Kategori: Sumatra Barat

Bujang Paman – Cerita Rakyat Sumatra Barat
Bujang Paman – Cerita Rakyat Sumatra Barat

Seorang raja yang memerintah di nagari Koto Anau. Raja Aniayo namanya. Raja Aniayo dikenal buruk kelakuannya. Ia kejam dan sewenang-wenang. Kekejamannya tidak hanya terbatas pada orang lain, bahkan terhadap keluarganya sendiri juga. Ia juga gemar berjudi.

Salah satu istri Raja Aniayo bernama Puti Bungsu. Enam kakak Puti Bungsu telah lama merantau dan mendapatkan keberhasilan dalam perantauannya. Mengetahui enam kakak istrinya berharta banyak, timbullah dengki dan iri hati Raja Aniayo. Secara rahasia ia memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk meracuni enam kakak istrinya itu. Semua harta kekayaan enam kakak Puti Bungsu itu akhirnya jatuh ke tangan Puti Bungsu setelah enam kakaknya meninggal dunia. Dengan kejam Raja Aniayo lantas meminta semua harta peninggalan enam kakak istrinya itu. Semua harta kekayaan itu lantas dibuatnya untuk berjudi. Habislah semua harta itu di perjudian. Raja Aniayo kembali meminta harta kepada Puti Bungsu.

“Sungguh, aku tidak lagi mempunyai harta peninggalan kakak-kakakku. Semuanya telah kuserahkan kepadamu,” jawab Puti Bungsu.

Raja Aniayo sangat murka mendengarjawaban istrinya. Ia lantas memerintahkan prajuritnya untuk membuang istrinya itu ke hutan.

Ketika dibuang ke hutan, Puti Bungsu tengah mengandung. Betapa sengsara dan menderitanya Puti Bungsu hidup sendirian di hutan dalam keadaan mengandung. Ia terpaksa memakan buah-buahan, umbi, dan juga dedaunan yang didapatkannya untuk bertahan hidup. Ia juga sendirian ketika melahirkan seorang bayi lelaki yang diberinya nama Bujang Paman.

Kehadiran Puti Bungsu dan anaknya itu mengundang iba hewan-hewan di hutan. Mereka mencarikan makanan untuk Puti Bungsu dan Bujang Paman. Setelah Bujang Paman dapat berjalan dan berlari, hewan-hewan itu menjadi sahabat Bujang Paman. Mereka mengajari Bujang Anam cara-cara memanjat, memilih buah dan umbi yang bisa untuk dimakan.

Waktu terus berlalu dan Bujang Paman pun tumbuh menjadi remaja. Tampak sehat dan kuat tubuhnya. Sigap dan gesit pula tindakannya. Setelah ia mengetahui siapa sesungguhnya ayahnya dari penjelasan ibunya, suatu hari ia pamit kepada ibunya untuk keluar hutan. Ia ingin mencari pengalaman hidup baru dan sebisa mungkin mencari keberadaan ayahnya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya Bujang Paman akhirnya keluar dari hutan. Ia terus berjalan hingga akhirnya menemukan sebuah pondok. Bertemulah ia dengan pemilik pondok. Mande Rubiah namanya. Bujang Paman menjelaskan siapa dirinya dan Mande Rubiah yang iba kepada Bujang Paman lantas mengizinkan Bujang Paman untuk tinggal bersamanya. Mande Rubiah kemudian juga memperkenankan Puti Bungsu untuk tinggal bersamanya. Selama tinggal bersama Mande Rubiah, Bujang Paman bertugas menggembalakan sapi milik Mande Rubiah.

Waktu terus berlalu. Menginjak akhir usia remajanya, Bujang Paman berniat pergi merantau. Ia berpamitan pada ibu danjuga Mande Rubiah. Bujang Paman terus mengadakan perjalanan hingga akhirnya tibalah ia di Muaro Paneh. Bujang Paman lantas memutuskan untuk tinggal beberapa saat di Muaro Paneh tersebut. Untuk bekal hidup sehari-hari, Bujang Paman berdagang berkeliling dari kampung ke kampung.

Pada suatu hari Bujang Paman berkenalan dengan seorang perempuan kaya raya yang baik hati. Puti Reno Ali namanya. Puti Reno Ali merasa iba sekaligus kagum dengan Bujang Paman. Ia pun memberikan sejumlah uang dan juga emas kepada Bujang Paman agar dijadikan modal berdagang. Dengan modal yang cukup banyak itu Bujang Paman pun menuju Solok untuk membeli berbagai barang yang akan didagangkannya kemudian. Namun, sebelum berhasil membeli aneka barang keperluannya, Bujang Paman telah dicegat Raja Aniayo dan para prajuritnya. Raja yang tak lain ayah kandung Bujang Paman itu merampas semua uang dan emas yang dibawa Bujang Paman. Tidak itu saja, Raja Aniayojuga memerintahkan prajuritnya untuk menghajar dan mengikat tangan Bujang Paman untuk kemudian dibuang ke tengah hutan.

