La Oto Ontolu – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara

Sumantapura namanya. Ia putra sulung Raja Bulan. Suatu malam ia melihat bumi dari istana Kerajaan Bulan. Sangat indah dalam pandangannya. Ia pun ingin tinggal di bumi. Sumantapura lalu merubah diri menjadi sebutir telur besar. Ia lalu meluncur turun menuju bumi. Dipilihnya sebuah sarang tempat ayam bertelur untuk tempat turunnya. Sarang untuk bertelur ayam itu milik seorang nenek tua.

Ketika telur jelmaan Sumantapura tiba di dalam sarang, ayam-ayam terkejut. Mereka pun ramai berkotek.

Nenek tua yang sedang berada di kebunnya terkejut. Bergegas ia melihat kandang ayamnya. Ia takut ayam-ayamnya diserang atau dimangsa burung gagak. Ia terperanjat mendapati sebutir telur besar di dalam sarang tempat bertelur ayamnya.

“Telur apa ini?” gumam Nenek tua. Seumur hidupnya belum pernah ia mendapati telur sebesar itu. Ia lalu bergegas mengambil keranjang. Diletakkannya telur besar itu di dalam keranjangnya dan disimpannya di dalam gubuknya.

Keesokan paginya Nenek tua kembali ke ladang. Sebelumnya, ia telah memasak naSi dan menyiapkan lauk. Seperti biasanya, ia akan memakannya ketika istirahat tengah hari nanti.

Betapa terkejutnya Nenek tua saat kembali ke gubuknya di siang hari. Ia mendapati naSi dan lauknya telah habis. Bahkan, persediaan air di dalam tempayannya habis tak tersisa.

“Siapa yang tega melakukan semua ini?” gumam Nenek tua dengan perasaan kesal. “Sungguh keterlauan pelakunya.”

Kejadian seperti itu kembali terulang keesokan harinya. Nenek tua yang kembali ke rumahnya pada siang hari hanya mendapati tempat makanannya telah kosong. Begitu pula dengan tempayannya. Kejengkelan Nenek tua semakin menjadi-jadi. Ia berencana menjebak pelaku yang dianggapnya keterlaluan kelakuannya itu.

Pagi berikutnya Nenek tua kembali menyiapkan makanan. NaSi dan lauk. Diletakkannya di atas meja seperti biasanya. Sirih dan tembakau diletakkannya di atas meja. Tempayan telah pula diisinya air hingga penuh. Ia lalu mengambil tembilang, alat yang digunakannya untuk menyiangi rumput. Bergegas ia menuju ladangnya.

Sepeninggal Nenek tua, Sumantapura keluar dari dalam telur raksasa. Ia tersenyum senang melihat makanan telah terhidang di atas meja. Bergegas ia melihat tempayan air. Bertambah senang ia melihatnya. Sumantapura lalu mandi. Dihabiskannya air dalam tempayan itu untuk sekali mandi.

Selesai mandi, Sumantapura duduk di depan meja. Semua hidangan dimakannya hingga habis tak tersisa. Dibiarkannya peralatan makannya begitu saja. Pandangannya terbentur pada sirih dan tembakau. Belum pernah ia melihat benda itu. Ia pun mencoba memakannya. Rasanya pahit, tidak seenak makanan yang tadi dihabiskannya. Ia merasa pusing setelah memakannya. Tetapi Sumantapura terus memaksa memakannya. Rasa pusingnya semakin menjadi-jadi hingga akhirnya Sumantapura jatuh pingsan di tempat itu.

Tak berapa lama kemudian Nenek tua kembali. Sesuai rencananya, ia sengaja lebih cepat pulang untuk mengetahui siapa pelaku yang telah menghabiskan makanannya.

Nenek tua terperanjat mendapati seorang pemuda gagah tergeletak di dekat meja gubuknya. Ia khawatir pemuda asing itu telah meninggal di dalam gubuknya. Sejenak ia mengamati, Nenek tua mengetahui, pemuda itu tidak mati. Pemuda gagah itu hanya pingsan.

Nenek tua pun menyadarkan Si pemuda gagah.

“Siapa engkau ini?” tanya Nenek tua. “Mengapa engkau tega menghabiskan makanan dan airku?”

“Namaku Sumantapura, Nek,” jawab Si pemuda. “Aku putra sulung Raja Bulan.”

