Kategori: Fabel

Kisah Ular dan Kerbau – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan
Kisah Ular dan Kerbau – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Pada zaman dahulu semua hewan dapat berbi-cara layaknya manusia. Mereka hidup bersama di dalam hutan belantara. Di antara hewan-hewan itu terdapat seekor ular yang sombong. Karena kesombongannya, banyak hewan yang tidak mau bersahabat dengan Si ular.

Pada suatu hari kerbau dan ular bertemu di pinggir hutan. Kata Si ular, “Wahai kerbau, jika kuperhatikan, tubuhmu memang besar. Namun, aku sangSi apakah kekuatanmu itu juga besar seperti besarnya tubuhmu itu.”

Si kerbau terlihat sangat jengkel mendengar ucapan Si ular. Jawabnya, “Tentu saja kekuatanku juga besar. Bahkan, kekuatanku jauh lebih besar dibandingkan kekuatan tubuhmu yang kurus, kecil, lagi panjang mirip tali itu!”

Si ular menjadi marah. “Betapa sombongnya engkau ini, hei kerbau!” hardiknya.

“Justru engkau itulah yang sombong!” sergah Si kerbau tak mau mengalah. “Tak pernah aku meragukan kemampuan kekuatanmu, namun engkau yang memulai dengan meragukan kekuat-anku. Begitu pun engkau menyebutku sombong? Bukankah engkau itulah yang terkenal sombong selama ini?”

Si ular kian marah. Katanya untuk mema-merkan kekuatannya, “Jika aku membelit tubuh hewan, meskipun hewan itu besar tubuhnya, aku jamin tubuhnya pasti remuk. Tulang-tulangnya akan hancur. Hewan itu akan mati dan akhirnya bisa kumangsa.”

Meski Si ular berbicara dengan sombongnya, Si kerbau hanya menanggapi dengan senyum sinisnya. “Hanya begitu kemampuanmu yang sangat engkau sombongkan itu?” tanyanya.

Si ular kian murka. Kemampuan dirinya yang menurutnya hebat, serasa dilecehkan Si kerbau. “Apakah menurutmu kekuatanmu itu mampu me-lebihi kekuatanku?” tanyanya dengan suara galak.

“Seperti yang telah kusebutkan tadi, kekuat-anku jauh lebih besar dibandingkan kekuatanmu,” jawab Si kerbau. “Tidakkah engkau mengetahui jika bangsa manusia senantiasa menggunakan kekuatan tubuhku untuk membajak sawah? Tidakkah engkau melihat jika bangsa manusia menggunakan bangsaku untuk menarik barang- barang yang sangat berat? Itu semua telah jelas menunjukkan bahwa kekuatanku jauh lebih be¬sar daripada kekuatanmu. Tidak perlu aku harus membelit seperti yang engkau lakukan, karena hanya dengan dengusan napasku saja aku telah dapat meremukkan tubuh hewan yang berani menggangguku! Apakah itu masih belum cukup bukti bagimu bahwa aku lebih kuat dibanding¬kan dirimu?”

“Jangan karena tubuhmu besar lantas eng¬kau menyangka engkau lebih kuat dari aku!” seru Si ular. “Kita bisa buktikan, siapa di antara kita yang lebih kuat.”

Si kerbau menerima tantangan Si ular. “Siapa yang lebih dahulu menunjukkan kekuatannya?” tanya Si kerbau kian menunjukkan tantangannya.

“Karena tubuhku lebih kecil, baiklah aku yang memulai,” jawab Si ular.

Si kerbau mengiyakan.

Si ular lalu membelit tubuh kerbau. Dike-rahkannya segenap kemampuan dan kekuat¬annya agar dapat lebih kuat membelit. Ia terus berusaha mengerahkan kekuatannya, namun Si kerbau tampak tidak terpengaruh. Si kerbau ter¬lihat tenang-tenang saja.

“Apakah engkau telah mengerahkan sege¬nap kemampuan kekuatanmu?” tanya Si kerbau.

“Ya!” sahut Si ular dengan bangga. “Apakah engkau masih kuat menahan belitanku?”

Si kerbau tertawa. “Lihatlah sendiri,” katanya, “belitanmu masih terlalu lemah untuk melum-puhkanku. Jangankan remuk tulang-tulangku, merasa sakit pun aku tidak. Cobalah untuk lebih mengerahkan kekuatanmu.”

