Kategori: Sulawesi Utara

Burung Kekekow – Cerita Rakyat Sulawesi Utara
Burung Kekekow – Cerita Rakyat Sulawesi Utara

Kehidupan keluarga itu sangat miskin. Ibu dan dua anak gadisnya itu tinggal di gubuk reyot beralaskan tanah. Pakaian mereka telah usang. Mereka kerap makan buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan. Untuk membeli makanan mereka tidak mampu. Tetapi, mereka senantiasa bersyukur. Tak pernah mereka mengeluh, apalagi meminta-minta pada orang lain.

Cobaan hidup yang lebih berat harus mereka alami kemudian. Musim kemarau datang berkepanjangan. Tanah merekah, tanaman banyak yang mati kekeringan. Aneka pohon buah-buahan di dalam hutan layu kekurangan air, sebagian malah mati mengering. Buah-buahan menjadi sulit untuk didapatkan.

Hari itu dua gadis kebingungan mendapatkan buah-buahan. Telah lama keduanya berjalan dan mencari, tak ada satu buah pun yang mereka dapatkan. Keduanya telah sangat lapar, begitu pula dengan ibu mereka yang sedang menunggu di gubuk mereka.

“Ke mana lagi kita harus mencari buah- buahan, Kak?” tanya Si adik. Wajahnya terlihat memelas. Bibirnya kering.

Sang kakak tersenyum. Katanya menghibur, “Buah-buahan memang tidak kita temukan di bagian hutan ini. Barangkali jika kita masuk hutan lebih dalam, kita akan menemukannya. Sabarlah, Dik.”

Namun, harapan sang kakak ternyata tidak terwujud. Meski mereka telah lebih jauh memasuki hutan, buah-buahan yang mereka cari tidak mereka temukan.

“Dik, sebaiknya kita beristirahat dulu,” saran sang kakak.

Si adik setuju. Keduanya pun duduk di bawah pohon yang masih cukup rindang daunnya. Sejenak melepas lelah. Mereka menyandarkan punggung pada batang pohon. Angin semilir datang membuat keduanya mengantuk. Tak berapa lama kemudian keduanya telah tertidur.

Sesungguhnya, gerak-gerik dua gadis itu selalu diikuti burung kekekow. Burung kekekow yang sakti itu merasa iba dengan nasib dua anak gadis itu. Burung keketow bergegas terbang dan mengambil aneka buah-buahan yang mudah didapatkannya. Bergegas pula ia letakkan aneka buah-buahan itu secara diam-diam di dekat dua gadis yang masih tertidur itu.

“Keke…kow! keke…kow!”

Suara burung kekekow membangunkan Si adik. Ia terkejut mendapati aneka buah-buahan segar di dekat kakinya. Sejenak ia mengucek matanya, seperti untuk meyakinkan yang dilihatnya bukan impian. Bergegas kemudian ia mengguncang- guncangkan tubuh kakaknya. “Kak, bangun! Lekas bangun! Lihat ini!”

Sang kakak terbangun. Ia sangat terkejut mendapati aneka buah-buahan di dekatnya. “Siapa yang memberikan buah-buahan sebanyak ini?” tanyanya keheranan.

“Aku juga tidak tahu,” jawab Si adik. “Ketika aku terbangun, buah-buahan ini sudah ada di dekat kita.”

Dua gadis itu bersyukur. Tetapi, mereka sangat penasaran. Siapa yang memberi mereka buah- buahan sebanyak itu?

Mendadak terdengar suara dari dahan pohon, “Keke…kow! Keke…kow!”

Dua gadis itu serempak menatap pada asal suara. Keduanya melihat burung kekekow yang nampak jinak sedang hinggap di dahan pohon.

“Burung kekekow?” tukas sang kakak. “Apakah burung itu yang meletakkan buah-buahan ini di sini?”

Si adik menggelengkan kepala.

Mendadak burung keketow itu menyahut, “Benar. Aku yang meletakkan buah-buahan itu.”

Dua gadis semakin terkejut mendapati burung keketow itu ternyata bisa berbicara layaknya manusia.

Sang kakak dan adiknya bergegas menghampiri. Kata keduanya, “Terima kasih, burung keketow yang baik hati.”

Burung keketow mengangguk-anggukkan kepala. Lalu katanya, “Mulai kini, datanglah ke tempat ini jika kalian membutuhkan buah-buahan.”

Sang kakak dan adiknya kembali mengucapkan terima kasih. Keduanya segera kembali dengan membawa buah-buahan pemberian burung keketow.

Sejak saat itu dua gadis dan ibunya tidak lagi kekurangan makanan. Setiap kali mereka membutuhkan, setiap kali itu pula burung keketow memberikan bantuannya. Bahkan, tidak hanya buah-buahan, tetapi juga aneka kebutuhan ibu dan dua anak gadisnya itu lainnya. Ia memberikan pakaian yang bagus, makanan, bahkan juga perhiasan. Ibu dan dua gadisnya dapat hidup makmur berkecukupan.

Perubahan kehidupan yang dialami ibu dan dua gadisnya menjadi perhatian dan keheranan para warga lainnya. Mereka ingin mengetahui rahasia penyebab perubahan mendadak itu.

