Kategori: Sulawesi Tengah

Si Kentang – Cerita Rakyat Sulawesi Tengah
Si Kentang – Cerita Rakyat Sulawesi Tengah

Seorang janda miskin tinggal sendirian. Rumahnya berupa gubuk kecil. Sehari-hari ia menumbuk padi. Bukan padi miliknya, melainkan milik Sang Raja. Ia hanya buruh upahan. Upah yang diterimanya hanyalah butir-butir beras kecil. Upah itulah yang dimasaknya untuk dijadikannya makanan sehari-hari. Untuk sayuran, Si Janda mencari tanaman sayur di tepi sungai atau di pinggir hutan, ia tinggal memasaknya.

Suatu hari Si Janda pulang dari istana. Ia telah menyerahkan beras hasil tumbukkannya. Ia juga telah mendapatkan upahnya. Si Janda kembali pulang melewati pinggir sungai. Ia ingin memetik kangkung liar yang banyak tumbuh di pinggir sungai itu.

Ketika memetik kangkung liar, Si Janda melihat seekor ketang. Hewan kecil itu terlihat lucu dan menggemaskan. Mata kecilnya menatap ke arah Si Janda. Si Janda sangat tertarik. Ia lalu menangkap ketang itu dan membawanya pulang. Si Janda berniat memeliharanya.

Si Janda memelihara ketang itu di dalam belanga. Katanya, “Ini rumahmu yang baru. Engkau dapat tinggal dengan nyaman dan aman di rumahmu yang baru ini.”

Tanpa diduga Si Janda, ketang itu ternyata bisa berbicara seperti manusia!

“Terima kasih, Mak,” jawab ketang.

Si Janda sangat terkejut. Namun sejenak kemudian ia merasa senang. Kini ia mempunyai kawan berbicara. Ia tidak lagi kesepian. Setiap hari Si Janda mengajak ketang itu berbincang-bincang. Ia malah menganggap ketang itu laksana anak kandungnya sendiri. Diberinya nama untuk hewan kecil itu sesuai nama asalnya, Ketang.

Waktu berlalu. Ketang tumbuh besar.

Suatu hari Ketang nampak murung. Sikapnya lesu. Tidak bersamangat makan. Si Janda keheranan. “Apa yang membuatmu seperti itu, Anakku?” tanyanya.

“Mak,” ujar Ketang. “Apakah Mak benar-benar menganggapku sebagai anak?”

“Tentu saja, Anakku,” jawab Si Janda.

“Jika aku meminta sesuatu, apakah Mak akan mengabulkannya?”

“Jika Makmu ini mampu, Mak akan berusaha memenuhi permintaanmu, Anakku,” jawab Si Janda. “Sebutkan, apa yang ingin engkau kehendaki?”

“Mak, aku telah dewasa. Sudah saatnya aku mempunyai istri.”

Si Janda tertawa. “Jika itu maumu, mudah kulaksanakan,” ujar Si Janda. “Tunggulah sebentar. Aku akan mencarikan ketang betina untuk menjadi istrimu.”

“Mak, aku tidak ingin mempunyai istri ketang. Aku ingin beristrikan putri raja!”

Si Janda sangat terkejut. Permintaan Ketang sangat sulit ia penuhi. Raja memang mempunyai tujuh putri yang kesemuanya cantik jelita wajahnya. Namun, mana mungkin putri raja itu bersedia menikah dengan ketang?

Si Janda hanya terdiam. Ia sangat bingung.

“Mak, jika Mak tidak mau melamarkan putri Sang Raja, berarti Mak tidak sayang denganku.”

Si Janda akhirnya bersedia memenuhi permintaan Ketang. Ia lalu berangkat menuju istana raja. Dengan berani ia menghadap Sang Raja dan mengungkapkan maksud kedatangannya.

“Apa? Engkau ingin melamar putri sulungku untuk ketang peliharaanmu?”

“Tuanku Raja, ketang itu anak hamba. Ia ketang istimewa. Ia dapat berbicara seperti manusia.”

“Tidak!” tegas jawaban Sang Raja. “Aku tidak akan menikahkan putri sulungku dengan ketang peliharaanmu itu!”

