Kategori: Sulawesi Selatan

Nenek Pakande – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan
Nenek Pakande – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Selintas, ia tak ubahnya seorang nenek tua renta. Semua rambutnya telah memutih dan berkonde. Kulit wajahnya telah keriput. Tubuhnya tidak lagi tegap, jika berjalan agak membungkuk. Tapi, ia sangat ditakuti karena kekejamannya. Kegemarannya menculik dan memangsa anak- anak!

Dialah Nenek Pakande, nenek siluman betina. Ia biasa mencari mangsa ketika menjelang malam. Anak-anak yang masih bermain di luar rumah ketika malam tiba, akan menjadi sasaran penculikannya.

Nenek itu sangat sakti. Tidak ada warga yang bisa mengalahkannya. Namun, nenek siluman itu sangat takut dengan raksasa bernama Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale. Raksasa itu juga pemakan manusia. Namun, bukan sembarang manusia yang dimangsanya. Hanya orang- orang jahat saja. Kepada orang-orang baik, Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale juga baik sikapnya. Raksasa itu tidak pernah mengganggu, tetapi malah suka membantu.

Sejak Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale pergi entah ke mana, Nenek Pakande terus berulah. Terakhir, dua anak dan seorang bayi diculiknya. Warga gusar. Mereka berkumpul dengan dipimpin Kepala Kampung. Segenap warga bersepakat untuk menghentikan kekejaman Nenek Pakande. Nenek Pakande harus diusir dari kampung mereka. Tapi, mereka tidak mengerti bagaimana caranya.

“Sebaiknya kita serang bersama-sama nenek siluman pemangsa anak-anak itu,” saran seorang warga.

Saran itu langsung disanggah seorang warga lainnya, “Jangan gegabah! Nenek siluman itu sangat sakti. Meski kita keroyok beramai-ramai, ia akan mudah mengalahkan kita.”

“Lantas, apa kita harus diam saja dan membiarkan anak-anak kita dimangsa nenek siluman itu?” ujar seorang warga lainnya.

Warga kampung bingung. Bahkan, Kepala Kampung pun tidak mengetahui bagaimana cara menghentikan kekejaman Nenek Pakande. Ia hanya bisa menyarankan, “Kita coba mencari Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale. Kita minta tolong padanya.”

“Tapi, di mana kita bisa menemukan raksasa baik hati itu, Kepala Kampung?” tanya seorang warga kampung.

Kepala Kampung terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan salah seorang warganya itu.

Mendadak terdengar suara dari tengah- tengah warga, “Aku mempunyai cara untuk mengalahkan dan mengusir Nenek Pakande dari kampung kita.”

Orang yang berkata itu bernama La Beddu. Ia seorang pemuda yang dikenal cerdik, pandai, dan pemberani. Sifat dan kelakuannya dikenal baik. Ia ramah dan suka menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

Warga kampung tidak percaya jika La Beddu mampu mengalahkan dan mengusir Nenek Pakande. Sebagian warga kampung malah mentertawakannya. La Beddu bukan sosok yang sakti, bagaimana bisa mengalahkan nenek siluman yang sangat sakti itu?

“Untuk mengalahkan kesaktian Nenek Pakande, tidak harus menggunakan kesaktian,” ujar La Beddu. “Dengan kecerdikan pun bisa.”

“Bagaimana caranya mengalahkan Nenek Pakande, La Beddu?” tanya Kepala Kampung.

“Aku membutuhkan beberapa hewan dan benda,” jawab La Beddu.

“Sebutkan apa saja yang engkau butuhkan.”

“Aku butuh beberapa ekor belut, beberapa ekor kura-kura, kulit rebung kering, garu, dan batu besar,” jawab La Beddu. “Jangan lupa siapkan juga seember busa sabun. Jika telah tersedia, kumpulkan semua di Bala Raja.”

Bala Raja adalah rumah panggung yang sangat besar yang berada paling ujung di perkampungan mereka.

Warga kampung bertambah heran. Sangat aneh barang-barang yang diminta La Beddu. Namun, karena mereka ingin terbebas dari kekejaman Nenek Pakande, mereka bergotong- royong menyediakannya. Mereka mengumpulkan semua barang itu di Bala Raja.

Pada malam Jum’at, La Beddu dan beberapa warga kampung bersiaga di Bala Raja. Nenek Pakanda biasanya mencari mangsa pada malam itu. La Beddu meminta bantuan dua kawannya yang pemberani. Keduanya diminta untuk bersembunyi di bawah rumah panggung. Tugas mereka adalah meletakkan belut-belut dan batu besar di bawah tangga Bala Raja.

Beberapa warga kampung lainnya juga bersiaga di salah satu kamar di dalam Bala Raja itu. Mereka semua bersenjata. Mereka menjaga seorang bayi yang dijadikan umpan agar Nenek Pakande datang ke Bala Raja. Semua lampu di Bala Raja dinyalakan, sementara semua lampu di rumah-rumah warga dimatikan. Setelah semua persiapan siap, La Beddu bergegas menaiki atap Bala Raja. Ia bersembunyi di tempat itu.

Nenek Pakande akhirnya muncul. Ia keheranan mendapati suasana kampung yang gelap gulita. Tak ada satu pun warga yang menyalakan lampu. Ia juga melihat rumah besar di ujung kampung terang benderang. Ia pun menghampiri Bala Raja. Mendadak ia mencium sesuatu yang membuat wajahnya berubah gembira. Bau seorang bayi!

Nenek Pakande bergegas memasuki Bala Raja. Ia tahu, bayi itu berada dalam sebuah kamar berpintu tinggi. Ia akan mendobrak pintu kamar, mengambil, dan memangsanya.

