Tag: Ayah

Juragan Boing – Cerita Rakyat Betawi (Jakarta)
Juragan Boing – Cerita Rakyat Betawi (Jakarta)

Di daerah Duren, Betawi pinggiran, pada masa lampau hiduplah seorang hartawan. Juragan Boing namanya. Ia lelaki terpandang di daerah kediamannya. Orang-orang segan padanya. Apalagi, ia juga pemarah. Kemarahannya akan segera meledak jika ada sesuatu yang tidak membuatnya senang.

Juragan Boing mempunyai seorang anak lelaki, namanya Mat Salim. Ia pemuda baik. Terbilang tampan wajahnya. Banyak gadis yang mengimpikan dapat menjadi istrinya.

Juragan Boing memiliki banyak sawah dan ladang, tersebar di berbagai tempat. Beberapa orang yang bekerja padanya, menggarap sawah dan ladang miliknya itu. Selain itu, Juragan Boing mengupah centeng untuk keamanan diri, keluarga, dan hartanya. Bokir nama centeng Juragan Boing. Seperti tuannya, Bokir juga pemarah. Bahkan, kemarahannya pada pekerja kerap melebihi kemarahan Juragan Boing sendiri.

Salah seorang pekerja Juragan Boing adalah Bang Maun. Bang Maun telah beristri. Mpok Ida nama istrinya. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Juleha namanya. Juleha cantik wajahnya. Banyak pemuda yang jatuh hati pada Juleha. Berminat menjadikan Juleha sebagai istrinya. Tetapi, Juleha tidak menanggapinya. Tampaknya, ia belum ingin berumah tangga.

Sebagai pekerja Juragan Boing, Bang Maun bekerja menggarap sawah dan ladang luas milik Juragan Boing. Ia pekerja yang baik. Rajin bekerja. Pagi-pagi ia telah memulai bekerja dan mengakhiri pekerjaannya ketika sore tiba. Juragan Boing mempercayai dan mengandalkannya.

Pada suatu hari Bang Maun jatuh sakit. Cukup parah sakitnya hingga tak bisa membuatnya bekerja seperti biasanya. Ia hanya rebahan di atas ranjang kayunya. Ia lalu memanggil istrinya. Katanya, “Ida, hari ini aku tidak bisa bekerja. Gantikan aku bekerja di sawah.”

“Ya, Bang,” jawab Mpok Ida.

Mpok Ida tak ingin meninggalkan suaminya sendirian dalam keadaan sakit. Ia memanggil Juleha. Katanya, “Leha, ayahmu lagi sakit. Jaga dan rawat ayahmu baik-baik, selama ibu bekerja di sawah.”

Juleha menganggukkan kepala dan menjawab, “Ya, Bu.”

Sementara di rumah Juragan Boing, Bokir sedang menemui Juragan Boing. Bokir baru saja tiba dari tugas memeriksa sawah dan ladang. Tugas yang biasa ia lakukan pada pagi dan sore hari.

“Sudah kau periksa sawah dan ladang?” tanya Juragan Boing.

“Sudah, Juragan,” jawab Bokir. “Sawah di sebelah barat hari ini tidak ada yang mengurus…”

“Sawah sebelah barat?” potong Juragan Boing. Matanya melotot membesar. “Ke mana Si Maun?”

“Saya tidak melihatnya, Juragan. Mungkin hari ini dia tidak masuk kerja,” jawab Bokir.

Juragan Boing marah. Sudah seharusnya Maun memberitahunya jika tidak masuk kerja. Dibayangkannya sawahnya terbengkalai karena tidak digarap Maun hari itu. Maka serunya, “Bokir! Antar aku ke rumah Maun!”

“Siap, Juragan.”

Juragan Boing dan centeng Bokir segera menuju rumah Bang Maun.

Juragan Boing langsung menggedor pintu rumah Bang Maun. Mpok Ida yang belum berangkat ke sawah bergegas membuka pintu. Ia terperanjat melihat Juragan Boing datang.

“Mana suamimu?” seru Juragan Boing.

“Suamiku lagi sakit. Ia ada… ada di…”

Belum selesai Mpok Ida menjawab, Juragan Boing telah masuk ke dalam rumah Bang Maun. Ia langsung menuju kamar Bang Maun.

Bang Maun yang masih rebahan terkejut melihat kedatangan Juragan Boing. Dengan tubuh gemetar, ia berusaha bangkit. Katanya dengan suara lirih, “Juragan, hari ini saya tidak bisa bekerja. Saya lagi sakit…”

Juragan Boing akan berujar saat dilihatnya Juleha memasuki kamar Bang Maun. Juragan Boing terpesona pada kecantikan Juleha. Ia urungkan kemarahannya. Lalu katanya, “Ya, sudah. Kamu istirahat dulu.”

“Terima kasih, Juragan.”

Juragan Boing mengambil uang dari sakunya. Diberikannya uang itu pada Bang Maun. “Biar kamu cepat sembuh, segera berobat. Pakai uang itu,” katanya sambil melirik ke arah Juleha.

“Terima kasih, Juragan.”

Juragan Boing lalu meninggalkan rumah Bang Maun. Bokir mengiringi di belakang Juragan Boing. Kecantikan wajah Juleha selalu terbayang di benak Juragan Boing. Ia tak menyangka jika anak Bang Maun begitu cantik wajahnya. Juragan Boing terus memikirkan Juleha hingga berketetapan hati untuk melamar Juleha.

Seminggu kemudian Juragan Boing kembali datang ke rumah Bang Maun. Bokir mengikutinya. Kata Juragan Boing di depan Bang Maun dan Mpok Ida, “Maun, aku datang untuk melamar Juleha. Apakah kamu membolehkan?”

Bang Maun dan Mpok Ida terkejut. