Kategori: Yogyakarta

Kisah Syekh Belabelu – Cerita Rakyat Yogyakarta
Kisah Syekh Belabelu – Cerita Rakyat Yogyakarta

Seorang bangsawan Majapahit bernama Jaka Bandem. Ketika Majapahit mengalami kemunduran, Jaka Bandem berpindah dari Majapahit ke wilayah di sebelah barat. Ia lantas berdiam di sebuah bukit. Ia juga bercocok tanah dengan menanam aneka jenis tanaman, di antaranya padi, jagung, ubi kayu, dan lain-lainnya. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, tanaman- tanaman itu tumbuh subur dan memberikan hasil berlimpah untuk Jaka Bandem.

Keberhasilan Jaka Bandem mengolah dan menyuburkan tanah di bukit itu mengundang banyak orang. Mereka berdatangan ke gubug Jaka Bandem untuk menanyakan berbagai hal berkenaan dengan pengolahan tanah. Pengetahuan Jaka Bandem ternyata tidak hanya seputar masalah pengolahan tanah. Jaka Bandem memahami baca tulis dan juga menguasai ilmu bela diri. Orang- orang pun banyak yang belajar baca tulis dan juga ilmu bela diri kepada bangsawan Majapahit itu. Dengan segala senang hati Jaka Bandem memenuhi permintaan mereka. Kebaikan hati Jaka Bandem menjadi pembicaraan orang banyak.

Tidak jauh dari bukit tempat tinggal Jaka Bandem itu terdapat sebuah bukit lagi. Seorang ulama bernama Syekh Maulana Maghribi tertarik untuk berdiam di bukit itu. Sang ulama lantas mendirikan pondok pesantren. Banyak orang yang datang ke pondok tersebut untuk menimba ilmu agama Islam dari Syekh Maulana Maghribi. Jaka Bandem juga datang berguru pada Syekh Maulana Maghribi.

Jaka Bandem belajar ilmu agama Islam dengan tekun. Ia pun memahami dan menguasai ilmu agama Islam. Syekh Maulana Maghribi lantas mengganti nama Jaka Bandem menjadi Syekh Belabelu. Syekh Maulana Maghribi memperkenankan muridnya itu untuk membuka pondok dan mengajarkan agama Islam di tempat tinggalnya. Memenuhi perintah gurunya, Syekh Belabelu pun mendirikan pondok pesantren di bukit tempat tinggalnya. Banyak kemudian orang yang datang berguru kepadanya.

Salah satu kegemaran Syekh Belabelu adalah makan nasi. Ia sangat kerap memasak nasi. Setelah nasinya ia makan, kerak nasinya ia jemur di atas genting rumahnya. Sangat banyakjumlah kerak naSi itu hingga memenuhi genting rumahnya.

Semula Syekh Maulana Maghribi tidak mempermasalahkan kegemaran muridnya itu. Namun, lama kelamaan Syekh Maulana Maghribi merasa jengkel. Menurutnya, muridnya itu terlalu banyak mengumbar nafsu makan. Tidak pantas kiranya dilakukan seorang ulama. Karena kejengkelannya, Syekh Maulana Maghribi lalu memarahi Syekh Belabelu di hadapan sekalian murid-murid Syekh Belabelu. Sangat mengherankan, Syekh Belabelu hanya tersenyum ketika dimarahi gurunya. Sama sekali ia tidak berusaha mengemukakan alasan atau juga menyanggah. Ia hanya tersenyum-senyum.

Murid-murid Syekh Belabelu terheran-heran mendapati perilaku guru mereka. Mereka pun menanyakan masalah itu setelah Syekh Maulana Maghribi berlalu.

Jawab Syekh Belabelu, “Orang yang tengah marah akan membuat hati dan pikirannya tidak jernih. Hati dan pikirannya tertutup. Oleh karena itu orang yang tengah marah tidak akan dekat dengan Allah. Orang yang dekat dengan Allah adalah orang yang hatinya terbuka dan pikirannya jernih.”

Murid-murid Syekh Belabelu merasa berbahagia mempunyai guru yang bijaksana seperti Syekh Belabelu tersebut.

Syekh Maulana Maghribi bertambah-tambah kejengkelannya saat melihat muridnya itu tidak juga menghiraukan pesannya dan tetap memenuhi kegemarannya yang dinilainya mengumbar nafsu. Karena kejengkelannya, Syekh Maulana Maghribi pun menantang adu kesaktian melawan Syekh Belabelu.

