Kategori: Sumatra Selatan

Bute Puru – Cerita Rakyat Sumatra Selatan
Bute Puru – Cerita Rakyat Sumatra Selatan

Seorang putra Raja Sriwijaya pada masa lampau. Ia putra bungsu dari tujuh bersaudara. Keadaannya menyedihkan. Ia terlahir buta dan menderita penyakit kurap pada sekujur kulit tubuhnya. Karena keadaannya itu ia diberi nama Bute Puru. Buta dan berpenyakit kurap arti namanya.

Bute Puru dikenal cerdas. Sifat dan perilakunya sangat baik. Sifat itu bertolak belakang dibandingkan enam kakaknya. Mereka jahat dan kejam.

Pada suatu hari Sang Raja memanggil tujuh putranya. Ia berniat turun takhta dan menyerahkannya pada salah seorang dari tujuh putranya itu.

“Siapakah di antara kalian yang merasa sanggup menggantikanku?” tanya Sang Raja.

Enam kakak Bute Puru saling menyatakan kesanggupannya untuk menggantikan kedudukan Sang Raja. Mereka saling mengunggulkan diri dan merendahkan yang lain. Keributan di antara mereka terjadi dan hampir meruncing menjadi pertengkaran.

Sang Raja melerai keributan di antara enam anaknya itu. Ia melihat Bute Puru hanya terdiam, tidak ikut-ikutan seperti enam kakaknya.

“Bagaimana denganmu, anak bungsuku?” tanya Sang Raja pada Bute Puru. “Apakah engkau tidak tertarik menjadi raja untuk menggantikan ayahanda?”

Bute Puru tersenyum dan menjawab, “Ayahanda Raja, bukankah kerajaan kita ini memiliki tata cara pemilihan raja? Bukankah syarat-syarat menjadi Raja Sriwijaya telah juga ditetapkan, Ayahanda Raja?”

Sang Raja mengangguk-anggukkan kepala. “Tentu saja, anak bungsuku,” jawabnya. “Tata cara pemilihan raja di kerajaan kita sudah ada. Begitu pula syarat-syarat menjadi raja. Seorang raja hendaknya adalah pribadi yang cerdas dan berhati mulia. Sifat dan perilakunya terpuji. Kecerdasan dan kemuliaan sifatnya sangat dibutuhkan untuk memimpin kerajaan Sriwijaya.”

“Jika demikian, tentu Ayahanda sesungguhnya telah mengetahui, siapa di antara kami yang paling layak menggantikan kedudukan Ayahanda,” kata Bute Puru.

Sesungguhnya Sang Raja merasa, Bute Puru merupakan sosok yang paling layak untuk menggantikannya. Namun, Sang Raja ragu dan bingung. Apa jadinya kerajaan Sriwijaya jika dipimpin anaknya yang buta dan berpenyakit kurap itu? Namun, lebih mengerikan baginya jika kerajaannya itu dipimpin oleh raja yang jahat dan kejam. Raja yang sewenang-wenang akan merusak dan menghancurkan kedamaian kerajaannya.

Pembicaraan tentang siapa yang paling layak menggantikan Sang Raja berakhir, tanpa membawa hasil.

Pada suatu hari Sang Raja berkunjung ke negeri tetangga. Ia menghadiri undangan raja negeri itu.

Ketika Sang Raja tengah bepergian, enam kakak Bute Puru bertemu dan berembuk. Mereka yakin, ayahanda mereka akan menunjuk Bute Puru menjadi penerus kekuasaan ayahanda mereka. Mereka merencanakan tindakan jahat agar Bute Puru tidak menjadi Raja Sriwijaya.

“Kita singkirkan Bute Puru dari istana!” tegas Si Sulung. “Lalu, kitab undang-undang kerajaan kita buang bersama Bute Puru!”

Lima adik Si Sulung setuju dengan saran jahat Si Sulung.

Ketika malam tiba, enam anak raja itu mewujudkan rencana jahat mereka. Diam-diam mereka mengajak Bute Puru keluar dari istana. Mereka membawa Bute Puru ke pinggir sungai. Dengan kejam mereka mendorong Bute Puru ke dalam sungai berair deras. Kitab undang-undang kerajaan Sriwijaya mereka buang pula ke dalam sungai itu.

Betapa kasihannya Buru Pute. Ia terseret derasnya aliran sungai tanpa mengetahui di mana ia berada. Ia juga tidak mengerti, mengapa kakak-kakaknya begitu tega dan jahat kelakuannya pada dirinya. Ketika terseret arus air beberapa saat, tubuh Bute Puru tersangkut pada akar pohon besar. Bute Puru lalu berpegangan erat-erat pada akar itu. Perlahan-lahan ia naik ke darat dengan berpegangan pada akar pohon besar itu.

Tubuh Bute Puru basah kuyup. Ia juga merasa kedinginan. Ia lalu duduk beristirahat di bawah pohon besar. Punggungnya menyandar pada batang pohon besar itu.

Malam itu adalah malam purnama. Bulan nampak bersinar terang di langit luas. Pada malam indah itu lima dewa turun ke bumi. Mereka akan mengadakan rapat tentang siapa penerus kekuasaan Kerajaan Sriwijaya selanjutnya. Kebetulan, lima dewa itu mengadakan rapat di pohon besar tempat Bute Puru beristirahat.

