Tag: Anak

Legenda Batu Menangis – Cerita Rakyat Kalimantan Barat
Legenda Batu Menangis – Cerita Rakyat Kalimantan Barat

Hiduplah seorang janda miskin pada masa lampau. Mak Dasah namanya. Ia tinggal di sebuah gubug reyot di pinggir hutan. Mata pencahariannya sehari-hari adalah bekerja di ladang sempit peninggalan mendiang suaminya. Sepulang dari berladang, Mak Dasah biasa mencari kayu bakar di hutan. Kayu-kayu bakar itu lantas dijualnya di perkampungan penduduk yang jauh letaknya dari tempat tinggalnya.

Mak Dasah mempunyai seorang anak gadis. Jelita namanya. Sesuai namanya, wajah Jelita amatlah cantik. Sayang, Jelita sangat pemalas. Hari-harinya dihabiskannya untuk berdandan dan bercermin. Ia sangat mengagumi kecantikan dirinya. Meski berulang-ulang Mak Dasah mengingatkannya agar ia mengubah kelakuannya itu, namun Jelita enggan menuruti nasihat ibunya. Ia tetap sangat malas, enggan ia membantu kerepotan ibunya.

Selain pemalas, Jelita juga sangat manja. Apa pun yang dikehendakinya harus dituruti ibunya. Jika tidak dituruti, Jelita akan marah- marah. Meski begitu buruk kelakuan anaknya, Mak Dasah tetap sayang dengan anak perempuannya itu. Meski sangat kerepotan, namun Mak Dasah akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi setiap permintaan Jelita. Namun, Jelita senantiasa meminta dan terus meminta, ia tidak peduli dengan keadaan ibunya.

Pada suatu hari Mak Dasah mengajak Jelita ke pasar. Jelita mau diajak ke pasar dengan memberikan syarat, “Aku tidak mau berjalan bersama dengan Ibu. Ibu harus berjalan di belakangku.”

Mak Dasah terpaksa menuruti permintaan anak gadisnya itu.

Jelita berangkat ke pasar dengan mengenakan pakaian terbaru sekaligus terbaik yang dimilikinya. Ia juga berdandan secantik-cantiknya seperti jika ia hendak menghadiri sebuah pesta. Ia lantas berjalan di depan ibunya yang mengenakan pakaian lusuh. Ibu dan anak itu begitu jauh, berbeda dalam penampilan hingga orang yang tidak mengenal mereka tentu tidak akan menyangka jika mereka sesungguhnya ibu dan anak.

Tersebutlah seorang pemuda yang bertanya pada Jelita, “Wahai gadis cantik, apakah wanita berbaju lusuh yang berjalan di belakangmu itu ibumu?”

Jelita sejenak memandang pemuda yang bertanya padanya. Tampan wajah pemuda itu. Melihat ketampanan pemuda itu, Jelita tiba-tiba merasa sangat malu mengakui Mak Dasah selaku ibu kandungnya. “Bukan!” katanya. “Ia bukan ibuku, melainkan pembantuku.”

Betapa sedih dan sakit hati Mak Dasah ketika mendengar jawaban anak perempuannya. Dinasihatinya agar Jelita tidak berani lagi berkata seperti itu. “Jelita, anakku. Aku ini ibumu, orang yang melahirkanmu. Sungguh, sangat durhaka kelakuanmu jika engkau berani menganggapku sebagai pembantumu! Sadarlah engkau, wahai anakku.”

Namun, Jelita tak menganggap nasihat ibunya. Ia bahkan kian menjadi-jadi. Kepada orang- orang yang bertanya padanya selama dalam perjalanan itu, Jelita senantiasa tegas menjawab jika perempuan tua yang berjalan di belakangnya itu adalah pembantunya.

Hati dan perasaan Mak Dasah sangat sakit seperti teriris sembilu. Ketika ia tidak lagi dapat menahan kesakitan hatinya, berdoalah Mak Dasah kepada Tuhan, “Ya Tuhan, hamba tidak sanggup lagi menahan penghinaan anak hamba ini! Benar- benar telah membatu hati anak hamba ini. Oleh karena itu, Ya Tuhan, hukumlah anak hamba yang durhaka itu menjadi batu!”

Doa Mak Dasah dikabulkan-Nya.

Tak berapa lama kemudian kedua kaki Jelita berubah menjadi batu. Jelita sangat terkejut lagi takut. Betapa mengerikannya perasaan yang dialaminya ketika mendapati kedua kakinya berubah menjadi batu. Ia kian ketakutan saat mendapati pinggangnya pun berubah menjadi batu. Sadarlah ia, semua itu terjadi karena kedurhakaan besarnya kepada ibunya. Maka ia pun berteriak-teriak, “Mak, ampuni aku! Ampuni aku! Ampuni kedurhakaan anakmu ini, Mak!”

Namun, semuanya telah terlambat bagi Jelita. Mak Dasah hanya terdiam. Sama sekali Mak Dasah tidak berusaha mengabulkan permohonan anaknya yang telah berbuat durhaka terhadapnya. Ia merasa telah cukup mengalami penderitaan yang diakibatkan anaknya itu. Hingga akhirnya seluruh tubuh Jelita berubah menjadi batu.

Batu jelmaan Jelita itu terus meneteskan air seperti airmata penyesalan yang menetes dari mata Jelita. Orang-orang yang mengetahui adanya air yang terus menetes dari batu itu kemudian menyebutnya Batu Menangis.

 

DURHAKA TERHADAP IBU ATAU IUGA KEDUA ORANGTUA AKAN BERBUAH KEMURKAAN TUHAN KEPADA PELAKUNYA. KITA HENDAKNYA SENANTIASA MENGHORMATI ORANGTUA DAN PATUH TERHADAP NASIHAT MEREKA.

Kisah Anak Kedelapan Prabu Kangsa – Cerita Rakyat Bali
Kisah Anak Kedelapan Prabu Kangsa – Cerita Rakyat Bali

Seorang raja yang memerintah negeri Madura. Prabu Kangsa namanya. Sang raja sangat sakti. Tubuhnya kebal, tidak mempan kulitnya dilukai oleh aneka senjata. Serasa tidak ada yang mampu mengalahkannya. Tidak mengherankan jika Prabu Kangsa sangat ditakuti.

Prabu Kangsa amatlah kejam lagi sewenang- wenang tindakannya. Ia gemar menghukum siapa pun juga yang dianggapnya bersalah. Orang yang dianggapnya bersalah atau menentang kehendaknya akan segera dihukumnya dengan hukuman mati.

Syahdan, Prabu Kangsa mendengar ramalan ahli nujum. Menurut ahli nujum itu, Prabu Kangsa sebenarnya dapat menguasai dunia. Namun, keinginan itu akan terhalang oleh seorang anak lelaki Prabu Wasudewa yang bertakhta di Dwarawati. Prabu Kangsa lantas memberikan perintah kejamnya kepada para patihnya untuk mengamat- amati Diah Dewaki, istri Prabu Wasudewa. Jika anak yang dilahirkan Diah Dewaki itu perempuan, maka hendaknya dibiarkan saja. Namun, jika anak itu lelaki, hendaknya anak itu dibunuh seketika itu juga ketika dilahirkan.

Prabu Wasudewa mengetahui rencana keji Prabu Kangsa tersebut. Maka, ia pun berembuk dengan para penasihat kerajaannya untuk mencegah kejadian buruk itu terjadi seandainya anak Prabu Wasudewa kedelapan itu lahir laki-laki.

Lahirlah anak kedelapan Prabu Wasudewa itu kemudian. Seorang bayi lelaki. Prabu Wasudewa memberinya nama Kresna. Sesaat setelah dilahirkan, bayi itu lantas ditukar dengan bayi perempuan. Secara rahasia dan diam-diam, Kresna lantas diungsikan keluar istana Kerajaan Dwarawati dan dititipkan pada sepasang suami istri penggembala lembu. Kirata dan Yasoda namanya.

