perempuan, maka anak itulah yang akan menjadi istrimu.”

Skolong lantas tinggal di rumah bibinya. Skolong tidak tinggal diam di rumah bibinya itu. Ia rajin membantu pekerjaan rumah. Selain itu, Skolong juga rajin bekerja di ladang milik bibinya dan sesekali mencari kayu bakar di hutan. Bibi Skolong sangat senang pada Skolong karena sikap dan perangainya itu. Ia sangat berharap anak yang akan dilahirkannya nanti perempuan hingga dapat dijodohkannya dengan keponakannya yang rajin itu.

Namun, bibi Skolong ternyata tidak melahirkan bayi perempuan, melainkan sesosok bayi yang menyerupai sebuah cue (Ubi hutan yang berbulu)! Layaknya sebuah cue, tubuhnya hanya terdiri dari bulatan yang ditumbuhi. bulu tanpa terdapat tangan dan kaki. Bayi aneh itu pun diberi nama Cue. Bibi Skolong tetap berharap agar Skolong menikahi Cue.

Cue tumbuh membesar dalam asuhan dan perawatan kedua orangtuanya. Selama itu Skolong tetap juga tinggal bersama keluarga bibinya meski serasa telah musnah harapannya untuk menjadi anak menantu bibinya. Skolong enggan menikahi Cue.

Pada suatu hari Skolong berniat kembali ke rumah orangtuanya. Mengetahui Skolong hendak pergi, Cue ingin mengikuti. “Janganlah engkau mengikutiku, Cue,” kata Skolong. “Sebaiknya engkau tinggal bersama ayah dan ibumu.”

Cue tetap bersikeras untuk mengikuti Sko-long. Katanya, “Aku mencintai kakak. Maka, izin¬kan aku pergi bersamamu.”

Skolong tetap membujuk dan menyarankan agar Cue tidak mengikutinya. Namun, Cue tetap juga bersikeras untuk mengikuti. Skolong pun mengancam dan menakut-nakuti, “Mungkin aku akan habis kesabaranku jika engkau tetap bersamaku. Jangan salahkan aku jika aku akan membunuhmu jika kesabaranku telah habis!”

Namun Cue tetap bersikeras untuk ikut. Sama sekali ia tidak takut dengan ancaman Skolong.

Skolong berangkat menuju rumah orangtua-nya. Sama sekali tidak diduganya jika Cue te¬tap mengikutinya dengan cara berguling-gu¬ling. Gerakan berguling Cue bahkan lebih cepat dibandingkan Skolong yang berlari. Sko¬long menyangka Cue telah tertinggal jauh di belakangnya.

Jika Cue berada di depan perjalanan Skolong, Skolong akan bertemu dengan rombongan ma¬nusia yang berjalan berlawanan arah dengan Skolong. Di dalam rombongan itu terdapat se¬orang perempuan yang sangat cantik wajahnya. Kepada rombongan itu Skolong berpesan agar membunuh cue yang berada di belakangnya karena mengikutinya.

Sama sekali Skolong tidak menyadari jika Si perempuan yang sangat cantik wajahnya itu menebarkan senyum manisnya ke arahnya. Matanya yang indah juga mengerling ke arah Skolong, meski Skolong juga tidak menyadarinya.

Kejadian yang dialami Skolong tersebut berulang beberapa kali. Berulang-ulang Skolong berpapasan dengan rombongan di mana di dalamnya terdapat seorang perempuan yang sangat cantik wajahnya. Skolong tetap juga tidak menyadari jika Si perempuan cantik itu melirik dan tersenyum manis kepadanya. Hingga beberapa saat kemudian Skolong mendengar suara seorang gadis yang berujar kepadanya, “Wahai Skolong! Dalam perjalanan jauhmu, telah engkau lewati beberapa kampung, telah engkau lihat seorang gadis. Sungguh, betapa besarnya cintaku kepadamu! Betapa rindunya aku akan kasih sayangmu!”

Skolong sangat terperanjat mendengar su¬ara itu. Ia lalu berusaha mencari sumber suara tersebut, namun tidak ditemukannya. Dipikirnya suara itu berasal dari Cue, namun Cue juga tidak dilihatnya di belakangnya. Dengan pikiran yang dipenuhi berbagai pertanyaan, Skolong terus me¬lanjutkan perjalanannya hingga akhirnya tibalah ia di kampung halamannya. Beriringan dengan kedatangan Skolong, Cue juga tiba di kampung halaman Skolong tersebut. Cue langsung masuk ke dalam rumah orangtua Skolong. Ia lalu membantu berbagai pekerjaan yang dilakukan ibu Skolong.