Si Janda pulang dan menceritakan kejadian yang dialaminya pada Ketang. Namun, Ketang tetap memaksanya untuk kembali melamar putri raja, katanya, “Jika Putri Sulung tidak diperbolehkan untuk menikah denganku, bisa jadi putri kedua akan bersedia, Mak.”

Karena rasa sayangnya pada Ketang, keesokan harinya Si Janda kembali menghadap Sang Raja. Ia meminang putri kedua Sang Raja. Jawaban Sang Raja tetap, ia menolak pinangan Si Janda. Berturut- turut dalam beberapa hari Si Janda melamar putri ketiga, keempat, kelima, dan keenam Sang Raja. Berturut-turut pula Sang Raja menolak lamarannya.

Untuk kesekian kalinya, Si Janda kembali datang menghadap Sang Raja. “Tuanku Raja,” katanya, “perkenankan hamba melamar putri bungsu Tuanku Raja untuk Ketang, anak hamba.”

Sang Raja sesungguhnya telah jengkel menjawab lamaran Si Janda. Ia lalu memanggil putri bungsunya.

“Putri bungsuku,” kata Sang Raja. “Perempuan tua ini berminat melamarmu untuk ketang peliharaannya. Apakah engkau bersedia menerima pinangannya?”

Putri bungsu sesungguhnya mengetahui, telah enam kali Si Janda datang menghadap ayahandanya. Ia bisa merasakan, betapa sayangnya Si Janda pada ketang. Ia merasa iba pada Si Janda. Maka jawabnya, “Hamba bersedia, Ayahanda. Barangkali, Ketang itulah suami hamba.”

Sang Raja sangat terkejut. Ia tidak menyangka jika putri bungsunya bersedia menikah dengan ketang.

“Pikirkan baik-baik, Putri Bungsuku,” kata Sang Raja mengingatkan. “Engkau akan dinikahkan dengan seekor ketang!”

Tetapi, Putri Bungsu tetap menyatakan kesediaannya.

Sang Raja memikirkan cara untuk menggagalkan rencana pernikahan itu. Maka katanya, “Jika memang engkau bisa memenuhi syarat yang kuajukan, kuperkenankan putri bungsuku menikah dengan ketang peliharaanmu itu.”

“Ampun Tuanku Raja, syarat apakah yang Paduka kehendaki?”

Sang Raja meminta syarat yang luar biasa berat. Ia meminta dua belas kereta yang penuh beriSi beras, tiga ratus ekor sapi, tiga ratus ekor kerbau, tiga ratus ekor kambing, dan perhiasan intan yang tak terhitung jumlahnya.

“Itulah syarat yang kuajukan,” kata Sang Raja.

Si Janda pulang dengan hati sedih. Ia merasa tidak akan dapat memenuhi syarat yang diajukan Sang Raja, jangankan dua belas kereta yang penuh beriSi beras, sekarung kecil beras pun ia tidak punya. Jangankan beratus-ratus sapi, kerbau, dan kambing, seekor hewan ternak piaraan pun ia tidak memiliki. Apalagi perhiasan intan. Bahkan, seumur hidupnya, belum pernah ia memiliki intan meski secuil kecil!

“Bagaimana hasil lamaran kita, Mak?” tanya Ketang ketika melihat Si Janda pulang.

Si Janda menyebutkan syarat yang diajukan Sang Raja agar Ketang dapat menikahi Putri bungsu Sang Raja.

Diam-diam tanpa diketahui Si Janda, Ketang lalu berdoa, memohon kepada Tuhan.

“Ya Tuhan, jika hamba ini orang sakti, datangkan rumah indah lengkap beserta gudang-gudang beras dan kandang-kandang hewan dari langit.”

Permohonan Ketang dikabulkan Tuhan. Berselang sesaat setelah Ketang berdoa, sebuah rumah indah berdiri megah di tempat itu. Di belakang rumah itu berdiri gudang-gudang besar. Berkarung-karung beras terdapat di dalam gudang-gudang besar itu. Di samping gudang-gudang besar itu terlihat kandang-kandang hewan. Ratusan ekor sapi, kerbau, dan kambing di dalam kandang-kandang. Riuh rendah suara mereka.

Tak terbilang terkejutnya Si Janda melihat semua itu. Ia serasa bermimpi. Namun, semuanya itu nyata di depannya.