Satu dewa berkata, “Kerajaan Sriwijaya akan mencapai kemakmurannya jika diperintah Bute Puru.”

“Tetapi,” sahut satu dewa lainnya, “bagaimana Bute Puru bisa memerintah dengan keadaan buta dan berpenyakit kurap pada sekujur tubuhnya seperti itu?”

“Jika Bute Puru mandi di Telaga Dewa, niscaya menghilang kebutaannya. Ia akan bisa melihat. Penyakit kurap yang dideritanya juga akan hilang. Kulit tubuhnya akan bersih. Wajahnya juga semakin tampan hingga tidak lagi dikenali oleh mereka yang semula mengenalnya.”

Semua pembicaraan lima dewa itu didengar dan diketahui Bute Puru. Ia terkejut. Bute Puru bertekad akan mencari Telaga Dewa, meski ia tidak mengetahui di mana telaga itu berada.

Keesokan paginya Bute Puru meninggalkan tempat beristirahatnya. Ia berjalan dengan tertatih- tatih dan meraba-raba. Bute Puru tidak mengerti kemana ia pergi. Ia hanya terus berjalan. Ia berharap bertemu dengan seseorang yang mengetahui dimana Telaga Dewa itu berada.

Menjelang siang Bute Puru masih berjalan. Mendadak ia terperosok ke dalam air. Tubuhnya tenggelam. Sejenak kemudian ia telah muncul ke permukaan air. Terbelalaklah ia setelah muncul ke permukaan air. Kini ia bisa melihat. Kulit tubuhnya juga bersih dari penyakit kurap yang menjijikkan. Tidak hanya bersih, kulit tubuhnya terlihat bercahaya.

Bute Puru telah sembuh. Ia sangat bersyukur.

Bute Puru teringat, ia diceburkan enam kakaknya ke dalam sungai. Ia mencari sungai besar itu. Ia akan menyusuri sungai itu menuju hulu untuk kembali ke istana Kerajaan Sriwijaya.

Bute Puru terus berjalan menyusuri sungai besar menuju ke arah hulu. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beberapa orang yang sedang memancing. Ia lalu mendatangi mereka.

Mereka adalah Sang Raja dengan iringan para hulubalang Kerajaan Sriwijaya.

Kepada salah seorang hulubalang Kerajaan Sriwijaya, ia bertanya, “Maaf Tuan, apa yang sedang Tuan pancing?”

Hulubalang Kerajaan Sriwijaya yang tidak lagi mengenali Bute Puru menjawab, “Kami sedang memancing kitab undang-undang kerajaan. Seseorang membuangnya ke dalam sungai ini. Mata pancing kami telah tersangkut sesuatu di dasar sungai. Namun, kami tidak dapat menariknya.”

“Kenapa tidak kalian selami?” tanya Bute Puru. “Dengan menyelaminya, kalian akan mengetahui apa yang tersangkut pada mata pancing kalian.”

“Kami takut,” jawab sang hulubalang. “Terdapat seekor naga besar di dasar sungai ini. Ia akan memangsa manusia yang berani mendekati wilayah kekuasaannya.”

“Bagaimana dengan para putra Raja?” tanya Bute Puru. “Apakah mereka juga takut menyelaminya?”

Sang Hulubalang menganggukkan kepala. Jawabnya, “Putra-putra Tuanku Raja tidak ada yang mau menyelaminya.”

Bute Puru melihat Raja Sriwijaya yang tak lain ayah kandungnya. Ia lalu menghampiri. Katanya, “Tuanku Raja, apakah Tuanku Raja mengizinkan hamba untuk menyelami sungai ini untuk mencari kitab undang-undang itu?”

Raja Sriwijaya tidak mengenali Bute Puru. Ia terkesan dengan keberanian Bute Puru. Maka jawabnya, “Tentu saja, anak muda. Engkau kuizinkan untuk melakukannya.”

Bute Puru segera terjun dan menyelam menuju dasar sungai.

Di dasar sungai itu terdapat sebuah gua. Bute Puru memasuki gua itu. Ia terperanjat ketika melihat seorang gadis di dalam gua. Sangat cantik wajahnya. Bute Puru mendekatinya.

Si gadis terkejut mendapati kedatangan Bute Puru. “Siapa engkau ini?” tanyanya.

“Namaku Bute Puru. Aku berasal dari Kerajaan Sriwijaya,” jawab Bute Puru.

“Apa maksudmu datang ke dasar sungai ini?”

“Aku sedang mencari kitab undang-undang Kerajaan Sriwijaya yang jatuh ke dasar sungai ini,” jawab Bute Puru. Lalu tanyanya dengan sopan, “Maaf, siapakah engkau ini? Apakah engkau penghuni dasar sungai ini?”

“Namaku Temiang,” jawab Si gadis. “Aku putri Naga Besar, penguasa dasar sungai ini. Bute Puru, sebaiknya engkau segera merubah diri. Jika ayahku melihatmu, niscaya ia marah dan memangsamu. Lekas! Sebentar lagi ayahku akan kembali!”