Dalam keadaan luka-luka dan tangan terikat, Bujang Paman pun berdoa kepada Tuhan. Ia memohon pertolongan-Nya.

Seekor harimau besar mendadak muncul dan menghampiri Bujang Paman. Bujang Paman sangat ketakutan. Ia menyangka akan segera menemui kematian akibat diterkam hewan buas itu. Namun, alangkah herannya Bujang Paman mendapati hewan buas itu tidak menerkamnya. Dengan gigi- giginya yang tajam, Si harimau bahkan menggigit tali pengikat tangan Bujang Paman. Si harimau juga menjilati bagian-bagian tubuh Bujang Paman yang terluka. Ajaib, luka-luka itu seketika sembuh tidak berbekas. Bahkan, Bujang Paman merasakan kekuatannya bertambah berlipat-lipat kali. Si harimau lantas kembali memasuki kelebatan hutan.

Bujang Paman kemudian kembali ke rumah Puti Reno Ali dan menjelaskan semua kejadian yang dialaminya. Puti Reno Ali percaya dengan kejujuran Bujang Paman. Ia bahkan memberikan modal lagi untuk Bujang Paman berdagang.

Keesokan harinya Bujang Paman kembali ke Solok untuk membeli aneka barang yang hendak didagangkannya. Ketika Bujang Paman tiba di pasar Solok, Raja Aniayo dan para prajuritnya melihat keberadaan Bujang Paman. Rajo Aniayo kembali memerintahkan para prajuritnya untuk menangkap Bujang Paman. Mereka merampas semua uang yang dibawa Bujang Paman. Para prajurit itu lantas membawa Bujang Paman ke hutan. Salah seorang prajurit membelah batang kayu dan menjepit kedua kaki Bujang Paman dengan belahan batang kayu tersebut.

Bujang Paman kembali berdoa dan memohon pertolongan Tuhan.

Tak berapa lama Bujang Paman selesai berdoa, datang kembali seekor harimau besar menghampiri Bujang Paman. Sama seperti yang dilakukan sebelumnya, Si harimau itu menolong Bujang Paman. Dengan cakarnya yang besar lagi kuat, Si harimau membelah kayu penjepit kaki Bujang Paman. Si harimau juga menjilati kaki Bujang Paman setelah kayu penjepit itu terbelah. Seketika itu pula menghilang rasa sakti yang dialami Bujang Paman sejak kedua kakinya dijepit. Ia juga merasa kekuatan kakinya bertambah.

Bujang Paman lantas hendak kembali ke rumah Puti Reno Ali. Sama sekali tak disangkanya jika di rumah Puti Reno Ali itu ia melihat Raja Aniayo beserta para prajuritnya. Begitu pula halnya dengan Rajo Aniayo. Sama sekali tidak disangkanya jika Bujang Paman dapat selamat dan bahkan berada di rumah Puti Reno Ali. Raja Aniayo lantas memerintahkan para prajuritnya untuk memancung Bujang Paman.

“Wahai Tuanku, bagaimana mungkin Tuanku begitu tega memerintahkan prajurit Tuanku untuk menghukum mati hamba yang tidak lain anak kandung Tuanku?” ujar Bujang Paman.

Tak terkirakan terkejutnya Raja Aniayo saat mendengar ucapan Bujang Paman. “Jangan engkau mengaku-ngaku!” sergah Raja Aniayo.

Bujang Paman lantas menjelaskan siapa sesungguhnya dirinya.

Di dalam hatinya, Raja Aniayo sebenarnya mengakui kebenaran penjelasan Bujang Paman. Namun, ia tidak mau mengakuinya. Ia bahkan bersikeras untuk menghukum mati Bujang Paman. Tidak melalui tangan prajuritnya, melainkan melalui tangannya sendiri!

“Hamba tidak ingin melawan ayahanda karena itu merupakan larangan ajaran kita,” ujar Bujang Paman ketika melihat ayahnya mendekatinya seraya menghunus pedang.

“Aku bukan ayahandamu!” bentak Raja Aniayo.

“Ayahanda, betapa kejamnya ayahanda ini! Dulu ayahanda hendak membunuh ibu, kini hendak pula membunuhku. Maafkan aku jika aku harus mempertahankan diri.”

Raja Aniayo menghantamkan pedang besarnya ke bahu Bujang Paman. Sangat mengherankan, pedang itu langsung patah ketika mengenai bahu Bujang Paman. Raja Aniayo terkejut. Segera dilemparkannya pedangnya yang telah patah itu dan mengambil tongkat manau. Raja Aniayo lalu menyerang Bujang Paman. Berulang-ulang tongkat manau itu mengenai tubuh Bujang Paman, namun sama sekali Bujang Paman tidak terluka.