Mendadak terdengar suara menggelegar dari atas, “Hei Nenek Pakande! Apa keperluanmu datang ke Bala Raja ini?”

Nenek Pakande terkejut. Pandangannya menatap ke arah atap. “Aku mau mengambil bayi di rumah ini!” jawabnya. “Siapa kau?”

La Beddu yang menggunakan kulit rebung kering ketika bersuara, hingga suaranya terdengar keras membahana, itu menjawab, “Kau tidak bisa mengenali suaraku? Haa… haa… haaa…! Aku Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale!”

“Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale?”

“Ya!”jawab La Beddu. “Kudengar kau berulah di kampung ini! Sungguh berani engkau melakukannya! Kuminta… pergi kau dari kampung ini! Jika tidak, akan kumangsa engkau hidup-hidup!!”

Nenek Pakande sejenak terdiam. Sejenak kemudian bibirnya mencibir. “Aku tidak percaya!” serunya. “Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale sudah lama pergi. Engkau hanya mengaku-aku saja. Aku tidak mau pergi sebelum membawa bayi itu!”

“Engkau tidak mau pergi? Hmm… bagus! Aku bisa segera memangsamu. Aku sudah sangat lapar. Lihat… air liurku sudah menetes-netes!”

La Beddu menumpahkan seember busa sabun dari atap.

Melihat busa sabun yang berjatuhan itu membuat Nenek Pakande terkejut. Tetapi, ia belum melihat sosok raksasa yang sangat ditakutinya itu. Ia mencoba menyangkal, “Aku tetap tak percaya engkau adalah Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale.”

“Hmm… kau masih ingin bukti lagi rupanya…” La Beddu lalu menjatuhkan beberapa ekor kura- kura secara bergiliran. Katanya sambil menjatuhkan garu, “Lihat, kutu-kutu yang mengganggu rambut di kepalaku ini! Astaga! Sisirku jatuh pula! Grrr.J!”

Ketakutan Nenek Pakande menguat ketika melihat ‘kutu-kutu’ dan ‘sisir’ yang berjatuhan dari atap. Ia makin ketakutan saat mendengar ‘Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale’ bersiap memangsanya.

Nenek Pakande bergegas menuju pintu keluar. Ia sangat ketakutan hingga tidak melihat belut- belut yang sengaja dipasang di bawah tangga. Seketika ia menginjak, ia langsung terpeleset jatuh. Kepalanya membentur batu besar yang telah disiapkan di bawah tangga.

“Aduuh…”jerit Nenek Pakande. Ia lalu bangkit dan mengusap-usap kepalanya yang dirasanya sakit. “Baiklah, Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale. Aku akan pergi jauh-jauh dari kampung ini. Aku akan menuju bulan.”

“Hmm… bagus! Rupanya, kau memilih pergi dibanding menjadi santapan malamku! Grrrr.J!”

Sebelum pergi, Nenek Pakande masih memberikan ancamannya, “Ingat baik-baik! Dari bulan, aku akan tetap melihat anak-anak di kampung ini. Suatu saat, jika kulihat anak-anak masih berkeliaran di luar rumah menjelang malam, aku akan datang untuk menculik dan memangsa mereka!”

Nenek Pakande mengerahkan kesaktiannya. Tubuhnya melayang. Ia lalu terbang cepat menuju bulan.

Segenap warga kampung menyambut gembira kepergian Nenek Pakande ke bulan. Mereka berjanji akan mengingatkan anak-anak mereka agar tidak berkeliaran ketika hari menjelang malam. Bisa jadi, Nenek Pakande akan menangkap dan memangsa mereka!

 

KECERDIKAN SIASAT AKAN DAPAT MENGALAHKAN KEPINTARAN ATAU KESAKTIAN SESEORANG.

Kisah Ular dan Kerbau – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan
Kisah Ular dan Kerbau – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Pada zaman dahulu semua hewan dapat berbi-cara layaknya manusia. Mereka hidup bersama di dalam hutan belantara. Di antara hewan-hewan itu terdapat seekor ular yang sombong. Karena kesombongannya, banyak hewan yang tidak mau bersahabat dengan Si ular.

Pada suatu hari kerbau dan ular bertemu di pinggir hutan. Kata Si ular, “Wahai kerbau, jika kuperhatikan, tubuhmu memang besar. Namun, aku sangSi apakah kekuatanmu itu juga besar seperti besarnya tubuhmu itu.”

Si kerbau terlihat sangat jengkel mendengar ucapan Si ular. Jawabnya, “Tentu saja kekuatanku juga besar. Bahkan, kekuatanku jauh lebih besar dibandingkan kekuatan tubuhmu yang kurus, kecil, lagi panjang mirip tali itu!”

Si ular menjadi marah. “Betapa sombongnya engkau ini, hei kerbau!” hardiknya.

“Justru engkau itulah yang sombong!” sergah Si kerbau tak mau mengalah. “Tak pernah aku meragukan kemampuan kekuatanmu, namun engkau yang memulai dengan meragukan kekuat-anku. Begitu pun engkau menyebutku sombong? Bukankah engkau itulah yang terkenal sombong selama ini?”

Si ular kian marah. Katanya untuk mema-merkan kekuatannya, “Jika aku membelit tubuh hewan, meskipun hewan itu besar tubuhnya, aku jamin tubuhnya pasti remuk. Tulang-tulangnya akan hancur. Hewan itu akan mati dan akhirnya bisa kumangsa.”

Meski Si ular berbicara dengan sombongnya, Si kerbau hanya menanggapi dengan senyum sinisnya. “Hanya begitu kemampuanmu yang sangat engkau sombongkan itu?” tanyanya.

