Kategori: Riau

Kisah Tujuh Putri – Cerita Rakyat Riau
Kisah Tujuh Putri – Cerita Rakyat Riau

Kerajaan Seri Bunga Tanjung dipimpin seorang ratu. Cik Sima namanya. Sang ratu memiliki tujuh orang putri. Cantik jelita wajah mereka, meski yang tercantik adalah putri bungsu. Putri Mayang Sari namanya.

Tujuh putri Ratu Cik Sima itu sering mandi di Lubuk Sarong Umai.

Pada suatu hari Pangeran Empang Kuala melintas di dekat Lubuk Sarong Umai. Kebetulan, waktu itu tujuh putri Cik Sima sedang mandi. Pangeran Empang Kuala terperanjat melihatnya. Ia terpesona pada kecantikan tujuh putri itu, terutama kecantikan Putri Mayang Sari. Begitu cantik jelitanya wajah sang putri, sang pangeran sangat terpesona padanya.

“Duhai luar biasa memesona wajah putri itu,” gumam Pangeran Empang Kuala. “Dialah gadis cantik dari Lubuk Umai. Dumai… Dumai…”

Pangeran Empang Kuala kembali ke istana kerajaannya. Namun, wajah cantik Putri Mayang Sari senantiasa membayang dalam pikirannya. Terbawa hingga ke dalam impiannya. Sang pangeran tidak bisa lagi memendam keinginannya. Ia lalu mengirim utusan ke Kerajaan Seri Bunga Tanjung untuk melamar Putri Mayang Sari.

Ratu Cik Sima menerima kedatangan utusan Pangeran Empang Kuala. Ia mengucapkan terima kasih atas pinangan Pangeran Empang Kuala pada Putri Mayang Sari. Lantas katanya, “Wahai utusan, sesuai adat kerajaan kami, lamaran hendaknya tertuju pada putri sulung. Bukan kepada putri bungsu. Oleh karena itu, sampaikan permintaan maafku pada Pangeran Empang Kuala, karena aku tidak bisa memenuhi permintaannya. Aku akan lega hati jika putri sulungku yang dilamarnya.”

Tak terkirakan kemarahan Pangeran Empang Kuala setelah mendengar laporan utusannya. Ia murka karena lamarannya ditolak Ratu Cik Sima. Ia segera memerintahkan segenap prajuritnya untuk menyerang Kerajaan Seri Bunga Tanjung.

Ratu Cik Sima terkejut mengetahui serangan besar-besaran itu. Ia lalu membawa tujuh putrinya ke dalam hutan. Tujuh putri itu disembunyikan di dalam sebuah lubang. Berbagai makanan dan minuman turut dimasukkan ke dalam lubang itu. Lubang lalu ditutup atap yang terbuat dari tanah. Batang-batang pohon disiapkan sebagai perlindungan tempat persembunyian itu.

Ratu Cik Sima lalu memimpin pasukan kerajaannya untuk menghadapi serangan pasukan Pangeran Empang Kuala. Peperangan berlangsung sengit. Terus berlangsung hingga tiga bulan lamanya. Prajurit-prajurit Kerajaan Seri Bunga Tanjung terdesak. Telah banyak prajurit yang menjadi korban. Bertambah hari mereka bertambah terdesak. Kekalahan hampir mereka alami. Mengetahui hal itu, Ratu Cik Sima bergegas menuju Bukit Hulu Sungai Umai. Ia meminta bantuan jin sakti yang tengah bertapa di tempat itu.

Jin sakti menyanggupi permintaan Ratu Cik Sima.

Pada malam harinya, jin sakti menunjukkan kesaktiannya. Ribuan buah bakau berjatuhan menimpa pasukan Pangeran Empang Kuala yang sedang beristirahat. Pangeran Empang Kuala dan para prajuritnya terluka karenanya. Mereka tak berdaya menghadapi serangan buah bakau yang gencar menyerang itu.

Datang kemudian utusan Ratu Cik Sima. Ia menghadap Pangeran Empang Kuala. Katanya, “Peperangan di antara kita ini hanya menimbulkan kerugian dan kehancuran. Perang hanya akan menimbulkan kesengsaraan. Tidak hanya terjadi pada Kerajaan Seri Bunga Tanjung, melainkan juga pada pasukan Tuanku Pangeran.”

Pangeran Empang Kuala membenarkan ucapan sang utusan. “Lalu,” katanya, “apa yang akan dilakukan Kerajaan Seri Bunga Tanjung?”

“Tuanku Ratu Cik Sirna menyarankan, peperangan di antara kita ini hendaknya dihentikan.”

