Kategori: Sulawesi Tenggara

La Oto Ontolu – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara
La Oto Ontolu – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara

Sumantapura namanya. Ia putra sulung Raja Bulan. Suatu malam ia melihat bumi dari istana Kerajaan Bulan. Sangat indah dalam pandangannya. Ia pun ingin tinggal di bumi. Sumantapura lalu merubah diri menjadi sebutir telur besar. Ia lalu meluncur turun menuju bumi. Dipilihnya sebuah sarang tempat ayam bertelur untuk tempat turunnya. Sarang untuk bertelur ayam itu milik seorang nenek tua.

Ketika telur jelmaan Sumantapura tiba di dalam sarang, ayam-ayam terkejut. Mereka pun ramai berkotek.

Nenek tua yang sedang berada di kebunnya terkejut. Bergegas ia melihat kandang ayamnya. Ia takut ayam-ayamnya diserang atau dimangsa burung gagak. Ia terperanjat mendapati sebutir telur besar di dalam sarang tempat bertelur ayamnya.

“Telur apa ini?” gumam Nenek tua. Seumur hidupnya belum pernah ia mendapati telur sebesar itu. Ia lalu bergegas mengambil keranjang. Diletakkannya telur besar itu di dalam keranjangnya dan disimpannya di dalam gubuknya.

Keesokan paginya Nenek tua kembali ke ladang. Sebelumnya, ia telah memasak naSi dan menyiapkan lauk. Seperti biasanya, ia akan memakannya ketika istirahat tengah hari nanti.

Betapa terkejutnya Nenek tua saat kembali ke gubuknya di siang hari. Ia mendapati naSi dan lauknya telah habis. Bahkan, persediaan air di dalam tempayannya habis tak tersisa.

“Siapa yang tega melakukan semua ini?” gumam Nenek tua dengan perasaan kesal. “Sungguh keterlauan pelakunya.”

Kejadian seperti itu kembali terulang keesokan harinya. Nenek tua yang kembali ke rumahnya pada siang hari hanya mendapati tempat makanannya telah kosong. Begitu pula dengan tempayannya. Kejengkelan Nenek tua semakin menjadi-jadi. Ia berencana menjebak pelaku yang dianggapnya keterlaluan kelakuannya itu.

Pagi berikutnya Nenek tua kembali menyiapkan makanan. NaSi dan lauk. Diletakkannya di atas meja seperti biasanya. Sirih dan tembakau diletakkannya di atas meja. Tempayan telah pula diisinya air hingga penuh. Ia lalu mengambil tembilang, alat yang digunakannya untuk menyiangi rumput. Bergegas ia menuju ladangnya.

Sepeninggal Nenek tua, Sumantapura keluar dari dalam telur raksasa. Ia tersenyum senang melihat makanan telah terhidang di atas meja. Bergegas ia melihat tempayan air. Bertambah senang ia melihatnya. Sumantapura lalu mandi. Dihabiskannya air dalam tempayan itu untuk sekali mandi.

Selesai mandi, Sumantapura duduk di depan meja. Semua hidangan dimakannya hingga habis tak tersisa. Dibiarkannya peralatan makannya begitu saja. Pandangannya terbentur pada sirih dan tembakau. Belum pernah ia melihat benda itu. Ia pun mencoba memakannya. Rasanya pahit, tidak seenak makanan yang tadi dihabiskannya. Ia merasa pusing setelah memakannya. Tetapi Sumantapura terus memaksa memakannya. Rasa pusingnya semakin menjadi-jadi hingga akhirnya Sumantapura jatuh pingsan di tempat itu.

Tak berapa lama kemudian Nenek tua kembali. Sesuai rencananya, ia sengaja lebih cepat pulang untuk mengetahui siapa pelaku yang telah menghabiskan makanannya.

Nenek tua terperanjat mendapati seorang pemuda gagah tergeletak di dekat meja gubuknya. Ia khawatir pemuda asing itu telah meninggal di dalam gubuknya. Sejenak ia mengamati, Nenek tua mengetahui, pemuda itu tidak mati. Pemuda gagah itu hanya pingsan.

Nenek tua pun menyadarkan Si pemuda gagah.

“Siapa engkau ini?” tanya Nenek tua. “Mengapa engkau tega menghabiskan makanan dan airku?”

“Namaku Sumantapura, Nek,” jawab Si pemuda. “Aku putra sulung Raja Bulan.”

Nenek tua terkejut. “Engkau putra Raja Bulan?” tanyanya meyakinkan.

“Benar, Nek.”

“Mengapa engkau bisa berada di gubukku ini?”

Sumantapura lalu menjelaskan penyebab ia turun dari Kerajaan Bulan hingga akhirnya tiba di gubuk Nenek tua. Ia juga meminta maaf karena telah menghabiskan makanan dan persediaan air Nenek tua.