Sia-sia Si ular mengerahkan kekuatan¬nya karena Si kerbau tetap mampu bertahan. Si ular akhirnya menyerah setelah berusaha keras. “Sekarang giliranmu untuk menunjukkan kekuatanmu, kerbau,” katanya.

“Baiklah,” jawab Si kerbau.

Si kerbau menghembuskan napasnya kuat- kuat. Si ular merasakan kesakitan yang sangat pada tubuhnya. Semakin keras hembusan napas kerbau, makin sakit dirasakan Si ular. Si ular merasakan tulang-belulangnya remuk dan belitannya pun seketika itu terlepas. Tubuh Si ular jatuh ke atas tanah karena tak mampu lagi menghadapi hem¬busan napas kerbau.

Si ular tak berdaya …

“Bagaimana, ular? Bukankah telah terbuk¬ti jika kekuatanku jauh melebihi kekuatanmu?”

Si ular akhirnya menyadari, kesombongannya selama itu tidak berguna. Ia ternyata benar-benar tidak berdaya menghadapi kerbau. Kekuatan¬nya yang selama itu disombongkannya ternyata tidak berpengaruh pada kerbau. Ia pun menya¬dari kesalahannya.

Si ular akhirnya berjanji untuk tidak meng-ganggu kerbau hingga ke anak cucunya kemudian. Si kerbau pun juga berjanji untuk tidak meng¬ganggu ular hingga ke anak cucunya kelak. “Satu lagi pintaku,” kata Si kerbau, “Jangan engkau dan anak cucumu mengganggu para penggembala kerbau. Apakah engkau bersedia untuk berjanji?”

Si ular menyatakan kesediaannya.

Maka, sejak saat itu hingga sekarang ini ular tidak pernah mengganggu kerbau dan juga orang yang menggembalakan kerbau.

 

KESOMBONGAN DAN MEMANDANG RENDAH ORANG LAIN HANYA AKAN MERUGIKAN DIRI SENDIRI. ORANG YANG SOMBONG AKAN MENEMUI KEHANCURANNYA YANG SANGAT MENYAKITKAN DI KEMUDIAN HARI.

Dongeng Rusa dan Kura-Kura – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara
Dongeng Rusa dan Kura-Kura – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara

Hiduplah seekor rusa pada zaman dahulu. Ia sangat sombong lagi pemarah. Sering ia meremehkan kemampuan hewan lain.

Pada suatu hari Si rusa berjalan-jalan di pinggir danau. Ia bertemu dengan kura-kura yang terlihat hanya mondar-mandir saja. “Kura-kura, apa yang sedang engkau lakukan di sini?”

“Aku sedang mencari sumber penghidupan,” jawab Si kura-kura.

Si rusa tiba-tiba marah mendengarjawaban Si kura-kura. “Jangan berlagak engkau, hei kura-kura! Engkau hanya mondar-mandir saja namun berlagak tengah mencari sumber penghidupan!” |

Si kura-kura berusaha menjelaskan, namun Si rusa tetap marah. Bahkan, Si rusa mengancam akan menginjak tubuh Si kura-kura. Si kura-kura yang jengkel akhirnya menantang untuk mengadu kekuatan betis kaki.

Si rusa sangat marah mendengar tantangan Si kura-kura untuk mengadu betis. Ia pun meminta agar Si kura-kura menendang betisnya terlebih dahulu. “Tendanglah sekeras-kerasnya, semampu yang engkau bisa lakukan!”

Si kura-kura tidak bersedia melakukannya. Katanya, “Jika aku menendang betismu, engkau akanjatuh dan tidak bisa membalas menendangku.”

Si rusa kian marah mendengar ucapan Si kura- kura. Ia pun bersiap-siap untuk menendang. Ia berancang-ancang. Ketika dirasanya tepat, ia pun menendang dengan kaki depannya sekuat-kuatnya.

Ketika Si rusa mengayunkan kakinya, Si rusa segera memasukkan kaki-kakinya ke dalam tempurungnya. Tendangan rusa hanya mengenai tempat kosong. Si rusa sangat marah mendapati tendangannya tidak mengena. Ia lantas menginjak tempurung Si kura-kura dengan kuat. Akibatnya tubuh Si kura-kura terbenam ke dalam tanah. Si rusa menyangka Si kura-kura telah mati. Ia pun meninggalkan Si kura-kura.