Pangeran Empang Kuala setuju. Ia juga menyadari, peperangan itu terjadi karena dirinya. Ia lalu memerintahkan segenap prajuritnya yang tersisa untuk kembali ke kerajaannya.

Perang pun berakhir. Ratu Cik Sirna bergegas menuju hutan. Ia menuju lubang persembunyian tujuh putrinya. Ratu Cik Sirna terkejut bukan alang kepalang saat tiba di tempat persembunyian itu. Ia mendapati tujuh putrinya telah meninggal dunia! Rupanya, mereka kelaparan, bekal makanan mereka tidak mencukupi. Itu semua karena perang yang terus berlangsung selama tiga bulan.

Tak terkirakan kesedihan Ratu Cik Sirna mendapati kematian tujuh putri yang sangat dicintainya. Ia sangat menyesal, mengapa dulu ia tidak menyiapkan bekal yang cukup. Ia sama sekali tidak menduga, perang berlangsung selama tiga bulan. Jauh dari perkiraannya semula. Karena kesedihan dan penyesalannya, Ratu Cik Sirna pun jatuh sakit. Tak berapa lama kemudian Ratu Kerajaan Seri Bunga Tanjung itu pun meninggal dunia.

Daerah tempat Pangeran Empang Kuala terpesona melihat kejelitaan Putri Mayang Sari, di kemudian hari dinamakan Dumai. Nama seperti yang digumamkan Pangeran Empang Kuala.

 

PERTENGKARAN, PERMUSUHAN. DAN PEPERANGAN HANYA AKAN MENIMBULKAN KERUGIAN. KEHANCURAN. DAN KESENGSARAAN. SUDAH SEHARUSNYA KITA MENGHINDARINYA.

Punai Anai – Cerita Rakyat Riau
Punai Anai – Cerita Rakyat Riau

Punai Anai adalah seorang anak yang berasal dari keluarga yang terbilang mapan dan berada meski ia mempunyai enam saudara kandung. Kedua orangtua Punai Anai sangat memercayai ramalan Datuk ahli nujum. Apa pun yang diucapkan Datuk ahli nujum mereka percayai sebagai sebuah kebenaran.

Pada suatu hari kedua orangtua Punai Anai kembali mendatangi Datuk ahli nujum. Mereka bertanya perihal nasib mereka dan juga tujuh anak mereka di kemudian hari.

Dengan menggunakan tempayan, air, dan sembilan jeruk limau serta mantra-mantra saktinya, Datuk ahli nujum mencoba meramal. Hasil ramalannya kemudian disampaikannya kepada kedua orangtua Punai Anai. Katanya, “Kalian dan juga enam anak kalian akan bernasib mujur. Sangat beruntung, malah. Hanya seorang anak kalian saja yang tidak akan bernasib baik.”

“Siapa anak kami yang tidak bernasib baik itu, Datuk?”

“Punai Anai,”jawab Datuk ahli nujum. “Tidak hanya tidak baik nasibnya, namun Punai Anai juga akan membawa sial dan petaka bagi keluarga kalian! Oleh karena itu, untuk menghilangkan kesialan dan malapetaka yang akan menimpa keluarga kalian, Punai Anai hendaklah diusir dari keluarga kalian.”

Meski menyayangi Punai Anai, kedua orangtua Punai Anai melaksanakan perintah Datuk ahli nujum. Punai Anai mereka usir dari rumah.

Punai Anai sangat sedih ketika meninggalkan orangtua dan enam saudara kandungnya. Langkah kakinya gontai. Tidak tahu kemana ia harus pergi. Beberapa saat berjalan, Punai Anai akhirnya memutuskan untuk menuju hutan.

Di hutan itu Punai Anai mendirikan gubug kecil untuk kediamannya. Ia pun membuka ladang yang akan digunakannya untuk bercocok tanam. Karena tidak ada manusia lagi di tengah hutan itu, Punai Anai akhirnya bersahabat dengan para hewan yang terdapat di sana. Hewan-hewan tampaknya juga senang bersahabat dengan Punai Anai. Mereka kerap menghibur Punai Anai dan Punai Anai akhirnya merasa betah tinggal di dalam hutan setelah bersahabat erat dengan para binatang hutan. Untuk makanannya, Punai Anai mendapatkannya dari hasil berladangnya. Jika tidak mencukupi, ia akan mencari buah-buahan, umbi, dan juga aneka dedaunan. Hewan-hewan yang menjadi sahabatnya kerap pula mencarikan aneka makanan untuknyajika hasil berladangnya kurang mencukupi kebutuhan pangannya.