Teman-teman sang kakak.dan Si adik lalu mendatangi sang kakak dan Si adik. Mereka bertanya dari mana keduanya bisa mendapatkan makanan dan berbagai barang mewah itu.

Sang kakak dan Si adik adalah anak-anak yang jujur. Mereka menyebutkan semua barang yang mereka miliki adalah pemberian seekor burung keketow yang hidup di hutan. Mereka sebutkan pula di mana mereka biasa bertemu dengan burung keketow penolong itu.

Berita aneh itu segera menyebar. Warga desa lalu beramai-ramai mendatangi Kepala Desa dan mengadukan kejadian itu. Mereka ingin juga mendapatkan keberuntungan seperti yang dialami ibu dan dua anak gadisnya.

Kepala Desa berembuk dengan warganya. Kepala Desa akhirnya memutuskan untuk menemui burung keketow. Jika perlu, mereka akan menangkap burung keketow hidup-hidup. Mereka pun beramai- ramai menuju bagian hutan di mana dua gadis itu biasa menjumpai burung keketow. Mereka akhirnya bertemu dengan burung keketow.

“Hei burung keketow!” seru Kepala Desa, “berikan kalung dan gelang emas untuk istriku.”

“Untukku kain sutera terhalus dan terindah!” seru salah seorang warga desa.

“Aku ingin aneka peralatan makan yang terbuat dari perak,” salah seorang warga desa lainnya berujar, “berikan semua itu padaku, hei burung keketow.”

Beberapa orang lainnya mengajukan permintaan masing-masing. Suasana di tempat itu menjadi gaduh.

Namun, burung keketow tidak menuruti permintaan mereka. Ia hanya berseru berulang- ulang, “Keketow… Keketow!”

Kepala Desa dan segenap warga menjadi marah. Mereka beramai-ramai lalu menangkap burung keketow. Tanpa ampun, mereka menyembelih burung keketow dan membuang bangkainya begitu saja.

Tak berapa lama setelah Kepala Desa dan warga desa meninggalkan tempat itu, dua gadis datang. Terperanjatlah keduanya mendapati burung keketow telah mati. Keduanya menangis. Mereka seperti tak percaya, burung penolong yang baik hati itu telah tiada. Keduanya sepakat, mereka akan menguburkannya di belakang rumah mereka.

Dua gadis itu tetap setia pada burung keketow. Setiap hari keduanya selalu menengok dan merawat kubur burung keketow. Mereka membersihkan kuburan itu dari rumput liar.

Waktu terus berlalu. Beberapa tahun kemudian dua gadis itu telah tumbuh menjadi dua gadis yang cantik. Mereka tetap setia menengok dan merawat kubur sahabat mereka. Hingga suatu hari mereka terkejut mendapati sebuah pohon tumbuh di atas makam burung keketow. Pohon itu berbatang besar dan buahnya sangat lebat. Manis sekali rasa buahnya. Sepanjang tahun pohon itu terus berbuah. Seperti tidak juga berkurang buahnya, meski dua gadis itu memetiknya.

Dua gadis itu lalu menjual buah yang sangat manis rasanya itu ke pasar. Orang-orang pun sangat menyenanginya. Hasil penjualan buah membuat ibu dan dua gadis itu dapat hidup dengan baik. Mereka tidak pernah kekurangan. Senantiasa mereka bersyukur, burung keketow yang telah mati itu masih tetap dapat memberikan pertolongannya.

 

SETIAP PERBUATAN BAIK AKAN MENDATANGKAN KEBAIKAN PULA DI KEMUDIAN HARI.

Abo Mamongkuroit dan Raksasa – Cerita Rakyat Sulawesi Utara
Abo Mamongkuroit dan Raksasa – Cerita Rakyat Sulawesi Utara

Hiduplah sepasang suami istri pada masa lampau. Sang suami bernama Abo Mamongkuroit dan istrinya bernama Monondeage. Keduanya telah lama berumah tangga, namun belumjuga dikaruniai anak.

Abo Mamongkuroit setiap hari pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Kayu-kayu yang didapatkannya akan dijualnya ke pasar. Monondeage memelihara ayam-ayam di rumahnya. Ia kadang menjual telur dan juga sebagian ayamnya itu ke pasar untuk menambah penghasilan. Meski suami istri itu telah bekerja keras, namun hidup mereka terbilang miskin. Abo Mamongkuroit pun berencana untuk pergi merantau ke negeri seberang untuk mencari peruntungan baru. Keinginan itu disampaikan Abo Mamongkuroit kepada istrinya.

Semula Monondeage ingin mengikuti suaminya itu untuk pergi merantau. Namun, Abo Mamongkuroit melarangnya. Katanya, “Sebaiknya engkau tetap tinggal di rumah kita ini sambil mengurus ayam-ayam kita. Jika rumah ini kita tinggalkan, niscaya Tulap Si raksasa yang tinggal di hutan itu akan merusak rumah kita dan mengambil ayam-ayam peliharaan kita.”

Monondeage akhirnya bersedia tinggal di rumah. Ia meminta suaminya segera pulang jika telah berhasil mendapatkan uang yang banyak. Abo Mamongkuroit mengiyakan pesan istrinya.

Sepeninggal suaminya, Monondeage meng-gantikan peran suaminya untuk mencari kayu- kayu bakar di hutan dan juga tetap mengurus ayam-ayam peliharaannya.