Raja Aniayo kian murka. Ia merasa dipermainkan Bujang Paman. Segera direbutnya pedang prajuritnya dan digunakannya untuk menyerang Bujang Paman secara membabi-buta. Berulang-ulang Bujang Paman tidak berusaha mengelak dan bahkan terkesan membiarkan tubuhnya menjadi sasaran serangan Raja Aniayo. Hingga akhirnya ia pun melawan. Dengan gesit ia mengelak dan melancarkan serangan balasan. Hanya sekali balasan, namun telah membuat Raja Aniayojatuh terjengkang. Pedang yang digenggam raja kejam itu terlepas. Begitu kerasnya serangan balasan Bujang Paman hingga Raja Aniayo yang bengis lagi sewenang-wenang itu akhirnya menemui kematiannya.

Para prajurit Raja Aniayo tersentak mendapati pemimpin mereka meninggal dunia langsung meminta ampun dan menyatakan jika mereka selama itu terpaksa mendukung Raja Aniayo karena takut dengan Raja Aniayo. Bujang Paman mengampuni para prajurit itu.

Warga langsung bergembira setelah mengetahui Raja Aniayo telah tewas. Mereka menyalami Bujang Paman dan mengucapkan terima kasih karena telah melenyapkan Raja Aniayo yang sangat kejam lagi sewenang-wenang tindakannya tersebut.

Setelah menguburkanjenazah Raja Aniayo; segenap rakyat akhirnya bersepakat bulat untuk menunjuk Bujang Paman sebagai raja mereka yang baru. Mereka memberikan gelar untuk Bujang

Paman dengan gelar Rajo Mudo.

Bujang Paman pun bertakhta dengan gelar Rajo Mudo. Beberapa saat setelah ia bertakhta, ia pun menjemput ibunya dan Mande Rubiah untuk tinggal di istana kerajaan. Rajo Mudo kemudian menikahi Puti Reno Ali yang telah banyak membantunya.

Rajo Mudo memerintah dengan adil dan bijaksana. Kepentingan dan kesejahteraan rakyat senantiasa diupayakannya. Rakyat yang tenang, damai, dan sejahtera senantias bersyukur kepada Tuhan karena mendapatkan pemimpin yang baik seperti pada diri Bujang Paman itu.

KEBATILAN DAN KESEWENANG-WENANGAN BETAPA PUN KUATNYA. AKAN DAPAT DITUMPAS DAN DIKALAHKAN OLEH KEBENARAN. KESABARAN AKAN MENUAI KEBAHAGIAAN DI KEMUDIAN HARI.

Lebai Nan Malang – Cerita Rakyat Sumatra Barat
Lebai Nan Malang – Cerita Rakyat Sumatra Barat

Seorang guru agama bernama Lebai. Biasa ia disapa dengan panggilan Pak Lebai.

Pak Lebai tinggal di sebuah tepian sungai. Ia sangat terkenal di antara warga kampung yang tinggal dari hulu hingga hilir sungai tersebut. Pak Lebai akan diundang jika ada hajatan yang diadakan warga. Biasanya, ia akan diminta untuk mendoakan hajat yang tengah dilaksanakan tuan rumah tersebut. Biasanya pula, Pak Lebai akan mendapat bagian istimewa dari hewan yang disembelih untuk hajat tersebut, yakni bagian kepala.

Pada suatu hari Pak Lebai mendapat undangan dari kenalannya. Kenalannya yang tinggal di hulu sungai itu hendak menikahkan anaknya. Pak Lebai menyatakan akan datang memenuhi undangan tersebut. Namun tak berapa lama kemudian datang undangan pernikahan pula dari muridnya yang tinggal di hilir sungai. Kepada utusan yang memberikan undangan, Pak Lebai juga menyatakan akan menghadirinya.

Pak Lebai menjadi kebingungan saat mengetahui kedua undangan itu ternyata dilaksanakan pada hari yang sama. Ia merasa terlalu terburu-buru menyatakan akan memenuhi dua undangan itu tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Maka, pada hari yang telah ditentukan, Pak Lebai tetap dalam kebingungannya untuk menentukan undangan mana yang sebaiknya ia datangi.

Menurut kabar yang didengarnya kemudian, pesta pernikahan anak kenalannya di hulu itu akan menyembelih dua ekor kerbau. Dengan demikian Pak Lebai akan mendapat dua kepala kerbau jika ia datang menghadiri undangan tersebut. Namun ia juga mendengar kabar, orang yang bertugas

memasak pada pesta hajatan itu dikenal kurang enak masakannya.

Pak Lebai menjadi ragu-ragu untuk datang memenuhi undangan kenalannya yang tinggal di hulu sungai itu. Dua kepala kerbau memang bagian yang sangat menggiurkan. Namun, jika masakannya kurang enak, apalah arti dua kepala kerbau itu? Apalagi, ia juga tidak terlalu mengenal dengan baik tuan rumah pesta pernikahan tersebut.