Si ular kian murka. Kemampuan dirinya yang menurutnya hebat, serasa dilecehkan Si kerbau. “Apakah menurutmu kekuatanmu itu mampu me-lebihi kekuatanku?” tanyanya dengan suara galak.

“Seperti yang telah kusebutkan tadi, kekuat-anku jauh lebih besar dibandingkan kekuatanmu,” jawab Si kerbau. “Tidakkah engkau mengetahui jika bangsa manusia senantiasa menggunakan kekuatan tubuhku untuk membajak sawah? Tidakkah engkau melihat jika bangsa manusia menggunakan bangsaku untuk menarik barang- barang yang sangat berat? Itu semua telah jelas menunjukkan bahwa kekuatanku jauh lebih be¬sar daripada kekuatanmu. Tidak perlu aku harus membelit seperti yang engkau lakukan, karena hanya dengan dengusan napasku saja aku telah dapat meremukkan tubuh hewan yang berani menggangguku! Apakah itu masih belum cukup bukti bagimu bahwa aku lebih kuat dibanding¬kan dirimu?”

“Jangan karena tubuhmu besar lantas eng¬kau menyangka engkau lebih kuat dari aku!” seru Si ular. “Kita bisa buktikan, siapa di antara kita yang lebih kuat.”

Si kerbau menerima tantangan Si ular. “Siapa yang lebih dahulu menunjukkan kekuatannya?” tanya Si kerbau kian menunjukkan tantangannya.

“Karena tubuhku lebih kecil, baiklah aku yang memulai,” jawab Si ular.

Si kerbau mengiyakan.

Si ular lalu membelit tubuh kerbau. Dike-rahkannya segenap kemampuan dan kekuat¬annya agar dapat lebih kuat membelit. Ia terus berusaha mengerahkan kekuatannya, namun Si kerbau tampak tidak terpengaruh. Si kerbau ter¬lihat tenang-tenang saja.

“Apakah engkau telah mengerahkan sege¬nap kemampuan kekuatanmu?” tanya Si kerbau.

“Ya!” sahut Si ular dengan bangga. “Apakah engkau masih kuat menahan belitanku?”

Si kerbau tertawa. “Lihatlah sendiri,” katanya, “belitanmu masih terlalu lemah untuk melum-puhkanku. Jangankan remuk tulang-tulangku, merasa sakit pun aku tidak. Cobalah untuk lebih mengerahkan kekuatanmu.”

Sia-sia Si ular mengerahkan kekuatan¬nya karena Si kerbau tetap mampu bertahan. Si ular akhirnya menyerah setelah berusaha keras. “Sekarang giliranmu untuk menunjukkan kekuatanmu, kerbau,” katanya.

“Baiklah,” jawab Si kerbau.

Si kerbau menghembuskan napasnya kuat- kuat. Si ular merasakan kesakitan yang sangat pada tubuhnya. Semakin keras hembusan napas kerbau, makin sakit dirasakan Si ular. Si ular merasakan tulang-belulangnya remuk dan belitannya pun seketika itu terlepas. Tubuh Si ular jatuh ke atas tanah karena tak mampu lagi menghadapi hem¬busan napas kerbau.

Si ular tak berdaya …

“Bagaimana, ular? Bukankah telah terbuk¬ti jika kekuatanku jauh melebihi kekuatanmu?”

Si ular akhirnya menyadari, kesombongannya selama itu tidak berguna. Ia ternyata benar-benar tidak berdaya menghadapi kerbau. Kekuatan¬nya yang selama itu disombongkannya ternyata tidak berpengaruh pada kerbau. Ia pun menya¬dari kesalahannya.

Si ular akhirnya berjanji untuk tidak meng-ganggu kerbau hingga ke anak cucunya kemudian. Si kerbau pun juga berjanji untuk tidak meng¬ganggu ular hingga ke anak cucunya kelak. “Satu lagi pintaku,” kata Si kerbau, “Jangan engkau dan anak cucumu mengganggu para penggembala kerbau. Apakah engkau bersedia untuk berjanji?”

Si ular menyatakan kesediaannya.

Maka, sejak saat itu hingga sekarang ini ular tidak pernah mengganggu kerbau dan juga orang yang menggembalakan kerbau.

 

KESOMBONGAN DAN MEMANDANG RENDAH ORANG LAIN HANYA AKAN MERUGIKAN DIRI SENDIRI. ORANG YANG SOMBONG AKAN MENEMUI KEHANCURANNYA YANG SANGAT MENYAKITKAN DI KEMUDIAN HARI.

Balas Budi Si Burung Beo – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan
Balas Budi Si Burung Beo – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Ambo Upe adalah seorang anak petani yang hidup pada zaman dahulu. Ia sangat rajin bekerja membantu orangtuanya. Sangat patuh pula ia pada kedua orangtuanya. Sehari-hari Ambo Upe menggembalakan kerbau.

Pada suatu hari Ambo Upe kembali meng-gembalakan enam kerbaunya. Dibiarkannya kerbau-kerbaunya itu bebas merumput semen¬tara ia beristirahat di bawah pohon asam yang rindang. Mendadak seekor anak burung jatuh di dekat Ambo Upe. Anak burung itu terlihat terluka. Ambo Upe lantas mengambil anak burung itu. Dibawanya pulang ke rumah dan diberinya obat pada luka yang diderita Si anak burung. Dengan penuh kasih sayang dirawatnya anak burung itu.

Setelah beberapa saat merawat, Ambo Upe mengetahui jika anak burung yang dirawatnya itu adalah anak burung beo. Seiring kian ber-tambahnya sang waktu, burung beo itu menjadi jinak dengan Ambo Upe. Meski burung beo itu tidak dikandangkan, ia tidak juga terbang men¬jauh. Kerap ia hinggap di bahu Ambo Upe jika dilihatnya Ambo Upe tengah duduk atau beris¬tirahat. Setiap kali Ambo Upe menggembalakan kerbau-kerbaunya, tak lupa burung beo itu turut serta dengannya.