Begitu rapi dan tersembunyinya siasat yang dilaksanakan di Kerajaan Dwarawati itu hingga para patih Kerajaan Madura yang mengamat- amati mengetahui jika anak yang dilahirkan istri Prabu Wasudewa itu seorang bayi perempuan. Prabu Kangsa tak terkirakan gembiranya setelah para patih melaporkan padanya. “Aku akan dapat menguasai dunia!” begitu katanya. “Aku memang ditakdirkan menguasai dunia?”

Kresna tumbuh sebagai anak yang telah menampakkan kewibawaan dan keperkasaannya sejak masih terhitung dini usianya. Kresna mengakui jika Kirata adalah ayahandanya dan Yasoda adalah ibunya. Hingga ketika remaja menjelang dewasa usianya, Kresna merasa ada hal-hal aneh yang senantiasa ditutup-tutupi Kirata dan Yasoda. Setiap bulan sejak Kresna masih kecil, ia senantiasa didatangi seorang lelaki asing. Kresna dapat merasakan kasih sayang lelaki asing itu tertuju padanya. Lelaki itu selalu memberikan uang dan berbagai bahan makanan untuk Kirata dan Yasoda. Kresna juga senantiasa dipeluk lelaki itu sebelum akhirnya lelaki itu meninggalkannya dengan menunggang kuda. Sama sekali Kresna tidak mengetahui siapa sesungguhnya lelaki itu.

“Siapakah lelaki itu, Ayah?” tanya Kresna ketika kembali dipeluk sebelum ditinggalkan lelaki asing itu.

Selama itu Kirata dan Yasoda senantiasa berdusta perihal sosok lelaki itu dengan menyebutkan lelaki itu saudara mereka. Namun, setelah Kresna berusia menjelang dewasa, Kirata akhirnya membuka rahasia itu. Jawabnya, ‘Anakku, ketahuilah, lelaki itu sesungguhnya adalah ayahanda kandungmu! Beliau adalah Prabu Wasudewa yang bertakhta di Kerajaan Dwarawati. Engkau sesungguhnya putra mahkota Kerajaan Dwarawati. Sementara aku dan istriku yang selama ini engkau anggap orangtua kandung, sesungguhnya hanyalah orangtua angkatmu.”

Penjelasan Kirata sangat mengejutkan Kresna. Kian membuatnya terkejut penjelasan Kirata berikutnya perihal penyebab dititipkannya dirinya pada orangtua angkatnya itu.

Setelah mengetahui jati dirinya, Kresna pun segera mengejar ayah kandungnya. Ia berlari sekuat yang bisa ia perbuat untuk mengejar ayahandanya yang berkuda. Pengejarannya seperti akan berakhir di pinggir sungai sementara Prabu Wasudewa telah berada di seberang sungai. Satu- satunya jembatan yang tersedia telah diangkat oleh Prabu Wasudewa. Semua itu dilakukan Prabu Wasudewa agar keberadaan Kresna tidak diketahui oleh mata-mata Prabu Kangsa.

Kresna tidak menyerah. Tanpa takut dan ragu-ragu, Kresna segera menceburkan diri di sungai yang dalam lagi lebar itu. Prabu Wasudewa sangat terperanjat ketika mengetahui Kresna menceburkan dirinya ke sungai. Kuda tunggangannya segera dipacunya untuk mendekati sungai. Prabu Wasudewa merasa sangat khawatir dengan keselamatan Kresna karena mengetahui jika sungai itu dipenuhi buaya-buaya ganas.

Benarlah kekhawatiran Prabu Wasudewa. Seketika tubuh Kresna memasuki sungai, tiga buaya besar langsung datang mendekat dan langsung menyerangnya. Tiga moncong buaya itu terbuka lebar-lebar, siap mencabik-cabik tubuh Kresna sebelum mereka mangsa.

Dengan moncong besarnya, salah seekor buaya besar itu mendekati Kresna dan siap mencaplok. Kresna tidak mundur atau menghindar. Ditangkap dan diregangkannya rahang buaya itu dan dengan gerakan cepat, Kresna mencabut lidah buaya tersebut. Meraung-raung kesakitanlah buaya yang tercabut lidahnya tersebut. Dua buaya besar lainnya menjadi terperanjat mendapati keberanian dan kekuatan Kresna. Mereka mendadak mengurungkan niat mereka untuk menyerang Kresna dan bahkan berbalik arah dengan menjauhi Kresna. Keduanya berenang secepat yang dapat mereka perbuat agar dapat sejauh mungkin menjauhi Kresna. Keduanya merasa sangat ketakutan jika harus kehilangan lidah seperti salah seekor teman mereka jika tetap nekat menyerang Kresna.

Masih berada di dalam air sungai, Kresna berujar seraya melemparkan lidah buaya yang digenggamnya itu, “Kiranya lidah buaya ini akan bermanfaat bagi manusia!”

Lidah buaya yang dilemparkan Kresna jatuh di pinggir sungai.

Kresna kemudian keluar dari dalam sungai dan menemui Prabu Wasudewa. Dihaturkannya sembah hormatnya. “Ayahanda,” katanya, “Aku berhasil.”

Prabu Wasudewa sangat terkejut sekaligus bangga mendapati keberanian dan kesaktian anak kedelapannya itu. Kresna pun diajaknya ke istana Kerajaan Dwarawati. Tanpa takut-takut lagi, Prabu Wasudewa mengumumkan bahwa Kresna adalah anaknya yang kedelapan.

Tak terkirakan terperanjatnya Prabu Kangsa ketika mendengar dan mengetahui jika anak kedelapan Prabu Wasudewa itu ternyata seorang lelaki. Bukan anak perempuan seperti yang selama itu ia percayai. Ia segera memerintahkan segenap prajuritnya untuk menyerang Kerajaan Dwarawati. Prabu Kangsa sendiri yang memimpin penyerangan itu. Ia ingin melenyapkan anak lelaki kedelapan Prabu Wasudewa itu agar cita-citanya menguasai dunia dapat terwujud. Peperangan yang dahsyat pun segera terjadi. Prajurit-prajurit dari dua kerajaan saling serang.

Prabu Kangsa langsung berhadapan dengan Kresna. Dengan segala kesaktiannya, Prabu Kangsa menyerang Kresna habis-habisan. Namun, yang dihadapi Prabu Kangsa ternyata bukan sembarang pemuda. Pemuda yang kesaktiannya ternyata melebihi kesaktiannya yang telah ternama di dunia. Setelah melalui pertarungan yang sengit, Kresna berhasil membunuh Prabu Kangsa. Musnahlah kesewenang-wenangan dan kecongkakkan yang selama itu ditunjukkan Raja Madura itu.

Perang antara kekuatan Kerajaan Madura dan Kerajaan Dwarawati pun berakhir dengan tewasnya Prabu Kangsa. Nama Kresna pun melambung. Ia dihormati dan disegani.

Lantas, bagaimana dengan lidah buaya yang dilemparkan Kresna ke pinggir sungai?

Lidah itu kemudian menjelma menjadi pohon pisang istimewa. Batang pohon itu besar, daunnya lebar lagi tebal. Buah-buahnya menyerupai lidah buaya dan rasanya sangat manis lagi enak. Banyak manfaat buah itu bagi manusia. Pohon pisang itu pun kemudian disebut pisang gedang saba.

 

KESEWENANG-WENANGAN YANG MERUPAKAN ANAK DARI KEJAHATAN AKAN DAPAT DITUMPAS OLEH KEBENARAN. KELEBIHAN DIRI HENDAKNYA DIGUNAKAN UNTUK MENOLONG SESAMA.