“Mak,” kata Ketang. “Apakah itu semua cukup untuk memenuhi syarat Sang Raja?”

Si Janda menggelengkan kepala. “Ingat,” katanya, “Sang Raja meminta intan dalamjumlah tak terhingga banyaknya.”

“Intan-intan itu berada di gudang paling ujung, Mak. Semuanya sudah kusiapkan,”jawab Ketang.

Terbelalaklah Si Janda saat membuka pintu gudang paling ujung. Isinya intan yang luar biasa banyaknya, memenuhi gudang besar itu.

Hari itu juga Si Janda membawa semua syarat yang diminta Sang Raja. Ketang turut serta. Ia dimasukkan ke dalam keranjang kecil.

Sang Raja tidak bisa lagi mengelak. Pernikahan antara putri bungsunya dan Ketang pun dilangsungkan. Sangat meriah pesta pernikahan itu. Putri bungsu berseri-seri wajahnya meski suaminya hanyalah seekor ketang.

Setelah menikah, Ketang tinggal di istana. Ketang tetap tinggal di dalam keranjang yang diletakkan di dalam kamar istrinya.

Putri bungsu dan enam kakaknya merasa heran dengan kelakuan Ketang. Setiap hari Ketang menghabiskan banyak air untuk mandi. Tujuh hingga delapan tempayan air bisa dihabiskan Ketang untuk sekali mandi. Persediaan air di dalam istana sering habis untuk memenuhi kebutuhan mandi Ketang.

Putri bungsu keheranan dengan kelakuan suaminya. Setelah pernikahan mereka berumur tujuh hari, Putri Bungsu ingin mengetahui mengapa suaminya begitu banyak menghabiskan air. Putri bungsu menunggu. Ketika suaminya tengah mandi, bergegas ia melihat iSi keranjang. Dilihatnya sebuah benda menyerupai ketang. Putri bungsu membawa benda itu dan dilemparnya ke tanah. Benda menyerupai ketang itu pun berubah menjadi asap dan kemudian menghilang.

Putri bungsu kembali ke kamarnya. Ia terperanjat mendapati seorang pemuda gagah yang sangat tampan wajahnya berada di kamarnya.

“Siapa engkau?” tanya Putri bungsu.

“Namaku Pangeran Lagaligo,” jawab pemuda itu. “Akulah suamimu.”

Pangeran Lagaligo menjelaskan, ¡a sengaja merubah diri menjadi seekor ketang untuk mendapatkan istri yang baik hati. Dan kini ia telah mendapatkannya.

Tak terkirakan senangnya Putri bungsu setelah mengetahui. Ia pun hidup berbahagia bersama pangeran tampan yang sangat sakti itu. Enam kakaknya hanya bisa memandang iri kepadanya. Mereka menyesal mengapa dahulu menolak pinangan Si Janda untuk dinikahkan dengan pangeran tampan lagi sakti yang menjelma menjadi ketang itu.

 

JANGAN GEGABAH DAN BURU_BURU MENILAI SESEORANG DARI PENAMPILAN LUARNYA.

Asal Mula Ikan Duyung – Cerita Rakyat Sulawesi Tengah
Asal Mula Ikan Duyung – Cerita Rakyat Sulawesi Tengah

Sepasang suami istri bersama tiga anak mereka pada zaman dahulu. Keluarga itu hidup dari hasil berkebun dan juga menangkap ikan.

Pada suatu hari sang Ayah mendapatkan ikan dalam jumlah cukup banyak. Sang Ibu lantas memasaknya untuk sarapan. Cukup banyak ikan yang tersedia untuk mereka hingga tidak habis untuk mereka makan pagi itu. Sebelum berangkat ke kebun, sang Ayah berpesan pada istrinya agar menyimpan ikan yang tersisa. “Nanti sore sepulang dari berkebun, aku akan memakannya,” kata sang Ayah.

Sang ibu menyimpan ikan tersebut di tempat penyimpanan makanan dan menutupnya rapat-rapat.

Pada siang harinya ibu dan tiga anaknya itu kembali makan. Si anak bungsu mendadak minta makan dengan lauk ikan. Tidak ada ikan yang tersisa ketika itu kecuali ikan yang diperuntukkan bagi sang Ayah. Namun Si anak bungsu tetap bersikeras meminta. Ia bahkan menangis seraya mengguling-gulingkan tubuhnya. Sang ibu yang tidak tega akhirnya terpaksa memberikan ikan yang diperuntukkan suaminya. Si anak bungsu langsung memakan ikan itu dengan lahap.