Pada suatu hari Monondeage didatangi Tu¬lap Si Raksasa. Monondeage sangat ketakutan. Ia merasa hidupnya akan segera berakhir karena dimangsa Tulap Si Raksasa yang terlihat kelaparan itu. Ia pun memohon agar Tulap Si Raksasa tidak memangsanya.

‘Aku tidak akan memangsamu, asalkan eng¬kau bersedia kubawa pulang ke rumahku di hutan,” kata Tulap Si Raksasa.

Monondeage mencari cara agar tidak di¬bawa Tulap Si Raksasa. Ia pun mengemukakan alasan, “Tulap, aku ini telah sebulan tidak mandi. Lihatlah, banyak lalat yang merubung tubuhku. Engkau tentu akan jijik dan tidak tahan berdekatan denganku.”

“Lantas, apa maumu?”

“Aku akan mandi dahulu sebelum ikut de-nganmu.”

Tulap Si Raksasa membolehkan. Katanya, “Besok aku akan datang kembali ke sini. Engkau harus ikut denganku ke rumahku.”

Keesokan harinya Tulap Si Raksasa menda¬tangi Monondeage untuk mengajak Monondeage ke rumahnya. Istri Abo Mamongkuroit itu kembali memberikan alasannya agartidak dibawa Tulap Si Raksasa. Katanya, “Lihatlah rambutku ini. Sangat kotor, bukan? Itu karena sebulan ini aku belum mencuci rambutku. Izinkan aku mencuci rambutku lebih dahulu sebelum aku ikut denganmu.”

Tulap Si Raksasa terpaksa mengizinkan. Ia lantas meninggalkan Monondeage dan berjanji akan datang keesokan harinya untuk menjemput Monondeage.

Begitulah yang terjadi. Setiap hari Tulap Si Rak-sasa datang ke rumah Monondeage, namun setiap kali itu pula Monondeage memberikan alasannya agar tidak dibawa raksasa pemangsa manusia itu. Monondeage sangat berharap suaminya segera tiba. Ia yakin, dengan kesaktiannya, suaminya akan mampu mengalahkan Tulap Si Raksasa. Namun, karena Abo Mamongkuroit tidak juga segera datang, Monondeage menjadi kebingungan memberikan alasan.

Tulap Si Raksasa sangat marah mendapati Monondeage senantiasa mengulur-ulur waktu. Ia tidak bisa lagi menunggu. Maka didatanginya Monondeage untuk dibawanya paksa.

“Sebentar, Tulap,” kata Monondeage kembali memberikan alasan, “biarkan aku menyelesaikan masakanku ini dahulu sebelum engkau bawa.”

“Aku tidak bisa lagi menunggu!” terdengar menggelegar suara Tulap Si raksasa. “Sekarang ini juga engkau harus ikut denganku!”

Monondeage tidak bisa lagi mengelak. Ia terpaksa menuruti ajakan Tulap Si Raksasa. Jika ia membangkang, ia khawatir Tulap Si Raksasa akan memangsanya waktu itu juga. Monondeage diba¬wa Tulap Si Raksasa ke rumahnya. Ia dimasukkan ke dalam kurungan beSi bersama orang-orang lainnya yang telah ditangkap Tulap Si Raksasa. Semuanya terlihat sedih karena sebentar lagi mereka akan dimangsa Tulap Si Raksasa dan istrinya.

Syahdan, Abo Mamongkuroit tiba dari peran-tauannya dengan membawa uang dalamjumlah yang banyak. Ia sangat keheranan ketika menda¬pati rumahnya sepi, istrinya tidak ada. Ia lantas mencari-cari istrinya itu di sekitar rumahnya. Ka¬rena tidak ditemukannya, Abo Mamongkuroit pun mencarinya ke hutan. Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan istrinya.

Abo Mamongkuroit terus berjalan mema¬suki hutan. Serasa tidak lelah-lelahnya ia men¬cari keberadaan istrinya. Di tengah hutan Abo Mamongkuroit mendapati sebuah rumah yang sangat besar. Ia yakin, itu rumah Tulap Si Raksasa. Dengan mengendap-endap Abo Mamongkuroit memasuki rumah besar itu. Abo Mamongkuroit terperanjat saat mendapati istrinya berada dalam kurungan beSi bersama orang-orang lain. Ia lantas membebaskan istrinya dan orang-orang di dalam kurungan beSi itu.

Abo Mamongkuroit tidak bisa segera memba¬wa istrinya keluar dari rumah besar itu karena Tulap Si Raksasa mendadak datang menghadangnya.

“Siapa kau? Berani-beraninya engkau me-masuki rumahku dan membebaskan orang-orang yang akan aku mangsa!” teriak Tulap Si Raksasa dengan kemurkaan meluap-luap.

Abo Mamongkuroit tidak takut berhadapan dengan raksasa ganas pemangsa manusia itu. Dengan lantang dijawabnya teriakan Tulap Si Raksasa, “Aku Abo Mamongkuroit. Aku datang untuk menyelamatkan istriku!”

“Istrimu telah menjadi milikku. Jangan sem- barangan engkau membebaskannya. Atau engkau ingin kumangsa pula?”