Nenek tua terkejut. “Engkau putra Raja Bulan?” tanyanya meyakinkan.

“Benar, Nek.”

“Mengapa engkau bisa berada di gubukku ini?”

Sumantapura lalu menjelaskan penyebab ia turun dari Kerajaan Bulan hingga akhirnya tiba di gubuk Nenek tua. Ia juga meminta maaf karena telah menghabiskan makanan dan persediaan air Nenek tua.

Nenek tua memaafkan. Ia juga mengizinkan Sumantapura tinggal bersamanya setelah Sumantapura meminta izinnya. Nenek tua menganggap Sumantapura selaku cucunya.

Sejak tinggal bersama Nenek tua, Sumantapura merasa iba pada Nenek tua itu. Tempat kediamannya hanyalah sebuah gubuk yang telah reyot. Ia ingin membalas kebaikan Nenek tua. Ia lalu mengerahkan kesaktiannya. Dirubahnya gubuk reyot itu menjadi sebuah rumah seindah istana. Lengkap dengan segala perabotannya. Berbagai keperluan rumah telah pula disediakannya.

Kehidupan Nenek tua berubah membaik, setelah Sumantapura tinggal bersamanya. Kini tempat tinggalnya sangat megah dan semua kebutuhan hidupnya telah tersedia.

Suatu hari Sumantapura terlihat terdiam. Ia nampak murung.

“Apa yang terjadi padamu hingga engkau terlihat murung, wahai cucuku?”

“Nek, rumah kediaman kita ini sangat besar lagi megah. Namun, terasa lengang karena hanya kita huni berdua,” jawab Sumantapura.

“Lalu, apa keinginanmu?”

“Aku ingin beristri, Nek.”

Nenek tua menganggukkan kepala. “Sebutkan siapa perempuan yang ingin engkau nikahi? Sebutkan, cucuku. Aku akan melamarkannya untukmu.”

Sumantapura menjawab, ‘Aku ingin beristrikan putri sulung Sang Raja, Nek.”

Nenek tua mengetahui Sang Raja memiliki tujuh putri. Kesemuanya sangat cantik wajahnya. Mereka belum bersuami. Pantas jika salah seorang putri raja itu menikah dengan Sumantapura.

Tetapi Sumantapura berpesan ketika Nenek tua nanti melamar. Katanya, “Sekali-kali janganlah Nenek menyebutkan siapa aku yang sesungguhnya. Aku akan merubah diri menjadi telur. Sebutkan namaku La Onto Ontolu ketika melamar.”

Nenek tua keheranan. Mengapa Sumantapura harus bersiasat seperti itu? Padahal, jika Sumantapura mengaku siapa dirinya yang sesungguhnya, ia yakin, putri raja akan menerima pinangan putra Raja Bulan yang sangat tampan lagi sakti itu.

Sumantapura menjelaskan, “Aku ingin mendapatkan istri yang baik hati, Nek. Istri yang bisa menerimaku tanpa mengetahui siapa diriku yang sesungguhnya.”

Nenek tua hanya bisa menuruti. Ia datang menghadap Sang Raja. Ia ungkapkan keinginannya untuk melamar putri sulung Sang Raja untuk cucunya.

“Siapa nama cucumu, Nek?” tanya Sang Raja.

“Namanya La Onto Ontolu, Tuanku Raja.”

Sang Raja tertawa mendengarjawaban Nenek tua. Baru pertama kali itu ia mendengar nama orang seperti itu. Sang Raja mempersilahkan putri sulungnya untuk menjawab sendiri.

“Aku tidak mau bersuamikan seseorang bernama aneh seperti itu,” jawab Putri Sulung Sang Raja.

Nenek tua kembali pulang. Hasil lamarannya dijelaskannya pada Sumantapura.

Sumantapura tidak nampak bersedih. Ia meminta Nenek tua melamar putri kedua Sang Raja.

Putri Kedua Sang Raja juga menolak. Begitu pula dengan Putri Ketiga, Putri Keempat, Putri Kelima, dan Putri Keenam. Mereka tidak bersedia menikah dengan lelaki bernama La Onto Ontolu.

Nenek tua bolak-balik ke istana kerajaan. Kini harapannya tinggal satu, Putri Bungsu Sang Raja. Sesuai permintaan Sumantapura, ia melamar putri bungsu itu.

