Kategori: Buaya

Kancil Bertemu Buaya yang Menguap – Fabel
Kancil Bertemu Buaya yang Menguap – Fabel

Di sore yang cerah, keluarga Kancil mendapat kabar dari seekor burung bahwa ada keluarga mereka yang sedang sakit di hutan seberang. Mereka memutuskan untuk menjenguknya. Setelah beberapa lama berjalan mereka pun harus menyebrangi sungai agar mereka cepat sampai di tujuan.

“Bagaimana cara kita menyebrangi sungai itu?” tanya Kancil pada ayah dan ibunya.

Ibu dan Ayah Kancil menoleh ke kanan dan kiri. Mereka cemas jika ada seekor buaya di sungai itu.

Ternyata benar saja, ada punggung buaya yang sedang lalu lalang di sungai.

“Ssst, lihat, ada buaya. Dia mulai memunculkan kepalanya. Lebih baik kita jangan menyebrang dulu.” Ayah Kancil melihat Buaya itu seperti sedang mengawasi daerahnya. Sepertinya, dia tahu jika ada yang hendak menyebrangi sungai.

 

“Ibu! Lihat buaya itu memakan anaknya sendiri!” Kancil berseru kaget. Tubuhnya bergidik ngeri ketakutan.

Ibu Kancil melirik waspada ke arah Buaya.

“Ssst, jangan berisik Kancil. Merunduklah!” Kata Ibu Kancil sambil waspada.

“Apa dia sangat lapar sampai memakan anaknya sendiri? Berarti kalau dia sudah kenyang, kita bisa melewati sungai itu dengan aman, kan?” Bisik Kancil kecil.

Ayah kancil menggeleng. “’Dia bukan sedang makan, tapi sedang melindungi anaknya. Mungkin dia merasa ada bahaya di sekitar sini,” kata Ayah Kancil.

“Ooh seperti itu, Yah.” Ketakutan Kancil pun mereda.

“Apa sebaiknya kita jalan memutari hutan saja, Yah?” Tanya Ibu Kancil.

Ayah kancil berpikir keras. Mereka harus memutari hutan jika tidak mau menyebrangi sungai itu. Tetapi itu memakan waktu yang sangat lama sampai semalaman.

“Iya, lebih kita memutar saja daripada menantang bahaya,” jawab Ayah Kancil dengan yakin.

“Yuk, kita jalan,” ajak Ibu Kancil.

Sembari mulai berjalan, Kancil sesekali menatap ke arah buaya. Ia melihat buaya itu sudah mengeluarkan anaknya dari mulutnya dan sesekali menguap lebar, sampai Kancil bisa meilhat gigi-giginya yang tajam.

Tiba-tiba menghentikan langkahnya Kancil berkata, “Ayah, Ibu, tunggu dulu. Sepertinya buaya itu ngantuk sekali, dia sudah menguap tiga kali. Sebentar lagi dia pasti akan tertidur, kalau dia tidur kita bisa menyebrang sungai!”

Ayah Kancil menggeleng dan tetap berjalan.

“Kenapa Ayah? Memutari hutan kan jauh sekali, aku pasti akan kelelahan. Kalau lewat sungai itu pasti kita akan cepat bertemu keluarga disana.” Kancil mencoba membujuk Ayahnya, tetapi tidak berhasil.

“Ayo, nak, itu tetap berbahaya, turuti apa yang ayah dan ibu katakan,” kata Ibu Kancil.

“Lihat  dia menguap lagi, Bu!” tunjuk Kancil ke arah buaya.

Ibu Kancil pun berbalik arah menghampiri Kancil. “Nak, meski Buaya menguap berkali-kali bukan berati ia mengantuk. Itu adalah cara Buaya mengeluarkan panas tubuhnya karena ia tidak bisa mengeluarkan keringat,” jelas Ibu kancil.

“Iya, benar apa yang Ibu bilang, bukan karena mengantuk, Nak,” timpal Ayah kancil sambil mendorong tubuh Kancil agar berpijak dari tempat itu.

“Ooh, seperti itu, ya. Untung Ayah dan Ibu memberi tahu aku, kalau tidak aku bisa tertipu oleh Buaya itu dan dimakan olehnya!” ucap Kancil lega sambil melanjutkan perjalanannya.

SEORANG ANAK HARUSLAH MENURUTI PERKATAAN ORANG TUA, APABILA TIDAK INGIN MENDAPAT KESIALAN, KARNA ORANG TUA MENGETAHUI APA YANG TERBAIK UNTUK ANAKNYA