“Silakan engkau memangsaku, jika engkau mampu!” tantang Abo Mamongkuroit.

Dengan kemarahan meluap, Tulap Si raksasa menyerang Abo Mamongkuroit. Namun, serangan raksasa pemangsa manusia itu tidak mengena pada sasaran karena Abo Mamongkuroit mampu menghindarinya. Berulang-ulang Tulap Si Raksasa menyerang, berulang-ulang pula Abo Mamongkuroit mampu berkelit dan menghindari serangan bertubi- tubi itu. Tulap Si Raksasa menjadi kelelahan. Ketika itulah Abo Mamongkuroit melepaskan serangan mematikannya. Dengan mengerahkan kesaktiannya, Abo Mamongkuroit menyerang Tulap Si Raksasa hingga raksasa ganas pemangsa manusia itu pun akhirnya roboh dan tewas.

Abo Mamongkuroit dan istrinya kembali ke rumahnya. Begitu pula dengan orang-orang yang sebelumnya disekap Tulap Si Raksasa. Mereka semua berbahagia setelah mendapati Tulap Si Raksasa telah mati. Segenap warga desa juga bergembira. Mereka kini merasa aman dan damai, tidak harus merasa takut dengan raksasa pemangsa manusia itu.

Abo Mamongkuroit tidak lagi meninggalkan istrinya. Dengan uang yang banyak yang dibawanya dari perantauan, ia hidup berbahagia bersama istri tercintanya.

 

KITA HENDAKLAH SENANTIASA BERSIKAP TENANG DALAM KEADAAN APA PUN SELAIN ITU. KITA HENDAKLAH MENGEMUKAKAN KECERDIKAN DAN KEBERANIAN UNTUK MENGHADAPI SESUATU YANG MENGANCAM KESELAMATAN KITA. KECERDIKAN DAN KEBERANIAN YANG DILANDASI DENGAN KEBENARAN AKAN MAMPU MENGALAHKAN KEJAHATAN.

Ratu Adioa dan Empat Sahabatnya – Cerita Rakyat Sulawesi Utara
Ratu Adioa dan Empat Sahabatnya – Cerita Rakyat Sulawesi Utara

Terdapat lima pemuda pada masa lampau yang tinggal di daerah SulaweSi Utara. Mereka saling menjalin persahabatan yang karib.

Pemuda pertama bernama Ratu Adioa. Ia dikenal cerdas dan baik hati. Sehari-hari ia ber¬buru untuk mata pencahariannya. Ia piawai me¬manah burung. Pemuda kedua bernama Ratu Wulanwanna. Ia adalah anak seorang juragan kapal yang kaya raya. Karena kekayaannya itu membuatnya menjadi anak pemalas. Waktunya lebih banyak dihabiskannya untuk merenung di¬bandingkan untuk bekerja. Pemuda ketiga bernama Wonte Hall yang bekerja sebagai pembuat perahu. Pemuda keempat bernama Wonte Ulu yang berkerja sebagai nelayan. Sementara pemuda kelima adalah Wonte Tembaga yang terkenal sebagai tukang besi.

Dari lima orang itu, hanya Ratu Adioa yang dikenal sopan, rendah hati, dan sangat sayang terhadap kedua orang tuanya. Empat sahabat Ratu Adioa dikenal sebagai pemuda-pemuda yang kasar, sombong, kejam, dan sewenang-wenang.

Pada suatu hari lima sahabat itu berkumpul. Mereka berbincang-bincang dengan hangat. Se¬cara tak terduga, Ratu Wulanwanna mengusulkan agar mereka membunuh kedua orang tua mereka masing-masing. Kata Ratu Wulanwanna, “Selama orang tua kita masih hidup, kita senantiasa mereka kekang. Jika mereka telah meninggal, kita tidak hanya dapat bebas, melainkan juga akan mendapatkan harta warisan yang banyak. Kita bisa hidup senang dengan harta warisan orangtua kita masing-masing.”

Kecuali Ratu Adioa, ajakan Ratu Wulanwanna itu disambut teman-temannya. Sama sekali Ratu Adioa tidak setuju dengan rencana keji tersebut. Ia sangat sayang dan hormat pada kedua orangtuanya. Namun, ia tidak berani menunjukkan penolakannya, karena empat sahabatnya itu telah berikrar, siapa pun di antara mereka yang tidak berani membunuh orangtuanya sendiri akan mereka bunuh secara beramai-ramai!

Ketika masing-masing sahabatnya itu membu-nuh orangtuanya, Ratu Adioa mengungsikan kedua orangtuanya ke sebuah gua terpencil yang berada di tengah hutan. Ia telah membekali kedua orangtuanya itu dengan makanan yang cukup. Setiap hari secara diam-diam iajuga menjenguk kedua orang tuanya itu dan membawakan makanan untuk mereka. Selain itu. Ratu Adioa juga membuat dua makam palsu di halaman rumahnya. Iajuga menyembelih ayam dan mengoleskan darah sembelihannya itu pada dua nisan makam palsu buatannya.

Empat sahabat Ratu Adioa hidup berfoya-foya dengan harta warisan orangtua masing-masing. Tidak berapa lama harta mereka pun telah habis dan mereka jatuh miskin.