Si kura-kura berusaha keras keluar dari tanah. Setelah seminggu berusaha, Si kura-kura akhirnya berhasil keluar dari tanah. Ia lalu mencari Si rusa. Ditemukannya Si rusa setelah beberapa hari mencari. “Bersiaplah Rusa, kini giliranku untuk menendang.”

Si rusa hanya memandang remeh kemampuan Si kura-kura. “Kerahkan segenap kemampuanmu untuk menendang betisku. Ayo, jangan ragu-ragu!”

Si kura-kura bersiaga dan mengambil ancang- ancang di tempat tinggi. Ia lalu menggelindingkan tubuhnya. Ketika hampir tiba di dekat tubuh Si rusa, ia pun menaikkan tubuhnya hingga tubuhnya melayang. Si kura-kura mengincar hidung Si rusa. Begitu kerasnya tempurung Si kura-kursmengena hingga hidung Si rusa putus. Seketika itu Si rusa yang sombong itu pun mati.

 

JANGAN SOMBONG DAN MEREMEHKAN KEMAMPUAN ORANG LAIN. KESOMBONGAN HANYA AKAN MENDATANGKAN KERUGIAN DAN PENYESALAN DI KEMUDIAN HARI.

Asal Usul Nama Surabaya –  Cerita Rakyat Jawa Timur
Asal Usul Nama Surabaya –  Cerita Rakyat Jawa Timur

Konon pada zaman dahulu hiduplah seekor buaya besar bernama Baya. Ia mempunyai musuh bebuyutan berupa seekor ikan hiu besar bernama Sura. Hampir setiap hari kedua hewan itu saling berkelahi. Keduanya sama-sama kuat, tangguh, dan tangkas hingga tidak ada yang menang maupun yang kalah. Jika Sura dan Baya berkelahi, perairan di sekitar mereka menjadi bergelombang besar lagi keruh. Hewan-hewan air lainnya merasa terganggu karenanya. Mereka telah berusaha mendamaikan Sura dan Baya, namun buaya besar dan juga ikan hiu besar itu tetap juga tidak bisa didamaikan. Keduanya terus bermusuhan dan berkelahi.

Terus-menerus bermusuhan dan berkelahi pada akhirnya membuat keduanya lelah dan bosan. Mereka pun bersepakat untuk menghentikan permusuhan mereka untuk sementara waktu.

Sura dan Baya bertemu untuk menggagas penghentian permusuhan mereka. Pada pertemuan itu Sura memberikan usulnya, “Untuk menghindari perselisihan di antara kita, sebaiknya kita membagi wilayah kekuasaan.”

“Bagaimana maksudmu?”

“Aku berkuasa di air dan engkau di darat. Semua mangsa yang berada di air menjadi bagianku dan semua yang berada di darat menjadi bagian untuk engkau mangsa. Adapun batas antara wilayah kekuasaanku dan kekuasaanmu adalah daerah di mana air laut mencapainya ketika waktu pasang.”

Baya merenung sejenak baru kemudian mengangguk-anggukkan kepala. “Baiklah. Aku setuju dengan saranmu itu.”

Persetujuan antara Sura dan Baya tercapai. Keduanya akhirnya tidak lagi berkelahi setelah keduanya saling membagi wilayah kekuasaan. Semua yang berada di air menjadi mangsa Sura dan semua yang berada di darat menjadi mangsa Baya.

Perdamaian antara Sura dan Baya tampaknya tidak berlangsung lama. Sura mulai melanggarnya. Ia tidak hanya mencari mangsa di laut seperti biasanya, melainkan juga mencari di sungai. Ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui Baya. Namun, betapa pun rapi dan tersembunyinya perilaku curang Sura itu, Baya pada akhirnya mengetahuinya.

Baya amat marah ketika mengetahui Sura mencari mangsa ke sungai. Segera didatanginya Sura dan ditegurnya keras-keras, “Hei Sura! Mengapa engkau melanggar perjanjian perdamaian di antara kita? Berani-beraninya engkau melanggar wilayah kekuasaanku!”