Ibu Skolong sangat keheranan mendapati sosok yang menyerupai ubi hutan yang berbulu lebat itu membantunya. Ketika Skolong menge-tahuinya, Skolong pun menjelaskan bahwa Cue itu sesungguhnya anak paman dan bibinya.

Kedua orangtua Skolong merasa sedih men-dengar cerita Skolong perihal Cue. Bagaimanapun juga halnya, Cue itu adalah keponakan mereka sendiri. Mereka pun menerima kehadiran Cue dan Cue pun lantas tinggal di rumah orangtua Skolong.

Pada suatu hari di kampung Skolong diadakan pesta wagal (Pesta adat dalam tata cara perkawinan orang-orang Manggarai) yang akan dilangsungkan selama dua hari. Diadakan pula perlombaan caci (Salah satu permainan tradisional rakyat Manggarai di mana pesertanya terdiri dari kaum lelaki dan diiringi dengan pukulan gendang yang dilakukan para ibu serta tarian khas yang dilakukan para gadis) dalam pesta itu. Mendengar akan adanya pesta wagal dan juga caci, Cue lantas menuju pancuran air yang terdapat di kampung Skolong tersebut. Ia berpura-pura hendak mandi. Ketika tidak ada orang yang melihatnya, Cue mendadak melepaskan kulit cuenya dan menyimpannya di bawah sebuah batu lempeng. Cue berubah menjadi gadis yang sangat cantik wajahnya. Dialah gadis yang terdapat dalam rombongan yang ditemui Skolong beberapa kali dalam perjalanan pulangnya menuju kampung halamannya!

Cue lantas memanggil cue-cue lainnya. Di-perintahkannya agar cue-cue itu melepaskan kulit cue mereka. Maka, sejenak kemudian cue-cue itu berubah menjadi pemuda-pemuda yang tampan dan gadis-gadis yang cantik wajahnya. Cue lalu memimpin orang-orang itu menuju tempat pesta itu dilangsungkan.

Semua orang di pesta itu begitu terpesona pada Cue. Termasuk Skolong pula. Skolong ingin benar berkenalan dengan gadis yang sangat cantik itu. Namun, keinginan itu dipendamnya di dalam hatinya saja. Padahal ia mengetahui, gadis itu pernah ditemuinya beberapa kali dalam perjalanannya pulang dari rumah bibinya.

Setelah berada di pesta itu beberapa saat, Cue dan rombongannya bergegas meninggalkan tempat pesta tersebut. Mereka seperti menghilang hingga Skolong dan warga yang ingin mengeta¬hui siapa sesungguhnya mereka itu hanya dapat terheran-heran.

Pada malam harinya, Skolong bermimpi. Se-seorang dalam impiannya berpesan kepadanya, jika Skolong bertemu dengan gadis berwajah sangat cantik yang memesonanya itu, Skolong hendaknya menuju pancuran air desanya. Kata orang itu, “Temukan kulit cue yang disimpan di bawah batu lempeng di dekat pancuran air.”

Keesokan harinya Skolong kembali melihat gadis berwajah cantikjelita itu datang kembali ke pesta beserta rombongannya. Skolong bergegas menuju pancuran air. Di bawah batu lempeng yang berada di dekat pancuran air ia menemukan kulit cue, persis seperti pesan seseorang di dalam impiannya. Skolong lantas mengambil dan membawa kulit cue tersebut ke tempat pesta.

Setibanya di tempat pesta, Skolong melem-parkan kulit cue itu ke dalam api. Bersamaan dengan terbakarnya kulit cue itu, gadis berwajah sangat cantik yang tengah menari itu jatuh ping¬san. Skolong bergegas mengambil kulit cue yang belum terbakar dan mencelupkannya ke dalam air. Diteteskannya air yang berasal dari celupan kulit cue itu ke wajah Si gadis cantik. Gadis berwajah sangat cantik itu kembali sadar.

Skolong lantas bertanya, “Siapakah sesung-guhnya kamu ini?”

“Sesungguhnya saya ini Cue, anak bibimu,” jawab Si gadis berwajah sangat cantik.

Skolong sangat terkejut. Sama sekali tidak di¬duganya jika Cue ternyata seorang gadis berwajah sangat cantik. Ia lantas meminta maaf kepada Cue karena selama itu tidak menghiraukan Cue. Bahkan, ia pernah menolak Cue untuk menjadi istrinya.

Cue memaafkan kesalahan Skolong karena ia dapat menyadari jika Skolong terpaksa melakukan-nya karena melihat wujudnya yang mengerikan. Selain itu, Cue juga sangat mencintai Skolong. Tak lama berselang, Skolong dan Cue pun menikah. Perjanjian perjodohan yang dilakukan keluarga Skolong dan keluarga bibi Skolong akhirnya dapat terlaksana.

Skolong dan Cue hidup berbahagia selaku suami-istri hingga akhir hayat keduanya.

 

JANGAN SEMATA-MATA MEMANDANG SESEORANG DARI WUJUD ATAU PENAMPILAN LUARNYA SAJA. KECANTIKAN SEJATI SESUNGGUHNYA BERADA DI DALAM JIWA.

Legenda Gunung Mauraja – Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur
Legenda Gunung Mauraja – Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur

Hiduplah seorang anak lelaki pada zaman dahulu. Raja namanya. Wajahnya tampan. Keras hati sifatnya. Jika ia menghendaki sesuatu, maka kehendaknya itu harus dituruti. Jika tidak dituruti, Raja akan merajuk dan tidakjarang marah-marah.

Pada suatu hari Raja melihat ibunya tengah memintal benang. “Untuk apa Ibu memintal benang?” tanyanya.

“Ibu hendak membuatkan sarung untukmu,” jawab ibu Raja.

Raja amat senang mendengar rencana ibunya. Setiap saat kemudian ia senantiasa menanyakan kapan selesainya sarung untuknya itu. Pertanyaan itu pada akhirnya membuat ibunya kebingungan. Ibunya yang senantiasa mengajarkan kejujuran, menghindari kebohongan, dan menepatijanji itu akhirnya hanya bisa terdiam setelah berulang- ulang Raja bertanya padanya perihal kapan selesainya sarung untuknya.

“Ibu ternyata tidak menepatijanji!” kata Raja pada suatu hari karena ibunya tidak memberikan jawaban yang pasti. “Ibu selalu mengajarkan agar Raja menepatijanji, namun Ibu sendiri malah melanggarnya.”

Ibu Raja hanya bisa menyebutkanjika mem-buat sarung itu membutuhkan waktu yang cukup lama. “Sabarlah, anakku,” kata ibu Raja. “Ibu akan selekasnya menyelesaikan pembuatan sarung untukmu ini.”

Raja agak menyesal setelah menuduh ibunya tidak menepatijanji. Pada malam harinya Raja bermimpi. Dalam impiannya Raja didatangi seorang kakek. Kepada kakek itu Raja pun menjelaskan masalah sarungnya yang belum juga selesai dibuat ibunya. Kata kakek dalam impian Raja, “Esok hari bangunlah pagi-pagi, sebelum ayam jago berkokok untuk yang ketiga kalinya. Berjalanlah ke arah timur dan jangan engkau berhenti sebelum engkau menemukan sebuah gua di dalam hutan. Tetaplah engkau terdiam selama engkau dalam perjalanan.”

Keesokan paginya Raja menjalankan perintah Kakek dalam impiannya. Ia telah bangun pagi-pagi dan berangkat menuju arah timur ketika ayam jago berkokok dua kali. Ia terdiam selama dalam perjalanannya hingga akhirnya ia tiba di hutan. Ia menemukan sebuah gua yang terdapat mata air di dalamnya. Ketika Raja tengah memperhatikan gua itu, mendadak terdengar sebuah suara yang menyapanya, “Raja cucuku, datanglah ke sini.”

Meski sangat terperanjat, Raja menuruti perintah tersebut. Kian terperanjat Raja saat bertemu dengan sang pemilik suara yang tak lain sang Kakek seperti yang berada dalam impiannya.

Sang Kakek memberi segenggam biji kapas kepada Raja. Katanya, “Tanamlah biji-biji kapas ini di halaman rumahmu. Hendaklah engkau meminta maaf kepada ibumu dan hormatilah kedua orangtuamu itu. Ubahlah sikap burukmu selama ini.”

Setelah berpesan, mendadak tubuh sang Kakek menghilang. Tiba-tiba muncul seekor ular yang sangat besar di tempat sang Kakek semula berada. Raja yang sangat ketakutan segera berlari secepatnya keluar gua.