Pada suatu hari tiga kapal besar dari Kerajaan Timur berlabuh di tempat Ratu Adioa dan empat sahabatnya itu berada. Penduduk segera datang ke pelabuhan untuk melihat tiga kapal besar itu.

Salah seorang awak kapal itu berteriak, “Wahai sekalian penduduk! Kami adalah utusan dari Raja Timur. Kami datang membawa teka-teki yang ha¬rus kalian jawab. Jika jawaban kalian benar, maka seluruh iSi muatan kapal ini menjadi milik kalian. Namun, jika jawaban kalian salah, maka desa ini menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Timur.”

“Maaf, teka-teki apa yang harus kami jawab itu?” tanya Ratu Adioa.

Utusan Raja Timur menunjukkan dua teng-korak, dua ekor anak itik, dan dua gayung beriSi air. Ia meminta warga menebak mana tengkorak lelaki dan tengkorak perempuan untuk teka-teki pertama. Untuk teka-teki kedua, warga diminta menebak mana anak itik yang jantan dan mana pula yang betina. Adapun untuk teka-teki ketiga, warga diminta menebak mana air tawar dan mana pula air laut tanpa mencicipinya. “Kami memberi waktu seminggu bagi kalian untuk memecahkan tiga teka-teki kami ini,” kata utusan Raja Timur.

Ratu Adioa dan empat sahabatnya berusaha keras memecahkan tiga teka-teki yang sekilas sederhana namun sulit itu. Berulang-ulang mereka mencoba, namun tetap sulit bagi mereka untuk menjawabnya. Empat sahabat Ratu Adioa itu bahkan menyatakan, siapa pun juga di antara mereka yang mampu menjawab tiga teka-teki itu akan mereka angkat sebagai raja mereka.

Ratu Adioa teringat pada ayahnya yang diketahuinya cerdas lagi berpengalaman. Secara diam-diam ia lantas menemui ayahnya dan mengungkapkan tiga teka-teki yang rumit itu.

“Teka-teki itu tidak rumit, anakku,” kata ayah Ratu Adioa. “Mudah saja untuk menebaknya karena aku sendiri pernah melakukannya.”

“Bagaimana caranya, Ayah?” tanya Ratu Adioa.

“Gunakan sebatang lidi untuk mengetahui mana tengkorak lelaki dan perempuan. Masukkan ke dalam lubang telinga tengkorak itu,” jawab ayah Ratu Adioa. “Jika lidi itu lurus, maka itu tengkorak lelaki. Jika bengkok, berarti itu tengkorak perempuan.”

“Kalau membedakan anak itik yang jantan dan betina bagaimana caranya, Ayah?”

“Berilah makan dua anak itik itu. Jika anak itik itu makan sambil menengadahkan kepala, itu berarti anak itik jantan. Anak itik yang makan sambil menundukkan kepala adalah anak itik betina,” jawab ayah Ratu Adioa. “Adapun untuk membedakan air laut dan air tawar di dalam dua gayung, perhatikan airtersebutdi dalam gayung.

Jika air itu tampak beriak, itu air laut. Jika air itu tampak tenang, itu air tawar.”

Ratu Adioa sangat gembira mendengar jawaban ayahnya untuk memecahkan tiga teka-teki tersebut. Seminggu sesuai waktu yang dijanjikan utusan Raaj Timur, Ratu Adioa datang ke pelabuhan bersama empat sahabatnya dan juga warga desa lainnya. Baik empat sahabat Ratu Adioa dan juga segenap warga terlihat lesu karena belum mempunyai jawaban untuk menjawab tiga teka-teki yang diajukan utusan Raja Timur. Empat sahabat Ratu Adioa bahkan meminta Ratu Adioa untuk menjawab teka-teki itu agar desa mereka tidak dikuasai Kerajaan Timur.

Di hadapan utusan Raja Timur dan segenap warga desa, Ratu Adioa menjalankan cara yang ditunjukkan ayahnya. Dengan mudah ia bisa menebak mana tengkorak lelaki dan perempuan, menebak anak itik jantan dan betina, serta menebak air laut dan air tawar.

Utusan Raja Timur membenarkan semua tebakan Ratu Adioa. Sesuai janjinya, muatan tiga kapal besar itu diserahkan kepada Ratu Adioa. Empat sahabat Ratu Adioa dan juga segenap warga kemudian mengangkat Ratu Adioa sebagai raja mereka.

Setelah bertakhta sebagai raja, Ratu Adioa lantas menjemput kedua orangtuanya untuk tinggal bersamanya. Kepada empat sahabatnya itu ia menjelaskan bahwa semua jawaban atas teka-teki utusan Raja Timur itu didapatkannya dari ayahnya. “Seandainya orangtua kalian masih hidup, niscaya mereka dapat membantu kesulitan kalian,” katanya kepada empat sahabatnya itu.

Empat sahabat Ratu Adioa sangat menyesal dengan tindakan mereka. Tindakan mereka membunuh orangtua sesungguhnya tindakan keji dan menunjukkan kedurhakaan seorang anak terhadap orangtua. Tindakan yang hanya berbuah kemurkaan besar Tuhan.

Empat sahabat Ratu Adioa hanya bisa menyesali perbuatan keji mereka.