“Untuk apa kita harus mengadu kesaktian?” tanya Syekh Belabelu.

“Untuk membuktikan siapa yang terkuat di antara kita!” jawab Syekh Maulana Maghribi.

“Jika itu yang menjadi kehendak guru, maka sama sekali tidak ada gunanya adu kesaktian itu. Telah jelas siapa yang terkuat di alam semesta. Dialah Allah! Tidak ada yang mampu menandingi kekuatan-Nya!”

Syekh Maulana Maghribi tetap merasa tidak puas mendengar jawaban Syekh Belabelu. Ia tetap bersikeras menantang adu kesaktian. Katanya, “Kita buktikan siapa yang terkuat di antara kita dengan beradu kecepatan hingga tiba di Mekah. Siapa yang lebih dahulu tiba di Mekah di antara kita, maka dialah pemenangnya!”

Meski semula terus berusaha menolak, pada akhirnya Syekh Belabelu setuju dengan kehendak Syekh Maulana Maghribi. Sangat mengherankan, ia malah meneruskan menanak nasi sementara Syekh Maulana Maghribi telah memulai perjalanannya menuju Mekah. Syekh Maulana Maghribi merasa yakin akan dapat menenangkan lomba adu cepat tiba di Mekah itu.

Syahdan, setelah beberapa lama menempuh perjalanan, sampailah Syekh Maulana Maghribi di Mekah. Ia tetap yakin jika dirinya akan memenangkan adu cepat itu. Namun, betapa amat terperanjatnya Syekh Maulana Maghribi ketika mendapati Syekh Beiabelu telah berada di Mekah.

Syekh Maulana Maghribi bertanya perihal lebih dahulu sampainya Syekh Belabelau dibandingkan dirinya.

Jawab Syekh Belabelu, “Guru mengandalkan kekuatan guru sendiri untuk sampai tiba di Mekah ini. Saya semata-mata mengandalkan kekuatan Allah karena tidak ada yang dapat menandingi kekuatan Allah di alam semesta ini.”

Syekh Maulana Maghribi akhirnya menyadari, betapa pun tinggi ilmu yang dimilikinya, namun tetap terbatas pula kemampuannya itu. Kekuasaan dan kekuatan Allah tidak terbatas dan mustahil dapat diimbangi oleh siapa pun juga di alam semesta ini. Ia pun sadar sepenuh hati, kemampuannya sesungguhnya masih jauh di bawah kemampuan Syekh Belabelu yang dahulu menimba ilmu darinya. Dengan kesadarannya itu Syekh Maulana Maghribi pun mengakui kekalahan dan kelemahannya di hadapan bekas muridnya itu.

 

KITA HENDAKLAH TIDAK SOMBONG BETAPA PUN TINGGINYA ILMU YANG KITA MILIKI. Dl ATAS LANGIT ITU MASIH ADA LANGIT. GUNAKAN ILMU PADI, SEMAKIN BERISI MAKA SEMAKIN MERUNDUK.

Asal Mula Kali Gajah Wong – Cerita Rakyat Yogyakarta
Asal Mula Kali Gajah Wong – Cerita Rakyat Yogyakarta

Sultan Agung, raja terbesar Kerajaan Mataram, mempunyai seekor gajah tunggangan yang diberi nama Kyai Dwipangga. Gajah besar itu berasal dari Negeri Siam (Thailand atau Muangthai). Sebagai pengurus gajah itu ditunjuklah seorang abdi dalem (Pegawai istana) bernama Ki Sapa Wira. Setiap pagi Ki Sapa Wira memandikan gajah tunggangan Sultan Agung tersebut di sebuah sungai yang berada tidak jauh dari keraton Mataram.

Pada suatu hari Ki Sapa Wira menderita sakit bisul pada ketiaknya. Ia tidak bisa menjalankan tugasnya memandikan Kyai Dwipangga. Oleh karena itu ia menyuruh adik iparnya yang bernama Kertiyuda untuk sementara menggantikan tugasnya. Kata Ki Sapa Wira, “Agar Kyai Dwipangga menurut padamu, berikan kelapa muda padanya. Biarkan sejenak ia makan terlebih dahulu sebelum engkau mandikan. Jika gajah itu tidak mau berendam, tepuk saja kaki belakangnya dan tarik ekornya. Niscaya ia akan mau berendam. Gosok- gosoklah badannya dengan daun kelapa untuk menghilangkan kotoran yang melekat di tubuhnya.”