Pada suatu hari Ambo Upe tertidur ketika tengah menggembalakan kerbau-kerbaunya. Seekor ular berbisa merayap ke arah Ambo Upe. Si burung beo yang mengetahui bahaya yang mengancam Ambo Upe segera bertin¬dak. Dengan cepat dipatuknya mata ular ber¬bisa itu. Ular berbisa itu menggeliat-geliatkan tubuhnya karena kesakitan sebelum akhirnya merayap pergi. Si burung beo lantas mengepak -ngepakkan sayapnya di dekat telinga Ambo Upe hingga Ambo Upe terbangun. Seketika me-ngetahui peristiwa yang hampir membahayakan jiwanya, Ambo Upe berterima kasih kepada Si burung beo. Dielus-elusnya kepala burung beo itu seraya mengucapkan terima kasih.

Beberapa waktu kemudian terjadi musim kemarau yang berkepanjangan. Rumput-rumput di padang penggembalaan mengering. Ambo Upe lantas berniat menggembalakan kerbau- kerbaunya di pinggir hutan yang masih banyak terdapat rumput di sana. Para penggembala lain¬nya tidak berani menggembalakan hewan gem- balaan di tempat itu karena daerah itu adalah daerah rawan. Hutan itu kerap dijadikan tempat persembunyian para perampok.

Benarlah kekhawatiran para penggembala. Beberapa saat Ambo Upe membiarkan kerbau- kerbaunya merumput di tempat itu, dua peram¬pok datang dan menyergap Ambo Upe. Mere¬ka mengikat Ambo Upe di sebuah pohon dan membawa enam kerbau gembalaan Ambo Upe ke dalam hutan.

Si burung beo melihat semua kejadian itu. Ia terbang mengikuti kemana kerbau-kerbau milik Ambo Upe itu akan disembunyikan para peram¬pok. Setelah mengetahui enam ekor kerbau itu disembunyikan di dalam gua di dalam hutan, Si burung beo lantas terbang secepatnya ke rumah Ambo Upe.

Ayah Ambo Upe keheranan mendapati burung beo peliharaan anaknya itu kembali ke rumah dan mengoceh. Sama sekali ia tidak me¬ngetahui apa yang diucapkan Si burung beo. Namun, karena Si burung beo seperti hendak mengajaknya, ayah Ambo Upe akhirnya menya¬dari akan bahaya yang tengah dialami anaknya.

Bersama beberapa tetangganya, ayah Ambo Upe lantas mengikuti ke mana Si burung beo terbang. Tak lupa mereka membawa senjata untuk menghadapi hal-hal burukyang mungkin akan mereka temui. Amat terperanjatlah mereka kemudian saat mendapati Ambo Upe terikat pada batang pohon sementara enam kerbau gemba-laannya telah menghilang.

Ambo Upe lantas menceritakan kejadian yang dialaminya. Katanya, “Aku tidak tahu dibawa kemana enam kerbau gembalaanku itu setelah aku disergap dan diikat dua perampok Itu.”

Ayah Ambo Upe dan orang-orang lainnya bersepakat untuk mencari di mana dua perampok Itu berada untuk mengambil kembali kerbau- kerbau yang telah mereka rampok. Namun, me¬reka merasa bingung hendak mencari ke mana. Mendadak Si burung beo terbang di dekat Ambo Upe dan seperti memberi isyarat agar Ambo Upe mengikutinya.

Orang-orang pun akhirnya mengikuti arah terbangnya Si burung beo. Mereka memasuki hutan. Beberapa saat berjalan, mereka akhirnya menemukan sebuah gua. Secara sembunyi- sembunyi mereka mengintai. Mereka mende¬ngar suara kerbau dari dalam gua.

“Rupanya gua ini menjadi tempat persem-bunyian para perampok serta tempat untuk me-nyembunyikan barang-barang hasil rampokan mereka,” bisik ayah Ambo Upe. “Mari kita tangkap para perampok itu!”

Dengan senjata terhunus pada tangan masing-masing, orang-orang itu pun segera me-ngepung gua. Mereka bergerak hati-hati ketika memasuki gua. Mereka dapati berpuluh-puluh ekor kerbau berada di dalam gua itu. Mereka lihat pula dua perampok itu tengah tertidur di dalam dua lubang kecil dl dalam gua. Serentak mereka menangkap dua perampok Itu dan mengikat kedua tangan mereka.

Dua perampok segera mereka gelandang dan kerbau-kerbau hasil rampokan dua perampok Itu segera mereka giring keluar dari dalam gua.

Kedatangan mereka disambut suka cita pen-duduk, terutama mereka yang telah kehilangan kerbau. Kerbau-kerbau mereka telah berhasil di-temukan kembali dan dua perampok yang selama itu meresahkan warga akhirnya dapat diringkus.

Ambo Upe sama sekali tidak menyangka, Si burung beo itu dapat membalas budi begitu besar terhadapnya. Ia hanya sekali menyelamat¬kan Si burung beo, namun berulangkali burung beo itu menyelamatkan dari berbagai bahaya yang mengancam jiwanya. Sungguh-sungguh berterima kasihlah Ambo Upe kepada burung beo piaraannya itu. Ia pun berketetapan hati untuk menyayangi hewan-hewan lainnya, ka¬rena hewan pun sesungguhnya bisa membalas budi jika mendapat perlakuan yang baik. Seperti yang ditunjukkan Si burung beo piaraannya itu.