“Siapa yang melanggar wilayah kekuasaanmu?” sergah Sura dengan suara yang tak kalah lantang dibandingkan Baya. “Perjanjian perdamaian di antara kita menyebutkan, aku menguasai seluruh perairan dan engkau menguasai seluruh wilayah daratan. Lantas, apakah aku salah jika mencari mangsa di sungai ini? Bukankah sungai ini juga merupakan wilayah air yang berarti juga menjadi wilayah kekuasaanku?”

Baya merasa, Sura hanya mencari-cari alasan. Sergahnya kemudian, “Engkau benar-benar licik, hei Sura! Engkau hanya ingin mencari mangsa di daratan dan berpura-pura berdamai denganku. Kini, tidak ada lagi perdamaian di antara kita! Siapa yang terkuat di antara kita, maka dialah sang penguasa sesungguhnya yang bebas mencari mangsa di mana pun juga yang dikehendakinya!”

Tantangan Baya segera disambut Sura. “Kita buktikan siapa yang terkuat di antara kita!” serunya.

Pertarungan Sura dan Baya kembali terjadi. Berlangsung sangat seru. Masing-masing menggigit bagian tubuh lawannya. Dengan gigi-gigi runcingnya, Sura menggigit pangkal ekor Baya. Baya yang bergigi kuat itu menggigit ekor Sura hingga hampir putus. Sura yang sangat kesakitan akhirnya kembali ke laut. Baya merasa menang. Terkekeh-kekeh ia tertawa meski ia juga merasa kesakitan. Akibat gigitan Sura, ekornya senantiasa membelok ke arah kiri.

Warga yang mengetahui begitu serunya pertarungan antara Sura dan Baya itu menjadi sangat terkesan karenanya. Mereka pun menamakan wilayah hunian mereka itu dengan gabungan nama Sura dan Baya, yakni Surabaya. Hingga kini Surabaya tetap menjadi nama wilayah yang termasuk salah satu kota terbesar di Indonesia itu.

 

DAMAI ITU INDAH, BERSELISIH ATAU BERKELAHI HANYA AKAN MEMBUAT RUGI. PIHAK YANG MERASA MENANG PUN SESUNGGUHNYA MENGALAMI KERUGIAN DAN MENJADI KORBAN. OLEH KARENA ITU HENDAKLAH MASALAH DISELESAIKAN DENGAN CARA YANG BAIK DAN MENGHINDARI PERSELISIHAN ATAU PERKELAHIAN.

Kumbang Macan dan Seekor Tawon – Cerita Rakyat Lampung
Kumbang Macan dan Seekor Tawon – Cerita Rakyat Lampung

Ada seekor tawon. Si tawon namanya. Ia tinggal bersama tawon-tawon lainnya di sebuah sarang yang terletak di tengah hutan. Mereka saling bekerja sama untuk mencari makan dan menjaga sarang dari serangan hewan-hewan lainnya.

Pada suatu pagi Si tawon mencari makan. Ia terbang mencari kebun bunga. Ia mendengar kabar, di pinggir hutan terdapat kebun bunga. Si tawon terbang bersemangat, meski ia belum mengetahui letak kebun bunga itu. Sambil terbang ia tersenyum. Wajahnya berseri-seri. Terbayang nikmatnya nektar yang akan disantapnya hari itu, jika ia menemukan kebun bunga yang dicarinya.

Ketika melewati pohon beringin besar, Si tawon melihat seekor kumbang macan. Si kumbang macan sedang duduk terdiam di atas dahan. Si tawon segera menghampiri. Katanya, “Salam wahai kumbang macan yang perkasa.”

Kumbang macan sedikit terkejut mendengar sapaan yang tiba-tiba itu. Ia menganggukkan kepala seraya menjawab, “Salam, wahai tawon.”

“Maaf kumbang macan yang perkasa, apakah boleh saya bertanya padamu?”

Kumbang macan menyahut, “Apa yang ingin engkau ketahui?”

“Konon, di pinggir hutan terdapat kebun bunga. Apakah engkau tahu, di mana letak kebun bunga itu?”

“Aku juga mendengar kabar seperti itu,” kata kumbang macan. “Menurut cerita, di tempat itu banyak saudara-saudaraku, para kumbang macan. Tetapi, letaknya di mana, aku sendiri juga tidak tahu. Aku pernah mencoba mencari, namun kebun bunga itu tidak kutemukan. Padahal, aku juga ingin ke sana untuk bertemu saudara-saudaraku itu.”