Berbeda dengan enam kakaknya, Putri Bungsu Sang Raja menerima lamaran Nenek tua.

Tak urung Sang Raja terkejut karenanya. “Putri bungsuku,” kata Sang Raja. “Benarkah engkau bersedia menikah dengan seorang lelaki bernama La Onto Ontolu?”

Putri Bungsu Sang Raja mantap menganggukkan kepala. “Benar, Ayah. Bisa jadi La Onto Ontolu itulah jodoh hamba.”

Sang Raja menyerahkan sepenuhnya keputusan itu pada anak bungsunya. Jika anak bungsunya menerima, ia juga menerimanya.

Nenek tua senang mendengar keputusan Sang Raja dan Putri Bungsu Sang Raja. Sebagai tanda telah terjadinya ikatan, Nenek tua memberikan telur raksasa kepada Putri Bungsu Sang Raja.

Sepeninggal Nenek tua, Putri Bungsu Sang Raja membawa telur besar itu dan menyimpannya di dalam kamarnya.

Sejak telur besar itu berada di kamar Putri Bungsu Sang Raja, terjadi kegemparan di istana kerajaan. Persediaan air yang melimpah ruah pada sore hari untuk Putri Bungsu, keesokan harinya telah habis tak tersisa. Putri Bungsu bingung dan keheranan. Ia telah bertanya, siapa yang menghabiskan air untuknya, semuanya tidak mengetahui. Kejadian itu berlangsung beberapa hari.

Putri Bungsu berencana menyelidiki. Ia tahu, pengguna air itu akan menghabiskan air pada malam hari. Maka, malam hari itu ia berpura-pura tidur di kamarnya. Mendadak ia melihat sebuah keanehan. Dari telur besar yang disimpan di kamarnya keluar seorang pemuda. Sangat tampan wajahnya. Pemuda, yang tak lain Sumantapura itu, nampak mencoba meyakinkan jika Putri Bungsu telah tidur. Dengan langkah berjingkat-jingkat Sumantapura lalu menuju kamar mandi.

Sumantapura mandi dan menghabiskan semua persediaan air di kamar mandi itu. Setelah mandi, Sumantapura kembali masuk ke dalam telur besar.

Putri Bungsu telah mengetahui rahasia habisnya air di kamar mandinya.

Putri Bungsu mencoba mencari tahu, siapa pemuda yang bersembunyi di dalam telur besar itu. Ia mendatangi Nenek tua. Rahasia Sumantapura terbuka. Putri Bungsu memohon kepada Sang Raja agar segera dinikahkan dengan La Onto Ontolu.

Pernikahan antara La Onto Ontolu dan Putri Bungsu dilangsungkan secera meriah. Terperanjatlah enam kakak Putri Bungsu saat mengetahui siapa La Onto Ontolu. Mereka tak menyangka jika La Onto Ontolu itu pemuda yang gagah lagi sangat tampan wajahnya. Mereka menyesal telah menolak lamaran La Onto Ontolu dan bahkan menertawakannya. Bertambah penyesalan mereka saat mengetahui La Onto Ontolu sesungguhnya adalah Pangeran Sumantapura, pangeran sulung Kerajaan Bulan.

Enam kakak Putri Bungsu sangat iri dengan nasib baik adik bungsu mereka. Rasa iri mereka membesar dan berubah menjadi dendam. Mereka berencana membuat adik bungsu mereka menderita. Mereka bersama-sama memikirkan rencanajahat.

Rencana jahat itu didapatkan. Enam kakak Putri Bungsu lalu mengajak Putri Bungsu dan suaminya untuk berlibur ke laut. Mereka merencanakan mandi air laut. Tanpa curiga, Putri Bungsu menerima ajakan itu. Ia sangat suka berlibur ke laut.

“Jangan lupa,” kata Putri Sulung, “bawalah puan milikmu.”

Puan adalah tempat sirih. Putri Bungsu mempunyai puan kesayangan. Tempat sirih itu sangat indah, terbuat dari emas. Putri Bungsu tidak hanya membawa tempat sirihnya saja, melainkan juga sirih dan bekal lainnya.

Mereka akhirnya berlibur ke laut. Mereka menaiki perahu kerajaan. Ketika perahu telah di tengah laut dan Putri Bungsu sedang bersama suaminya, Putri Sulung diam-diam membuang puan Putri Bungsu ke laut.