Pada sore harinya, sang Ayah pulang dari berkebun dengan perut lapar dan tubuh lelah. Seketika tiba di rumah, sang Ayah minta dihi¬dangkan makanan. Ia ingin makan dengan lauk ikan kegemarannya. Seketika tidak mendapati ikan kegemarannya, sang Ayah langsung mena¬nyakannya, “Kemana ikan yang tadi pagi kuminta untuk engkau simpan, Bu?”

Sang Ibu lalu menjelaskan kejadian yang dialaminya dan menyatakan jika ikan itu telah dimakan anak bungsu mereka.

Sang Ayah menjadi sangat marah. Ia tidak bisa menerima kenyataan jika ikan itu telah di¬makan anak bungsunya. Begitu pun ia tidak mau memaafkan istrinya meski istrinya telah berulang- ulang memohon maaf padanya. Ia bahkan meminta agar istrinya harus bertanggung jawab dengan mencari ikan sebagai ganti ikan yang telah dimakan anak bungsunya. “Jangan engkau pulang sebelum engkau membawa ikan!”

Sang Ibu pun pergi dari rumah dengan hati yang amat sedih. Ia pergi menuju laut. Sang Ibu seperti tak lagi peduli dengan laut yang akan dapat menenggelamkannya.

Keesokan harinya tiga anak itu mencari ibu mereka. Si bungsu yang masih menyusu terus saja menangis dan memanggil-manggil nama ibunya. Tiga anak itu menuju ke laut karena beranggapan ibunya tengah mencari ikan di laut.

Sesampainya mereka di pantai, tiga anak itu tidak menemukan ibu mereka. Mereka lantas memanggil-manggil nama ibu mereka. Betapa terperanjat bercampur gembiranya hati mereka saat mendapati ibu mereka muncul dari dalam laut dengan tubuh basah kuyup.

Sang Ibu lantas menyusui anak bungsunya. Setelah anak bungsunya itu puas menyusu, ia pun meminta tiga anaknya itu untuk kembali ke rumah. “Ibu / nanti menyusul, setelah mendapatkan ikan,” katanya.

Ketiga anak itu pun akhirnya kembali pulang ke rumah. Semalaman mereka menunggu, ibu mereka tidak juga pulang. Keesokan harinya, tiga anak itu kembali ke pantai. Kembali mereka memanggil-manggil ibu mereka.

Sang Ibu muncul dari dalam laut. Ia meng-hampiri tiga anaknya dan berniat menyusui Si bungsu. Namun ketiga anaknya memandang heran sekaligus takut padanya. Tubuh sang ibu tampak bersisik-sisik layaknya ikan. Si bungsu bahkan enggan disusui ibunya yang terlihat aneh itu.

Meski sang ibu terus meyakinkan jika dirinya ibu tiga anak itu, namun tiga anak itu me-ragukannya.

“Ibuku cantik wajahnya dan halus kulitnya,” kata Si sulung. “Bukan berkulit ikan sepertimu.”

Tiga anak itu berlari menjauhi sang Ibu. Mereka terus berlarian di pantai hingga sang Ibu kembali menyelam ke dalam laut. Tiga anak itu kemudian kembali memanggil-manggil ibu mereka, sang Ibu kembali muncul dari dalam laut. Namun, wujudnya semakin menakutkan. Semakin banyak sisik yang memenuhi tubuhnya. Tiga anak itu kembali berlari menjauh saat sang ibu mendekati mereka.

Begitu seterusnya. Setiap kali tiga anak itu memanggil nama ibu mereka, setiap kali itu pula sang ibu muncul dari dalam laut dengan wujud yang semakin terlihat menakutkan. Kemunculan terakhir sang Ibu sangat mengejutkan sekaligus menakutkan tiga anaknya. Seluruh kulit sang Ibu telah dipenuhi sisik dan kedua kakinya telah berubah menjadi ekor ikan.

Sang ibu telah berubah wujud menjadi manusia ikan.