 

KITA HENDAKLAH MENYAYANGI HEWAN KARENA HEWAN JUGA MAKHLUK HIDUP CIPTAAN TUHAN. HEWAN PUN DAPAT MLMBALAS BUDI. JIKA HEWAN KITA PERLAKUKAN DENGAN BAIK. HEWAN PUN AKAN MEMPERLAKUKAN KITA DENGAN BAIK PULA.

La Tongko-Tongko – Cerita rakyat Sulawesi Selatan
La Tongko-Tongko – Cerita rakyat Sulawesi Selatan

Pada zaman dahulu hiduplah seorang anak lelaki yang sangat bodoh. Ia pun dijuluki La Tongko-tongko karena kebodohannya itu. Sepeninggal ayahnya, La Tongko-tongko hanya tinggal berdua dengan ibunya.

Ketika menjelang dewasa usianya, La Tongko-tongko berniat beristri. Disebutkannya niatnya itu kepada ibunya. Jawab ibunya, “Terserah kepadamu. Carilah istrimu sendiri sesukamu. Semoga ada seorang perempuan yang mau engkau nikahi.”

La Tongko-tongko segera pergi mencari ca¬lon istrinya. Di tengah jalan ia berjumpa dengan seorang perempuan yang tengah menjunjung belanga. La Tongko-tongko segera mendeka¬ti perempuan iu dan berujar, “Hai perempuan penjunjung belanga, maukah engkau menjadi istriku?”

Si perempuan penjunjung belanga sangat terkejut mendengar ucapan La Tongko-tongko. Dipikirnya La Tongko-tongko adalah lelaki kurang ajar yang berani melecehkan kehormatannya. Maka, dilemparkannya belanga yang dijunjung¬nya itu ke arah La Tongko-tongko.

La Tongko-tongko berlari kembali ke ru¬mahnya seraya menahan sakit pada kepalanya karena terkena lemparan belanga. Kepada ibunya ia pun menceritakan kejadian yang dialaminya itu. “Perempuan itu malah melemparku dengan belanga ketika kutanya apakah ia bersedia men¬jadi istriku.”

Ibu La Tongko-tongko menggeleng-geleng-kan kepala mendapati betapa bodohnya anaknya. Disarankannya agar anaknya tidak mengulangi perbuatan bodohnya itu. Disarankannya pula untuk mencari perempuan lain dan bertanya dengan sopan.

La Tongko-tongko kembali mencari perem-puan yang bersedia diperistrinya. Ia menuju desa lain. Ia menemukan seorang perempuan yang juga tengah menjunjung belanga. Ia lantas mende¬kati dan berujar, “Wahai perempuan penjunjung belanga, apakah engkau bersedia aku nikahi?”

Sama halnya dengan yang dialami La Tongko- tongko sebelumnya, perempuan itu tidak men¬jawab pertanyaan La Tongko-tongko, melainkan melemparkan belanganya ke arah La Tongko- tongko.

La Tongko-tongko kembali pulang ke rumah-nya dan menceritakan kejadian yang dialaminya itu kepada ibunya.

“Engkau tidak bisa langsung seperti itu,” nasihat ibunya. “Sebelum engkau mengajak meni-kah, engkau seharusnya berkenalan lebih dahulu dengan perempuan itu. Setelah hubungan kalian akrab, engkau baru bisa mengajaknya menikah.”

La Tongko-tongko mengangguk-anggukkan kepala. Diingat-ingatnya nasihat ibunya itu sebe¬lum ia kembali meninggalkan rumahnya untuk mencari perempuan yang bersedia dinikahinya.

Dalam perjalanannya, La Tongko-tongko akhirnya tiba di sebuah pemakaman. Ketika itu ada mayat seorang perempuan yang disandarkan pada batang pohon sebelum nanti dikuburkan. Karena bodohnya, La Tongko-tongko tidak me¬ngetahui jika perempuan itu telah meninggal dunia. Ia mendekati mayat perempuan itu dan bertanya, “Wahai perempuan cantik, bolehkah aku berkenalan denganmu?”

Mayat perempuan itu tentu saja tidak men-jawab pertanyaan La Tongko-tongko.

“Kalau engkau tidak menjawab, berarti engkau setuju berkenalan denganku,” kata La Tongko-tongko kemudian. Ia pun mengajak berbincang-bincang mayat perempuan itu. Be-berapa saat kemudian ia lantas berkata lagi, “Aku rasa hubungan kita telah akrab. Bagaimana pen- dapatmu jika engkau kujadikan istri?”

La Tongko-tongko menunggu dan ketika tidak mendapatkan jawaban, ia kembali mena¬nyakan kesediaan mayat perempuan itu untuk menjadi istrinya. “Jika engkau tetap terdiam,” kata La Tongko-tongko selanjutnya, “Itu berarti eng¬kau setuju dengan ajakanku.”

Karena mayat perempuan itu tidakjuga men-jawab, La Tongko-tongko menganggap mayat perempuan itu bersedia menjadi istrinya. Segera digendongnya mayat perempuan itu dan diba¬wanya ke rumah.

Ketika La Tongko-tongko tiba di rumahnya, ibunya tengah memasak di dapur. Dengan wajah gembira ia menyatakan telah menemukan seorang perempuan yang bersedia menjadi istrinya. “Hanya saja calon istriku ini sangat pendiam orangnya,” kata La Tongko-tongko.

Tanpa memperhatikan kondiSi perempuan yang hendak diperistri anaknya, ibu La Tongko- tongko langsung menjawab, “Tidak mengapa calon istrimu itu sangat pendiam. Yang penting, ia mau menjadi istrimu. Lagipula, aku juga tidak suka mempunyai menantu yang cerewet.”