“Baik,” jawab Kertiyuda.

Kertiyuda segera menjalankan tugasnya. Diberikannya kelapa muda untuk Kyai Dwipangga. Gajah tunggangan Sultan Agung itu lantas membanting kelapa muda itu dan memakannya dengan lahap. Kertiyuda kemudian memukul pantat gajah itu dengan cemetinya agar segera berjalan menuju sungai. Semua pesan Ki Sapa Wira segera dijalankan Kertiyuda setibanya ia di sungai. Ditepuknya kaki belakang dan ditariknya ekor gajah itu. Gajah itu pun akhirnya berendam. Kertiyuda segera membersihkan tubuh gajah tersebut dengan daun kelapa. Setelah badan gajah itu bersih, Kertiyuda lalu membawa gajah itu kembali ke kandangnya.

Selesai memandikan Kyai Dwipangga, Kertiyuda lalu menemui Ki Sapa Wira dan melaporkanjika tugasnya telah selesai ia laksanakan.

“Terima kasih,” kata Ki Sapa Wira, “Besok hendaklah engkau lakukan seperti yang telah engkau lakukan tadi.”

“Baik, Kang (kak),” jawab Kertiyuda.

Keesokan harinya Kertiyuda kembali datang dan menemui kakak iparnya. Ia telah bersiap kembali untuk memandikan gajah Kyai Dwipangga. Cuaca ketika itu terlihat mendung. Kertiyuda lantas membawa gajah besar itu menuju sungai. Air sungai terlihat surut di tempat kemarin Kertiyuda memandikan Kyai Dwipangga. Menurut Kertiyuda, kedalaman air sungai ketika itu tidak cukup untuk menjadi tempat berendam Kyai Dwipangga.

Sejenak berpikir, Kertiyuda akhirnya membawa Kyai Dwipangga ke arah hilir sungai. Ia mencari genangan air sungai yang cukup untuk berendam gajah tunggangan Sultan Agung itu.

Kertiyuda menepuk kaki belakang dan menarik ekor gajah hingga gajah itu lantas merundukkan tubuhnya, siap untuk berendam. Kertiyuda lantas menggosok tubuh Kyai Dwipangga dengan daun kelapa. Seraya menggosok-gosok, Kertiyuda menggerutu. Menurutnya, sungai itu tidak cukup besar untuk memandikan gajah, terlebih-lebih untuk memandikan gajah besar seperti Kyai Dwipangga itu. Dalam gerutuannya ia pun menyalahkan Sultan Agung. “Dasar orang aneh!” gerutunya.

Tiba-tiba datang banjir bandang dari arah hulu sungai itu. Air sungai meluap dan dengan kecepatan tinggi, banjir bandang itu menyapu segala yang ada di sungai itu, termasuk Kertiyuda dan gajah Kyai Dwipangga yang tidak sempat naik ke daratan!

Kertiyuda berteriak-teriak meminta tolong. Namun, teriakan dan lambaian tangannya tidak ada yang menyahut. Ia dan gajah tunggangan Sultan Agung itu hanyut dan tenggelam hingga sampai ke Laut Selatan. Kertiyuda dan Kyai Dwipangga mati terseret banjir bandang itu.

Sultan Agung sangat sedih saat mengetahui Kertiyuda dan Kyai Dwipangga. Untuk mengenang adanya gajah dan wong (Orang atau manusia ) yang hanyut di sungai itu, maka Sultan Agung lantas menamakan sungai itu Kali (sungai) Gajah Wong.

 

KITA HENDAKLAH CERMAT DAN BERHATI-HATI KETIKA MELAKUKAN SESUATU PEKERJAAN. PERHATIKAN SITUASI DAN KONDISI AGAR KITA SELAMAT KETIKA MELAKSANAKAN PEKERJAAN TERSEBUT.

Mangir Wanabaya – Cerita Rakyat Yogyakarta
Mangir Wanabaya – Cerita Rakyat Yogyakarta

Mangir Wanabaya adalah pemimpin di daerah Mangir, sebelah barat Kerajaan Mataram, pada masa pemerintahan Panembahan Senapati. Mangir Wanabaya dikenal sakti. Ia juga mempunyai senjata ampuh yang amat bertuah, tombak Kiai Baru Klinting namanya. Dengan kesaktian dan pusaka andalannya yang amat bertuah itu Mangir Wanabaya berniat mendirikan kerajaan sendiri dan lepas dari kekuasaan Kerajaan Mataram.