 

KEPADA ORANGTUA HENDAKLAH KITA SENANTIASA MENYAYANGI DAN MENGHORMATI. DURHAKA TERHADAP ORANGTUA AKAN BERBUAH KEMURKAAN TUHAN.

Sigarlaki dan Limbat – Cerita Rakyat Sulawesi Utara
Sigarlaki dan Limbat – Cerita Rakyat Sulawesi Utara

Seorang pemburu andal di Tondano pada masa lampau. Sigarlaki namanya. Sigarlaki amat terampil melemparkan tombak. Jika ia melontarkan tombaknya, hampir tidak pernah lontarannya itu meleset pada sasaran yang ditujunya.

Sigarlaki mempunyai seorang pelayan yang sangat setia, lambat namanya. Limbat senantiasa mengiringi Sigarlaki ketika berburu. Selain itu, Limbat selalu mentaati dan mematuhi perintah Sigarlaki. Selama menjadi pelayan Sigarlaki, Lim¬bat tidak pernah sekalipun mengkhianati Sigarlaki.

Pada suatu hari Sigarlaki mengajak Limbat untuk berburu. Sangat mengherankan, hari itu Sigarlaki tidak melihat hewan buruan meski hanya seekor pun. Yang didapatinya hanyalah hewan- hewan kecil yang tidak biasa menjadi hewan buruan. Seharian Sigarlaki terus mencari, tidak juga ia menemukan seekor hewan buruan pun. Menjelang senja ia memutuskan untuk kembali pulang. “Benar-benar hari yang sial,” katanya bersungut-sungut.

Sesampainya di rumah, kekesalan Sigarlaki kian menjadi-jadi ketika melihat daging per¬sediaannya telah hilang. Segera memuncak kemarahannya. Serunya pada Limbat, “Siapa yang berani mencuri daging persediaan kita?”

Limbat yang tidak mengetahui langsung menggelengkan kepalanya. “Saya tidak tahu, Tuan,” jawabnya.

Sigarlaki menatap wajah Limbat lekat-lekat. “Atau jangan-jangan … engkau sendiri yang mencuri daging persediaan kita itu!”

Limbat sangat terkejut dituduh mencuri daging persediaan milik Sigarlaki. Jawabnya, “Saya tidak mencurinya, Tuan. Bahkan, terlintas dalam pikiran saya pun tidak.”

“Aku tidak asal menuduh,” ujar Sigarlaki. “Selama ini tidak ada orang lain yang berani masuk ke rumahku ini. Hanya engkau dan aku. Lantas, jika daging itu hilang, pasti engkau yang telah mencurinya!”

“Tuan, janganlah Tuan menuduh saya men¬curi! Saya bukan pencuri! Selama saya menjadi pembantu Tuan, apakah pernah Tuan mendapati saya mencuri?”

Akan tetapi Sigarlaki terus saja menyudut¬kan dan menuduh Limbat telah mencuri daging persediaannya. Limbat terus saja menolak dan menyangkal tuduhan keji yang dialamatkan kepadanya itu.

“Benarkah engkau tidak mencurinya?”

“Benar, Tuan,” tegas jawaban Limbat. “Saya bersumpah bahwa saya tidak mencuri daging itu.”

“Engkau dapat dan berani membuktikannya?”

“Apa pun juga yang Tuan kehendaki untuk membuktikan bahwa saya tidak bersalah, saya bersedia melakukannya,” kata Limbat.

Sigarlaki pun memberikan syarat yang sangat berat untuk Limbat. Sigarlaki akan menancapkan tombaknya ke dalam sebuah kolam. Bersamaan dengan itu ia memerintahkan Limbat untuk menyelam ke dalam kolam itu. “Jika engkau keluar dari kolam Itu sebelum aku mencabut tombakku, maka itu berarti engkau mencuri daging persediaan kita. Namun, jika aku mencabut tombakku sebelum engkau muncul dari kolam, itu berarti engkau memang tidak mencurinya. Bagaimana? Engkau berani menerima tantanganku untuk membuktikan kejujuranmu?”

Limbat merasa syarat yang diajukan Sigarlaki sangat berat. Namun, Limbat bersikeras untuk melakukannya untuk membuktikan bahwa ia memang bukan pencuri.

Sigarlaki dan Limbat lantas menuju sebuah kolam. Sigarlaki lalu menancapkan tombaknya beriringan dengan tubuh Limbat yang memasuki kolam tersebut. Limbat menyelam di dalam kolam seraya menahan napas.

Beberapa saat kemudian terlihat seekor babi hutan datang dari hutan untuk meminum di kolam itu. Sigarlaki terperanjat mendapati babi hutan itu. tombak yang ditancapkannya segera dicabutnya. Dibidiknya babi hutan itu dan dilontarkannya tombaknya. Sangat mengherankan, lontaran tombak Sigarlaki luput dari sasaran yang dibidiknya. Babi hutan itu lalu berlari untuk memasuki hutan kembali.

Karena Sigarlaki telah mencabut tombaknya sebelum Limbat keluar dari kolam, sesungguhnya Sigarlaki telah kalah. Limbat sudah seharusnya bebas dari tuduhan pencurian. Namun, Sigarlaki tetap tidak mau mengakui kekalahannya. Ia menyatakan pengangkatan tombaknya itu belum dihitung karena ia melihat seekor babi hutan. “Kita ulangi sekali lagi,” kata Sigarlaki.