Pak Lebai tampaknya lebih memilih untuk datang memenuhi undangan pernikahan muridnya yang tinggal di hilir sungai. Menurut berita yang didengarnya, acara pernikahan tersebut hanya akan menyembelih seekor kerbau dan ia akan mendapatkan bagian kepala kerbau. Namun, orang di hilir sungai terkenal akan kelezatan masakannya. Masakan satu kepala kerbau yang lezat tentu lebih menyenangkan dibandingkan masakan dua kepala kerbau yang kurang enak. Terlebih-lebih Pak Lebai juga sangat mengenal tuan rumah pesta pernikahan itu hingga ia lebih memilih untuk datang menghadirinya.

Pak Lebai kemudian pergi ke sungai dan mulai mengayuh perahu kecilnya. Ia berniat ke hilir sungai untuk memenuhi undangan pernikahan muridnya. Terbayang di benaknya bagian kepala kerbau yang telah dimasak lezat yang akan diterimanya. Terbayang pula aneka hidangan lezat lainnya yang dapat dinikmatinya ketika menghadiri undangan nanti.

Namun, di tengah jalan Pak Lebai mendadak menghentikan kayuhannya. Ia tampak ragu-ragu untuk meneruskan perjalanan. Dalam benaknya, dua kepala kerbau, meski dimasak kurang enak, lebih banyak dibandingkan satu kepala kerbau. Lagipula, ia masih bisa mengolah kembali daging itu dengan menambahkan bumbu. Setelah berpikir demikian, Pak Lebai lantas mengayuh perahunya menuju hulu sungai untuk menghadiri pernikahan anak kenalannya.

Pak Lebai terus mengayuh perahunya menuju hulu. Namun, di tengah perjalanan ia kembali diterpa kebingungan dan keragu-raguan. Satu kepala kerbau yang sangat enak rasanya ketika dimasak dirasanya lebih menguntungkan baginya dibandingkan masakan dua kepala kerbau yang kurang enak. Memikirkan hal itu membuat Pak Lebai segera mengubah haluan. Dikayuhlah perahu kecilnya untuk kembali menuju hilir. Dimantapkan hatinya untuk menghadiri pesta pernikahan muridnya.

Menjelang beberapa saat sebelum tiba di tempat pesta pernikahan diadakan, Pak Lebai berpapasan dengan beberapa orang tetangganya. Pak Lebai keheranan melihat beberapa tetangganya itu tampak bergegas meninggalkan pesta pernikahan. “Apa yang terjadi?” tanya Pak Lebai.

Salah seorang tetangga Pak Lebai menjawab, “Pak Lebai, aku baru saja dari pesta pernikahan murid bapak itu. Ternyata kerbau yang disembelih itu kurus tubuhnya. Lebih baik aku menghadiri pesta pernikahan di hulu. Di sana disembelih dua ekor kerbau. Seandainya dua kerbau itu kurus- kurus badannya pun, tetap aku akan mendapatkan bagian daging yang lebih banyak.”

Pak Lebai menjadi ragu-ragu untuk meneruskan perjalanannya. Ia termangu-mangu beberapa saat. Terus ditimbang-timbangnya antara meneruskan perjalanan dan mendapat kepala kerbau kurus atau haruskah ia mengikuti jejak beberapa tetangganya untuk ke hulu dan mendapatkan dua kepala kerbau? Bagaimanapun juga, menurutnya tentu lebih menyenangkan baginya mendapatkan dua kepala kerbau meski kurang enak rasanya. Pak Lebai lantas kembali mengubah haluan. Ia bersegera mengayuh perahu kecilnya untuk menyusul beberapa tetangganya.

Malang benar nasib Pak Lebai. Sesampainya ia di tempat pesta pernikahan anak kenalannya di hulu sungai, pesta pernikahan itu telah usai. Hidangan telah habis disantap para undangan. Tidak menyisakan sedikit daging pun, termasuk dua kepala kerbau yang sedianya disiapkan untuknya. Semuanya habis disantap karena menyangka Pak Lebai tidak datang.

Dengan rasa kecewa Pak Lebai lantas mengayuh perahu kecilnya menuju hilir. Ia bergegas mengayuh agar masih bisa mendapatkan kepala kerbau meski kecjl,sekalipun. Ia terus mengayuh sepenuh tenaganya agar lekas tiba di pesta pernikahan muridnya itu. Perutnya terasa melilit karena lapar dan itu membuatnya kian cepat mengayuh agar selekasnya dapat menyantap.

Lagi-lagi Pak Lebai harus menelan kekecewaannya yang besar. Setibanya ia di pesta pernikahan muridnya itu, pesta pernikahan itu telah usai. Semua hidangan telah habis disantap para undangan. Wajah mereka menyiratkan kepuasan, seperti masih terbayang kelezatan hidangan yang disajikan. Pak Lebai hanya bisa menelan air ludahnya sendiri, sama sekali tidak ada hidangan tersisa yang masih bisa dimakannya!