“Astaga!” seru Putri Sulung berpura-pura, “Bungsu! Puan-mu terjatuh ke laut!”

Putri Bungsu sangat terkejut. Ia tak ingin kehilangan puan kesayangannya. Ia merengek- rengek kepada suaminya untuk menyelam dan mengambil puan kesayangannya.

“Baiklah,” ujar Sumantapura. Ia bergegas melompat ke dalam laut.

Ketika Sumantapura sedang menyelam, diam- diam kakak Putri Bungsu mengayuh perahu diam- diam. Perlahan-lahan perahu menjauh dari tengah laut, seperti terkena angin laut. Perahu akhirnya menepi ke pinggir laut.

Putri Bungsu hanya bisa menangis sedih. Ia tidak hanya kehilangan puan kesayangan, melainkan juga suami yang dicintainya. Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan hancur. Sementara itu enam kakaknya merasa puas karena telah bisa melampiaskan iri dan dendam mereka.

Putri Bungsu sendirian di kamarnya. Kesedihannya meninggi. Saat tengah malam, ia mendengar suara ketikan pada pintunya.

“Siapa?”

“Aku. Suamimu,” jawab suara itu dari luar. “Lekas buka pintu.”

Putri Bungsu tidak begitu saja percaya. Ia takut kembali diperdaya. Ia biarkan saja ketukan dan panggilan itu.

“Bungsu, aku Sumantapura, suamimu.”

“Tidak!” tegas Putri Bungsu. “Suami tercintaku telah meninggal, tenggelam di laut.”

“Aku masih hidup. Puan kesayanganmujuga telah kutemukan.”

Tetapi Putri Bungsu tetap tidak percaya. Ia khawatir orang itu hanya mengaku sebagai suaminya dan ia bermaksud jahat padanya.

“Baiklah. Jika engkau tidak percaya, aku akan kembali ke Kerajaan Bulan. Puan-mu kutinggalkan di depan pintu ini.”

Putri Bungsu akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamarnya. Benar, dilihatnya puan kesayangannya di depan pintu itu. Sadarlah dirinya jika orang yang mengetuk pintu kamarnya adalah suaminya. Tetapi, ke mana sekarang suaminya?

Putri Bungsu bergegas mencari. Suaminya telah pergi jauh. Putri Bungsu pun berteriak kuat- kuat, “Suamiku! Bawalah aku besertamu!”

Teriakan Putri Bungsu didengar Sumantapura. Bergegas ia kembali untuk menemui istrinya itu. Keduanya kembali bertemu.

“Benar engkau bersedia kubawa pulang ke Kerajaan Bulan?” tanya Sumantapura.

“Ya. Aku ingin hidup bersamamu, di manapun juga engkau berada.”

“Baiklah. Kita akan menuju Kerajaan Bulan. Tapi, ada syarat yang sangat berat yang harus engkau penuhi.”

“Syarat apakah itu, suamiku?”

“Jika engkau mengeluh dalam perjalanan kita nanti, maka seketika itu engkau akanjatuh kembali ke bumi. Apakah engkau bersedia?”

“Aku bersedia,” jawab Putri Bungsu. “Aku tidak akan mengeluh dalam perjalanan kita nanti.”

Sumantapura lalu mengajak istrinya menuju Kerajaan Bulan. Di tengah perjalanan, Putri Bungsu merasa sangat kedinginan. Tanpa sadar, ia pun mengeluh. Maka, seketika itu pula Putri Bungsu terjatuh kembali ke bumi.

Sumantapura tiba sendirian di Kerajaan Bulan. Ia merasa sedih karena tidak bisa bersama istri tercintanya. Ia ingin bersama istrinya. Maka, dimintanya adiknya untuk menjemput istrinya di bumi.

Adik Sumantapura sangat sakti. Dengan kesaktiannya, sekejap saja ia telah tiba di bumi. Ia mengajak Putri Bungsu ke Kerajaan Bulan. Tak perlu waktu lama, Putri Bungsu dan Sumantapura telah bersatu kembali.

Putri Bungsu hidup berbahagia bersama suaminya di Kerajaan Bulan.

 

ORANG YANG SABAR AKAN MENUAI KEBAHAGIAAN DI KEMUDIAN HARI.

Leave a comment