Kisah Ular dan Kerbau – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Pada zaman dahulu semua hewan dapat berbi-cara layaknya manusia. Mereka hidup bersama di dalam hutan belantara. Di antara hewan-hewan itu terdapat seekor ular yang sombong. Karena kesombongannya, banyak hewan yang tidak mau bersahabat dengan Si ular.

Pada suatu hari kerbau dan ular bertemu di pinggir hutan. Kata Si ular, “Wahai kerbau, jika kuperhatikan, tubuhmu memang besar. Namun, aku sangSi apakah kekuatanmu itu juga besar seperti besarnya tubuhmu itu.”

Si kerbau terlihat sangat jengkel mendengar ucapan Si ular. Jawabnya, “Tentu saja kekuatanku juga besar. Bahkan, kekuatanku jauh lebih besar dibandingkan kekuatan tubuhmu yang kurus, kecil, lagi panjang mirip tali itu!”

Si ular menjadi marah. “Betapa sombongnya engkau ini, hei kerbau!” hardiknya.

“Justru engkau itulah yang sombong!” sergah Si kerbau tak mau mengalah. “Tak pernah aku meragukan kemampuan kekuatanmu, namun engkau yang memulai dengan meragukan kekuat-anku. Begitu pun engkau menyebutku sombong? Bukankah engkau itulah yang terkenal sombong selama ini?”

Si ular kian marah. Katanya untuk mema-merkan kekuatannya, “Jika aku membelit tubuh hewan, meskipun hewan itu besar tubuhnya, aku jamin tubuhnya pasti remuk. Tulang-tulangnya akan hancur. Hewan itu akan mati dan akhirnya bisa kumangsa.”

Meski Si ular berbicara dengan sombongnya, Si kerbau hanya menanggapi dengan senyum sinisnya. “Hanya begitu kemampuanmu yang sangat engkau sombongkan itu?” tanyanya.

Si ular kian murka. Kemampuan dirinya yang menurutnya hebat, serasa dilecehkan Si kerbau. “Apakah menurutmu kekuatanmu itu mampu me-lebihi kekuatanku?” tanyanya dengan suara galak.

“Seperti yang telah kusebutkan tadi, kekuat-anku jauh lebih besar dibandingkan kekuatanmu,” jawab Si kerbau. “Tidakkah engkau mengetahui jika bangsa manusia senantiasa menggunakan kekuatan tubuhku untuk membajak sawah? Tidakkah engkau melihat jika bangsa manusia menggunakan bangsaku untuk menarik barang- barang yang sangat berat? Itu semua telah jelas menunjukkan bahwa kekuatanku jauh lebih be¬sar daripada kekuatanmu. Tidak perlu aku harus membelit seperti yang engkau lakukan, karena hanya dengan dengusan napasku saja aku telah dapat meremukkan tubuh hewan yang berani menggangguku! Apakah itu masih belum cukup bukti bagimu bahwa aku lebih kuat dibanding¬kan dirimu?”

“Jangan karena tubuhmu besar lantas eng¬kau menyangka engkau lebih kuat dari aku!” seru Si ular. “Kita bisa buktikan, siapa di antara kita yang lebih kuat.”

Si kerbau menerima tantangan Si ular. “Siapa yang lebih dahulu menunjukkan kekuatannya?” tanya Si kerbau kian menunjukkan tantangannya.

“Karena tubuhku lebih kecil, baiklah aku yang memulai,” jawab Si ular.

Si kerbau mengiyakan.

Si ular lalu membelit tubuh kerbau. Dike-rahkannya segenap kemampuan dan kekuat¬annya agar dapat lebih kuat membelit. Ia terus berusaha mengerahkan kekuatannya, namun Si kerbau tampak tidak terpengaruh. Si kerbau ter¬lihat tenang-tenang saja.

“Apakah engkau telah mengerahkan sege¬nap kemampuan kekuatanmu?” tanya Si kerbau.

“Ya!” sahut Si ular dengan bangga. “Apakah engkau masih kuat menahan belitanku?”

Si kerbau tertawa. “Lihatlah sendiri,” katanya, “belitanmu masih terlalu lemah untuk melum-puhkanku. Jangankan remuk tulang-tulangku, merasa sakit pun aku tidak. Cobalah untuk lebih mengerahkan kekuatanmu.”

Sia-sia Si ular mengerahkan kekuatan¬nya karena Si kerbau tetap mampu bertahan. Si ular akhirnya menyerah setelah berusaha keras. “Sekarang giliranmu untuk menunjukkan kekuatanmu, kerbau,” katanya.

“Baiklah,” jawab Si kerbau.

Si kerbau menghembuskan napasnya kuat- kuat. Si ular merasakan kesakitan yang sangat pada tubuhnya. Semakin keras hembusan napas kerbau, makin sakit dirasakan Si ular. Si ular merasakan tulang-belulangnya remuk dan belitannya pun seketika itu terlepas. Tubuh Si ular jatuh ke atas tanah karena tak mampu lagi menghadapi hem¬busan napas kerbau.

Si ular tak berdaya …

“Bagaimana, ular? Bukankah telah terbuk¬ti jika kekuatanku jauh melebihi kekuatanmu?”

Si ular akhirnya menyadari, kesombongannya selama itu tidak berguna. Ia ternyata benar-benar tidak berdaya menghadapi kerbau. Kekuatan¬nya yang selama itu disombongkannya ternyata tidak berpengaruh pada kerbau. Ia pun menya¬dari kesalahannya.

Si ular akhirnya berjanji untuk tidak meng-ganggu kerbau hingga ke anak cucunya kemudian. Si kerbau pun juga berjanji untuk tidak meng¬ganggu ular hingga ke anak cucunya kelak. “Satu lagi pintaku,” kata Si kerbau, “Jangan engkau dan anak cucumu mengganggu para penggembala kerbau. Apakah engkau bersedia untuk berjanji?”

Si ular menyatakan kesediaannya.

Maka, sejak saat itu hingga sekarang ini ular tidak pernah mengganggu kerbau dan juga orang yang menggembalakan kerbau.

 

KESOMBONGAN DAN MEMANDANG RENDAH ORANG LAIN HANYA AKAN MERUGIKAN DIRI SENDIRI. ORANG YANG SOMBONG AKAN MENEMUI KEHANCURANNYA YANG SANGAT MENYAKITKAN DI KEMUDIAN HARI.

Leave a comment