Temiang lalu mengerahkan kesaktiannya. Ia merubah Bute Puru menjadi sekuntum bunga.

Tak berapa lama kemudian Naga Besar tiba. Seketika memasuki gua, hidungnya mendengus- dengus. Ia menatap berkeliling. Lalu katanya, “Aku mencium bau manusia! Ya… bau manusia! Hei Temiang, apakah engkau melihat manusia memasuki gua ini?”

“Tidak, Ayah,” jawab Temiang.

“Tetapi… bau manusia ini sangat kuat,” kata Naga Besar. “Aku yakin, ada manusia di gua ini. Aku lapar… aku ingin memangsanya!”

Temiang mencoba mengalihkan perhatian ayahnya. “Ayah, apakah Ayah menyayangiku?”

“Tentu saja, anakku,” tegas Naga Besar. “Jangan engkau ragukan rasa sayang Ayah padamu.”

“Bolehkah aku memohon sesuatu kepadamu, Ayah?”

“Apa yang engkau inginkan, anakku? Lekas sebutkan! Apakah engkau ingin memakan semua ikan yang ada di sungai ini?”

“Tidak, Ayah.”

“Lalu, apa keinginanmu?”

“Aku ingin Ayah tidak memangsa seorang manusia yang kusukai,” lirih jawab Temiang. ‘Ayah, aku menyayangi pemuda itu.”

Naga Besar mengangguk-anggukkan kepala. Ia menyadari, anak gadisnya itu telah tumbuh dewasa. Sudah saatnya ia berumahtangga. “Baiklah,” jawabnya. “Kupenuhi permintaanmu.”

Temiang kembali mengerahkan kesaktiannya. Sekuntum bunga yang dipegangnya kembali berubah menjadi Bute Puru.

Naga Besar menatap Bute Puru. Katanya, “Jadi, pemuda tampan lagi gagah ini yang engkau sayangi, anakku?”

“Benar, Ayah,” sahut Temiang. “Apakah Ayah mengizinkan aku menikah dengannya?”

Naga Besar tidak hanya mengizinkan. Ia bahkan memberikan kitab undang-undang kerajaan Sriwijaya yang sedang dicari Bute Puru. Ketika kitab itu dahulu jatuh ke dalam sungai, Naga Besar mengambil dan menyimpannya di dalam kotak. Kotak itu lalu diletakkannya di sudut gua.

Bute Puru muncul ke permukaan sungai. Dengan membawa kotak, ia menghadap Raja Sriwijaya.

“Anak muda,” kata Sang Raja. “Apakah kitab undang-undang kerajaan itu telah engkau dapatkan?”

“Sudah hamba dapatkan, Ayahanda Raja.”

Raja Sriwijaya terkejut. “Engkau menyebutku ayahanda?”

Bute Puru lalu menjelaskan kejadian yang dialaminya. Tak terkirakan suka cita Sang Raja setelah mengetahui pemuda gagah lagi tampan itu adalah anak bungsunya. Ia tak menyangka, begitu kejam kelakuan enam anaknya yang begitu tega terhadap Bute Puru.

Di hadapan Raja Sriwijaya, Bute Puru membuka kotak yang dibawanya. Mendadak muncul seorang wanita dari dalam kotak sambil memegang kitab undang-undang kerajaan Sriwijaya.

Sang Raja terkejut. “Anak bungsuku, siapa wanita ini?”

“Ia adalah Temiang, Ayahanda Raja,” jawab Bute Puru. “Ia putri Naga penguasa dasar sungai ini. Ayahandanya telah menyelamatkan kitab undang- undang kerajaan kita ketika terjatuh dahulu. Jika Ayahanda Raja izinkan, hamba akan menikahi Temiang.”

Sang Raja memberi izin. Bute Puru dan Temiang lalu menikah. Pesta pernikahan mereka diadakan besar-besaran. Rakyat diundang untuk menyaksikan perayaan pernikahan putra bungsu Raja Sriwijaya dan Temiang itu. Di hadapan segenap rakyat dan warga kerajaan, Sang Raja mengangkat Bute Puru sebagai penggantinya.

Bute Puru dinobatkan sebagai Raja Sriwijaya yang baru. Meski telah berkuasa, Bute Puru tidak mendendam pada enam kakaknya. Ia memaafkan setelah enam kakaknya itu meminta maaf padanya. Ia meminta enam kakaknya itu membantunya menjalankan pemerintahan. Dalam pemerintahan Bute Puru, Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan besar. Kerajaan yang disegani kawan dan ditakuti lawan. Segenap rakyat mencintai dan menghormati Bute Puru. Mereka hidup sejahtera di bawah pemerintahannya.

 

KEBAIKAN DAN KESABARAN, PADA AKHIRNYA AKAN MAMPU MENGALAHKAN KEJAHATAN DAN KEBATILAN.