Sesuai pesan sang Kakek gaib, Raja lantas menanam biji-biji kapas itu di halaman rumah orangtuanya. Ajaib, biji-biji kapas itu tumbuh menjadi pohon kapas dengan kecepatan tumbuh yang sangat mengagumkan. Dari tunas kemudian berubah menjadi tanaman dan akhirnya berbuah hanya membutuhkan waktu seminggu. Buah kapas dari pohon kapas ajaib itu juga ajaib bentuknya, menyerupai gulungan benang yang dipintal ibu Raja. Raja lantas mengubah sifat buruknya setelah mendapati keajaiban itu.

Pada suatu hari kambing-kambing milik orangtua Raja hilang. Raja dan ayahnya ke¬mudian mencari ke mana kambing-kambing itu pergi. Dalam pencariannya, Raja memasuki hutan seperti yang pernah dilakukannya ketika menuruti perintah sang Kakek dalam impiannya. Raja kembali sampai di gua tempatnya bertemu dengan Kakek ajaib. Seketika tiba di depan gua, sayup-sayup Raja mendengar suara gadis-gadis sedang mandi di sebuah sungai. Raja sangat tertarik untuk melihatnya. Ketika dilihatnya baju- baju yang menumpuk di pinggir sungai, Raja lantas mengambil satu baju itu dan menyembunyikannya di sebuah lubang yang terdapat pada pohon.

Kegemparan pun terjadi ketika gadis-gadis itu selesai mandi. Gadis bungsu tidak menemukan pakaiannya. Semua kakak-kakaknya telah berusaha turut mencari, namun baju Si gadis bungsu tidak juga dapat ditemukan. Si gadis bungsu hanya bisa menangis sedih.

Raja lantas mendatangi gadis-gadis itu. Ia berpura-pura bertanya perihal penyebab menangisnya Si gadis bungsu.

“Pakaian adik bungsu kami itu hilang,” ja¬wab salah seorang kakak Si gadis bungsu. “Jika Tuan dapat menemukannya, niscaya kami akan membalas budi baik Tuan itu.”

Raja lantas berpura-pura mencari. Setelah sekian waktu mencari, Raja akhirnya mengambil pakaian yang disembunyikannya di lubang pohon. Diserahkannya pakaian itu pada Si gadis bungsu. “Apakah ini pakaianmu?”

Putri sulung mengucapkan terima kasih atas bantuan Raja. Katanya kemudian, “Sesungguhnya kami ini putri-putri ular.”

Raja teringat pada Kakek ajaib yang berubah menjadi ular besar. Maka ditanyakanlah perihal Kakek ajaib itu pada gadis-gadis itu.

“Kakek itu adalah kakek kami,”jawab Si gadis sulung. “Gua tempat Tuan bertemu dengan Kakek kami adalah tempat tinggal kami.”

Bersama-sama dengan gadis-gadis itu Raja lantas menuju gua dan kembali bertemu dengan Kakek ajaib. Atas perkenan Kakek ajaib, Raja diperbolehkan menikah dengan Si gadis bungsu. “Namun sebelum engkau menikahi cucu bungsuku, hendaklah engkau membuat sebuah rumah untuk peristirahatan cucu bungsuku.”

Raja menyanggupi.

Pembuatan rumah peristirahatan itu me-nyalahi adat istiadat desa di mana Raja tinggal. Warga desa menjadi heran dan penasaran. Mereka lantas mengintip untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi pada Raja dan istrinya itu.

Amat terperanjat warga desa setelah mengetahui di dalam rumah peristirahatan yang dibangun Raja itu terdapat sekumpulan ular. Mereka lantas beramai-ramai membakar rumah peristirahatan itu. Habislah keseluruhan rumah peristirahatan itu dilahap Si jago merah. Raja dan istrinya tidak bisa berbuat apa pun juga untuk menyelamatkan rumah peristirahatan mereka.

Keluarga istri Raja sangat geram mendapati tindakan warga kampung. Mereka segera mengubah wujud menjadi ular-ular dan lantas meminta bantuan kepiting raksasa. Bersama- sama mereka mendorong tanah hingga tanah itu melesak ke dalam perut bumi. Akibatnya, desa tempat Raja bermukim menjadi hancur dan porak- poranda. Tanah desa tersebut amblas ke dalam perut bumi dan tanah di wilayah yang berada di balik desa itu meninggi. Tanah itu terus meninggi hingga akhirnya terbentuk sebuah gunung. Masyarakat kemudian menamakan gunung itu dengan Gunung Mauraja.