Juragan Boing – Cerita Rakyat Betawi (Jakarta)
Juragan Boing – Cerita Rakyat Betawi (Jakarta)

Di daerah Duren, Betawi pinggiran, pada masa lampau hiduplah seorang hartawan. Juragan Boing namanya. Ia lelaki terpandang di daerah kediamannya. Orang-orang segan padanya. Apalagi, ia juga pemarah. Kemarahannya akan segera meledak jika ada sesuatu yang tidak membuatnya senang.

Juragan Boing mempunyai seorang anak lelaki, namanya Mat Salim. Ia pemuda baik. Terbilang tampan wajahnya. Banyak gadis yang mengimpikan dapat menjadi istrinya.

Juragan Boing memiliki banyak sawah dan ladang, tersebar di berbagai tempat. Beberapa orang yang bekerja padanya, menggarap sawah dan ladang miliknya itu. Selain itu, Juragan Boing mengupah centeng untuk keamanan diri, keluarga, dan hartanya. Bokir nama centeng Juragan Boing. Seperti tuannya, Bokir juga pemarah. Bahkan, kemarahannya pada pekerja kerap melebihi kemarahan Juragan Boing sendiri.

Salah seorang pekerja Juragan Boing adalah Bang Maun. Bang Maun telah beristri. Mpok Ida nama istrinya. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Juleha namanya. Juleha cantik wajahnya. Banyak pemuda yang jatuh hati pada Juleha. Berminat menjadikan Juleha sebagai istrinya. Tetapi, Juleha tidak menanggapinya. Tampaknya, ia belum ingin berumah tangga.

Sebagai pekerja Juragan Boing, Bang Maun bekerja menggarap sawah dan ladang luas milik Juragan Boing. Ia pekerja yang baik. Rajin bekerja. Pagi-pagi ia telah memulai bekerja dan mengakhiri pekerjaannya ketika sore tiba. Juragan Boing mempercayai dan mengandalkannya.

Pada suatu hari Bang Maun jatuh sakit. Cukup parah sakitnya hingga tak bisa membuatnya bekerja seperti biasanya. Ia hanya rebahan di atas ranjang kayunya. Ia lalu memanggil istrinya. Katanya, “Ida, hari ini aku tidak bisa bekerja. Gantikan aku bekerja di sawah.”

“Ya, Bang,” jawab Mpok Ida.

Mpok Ida tak ingin meninggalkan suaminya sendirian dalam keadaan sakit. Ia memanggil Juleha. Katanya, “Leha, ayahmu lagi sakit. Jaga dan rawat ayahmu baik-baik, selama ibu bekerja di sawah.”

Juleha menganggukkan kepala dan menjawab, “Ya, Bu.”

Sementara di rumah Juragan Boing, Bokir sedang menemui Juragan Boing. Bokir baru saja tiba dari tugas memeriksa sawah dan ladang. Tugas yang biasa ia lakukan pada pagi dan sore hari.

“Sudah kau periksa sawah dan ladang?” tanya Juragan Boing.

“Sudah, Juragan,” jawab Bokir. “Sawah di sebelah barat hari ini tidak ada yang mengurus…”

“Sawah sebelah barat?” potong Juragan Boing. Matanya melotot membesar. “Ke mana Si Maun?”

“Saya tidak melihatnya, Juragan. Mungkin hari ini dia tidak masuk kerja,” jawab Bokir.

Juragan Boing marah. Sudah seharusnya Maun memberitahunya jika tidak masuk kerja. Dibayangkannya sawahnya terbengkalai karena tidak digarap Maun hari itu. Maka serunya, “Bokir! Antar aku ke rumah Maun!”

“Siap, Juragan.”

Juragan Boing dan centeng Bokir segera menuju rumah Bang Maun.

Juragan Boing langsung menggedor pintu rumah Bang Maun. Mpok Ida yang belum berangkat ke sawah bergegas membuka pintu. Ia terperanjat melihat Juragan Boing datang.

“Mana suamimu?” seru Juragan Boing.

“Suamiku lagi sakit. Ia ada… ada di…”

Belum selesai Mpok Ida menjawab, Juragan Boing telah masuk ke dalam rumah Bang Maun. Ia langsung menuju kamar Bang Maun.

Bang Maun yang masih rebahan terkejut melihat kedatangan Juragan Boing. Dengan tubuh gemetar, ia berusaha bangkit. Katanya dengan suara lirih, “Juragan, hari ini saya tidak bisa bekerja. Saya lagi sakit…”

Juragan Boing akan berujar saat dilihatnya Juleha memasuki kamar Bang Maun. Juragan Boing terpesona pada kecantikan Juleha. Ia urungkan kemarahannya. Lalu katanya, “Ya, sudah. Kamu istirahat dulu.”

“Terima kasih, Juragan.”

Juragan Boing mengambil uang dari sakunya. Diberikannya uang itu pada Bang Maun. “Biar kamu cepat sembuh, segera berobat. Pakai uang itu,” katanya sambil melirik ke arah Juleha.

“Terima kasih, Juragan.”

Juragan Boing lalu meninggalkan rumah Bang Maun. Bokir mengiringi di belakang Juragan Boing. Kecantikan wajah Juleha selalu terbayang di benak Juragan Boing. Ia tak menyangka jika anak Bang Maun begitu cantik wajahnya. Juragan Boing terus memikirkan Juleha hingga berketetapan hati untuk melamar Juleha.

Seminggu kemudian Juragan Boing kembali datang ke rumah Bang Maun. Bokir mengikutinya. Kata Juragan Boing di depan Bang Maun dan Mpok Ida, “Maun, aku datang untuk melamar Juleha. Apakah kamu membolehkan?”

Bang Maun dan Mpok Ida terkejut. Keduanya saling bertatap pandang untuk beberapa saat. Wajah keduanya membayang kegembiraan dan kebahagiaan. Jawab Bang Maun, “Tentu saja boleh, Juragan. Saya sangat setuju.”

“Engkau Setuju?”

“Tentu saja saya setuju,” tegas Bang Maun. “Sudah waktunya anak saya itu berumah tangga. Sangat pantas dia menjadi istri Mat Salim, putra Juragan.”

“Juleha bukan untuk anakku, tapi akan kunikahi sendiri!” tegas jawab Juragan Boing.

Bang Maun dan Mpok Ida sangat terkejut. Semula mereka menyangka, Juragan Boing melamar Juleha untuk dinikahkan dengan Mat Salim. Tapi ternyata akan dinikahi Juragan Boing sendiri. Bang Maun dan Mpok Ida sesungguhnya tidak setuju jika anak mereka dijadikan istri kedua Juragan Boing. Namun, Bang Maun tidak bisa menolak lamaran Juragan Boing itu, karena ia telah menyatakan persetujuannya.

Bang Maun dan Mpok Ida hanya bisa pasrah.

“Engkau setuju?” ulang Juragan Boing.

Bang Maun perlahan menganggukkan kepala.

Juragan Boing lalu menentukan tanggal pernikahan. Ia minta rencana pernikahannya itu berlangsung dengan baik. Masalah uang, Juragan Boing meminta Bang Maun dan Mpok Ida tidak perlu khawatir. Ia akan memberikan uang yang cukup untuk rencana pesta pernikahannya.

Centeng Bokir diam-diam mendatangi Mat Salim. Rencana pernikahan Juragan Boing itu diceritakannya pada Mat Salim.

Mat Salim sangat terkejut. Ia tidak setuju jika ayahnya menikahi Juleha. Ia ingin menggagalkan rencana pernikahan ayahnya itu. Namun, ia tidak mengerti bagaimana caranya. Diam-diam ia meninggalkan rumah. Ia lalu menuju warung Mpok Ani.