Setelah sejenak berbincang-bincang, Pak Lebai lalu kembali ke rumahnya. Bersungut- sungut wajahnya. Melilit pula perutnya akibat rasa lapar dan juga kelelahan mendayung perahu kedinya bolak-balik dari hilir ke hulu. Setibanya di rumah, ia pun menyantap makanan seadanya yang ada di rumahnya. Benar-benarjengkel dan menyesal ia terombang-ambing karena tidak

mempunyai pendirian yang tetap. Seandainya ia telah menetapkan pendiriannya, tentu ia tidak harus makan seadanya di rumahnya sendiri seperti yang dilakukannya waktu itu.

Pagi-pagi keesokan harinya Pak Lebai berencana memancing dan berburu untuk mendapatkan lauk makan nasinya. Dibawanya sebungkus naSi untuk bekal. Untuk membantu tugas perburuannya, Pak Lebai telah meminjam anjing milik tetangganya. Pak Lebai mulai memancing. Beberapa saat ia melepaskan kail, mata kailnya dirasakannya ada yang menarik. Pak Lebai dapat merasakan, seekor ikan besar yang menarik kailnya. Pak Lebai buru-buru menarik kailnya. Akibatnya mata kailnya tersangkut batu di dasar sungai. Setelah berulang-ulang tidak berhasil melepaskan kailnya yang tersangkut pada batu, Pak Lebai langsung menceburkan dirinya ke sungai. Ia lalu menyelam. Benar, dilihatnya mata kailnya tersangkut batu sementara seekor ikan besar tersangkut pada mata kailnya itu. Pak Lebai lantas melepaskan kailnya yang tersangkut batu. Segera pula ia memegang ikan besar yang memakan umpan pada mata kailnya itu. Terburu- buru ia melepaskan mata kail yang menyangkut di mulut Si ikan, ikan itu meronta-ronta hingga akhirnya terlepas.

Jengkel dan kecewalah hati Pak Lebai karenanya. Ia pun bergegas naik ke darat. Tak terkirakan jengkel dan terkejutnya ia ketika mendapati sebungkus naSi bekalnya telah habis dimakan anjing yang dibawanya!

Karena kejadian-kejadian itu Pak Lebai mendapat julukan Si Lebai Malang.

HENDAKLAH KITA MEMPUNYAI PENDIRIAN YANG TEGAS SETELAH MEMIKIRKAN TINDAKAN YANG AKAN KITA TENTUKAN. JANGAN RAGU-RAGU KARENA KERAGU-RAGUAN AKAN MENDATANGKAN KERUGIAN DI KEMUDIAN HARI.

Malim Deman – Cerita Rakyat Sumatra Barat
Malim Deman – Cerita Rakyat Sumatra Barat

Hiduplah seorang pemuda yatim pada zaman dahulu. Malim Deman namanya. Ia pemuda yang rajin lagi giat bekerja. Setiap hari ia mengerjakan sawah dan ladang milik ibunya yang berada di pinggir hutan. Ia bekerja membantu pamannya.

Di sekitar sawah milik ibu Malim Deman itu tinggallah seorang janda. Mandeh Rubiah namanya. Malim Deman sangat akrab dengan janda tua itu. Bahkan, Mandeh Rubiah telah menganggap Malim Deman sebagai anaknya sendiri. Mandeh Rubiah kerap mengirimkan makanan kepada Malim Deman ketika Malim Deman tengah menjaga tanaman padinya pada malam hari.

Pada suatu malam Malim Deman kembali menjaga tanaman padinya. Ia hanya seorang diri. Mendadak ia merasa sangat haus. Malim Deman segera ke pondok Mandeh Rubiah untuk meminta air minum. Belum juga Malim Deman tiba di pondok Mandeh Rubiah, Malim Deman mendengar suara beberapa perempuan di belakang pondok Mandeh Rubiah. Dengan berjalan berjingkat-jingkat, Malim Deman segera menuju sumber suara yang sangat mencurigakan tersebut.

Terperanjatlah Malim Deman ketika melihat tujuh bidadari tengah mandi di kolam yang terletak di belakang pondok Mandeh Rubiah. Malim Deman sangat terpesona melihat kecantikan tujuh bidadari itu ketika wajah mereka terkena sinar rembulan yang tengah purnama. Malim Deman juga melihat tujuh selendang tergeletak di dekat kolam itu. Malim Deman menerka, tujuh selendang itu digunakan para bidadari untuk terbang dari Kahyangan ke kolam itu. Maka, dengan berjalan mengendap-endap ia mendekati tujuh selendang Itu dan mengambil salah satu selendang. Segera disembunyikan selendang itu dan ia kembali mengintip tujuh bidadari yang tetap mandi tersebut.

Menjelang waktu pagi datang, tujuh bidadari itu berniat pulang kembali ke Kahyangan. Salah satu bidadari, yakni bidadari bungsu, tidak dapat menemukan selendangnya. Enam kakaknya telah berusaha turut mencari, namun selendang Si Bungsu itu tetap tidak ditemukan. Ketika waktu pagi hari hampir tiba, enam bidadari itu terpaksa meninggalkan adik bungsu mereka. Keenamnya menggunakan selendang mereka untuk terbang kembali ke Kahyangan.