Limbat hanya bisa menerima perintah Sigarlaki. Ia langsung menyelam ke dalam kolam ketika majikannya menancapkan tombaknya. Baru juga beberapa saat Limbat menyelam, seekor kepiting besar datang dan mendekati kaki Sigarlaki. Dengan dua capit besarnya, kepiting itu menggigit kaki Sigarlaki.

Sigarlaki menjerit kesakitan akibat gigitan kepiting itu. Serentak ia mencabut tombaknya. Sekali lagi Limbat telah membuktikan jika dirinya bukan pencuri. Sigarlaki yang asal menuduh itu telah mendapatkan hukuman berupa gigitan kepiting besar yang sangat menyakitkan pada kakinya!

 

JANGAN ASAL MENUDUH JIKA TIDAK MEMPUNYAI BUKTI YANG KUAT. TUDUHAN TANPA BUKTI YANG KUAT BISA JADI BERUPA FITNAH.

Kisah Ahmad dan Muhammad – Cerita Rakyat Sumatra Utara
Kisah Ahmad dan Muhammad – Cerita Rakyat Sumatra Utara

Pada zaman dahulu hiduplah sepasang suami istri yang mempunyai dua orang anak. Ahmad dan Muhammad nama kedua anak itu.

Ahmad dan Muhammad dikenal sebagai anak yang baik hati. Keduanya patuh pada perintah orangtuanya dan sangat rajin membantu kedua orangtua mereka. Selain itu, Ahmad dan Muhammad juga rajin ke surau untuk bersembahyang dan juga mengaji.

Pada suatu hari Ahmad dan Muhammad melihat seekor burung merbuk. Burung yang sangat istimewa dalam pandangan masyarakatnya. Menurut cerita, barangsiapa yang memakan kepala burung merbuk akan menjadi raja. Barangsiapa yang memakan hati burung merbuk akan menjadi menteri. Ahmad dan Muhammad lantas menangkap burung merbuk itu. Namun, mereka tidak berniat menyembelih burung merbuk tangkapan mereka, melainkan hendak memeliharanya.

Dalam pemeliharaan keduanya, burung merbuk itu menjadi jinak. Burung merbuk itu tidak dikandangkan. Ia bebas terbang, namun terbangnya Si burung merbuk tidak jauh dari rumah Ahmad dan Muhammad. Setiap kali mendapati Ahmad dan Muhammad berada di rumah, Si burung merbuk hinggap di dekat keduanya. Ahmad dan Muhammad selalu mengajak burung merbuk itu ke ladang ketika membantu pekerjaan ayah mereka.

Ayah Ahmad dan Muhammad ingin menjadi raja atau setidak-tidaknya menteri. Menurutnya, keinginan itu akan terlaksana jika ia memakan kepala atau hati burung merbuk. Ia dan istrinya lantas berembuk untuk menyembelih dan memasak burung merbuk piaraan kedua anak mereka. Setelah memikirkan berbagai cara, mereka pun

menemukan cara untuk mewujudkan niat mereka menyembelih dan memasak burung merbuk.

Pada suatu hari Ahmad dan Muhammad berniat mengajak burung merbuk itu ke ladang seperti biasanya. Namun, ibu mereka melarangnya. Kata ibu mereka, ‘Aku khawatirjika burung merbuk yang jinak itu akan diambil orang.”

Ahmad dan Muhammad yang patuh pada nasihat orangtua lantas mengiyakan perintah ibunya. Mereka tinggalkan burung merbuk itu ketika berangkat ke ladang.

Sepeninggal Ahmad dan Muhammad, ibu mereka menangkap dan menyembelih burung merbuk. Dibuatnya menjadi daging burung panggang. Ketika Ahmad dan Muhammad pulang dari ladang, ibu mereka berdusta dengan mengatakan, “Sepeninggal kalian, burung merbuk piaraan kalian itu diterkam kucing. Ibu buru-buru menyembelihnya dan memanggangnya.”

Ahmad dan Muhammad sangat sedih mendapati burung merbuk piaran mereka itu telah dijadikan daging panggang. Mereka terpaksa memakan daging burung piaraan mereka itu sebagai lauk teman nasi. Ahmad mengambil bagian kepala burung merbuk dan memakannya. Muhammad memakan hati burung merbuk. Karena telah sangat lapar, keduanya makan dengan amat lahapnya.

Tak terkirakan kemarahan ayah Ahmad dan Muhammad ketika mendapati kedua anaknya itu telah mendahuluinya memakan kepala dan hati burung merbuk. Begitu marahnya ia hingga dua anaknya itu diusirnya dari rumahnya.

Ahmad dan Muhammad pergi dari rumah tanpa membawa bekal apa pun juga. Mereka pergi tak tentu arah. Jika perut mereka terasa lapar, mereka mencari buah-buahan, umbi- umbian, dan dedaunan yang mereka temukan untuk makanan mereka. Ketika hari menjelang senja, keduanya tiba di pinggir sebuah hutan. Ahmad dan Muhammad berniat bermalam di pinggir hutan itu. Mereka mendapati sebuah pohon besar. Ahmad meminta adiknya untuk tidur di atas pohon, sementara dirinya tidur di bawah pohon seraya berjaga-jaga.