KITA HENDAKLAH MENGHORMATI ADAT ISTIADAT YANG TERDAPAT PADA SUATU WILAYAH. NAMUN DEMIKIAN KITA JANGAN TERBURU NAFSU UNTUK MELAKUKAN SEBUAH TINDAKAN YANG MENYENGSARAKAN PIHAK LAIN DENGAN MENGATASNAMAKAN ADAT ISTIADAT. SEMUANYA PERLU DIPERTIMBANGKAN BAIK-BAIK AGAR TIDAK MENYESAL DI KEMUDIAN HARI.

Suri Ikun dan Dua Burung – Cerita Rakyat Nusa tenggara Timur
Suri Ikun dan Dua Burung – Cerita Rakyat Nusa tenggara Timur

Tesentuh seorang anak lelaki yang hidup di Pulau Timor pada zaman dahulu. Suri Ikun namanya. Suri Ikun mempunya banyak saudara kandung, tiga belas jumlahnya. Enam saudara kandung lelakinya dan tujuh saudara kandungnya yang perempuan.

Mata pencaharian orangtua Suri Ikun adalah bertani. Orangtua Suri Ikun mempunyai kebun yang cukup luas. Namun, hasil pertaniannya itu tidak mencukupi kebutuhan keluarganya. Penyebabnya, tanaman pangan yang mereka tanam itu kerap dirusak oleh babi-babi hutan. Untuk mengataSi serang babi-babi hutan, orangtua Suri Ikun telah memerintahkan tujuh anak lelakinya untuk menjaga kebun secara bergiliran.

Dibandingkan saudara-saudaranya, Suri Ikun lebih pemberani dan rajin. Ia akan menghalau dan mengejar babi-babi hutan yang memasuki kebun orangtuanya. Dengan panahnya, Suri Ikun akan menghalau babi-babi hutan itu. Tidakjarang Suri Ikun pulang membawa babi hutan yang berhasil dipanahnya.

Pada suatu hari Suri Ikun kembali mendapat giliran untuk menjaga kebun. Ia berhasil menghalau babi-babi hutan yang memasuki kebunnya dan bahkan berhasil pula memanah salah seekor babi hutan. Suri Ikun membawa babi hutan itu pulang ke rumah.

Saudara-saudara Suri Ikun sangat senang mendapati Suri Ikun pulang membawa babi hutan. Mereka segera memotong-motong dan memasaknya. Kakak sulung Suri Ikun kemudian bertugas merpbagi-bagi potongan daging babi hutan itu. Namun, karena saudara-saudara Suri Ikun bersifat iri dan serakah, mereka hanya membagi bagian kepala babi hutan itu untuk Suri Ikun. Daging pada bagian kepala itu memang jauh lebih sedikit dibandingkan bagian-bagian tubuh lainnya.

Kakak sulung Suri Ikun rupanya tidak hanya iri dan serakah, melainkan juga tidak senang dengan Suri Ikun. Ia sangat jengkel karena kedua orangtuanya senantiasa memuji dan membangga- banggakan Suri Ikun. Sebagai anak tertua, ia merasa dilecehkan. Ia pun menggagas sebuah rencana untuk melenyapkan Suri Ikun dari rumah.

Pada suatu hari kakak sulung Suri Ikun itu mengajak Suri Ikun untuk mencari gerinda ayah mereka yang tertinggal di hutan. Ketika itu hari telah senja. Suri Ikun sesungguhnya takut memasuki hutan, terlebih-lebih ketika waktu senja atau malam. Hutan itu terkenal angker karena menjadi tempat hunian para hantu jahat. Hantu-hantujahat itu memangsa manusia yang berani memasuki hutan. Mereka akan menyesatkan manusia yang berani memasuki tengah hutan. Kakak sulung Suri Ikun sengaja mengajak Suri Ikun dan kemudian meninggalkannya di hutan agar dimangsa para hantu jahat penghuni hutan itu!

Suri Ikun berjalan di belakang kakak sulungnya. Pada sebuah kesempatan, kakak sulung Suri Ikun menyelinap dan segera mengambil jalan pintas untuk pulang kembali ke rumahnya. Suri Ikun yang tidak menyadari terus saja berjalan. Ia kian dalam memasuki hutan.