Masyarakat SulaweSi Tengah percaya, sang Ibu itulah yang menjadi asal usul ikan duyung yang terdapat di laut SulaweSi Tengah.

 

PERINTAH ORANGTUA HENDAKLAH KITA PATUHI. SELAIN ITU, JANGAN SUKA MARAH KARENA KEMARAHAN HANYA AKAN MERUGIKAN DIRI KITA DI KEMUDIAN HARI.

Sesentola dan Burung Garuda – Cerita Rakyat Sulawesi Tengah
Sesentola dan Burung Garuda – Cerita Rakyat Sulawesi Tengah

Sepasang suami istri pada zaman dahulu. Mereka telah lama berumah tangga, namun belum juga dikaruniai anak. Suami istri itu senantiasa berdoa dan memohon. Akhirnya permohonan mereka dikabulkan. Sang istri me¬ngandung dan melahirkan bayi lelaki yang ke¬mudian diberi nama Sesentola.

Sesentola tumbuh menjadi anak yang mem-punyai nafsu makan luar biasa. Ketika tiga tahun usianya, Sesentola mampu menghabiskan naSi sebanyak satu tempayan. Kedua orangtuanya merasa sangat kerepotan untuk memberinya makan. Setelah keduanya berembuk, keduanya sepakat untuk membunuh anak mereka itu agar kehidupan mereka yang miskin tidak bertambah miskin serta repot.

Pada suatu hari sang Ayah mengajak Sesentola untuk menjala ikan di sungai yang banyak dihuni buaya ganas. Pada saat sang Ayah menebarkan jalan, ia sengaja menjatuhkan jala itu ke dalam sungai. Sang Ayah meminta Sesentola untuk terjun ke sungai guna mengambil jala itu.

Tanpa ragu-ragu, Sesentola langsung terjun ke dalam sungai.

Sesaat setelah Sesentola terjun ke sungai, ayahnya langsung pulang. Ia sangat yakin, anaknya akan dimangsa buaya-buaya ganas penghuni sungai itu. Namun, betapa terperanjatnya ia dan istrinya ketika melihat Sesentola kembali pulang seraya memanggul seekor buaya besar yang telah dibunuhnya!

Niat untuk melenyapkan Sesentola tidak juga pupus di hati kedua orangtuanya. Sang Ayah lantas mengajak Sesentola untuk menebang po¬hon beringin besar yang tumbuh di tepi sungai. Sang Ayah meminta Sesentola untuk duduk di tempat jatuhnya pohon beringin besar itu keti¬ka ditebang. Pohon beringin pun ditebang dan telak mengarah ke tubuh Sesentola. Setelah me¬rasa yakin anaknya telah mati tertimpa batang pohon beringin besar, Sang Ayah lantas kembali ke rumah.

Kedua orangtua Sesentola kembali terpe¬ranjat dan terheran-heran ketika mendapati anak mereka pulang ke rumah seraya memanggul ba¬tang pohon beringin yang besar.

Sesentola akhirnya mengetahui jika kedua orangtuanya berniat untuk membunuhnya. Ia pun berujar kepada ibunya, “Sudahilah usaha Ayah untuk membunuh saya. Saya akan pergi merantau.”

Bagaimanapun juga, Sang ibu merasa sedih pula. Ia sesungguhnya sayang pada Sesentola, hanya keadaannya yang miskin saja yang membu¬atnya terpaksa menyetujui saran suaminya untuk membunuh Sesentola. Ia memberikan dua senjata pusaka untuk bekal perjalanan Sesentola. Dua senjata pusaka itu berupa panah sakti bermata tiga dan cincin. Sang Ibu mengatakan, jika panah sakti bermata tiga itu dilepaskan dengan iringan ucapan sasaran yang hendak dibidik, maka sasaran itu akan telak mengena. Seandainya Sesentola hendak memanah mata, maka mata itu akan tepat dikenai jika Sesentola melepaskan panah sakti bermata tiganya dengan iringan ucapan mata. Adapun cincin pusaka itu tak juga kalah dalam hal kesaktian. Jika Sesentola, cincin pusaka itu hendaklah direndam dan air rendaman itu digunakan untuk mengobati penyakitnya.

Sesentola pun memulai pengembaraannya.