Sepeninggal kakak-kakaknya, Si Bungsu menangis. Ia ketakutan untuk tinggal di bumi. Malim Deman lantas mendekati dan menghibur Si bidadari bungsu. Malim Deman kemudian mengajak bidadari itu ke rumah Mandeh Rabiah. Dengan hati gembira Mandeh Rabiah menerima bidadari bernama Putri Bungsu itu dan mengakuinya sebagai anak.

Malim Deman kembali ke rumahnya setelah mengantarkan bidadari bernama Putri Bungsu itu ke rumah Mandeh Rabiah.

Sesampainya di rumah, Malim Deman menceritakan kejadian yang dialaminya kepada bundonya. Dijelaskannya pula adanya bidadari yang tinggal bersama Mandeh Rabiah. Malim Deman lalu memberikan selendang bidadari itu kepadanya ibunya dan meminta ibunya untuk menyimpan selendang tersebut.

Sejak saat itu Malim Deman kian rajin berkunjung ke rumah Mandeh Rabiah untuk bertemu dengan Putri Bungsu. Malim Deman

dan Putri Bungsu tampaknya saling mencintai. Keduanya lantas menikah. Tak berapa lama kemudian merek telah dikaruniai seorang anak lelaki. Malim Deman memberi nama Sutan Duano untuk nama anak lelakinya itu.

Putri Bungsu semula sangat berbahagia bersuamikan Malim Deman. Namun, sejak Sutan Duano lahir, perangai Malim Deman berubah. Malim Deman menjadi malas bekerja di sawah dan ladang. Malim Deman malah lebih banyak menghabiskan waktunya di arena perjudian. Ia juga senang menyabung ayam dengan taruhan. Begitu senangnya ia untuk berjudi dan menyabung ayam kadang hingga berhari-hari ia tidak pulang.

Putri Bungsu menjadi sedih dan kerap menangis sendiri. Kerinduannya untuk pulang kembali ke Kahyangan pun kian membesar. Hingga suatu hari ia menemukan selendangnya yang disembunyikan mertuanya. Ia pun berpura-pura hendak menjemur selendangnya itu. Seketika ia membawa selendangnya, ia pun menemui Bujang Selamat, pengawal Malim Deman. Katanya, “Sampaikan pada Malim Deman, aku akan kembali ke Kahyangan dengan membawa Sutan Duano.”

Bujang Selamat segera mencari Malim Deman. Setelah bertemu, diceritakanlah pesan istri Malim Deman itu.

Malim Deman buru-buru pulang ke rumahnya. Terlambat baginya. Sesampainya di rumah, istri dan anaknya tidak diketemukannya. Istrinya telah kembali ke Kahyangan dengan membawa serta anak lelakinya. Malim Deman hanya dapat menyesali kepergian istri dan anaknya itu. Benar- benar ia sangat menyesal. Namun, penyesalannya hanya tinggal penyesalan semata-mata, ia telah kehilangan keluarganya.

BERJUDI HANYALAH AKAN MERUGIKAN DIRI SENDIRI DAN KELUARGA DI KEMUDIAN HARI. HENDAKLAH KITA MENGHINDARKAN PERBUATAN BURUK TERSEBUT AGAR TIDAK MENGALAMI KERUGIAN DI KEMUDIAN HARI.

Malin Kundang – Cerita Rakyat Sumatra Barat
Malin Kundang – Cerita Rakyat Sumatra Barat

Hiduplah satu keluarga yang tinggal di perkampungan pantai A¡a Manih. Keluarga itu terdiri ayah, ibu, dan seorang anak lelaki yang bernama Malin Kundang. Keluarga itu hidup dalam kemiskinan. Ayah Malin Kundang lantas pergi merantau untuk memperbaiki nasib keluarganya. Waktu terus berlalu, bertahun-tahun dilewati, namun ayah Malin Kundang itu tidakjuga kembali. Tidak ada juga kabar darinya, entah di mana keberadaan ayah Malin Kundang itu.

Ibu Malin Kundang, Mande Rubayah namanya, mengambil alih peran ayah Malin Kundang untuk mencari nafkah. Ia berjualan kue yang dijajakannya berkeliling. Uang hasil penjualan kue itu digunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidup ia dan anak semata wayangnya. Keduanya hidup dalam kemiskinan.

Sejak kecil Malin Kundang telah dikenal cerdas, pemberani, dan agak nakal. Malin Kundang kerap mengganggu ayam, baik ayam miliknya sendiri atau ayam milik tetangganya. Dikejar-kejarnya ayam itu dan dipukulnya dengan sapu. Mande Rubayah sangat menyayangi Malin Kundang. Begitu pula sebaliknya, Malin Kundang sangat menyayangi dan menghormati ibunya.

Kehidupan miskin yang dirasakan Malin Kundang membuatnya ingin pergi merantau. Menurutnya, jika ia berhasil dalam perantauannya nanti, ia dan ibunya tidak lagi harus hidup dalam kemiskinan. Ibunya tidak harus berkeliling untuk menjajakan kue.