“Lim, apa yang terjadi padamu?” tanya Mpok Ani ketika Mat Salim tiba di warungnya. “Wajahmu terlihat kusut begitu!”

Mat Salim menceritakan kebingungannya untuk menggagalkan rencana pernikahan ayahnya.

Mpok Ani terdiam mendengarkan. Lalu katanya, “Sebenarnya, mudah saja bagimu untuk menggagalkan rencana pernikahan ayahmu itu, Lim.”

“Bagaimana caranya, Mpok?”

Mpok Ani lalu memberinya saran. Mat Salim mengangguk-anggukkan kepala. Ia akan menjalankan saran Mpok Ani.

Hari pernikahan Juragan Boing dan Juleha tiba. Juragan Boing tiba di rumah Bang Maun. Rumah telah dihias. Upacara pernikahan tampaknya akan segera dilakukan. Penghulu juga telah datang.

“Maun, panggil calon pengantin perempuan,” kata penghulu.

Bang Maun dan Mpok Ida ke kamar Juleha. Keduanya sangat terkejut mendapati kamar anaknya itu telah kosong. Juleha tidak ada di kamarnya!

Kegemparan pun terjadi ketika Bang Maun dan Mpok Ida memberitahukan bahwa Juleha tidak ada di kamarnya. Juleha hilang! Tak terkirakan marahnya Juragan Boing. Ia minta Juleha segera dicari dan ditemukan. Rencana pernikahannya tidak boleh gagal!

Ketika semua orang bersiap-siap mencari Juleha, mendadak Juleha datang bersama Mat Salim, Keduanya bergandengan tangan.

Semuanya terkejut, terlebih-lebih Juragan Boing.

“Juleha,” panggil penghulu, “bagaimana engkau ini? Upacara pernikahan akan dilangsungkan, tapi kamu malah pergi!”

Jawab Juleha, “Pak Penghulu, sebenarnya saya tidak mau menikah dengan Juragan Boing. Saya sudah mempunyai calon sendiri.”

“Siapa calonmu, Leha?” tanya Juragan Boing.

Juleha menatap ke arah Mat Salim. “Inilah calon suami saya.”

“Salim?” seru Juragan Boing. Ia sama sekali tidak menyangka jika anaknya adalah calon suami Juleha.

“Benar, Yah,” kata Mat Salim. “Sebenarnya saya dan Juleha sudah lama mengikat janji. Kami berencana akan menikah. Namun, saya takut menceritakan masalah Ini kepada Ayah. Saya takut Ayah akan marah.”

Juragan Boing terdiam merenungkan ucapan anaknya. Mendadak ia tersadar. Juleha sudah seharusnya menikah dengan anaknya, bukan dengan dirinya.

“Baiklah,” kata Juragan Boing. “Rencana pernikahan ini harus terus dilangsungkan. Juleha harus tetap menikah. Bukan dengan saya, tapi dengan Salim, anak saya.”

Keputusan Juragan Boing disambut lega. Juleha dan Mat Salim kemudian menikah. Keduanya pun hidup berbahagia.

 

BERBUAT SEWENANG-WENANG KEPADA ORANG LAIN HENDAKNYA DIHINDARI. KARENA HAL ITU HANYA AKAN MENDATANGKAN KEBURUKAN DI KEMUDIAN HARI.

Legenda Batu Kuyung – Cerita Rakyat Bengkulu
Legenda Batu Kuyung – Cerita Rakyat Bengkulu

Hiduplah sepasang suami istri di dusun Tanjungmeranti pada zaman dahulu. Mata pencaharian keduanya adalah bertani dan juga mencari ikan. Suami istri itu telah dikaruniai dua orang anak. Anak sulung mereka laki-laki bernama Dimun dan anak bungsu mereka perempuan bernama Meterei.

Suami istri itu sangat sibuk bekerja. Pagi-pagi mereka telah menuju sungai untuk mengambil bubu yang telah mereka pasang malam sebelumnya. Ikan yang mereka dapatkan akan segera dimasak sang ibu. Sementara sang ayah akan segera ke sawah dan ladang. Sepulang dari bertani, sang ayah masih juga bekerja. Dengan dibantu istrinya, sang ayah akan membuat aneka kerajinan dari bambu. Keduanya membuat bubu, beronang (Sejenis keranjang yang dibawa di belakang tubuh di mana talinya diikatkan ke kepala), dan juga bakul. Hasil kerajinan tangan itu mereka jual di pasar.

Begitu sibuknya suami istri itu bekerja hingga kedua anak mereka menjadi terbengkalai. Dimun dan Meterei tidak mendapat pendidikan dan pengajaran yang baik. Keduanya tumbuh menjadi anak-anak yang nakal, budi pekerti mereka buruk. Mereka kerap mencemooh orang lain dan ucapan mereka terdengar kasar lagi jorok.

Pada suatu hari suami istri itu sibuk bekerja membuat berbagai barang kerajinan tangan dari bambu yang hendak mereka jual di pasar. Begitu sibuknya mereka bekerja, Dimun dan Meterei menjadi lapar karena ibu mereka tidak memasak makanan. Setelah berulang-ulang meminta makan namun tidak juga dipenuhi, Dimun dan Meterei menjadi marah. Keduanya merusak barang-barang yang telah dibuat ayah dan ibu mereka.

“Untuk apa bubu dan beronang jelek ini?” kata Dimun sambil menendang bubu dan beronang buatan orangtua mereka. “Keduanya tidak bisa membuat perut menjadi kenyang!”

Meterei tidak kalah buruk kelakuannya dibandingkan kakaknya. Ia mengacak-acak dan membanting aneka barang buatan orang tuanya. Ia bahkan menangis karena sudah sangat lapar.

Meski sangat jengkel karena perlakuan buruk kedua anaknya, Si bapak dan istri kemudian memperbaiki barang-barang buatan mereka yang dirusak Dimun dan Meterei. Jika tidak diperbaiki, barang-barang itu tentu tidak laku untuk dijual.

Dimun dan Meterei mendekati ibu mereka, “Bu,” kata Dimun, “kami lapar. Sejak pagi perut kami belum terisi makanan!”

“Benar, Bu,” sambung Meterei sambil memegangi perutnya yang dirasanya sangat melilit. “Aku sudah sangat lapar. Lapar sekali! Sulit kutahan lagi rasa laparku ini!”

Ibu mereka yang jengkel langsung menghardik, “Mintalah makanan pada ayah kalian itu!”

Dimun dan Meterei mendekati ayah mereka. Sama seperti yang mereka lakukan terhadap ibu mereka, keduanya merengek meminta makanan kepada ayah mereka. “Kami lapar, Yah. Kata ibu, kami disuruh minta makanan kepada Ayah.”

“Pergi sana, jangan ganggu aku!” sergah ayah Dimun dan Meterei. “Minta makanan sama ibu kalian!”

Dimun dan Meterei kembali menemui ibu mereka untuk meminta makanan. Namun, ibu mereka menyuruh keduanya meminta makanan kepada ayah mereka. Begitu terus berulang-ulang hingga Dimun dan Meterei menjadi sangat jengkel serta marah. Keduanya lantas menuju kebun di belakang rumah mereka. Mereka duduk di atas batu besar yang mereka sebut batu kuyung. Setelah keduanya duduk di atas batu kuyung, mereka pun mendendangkan lagu kesedihan. Dalam dendangnya, mereka meminta batu kuyung untuk terbang tinggi membawa mereka karena kedua orangtua mereka tidak memberi makan.

Keajaiban terjadi. Seketika Dimun dan Meterei selesai berdendang, batu kuyung itu mendadak meninggi. Batu kuyung itu kian meninggi setelah Dimun dan Meterei kembali selesai berdendang. Begitu seterusnya yang terjadi hingga batu kuyung itu telah sangat tinggi keberadaannya, jauh melebihi aneka pepohonan tinggi di dusun Tanjungmeranti itu.