Beginde Lubuk Gong – Sumatra Selatan
Beginde Lubuk Gong – Sumatra Selatan

Beginde (Sebutan untuk kepala desa pada zaman dahulu) Lubuk Gong adalah seorang kepala desa yang hidup pada zaman dahulu. Ia sangat kuat menjalankan adat bagi segenap warga desa yang dipimpinnya. Bagi warga desa yang berani melanggar aturan adat, Beginde Lubuk Gong tidak segan-segan menjatuhkan hukuman. Namun demikian, warga desa justru merasa senang dipimpin Beginde Lubuk Gong karena mereka dapat hidup aman, damai, dan tenteram.

Beginde Lubuk Gong mempunyai seorang anak perempuan. Putri Lubuk Gong namanya. Sangat cantik wajahnya dan terkenal cerdas anak perempuan Beginde Lubuk Gong itu. Ketika usia Putri Lubuk Gong menjelang dewasa, banyaklah pemuda anak beginde yang datang melamarnya. Namun semua lamaran itu ditolak dengan berbagai alasan.

Pada suatu hari datang utusan putra beginde untuk melamar Putri Lubuk Gong. Dalam hati, Beginde Lubuk Gong menerima lamaran tersebut. Namun demikian ia mengajukan berbagai syarat yang harus dipenuhi anak beginde itu sebelum menyunting anak perempuannya. Syarat-syarat yang banyak yang dirasanya akan sulit dipenuhi pelamar anak perempuannya.

Utusan putra beginde itu kembali dan menyampaikan permintaan berbagai syarat yang diajukan Beginde Lubuk Gong. Waktu terus berlalu dan utusan itu belum juga kembali menemui Beginde Lubuk Gong untuk memberikan jawaban. Hingga tiga tahun kemudian belum juga datang utusan pelamar Putri Lubuk Gong itu. Secara tak terduga, datang kemudian iring-iringan pelamar dengan membawa aneka barang hantaran untuk perkawinan dalam jumlah yang banyak, sesuai dengan permintaan Beginde Lubuk Gong.

Mendapati dapat dipenuhinya syarat-syarat yang diajukannya, Beginde Lubuk Gong sedikit menyesal di dalam hati. Seandainya saja ia meminta syarat yang lebih banyak lagi, niscaya ia akan mendapatkan banyak barang lagi.

Utusan calon pengantin lelaki menyerahkan barang-barang yang dibawanya kepada Beginde Lubuk Gong. Katanya, “Sesuai syarat yang Beginde nyatakan kepada kami sebelumnya, berikut ini kami haturkan kepada Beginde. Barang-barang tersebut adalah tujuh pasang pakaian pengantin, empat puluh dua lusin baju kain salinan, ayam dan itik satu kandang penuh, kayu api setinggi bukit, batang tujuh buah, dan serai kunyit seladang lebar.”

Beginde Lubuk Gong menerima semua barang-barang itu dan berjanji akan memberi kabar waktu pernikahan yang tepat kepada calon pengantin lelaki. Setelah utusan calon pengantin lelaki pulang, Beginde Lubuk Gong mengumumkan kepada segenap warga desanya perihal akan dinikahkannya anak perempuannya itu dengan lelaki putra beginde dari daerah lain. Warga desa pun gembira mendengarnya. Terbayang di benak mereka akan kemeriahan pesta pernikahan yang akan digelar selama tujuh hari tujuh malam itu. Warga desa lantas bergotong royong menyiapkan segala sesuatu untuk kelancaran pesta pernikahan tersebut.

Beginde Lubuk Gong sendiri segera mempersiapkan pelaksanaan pesta besar yang akan diadakannya. Dengan menaiki sebuah kapal besar, Beginde Lubuk Gong berangkat menuju negeri lain untuk berbelanja aneka barang yang dibutuhkan dalam pesta besar yang akan diadakannya itu. Begitu banyak barang yang harus dibelinya hingga sebulan penuh ia belum juga kembali ke desanya.

Calon pengantin lelaki serasa tak sabar menunggu tibanya waktu pernikahannya. Sebulan sejak diserahkannya syarat-syarat yang diminta Beginde Lubuk Gong telah berlalu, namun belum juga didengarnya kabar perihal waktu pernikahannya. Bahkan, kabar yang didengarnya kemudian adalah kabar yang sangat mengejutkan. Menurut kabar burung itu, tunangannya itu ternyata telah dinikahkan dengan putra seorang raja dari negeri yang tengah didatangi Beginde Lubuk Gong.

Amat marahlah Si calon pengantin lelaki. Telah susah payah ia dan keluarganya menyiapkan aneka syarat berat yang diajukan Beginde Lubuk Gong, namun Beginde Lubuk Gong mengkhianatinya. Dengan membawa pedang, ia pun lantas menuju tempat kediaman Beginde Lubuk Gong.

Putri Lubuk Gong sangat gembira ketika melihat tunangannya datang ke rumahnya. Ia segera berhias, mengenakan pakaian terindah yang dimilikinya. Terlihat bertambah-tambah kecantikan wajahnya ketika itu. Ia pun segera menemui tunangannya dengan wajah berseri- seri. Namun, bukan sambutan hangat yang didapatkannya, melainkan sabetan pedang!

Seketika itu pula Putri Lubuk Gong meninggal dunia.

