Nenek Pakande – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Selintas, ia tak ubahnya seorang nenek tua renta. Semua rambutnya telah memutih dan berkonde. Kulit wajahnya telah keriput. Tubuhnya tidak lagi tegap, jika berjalan agak membungkuk. Tapi, ia sangat ditakuti karena kekejamannya. Kegemarannya menculik dan memangsa anak- anak!

Dialah Nenek Pakande, nenek siluman betina. Ia biasa mencari mangsa ketika menjelang malam. Anak-anak yang masih bermain di luar rumah ketika malam tiba, akan menjadi sasaran penculikannya.

Nenek itu sangat sakti. Tidak ada warga yang bisa mengalahkannya. Namun, nenek siluman itu sangat takut dengan raksasa bernama Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale. Raksasa itu juga pemakan manusia. Namun, bukan sembarang manusia yang dimangsanya. Hanya orang- orang jahat saja. Kepada orang-orang baik, Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale juga baik sikapnya. Raksasa itu tidak pernah mengganggu, tetapi malah suka membantu.

Sejak Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale pergi entah ke mana, Nenek Pakande terus berulah. Terakhir, dua anak dan seorang bayi diculiknya. Warga gusar. Mereka berkumpul dengan dipimpin Kepala Kampung. Segenap warga bersepakat untuk menghentikan kekejaman Nenek Pakande. Nenek Pakande harus diusir dari kampung mereka. Tapi, mereka tidak mengerti bagaimana caranya.

“Sebaiknya kita serang bersama-sama nenek siluman pemangsa anak-anak itu,” saran seorang warga.

Saran itu langsung disanggah seorang warga lainnya, “Jangan gegabah! Nenek siluman itu sangat sakti. Meski kita keroyok beramai-ramai, ia akan mudah mengalahkan kita.”

“Lantas, apa kita harus diam saja dan membiarkan anak-anak kita dimangsa nenek siluman itu?” ujar seorang warga lainnya.

Warga kampung bingung. Bahkan, Kepala Kampung pun tidak mengetahui bagaimana cara menghentikan kekejaman Nenek Pakande. Ia hanya bisa menyarankan, “Kita coba mencari Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale. Kita minta tolong padanya.”

“Tapi, di mana kita bisa menemukan raksasa baik hati itu, Kepala Kampung?” tanya seorang warga kampung.

Kepala Kampung terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan salah seorang warganya itu.

Mendadak terdengar suara dari tengah- tengah warga, “Aku mempunyai cara untuk mengalahkan dan mengusir Nenek Pakande dari kampung kita.”

Orang yang berkata itu bernama La Beddu. Ia seorang pemuda yang dikenal cerdik, pandai, dan pemberani. Sifat dan kelakuannya dikenal baik. Ia ramah dan suka menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

Warga kampung tidak percaya jika La Beddu mampu mengalahkan dan mengusir Nenek Pakande. Sebagian warga kampung malah mentertawakannya. La Beddu bukan sosok yang sakti, bagaimana bisa mengalahkan nenek siluman yang sangat sakti itu?

“Untuk mengalahkan kesaktian Nenek Pakande, tidak harus menggunakan kesaktian,” ujar La Beddu. “Dengan kecerdikan pun bisa.”

“Bagaimana caranya mengalahkan Nenek Pakande, La Beddu?” tanya Kepala Kampung.

“Aku membutuhkan beberapa hewan dan benda,” jawab La Beddu.

“Sebutkan apa saja yang engkau butuhkan.”

“Aku butuh beberapa ekor belut, beberapa ekor kura-kura, kulit rebung kering, garu, dan batu besar,” jawab La Beddu. “Jangan lupa siapkan juga seember busa sabun. Jika telah tersedia, kumpulkan semua di Bala Raja.”

Bala Raja adalah rumah panggung yang sangat besar yang berada paling ujung di perkampungan mereka.

Warga kampung bertambah heran. Sangat aneh barang-barang yang diminta La Beddu. Namun, karena mereka ingin terbebas dari kekejaman Nenek Pakande, mereka bergotong- royong menyediakannya. Mereka mengumpulkan semua barang itu di Bala Raja.

Pada malam Jum’at, La Beddu dan beberapa warga kampung bersiaga di Bala Raja. Nenek Pakanda biasanya mencari mangsa pada malam itu. La Beddu meminta bantuan dua kawannya yang pemberani. Keduanya diminta untuk bersembunyi di bawah rumah panggung. Tugas mereka adalah meletakkan belut-belut dan batu besar di bawah tangga Bala Raja.

Beberapa warga kampung lainnya juga bersiaga di salah satu kamar di dalam Bala Raja itu. Mereka semua bersenjata. Mereka menjaga seorang bayi yang dijadikan umpan agar Nenek Pakande datang ke Bala Raja. Semua lampu di Bala Raja dinyalakan, sementara semua lampu di rumah-rumah warga dimatikan. Setelah semua persiapan siap, La Beddu bergegas menaiki atap Bala Raja. Ia bersembunyi di tempat itu.

Nenek Pakande akhirnya muncul. Ia keheranan mendapati suasana kampung yang gelap gulita. Tak ada satu pun warga yang menyalakan lampu. Ia juga melihat rumah besar di ujung kampung terang benderang. Ia pun menghampiri Bala Raja. Mendadak ia mencium sesuatu yang membuat wajahnya berubah gembira. Bau seorang bayi!

Nenek Pakande bergegas memasuki Bala Raja. Ia tahu, bayi itu berada dalam sebuah kamar berpintu tinggi. Ia akan mendobrak pintu kamar, mengambil, dan memangsanya.

Mendadak terdengar suara menggelegar dari atas, “Hei Nenek Pakande! Apa keperluanmu datang ke Bala Raja ini?”

Nenek Pakande terkejut. Pandangannya menatap ke arah atap. “Aku mau mengambil bayi di rumah ini!” jawabnya. “Siapa kau?”

La Beddu yang menggunakan kulit rebung kering ketika bersuara, hingga suaranya terdengar keras membahana, itu menjawab, “Kau tidak bisa mengenali suaraku? Haa… haa… haaa…! Aku Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale!”

“Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale?”

“Ya!”jawab La Beddu. “Kudengar kau berulah di kampung ini! Sungguh berani engkau melakukannya! Kuminta… pergi kau dari kampung ini! Jika tidak, akan kumangsa engkau hidup-hidup!!”

Nenek Pakande sejenak terdiam. Sejenak kemudian bibirnya mencibir. “Aku tidak percaya!” serunya. “Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale sudah lama pergi. Engkau hanya mengaku-aku saja. Aku tidak mau pergi sebelum membawa bayi itu!”

“Engkau tidak mau pergi? Hmm… bagus! Aku bisa segera memangsamu. Aku sudah sangat lapar. Lihat… air liurku sudah menetes-netes!”

La Beddu menumpahkan seember busa sabun dari atap.

Melihat busa sabun yang berjatuhan itu membuat Nenek Pakande terkejut. Tetapi, ia belum melihat sosok raksasa yang sangat ditakutinya itu. Ia mencoba menyangkal, “Aku tetap tak percaya engkau adalah Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale.”

“Hmm… kau masih ingin bukti lagi rupanya…” La Beddu lalu menjatuhkan beberapa ekor kura- kura secara bergiliran. Katanya sambil menjatuhkan garu, “Lihat, kutu-kutu yang mengganggu rambut di kepalaku ini! Astaga! Sisirku jatuh pula! Grrr.J!”

Ketakutan Nenek Pakande menguat ketika melihat ‘kutu-kutu’ dan ‘sisir’ yang berjatuhan dari atap. Ia makin ketakutan saat mendengar ‘Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale’ bersiap memangsanya.

Nenek Pakande bergegas menuju pintu keluar. Ia sangat ketakutan hingga tidak melihat belut- belut yang sengaja dipasang di bawah tangga. Seketika ia menginjak, ia langsung terpeleset jatuh. Kepalanya membentur batu besar yang telah disiapkan di bawah tangga.

“Aduuh…”jerit Nenek Pakande. Ia lalu bangkit dan mengusap-usap kepalanya yang dirasanya sakit. “Baiklah, Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale. Aku akan pergi jauh-jauh dari kampung ini. Aku akan menuju bulan.”

“Hmm… bagus! Rupanya, kau memilih pergi dibanding menjadi santapan malamku! Grrrr.J!”

Sebelum pergi, Nenek Pakande masih memberikan ancamannya, “Ingat baik-baik! Dari bulan, aku akan tetap melihat anak-anak di kampung ini. Suatu saat, jika kulihat anak-anak masih berkeliaran di luar rumah menjelang malam, aku akan datang untuk menculik dan memangsa mereka!”

Nenek Pakande mengerahkan kesaktiannya. Tubuhnya melayang. Ia lalu terbang cepat menuju bulan.

Segenap warga kampung menyambut gembira kepergian Nenek Pakande ke bulan. Mereka berjanji akan mengingatkan anak-anak mereka agar tidak berkeliaran ketika hari menjelang malam. Bisa jadi, Nenek Pakande akan menangkap dan memangsa mereka!

 

KECERDIKAN SIASAT AKAN DAPAT MENGALAHKAN KEPINTARAN ATAU KESAKTIAN SESEORANG.

Leave a comment