Orangtua Dimun dan Meterei seperti baru tersadarkan setelah mereka tidak mendengar suara kedua anak mereka. Ibu Dimun dan Meterei lantas memanggil kedua anaknya setelah ia selesai memasak. “Dimun, Meterei, di mana kalian? Lekas pulang! Ayo kita makan bersama!”

Dimun dan Meterei tidak menyahut panggilan ibu mereka itu.

Mendapati keanehan itu Si ibu lantas meminta suaminya untuk mencari kedua anak mereka. Si ayah tidak menemukan kedua anaknya. Suami istri itu lantas mencari kedua anak mereka. Keduanya sangat terperanjat ketika mendapati batu kuyung di kebun mereka telah meninggi melebihi tingginya pepohonan. Mereka mendengar suara kedua anak mereka di puncak batu kuyung.

“Dimun! Meterei! Lekas kalian turun!” panggil ayah dua anak itu. “Lekas kalian turun dan selekasnya kita makan bersama!”

Namun, Dimun dan Meterei tidak juga turun. Bahkan, keduanya tidak berusaha menengok ke arah bawah ke tempat kedua orangtua mereka. Keduanya malah terus bernyanyi hingga batu kuyung yang mereka duduki kian meninggi.

Ayah Dimun dan Meterei sangat khawatir melihat kedua anaknya itu. Ia pun bergegas kembali ke dalam rumah dan keluar seraya menggenggam kapak. Ditebangnya batu kuyung itu. Namun, meski ayah Dimun dan Meterei telah mengerahkan tenaga sekuatnya, batu itu tidak juga roboh terkena hantaman kapak besarnya. Bahkan, batu kuyung itu terus meninggi karena Dimun dan Meterei terus juga bernyanyi. Kedua anak itu benar-benar gembira mendapati diri mereka berada di ketinggian yang membuat keduanya dapat memandang daerah-daerah yang luas. Lapar yang mereka rasakan sebelumnya tidak lagi mereka rasakan.

Tidak ada lagi yang bisa dilakukan ayah dan ibu Dimun dan Meterei untuk menghentikan meningginya batu kuyung. Keduanya terus berteriak-teriak memanggil, namun Dimun dan Meterei tidak menjawab panggilan keduanya. Suami istri itu akhirnya hanya bisa berlutut dan sangat menyesal karena tidak memenuhi permintaan makan anak mereka sebelumnya.

Batu kuyung itu terus meninggi hingga akhirnya sampai di langit. Seketika tubuh kedua anak itu menyentuh langit, menghilanglah tubuh keduanya. Setelah tubuh Dimun dan Meterei menghilang, mendadak batu kuyung itu roboh dengan menimbulkan suara keras. Batu kuyung itu roboh menimpa rumah ayah dan ibu Dimun dan Meterei. Tidak hanya rumah mereka yang roboh tertimpa batu kuyung, melainkan juga tubuh kedua orangtua Dimun dan Meterei. Keduanya tewas seketika.

 

ORANGTUA HENDAKLAH MENGUSAHAKAN AGAR ANAK-ANAKNYA MENDAPATKAN PENDIDIKAN SETINGGI MUNGKIN. SELAKU ANAK. HENDAKNYA KITA BELAJAR DAN MENUNTUT ILMU UNTUK BEKAL KEHIDUPAN KITA DI MASA MENDATANG.

Cerita Si Kelingking – Cerita Rakyat Jambi
Cerita Si Kelingking – Cerita Rakyat Jambi

Hiduplah sepasang suami istri miskin pada zaman dahulu. Keduanya telah lama berumah tangga, namun belum juga mereka dikaruniai anak, walau seorang anak pun. Sangat ingin mereka mempunyai anak. Maka, mereka pun berdoa dan memohon agar keinginan mereka untuk mempunyai anak itu dapat terwujud. Bahkan, karena sangat inginnya mereka mempunyai anak, mereka menyatakan akan sangat berbahagia mempunyai anak meski tubuh anak mereka itu hanya sebesar kelingking.

Permohonan itu akhirnya dikabulkan.

Sang istri mengandung dan ketika waktu melahirkannya tiba, ia melahirkan seorang bayi lelaki yang sangat kecil tubuhnya, hanya sebesar kelingking orang. Suami istri itu sangat gembira mendapati kelahiran anak mereka dan mereka pun lantas memberi nama Si Kelingking untuk anak lelaki mereka itu.

Waktu terus berlalu dan Si Kelingking pun tumbuh dewasa. Tubuhnya tetap sebesar kelingking. Meski demikian, ia tampak sehat dan kuat. Tetap pula ia mendapat curahan kasih sayang kedua orangtuanya.

Syahdan, negeri Jambi digemparkan oleh kedatangan hantu pemakan makhluk hidup. Nenek GergaSi nama hantu itu. Ia sangat banyak menimbulkan korban karena ulahnya. Orang-orang lantas berniat pindah dari Jambi untuk menghindari jadi mangsa Nenek Gergasi. Termasuk mereka yang berniat pindah adalah kedua orangtua Si Kelingking. Namun, Si Kelingking menyatakan tetap akan tinggal dan bahkan berniat ingin menumpas kekejaman Nenek Gergasi.

“Jika engkau tetap tinggal, bisa jadi engkau akan dimangsa Nenek Gergasi itu, anakku,” kata Ayah Si Kelingking mengingatkan.

“Ayah jangan khawatir,” sahut Si Kelingking. “Tubuhku ini sangat kecil, sulit kiranya dilihat hantu pemakan manusia itu. Doakan aku Ayah agar dapat menumpas hantu kejam itu. Nanti jika aku berhasil membunuhnya, aku akan beritahukan kepada Ayah, Emak, dan semua penduduk negeri Jambi.”

Meski tetap khawatir, Ayah dan Emak Si Kelingking akhirnya meninggalkan anak mereka itu dan segera mengungsi bersama orang-orang lainnya. Si Kelingking lantas bersembunyi di dalam lubang tiang rumah dan menunggu kedatangan Nenek Gergasi.

Nenek Gergasi akhirnya datang. Betapa marahnya ia karena tidak mendapati seorang manusia atau juga hewan di tempat itu yang dapat dimangsanya. Padahal ia telah sangat lapar. Ia berteriak keras-keras meminta orang-orang untuk keluar dari persembunyiannya agar dapat selekasnya ia mangsa.

Mendadak Nenek GergaSi mendengar suara yang menggema yang memanggil namanya, “Hei Nenek Gergasi!”

Nenek Gergasi sangat terkejut mendengar suara yang memanggilnya. Pandangannya lalu mengedar mencari sosok yang memanggilnya. Namun, tidak dilihatnya siapa pun juga di tempat itu. Meski terkenal kejam dan gemar memangsa manusia serta hewan, Nenek Gergasi takut pula pada akhirnya mendapati kenyataan yang tengah dihadapinya itu. “Si… siapa engkau?” suara Nenek Gergasi terdengar bergetar. “Lekas eng… engkau keluar, biar dapat… dapat kumangsa!”

Suara pemanggil Nenek Gergasi yang tak lain suara Si Kelingking kembali menggema diawali dengan suara tertawa terbahak-bahaknya. “Engkau ingin memangsaku? Haa… haa… haa…! Justru aku yang hendak memangsamu, hei Nenek Gergasi! Setelah semua manusia dan hewan di tempat ini kumangsa, masih juga aku merasakan lapar yang sangat. Lekas engkau ke sini, hei Nenek Gergasi, biar kumangsa engkau utuh-utuh! Biar rasa laparku ini berkurang!”