Setelah berjalan berhari-hari, sampailah Sesentola di sebuah negeri yang tampak sangat lengang. Tidak ada siapa pun juga yang dilihat Sesentola. Ia mendapati sebuah bangunan yang tampak indah serta megah. Di dalam bangunan indah itu Sesentola melihat sebuah gendang besar. Saat Sesentola hendak memukul gendang besar itu, terdengar suara dari dalam gendang besar, “Jangan engkau pukul gendang ini. Aku tengah bersembunyi di dalamnya. Lekaslah engkau masuk ke dalam gendang ini sebelum garuda datang menyerang!”

Orang yang bersembunyi di dalam gendang besar itu seorang perempuan. Lemontonda na¬manya. Lemontonda merupakan satu-satunya orang yang masih hidup di negeri itu. Warga lainnya di negeri itu telah dimangsa garuda.

“Jangan engkau takut,” hibur Sesentola. “Jika garuda itu nanti datang ke sini, aku akan mem-bunuhnya.”

Tak berapa lama kemudian datanglah garuda itu. Sesentola telah bersiaga dengan panah sakti¬nya. Seketika burung garuda itu datang mendekat hendak menyambarnya, Sesentola melepaskan anak panahnya. Sesentola menyebutkan leher garuda itu sebagai sasaran bidikan panahnya. Leher garuda itu pun terkena anak panah Sesentola hingga jatuh dan akhirnya mati.

Raja Garuda di Kahyangan murka tak terkira ketika mendapati garuda itu mati terkena anak panah Sesentola. Ia lalu memerintahkan garuda bernama Vandease untuk membawa Sesentola ke Kahyangan. Perintahnya, “Jika Sesentola menolak, maka engkau boleh memangsanya!”

Sesentola tentu saja menolak untuk dibawa ke Kahyangan. Ia bahkan memanah garuda bernama Vandease pada bagian keningnya. Vandease pun terjatuh dan mati terkena anak panah sakti Sesentola.

Raja Garuda kian murka. Ia lantas memerin-tahkan garuda bernama Vandebuluva untuk mem-bawa Sesentola ke Kahyangan. Vandebuluva jauh lebih ganas dan perkasa dibandingkan Vandease.

Kedatangan Vandebuluva telah disebutkan Lemontonda kepada Sesentola sebelumnya. Sesen-tola meminta segelas air yang akan digunakannya untuk merendam cincin pusakanya. Katanya kepada Lemontonda, “Jika nanti aku pingsan, tetesilah mataku dengan air rendaman cincinku ini.”

Garuda bernama Vandebuluva langsung menuju Sesentola. Tubuhnya yang jauh lebih besar dan lebih ganas dibandingkan Vandease itu terlihat sangat mengerikan. Namun, Sesentola tidak terlihat takut. Sesentola mengarahkan anak panahnya ke leher Vandebuluva. Beberapa saat kemudian anak panah sakti yang dilepaskan Sesentola telah mengenai leher Vandebuluva. Namun, garuda besar itu tidak langsung jatuh. Ia masih sempat menyambar tubuh Sesentola hingga pingsan. Vandebuluva akhirnya jatuh dan mati.

Lemontonda lantas memercikkan air ren¬daman cincin pusaka ke kelopak mata Sesentola. Seketika itu pula Sesentola kembali sadar.

Keadaan negeri itu pun akhirnya aman dan damai. Sesentola kemudian melamar Lemontonda. Lemontonda bersedia dinikahi Sesentola dengan syarat seluruh orang di negeri itu, termasuk kedua orang tuanya dapat hidup kembali.

Dengan kesaktiannya, Sesentola lantas menghidupkan kembali orang-orang di negeri itu. Negeri yang lengang itu telah kembali ramai seperti sedia kala.

Ayah Lemontonda lantas menikahkan putrinya itu dengan Sesentola. Pesta pernikahan Sesentola dan Lemontonda berlangsung meriah. Segenap warga akhirnya bersepakat untuk mengangkat Sesentola sebagai raja mereka.

Sesentola hidup berbahagia selaku raja negeri itu.

 

KEBENARAN AKAN DARAT MENGALAHKAN KEBATILAN ATAU KEBURUKAN. ORANG YANG BAIK AKAN MENUAI KEBAIKANNYA DI KEMUDIAN HARI.