“Aku lihat calon istriku ini juga sangat me-ngantuk,” kata La Tongko-tongko lagi, “Ibu, bo-lehkah ia kutidurkan di kamarku?”

“Ya. Biarkan dia beristirahat dahulu,” jawab ibu La Tongko-tongko. “Nanti kalau masakan ibu telah matang, bangunkan ia dan ajak ia untuk makan bersama kita.”

La Tongko-tongko lantas menggendong dan meletakkan calon istrinya itu di atas ran¬jangnya. Ia pun duduk di pinggir ranjang seraya terus memandang wajah calon istrinya yang can¬tik itu. Tak berapa lama kemudian ibunya me¬manggilnya karena masakannya telah matang. Ia pun mencoba membangunkan calon istrinya itu. Tetap juga mata calon istrinya itu terpejam meski La Tongko-tongko menepuk-nepuk dan bahkan menggoyang-goyangkan tubuh calon istrinya itu. Serunya kemudian, “Ibu, aku telah membangunkan calon istriku ini, tetapi ia tidak juga bangun-bangun.”

Ibu La Tongko-tongko lantas memasuki kamar anaknya. Terperanjat ia ketika mendapati calon istri anaknya itu telah meninggal dunia. Bahkan, telah mengeluarkan bau busuk pula. “Anakku,” katanya kemudian, “Perempuan ini sudah me¬ninggal dunia. Ia telah menjadi mayat.”

“Dari mana ibu tahu jika calon istriku ini telah meninggal dunia?”

“Tidakkah engkau mencium bau busukyang menyengat ini?” kata ibu La Tongko-tongko. “Orang yang telah meninggal dunia itu pasti berbau busuk. Cepat kuburkan mayat ini!”

Dengan hati sedih La Tongko-tongko lantas menguburkan mayat perempuan itu. Menger¬tilah ia, orang yang telah meninggal dunia itu akan berbau busuk.

Selesai menguburkan mayat perempuan itu La Tongko-tongko pulang kembali ke rumahnya. Ia lantas makan bersama ibunya. Ketika tengah ma¬kan, ibu La Tongko-tongko kentut. Sangat berbau kentut ibu La Tongko-tongko itu. Ketika La Tongko- tongko mencium bau busuk itu ia pun yakin jika ibunya telah meninggal dunia. La Tongko-tongko segera menghentikan makannya dan membawa ibunya keluar rumah untuk dikuburkan.

“La Tongko-tongko! Aku ini masih hidup!”

“Tidak! Kata ibu, orang yang meninggal dunia itu pasti mengeluarkan bau busuk. Ibu telah mengeluarkan bau busuk, jadi ibu sudah meninggal dunia.”

Susah payah ibu La Tongko-tongko menje-laskan bahwa dirinya masih hidup dan bau busuk yang dikeluarkannya itu berasal dari kentutnya. La Tongko-tongko tetap menganggap ibunya telah meninggal dunia dan harus segera dikuburkannya. Beruntung bagi ibu La Tongko-tongko, ia dapat melepaskan diri dari pegangan anaknya. Ia te¬rus berlari menjauhi anaknya. La Tongko-tongko tidakjuga mengejar karena perutnya masih terasa lapar. Ia kembali ke rumahnya untuk mengha¬biskan makanannya.

Ketika La Tongko-tongko tengah makan, ia juga kentut. Ia mencium bau busuk. Seketika mendapati bau busuk itu berasal dari dirinya, ia pun menganggapjika dirinya telah mati. Segera ia mencari tempat untuk menguburkan dirinya sendiri. La Tongko-tongko menggali lubang kubur di dekat pohon mangga. Ia lalu menguburkan dirinya sendiri hingga sebatas leher.

Pada malam harinya seorang pencuri yang akan mencuri buah mangga. Si pencuri sangat terperanjat mendapati adanya kepala yang menyembul dari dalam tanah. “Siapa engkau?” tanyanya.

“Aku La Tongko-tongko.”

“Mengapa engkau di tempat ini?”

“Aku sedang menguburkan diriku karena aku sudah mati,” jawab La Tongko-tongko. Ia lalu menjelaskan penyebab anggapannya jika dirinya telah mati.

Si pencuri mengerti jika orang yang dihadapi-nya itu sangat bodoh. Ia pun berniat memperdaya La Tongko-tongko. Diajaknya La Tongko-tongko untuk mencuri kerbau. La Tongko-tongko me¬nuruti ajakan Si pencuri. La Tongko-tongko lalu memasuki kandang kerbau yang ditunjukkan Si pencuri sementara Si pencuri sendiri menunggu di luar kandang. Ketika mengambil kerbau, La Tongko-tongko sangat berisik hingga pemilik kerbau pun keluar dari rumah dan menangkap¬nya. Si pencuri langsung melarikan diri melihat La Tongko-tongko ditangkap pemilik kerbau.

Si pemilik kerbau akhirnya melepaskan La Tongko-tongko setelah mengetahui kebodoh¬annya.

Dalam perjalanannya menuju rumahnya, La Tongko-tongko kembali bertemu dengan Si pen¬curi. Waktu itu Si pencuri mengajak La Tongko- tongko untuk mencuri di sebuah rumah.

Pemilik rumah yang tengah diincar Si pencuri kebetulan tengah bersedih karena kematian salah seorang saudaranya. Karena hari telah malam, ia berniat menguburkan mayat saudaranya itu ke¬esokan harinya. Ia hanya memasukkan mayat itu ke dalam karung. Si pemilik rumah mengetahui jika ada pencuri yang mengincar rumahnya. Ia lalu bersiasat. Dimasukkan pecahan kaca ke dalam karung tempatnya menyimpan mayat saudara¬nya. Ia lalu bepura-pura telah tertidur pulas. Ia tetap berpura-pura tidur ketika La Tongko-tongko memasuki rumahnya.