Seketika itu Nenek GergaSi lari tunggang langgang karena takut dimangsa makhluk yang tidak berwujud itu. Begitu takutnya menjadi mangsa makhluk yang dianggapnya sangat menyeramkan itu, Nenek GergaSi berlari tak tentu arah hingga akhirnya terjerumus ke dalam jurang. Seketika itu Nenek GergaSi menemui kematiannya setelah terjatuh di dasar jurang.

Dari dalam lubang tiang rumah persembunyiannya, Si Kelingking mendengar jika Nenek GergaSi melarikan diri karena takut dengan gertakannya. Namun, yang tidak ia ketahui adalah makhluk kejam pemangsa manusia dan hewan itu sesungguhnya telah mati akibat terjatuh ke dalam jurang.

Kepergian Nenek Gergasi diketahui orang- orang. Mereka pun berbondong-bondong kembali ke desa masing-masing. Mereka pun bergembira dan kagum dengan Si Kelingking yang mampu mengusir makhluk jahat pemakan manusia tersebut.

Berita terusirnya Nenek Gergasi akhirnya didengar Sang Raja yang kemudian berkenan memanggil Si Kelingking untuk datang menghadap. Tanya Sang Raja, “Benarkah engkau yang berhasil mengusir Nenek Gergasi?”

“Benar, Paduka Yang Mulia,” jawab Si Kelingking.

“Sanggupkah engkau tidak hanya mengusir melainkan melenyapkan Nenek Gergasi yang kejam itu?”

“Saya sanggup, Paduka Yang Mulia.”

“Jika engkau sanggup melaksanakan tugasmu, engkau akan kuberikan hadiah yang sangat besar,”

kata Sang Raja. “Engkau akan kuangkat menjadi raja muda!”

Si Kelingking lantas mencari keberadaan Nenek Gergasi. Berhari-hari ia mencari hingga akhirnya ia mengetahuijika makhlukjahat pemakan manusia dan hewan itu telah menemui kematiannya di dasar jurang. Si Kelingking kemudian kembali menghadap Sang Raja. Dijelaskannya jika Nenek GergaSi telah mati dan ia meminta janji Sang Raja.

Sang Raja memenuhi janjinya. Ia mengangkat Si Kelingking sebagai raja muda, meski tidak mempunyai prajurit, hulubalang, maupun juga permaisuri.

Sebagai raja muda, Si Kelingking menghendaki dirinya mempunyai permaisuri. Ia menghendaki putri Sang Raja menjadi permaisurinya. Ayah dan Emaknya dimintanya untuk melamar putri Sang Raja. Meski takut, Ayah dan Emak Si Kelingking akhirnya memberanikan diri datang menghadap Sang Raja dan mengajukan pinangannya kepada putri Sang Raja.

Sangat mengejutkan, sang putri menyatakan kesediaannya untuk diperistri Si Kelingking. Meski Sang Raja memintanya untuk memikirkan baik- baik, namun Sang Putri tetap bersikeras dengan keinginannya. “Meski Kelingking itu tubuhnya kecil, namun ia telah menunjukkan jasa besarnya kepada negeri kita. Ia berani berkurban demi kepentingan negeri dan juga orang banyak. Orang yang bersifat seperti itu adalah orang mulia hingga hamba bersedia diperistrinya.”

Sang Raja akhirnya menyatakan persetujuannya untuk menikahkan putrinya dengan Si Kelingking. Pesta pernikahan pun dilangsungkan dengan meriah selama tujuh hari tujuh malam. Sang Raja lantas memberikan hadiah berupa sebidang tanah dan juga beberapa prajurit. Atas perintah Sang Raja, istana untuk Si Kelingking pun didirikan.

Dalam kehidupan sehari-hari setelah berumah tangga, Si Kelingking mempunyai kebiasaan aneh yang menjengkelkan istrinya. Dalam waktu-waktu tertentu Si Kelingking pergi entah kemana. Yang lebih mengherankan bagi istri Si Kelingking, setelah kepergiannya itu datang seorang pemuda gagah yang tampan wajahnya ke istana Si Kelingking. Kerap Si pemuda tampan itu menanyakan keberadaan Si Kelingking.

“Suamiku tengah bepergian,” begitu jawaban istri Si Kelingking jika pemuda gagah itu bertanya perihal suaminya.

“Bolehkah aku menunggu kedatangannya di istanamu ini dan berdua denganmu?”

“Tidak!” tegas jawaban istri Si Kelingking. “Aku tidak mengizinkan pemuda asing sepertimu ini berdua denganku. Selama suamiku tidak memberiku izin, aku sekali-kali tidak akan mengizinkanmu untuk menunggu di tempat ini.”

Si pemuda tampak bersungut-sungut wajahnya. Ia kemudian akan segera berlalu dan tidak lama kemudian Si Kelingking pun kembali.

Istri Si Kelingking menjadi penasaran untuk mengetahui siapakah sesungguhnya pemuda gagah berwajah tampan itu. Mengapa pula Si pemuda tampan itu hanya muncul ketika suaminya tengah bepergian? Lantas, kemana pula suaminya pergi? Berbagai pertanyaan bergejolak di benak istri Si Kelingking. Ia pun memutuskan untuk mengikuti kemana suaminya pergi secara diam-diam.

Pada suatu hari Si Kelingking kembali berpamitan hendak pergi. Istri Si Kelingking lantas mengikutinya secara sembunyi-sembunyi. Si Kelingking rupanya menuju sungai yang tidak jauh dari istananya. Setibanya ia di pinggir sungai, Si Kelingking membuka bajunya dan menyembunyikan di semak-semak yang berada di pinggir sungai. Si Kelingking lantas memasuki air sungai. Tak berapa lama kemudian dari sungai itu muncul Si pemuda gagah berwajah tampan. Si pemuda tampan langsung menaiki kuda putihnya dan memacunya ke arah istana Si Kelingking.

Istri Si Kelingking akhirnya mengetahui, Si pemuda gagah berwajah tampan itu tidak lain adalah jelmaan suaminya sendiri. Ia pun mencari cara agar suaminya tetap berwujud pemuda gagah berwajah tampan itu. Maka dengan berjalan mengendap-endap ia menghampiri tempat suaminya menyimpan pakaiannya. Diambilnya pakaian itu dan dibawanya pulang ke istana. Istri Si Kelingking lantas membakar pakaian itu setibanya ia di istana.

Seperti biasanya, Si pemuda gagah datang ke istana Si Kelingking dan menanyakan di mana Si Kelingking. Ia juga tetap berusaha menunggu kedatangan Si Kelingking dan meminta berduaan dengan istri Kelingking. Seperti biasanya pula istri Si Kelingking menolak permintaannya dan Si pemuda akan segera meninggalkan istana Si Kelingking. Setelah pakaiannya tidak dapat ia temukan, ia kembali lagi ke istana Si Kelingking.

“Mengapa engkau kembali lagi?” tanya istri Si Kelingking dengan berpura-pura tidak mengetahui kejadian yang dialami pemuda itu.

“Aku tidak dapat menemukan pakaian yag semula kusembunyikan di semak-semak di dekat sungai,” jawab Si pemuda berwajah tampan itu. “Jika engkau memercayaiku, sesungguhnya aku ini suamimu, Si Kelingking.”

“Suamiku seorang lelaki yang tubuhnya sangat kecil, hanya sebesar kelingkingku. Bukan lelaki gagah seperti dirimu ini,” kata istri Si Kelingking dengan sikap pura-puranya.

Si pemuda gagah yang sesungguhnyajelmaan Si Kelingking lantas menjelaskan siapa dirinya yang sesungguhnya. “Maafkan aku karena telah mempermainkanmu, istriku,” katanya mengakhiri penjelasannya.

“Aku juga meminta maaf kepadamu, karena pakaianmu itu telah kubakar.”