Nenek tua memaafkan. Ia juga mengizinkan Sumantapura tinggal bersamanya setelah Sumantapura meminta izinnya. Nenek tua menganggap Sumantapura selaku cucunya.

Sejak tinggal bersama Nenek tua, Sumantapura merasa iba pada Nenek tua itu. Tempat kediamannya hanyalah sebuah gubuk yang telah reyot. Ia ingin membalas kebaikan Nenek tua. Ia lalu mengerahkan kesaktiannya. Dirubahnya gubuk reyot itu menjadi sebuah rumah seindah istana. Lengkap dengan segala perabotannya. Berbagai keperluan rumah telah pula disediakannya.

Kehidupan Nenek tua berubah membaik, setelah Sumantapura tinggal bersamanya. Kini tempat tinggalnya sangat megah dan semua kebutuhan hidupnya telah tersedia.

Suatu hari Sumantapura terlihat terdiam. Ia nampak murung.

“Apa yang terjadi padamu hingga engkau terlihat murung, wahai cucuku?”

“Nek, rumah kediaman kita ini sangat besar lagi megah. Namun, terasa lengang karena hanya kita huni berdua,” jawab Sumantapura.

“Lalu, apa keinginanmu?”

“Aku ingin beristri, Nek.”

Nenek tua menganggukkan kepala. “Sebutkan siapa perempuan yang ingin engkau nikahi? Sebutkan, cucuku. Aku akan melamarkannya untukmu.”

Sumantapura menjawab, ‘Aku ingin beristrikan putri sulung Sang Raja, Nek.”

Nenek tua mengetahui Sang Raja memiliki tujuh putri. Kesemuanya sangat cantik wajahnya. Mereka belum bersuami. Pantas jika salah seorang putri raja itu menikah dengan Sumantapura.

Tetapi Sumantapura berpesan ketika Nenek tua nanti melamar. Katanya, “Sekali-kali janganlah Nenek menyebutkan siapa aku yang sesungguhnya. Aku akan merubah diri menjadi telur. Sebutkan namaku La Onto Ontolu ketika melamar.”

Nenek tua keheranan. Mengapa Sumantapura harus bersiasat seperti itu? Padahal, jika Sumantapura mengaku siapa dirinya yang sesungguhnya, ia yakin, putri raja akan menerima pinangan putra Raja Bulan yang sangat tampan lagi sakti itu.

Sumantapura menjelaskan, “Aku ingin mendapatkan istri yang baik hati, Nek. Istri yang bisa menerimaku tanpa mengetahui siapa diriku yang sesungguhnya.”

Nenek tua hanya bisa menuruti. Ia datang menghadap Sang Raja. Ia ungkapkan keinginannya untuk melamar putri sulung Sang Raja untuk cucunya.

“Siapa nama cucumu, Nek?” tanya Sang Raja.

“Namanya La Onto Ontolu, Tuanku Raja.”

Sang Raja tertawa mendengarjawaban Nenek tua. Baru pertama kali itu ia mendengar nama orang seperti itu. Sang Raja mempersilahkan putri sulungnya untuk menjawab sendiri.

“Aku tidak mau bersuamikan seseorang bernama aneh seperti itu,” jawab Putri Sulung Sang Raja.

Nenek tua kembali pulang. Hasil lamarannya dijelaskannya pada Sumantapura.

Sumantapura tidak nampak bersedih. Ia meminta Nenek tua melamar putri kedua Sang Raja.

Putri Kedua Sang Raja juga menolak. Begitu pula dengan Putri Ketiga, Putri Keempat, Putri Kelima, dan Putri Keenam. Mereka tidak bersedia menikah dengan lelaki bernama La Onto Ontolu.

Nenek tua bolak-balik ke istana kerajaan. Kini harapannya tinggal satu, Putri Bungsu Sang Raja. Sesuai permintaan Sumantapura, ia melamar putri bungsu itu.

Berbeda dengan enam kakaknya, Putri Bungsu Sang Raja menerima lamaran Nenek tua.

Tak urung Sang Raja terkejut karenanya. “Putri bungsuku,” kata Sang Raja. “Benarkah engkau bersedia menikah dengan seorang lelaki bernama La Onto Ontolu?”

Putri Bungsu Sang Raja mantap menganggukkan kepala. “Benar, Ayah. Bisa jadi La Onto Ontolu itulah jodoh hamba.”

Sang Raja menyerahkan sepenuhnya keputusan itu pada anak bungsunya. Jika anak bungsunya menerima, ia juga menerimanya.

Nenek tua senang mendengar keputusan Sang Raja dan Putri Bungsu Sang Raja. Sebagai tanda telah terjadinya ikatan, Nenek tua memberikan telur raksasa kepada Putri Bungsu Sang Raja.

Sepeninggal Nenek tua, Putri Bungsu Sang Raja membawa telur besar itu dan menyimpannya di dalam kamarnya.