La Tongko-tongko telah diberitahu Si pen¬curi agar menggoyang-goyangkan karung yang terdapat di dalam rumah itu. Jika terdengar suara bergemerincing dari dalam karung, ia diminta untuk mengambilnya. Ketika La Tongko-tongko menggoyang-goyangkan karung beriSi mayat dan pecahan kaca, ia mendengar suara bergemerincing. Ia pun langsung mengangkut karung itu dan memberikan kepada Si pencuri.

Si pencuri berniat menguasai iSi karung, tidak mau berbagi dengan La Tongko-tongko. Ia lantas berlari, Namun, La Tongko-tongko terus mengejarnya. Keduanya terus berkejar-kejaran. Si pencuri yang kelelahan akhirnya menyerah. Ia pun berniat membagi ¡Si karung dengan La Tongko-tongko.

Tak terkirakan terperanjatnya Si pencuri saat membuka karung yang ternyata beriSi mayat dan pecahan kaca. Benar-benar ia merasa sial sete¬lah bertemu dengan La Tongko-tongko. Maka dimintanya La Tongko-tongko kembali ke ru¬mahnya. Keduanya lantas berpisah. Si pencuri menuju arah barat dan La Tongko-tongko menuju arah selatan. Sejak saat itu keduanya tidak lagi pernah bertemu.

 

KITA HENDAKLAH TIDAK MEMANFAATKAN KELEMAHAN TAU KEKURANGAN ORANG LAIN. SELAIN ITU, KITA HENDAKNYA PULA BELAJAR DENGAN RAJIN AGAR TIDAK MENJADI ORANG YANG BODOH.

Putri Lumbung Kapas – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan
Putri Lumbung Kapas – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Seorang raja dalam kisah. Sang Raja memerintah dengan baik hingga segenap rakyat hidup dalam keadaan aman, damai, dan sejahtera. Suatu hari Sang Raja hendak berkeliling ke tujuh negeri. Ketika itu permaisurinya tengah mengandung. Sebelum berangkat Sang Raja berpesan, jika anak yang dilahirkan permaisurinya itu lelaki, maka hendaklah dirawat. Namun, jika anakyang dilahirkan permaisurinya itu perempuan, hendaklah anak itu dibunuh. “Anak perempuan itu tidak berguna,” begitu pendapat Sang Raja hingga memerintahkan membunuh anaknyajika terlahir perempuan.

Beberapa waktu kemudian Sang Raja telah kembali dari perjalanan keliling tujuh negerinya. Seketika tiba di istana kerajaannya, Sang Raja langsung bertanya perihal anaknya, “Apakah anakku telah lahir?”

“Sudah,” jawab mertua Sang Raja.

“Lelaki atau perempuan?”

“Perempuan,”jawab mertua Sang Raja. “Se¬suai perintah Ananda Raja, anak Ananda Raja itu langsung kami bunuh dan kami kuburkan di bawah tangga rumah.”

Sebelum Sang Raja berujar, mendadak ter-dengar suara ayam jago berkokok. Sangat aneh bunyi kokoknya. Dalam suara kokoknya, ayam jago itu memberitahu Sang Raja, bahwa mertua Sang Raja telah berdusta. Anak Sang Raja memang perempuan dan diberi nama Putri Lumbung Kapas. Namun, anak Sang Raja itu tidak dibunuh. Yang dibunuh dan dikuburkan di bawah tangga rumah adalah seekor anak kambing. “Putri Lumbung Kapas kini bersama Nenek Kubayang di ujung desa!” seru ayam jago itu.

Tak terkirakan kemarahan Sang Raja setelah dibohongi. Ia pun memerintahkan mertua lelakinya, mertua perempuannya, dan adik Raja untuk menjemput Putri Lumbung Kapas guna dihadapkan padanya.

Mereka yang diperintahkan Sang Raja segera menuju ujung desa dan menemui Putri Lumbung Kapas. Mereka meminta Putri Lumbung Kapas turut serta bersama mereka untuk menghadap ayahandanya. Namun, Putri Lumbung Kapas menolak dengan mengemukakan alasan ia sedang menanam tanaman kapas.

Kian memuncak kemarahan Sang Raja saat mertua lelakinya, mertua perempuannya, dan adiknya datang menghadapnya tanpa iringan Putri Lumbung Kapas. Sang Raja tidak peduli dengan alasan yang disampaikan putrinya itu. Ia perintahkan mertua lelakinya, mertua perempuannya, dan adiknya untuk kembali berangkat ke ujung desa untuk menjemput paksa Putri Lumbung Kapas. Namun, lagi-lagi Putri Lumbung Kapas memberikan alasan penolakannya, “Sampaikan permohonan ampun hamba, hamba belum dapat menghadap ayahanda Raja karena hamba sedang memintal benang.”

Begitu kejadian itu berulang-ulang. Setiap kali datang kakek, nenek, dan bibinya untuk menjemputnya untuk dibawa ke istana kerajaan, Putri Lumbung Kapas senantiasa menolak dan memberikan alasannya, seperti sedang menenun benang untuk membuat kain dan menjahit kain untuk membuat pakaian.

Sang Raja menjadi tidak sabar lagi. Kemur-kaannya kian menjadi-jadi. Ia perintahkan mertua lelakinya, mertua perempuannya, dan adiknya untuk membawa Putri Lumbung Kapas secepatnya. “Tanpa ada lagi alasan!” tegas Sang Raja.