Keinginan Mangir Wanabaya itu meresahkan Panembahan Senapati. Ia lantas berembuk dengan Adipati Mandaraka, Patih sekaligus sesepuh Kerajaan Mataram yang ketika muda bernama Ki Juru Mertani. Adipati Mandaraka memberikan nasihatnya untuk mencegah Mangir Wanabaya mendirikan kerajaan. Adipati Mandaraka menyarankan agar Panembahan Senapati memerintahkan Putri Pembayun, putrinya, untuk menyamar sebagai penari tayub.

Siasat Adipati Mandaraka itu pun dilaksanakan. Putri Pembayun yang cantik wajahnya itu diperintahkan untuk menyamar menjadi penari tayub. Sebagai penari tayub, Putri Pembayun lantas berganti nama menjadi Pudhak Wangi. Sebagai pengiring rombongan penari, ditunjuklah Tumenggung Gunadarma dan Nyai Adisara. Keduanya menyamar sebagai suami istri bernama Ki Sandiguna dan Nyi Sandiguna. Rombongan tayub itu lantas menuju arah barat guna menjalankan siasat Adipati Mandaraka.

Tak berapa lama kemudian penari tayub bernama Pudhak Wangi itu telah begitu ternama di wilayah barat Kerajaan Mataram. Rakyat begitu terpesona dengan kecantikan dan kepiawaiannya menari. Tidak sedikit lelaki yang mengimpikan dapat menyunting penari tayub itu. Di setiap pertunjukkan tari, para lelaki berebut dapat menari bersama Pudhak Wangi.

Berita tentang keberadaan penari tayub berwajah jelita itu didengar Mangir Wanabaya. Secara diam-diam Mangir Wanabaya melihat pertunjukan tari tayub yang diadakan Pudhak Wangi. Ia benar-benar terpesona pada Pudhak Wangi. Bahkan, ia berniat merengkuh penari tayub itu menjadi istrinya karena ia memang belum beristri.

Mangir Wanabaya lantas mengundang rombongan tari tayub itu untuk mengadakan pertunjukan di rumahnya. Sangat meriah pertunjukan itu ketika diadakan. Para penoton, kebanyakan kaum lelaki, datang berbondong- bondong ke halaman rumah Mangir Wanabaya untuk menonton Si jelita Pudhak Wangi itu menari. Tidak sedikit dari lelaki yang mengajak Pudhak Wangi untuk menari bersama, namun dengan halus Pudhak Wangi menolaknya. Ia hanya mau menari bersama dengan Mangir Wanabaya. Mangir Wanabaya lantas menari dengan penari tayub yang jelita itu hingga larut malam. Keinginan Mangir Wanabaya untuk memperistri Pudhak Wangi kian membesar.

Beberapa hari kemudian Mangir Wanabaya menemui Ki Sandiguna dan menyatakan keinginannya untuk melamar Pudhak Wangi.

“Hamba serahkan sepenuhnya kepada Pudhak Wangi sendiri,”jawab Ki Sandiguna. “Jika ia bersedia, hamba pun selaku orangtua hanya bisa mengiyakannya.”

“Bagaimana denganmu, Pudhak Wangi? Apakah engkau bersedia kuperistri?” tanya Mangir Wanabaya.

Pudhak Wangi menganggukkan kepalanya. “Hamba bersedia,” jawabnya.

Pernikahan antara Mangir Wanabaya dan Pudhak Wangi pun segera diadakan secara besar-besaran. Amat meriah pesta pernikahan tersebut. Ratusan undangan datang menghadiri pernikahan sosok yang sangat disegani di wilayah Kademangan Mangir tersebut.

Meski semula bersiasat, namun akhirnya Putri Pembayun yang tetap dalam penyamarannya sebagai Pudhak Wangi itu benar-benar jatuh cinta pada suaminya. Mangir Wanabaya adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Di matanya, tidak terdapat cela pada suaminya itu. Pudhak Wangi pun akhirnya membuka jati dirinya setelah beberapa saat menjadi istri Mangir Wanabaya.