Sejak telur besar itu berada di kamar Putri Bungsu Sang Raja, terjadi kegemparan di istana kerajaan. Persediaan air yang melimpah ruah pada sore hari untuk Putri Bungsu, keesokan harinya telah habis tak tersisa. Putri Bungsu bingung dan keheranan. Ia telah bertanya, siapa yang menghabiskan air untuknya, semuanya tidak mengetahui. Kejadian itu berlangsung beberapa hari.

Putri Bungsu berencana menyelidiki. Ia tahu, pengguna air itu akan menghabiskan air pada malam hari. Maka, malam hari itu ia berpura-pura tidur di kamarnya. Mendadak ia melihat sebuah keanehan. Dari telur besar yang disimpan di kamarnya keluar seorang pemuda. Sangat tampan wajahnya. Pemuda, yang tak lain Sumantapura itu, nampak mencoba meyakinkan jika Putri Bungsu telah tidur. Dengan langkah berjingkat-jingkat Sumantapura lalu menuju kamar mandi.

Sumantapura mandi dan menghabiskan semua persediaan air di kamar mandi itu. Setelah mandi, Sumantapura kembali masuk ke dalam telur besar.

Putri Bungsu telah mengetahui rahasia habisnya air di kamar mandinya.

Putri Bungsu mencoba mencari tahu, siapa pemuda yang bersembunyi di dalam telur besar itu. Ia mendatangi Nenek tua. Rahasia Sumantapura terbuka. Putri Bungsu memohon kepada Sang Raja agar segera dinikahkan dengan La Onto Ontolu.

Pernikahan antara La Onto Ontolu dan Putri Bungsu dilangsungkan secera meriah. Terperanjatlah enam kakak Putri Bungsu saat mengetahui siapa La Onto Ontolu. Mereka tak menyangka jika La Onto Ontolu itu pemuda yang gagah lagi sangat tampan wajahnya. Mereka menyesal telah menolak lamaran La Onto Ontolu dan bahkan menertawakannya. Bertambah penyesalan mereka saat mengetahui La Onto Ontolu sesungguhnya adalah Pangeran Sumantapura, pangeran sulung Kerajaan Bulan.

Enam kakak Putri Bungsu sangat iri dengan nasib baik adik bungsu mereka. Rasa iri mereka membesar dan berubah menjadi dendam. Mereka berencana membuat adik bungsu mereka menderita. Mereka bersama-sama memikirkan rencanajahat.

Rencana jahat itu didapatkan. Enam kakak Putri Bungsu lalu mengajak Putri Bungsu dan suaminya untuk berlibur ke laut. Mereka merencanakan mandi air laut. Tanpa curiga, Putri Bungsu menerima ajakan itu. Ia sangat suka berlibur ke laut.

“Jangan lupa,” kata Putri Sulung, “bawalah puan milikmu.”

Puan adalah tempat sirih. Putri Bungsu mempunyai puan kesayangan. Tempat sirih itu sangat indah, terbuat dari emas. Putri Bungsu tidak hanya membawa tempat sirihnya saja, melainkan juga sirih dan bekal lainnya.

Mereka akhirnya berlibur ke laut. Mereka menaiki perahu kerajaan. Ketika perahu telah di tengah laut dan Putri Bungsu sedang bersama suaminya, Putri Sulung diam-diam membuang puan Putri Bungsu ke laut.

“Astaga!” seru Putri Sulung berpura-pura, “Bungsu! Puan-mu terjatuh ke laut!”

Putri Bungsu sangat terkejut. Ia tak ingin kehilangan puan kesayangannya. Ia merengek- rengek kepada suaminya untuk menyelam dan mengambil puan kesayangannya.

“Baiklah,” ujar Sumantapura. Ia bergegas melompat ke dalam laut.

Ketika Sumantapura sedang menyelam, diam- diam kakak Putri Bungsu mengayuh perahu diam- diam. Perlahan-lahan perahu menjauh dari tengah laut, seperti terkena angin laut. Perahu akhirnya menepi ke pinggir laut.

Putri Bungsu hanya bisa menangis sedih. Ia tidak hanya kehilangan puan kesayangan, melainkan juga suami yang dicintainya. Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan hancur. Sementara itu enam kakaknya merasa puas karena telah bisa melampiaskan iri dan dendam mereka.

Putri Bungsu sendirian di kamarnya. Kesedihannya meninggi. Saat tengah malam, ia mendengar suara ketikan pada pintunya.

“Siapa?”

“Aku. Suamimu,” jawab suara itu dari luar. “Lekas buka pintu.”

Putri Bungsu tidak begitu saja percaya. Ia takut kembali diperdaya. Ia biarkan saja ketukan dan panggilan itu.

“Bungsu, aku Sumantapura, suamimu.”

“Tidak!” tegas Putri Bungsu. “Suami tercintaku telah meninggal, tenggelam di laut.”

“Aku masih hidup. Puan kesayanganmujuga telah kutemukan.”