Ibu Putri Lubuk Gong sangat terkejut mendapati putrinya meninggal akibat sabetan pedang tunangannya. Menjeritlah ia, “Apa yang engkau perbuat? Mengapa engkau membunuh tunangan yang telah lama menantikan kehadiranmu? Apa salah putriku itu?”

“Jangan ibu berlagak tidak tahu!” jawab tunangan Putri Lubuk Gong. “Bukankah keluarga ini telah mengkhianati perjanjiannya dengan keluargaku? Kami telah memenuhi syarat yang diajukan Beginde Lubuk Gong, namun, apa yang dilakukan Beginde Lubuk Gong? Ia malah hendak menikahkan putrimu itu dengan putra Raja!”

“Tuduhanmu itu adalah tuduhan palsu!”

“Bagaimana tuduhanku disebut tuduhan palsu? Bukankah utusan raja telah tiba di desa Kertajaya yang takjauh dari desa ini? Apa maksud kedatangan utusan raja itu jika tidak hendak menikahkan putranya dengan putrimu? Maka, daripada aku menanggung malu, lebih aku mati berkalang tanah!”

Selesai berujar, tunangan Putri Lubuk Gong lantas meninggalkan rumah kediaman Beginde Lubuk Gong.

Kematian putrinya secara mengenaskan itu diketahui Beginde Lubuk Gong yang masih berada di negeri lain untuk mengadakan barang untuk pesta pernikahan putrinya. Betapa terperanjat dan marahnya Beginde Lubuk Gong mendengar kematian putrinya itu. Dengan kesaktiannya, Beginde Lubuk Gong lantas mengerahkan angin agar segera bertiup menuju negerinya. Dalam waktu tak berapa lama, kapal besaryang ditumpanginya segera tiba di desanya. Seketika ia tiba, warga segera mengerumuninya. Mereka menceritakan kejadian mengenaskan yang dialami Putri Lubuk Gong.

Beginde Lubuk Gong memerintahkan agar jenazah putrinya dikebumikan. Diperintahkannya pula untuk segera menangkap Si pembunuh anak perempuannya.

Warga bergerak cepat mencari hingga akhirnya Si pembunuh Putri Lubuk Gong ditangkap. Si pembunuh segera dihadapkan pada Beginde Lubuk Gong.

“Engkau telah membunuh putriku,” kata Beginde Lubuk Gong, “untuk itu engkau harus menggantikannya. Mulai kini engkau tidak bisa lagi kembali ke rumahmu dan engkau hendaknya tinggal di sini sebagai gantinya.”

Si pembunuh Putri Lubuk Gong menyetujui hukuman yang dijatuhkan Beginde Lubuk Gong kepadanya.

Karena pernikahan antara putrinya dan tunangannya yang bahkan akhirnya menjadi pembunuh putrinya itu urung terlaksana, Beginde Lubuk Gong membuang semua barang yang disiapkannya itu ke dalam sungai. Semuanya. Termasuk aneka peralatan musik yang sedianya hendak digunakan untuk menghibur para undangan. Begitulah cara Beginde Lubuk Gong untuk mengakhiri janjinya kepada warga karena urung mengadakan pesta pernikahan putrinya.

 

HENDAKLAH KITA TELITI DAN HATI-HATI KETIKA MENDENGAR BERITA. PELAJAR! BAIK-BAIK SEBELUM MEMUTUSKAN SESUATU. JANGAN SAMPAI MENYESAL DI KEMUDIAN HARI JIKA KEPUTUSAN ITU SALAH.

Rio Raos – Cerita Rakyat Sumatra Selatan
Rio Raos – Cerita Rakyat Sumatra Selatan

Hiduplah seorang lelaki pada zaman dahulu. Rio Raos namanya. Ia dikenal cerdik dan pintar menyelesaikan berbagai masalah. Ia juga gemar berpetualang untuk menjelajahi wilayah-wilayah yang belum diketahuinya.

Rio Raos mempunyai empat sahabat karib. Keempatnya bernama Sayid Udin, Panjang, Mahadali, dan Nagaseni. Mereka berlima kerap bepergian bersama ke daerah-daerah baru. Pada suatu hari Rio Raos dan empat sahabat karibnya itu kembali melakukan perjalanan. Mereka menaiki kapal. Berbulan-bulan lamanya mereka mengarungi lautan luas hingga akhirnya mereka mendarat di sebuah wilayah.

Seketika mendarat, Rio Raos merasakan keanehan pada orang-orang di wilayah tersebut. Mereka tampak tegang dan dalam keadaan siap untuk berperang. Sejenak berbincang- bincang dengan orang-orang yang ditemuinya, Rio Raos mengerti, orang-orang itu tengah berperang dengan penduduk lainnya. Entah apa penyebabnya, Rio Raos tidak mengetahuinya. Ia lantas menanyakan di mana ia bisa bertemu dan menghadap kepada penguasa wilayah tersebut. Beberapa orang mengajaknya menuju istana kerajaan dan menghadap Sang Raja.

Di hadapan Sang Raja, Rio Raos mengungkapkan keinginannya untuk membantu mengataSi masalah yang terjadi pada penduduk kerajaan tersebut. Sang Raja sangat gembira mendengar kesanggupan Rio Raos. Seketika itu juga Rio Raos diangkat Sang Raja menjadi hulubalang kerajaan.