Syahdan, tersebutlah sebuah kerajaan yang diperintah seorang raja yang telah tua usianya. Sang raja tidak mempunyai anak lelaki. Anak- anak perempuannya tidak diperkenankan menjadi raja penggantinya sesuai adat yang berlaku pada kerajaan itu. Raja pun mengadakan sayembara. Barangsiapa yang disembah Gajah Putih piaraannya, maka ia berhak menjadi pengganti dirinya.

Gajah Putih piaraan raja lantas dilepas. Perdana Menteri diikuti para hulubalang dan prajurit mengawal di belakang Gajah Putih. Gajah Putih itu terus berjalan hingga akhirnya tibalah ia

di pinggir hutan. Di dekat tempat Ahmad tidur, Gajah Putih itu mendadak merebahkan tubuhnya dan bersujud.

Perdana Menteri, segenap hulubalang dan para prajurit mendapati Ahmad tengah tertidur di depan Gajah Putih. Mereka lantas menaikkan tubuh Ahmad ke atas punggung Gajah Putih dan segera mereka kembali ke istana kerajaan. Mereka telah menemukan calon pengganti raja mereka.

Ketika Ahmad terbangun, terperanjatlah dirinya ketika mendapati dirinya berada di istana kerajaan. Sang Raja menyambutnya dengan gembira. Begitu pula dengan warga kerajaan lainnya. Sang Raja lantas mengajak Ahmad memasuki istana kerajaan dan sejak saat itu Ahmad tinggal di istana kerajaan sebagai calon pengganti raja.

Sementara Muhammad yang masih berada di pinggir hutan sangat terperanjat ketika terbangun. Ia tidak mendapati kakaknya. Ia menyangka, kakaknya itu telah dimangsa hewan buas penghuni hutan. Muhammad sangat bersedih. Ia pun menangis di bawah pohon besar tempatnya beristirahat. Muhammad lantas mencari kakaknya ke dalam hutan. Ia terus mencari hingga akhirnya tersesat di dalam hutan belantara tersebut.

Pada suatu hari Muhammad melihat dua ekor burung rajawali besar tengah bertarung. Selintas mengamati, Muhammad mengetahui jika dua burung rajawali besar itu tengah memperebutkan sebatang ranting kayu.

“Tentu bukan ranting kayu biasa,” pikir muhammad. “Bisa jadi, itu sebatang ranting kayu bertuah.”

Mendadak ranting kayu yang diperebutkan dua burung rajawali besar itu jatuh di dekat sempat Muhammad berdiri. Muhammad lalu mengambilnya. Muhammad lantas berujar, wahai ranting kayu bertuah, tolong antarkan aku kepada kakakku.”

Keajaiban pun terjadi. Sesaat setelah muhammad berujar, tubuhnya melayang dan jatuh kemudian di taman kerajaan. Putri bungsu Sang raja yang tengah berada di taman seketika itu menjerit ketakutan ketika mendapati Muhammad berada di taman kerajaan itu. Para prajurit bergegas datang ke taman kerajaan dan menangkap muhammad.

Muhammad pun dianggap bersalah karena merasuki taman kerajaan tanpa izin. Ia harus diadili.

Ketika pengadilan atas diri Muhammad di adakan, Sang Raja turut menyaksikan jalannya persidangan. Ahmad turut pula menghadiri. Ia

duduk di samping Sang Raja. Ketika itu Ahmad tidak lagi mengenali siapa sosok pemuda yang tengah menjadi pesakitan tersebut.

Di hadapan Sang Raja, Ahmad, dan juga segenap hadirin, Muhammad lantas menceritakan siapa dirinya dan juga penyebab dirinya hingga dapat berada di taman kerajaan. Terperanjatlah Ahmad ketika mendengar penuturan Si pesakitan yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri.

Ahmad lantas menjelaskan kepada Sang Raja perihal siapa sesungguhnya Si pesakitan.

“Benarkah orang itu adikmu?” tanya Sang Raja.

“Benar, Yang Mulia,”

Sang Raja pun membebaskan Muhammad. Sang Raja dan segenap hadirin begitu terharu ketika Ahmad dan Muhammad saling berpelukan di hadapan mereka. Muhammad lantas hidup di istana kerajaan bersama kakak tercintanya.

Beberapa waktu kemudian Sang Raja menikahkan putri sulungnya dengan Ahmad dan putri bungsunya dengan Muhammad. Pesta pernikahan itu dilangsungkan dalam acara yang megah dan besar-besaran. Para raja, pangeran, bangsawan, dan orang-orang ternama diundang dalam acara pernikahan tersebut. Berselang beberapa waktu kemudian Sang Raja dan Perdana Menteri mengundurkan diri. Ahmad ditunjuk menjadi raja pengganti dan Muhammad juga menjabat perdana menteri.

Ahmad dan Muhammad pun hidup berbahagia sebagai raja dan perdana menteri. Mereka memerintah dengan adil dan bijaksana hingga rakyat pun kian maju dan sejahtera.

KITAHENDAKLAH SALING SAYANG-MENYAYANGI DENGAN SAUDARA. KEBERSAMAAN DENGAN SAUDARA AKAN DAPAT SALING KUAT-MENGUATKAN.