Tetapi Putri Bungsu tetap tidak percaya. Ia khawatir orang itu hanya mengaku sebagai suaminya dan ia bermaksud jahat padanya.

“Baiklah. Jika engkau tidak percaya, aku akan kembali ke Kerajaan Bulan. Puan-mu kutinggalkan di depan pintu ini.”

Putri Bungsu akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamarnya. Benar, dilihatnya puan kesayangannya di depan pintu itu. Sadarlah dirinya jika orang yang mengetuk pintu kamarnya adalah suaminya. Tetapi, ke mana sekarang suaminya?

Putri Bungsu bergegas mencari. Suaminya telah pergi jauh. Putri Bungsu pun berteriak kuat- kuat, “Suamiku! Bawalah aku besertamu!”

Teriakan Putri Bungsu didengar Sumantapura. Bergegas ia kembali untuk menemui istrinya itu. Keduanya kembali bertemu.

“Benar engkau bersedia kubawa pulang ke Kerajaan Bulan?” tanya Sumantapura.

“Ya. Aku ingin hidup bersamamu, di manapun juga engkau berada.”

“Baiklah. Kita akan menuju Kerajaan Bulan. Tapi, ada syarat yang sangat berat yang harus engkau penuhi.”

“Syarat apakah itu, suamiku?”

“Jika engkau mengeluh dalam perjalanan kita nanti, maka seketika itu engkau akanjatuh kembali ke bumi. Apakah engkau bersedia?”

“Aku bersedia,” jawab Putri Bungsu. “Aku tidak akan mengeluh dalam perjalanan kita nanti.”

Sumantapura lalu mengajak istrinya menuju Kerajaan Bulan. Di tengah perjalanan, Putri Bungsu merasa sangat kedinginan. Tanpa sadar, ia pun mengeluh. Maka, seketika itu pula Putri Bungsu terjatuh kembali ke bumi.

Sumantapura tiba sendirian di Kerajaan Bulan. Ia merasa sedih karena tidak bisa bersama istri tercintanya. Ia ingin bersama istrinya. Maka, dimintanya adiknya untuk menjemput istrinya di bumi.

Adik Sumantapura sangat sakti. Dengan kesaktiannya, sekejap saja ia telah tiba di bumi. Ia mengajak Putri Bungsu ke Kerajaan Bulan. Tak perlu waktu lama, Putri Bungsu dan Sumantapura telah bersatu kembali.

Putri Bungsu hidup berbahagia bersama suaminya di Kerajaan Bulan.

 

ORANG YANG SABAR AKAN MENUAI KEBAHAGIAAN DI KEMUDIAN HARI.

La Moelu – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara
La Moelu – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara

Seorang anak lelaki bernama La Moelu. Ia hidup bersama ayahnya yang telah tua. Ibunya telah lama meninggal dunia, ketika La Moelu masih bayi. Karena ayahnya telah tua, La Moelu-lah yang mencari nafkah. Ia mencari ikan untuk mencukupi kebutuhan hidup dirinya danjuga ayahnya. Ikan-ikan hasil tangkapannya itu dijualnya di pasar.

Pada suatu hari La Moelu pergi memancing. Telah seharian ia memancing, tidak seekor ikan pun yang berhasil dipancingnya. Waktu senja pun tiba. La Moelu yang telah berniat pulang menjadi gembira karena mata kailnya ditarik ikan. La Moelu menarik pancingnya. Seekor ikan mungil berada di ujung kailnya. La Moelu keheranan melihat ikan kecil itu. Seumur hidupnya ia belum pernah melihat ikan kecil yang terlihat cantik itu. Maka, dibawanya ikan kecil itu untuk dipeliharanya di rumah. Ikan kecil itu dipelihara La Moelu di dalam daun yang dibentuk menyerupai mangkok.

Ayah La Moelu juga senang dengan ikan kecil yang cantik tersebut. Ia menyarankan agar La Moelu memelihara ikan kecil tersebut di dalam belanga. La Moelu menuruti saran ayahnya. Dimasukkannya ikan kecil itu di dalam belanga dengan diberinya air danjuga makanan yang cukup.

Keesokan harinya La Moelu terperanjat ketika mendapati ikan yang dipeliharanya di dalam belanga itu telah tumbuh membesar hingga sebesar belanga. Tak terkirakan gembiranya La Moelu. “Benar-benar ikan ajaib,” katanya, “tumbuhnya sangat cepat.”

Ayah La Moelu yang turut gembira lantas menyarankan agar ikan tersebut dipelihara di dalam lesung. La Moelu menuruti saran ayahnya. Dimasukkannya ikan peliharaannya itu di dalam lesung yang telah diberinya cukup air. Tak lupa, diberinya pula makanan.