Setelah menjadi hulubalang kerajaan, Rio Raos mulai mencari tahu penyebab perselisihan yang menjurus ke arah peperangan yang dilakukan penduduk. Dari orang-orang yang ditemuinya, Rio Raos mengetahui jika penduduk wilayah itu terpecah dan terkelompok menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok itu Saling bermusuhan. Penyebab perselisihan itu adalah karena perbedaan bahasa di antara tiga kelompok penduduk tersebut. Masing-masing kelompok penduduk amat membangga-banggakan bahasanya dan melecehkan bahasa kelompok penduduk lainnya.

Rio Raos berusaha mencari cara untuk mendamaikan tiga kelompok penduduk yang terus bertikai dan berselisih tersebut. Setelah ditemukannya cara, ia meminta para penduduk dari masing-masing kelompok untuk bertemu di sebuah tempat.

Di hadapan mereka semua, Rio Raos lantas memberikan satu potong kain berwarna kepada masing-masing kelompok. Kelompok pertama mendapat sepotong kain berwarna merah, kelompok kedua mendapatkan sepotong kain berwarna hijau, dan sepotong kain berwarna kuning diberikan kepada kelompok ketiga. Katanya kemudian, “Masing-masing di tangan kalian ada sepotong kain. Kalian bisa memperhatikan, kain- kain tersebut berasal dari serat kayu yang sama. Dari satu pohon yang sama. Warna kain kalian bisa saja berbeda, namun tetap ia berasal dari serat kayu yang sama. Begitu pula dengan kalian semua ini. Kalian berasal dari satu nenek moyang yang sama, meski bahasa kalian berbeda. Lantas, bagaimana kalian saling mengaku bahasanya lebih baik dibandingkan yang lain sementara kalian berasal dari satu nenek moyang? Kalian sesungguhnya adalah satu! Sungguh, tidak ada gunanya perselisihan dan permusuhan di antara kalian hanya karena bahasa kalian berbeda!”

Orang-orang terdiam seraya merenungkan ucapan Rio Raos. Mereka bisa merasakan kebenaran ucapan Rio Raos tadi. Mereka pun akhirnya sadar. Mereka kemudian bersepakat untuk mengakhiri perselisihan berlarut-larut yang telah mereka lakukan. Mereka juga bersepakat untuk menggunakan satu bahasa persatuan di antara mereka, yaitu bahasa Muara Rengeh. Dengan sama-sama berbahasa Muara Rengeh, mereka merasa satu adanya.

Suatu hari Rio Raos berkeliling di desa dan mendapati di tengah-tengah desa itu terdapat muara sungai. Teringat ia pada pesan dan nasihat leluhurnya, jika mendirikan desa hendaklah jangan tepat di depan muara sungai. Penduduk sebuah desa yang tepat berada di depan muara sungai biasanya tidak seia sekata dan kurang kebersamaannya. Rio Raos lantas memerintahkan agar sungai itu dialirkan ke arah kiri dan kanan dari desa tersebut. Penduduk desa tampak ragu-ragu untuk melaksanakan perintah Rio Raos. Namun setelah mereka bersatu padu dan saling bekerja sama, pekerjaan yang semula membuat mereka ragu-ragu untuk mengerjakannya itu dapat diselesaikan hanya dalam waktu tiga hari.

Penduduk pada akhirnya bersepakat untuk mengangkat Rio Raos menjadi pemimpin mereka. Rio Raos memimpin dengan adil dan bijaksana. Rakyat yang dipimpinnya merasa aman, damai, dan sejahtera. Orang-orang dari daerah lain pun berdatangan ke negeri yang dipimpin Rio Raos karena mendengar keamanan dan kedamaian yang dirasakan rakyat di bawah kepemimpinan Rio Raos. Desa-desa akhirnya banyak didirikan pada masa pemerintahan Rio Raos tersebut.

Rio Raos terus memimpin hingga akhirnya ia meninggal dunia. Jenazahnya dikebumikan di tempat di mana ia pertama kali ia datang ke daerah tersebut. Kebaikannya senantiasa menjadi buah bibir penduduk, dikenang oleh rakyat, terutama oleh mereka yang dahulu terus terlibat dalam peperangan dan berhasil didamaikan oleh Rio Raos.

 

BERSATU KITA TEGUH. BERCERAI-RERAI KITA RUNTUH. ADANYA PERBEDAAN SESUNGGUHNYA UNTUK SALING MELENGKAPI. DAN BUKAN MENJADI PENYEBAB MUNCULNYA PERSELISIHAN DAN PERTENGKARAN.

Kisah Ratu Agung – Cerita Rakyat Sumatra Selatan
Kisah Ratu Agung – Cerita Rakyat Sumatra Selatan

Kerajaan Palembang pada zaman dahulu diperintah oleh penguasa yang bergelar Suhunan. Suhunan yang memerintah ketika Itu melaksanakan pemerintahannya dengan adil dan bijaksana. Segenap rakyat Palembang menghormati, mencintai, dan mematuhi titah Suhunan.