Sangat berbeda dengan yang disebutkan Datuk ahli nujum, kehidupan keluarga Punai Anai menjadi susah sepeninggal Punai Anai. Hasil pertanian mereka yang biasanya berlimpah-ruah, waktu itu kerap mengalami kegagalan. Lumbung padi mereka kerap kosong tanpa terdapat padi sedikit pun di dalamnya. Uang simpanan mereka mulai banyak diambil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lama-kelamaan uang simpanan mereka pun habis. Ditambah dengan kegagalan panen yang seringkali terjadi, keluarga Punai Anai itu pun akhirnya jatuh miskin.

Sementara kehidupan Punai Anai di dalam hutan bertambah baik. Pertanian yang dijalankan Punai Anai di ladangnya mendatangkan hasil yang melimpah-limpah. Begitu banyaknya hasil pertanian itu hingga Punai Anai bermaksud menjualnya ke pasar. Berangkatlah Punai Anai menuju pasar. Ia tidak sendirian, melainkan ditemani aneka hewan yang menjadi sahabatnya. Kawanan gajah, harimau, kerbau hutan, kera, dan kawanan hewan lainnya beramai-ramai mengikuti Punai Anai seraya membawa hasil pertanian Punai Anai yang hendak dijual di pasar.

Keadaan pasar pun menjadi gempar saat Punai Anai beserta sahabat-sahabatnya itu tiba di sana. Orang-orang berlarian tunggang-langgang karena takut dengan hewan-hewan yang terlihat galak lagi menyeramkan itu. Namun, Punai Anai meminta mereka untuk tidak takut, karena semua hewan itu tidak bermaksud jahat atau mengganggu. Mereka datang membantunya membawa aneka hasil pertanian yang hendak dijualnya.

Syahdan, Putri Raja tengah berjalan-jalan di pasar itu dengan diiringi beberapa prajurit dan juga dayang-dayang. Ketika melihat Punai Anai datang bersama hewan-hewan, Putri Raja sangat terkejut, terperangah, dan akhirnya terpesona pada Punai Anai. Terlebih-lebih ketika ia melihat semua hewan itu patuh pada perintah Punai Anai. Putri Raja langsung jatuh hati pada Punai Anai. Ia meminta prajuritnya untuk menemui Punai Anai dan meminta Punai Anai untuk menghadap ayahandanya.

Punai Anai datang menghadap Sang Raja.

Sang Raja, permaisuri, dan para hulubalang sangat terkesan dengan sikap dan penampilan Punai Anai ketika datang menghadap. Terlebih- lebih Putri Raja yang kian jatuh hati pada Punai Anai. Sang Raja lantas meminta Punai Anai untuk tinggal di istana kerajaan dan mendapat tugas khusus untuk mengurus dan merawat aneka hewan kesayangan Sang Raja. Dengan gembira, Punai Anai menerima tugas dan perintah Sang Raja.

Punai Anai bekerja dengan baik. Semua hewan kesayangan Sang Raja menjadi sehat dan terawat. Mereka semua sangat jinak kepada Punai Anai dan menganggap Punai Anai sebagai sahabat mereka. Sang Raja sangat sayang dengan Punai Anai yang rajin lagi sopan itu. Sementara Putri Raja kian mencintai Punai Anai.

Punai Anai sesungguhnya merasa jika Putri Raja mencintainya. Ia pun juga mencintai Putri Raja. Namun, ia tidak berani menunjukkan perasaannya itu. Ia merasa sangat tidak pantas untuk mencintai Putri Raja. Ia hanya menyimpan perasaan cintanya itu di dalam hati.

Bagaimanapun juga, meski berusaha untuk ditutup-tutupi, Sang Raja dan Permaisuri mengetahui jugajika anak perempuan mereka jatuh cinta pada Punai Anai. Mereka juga mengetahui jika Punai Anai juga mencintai anak perempuan mereka. Raja yang bijaksana itu akhirnya meminta Punai Anai untuk datang menghadapnya dan mengemukakan rencananya, “Apakah engkau menerima seandainya putri tunggalku itu kunikahkan denganmu?”

“Hamba menerimanya dengan segala sembah dan hormat, Baginda,” jawab Punai Anai.

Maka, Punai Anai dinikahkan dengan Putri Raja dengan pesta pernikahan yang sangat besar. Dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam. Punai Anai pun hidup bahagia di istana kerajaan di samping istrinya yang cantik jelita lagi baik budi perangainya itu.

Ketika Sang Raja telah berusia tua, Sang Raja menyerahkan takhtanya kepada Punai Anai. Maka, bertakhtalah Punai Anai selaku raja yang adil dan bijaksana. Segenap rakyat menyambut gembira dan mencintai Punai Anai, karena Punai Anai senantiasa mengupayakan kesejahteraan mereka.