Keajaiban kembali terjadi. Keesokan harinya ikan peliharaan La Moelu tersebut telah bertambah besar hingga sebesar lesung. “Bagaimana ini, Ayah?” tanya La Moelu. “Harus kita pelihara di mana ikan ini?”

Karena tidak ada lagi tempat besar yang dapat menampung ikan itu, Ayah La Moelu menyarankan agar melepaskan ikan itu ke laut. La Moelu lantas membawa ikan itu ke laut.

Ikan itu tampak gembira dilepaskan di laut. Ia berenang mengitari kaki La Moelu seolah-olah mengucapkan terima kasih. La Moelu sangat senang mendapati ikan itu sangat jinak kepadanya. Katanya kemudian, “Wahai ikan, kuberi nama untukmu Jinnande Teremombonga. Jika namamu kupanggil, hendaklah engkau muncul. Aku akan memberimu makanan jika engkau muncul ke permukaan.”

Ikan yang telah diberi nama Jinnande Tere-mombonga itu mengangguk-anggukkan kepala. Ia lantas berenang dengan gembira ke laut lepas.

Sejak saat itu La Moelu setiap hari ke laut untuk memberi makan Jinnande Teremombonga. Setibanya di pinggir laut, La Moelu akan memanggil nama Jinnande Teremombonga. Ikan Itu akan muncul ke permukaan laut dan menghampiri La Moelu dengan gembira. Ia akan menyantap makanan pemberian La Moelu. Ia bahkan kerap bermain-main dengan La Moelu yang sangat menyayanginya.

Pada suatu hari tujuh pemuda mendapati La Moelu yang tengah bercanda dengan Jinnande Teremombonga. Semula tujuh pemuda itu kagum dengan persahabatan erat antara La Moelu dan ikan besar itu. Namun, kekaguman mereka berubah menjadi niat jahat untuk menangkap Jinnande Teremombonga!

Mengetahui cara La Moelu memanggil ikan besar itu, tujuh pemuda itu pun menirunya. Mereka memanggil Jinnande Teremombonga. Seketika ikan besar itu muncul ke permukaan laut dan menghampiri mereka, ketujuh pemuda itu lantas menjerat Jinnande Teremombonga dengan jala besar yang sangat kuat. Meski Jinnande Teremombonga berusaha keras untuk melepaskan diri, namun jala itu sangat kuat hingga usaha ikan besar itu menjadi sia-sia.

Tujuh pemuda itu menyeret Jinnande Teremombonga ke pantai dan menyembelih serta memotong-motongnya menjadi tujuh bagian. Masing-masing pemuda mendapat satu bagian. Mereka lantas membawa daging ikan itu ke rumah masing-masing dengan hati riang. Menurut mereka, bagian daging ikan untuknya itu tidak akan habis dimakannya selama seminggu.

Pada sore harinya La Moelu datang ke pantai dan memanggil Jinnande Teremombonga. Namun, ikan itu tidak muncul seperti biasanya. La Moelu terus memanggil, namun ikan yang sangat disayanginya tidak juga menampakkan diri. Keheranan La Moelu akhirnya tersingkap setelah beberapa orang menceritakan kepadanya perihal telah dibunuhnya Jinnande Teremombonga oleh tujuh pemuda tadi pagi.

La Moelu sangat sedih mendengar ikan kesayangannya itu menemui kematian secara mengenaskan. Ia pun menuju rumah salah seorang pemuda penangkap ikan kesayangannya. Bertambah- tambah sedih hatinya ketika mendapati pemuda itu beserta keluarganya tengah memakan daging Jinnande Teremombonga dengan amat lahapnya. Tulang-tulang Jinnande Teremombonga mereka buang hingga berserakan di sekitar rumah itu.

La Moelu mengumpulkan tulang-tulang Jinnande Teremombonga dan membawanya pulang. Ketika tiba di rumahnya, La Moelu lantas menguburkan tulang belulang itu dl halaman belakang rumahnya. Selesai menguburkan, La Moelu berujar, “Beristirahatlah dengan tenang wahai Jinnande Teremombonga yang sangat kusayangi. Beristirahatlah dengan tenang wahai sahabatku.”

Keesokan harinya La Moelu terperangah ketika mendapati sebuah keajaiban di halaman belakang rumahnya. Ia melihat sebatang pohon tumbuh di tempat ia menanam tulang belulang Jinnande Teremombonga. Pohon yang luar biasa ajaib. Pohon itu berbatang emas, berdaun perak, dan berbuah permata! Banyak pula buahnya.

La Moelu memetik beberapa buah dan menjualnya. Ia terbelalak mendapati buah-buah itu dihargai sangat tinggi oleh pembelinya. Hasil penjualan buah-buah itu sangat mencukupi kebutuhan dirinya danjuga ayahnya. Bahkan, untuk membangun rumah yang indah pun masih juga cukup.