Suatu hari Suhunan mendengar akan tibanya pasukan Belanda untuk menyerang dan menjajah Palembang. Suhunan lantas menyiagakan segenap kekuatan untuk menghadapinya. Rakyat Palembang pun bersatu padu di belakang Suhunan. Mereka tidak ingin menjadi jajahan bangsa asing yang terkenal serakah, kejam, dan sewenang-wenang. Mereka nyatakan kesanggupan mereka untuk berkorban jiwa dan raga demi negeri tercinta.

Suhunan menunjuk dan menugaskan tiga kesatria perempuan Palembang untuk membantu pertahanan Kerajaan Palembang. Ketiganya adalah Putri Kembang Mustika, Putri Darah Putih, dan Putri Iran. Ketiganya ternama kesaktian dan keperwiraannya. Suhunan memerintahkan pula bagi mereka untuk menjadi pengawal pribadinya.

Kerajaan Palembang terus memperkuat pertahanannya. Berbagai senjata telah disiagakan. Begitu pula dengan meriam-meriam telah disiapkan menghadap sungai MuSi yang diperkirakan akan menjadi pintu masuk datangnya pasukan penjajah tersebut.

Benar perkiraan mereka. Pasukan Kompeni Belanda dengan menaiki kapal-kapal besar memasuki Palembang melalui sungai Musi. Kedatangannya segera disambut dengan serangan gencar. Peluru-peluru meriam beterbangan ke arah kapal-kapal pasukan Kompeni Belanda, menimbulkan kerusakan dan kehancuran. Kian gencar serangan kekuatan Kerajaan Palembang itu hingga pasukan Kompeni Belanda memutuskan untuk mundur. Bersorak-sorailah kekuatan Kerajaan Palembang mendapati mundurnya pasukan Kompeni Belanda yang berniat menjajah negeri mereka. Mereka menyangka pasukan Kompeni Belanda tidak akan berani lagi datang ke Palembang.

Perkiraan rakyat Palembang meleset, sebulan kemudian pasukan Kompeni Belanda kembali datang. Jauh lebih banyak kekuatan pasukan mereka dibandingkan kedatangan mereka yang pertama. Ketika itu kekuatan Kerajaan Palembang tidak setangguh dan sesiap seperti ketika mereka menghadapi tibanya pasukan Kompeni Belanda sebulan sebelumnya. Pasukan Kompeni Belanda dapat memporak-porandakan kekuatan Kerajaan Palembang hingga rakyat Palembang tercerai- berai dan berlarian untuk menyelamatkan diri.

Suhunan tetap bertahan dan terus menggelorakan semangat perlawanan. Begitu pula dengan Putri Kembang Mustika, Putri Darah Putih, dan Putri Iran. Ketiganya tetap berada di dekat Suhunan dan siap menangkis serangan yang membahayakan jiwa penguasa Kerajaan Palembang itu.

Menghadapi kekuatan pasukan Kompeni Belanda itu Putri Kembang Mustika menunjukkan kesaktian luar biasanya. Ketika peluru-peluru meriam datang berdesingan, ia bergerak sigap lagi gesit untuk menangkapnya. Kesaktian Putri Kembang Mustika itu benar-benar mencengangkan dan membuat pasukan Kompeni Belanda keheranan. Berulang-ulang peluru meriam ditembakkan, berulang-ulang pula Putri Kembang Mustika dapat menangkapnya dengan mudah. Persediaan peluru meriam pasukan Kompeni.

Belanda terus berkurang karena peluru-peluru yang mereka tembakkan menjadi sia-sia karena ditangkap Putri Kembang Mustika. Mereka akhirnya memilih mundur setelah peluru-peluru meriam mereka habis dan serangan balik kekuatan Kerajaan Palembang kian deras tertuju kepada mereka.

Suhunan sangat bangga dan kagum mendapati kehebatan Putri Kembang Mustika. Suhunan kemudian mengangkat Putri Kembang Mustika menjadi saudara Putri Darah Putih dan menggelari Putri Kembang Mustika dengan gelar Ratu Agung.

Dua kali berniat menundukkan dan menjajah Palembang namun dua kali itu pula mereka terpukul mundur membuat pasukan Kompeni Belanda tidak lagi berniat menyerang Palembang.

Palembang kembali aman dan damai. Suhunan kembali memerintah dengan segala keadilan dan kebijaksanaannya yang senantiasa mengutamakan kesejahteraan. Sayang, tidak semua orang Palembang senang berada dalam kedamaian itu. Salah seorang dari mereka yang tidak senang itu bahkan termasuk kerabat dekat Suhunan sendiri, adik kandung Suhunan sendiri.

Adik kandung Suhunan berniat menjadi suhunan. Ia lantas merencanakan siasat licik. Ia mengirimkan sepucuk surat ke Kerajaan Belanda. Disebutkannya kekuatan Palembang waktu itu tidak lagi tangguh dan perkasa. Jika kekuatan Kerajaan Belanda menyerang, niscaya Kerajaan Palembang akan dapat ditaklukkan. Terlebih- lebih, ia akan membantu memperlemah kekuatan kerajaan Palembang dari dalam. Untuk semua itu adik kandung Suhunan meminta imbalan dengan diangkat menjadi Suhunan.