Setelah Punai Anai bertakhta selaku raja, ia sangat rindu dengan keluarganya. Ia pun datang menjenguk kedua orangtua dan juga enam saudara kandungnya. Ia memaafkan kesalahan kedua orangtuanya yang telah membuangnya. Ia mengajak kedua orangtua dan juga enam saudara kandungnya itu untuk tinggal di istana kerajaan bersamanya.

Raja Punai Anai hidup berbahagia. Ia senantiasa mengingatkan segenap rakyatnya untuk tidak memercayai ramalan. Ia kerap memberi contoh pada dirinya sendiri. Menurut Datuk ahli nujum, ia adalah pembawa kesialan dan malapetaka bagi keluarganya. Namun ramalan itu ternyata salah besar, karena dirinya menemukan kebahagiaan yang sangat besar. Sementara keluarganya yang diramal akan mendapatkan kebahagiaan, malah jatuh miskin dan hidup menderita.

“Sekali-kali janganlah kalian memercayai ramalan, karena kebanyakan ramalan itu salah dan sangat menyesatkan!” begitu pesan Raja Punai Anai kepada segenap rakyatnya.

 

JANGANLAH PERCAYA DENGAN RAMALAN KARENA RAMALAN ITU KEBANYAKAN SALAH DAN MENYESATKAN. TUKANG RAMAL ATAU AHLI NUJUM ITU TIDAK MENGETAHUI APA YANG AKAN TERJADI DI KEMUDIAN HARI KARENA SEMUA ITU HANYA TUHAN SAJA YANG MENGETAHUINYA. JANGANLAH MENDAHULUI KEHENDAK TUHAN!

Cerita Si Burung Bayan – Cerita Rakyat Riau
Cerita Si Burung Bayan – Cerita Rakyat Riau

Seorang lelaki pada zaman dahulu. Tidak jelas siapa namanya yang sesungguhnya, hanya kerap la dipanggil dengan panggilan Si Penggetah. Sesuai nama panggilannya, pekerjaan sehari-hari lelaki itu adalah menangkap burung dengan getah. Ia piawai menggetah. Berbagai burung telah berhasil ditangkapnya. Burung- burung hasil tangkapannya itu kemudian dijualnya dan hasil penjualan itu digunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Si Penggetah berkeinginan menangkap burung Bayan. Menurut kabar yang didengarnya, burung Bayan itu pandai menirukan ucapan manusia. Bahkan, pandai pula berbicara layaknya manusia. Ia pun bersiap-siap menangkap burung incarannya itu dengan getah andalannya. “Jika nanti aku berhasil mendapatkan burung Bayan, aku akan mengurungnya dalam sangkar emas,” begitu janji Si Penggetah pada dirinya sendiri.

Si Penggetah meletakkan getah di kulit pohon untuk menjebak burung Bayan. Tak terkirakan senangnya Si Penggetah setelah jebakannya itu berhasil menjebak seekor burung Bayan. Si Penggetah lantas membersihkan bulu-bulu burung Bayan itu dari getah yang menempel padanya. Burung Bayan itu lantas dimasukkan ke dalam sangkar yang terbuat dari kayu. Seraya memasukkan burung Bayan itu ke dalam sangkar, Si Penggetah berujar, “Sesungguhnya aku telah berjanji jika berhasil menangkapmu, maka aku akan memasukkanmu ke dalam sangkar emas. Namun, aku sangat sulit melaksanakan janjiku itu karena kemiskinanku yang sangat.”

Secara tak terduga, burung Bayan itu menukas ucapan Si Penggetah, “Jika engkau memang menghendaki emas, tampunglah kotoranku. Percayalah, kotoranku itu kelak akan menjadi emas!”

Meski semula agak ragu-ragu, namun Si Penggetah melaksanakan nasihat Si burung Bayan. Ia menampung kotoran Si burung Bayan. Keajaiban pun dialami Si Penggetah ketika kotoran burung Bayan yang dikumpulkannya itu berubah menjadi butiran-butiran emas!

Si Penggetah lantas menjual butiran-butiran emas itu. Uang hasil penjualan itu dikumpulkannya. Setelah dirasa cukup jumlahnya, Si Penggetah menggunakannya untuk memenuhi janjinya. Ia membeli sangkar burung yang terbuat dari emas. Burung Bayan ajaib itu lantas dimasukkannya ke dalam sangkar emas.

Berita adanya burung Bayan ajaib yang dimiliki Si Penggetah segera menyebar. Diketahui banyak orang. Bahkan, diketahui pula oleh sang raja yang memerintah wilayah tempat tinggal Si Penggetah. Raja Helat namanya.