Ibu Malin Kundang sesungguhnya tidak setuju dengan rencana Malin Kundang untuk merantau. Ia tidak ingin kejadian yang menimpa suaminya dahulu terulang pada anaknya itu. Namun Malin Kundang memaksa dan mendesak.

Ibu Malin Kundang akhirnya mengizinkan meski dengan berat hati. Pesannya, “Jika engkau telah berhasil, segeralah engkau kembali. Sekali-kali janganlah engkau melupakan Bundo1 dan kampung halamanku ini.”

“Aku melupakan Bundo? Bagaimana mungkin aku berani melakukannya? Tidak sekali-kali!” tegas Malin Kundang. “Justru aku berniat pergi merantau ini agar Bundo dapat hidup senang dan berbahagia, tidak berkutat dalam kemiskinan seperti yang kita alami selama ini. Sungguh, akan menjadi anak durhaka aku ini jika berani melupakan Bundol”

Dengan berbekalkan sedikit uang dan tujuh bungkus nasi, Malin Kundang memulai pengembaraannya. Gembiralah hati Malin Kundang ketika mendapati ada kapal dagang yang tengah berlabuh di pantai Aia Manih dan bertambah- tambah kegembiraannya saat nakhoda kapal memperbolehkannya untuk turut menumpang dalam kapal itu.

Selama turut berlayar, Malin Kundang mengerjakan berbagai hal di dalam kapal dagang itu. Ia menyapu, mengepel, membersihkan hal-hal yang dilihatnya kotor dan melakukan berbagai pekerjaan lainnya. Ia bekerja dengan rajin. Nakhoda kapal dan anak buah kapal lainnya merasa senang dengan kehadirannya yang banyak membantu tersebut. Selama dalam pelayaran itu Malin Kundang juga banyak belajar berbagai hal perihal ilmu pelayaran. Nakhoda kapal dan juga anak buah kapal dengan senang membagi pengetahuan dan pengalamannya untuk Malin Kundang.

Kejadian yang mengejutkan dialami Malin Kundang. Kapal dagang yang ditumpanginya itu : serang kapal lanun2. Malin Kundang bersembunyi di ruangan kecil yang tertutup tumpukan kayu. Hanya dirinya saja yang selamat ketika para perompak itu meninggalkan kapal dagang itu seraya membawa seluruh iSi kapal dagang yang mereka rompak.

Malin Kundang terkatung-katung sendirian di tengah laut. Dipasrahkan nasibnya sepenuhnya <epada Tuhan. Ombak laut akhirnya mendamparkan Kapal dagang yang dinaiki Malin Kundang ke sebuah pantai. Malin Kundang berjalan menuju aesa terdekat dan mendapat pertolongan orang- orang desa itu. Malin Kundang lantas tinggal di desa yang subur itu.

Malin Kundang kemudian bekerja serabutan di desa itu. Apa pun yang bisa dikerjakannya akan dikerjakannya. Ia bekerja dengan rajin dan sangat

hemat. Sebagian besar uang yang didapatkannya itu ditabungnya. Ketika uang tabungannya telah cukup banyak, Malin Kundang lantas berdagang. Ia membeli barang dan menjualnya dengan mengambil keuntungan yang tidak banyak. Orang-orang senang membeli dan menjual barang kepadanya karena Malin Kundang dikenal jujur.

Perdagangan yang dilakukan Malin Kundang terus mengalami perkembangan yang sangat menggembirakannya. Terus membesar. Malin Kundang tidak hanya berdagang di desa tempat tinggalnya itu saja, melainkan juga ke desa- desa lainnya. Bahkan, akhirnya ia melaksanakan perdagangan antarpulau j^uga. Ia melaksanakan perdagangannya itu dengan menyewa kapal. Terus membesar perdagangannya hingga akhirnya ia mampu membeli kapal dagang sendiri. Kian bertambah maju usaha dagangnya hingga Malin Kundang dapat membeli kapal-kapal dagangnya yang lain. Malin Kundang pun dikenal sebagai pedagang besar yang berhasil. Lebih dari seratus orang bekerja padanya. Kekayaan Malin Kundang amat banyak. Tidak ada orang di desa itu yang mampu mengalahkan banyaknya kekayaan yang dimiliki Malin Kundang. Ia lantas menikah dengan gadis tercantik di desa itu yang juga berasal dari keluarga kaya raya.

Di perkampungan Aia Manih ibu Malin Kundang terus menunggu kedatangan anaknya. Setiap ada kapal yang merapat di pelabuhan, ia senantiasa berharap anak tercintanya itu berada di dalam kapal tersebut. Namun, anak tercintanya itu tidak juga terlihat. Tidak ada juga kabar dari Malin Kundang. Entah di mana anaknya itu berada, Mande Rubayah tidak mengetahuinya. Terbersit pula ketakutannya jika nasib anaknya itu akan sama dengan nasib suaminya.