Tak terkirakan terkejutnya Mangir Wanabaya setelah mendengar pengakuan istrinya. Sama sekali tidak diduganya jika istrinya adalah anak Panembahan Senapati, musuh besarnya. Namun, karena ia melihat ketulusan cinta dan kasih sayang istrinya, kenyataan mengejutkan itu dapat diterimanya pula. Dapat diterimanya pula ajakan istrinya untuk datang ke istana kerajaan Mataram untuk meminta doa restu.

“Aku rasa, Ayahanda akan merestui pernikahan kita jika kita datang menghadap kepadanya secara baik-baik,” ujar Putri Pembayun. “Kini Ayahanda bukan lagi musuh besar Kanda, melainkan mertua Kanda.”

Putri Pembayun dan Mangir Wanabaya beserta prajurit-prajurit Kademangan Mangir pun berangkat menuju istana Kerajaan Mataram. Kepala prajurit Mataram yang berjaga tidak memperkenankan para prajurit Kademangan Mangir itu datang ke Mataram hingga Mangir Wanabaya dan istrinya hanya didampingi dua pengawalnya saja.

Bertemulah Mangir Wanabaya dengan Panembahan Senapati di ruang penghadapan. Putri Pembayun segera mencium kaki Panembahan Senapati sebagai tanda bakti dan hormatnya. Begitu pula dengan Mangir Wanabaya. Namun, tanpa diduga Putri Pembayun maupun juga Mangir Wanabaya, Panembahan Senapati telah mempunyai rencana khusus untuk melenyapkan Mangir Wanabaya. Seketika Mangir Wanabaya mencium kaki Panembahan Senapati, Panembahan Senapati menghunus keris pusakanya dan menghujamkannya ke tubuh Mangir Wanabaya!

Mangir Wanabaya seketika itu menemui kematiannya.

Begitu terperanjatnya Puri Pembayun mendapati suaminya menemui kematiannya di tangan Ayahandanya. Ia tak kuat menyaksikan pemandangan menyedihkan itu hingga jatuh pingsanlah dirinya.

Jenazah Mangir Wanabaya dikuburkan di Kotagede. Makamnya dibuat khusus. Sebagian makam itu berada di dalam kompleks pemakaman dan sebagian makam itu berada di luar kompleks pemakaman. Itu menjadi simbol bahwa Mangir Wanabaya adalah menantu Sultan Mataram sekaligus musuh Kesultanan Mataram.

Sepeninggal Mangir Wanabaya, Putri Pembayun kemudian dinikahkan dengan Ki Ageng Karanglo.

Kerajaan Mataram kemudian menjadi kerajaan terbesar di Pulau Jawa di mana hampir seluruh wilayah Pulau Jawa menjadi wilayah ke-kuasaannya.

 

UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH YANG PELIK MEMANG KADANG DIBUTUHKAN SIASAT DAN RENCANA KHUSUS.

Legenda Candi Prambanan – Cerita Rakyat Yogyakarta
Legenda Candi Prambanan – Cerita Rakyat Yogyakarta

Prabu Baka adalah Raja Prambanan yang terkenal sakti. Sosoknya berupa raksasa yang mengerikan. Meski sosoknya berupa raksasa, ia mempunyai anak perempuan yang sangat cantik wajahnya. Rara Jonggrang nama anak perempuan Prabu Baka Itu.

Syahdan, Kerajaan Prambanan diserang oleh Kerajaan Pengging yang dibantu Bandung Bondowoso yang terkenal sakti. Bandung Bondowoso mampu mengalahkan Prabu Baka dalam pertarungan yang sangat seru. Prabu Baka tewas terkena senjata Bandung Bondowoso. Kerajaan Prambanan dikuasai Bandung Bondowoso.

Ketika Bandung Bondowoso melihat Rara Jonggrang, la langsung jatuh hati. Ia pun melamar Rara Jonggrang untuk diperistrinya.

Rara Jonggrang sesungguhnya tidak bersedia diperistri Rara Jonggrang yang telah membunuh ayah kandung tercintanya. Namun, untuk langsung menolaknya, Rara Jonggrang tidak berani. Ia mengetahui kesaktian Bandung Bondowoso. Ia bisa celaka jika menolak lamaran Bandung Bondowoso yang pemarah Itu. Ia lantas mencari cara agar urung diperistri Bandung Bondowoso. Katanya, “Aku bersedia engkau peristri, namun aku mempunyai syarat untuk Itu.”

“Apa syarat yang engkau kehendaki?”