Suami istri itu akhirnya saling memaafkan. Sejak saat itu wujud Si Kelingking tak berbeda dengan kebanyakan manusia biasa lainnya. Meski demikian, ia tetap dipanggil dengan nama aslinya: Si Kelingking.

Si Kelingking dan istrinya pun hidup berbahagia sebagai suami istri di istana mereka yang indah.

 

SEKALI-KALI JANGANLAH KITA MEMANDANG RENDAH ATAU MENGHINA ORANG LAIN HANYA KARENA BENTUK TUBUHNYA YANG BERBEDA DENGAN KEBANYAKAN ORANG. Dl BALIK KEKURANGANNYA, PASTI AKAN ADA KELEBIHAN YANG DIMILIKINYA KARENA TUHAN TIDAK PERNAH SIA-SIA DALAM MENCIPTAKAN SEGALA SESUATU.

Dang Gedunai – Cerita Rakyat Kepulauan Riau
Dang Gedunai – Cerita Rakyat Kepulauan Riau

Di wilayah kepulauan Riau pada masa lampau hiduplah seorang anak lelaki bernama Dang Gedunai. Dang Gedunai hanya tinggal berdua dengan emaknya setelah ayahnya meninggal dunia. Dang Gedunai dikenal bodoh dan kerap menjadi bahan tertawaan orang lain karena kebodohannya. Namun demikian, emaknya amat menyayanginya.

Pada suatu hari Dang Gedunai mencari ikan di sungai dengan menggunakan tangguk. Ketika itu ia tidak mendapatkan ikan, walau seekor pun, namun malah mendapatkan sebutir telur besar. Dang Gedunai mengamat-amati telur besar temuannya itu. Sangat yakinlah ia kemudian jika telur yang ditemukannya itu adalah telur badak.

“Aku menemukan telur badak!” teriak Dang Gedunai dengan wajah menyemburat gembira. “Aku yakin, telur badak ini rasanya sangat lezat jika dimasak atau digoreng!”

Orang-orang yang tengah mencari ikan bersama Dang Gedunai terperanjat mendengar teriakan Dang Gedunai. Mereka bergegas mendatangi Dang Gedunai. Mereka terkejut melihat Dang Gedunai memegang sebutir telur besar. Mereka tidak tahu telur apa yang dipegang Dang Gedunai itu.

“Ini telur badak,” kata Dang Gedunai menjawab pertanyaan orang-orang itu.

“Telur badak?” mereka keheranan. “Bukankah badak itu beranak dan bukan bertelur?”

“Lantas, telur apa ini jika bukan telur badak? Jika ini telur burung, burung apakah yang bertelur sebesar ini?” Dang Gedunai gigih mempertahankan pendapatnya.

“Aku tidak tahu itu telur apa, namun yang jelas itu bukan telur badak!” salah seorang dari mereka tegas berujar. “Badak itu tidak bertelur. Jangan engkau umbar kebodohanmu itu dengan menyebutkan itu telur badak!”

Namun, Dang Gedunai tidak peduli. Menurutnya, teluryang didapatkannya itu adalah telur badak. Dengan wajah gembira berseri- seri, Dang Gedunai membawa telur temuannya itu pulang ke rumah. Ditemuinya ibunya dan ditunjukkannya telur yang baru saja didapatkannya itu. “Ibu, lihat. Aku menemukan telur badak.”

Sejenak mengamat-amati, emak Dang Gedunai menjadi terkejut. Katanya, “Anakku, ini bukan telur badak. Ini telur naga!”

Kedua alis Dang Gedunai menaik. “Ini telur naga?” tanyanya untuk meyakinkan.

“Benar, itu telur naga,” sahut emaknya.

“Mungkinkah naga datang ke sungai?” sanggah Dang Gedunai. Kepala Dang Gedunai menggeleng-geleng dan kemudian berujar, ”Aku tidak yakin, Mak. Menurutku, ini telur badak. Seekor badak betina datang ke sungai itu dan bertelur.”

Emak Dang Gedunai mencoba menyabarkan diri dan memberikan penjelasannya, “Anakku, badak itu tidak bertelur melainkan beranak. Percayalah pada Ibu, itu telur naga. Sekali-kali janganlah engkau berani memakannya! Ingatlah akan pesan Emak ini.”

Dang Gedunai tetap percaya jika telur temuannya itu adalah telur badak. Ia tetap yakin jika telur itu nikmat rasanya jika dimakan. Ia bersikeras untuk memakannya. Maka, keesokan harinya Dang Gedunai berpura-pura sakit ketika emaknya mengajaknya berangkat ke ladang. Sepeninggal emaknya, Dang Gedunai lantas memasak dan memakan telur besar itu. “Emm … lezat sekali rasa telur badak ini,” katanya. “Nanti aku akan mencari telur badak lagi.”

Setelah memakan telur besar itu Dang Gedunai merasa mengantuk. Ia lalu merebahkan diri di ranjang dan sebentar kemudian ia telah tertidur. Amat lelap tidurnya. Dang Gedunai pun bermimpi. Dalam impiannya itu ia didatangi seekor naga betina yang sangat besar. Naga betina itu berkata kepada Dang Gedunai, “Siapa pun juga yang berani memakan telurku, maka ia akan menjadi naga sebagai pengganti anakku!”

Dang Gedunai langsung terbangun. Ia sangat takut jika impiannya itu menjadi kenyataan. Tiba- tiba ia merasa sangat haus. Ia pun bergegas mengambil air minum. Segelas, dua gelas, tiga gelas, hingga tujuh gelas air telah diminumnya. Aneh, ia tetap merasa sangat haus. Ia pun menuju belakang dapur dan meminum air dari tempayan. Air satu tempayan penuh langsung diminumnya, namun ia tetap merasa sangat haus.

Amat terkejutlah emak Dang Gedunai ketika pulang dari ladang mendapati keadaan anaknya yang terus-menerus merasa kehausan itu. Semua air di rumah itu telah habis diminum Dang Gedunai, namun Dang Gedunai masih tetap merasa haus. “Mak, aku haus! Sangat haus! Aku minta minum, Mak!”

Emak Dang Gedunai sangat keheranan mendapati anaknya terus-menerus kehausan. Ia menjadi yakin kemudian, anaknya itu pasti telah memakan telur naga. “Anakku, apakah telur naga itu engkau makan?”

“Ya, Mak,” jawab Dang Gedunai. “Rasanya enak sekali. Namun, aku menjadi sangat haus. Aku haus, Mak! Haus sekali!”

Para tetangga Dang Gedunai terkejut mendengar suara teriakan Dang Gedunai. Mereka lantas berdatangan ke rumah Dang Gedunai. Mereka kemudian mengambil air dari rumah mereka masing-masing untuk minum Dang Gedunai. Namun hingga semua air itu habis diminum Dang Gedunai, Dang Gedunai tetap merasa haus. Seperti tidak bisa lagi mencegah rasa hausnya, Dang Gedunai menuju sumur. Air di dalam sumur itu diminumnya hingga tandas. Aneh, tetap juga Dang Gedunai merasa haus.

Emak Dang Gedunai lantas membawa anaknya itu ke danau. Dang Gedunai meminum air danau itu. Benar-benar mengherankan, seluruh air di danau itu habis diminumnya. Orang-orang sangat terperangah melihat pemandangan yang sangat mengejutkan sekaligus mengherankan itu. Bertambah-tambah keheranan dan keterkejutan mereka ketika mendapati Dang Gedunai masih juga merasa haus.

Emak Dang Gedunai yang kebingungan lalu membawa anaknya itu ke sungai.

Setibanya di sungai, Dang Gedunai berkata, “Mak, aku akan mengikuti arus sungai ini hingga sampai ke laut. Maafkan aku, Mak. Aku rasa, aku akan menjadi seekor naga.”