Putri Lumbung Kapas akhirnya dihadapkan pada Sang Raja. Sang Raja memerintahkan anak perempuannya itu ke tempat hukuman mati. Tak berapa lama kemudian terlihat darah menetes di tempat hukuman mati itu. Semuanya menyangka jika Putri Lumbung Kapas telah meninggal dunia. Namun ternyata Putri Lumbung Kapas masih hidup. Ia berjalan tenang menuruni tempat hukuman mati itu.

Sang Raja sangat murka. Ia lantas menghunus kerisnya. Katanya, “Biarlah aku sendiri yang akan membunuhnya!”

“Ayahanda,” ujar Putri Lumbung Kapas, “Se-belum Ananda dibunuh, berkenankah Ayahanda jika Ananda menghaturkan satu permohonan terakhir Ananda terlebih dahulu?”

“Permohonan apa yang engkau kehendaki?”

“Ananda memohon agar diperkenankan menjelajahi tujuh negeri terlebih dahulu,” kata Putri Lumbung Kapas. “Ayahanda, hamba sangat memohon agar diperkenankan sebelum Ayahanda membunuh Ananda.”

Sang Raja akhirnya mengizinkan.

Putri Lumbung Kapas meninggalkan negerinya dengan ditemani seekor kuda, seekor kera, seekor tikus, dan seekor burung pipit. Ibu, kakek, nenek, dan bibinya melepaskan kepergian Putri Lumbung Kapas dengan linangan airmata. Selama dalam perjalanannya, Putri Lumbung Kapas menyamar menjadi seorang lelaki dan mengubah namanya menjadi Si Saudagar.

Dengan penyamarannya sebagai Si Saudagar, Putri Lumbung Kapas menjelajahi negeri-negeri. Enam negeri telah dijelajahinya. Tibalah ia ke¬mudian di negeri ke tujuh. Di negeri yang besar itu terdapat seorang pangeran yang sangat tampan wajahnya. Si Saudagar berkenalan dengan Sang Pangeran.

Sang Pangeran tertarik dengan Si Saudagar. Ia sangat yakin, Si Saudagar itu sebenarnya perem¬puan, meski Si Saudagar berusaha menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang lelaki. Sang Pangeran ingin membuktikan kebenaran dugaan dan keyakinannya. Ia pun lantas mengajak Si Saudagar untuk memanjat pohon kelapa.

Ajakan Sang Pangeran membuat Putri Lum¬bung Kapas kebingungan. Putri Lumbung Kapas sangat takut jika penyamarannya akan terbongkar. Ia terpaksa menerima ajakan Sang Pangeran itu untuk memanjat pohon kelapa, meski akan dilakukannya keesokan harinya. Masalah itu kian membuat Putri Lumbung Kapas kebingungan.

Si Kera keheranan mendapati Putri Lumbung Kapas. “Apa yang membuat Tuan Putri terlihat bingung seperti itu?” tanyanya.

Putri Lumbung Kapas menceritakan masalah yang tengah dihadapinya kepada Si Kera.

“Janganlah Tuan Putri menjadi risau jika masalah itu yang Tuan Putri hadapi. Serahkan pada hamba. Hamba akan menyamar menjadi Si Saudagar yang tengah Tuan Putri perankan,” ujar Si Kera.

Keesokan harinya Si Kera menyamar menjadi Si Saudagar dan memanjat pohon kelapa bersama dengan Sang Pangeran. Tentu saja Si Kera lebih dahulu memetik buah kelapa dibandingkan Sang Pangeran.

Sang Pangeran tetap yakin jika Si Saudagar sesungguhnya adalah sosok perempuan. Ia tetap berusaha mengajak Si Saudagar melakukan berbagai hal untuk membuktikan kebenaran dugaannya. Namun, berkat bantuan teman-temannya, Putri Lumbung Kapas senantiasa dapat menjaga penyamarannya.

Setelah tinggal beberapa saat di negeri ketujuh, Si Saudagar akhirnya kembali ke negerinya. Ia akan menunjukkan kepada ayahandanya, bahwa perempuan dapat melakukan berbagai hal seperti yang dilakukan lelaki. Perempuan juga dapat menjelajah ke berbagai negeri seperti yang dilakukan lelaki. Perempuan juga berguna. Sementara itu Sang Pangeran yang tetap yakin jika Si Saudagar itu sesungguhnya seorang perempuan, mengikuti kepergian Si Saudagar dengan diam-diam.

Putri Lumbung Kapas akhirnya tiba kembali di negerinya. Di hadapan ayahandanya, ia menjelaskan berbagai hal yang bisa dilakukannya selama dalam perjalanannya. Keberhasilannya menjelajahi tujuh negeri telah membuat Sang Raja insyaf. Sang Raja mengurungkan menghukum mati anak perempuannya itu setelah menyadari jika perempuan ternyata berguna pula.

Sang Raja yang telah insyaf lantas mengadakan pesta selamatan atas kepulangan putrinya itu dari perjalanan jauhnya. Ketika pesta selamatan diadakan, datanglah Sang Pangeran dari negeri ketujuh. Dugaannya ternyata benar, Si Saudagar adalah seorang perempuan yang cantik wajahnya. Ia pun melamar Putri Lumbung Kapas.

Tak berapa lama kemudian Putri Lumbung Kapas menikah dengan Sang Pangeran. Kedua warga kerajaan itu pun menyambut gembira pernikahan itu. Mereka berbahagia, seperti kebahagiaan yang dirasakan Sang Pangeran dan Putri Lumbung Kapas.

 

LELAKI DAN PEREMPUAN SAMA-SAMA MANUSIA CIPTAAN TUHAN DENGAN MEMBAWA KELEBIHAN DAN KEKURANGAN MASING-MASING. KEDUANYA DJCIPTAKAN TUHAN UNTUK SALING MELENGKAPI, SEHINGGA TIDAK SEHARUSNYA JIKA SALING MERENDAHKAN.