“Aku Ingin engkau membuatkan seribu candi dan dua sumur yang sangat dalam,” jawab Rara Jonggrang. “Semua itu harus engkau selesaikan dalam semalam. Jika engkau dapat melakukannya, aku bersedia engkau peristri.”

“Baik,” Bandung Bondowoso menyanggupi permintaan Rara Jonggrang. “Aku akan memenuhinya.“

Bandung Bondowoso mengerahkan kesaktiannya. Dipanggilnya seluruh bala tentara makhluk gaib yang pernah ditaklukkannya. Bandung Bondowoso meminta makhluk-makhluk gaib untuk membantunya membuat seribu candi dan dua sumur yang sangat dalam waktu semalam.

Bala tentara makhluk gaib menyatakan kesediaannya. Mereka lantas bekerja keras. Sangat luar biasa cara kerja mereka, amat cepat. Candi- candi terwujud dalam waktu singkat. Jumlahnya terus meningkat. Begitu pula dengan dua sumur ang sangat dalam itu. Melewati tengah malam, ratusan candi telah berdiri. Dua sumur itu juga telah dalam. Mereka terus bekerja keras untuk mewujudkan permintaan Rara Jonggrang.

Rara Jonggrang sangat khawatir mendapati kenyataan itu. Menurut perkiraannya, Bandung Bondowoso akan mampu mewujudkan kehendaknya. Candi-candi terus dibuat dalam kecepatan yang menakjubkan. Dua sumur yang sangat dalam itu juga hampir selesai. Bergulirnya sang waktu menuju fajar masih terbilang cukup bagi Bandung Bondowoso untuk merampungkan pembuatan seribu candi dan dua sumur yang sangat dalam itu. Kian khawatir Rara Jonggrang ketika mendapati jumlah candi yang dibuat telah melebihi sembilan ratus sembilan puluh candi. Lantas, apa yang harus dilakukannya untuk menggagalkan usaha Bandung Bondowoso?

Setelah sejenak memikirkan cara, Rara Jonggrang lantas membangunkan gadis-gadis Prambanan. Rara Jonggrang meminta gadis-gadis itu untuk membakarjerami di wilayah Prambanan sebelah timur. Sebagian gadis-gadis itu dimintanya pula untuk menumbuk padi dan juga menaburkan berbagai jenis bunga yang harum baunya.

Bala tentara makhluk gaib sangat terperanjat mendapati cahaya menyemburat berwarna kemerah-merahan di sebelah timur. Mereka juga mencium harum aneka bunga. Kian kaget pula mereka saat mendengar bunyi lesung dipukul. Semua ciri-ciri itu menunjukkan jika waktu pagi telah tiba. Mereka pun bergegas pergi karena takut. Padahal, sembilan ratus sembilan puluh sembilan candi telah selesai, hanya tinggal satu candi lagi untuk mewujudkan permintaan Rara Jonggrang. Meski hanya tinggal satu candi lagi, namun Bandung Bondowoso tidak mungkin dapat membuatnya tanpa bantuan bantuan bala tentara makhluk gaib.

Tak terkirakan kemarahan Bandung Bondowoso. Ia tahu, hari masih terhitung malam. Waktu pagi belum datang. Ia juga mengetahui, semua itu dilakukan Rara Jonggrang untuk menggagalkan usahanya. Jelas ia menangkap keengganan Rara Jonggrang untuk diperistrinya. Dengan kemarahan yang meluap, Bandung Bondowoso pun mengeluarkan kutukannya. Gadis-gadis Prambanan yang membantu Rara Jonggrang untuk menggagalkan usahanya dikutuknya menjadi perawan-perawan tua. Kepada Rara Jonggrang, Bandung Bondowoso berujar, “Hei Rara Jonggrang! Seribu candi yang engkau minta hampir selesai, hanya tinggal satu candi lagi. Karena engkau telah melakukan kecurangan untuk menggagalkan usahaku, maka jadilah engkau arca dalam candi ke seribu!”

Seketika itu tubuh Rara Jonggrang membatu menjadi arca. Arca tersebut lantas diletakkan di dalam ruang candi besar yang hingga kini disebut candi Lara Jonggrang.

 

MEMAKSAKAN KEHENDAK DAN JUGA KECURANGAN AKAN MEMBUAHKAN KERUGIAN DI KEMUDIAN HARI. KITA HENDAKLAH BERANI MENGUNGKAPKAN KEBENARAN. MESKI SANGAT PAHIT SEKALIPUN.