Emak Dang Gedunai sangat sedih mendengar ucapan anaknya itu. Meski anaknya telah melanggar pesannya, namun ia sangat menyayangi anak semata wayangnya itu. Ia sangat sedih jika harus berpisah. Dengan airmata bercucuran dipandanginya tubuh anak tercintanya yang sedang berenang cepat mengikuti arus sungai itu. Ia kemudian berjalan menuju muara sungai sementara Dang Gedunai berenang dengan cepat hingga akhirnya tiba di laut.

Setibanya di pantai, Emak Dang Gedunai tidak mendapati anaknya. Airmatanya kian deras mengucur. Dipandanginya laut yang terus berombak tiada henti itu. Tetap ia berharap anaknya akan muncul dan kembali kepadanya. Namun, yang ditunggunya tidak juga muncul. Hingga berhari-hari ia berdiam di pantai itu, Dang Gedunai yang sangat dicintainya itu tidak juga muncul.

Pada suatu hari Emak Dang Gedunai melihat laut berombak sangat besar. Air laut serasa diaduk-aduk oleh kekuatan raksasa yang tidak terlihat. Semua yang dilihatnya itu membuat Emak Dang Gedunai menjadi keheranan berbaur dengan rasa terkejut. Keterkejutan Emak Dang Gedunai bertambah-tambah saat mendapati seekor naga besar muncul dari laut. Naga besar itu bergerak cepat menuju pantai tempat Emak Dang Gedunai berada.

“Mak,” panggil Si naga besar.

Emak Dang Gedunai menyadari jika naga besar itu tak lain adalah jelmaan anak semata wayangnya. Dengan pandangan penuh kasih sayang ditatapnya anak tercintanya itu.

“Mak, maafkan aku yang tidak mendengarkan nasihatmu. Mak telah memintaku untuk tidak memakan telur naga itu, namun aku bersikeras untuk memakannya. Maafkan aku, Mak. Karena kesalahanku akibat tidak mendengarkan nasihatmu, kini aku berubah menjadi seekor naga. Tempat tinggalku tidak lagi di rumah bersamamu, melainkan di lautan luas ini.”

Emak Dang Gedunai kian mencucurkan airmata mendengar pengakuan dan penyesalan anak kandungnya itu.

“Mak, jika Emak rindu untuk bertemu denganku, datanglah ke pantai ini. Pandangilah laut luas yang terbentang di hadapanmu. Perhatikan keadaan laut. Jika laut dalam keadaan tenang, itu berarti aku tengah tertidur, Mak. Namun, jika laut tampak berombak besar, itu pertanda aku tengah mencari makan. Ingatlah baik-baik pesanku ini, Mak.”

“Ya, Dang Gedunai anakku. Emakmu ini akan senantiasa mengingat-ingat pesanmu itu.”

“Selamat tinggal, Mak,” kata Dang Gedunai. “Meski wujudku telah berubah menjadi naga besar, aku ini tetap anakmu, Mak. Aku tetap Dang Gedunai. Oleh karena itu, aku mohon doa dan restumu, Mak.”

“Ya, anakku. Doa dan restuku senantiasa tercurah kepadamu.”

Naga besar jelmaan Dang Gedunai Itu lantas menyelam kembali ke dasar laut, meski Emak Dang Gedunai semula hendak menyentuhnya. Ia telah kembali ke kediamannya yang baru.

Pesan Dang Gedunai disebarluaskan emaknya. Sejak saat itu para nelayan akan senantiasa melihat kondiSI laut terlebih dahulu sebelum melaut. Jika laut berombak ganas, mereka urungkan niat mereka untuk melaut. Mereka tahu, naga besar jelmaan Dang Gedunai tengah mencari mangsa ketika Itu. Mereka takut menjadi mangsa Dang Gedunai. Hanya ketika naga besarjelmaan Dang Gedunai Itu tertidur saja mereka baru berani melaut untuk mencari Ikan.

 

HENDAKLAH KITA SENANTIASA MENDENGARKAN DAN MEMATUHI NASIHAT ORANGTUA. KARENA NASIHAT ORANGTUA SESUNGGUHNYA DEMI KEBAIKAN KITA SENDIRI.

Membeli Waktu Kerja Ayah – Cerita Anak Keluarga
Membeli Waktu Kerja Ayah – Cerita Anak Keluarga

Suatu hari, seorang ayah sedang melakukan beberapa pekerjaan di rumah dan putranya datang bertanya, “Ayah, bolehkah aku bertanya sesuatu?”. Ayahnya  berkata, “Ya tentu, apa itu?” Anak laki-laki itu pun bertanya, “Ayah dibayar berapa dalam satu jam untuk bekerja?” Ayahnya sedikit kesal dan berkata, ” Itu bukan urusanmu. Mengapa kamu menanyakan hal seperti itu?” Anaknya pun berkata, “Aku hanya ingin tahu. Tolong beri tahu aku, Yah.” Kemudian ayahnya memberi tahu dia, “Ayah dibayar 50 ribu per jam. ”

“Oh”, jawab anak kecil itu, dengan kepala tertunduk. Melihat ke atas, dia berkata, “Ayah, bolehkah saya meminjam 30 ribu rupiah?” Sang ayah dengan marah berkata, “Jika satu-satunya alasan kamu bertanya tentang gaji ayah adalah agar kamu dapat meminjam sejumlah uang untuk membeli mainan konyol atau omong kosong lainnya, pergilah ke kamar. Pikirkan mengapa kamu begitu egois. Ayah bekerja keras setiap hari dan tidak menyukai perilaku kekanak-kanakan ini. ”

Bocah kecil itu diam-diam pergi ke kamarnya dan menutup pintu. Ayahnya duduk dan semakin kesal dengan pertanyaan anak kecil itu. Beraninya dia menanyakan pertanyaan seperti itu hanya untuk mendapatkan uang? Setelah sekitar satu jam atau lebih, ayahnya sudah tenang dan mulai berpikir, “Mungkin ada sesuatu yang benar-benar perlu dia beli dengan 30 ribu dan dia benar-benar tidak meminta uang sangat sering.”

Kemudian ayahnya menghampiri ke kamar dan membuka pintu. “Apakah kamu tidur, Nak?” dia bertanya. “Tidak ayah, aku sudah bangun,” jawab bocah itu. “Ayah sudah berpikir, mungkin ayah terlalu keras pada kamu sebelumnya,” kata pria itu. “Ini hari yang panjang dan ayah mengeluarkan kekejamanku padamu, ini 30 ribu yang kamu minta”.

Anak itu duduk tegak dan tersenyum “oh terima kasih, Ayah!” teriaknya. Kemudian, dia meraih sesuatu di bawah bantalnya dia menarik beberapa catatan yang sedikit rusak. Ayahnya melihat bahwa anak itu sudah punya uang yang membuat ayahnya mulai marah lagi. Anak kecil itu perlahan menghitung uangnya, lalu menatap ayahnya.

“Mengapa kamu ingin uang jika kamu sudah punya beberapa?” Sang ayah mengomel. “Karena aku tidak punya cukup uang, tetapi sekarang sudah cukup,” jawab bocah kecil itu. “Ayah, aku punya 50 ribu sekarang. Bisakah aku membeli satu jam dari waktu Ayah? Tolong pulang lebih awal besok. Aku ingin makan malam dengan Ayah.” Ayahnya pun tertegun dan langsung memeluk anaknya.

KITA BOLEH BERKERJA KERAS TAPI TIDAK BOLEH MEMBIARKAN WAKTU BERLALU TANPA MENGHABISKAN WAKTU BERSAMA MEREKA YANG BERARTI DAN DEKAT DENGAN HATI KITA.