Si tawon terdiam. Tidak mudah ternyata menemukan kebun bunga yang dicarinya.

Mendadak Kumbang macan tersentak. Ia seperti teringat sesuatu. Katanya, “Beberapa hari lalu aku bertemu kawanan lebah madu pekerja. Mereka baru datang dari kebun bunga di pinggir hutan sebelah utara.”

Wajah Si tawon kembali berseri-seri. “Jika demikian,” ujarnya, “sebaiknya kita berangkat bersama-sama ke sana.”

“Pinggir hutan sebelah utara itu sangat jauh letaknya,” kata kumbang macan. “Jalan menuju tempat itu juga sulit untuk dicapai. Banyak rintangan dan hambatan yang menghadang.”

“Jika kita bersama-sama, kita akan bisa menghadapi rintangan dan hambatan itu,” jawab Si tawon. “Kita bisa saling tolong-menolong dalam perjalanan.”

Kumbang macan terdiam beberapa saat. Ia memikirkan ucapan Si tawon. “Baiklah,” katanya. “Kita berangkat bersama-sama.”

Kumbang macan dan Si tawon berangkat bersama. Keduanya terbang melintaSi semak belukar dan pepohonan. Sesekali sejenak mereka beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Suatu saat kumbang macan kembali meminta mereka sejenak beristirahat. Kumbang macan hinggap di dahan pohon. Si tawon beristirahat di pucuk dedaunan. Mendadak Si tawon melihat sesuatu yang bergerak perlahan menuju kumbang macan. Tubuh sesuatu itu berwarna cokelat kehijauan, mirip dengan warna batang pohon dan daun. Sesekali sesuatu itu menjulurkan lidahnya. Terperanjatlah Si tawon setelah mengamati. Sesuatu itu adalah seekor bunglon. Kumbang macan dalam bahaya, karena bunglon itu bersiap memangsanya!

Si tawon bergerak cepat. Ia menyengat bunglon seraya berteriak, “Kumbang macan, awas! Lekas terbang! Lekas!”

Kumbang macan terkejut. Ia bergegas terbang.

Bunglon itu urung memangsa kumbang macan akibat sengatan Si tawon berulang-ulang mengenai tubuhnya.

“Terima kasih, tawon,” ujar kumbang macan setelah terbebas dari bahaya besar yang mengancam jiwanya.

Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Mereka terbang berdekatan untuk menjaga kemungkinan yang menghambat perjalanan keduanya. Mendadak Si tawon melesat mendahului kumbang macan. Ia seperti ingin segera tiba di kebun bunga yang mereka tuju.

Tiba-tiba Si tawon tak lagi bisa terbang. Ia merasakan tubuhnya melekat pada sesuatu. Ia meronta-ronta untuk melepaskan diri. Namun, semakin ia bergerak, semakin kuat ia menempel pada sesuatu itu. Si tawon ternyata terjerat pada sarang laba-laba.

“Tolong… tolooongl!” jerit Si tawon.

Si tawon semakin ketakutan saat melihat laba- laba besar bergerak mendekatinya. Ia semakin keras meronta-ronta, tetapi sarang laba-laba semakin erat menjeratnya. Si tawon tak lagi berdaya. Tak bisa dibayangkannya sebentar lagi ia akan dimangsa laba-laba.

Kumbang macan terkejut melihat Si tawon terjerat sarang laba-laba. Bertambah keterkejutannya saat mendapati laba-laba bergerak perlahan mendekati Si tawon. Ia tak ingin sahabat perjalanannya itu dimangsa laba-laba. Ingin pula ia membalas pertolongan Si tawon. Maka, dengan sekuat tenaga diterjangnya sarang laba-laba. Dengan kepala dan tubuhnya yang keras serta kaki-kakinya yang kasar lagi kuat, ia merusak sarang laba-laba. Jaring-jaring pembentuk sarang itu putus dan berantakan. Sebelum laba-laba menyergap Si tawon, Si tawon telah berhasil membebaskan diri.

Si tawon selamat. “Terima kasih, kumbang macan,” katanya.

Kumbang macan menganggukkan kepala.