La Moelu yang baik hati itu pun akhirnya hidup berbahagia. Ia dikenal sebagai sosok yang kaya raya di kampungnya. Namun demikian ia tidak menyombongkan kekayaannya. Ia bahkan kerap berbagi kepada orang-orang yang datang dan meminta bantuan kepadanya. Tangannya senantiasa terulur untuk memberikan bantuan kepada yang membutuhkannya.

 

KITA HENDAKLAH MENYAYANGI HEWAN KARENA HEWAN ITU SESUNGGUHNYA CIPTAAN TUHAN SEPERTI HALNYA KITA. HEWAN YANG KITA SAYANGI AKAN MEMBALAS DENGAN KASIH SAYANGNYA PULA.

Dongeng Rusa dan Kura-Kura – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara
Dongeng Rusa dan Kura-Kura – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara

Hiduplah seekor rusa pada zaman dahulu. Ia sangat sombong lagi pemarah. Sering ia meremehkan kemampuan hewan lain.

Pada suatu hari Si rusa berjalan-jalan di pinggir danau. Ia bertemu dengan kura-kura yang terlihat hanya mondar-mandir saja. “Kura-kura, apa yang sedang engkau lakukan di sini?”

“Aku sedang mencari sumber penghidupan,” jawab Si kura-kura.

Si rusa tiba-tiba marah mendengarjawaban Si kura-kura. “Jangan berlagak engkau, hei kura-kura! Engkau hanya mondar-mandir saja namun berlagak tengah mencari sumber penghidupan!” |

Si kura-kura berusaha menjelaskan, namun Si rusa tetap marah. Bahkan, Si rusa mengancam akan menginjak tubuh Si kura-kura. Si kura-kura yang jengkel akhirnya menantang untuk mengadu kekuatan betis kaki.

Si rusa sangat marah mendengar tantangan Si kura-kura untuk mengadu betis. Ia pun meminta agar Si kura-kura menendang betisnya terlebih dahulu. “Tendanglah sekeras-kerasnya, semampu yang engkau bisa lakukan!”

Si kura-kura tidak bersedia melakukannya. Katanya, “Jika aku menendang betismu, engkau akanjatuh dan tidak bisa membalas menendangku.”

Si rusa kian marah mendengar ucapan Si kura- kura. Ia pun bersiap-siap untuk menendang. Ia berancang-ancang. Ketika dirasanya tepat, ia pun menendang dengan kaki depannya sekuat-kuatnya.

Ketika Si rusa mengayunkan kakinya, Si rusa segera memasukkan kaki-kakinya ke dalam tempurungnya. Tendangan rusa hanya mengenai tempat kosong. Si rusa sangat marah mendapati tendangannya tidak mengena. Ia lantas menginjak tempurung Si kura-kura dengan kuat. Akibatnya tubuh Si kura-kura terbenam ke dalam tanah. Si rusa menyangka Si kura-kura telah mati. Ia pun meninggalkan Si kura-kura.

Si kura-kura berusaha keras keluar dari tanah. Setelah seminggu berusaha, Si kura-kura akhirnya berhasil keluar dari tanah. Ia lalu mencari Si rusa. Ditemukannya Si rusa setelah beberapa hari mencari. “Bersiaplah Rusa, kini giliranku untuk menendang.”

Si rusa hanya memandang remeh kemampuan Si kura-kura. “Kerahkan segenap kemampuanmu untuk menendang betisku. Ayo, jangan ragu-ragu!”

Si kura-kura bersiaga dan mengambil ancang- ancang di tempat tinggi. Ia lalu menggelindingkan tubuhnya. Ketika hampir tiba di dekat tubuh Si rusa, ia pun menaikkan tubuhnya hingga tubuhnya melayang. Si kura-kura mengincar hidung Si rusa. Begitu kerasnya tempurung Si kura-kursmengena hingga hidung Si rusa putus. Seketika itu Si rusa yang sombong itu pun mati.

 

JANGAN SOMBONG DAN MEREMEHKAN KEMAMPUAN ORANG LAIN. KESOMBONGAN HANYA AKAN MENDATANGKAN KERUGIAN DAN PENYESALAN DI KEMUDIAN HARI.

Indara Pitaraa dan Siraapare – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara
Indara Pitaraa dan Siraapare – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara

Cerita dua anak kembar pada masa lampau. Keduanya anak lelaki yang ajaib, karena ketika lahir keduanya telah menggenggam keris di tangan kanan masing-masing. Anak kembar yang pertama bernama Indara Pitaraa dan yang kedua Siraapare namanya.

Indara Pitaraa dan Siraapare tumbuh menjadi anak-anak yang nakal. Keduanya kerap mengguna-kan keris masing-masing untuk alat kenakalan mereka. Keduanya kerap merusak tanaman dan juga membunuh hewan peliharaan penduduk. Penduduk pun menjadi resah karena perbuatan Indara Pitaraa dan Siraapare. Kedua orangtua anak kembar itu juga telah dibuat pusing karena perbuatan Indara Pitaraa dan Siraapare itu.