Kekuatan Kerajaan Belanda segera disiagakan dan diberangkatkan menuju Palembang. Mereka telah menyiapkan siasat khusus untuk mengalahkan kekuatan Kerajaan Palembang. Mereka telah membungkus ringgit-ringgit hingga membentuk bulatan-bulatan seperti peluru-peluru meriam. Jika meriam ditembakkan, ringgit-ringgit itu beterbangan. Rakyat Palembang tentu akan berebut ringgit-ringgit itu hingga mengabaikan pertahanan mereka.

Di Palembang sendiri adik kandung Suhunan telah pula menyiapkan siasat khusus. Dengan diam-diam ia membuang peluru-peluru meriam dan menggantinya dengan buah-buah jerukyang dibentuknya menyerupai peluru meriam.

Pasukan Kompeni Belanda akhirnya tiba di Palembang, Suhunan segera menyiagakan kekuatannya untuk menghadapi dan menghalau. Meriam-meriam disiagakan dan tak berapa lama kemudian mulai ditembakkan. Amat terperanjat para prajurit penembak meriam ketika mendapati tembakan mereka tidak berdampak apa pun setelah mengena pada sasaran yang mereka bidik. Baru kemudian mereka dapati kemudian jika peluru-peluru yang mereka gunakan untuk menembak ternyata hanyalah buah-buah jeruk!

Adapun siasat yang diterapkan pasukan Kompeni Belanda berjalan sesuai rencana mereka. Ketika buntalan-buntalan beriSi ringgit-ringgit itu ditembakkan, rakyat berebut mengambil ringgit-ringgit yang beterbangan dan berjatuhan. Rakyat menjadi lengah dan tidak membantu para prajurit Kerajaan Palembang yang tengah menghadapi kekuatan pasukan Kompeni Belanda. Porak-porandalah akhirnya kekuatan Kerajaan Palembang.

Menghadapi keadaan genting tersebut Putri Kembang Mustika, Putri Darah Putih, dan Putri Iran segera mengungsikan Suhunan. Mundurnya Suhunan segera diikuti kerabat dan juga para prajurit Palembang. Istana kerajaan pun akhirnya kosong ketika pasukan Kerajaan Belanda memasukinya. Mereka hanya menemukan adik kandung Suhunan yang terlihat gembira menyambut kedatangan mereka.

Adik kandung Suhunan menghadap Raja Belanda. Katanya, “Hamba yang telah mengirim surat kepada Tuan. Hamba juga telah melemahkan pasukan Kerajaan Palembang dengan mengganti peluru-peluru meriam mereka dengan buah-buah jeruk. Bukankah serangan mereka menjadi sia-sia dan tidak berarti? Bukankah pasukan Belanda akhirnya dapat mengalahkan kekuatan Palembang dengan mudah? Itu semua karena jerih payah hamba, Tuan. Oleh karena itu hendaklah Tuan mengangkat hamba menjadi Suhunan yang baru.”

Raja Belanda mencibirkan bibirnya. “Engkau telah nyata-nyata mengkhianati saudara kandung dan juga negerimu sendiri! Engkau tega hati untuk melakukannya hanya karena keserakahan dan keinginanmu semata-mata untuk berkuasa. Maka, jika engkau kuangkat menjadi Suhunan, niscaya engkau pun pasti akan tega hati untuk mengkhianatiku di kemudian hari!”

Mati-matian adik kandung Suhunan memberikan janji-janjinya untuk senantiasa setia terhadap Raja Belanda.

“Sifatmu bukan menunjukkan sifat orang yang setia. Engkau bersifat pengkhianat. Seorang Suhunan tidak seharusnya bersifat khianat seperti dirimu itu!” jawab Raja Belanda.

Alangkah kecewanya adik kandung Suhunan mendengar jawaban Raja Belanda. Sama sekali ia tidak menduga mendapat jawaban seperti itu dari Raja Belanda. Musnahlah harapannya untuk menjadi Suhunan. Ia terjepit dan merasa sama sekali tidak berdaya. Terlebih-lebih ketika Raja Belanda memerintahkan prajuritnya untuk menangkap dirinya!

Adik kandung Suhunan yang mengkhianati kakak kandung dan juga negerinya itu pun akhirnya menemui kematiannya setelah dilaksanakan hukuman pancung pada dirinya.

Sementara Ratu Agung sendiri kembali ke kampung halamannya di daerah Sukadana setelah Suhunan memberinya izin. Warga Sukadana sangat menghormati sosok perempuan pemberani lagi sakti itu. Ratu Agung terus menetap di kampung halamannya itu hingga akhirnya menutup mata. Kepergiannya diratapi orang-orang yang mengetahui sepak terjangnya yang gagah berani ketika membela Palembang dari serangan pasukan Kompeni Belanda.

 

BERSIFAT KHIANAT SEHARUSNYA KITA HINDARI KARENA AKAN MERUGIKAN DIRI KITA SENDIRI DI KEMUDIAN HARI. NAMA SEORANG PENGKHIANAT AKAN DIKENANG BURUK SELAMA-LAMANYA. NAMA PAHLAWAN AKAN DIKENANG BAIK SELAMA LAMANYA.