Raja Helat terkenal kejam dan sewenang-wenang perilakunya. Sifat-sifatnya yang lain juga amat buruk. Ia kikir serta sangat rakus. Jika ia menghendaki sesuatu, sesuatu itu mesti harus dimilikinya, meski sesuatu itu dimiliki orang lain. Tidak segan-segan Raja Helat akan merampas dan menggunakan kekuasaannya untuk mengambil paksa.

Ketika Raja Helat mendengar adanya burung Bayan ajaib di mana kotorannya akan berubah menjadi emas, Raja Helat langsung berniat memilikinya. Ia memanggil hulubalang kerajaannya yang bernama Bujang Selamat dan diperintahkannya untuk mengambil burung Bayan itu dari Si Penggetah. “Sebutkan, jika aku menghendaki burung Bayan itu. Jika Si pemiliknya itu enggan menyerahkan burung Bayan piaraannya, lakukan tindakan sesukamu asalkan burung Bayan itu dapat kumiliki.”

Bujang Selamat lantas berangkat menuju gubug Si Penggetah. Sesuai perintah Raja Helat, Bujang Selamat meminta agar Si Penggetah menyerahkan burung Bayan miliknya untuk Raja Helat.

Sesungguhnya Si Penggetah merasa tidak rela jika burung Bayan miliknya diminta Raja Helat. Namun, ia takut mengungkapkan keberatannya itu. Ia tahu, hukuman yang berat akan diterimanya jika ia berani menolak keinginan Raja Helat. Ia pun memberikan usul, “Bagaimana jika kita tanyakan kepada burung Bayan piaraanku ini, apakah ia bersedia dibawa ke istana atau tidak.”

Bujang Selamat setuju dengan usul Si Penggetah.

“Wahai burung Bayan,” kata Si Penggetah, “engkau tentu telah mendengar pembicaraan kami. Nah sekarang jawablah, apakah engkau bersedia dibawa ke istana Raja Helat atau tidak?”

Burung Bayan menatap Bujang Selamat lekat-lekat sebelum menjawab, “Bujang Selamat, jika Raja Helat mampu memenuhi syarat-syarat yang kuajukan, aku bersedia dibawa ke istana kerajaannya.”

“Syarat apa yang engkau kehendaki?” tanya Bujang Selamat.

“Syarat yang kuajukan terbilang mudah,” kata burung Bayan. “Raja Helat hendaknya mendengarkan ceritaku. Sebelum ceritaku berakhir, aku tidak boleh berpindah pemilik. Sampaikan kepada Raja Helat syarat yang kuajukan ini. Jika Raja Helat bersedia, maka aku pun bersedia pula dibawa ke istana kerajaan.”

Raja Helat menyatakan kesediaannya memenuhi syarat yang diajukan burung Bayan seperti yang dijelaskan Bujang Selamat. Menurutnya itu syarat yang mudah. Burung Bayan lantas dibawa ke istana kerajaan.

Di hadapan Raja Helat dan juga keluarganya, burung Bayan mulai bercerita. Sangat menarik ternyata cerita yang disampaikan Si burung Bayan. Raja Helat dan keluarganya yang mendengar cerita itu benar-benar terpukau dan menghendaki Si burung Bayan menyelesaikan ceritanya. Mendengar permintaan itu Si burung Bayan kembali mengajukan syarat, “Hendaklah Paduka membayar cerita hamba itu dengan segantang emas murni, makanan, dan juga minuman.”

“Segantang emas murni?” bola mata Raja Helat membesar. “Aku harus membayar ceritamu itu dengan segantang emas murni, makanan, dan juga minuman untukmu?”

“Benar,” jawab Si burung Bayan. “Sesuai perjanjian kita sebelumnya, jika hamba belum selesai bercerita, maka hamba tidak boleh berpindah pemilik. Paduka tetap menjadi pemilik hamba.”

Raja Helat terpaksa memenuhi permintaan Si burung Bayan. Segantang emas memang jumlah yang sangat banyak bagi kebanyakan rakyat, namun tidak bagi dirinya. Gudang kerajaannya sangat banyak menyimpan emas. Juga makanan dan minuman. Semuanya itu dikumpulkan dan ditimbunnya untuk dirinya dan keluarganya, sama sekali tidak pernah diberikannya untuk kesejahteraan rakyatnya yang kebanyakan miskin. Menurutnya pula, emas murni, makanan, dan minuman simpanannya itu tidak akan habis untuk membayar cerita Si burung Bayan. Maka, Raja Helat pun menyetujui permintaan Si burung Bayan.