Kedua orangtua Indara Pitaraa dan Siraapare merasa tak sanggup lagi menghentikan ulah kena-kalan dua anak kembar itu. Ibu dua anak kembar itu akhirnya menyuruh kedua anak kembarnya itu untuk pergi merantau.

Indara Pitaraa dan Siraapare sangat senang disuruh pergi merantau. Sebelum berangkat, ibu dua anak kembar itu membekali dengan tujuh buah ketupat, tujuh butir telur, tujuh ruas batang tebu, dan dua belah kelapa tua. Keduanya juga dibekali dengan tempurung kelapa yang digunakan untuk penutup kepala.

Dua anak kembar itu pun memulai perjalanan merantau mereka. Keduanya menerobos hutan belantara, menyeberangi sungai, menuruni lem¬bah, dan juga mendaki bukit serta gunung. Setiap kali melewati satu gunung, Siraapare meminta waktu sejenak untuk beristirahat. Indara Pitaraa menuruti keinginan adik kembarnya itu. Indara Pitaraa memangku Siraapare sampai tertidur. Setelah Siraapare terbangun, masing-masing dari keduanya lantas memakan satu buah ketupat, satu butir telur, dan seruas batang tebu. Begitu yang mereka lakukan hingga melewati gunung keenam. Ketika keduanya tiba di puncak gunung ketujuh, Indara Pitaraa yang belum pernah beristirahat merasa sangat lelah. Ia meminta waktu untuk beristrahat. Adik kembarnya lantas memangkunya hingga ia tertidur.

Ketika Siraapare tengah memangku Indara Pitaraa, mendadak datang angin topan yang besar. Siraapare lantas membangunkan kakak kembarnya. Indara Pitaraa menyarankan agar mereka menyimpulkan tali pinggang masing- masing agar keduanya tidak terpisah jika diterjang angin topan itu.

Angin topan dahsyat itu menerjang keduanya dan menerbangkan dua saudara kembar itu ke angkasa. Meski Indara Pitaraa dan Siraapare telah erat-erat menyimpulkan tali pinggang masing- masing, namun keduanya terpisahkan setelah terkena terjangan angin topan. Angin topan pun terus menerbangkan dan menjauhkan dua saudara kembar itu. Indara Pitaraa akhirnya jatuh di sebuah wilayah yang tengah diamuk oleh burung garuda. Siraapare jatuh di sebuah wilayah yang tengah dilanda peperangan.

Seperti halnya warga lainnya, Siraapare segera melibatkan diri dalam peperangan. Bersenjatakan keris pusakanya, Siraapare berperang dengan gagah berani. Tempurung kelapa yang diberikan ibunya sangat berguna dalam berbagai peperangan yang diikutinya itu. Aneka senjata tidak mampu melukai kepalanya karena terhalang tempurung kelapa yang dikenakan Siraapare. Dengan kegagahan, kepiawaian, dan keberaniannya, Siraa¬pare lantas dipercaya menjadi pemimpin pasukan. Berkat pimpinan Siraapare, pasukan itu menuai kemenangan. Siraapare akhirnya dipilih menjadi raja wilayah tersebut.

Indara Pitaraa jatuh di sebuah wilayah yang . sepi. Semua penduduk bersembunyi karena takut dimangsa burung garuda ganas. Indara Pitaraa ‘ melihat sebuah rumah yang indah. Ketika ia memasuki rumah itu ia melihat sebuah gendang besar. Indara Pitaraa menepuk gendang besar itu dan terdengar sebuah suara dari dalam gendang besar, “Jangan pukul gendang ini. Burung garuda ganas itu akan datang dan memangsamu!”

Indara Pitaraa terkejut. Dengan kerisnya, disobeknya kulit gendang besar itu. Ia melihat seorang gadis berada di dalam gendang besar dengan wajah pias ketakutan.

Si gadis lantas menceritakan adanya burung garuda ganas pemangsa manusia. Segenap warga dibuat ketakutan karenanya.

“Jangan engkau takut,” ujar Indara Pitaraa. “Aku akan menghadapi burung garuda ganas itu.”

Si gadis kembali menjelaskan, burung garuda iitu akan datang jika cuaca tampak mendung. Burung garuda ganas itu akan hinggap di atas dahan pohon mangga macan.

Indara Pitaraa menunggu kedatangan burung garuda ganas itu ketika cuaca terlihat mendung. Seketika melihat adanya orang, burung garuda itu pun lantas meluncur untuk menyambar. Namun, sebelum burung garuda itu menyambarnya, Indara Pitaraa telah melompat dan bertengger di dahan pohon mangga macan. Burung garuda itu kemudian meluncur menuju dahan pohon mangga macan, Indara Pitaraa telah melompat ke atas tanah. Begitu seterusnya yang terjadi hingga burung garuda gan^s itu akhirnya kelelahan. Ketika itulah Indara Pitaraa menyerang dengan menggunakan kerisnya. Burung garuda ganas itu pun mati terkena keris pusaka Indara Pitaraa.