Si tawon dan kumbang macan kembali melanjutkan perjalanan. Mereka kembali terbang berdekatan. Si tawon bahkan tidak ingin berjauhan dari kumbang macan. Begitu pula sebaliknya. Mereka saling menjaga dan bersiap menolong jika masing-masing membutuhkan pertolongan.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, Si tawon dan kumbang macan akhirnya tiba di tempat tujuan mereka. Sebuah kebun bunga terbentang luas. Aneka bunga tumbuh subur di kebun bunga itu.

Tak terkirakan gembiranya Si tawon dan kumbang macan. Si tawon bisa mendapatkan nektar yang banyak. Begitu pula dengan kumbang macan. Ia dapat bertemu dengan saudara-saudaranya yang banyak berada di kebun bunga itu.

BERSATU DAN BEKERJASAMA SERTA SALING BANTU-MEMBANTU AKAN MEMBUAT SESUATU YANG BERAT DAPAT LEBIH MUDAH UNTUK DILAKUKAN.

Kisah Kambing, Beruang, dan Harimau – Cerita Rakyat Lampung
Kisah Kambing, Beruang, dan Harimau – Cerita Rakyat Lampung

Hiduplah seekor induk kambing pada zaman dahulu. Si induk kambing mempunyai seekor anak. Keduanya menjadi hewan peliharaan Raja Maskhaja.

Pada suatu hari Raja Maskhaja berniat menikahkan putranya dengan putri dari negeri seberang. Karena terjadi musim kemarau yang berkepanjangan, Raja Maskhaja lantas mengundang sanak kerabatnya untuk membantu mewujudkan rencana pernikahan putranya itu. Pada pertemuan dengan seluruh sanak kerabatnya, Raja Maskhaja menyebutkan akan menyembelih dua ekor kambing miliknya.

Anak kambing yang tengah berada di bawah rumah pertemuan Raja Maskhaja dengan sanak kerabatnya itu mendengar rencana Raja Maskhaja yang akan menyembelih dirinya dan induknya. Si anak kambing lantas membangunkan induknya yang tengah tidur. Katanya, “Ibu, aku mendengar rencana majikan kita yang akan menyembelih kita pada pesta pernikahan putra majikan kita. Aku sangat takut, Bu! Lantas, apa yang seharusnya kita lakukan?”

Induk kambing lalu mengajak anaknya itu untuk melarikan diri malam itu juga. “Mumpung mereka masih berembuk, kita melarikan diri sekarang ini juga.”

Induk kambing dan anaknya segera berjalan mengendap-endap meninggalkan tempat mereka dipelihara. Kegelapan malam membantu pelarian mereka hingga dua ekor kambing itu berhasil tiba di pinggir hutan. Meski sesungguhnya takut memasuki hutan, namun induk kambing dan anaknya nekat melakukannya. “Lebih baik kita bersembunyi di hutan ini daripada harus menjadi korban,” kata induk kambing.

Induk kambing dan anaknya terus berjalan memasuki kelebatan hutan. Keduanya berjalan tak tentu arah karena yang terpenting bagi mereka adalah dapat sejauh mungkin dari istana Raja Maskhaja. Mereka terus berjalan hingga akhirnya waktu pagi pun tiba. Induk kambing dan anaknya telah jauh memasuki hutan. Induk kambing menyarankan agar mereka beristirahat terlebih dahulu.

“Ya, Bu,” ujar Si anak kambing. “Lagipula, selain lelah, aku juga sudah sangat lapar.”

Mereka mendapati di bagian hutan itu banyak tumbuh rumput. Keduanya lantas makan rumput dengan amat lahapnya. Ketika keduanya tengah makan, mendadak mereka mendengar auman seekor harimau.

Tubuh induk kambing dan anaknya seketika itu menjadi gemetar. Mereka sangat ketakutan. Serasa sia-sia perjalanan jauh mereka untuk melarikan diri dari rencana penyembelihan Raja Maskhaja, mereka kini harus berhadapan dengan seekor harimau yang bisa saja memangsa mereka!

Induk kambing dan anaknya lantas bersembunyi di balik pepohonan besar.

Namun, Si harimau mengetahui tempat persembunyian mereka. Teriak Si harimau, “Hei, sedang apa kalian?”