Suri Ikun terus berjalan. Sesaat kemudian ia tersadar, kakak sulungnya tidak dilihatnya di depannya. Dalam keremangan senja, ia terus berusaha memperhatikan keadaan di depannya dan berharap melihat sosok kakak sulungnya itu. Ketika sosok kakak sulungnya tidak dilihatnya, ia pun memanggil nama kakak sulungnya itu. Suri Ikun merasa lega dan tenang karena mendengar sahutan kakaknya. Sama sekali ia tidak menduga jika para hantu jahat yang sebenarnya menjawab panggilannya. Para hantu jahat itu sengaja meniru suara kakak sulung Suri Ikun untuk menyesatkan Suri Ikun sebelum akhirnya merencanakan untuk memangsanya.

Ketika Suri Ikun telah tiba di tengah hutan, para hantu jahat segera menangkapnya. Seketika itu mereka hendak memangsangnya. Namun beberapa hantu jahat itu enggan memangsa Suri Ikun ketika itu karena tubuhnya yang terlalu kurus. “Sebaiknya kita kurung ia dulu,” saran salah satu hantu jahat itu. “Jika ia telah gemuk badannya, baru kita mangsa dia.”

Saran itu disetujui hantu-hantujahat yang lain. Maka, mereka pun mengurung Suri Ikun di sebuah gua yang sangat gelap. Mereka memberikan makanan dan minuman untuk Suri Ikun dan berharap tubuh Suri Ikun akan segera gemuk.

Sejak ditangkap para hantu jahat hingga akhirnya dikurung, Suri Ikun merasakan ketakutan yang sangat. Ia berusaha keras mencari jalan keluar dari gua tempatnya disekap. Hingga ia menemukan sebuah celah yang menyebabkan bagian gua itu sedikit lebih terang karena terkena sinar matahari yang menerobos masuk. Ketika Suri Ikun melongok ke dalam celah, ia melihat dua anak burung yang terlihat sangat kelaparan. Suri Ikun merasa sangat kasihan. Ia lantas memberi makanan kepada dua anak burung itu.

Waktu terus berlalu. Dua anak burung itu telah tumbuh menjadi dua ekor burung yang besar. Tubuhnya terlihat kekar lagi kuat. Keduanya hendak membalas budi Suri Ikun yang telah memberi mereka makanan selama itu. Mereka mengetahui jika Suri Ikun dikurung di dalam gua sebelum akhirnya menjadi santapan para hantujahat. Dua ekor burung itu berencana membebaskan Suri Ikun dari sekapan para hantujahat.

Kesempatan itu akhirnya tiba. Dua burung besar itu melihat pintu gua dibuka para hantu jahat yang hendak memangsa Suri Ikun. Seketika pintu gua dibuka, dua burung itu lantas menyerang hantu-hantu jahat dengan paruh, cakar, dan kedua kaki mereka yang kuat. Sekalian para hantujahat menjadi kalang kabut mendapat serangan mendadak yang sangat mengejutkan mereka. Ketika para hantu jahat berlarian, dua burung itu lantas menerbangkan Suri Ikun. Keduanya membawa Suri Ikun terbang melintaSi hutan, sungai, dan bukit. Keduanya membawa Suri Ikun menuju daerah berbukit-bukit. Sangat mengherankankan, di daerah berbukit-bukit itu terdapat sebuah istana kerajaan yang sangat indah lagi megah yang merupakan ciptaan dua burung besar tersebut. Dengan kekuatan gaibnya pula dua burung itu menciptakan para prajurit, hulubalang, dayang-dayang dan juga pelayan istana kerajaan. Mereka mempersilakan Suri Ikun untuk berdiam di istana kerajaan itu dan mengatur kerajaan selaku raja.

Daerah di sekitar bukit-bukit itu dikenal subur lagi indah. Rakyat banyak akhirnya berpindah ke daerah itu dan mereka menyatakan ketundukkannya kepada Suri Ikun yang mereka anggap sebagai raja.

Suri Ikun memerintah kerajaannya dengan adil dan bijaksana. Ia mengusahakan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya. Rakyat pun hidup dalam ketenangan, kedamaian, dan kesejahteraan.

 

ORANG YANG BAIK SIFAT DAN KELAKUANNYA AKAN MENDAPATKAN BALASAN ATAS KEBAIKANNYA ITU DI KEMUDIAN HARI. BERBUAT BAIK TIDAK HANYA SEMATA-MATA KEPADA MANUSIA LAIN. MELAINKAN JUGA KEPADA HEWAN KARENA SESUNGGUHNYA HEWAN ITU |UGA MAKHLUK HIDUP CIPTAAN TUHAN.