Negeri itu pun kembali aman dan damai. Segenap warga merasa lega karena burung garuda ganas yang mereka takuti telah mati. Mereka mengelu-elukan Indara Pitaraa. Sebagai balas terima kasih, mereka menikahkan Indara Pitaraa dengan Si gadis yang bersembunyi di dalam gendang besar yang ternyata adalah putri raja.

Indara Pitaraa melanjutkan perjalanannya. Tibalah ia di sebuah negeri yang telah ditaklukkan oleh seekor ular besar. Ia tiba di sebuah rumah besar. Dilihatnya orang-orang di dalam rumah itu tengah mendandani seorang gadis berwajah cantik. Sangat mengherankan, orang-orang itu mendadani Si gadis seraya menangis.

“Apa yang terjadi?” tanya Indara Pitaraa.

Orang-orang pun menjelaskan jika mereka hendak mempersembahkan Si gadis kepada ular besar yang berdiam di sebuah gua. Jika mereka tidak mempersembahkan Si gadis, ular besar itu akan datang ke negeri itu dan mengamuk. “Ular besar itu akan memangsa semua warga negeri ini jika tidak diberi persembahan,” kata seorang warga.

“Janganlah kalian takut,” ujar Indara Pitaraa. “Biarkan ular besar itu datang ke sini. Aku akan menghadapinya.”

Tidak berapa lama kemudian ular besar itu benar-benar datang. Ia tampak sangat marah karena terlambat diberikan persembahan. Gadis yang dijanjikan warga untuk persembahan kepadanya tidak juga kunjung tiba. Ia mengancam akan memangsa seluruh warga. Ular besar itu langsung menuju rumah Si gadis dan bertemu dengan Indara Pitaraa yang terlihat siap melawannya.

Ular besar itu langsung menyerang Indara Pitaraa. Ia memagut dan menelan Indara Pitaraa. Sangat mengherankan, Indara Pitaraa dapat keluar dari tubuh ular besar itu tanpa terluka sedikit pun juga. Kembali ular besar itu memagut dan menelan Indara Pitaraa, namun kembali pula Indara Pitaraa dapat keluar dari tubuh ular besar itu dengan selamat. Berulang-ulang hal itu terjadi hingga ular besar itu akhirnya kelelahan.

Indara Pitaraa akhirnya menyerang ular besar itu dengan keris pusakanya. Serangannya me¬matikan hingga akhirnya ular besar itu pun mati. Tubuh ular besar itu terpotong-potong, daging tubuhnya terhambur hingga memenuhi wilayah yang luas.

Segenap warga negeri itu bergembira men-dapati ular besar itu telah mati. Mereka pun mengangkat Indara Pitaraa sebagai raja mereka. Indara Pitaraa memerintah dengan adil dan bi¬jaksana hingga segenap rakyat yang dipimpinnya bertambah makmur dan sejahtera.

Waktu terus berlalu. Siraapare yang tetap bertakhta sebagai raja pada suatu hari mengadakan perjalanan. Ia tiba di negeri yang dipimpin Indara Pitaraa. Pertemuan antara dua saudara kembar itu pun terjadi. Keduanya segera terlibat dalam pembicaraan penuh kerinduan. Keduanya juga sepakat untuk pulang ke kampung halaman mereka guna menengok kedua orangtua mereka. Tak berapa lama kemudian Indara Pitaraa dan Siraapare berangkat menuju kampung halaman mereka. Masing-masing membawa istri.

Syahdan, sepeninggal dua anak kembarnya dahulu, kedua orangtua Indara Pitaraa dan Si¬raapare amat berduka. Mereka terus menangis dengan menelungkupkan wajah pada bantal kapuk. Bertahun-tahun mereka menangis, hingga biji-biji kapuk yang terdapat di dalam bantal pun tumbuh menjadi tanaman kapuk karena tersirami airmata mereka. Ketika mendapati dua anak kembar mereka telah kembali, mereka segera mengangkat kepala mereka dari bantal kapuk. Tak terkirakan gembira dan bahagia hati mereka mendapati kedua anak mereka telah kembali dan keduanya telah pula menjadi raja. Bertambah- tambah kegembiraan mereka mendapati dua anak kembar mereka kembali bersama istri-istri mereka.

Sebagai wujud kegembiraan hati keduanya, kedua orangtua Indara Pitaraa dan Siraapare itu mengadakan pesta yang dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam.

 

HUBUNGAN ANTARSAUDARA HINDARLAH SENANTIASA TERUS DIPERKUAT. KEBERSAMAAN DI ANTARA SAUDARA AKAN DAPAT MENJADI KEKUATAN YANG AMPUH UNTUK MENANGGULANGI MASALAH ATAU SESUATU YANG BERAT.