Si burung Bayan benar-benar cerdik. Ceritanya tidak hanya menarik, namun juga panjang dan terus bersambung. Raja Helat dan keluarganya senantiasa menunggu kelanjutan cerita Si burung Bayan. Setiap kali selesai satu bagian cerita yang disampaikannya, Si burung Bayan meminta bayaran segantang emas murni, makanan, dan minuman. Raja Helat memenuhi permintaannya.

Karena cerita itu terus bersambung, hingga berminggu- minggu kemudian cerita itu belum selesai. Telah berpuluh-puluh gantang emas murni diberikan Raja Helat untuk Si burung Bayan. Juga banyak makanan serta minuman. Si burung Bayan lantas membagikan emas murni, makanan, dan juga minuman kepada rakyat banyak melalui Si Penggetah. Tanpa disadari Raja Helat, gudang penyimpan kekayaannya kian menipis iSi emas, makanan, dan minumannya. Akhirnya, habislah semua simpanan emas, makanan, dan minuman yang dimiliki Raja Helat.

Raja Helat tidak lagi berharta. Rakyat akhirnya mengetahui perilakunya yang buruk yang suka menumpuk dan menimbun kekayaan untuk pribadinya sendiri dan mengabaikan kesejahteraan rakyat. Rakyat yang marah akhirnya bersatu padu dengan prajurit dan hulubalang kerajaan. Mereka bersepakat untuk menurunkan Raja Helat dari takhtanya.

Rakyat, prajurit, dan hulubalang kerajaan sepakat pula kemudian untuk mengangkat Si Penggetah menjadi raja baru menggantikan Raja Helat.

Bertakhtalah Si Penggetah selaku raja. Ia mengangkat Si burung Bayan menjadi penasihat kerajaan. Karena saran dan nasihat Si burung Bayan, Si Penggetah menjalankan pemerintahannya dengan baik. Kesejahteraan rakyat senantiasa dipikirkannya dan ia tidak pernah menumpuk kekayaan seperti yang dilakukan Raja Helat.

Segenap rakyat kerajaan dapat hidup tenang, damai, dan sejahtera dalam pemerintahan Si Penggetah. Sementara Si Penggetah pun hidup berbahagia bersama Si burung Bayan yang tetap ditunjuknya selaku penasihat kerajaannya.

 

KEKEJAMAN DAN KESERAKAHAN PENGUASA AKAN DITUMBANGKAN OLEH KEKUATAN ORANG-ORANG YANG DIPIMPIN SANG PENGUASA. HANYALAH PENGUASA YANG SENANTIASA MEMIKIRKAN DAN MENGUSAHAKAN KESEJAHTERAAN RAKYATNYA SAJA YANG AKAN DICINTAI RAKYATNYA.

kisah Si Ahmad – Cerita Rakyat Riau
kisah Si Ahmad – Cerita Rakyat Riau

Pada zaman dahulu di daerah Kampar hiduplah sebuah keluarga miskin. Mereka terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak lelaki. Si anak sulung bernama Ahmad dan Muhammad nama adik Ahmad. Ahmad dan Muhammad adalah anak- anak yang rajin lagi patuh pada perintah orang tua. Keduanya biasa membantu ayah dan ibunya untuk mencari buah-buahan dan juga damar di hutan. Keduanyajuga rajin membantu mengolah ladang mereka yang sempit ukurannya.

Pada suatu hari ayah Ahmad dan Muhammad sendirian berangkat ke hutan. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, ayah dua anak itu tewas tertimpa pohon di dalam hutan ketika tengah mencari buah-buahan. Tak terkirakan kesedihan

Ahmad dan Muhammad saat mendapati ayah mereka telah tiada. Namun, keduanya ikhlas karena itu telah merupakan takdir Tuhan.

Sepeninggal suaminya, ibu Ahmad dan Muhammad mengambil alih peran untuk mencari nafkah. Ahmad dan Muhammad tetap rajin membantu ibunya. Pada suatu hari ibu dua anak itu menemukan seekor anak ular. Anak ular itu langsung dimasukkan ke dalam tempayan dan ditutup. Ibu Ahmad dan Muhammad berpesan pada Muhammad agar tidak membuka tutup tempayan selama ia mencari kayu bakar di hutan.

Muhammad mengiyakan.

Tak berapa lama kemudian Ahmad kembali ke rumah. Ia sangat keheranan mendapati adiknya menjaga tempayan yang tertutup rapat itu. “Apa iSi tempayan itu?” tanyanya pada adiknya.

“Aku tidak tahu apa isinya,”jawab Muhammad. “Hanya saja ibu tadi berpesan kepadaku untuk tidak sekali-kali membuka tutup tempayan ini.”

Ahmad sangat penasaran untuk mengetahui iSi tempayan. Meski telah dilarang adiknya, ia tetap nekat membuka tutup tempayan. Seketika tutup tempayan itu diangkat Ahmad, keluarlah anak ular dari dalam tempayan.