Waktu terus berlalu. Suatu hari ia mendengar berita yang telah bertahun-tahun ditunggunya. Anak tercintanya telah kembali. Sangat mengejutkan sekaligus membanggakannya, anak tercintanya pulang menaiki kapal miliknya sendiri!

Mande Rubayah segera menuju pelabuhan. Tak terkirakan gembira dan bahagia hatinya ketika ia melihat sebuah kapal yang besar serta mewah tengah bersandar di pelabuhan. Detak jantung Mande Rubayah dirasanya kian cepat saat ia mendapati anaknya berdiri di atas geladak kapal di samping seorang perempuan yang diyakininya adalah menantunya. Betapa gagahnya anaknya itu mengenakan pakaian yang terlihat indah gemerlap. Segera ia mempercepat langkah kakinya menuju kapal itu.

Malin Kundang menuruni kapal.

Mande Rubayah yang menyangka anaknya datang menjemputnya segera menghampiri dan memeluk anak yang telah dirindukannya itu. “Malin anakku,” kata Mande Rubayah. “Mengapa engkau pergi begitu lama tanpa pernah berkirim kabar kepada ibumu ini?”

Malin Kundang sesungguhnya sadar dan mengetahui jika perempuan tua yang memeluk

tubuhnya itu adalah ibu kandungnya. Namun, ketika itu ia disergap rasa malu yang luar biasa untuk mengakui. Di hadapan istri dan juga sekalian anak buahnya, ia malu mengakui perempuan tua berpakaian lusuh itu adalah ibu kandungnya. MakS katanya, “Hei perempuan tua berpakaian lusuh, siapakah engkau ini hingga berani-beraninya engkau memelukku?”

“Malin! Apa katamu?” amat terperanjat Mande Rubayah mendengar ucapan anaknya. “Tidakkah engkau bisa melihat jika aku ini ibumu? Aku ibu kandungmu, Malin! Mengapa engkau berkata seperti itu?”

“Hei perempuan tua! Berani-beraninya engkau mengaku sebagai ibuku!” kata Malin Kundang seraya berkecak pinggang. “Aku tidak mempunyai ibu seperti engkau ini! Jangan engkau sembarangan mengaku! Lekas engkau tinggalkan kapalku ini!”

Istri Malin Kundang turut mencoba menyadarkan, “Kanda, perhatikan dulu baik-baik, jangan terburu-buru mengusir. Apakah benar perempuan tua ini ibu kandungmu?”

“Ibu kandung? Cis! Bukan! Ia bukan ibuku! Ia hanya seorang pengemis tua renta yang mengaku aku sebagai anaknya karena mengetahui aku ini seorang yang kaya raya!”

“Malin!” teriak Mande Rubayah.

Malin Kundang benar-benar telah gelap mata hingga mendorong tubuh ibu kandungnya itu hingga jatuh terjerembap. “Pergi engkau dari kapalku ini! Pergilah jauh-jauh!”

Tak terkirakan kepedihan hati Mande Rubayah mendapati perlakuan keji anak kandungnya. Sama sekali tidak disangkanya jika anak kandungnya begitu buruk perlakuannya terhadapnya. Anak kandungnya itu tidak hanya menolak mengakuinya sebagai ibu kandung, melainkan berani menganiayanya dengan mendorong tubuhnya hingga jatuh terjerembap. Dengan hati remuk redam, Mande Rubayah turun dari kapal mewah milik Malin Kundang. Seketika ia sampai di tanah, ia pun menengadahkan tangannya ke arah langit dan meluncurlah doanya kepada Tuhan, “Ya Tuhan, sekiranya lelaki yang tidak mengakuiku sebagai ibu kandungnya dan mendorongku hingga jatuh itu benar-benar Malin Kundang, maka aku sumpahi ia menjadi batu!”

Beberapa saat kemudian kapal besar lagi mewah itu mengangkat jangkar untuk kembali berlayar. Langit terlihat cerah, angin bertiup lembut. Kapal perlahan-lahan meninggalkan pelabuhan membawa Malin Kundang, Si anak durhaka yang telah berani berbuat keji terhadap

ibu kandungnya itu. Mendadak terjadilah sesuatu yang tidak diduga. Angin badai datang tiba-tiba dan menghantam kapal besar milik Malin Kundang itu. Begitu kencang dan dahsyatnya angin badai itu menghantam, kapal besar lagi mewah milik Malin Kundang seketika itu hancur berantakan. Setelah itu, tubuh Malin Kundang perlahan-lahan menjadi kaku hingga akhirnya menjadi batu!

Kutukan Mande Rabayah terhadap anaknya itu telah mewujud. Anak durhaka itu telah berubah menjadi batu.

DURHAKA TERHADAP IBU AKAN MENYEBABKAN TUHAN MURKA HINGGA KEHIDUPAN PELAKUNYA AKAN SENGSARA. BAIK DI DUNIA MAUPUN DI AKHIRAT.