Begitu takutnya Si induk kambing, hingga ia menjawab terbata-bata dan terlepas jawabannya, “Kami… kami sedang makan … bawang.”

Syahdan, seekor beruang berada tak jauh dari Si induk kambing dan juga anaknya. Si beruang mendengar jawaban Si induk kambing. Karena ucapan Si induk kambing terbata-bata, Si beruang salah dengar. Dalam pendengarannya, Si induk kambing sedang memakan beruang!

Si beruang sangat takut. Seumur hidupnya ia belum pernah melihat kambing dan ia percaya jika kambing adalah makhluk pemangsa beruang. Si beruang pun langsung memanjat pohon untuk menghindar menjadi mangsa Si kambing.

Si harimau terheran-heran melihat Si beruang memanjat pohon dengan tergesa-gesa. “Apa yang hendak engkau perbuat hei beruang? Mengapa engkau memanjat pohon itu?”

“Ada kambing yang sedang memakan beruang,” jawab Si beruang.

Si harimau tertawa terbahak-bahak. “Apa katamu? Ada kambing yang sedang makan beruang?”

“Ya,” jawab Si beruang tetap dengan ketakutannya.

“Engkau salah dengar, beruang. Kambing itu tidak sedang makan beruang, melainkan sedang makan bawang,” jelas Si harimau.

Si beruang tetap tidak percaya dengan penjelasan Si harimau. Ia bahkan menyangka Si harimau hendak menjerumuskannya agar menjadi mangsa Si kambing. Ia menyangka Si harimau berbohong padanya.

“Aku tidak berbohong,” jawab Si harimau. “Turunlah. Engkau tidak perlu merasa takut kepada kambing. Kambing tidak sedang memakan beruang, melainkan sedang memakan bawang.”

Si beruang tetap saja ketakutan. Katanya kemudian, “Harimau, aku mau turun jika engkau bersedia mengawalku. Bahkan, aku mau berkenalan dengan kambing itu jika engkau tetap mengawalku. Sungguh, aku tidak ingin menjadi mangsa kambing!”

“Pengawalan bagaimana yang engkau kehendaki?” tanya Si harimau.

“Aku meminta ekor kita terikat menjadi satu. Dengan cara itu maka engkau telah menunjukkan jika engkau tidak berniat menjerumuskanku untuk menjadi mangsa kambing.”

Si harimau akhirnya setuju. Si beruang pun turun dan kemudian mendekati Si harimau. Keduanya saling mengikatkan ekor masing-masing.

Semua percakapan antara Si harimau dan Si berung itu didengar dan diketahui induk kambing dan anaknya. Sesungguhnya keduanya benar-benar telah ketakutan berhadapan dengan harimau dan juga beruang. Namun, karena mereka mengetahui beruang takut bertemu dengan mereka, keberanian mereka pun timbul. Bahkan, mereka mempunyai rencana untuk membebaskan diri dari kemungkinan menjadi mangsa harimau atau beruang.

Ketika Si harimau dan Si beruang dengan kedua ekor saling terikat datang mendekat, induk kambing dan anaknya segera berteriak keras-keras. Sangat keras teriakan mereka hingga membuat Si beruang terperanjat bukan alang kepalang. Karena terperanjat, Si beruang pun lari tunggang langgang. Ketika berlari menjauh itulah ekornya terputus dan tetap menyatu dengan ekor harimau!

Konon, sejak saat itu ekor beruang pendek dan ekor harimau bertambah panjang dengan tambahan ekor beruang padanya.

 

KECERDIKAN DAN KEBERANIAN AKAN DAPAT MENGALAHKAN KEKUATAN ATAU KEPERKASAAN. AKAL AKAN DAPAT MENGALAHKAN OTOT. OLEH KARENA ITU KITA HENDAKLAH TETAP MENGEDEPANKAN KECERDIKAN DAN JUGA KEBERANIAN KETIKA MENGHADAPI SITUASI DAN KONDlSl YANG BAGAIMANAPUN JUGA. TERMASUK SITUASI DAN KONDISI YANG BERBAHAYA SEKALIPUN.

Kancil Bertemu Buaya yang Menguap – Fabel
Kancil Bertemu Buaya yang Menguap – Fabel

Di sore yang cerah, keluarga Kancil mendapat kabar dari seekor burung bahwa ada keluarga mereka yang sedang sakit di hutan seberang. Mereka memutuskan untuk menjenguknya. Setelah beberapa lama berjalan mereka pun harus menyebrangi sungai agar mereka cepat sampai di tujuan.