Ahmad dan Muhammad amat terkejut. Ahmad bergegas berusaha menangkap kembali anak ular itu. Namun, anak ular itu bergerak sangat gesit. Cepat merayap di antara semak belukar dan terus merayap menuju hutan tempat tinggalnya. Ahmad yang tidak ingin dimarahi ibunya terus juga mengejar. Hingga memasuki hutan pun, Ahmad terus mengejar.

Pengejaran Ahmad berakhir ketika ia mendapati seekor ular yang sangat besar mendadak muncul di hadapannya. Rupanya, ia adalah induk anak ular yang tengah dikejar Ahmad. Ular besar itu siap menerkam Ahmad!

“Jangan terkam dia, Ibu!” jerit Si anak ular. “Manusia itu telah menolongku dengan membebaskanku dari dalam tempayan.”

Induk ular mengurungkan rencana terkamannya. “Benarkah itu?” tanyanya ragu-ragu.

Si anak ular lantas menceritakan kejadian yang dialaminya. Ketika itu ia tersesat dan terjepit batang kayu ketika hendak mencari jalan pulang. Seorang manusia menolongnya dan memasukkannya ke dalam tempayan di dalam rumahnya. “Manusia inilah yang kemudian membebaskanku dari dalam tempayan, Ibu. Maka, janganlah engkau menerkam dan memangsanya.”

Induk ular mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian kepada Ahmad, “Wahai anak muda, naiklah engkau ke punggungku. Tendanglah kepalaku.”

Semula Ahmad keheranan mendengar perintah Si induk ular. Ia terlihat bingung dan

ragu-ragu. Namun akhirnya ia bersedia pula melakukannya. Dengan takut-takut ia menaiki punggung ular besar itu dan menendang kepala Si ular. Tiba-tiba sebuah benda keluar dari dalam mulut Si ular besar. Sejenak Ahmad memperhatikan, mengertilah ia, benda itu adalah sebuah cincin.

“Ambil dan kenakan cincin sakti itu di jari manismu, wahai anak muda,” kata induk ular itu. “Jika engkau menghendaki sesuatu, gosoklah cincin itu dan ucapkanlah permintaanmu. Niscaya permintaanmu itu akan dikabulkan.”

Ahmad mengambil cincin itu dan mengenakannya di jari manisnya. Lubang cincin itu sesuai benar dengan ukuran jari manisnya, seperti memang disiapkan untuk Ahmad. Ahmad mengucapkan terima kasih kepada induk ular dan bergegas meninggalkan tempat itu.

Ahmad masih takut jika dimarahi ibunya. Ia pun tidak pulang kembali ke rumahnya, melainkan hendak mengembara. Ia nekat menerobos hutan, mendaki bukit, menuruni lembah, dan menyeberangi sungai. Sama sekali ia tidak mempunyai tujuan dalam perjalanan pengembaraannya itu serasa menuruti kemana kakinya melangkah. Jika ia lapar, Ahmad mencari buah-buahan atau umbi-umbian yang bisa dimakannya. Kadang ia mencari ikan. Jika ia tidak menemukan apa pun juga yang dapat dimakannya, Ahmad menggosok cincin pemberian induk ular dan mengucapkan makanan yang ingin dimakannya. Ajaib, seketika itu muncul makanan sesuai dengan permintaan Ahmad!

Dalam pengembaraannya, Ahmad bertemu dengan seorang lelaki tua yang tampak keberatan memanggul kayu bakar. Ahmad membantu membawakan kayu bakar itu hingga sampai di rumah Si orangtua. Untuk beberapa saat lamanya Ahmad tinggal bersama Si orangtua. Ia membantu Si orangtua untuk mencari kayu bakar, mencari bahan makanan, air minum, dan juga mengolah tanah ladang milik Si orangtua. Berterima kasihlah Si orangtua atas bantuan Ahmad. Ketika Ahmad berniat meneruskan pengembaraannya, Si orangtua memberinya sebilah parang ajaib. Kata Si orangtua, “Parang ini akan bergerak sesuai perintahmu.”

Setelah mengucapkan terima kasih, Ahmad meninggalkan Si orangtua itu untuk meneruskan pengembaraannya.

Setelah menempuh perjalanan berhari-hari, sampailah Ahmad di sebuah kerajaan. Kerajaan itu terlihat sepi, penduduknya tampak ketakutan. Ketika Ahmad mencoba mencari tahu penyebab semua itu, ia mendapatkan berita yang sangat mengejutkannya. Penduduk kerajaan itu sangat takut karena adanya seekor burung garuda raksasa pemangsa manusia.

“Burung garuda raksasa itu telah memangsa enam dari tujuh anak Sang Raja,” kata salah seorang penduduk kepada Ahmad. “Kini Raja tengah berduka karena anak bungsunya akan menjadi santapan burung garuda raksasa itu. Kami khawatir, giliran kami menjadi mangsa garuda raksasa itu setelah semua anak Raja dimangsanya.”

Ahmad berniat menolong. Katanya, “Antarkan aku untuk menghadap Sang Raja. Aku akan berusaha menolong kesulitannya.”

Ahmad lantas dihadapkan kepada Sang Raja di istana kerajaan. Di hadapan Sang Raja, Ahmad menyatakan keinginannya untuk menolong.

Hamba akan hadapi burung garuda ganas pemangsa manusia itu,” katanya.

Ahmad lalu bersiap-siap menunggu kedatangan Si garuda raksasa.

Tak berapa lama kemudian Si garuda raksasa datang untuk meminta korban. Ia sangat gembira ketika melihat putri bungsu Sang Raja berada di tengah alun-alun kerajaan. Ia menyangka putri bungsu Sang Raja telah disiapkan untuk menjadi santapannya. Segera ia terbang merendah dan bersiap menyabar tubuh Si anak bungsu Sang Raja.

Namun, sebelum Si burung garuda raksasa berhasil menyambar tubuh putri bungsu Sang Raja, Ahmad telah lebih dahulu merebut. Ahmad

lantas melemparkan parang saktinya. “Bunuhlah burung garuda raksasa pemakan manusia itu!” perintahnya.

Parang sakti itu lalu mengejar kemana Si burung garuda raksasa terbang. Ia melesat sangat cepat dan sebelum burung garuda raksasa pemakan manusia itu mampu menghindar, parang sakti telah telak menghujam ke tubuhnya. Seketika itu Si burung garuda raksasa pemakan manusia itu jatuh dan mati.

Tak terkirakan gembiaranya Sang Raja dan segenap warga kerajaan mendapati telah matinya burung garuda raksasa yang selama itu menimbulkan keresahan dan ketakutan. Sebagai ungkapan rasa terima kasihnya, Sang Raja menikahkan putri bungsunya itu dengan Ahmad.

Pesta pernikahan antara Ahmad dan putri bungsu Sang Raja dilangsungkan secara besar- besaran. Sangat meriah. Segenap warga kerajaan diundang. Tak terkecuali pula para raja, pangeran, dan juga bangsawan dari kerajaan-kerajaan sahabat. Semuanya mengucapkan selamat kepada Ahmad yang telah berhasil membunuh burung garuda pemangsa manusia itu dan akhirnya menikahi putri bungsu Sang Raja.

Ahmad hidup berbahagia bersama istrinya di istana kerajaan. Namun demikian ia senantiasa teringat kepada ibu dan adiknya yang ditinggalkannya di daerah Kmpar. Ia telah berulang-ulang meminta izin kepada Sang Raja untuk menjemput ibu dan adiknya itu. Namun, Sang Raja masih belum juga memberinya izin. “Tunggulah sebentar,” kata Sang Raja.

Rupanya, Sang Raja mempunyai rencana tersendiri. Tanpa diketahui Ahmad, Sang Raja telah memerintahkan para prajuritnya untuk mencari dan menjemput ibu dan adik Ahmad. Sang Raja telah berencana untuk turun takhta dan menyerahkan takhtanya itu kepada Ahmad. Para prajurit yang diutus Sang Raja akhirnya menemukan ibu dan adik Ahmad. Keduanya segera dibawa ke istana kerajaan. Keluarga itu pun akhirnya kembali bersatu dalam suasana yang jauh lebih berbahagia dibandingkan ketika mereka masih di dusun mereka sebelumnya.

Pada waktu yang dianggap tepat, Sang Raja menyerahkan takhta pemerintahannya kepada Ahmad dengan iringan pesannya untuk memerintah secara adil dan bijaksana. “Jadikan kesejahteraan

rakyat sebagai tujuan pemerintahanmu.” Ahmad mengiyakan.

Raja Ahmad melaksanakan janjinya. Diterapkannya keadilan dan kebijaksanaan yang berpihak pada rakyat ketika ia memerintah. Kesejahteraan rakyat pun meningkat dan Raja Ahmad hidup berbahagia bersama orang-orang yang dicintai dan mencintainya.

GEMAR BERBUAT BAIK DAN MENOLONG SESAMA YANG MEMBUTUHKAN AKAN BERBUAH KEBAIKAN DAN KEBAHAGIAAN DI KEMUDIAN HARI BAGI PELAKUNYA.