“Bagaimana cara kita menyebrangi sungai itu?” tanya Kancil pada ayah dan ibunya.

Ibu dan Ayah Kancil menoleh ke kanan dan kiri. Mereka cemas jika ada seekor buaya di sungai itu.

Ternyata benar saja, ada punggung buaya yang sedang lalu lalang di sungai.

“Ssst, lihat, ada buaya. Dia mulai memunculkan kepalanya. Lebih baik kita jangan menyebrang dulu.” Ayah Kancil melihat Buaya itu seperti sedang mengawasi daerahnya. Sepertinya, dia tahu jika ada yang hendak menyebrangi sungai.

 

“Ibu! Lihat buaya itu memakan anaknya sendiri!” Kancil berseru kaget. Tubuhnya bergidik ngeri ketakutan.

Ibu Kancil melirik waspada ke arah Buaya.

“Ssst, jangan berisik Kancil. Merunduklah!” Kata Ibu Kancil sambil waspada.

“Apa dia sangat lapar sampai memakan anaknya sendiri? Berarti kalau dia sudah kenyang, kita bisa melewati sungai itu dengan aman, kan?” Bisik Kancil kecil.

Ayah kancil menggeleng. “’Dia bukan sedang makan, tapi sedang melindungi anaknya. Mungkin dia merasa ada bahaya di sekitar sini,” kata Ayah Kancil.

“Ooh seperti itu, Yah.” Ketakutan Kancil pun mereda.

“Apa sebaiknya kita jalan memutari hutan saja, Yah?” Tanya Ibu Kancil.

Ayah kancil berpikir keras. Mereka harus memutari hutan jika tidak mau menyebrangi sungai itu. Tetapi itu memakan waktu yang sangat lama sampai semalaman.

“Iya, lebih kita memutar saja daripada menantang bahaya,” jawab Ayah Kancil dengan yakin.

“Yuk, kita jalan,” ajak Ibu Kancil.

Sembari mulai berjalan, Kancil sesekali menatap ke arah buaya. Ia melihat buaya itu sudah mengeluarkan anaknya dari mulutnya dan sesekali menguap lebar, sampai Kancil bisa meilhat gigi-giginya yang tajam.

Tiba-tiba menghentikan langkahnya Kancil berkata, “Ayah, Ibu, tunggu dulu. Sepertinya buaya itu ngantuk sekali, dia sudah menguap tiga kali. Sebentar lagi dia pasti akan tertidur, kalau dia tidur kita bisa menyebrang sungai!”

Ayah Kancil menggeleng dan tetap berjalan.

“Kenapa Ayah? Memutari hutan kan jauh sekali, aku pasti akan kelelahan. Kalau lewat sungai itu pasti kita akan cepat bertemu keluarga disana.” Kancil mencoba membujuk Ayahnya, tetapi tidak berhasil.

“Ayo, nak, itu tetap berbahaya, turuti apa yang ayah dan ibu katakan,” kata Ibu Kancil.

“Lihat  dia menguap lagi, Bu!” tunjuk Kancil ke arah buaya.

Ibu Kancil pun berbalik arah menghampiri Kancil. “Nak, meski Buaya menguap berkali-kali bukan berati ia mengantuk. Itu adalah cara Buaya mengeluarkan panas tubuhnya karena ia tidak bisa mengeluarkan keringat,” jelas Ibu kancil.

“Iya, benar apa yang Ibu bilang, bukan karena mengantuk, Nak,” timpal Ayah kancil sambil mendorong tubuh Kancil agar berpijak dari tempat itu.

“Ooh, seperti itu, ya. Untung Ayah dan Ibu memberi tahu aku, kalau tidak aku bisa tertipu oleh Buaya itu dan dimakan olehnya!” ucap Kancil lega sambil melanjutkan perjalanannya.

SEORANG ANAK HARUSLAH MENURUTI PERKATAAN ORANG TUA, APABILA TIDAK INGIN MENDAPAT KESIALAN, KARNA ORANG TUA MENGETAHUI APA YANG TERBAIK UNTUK ANAKNYA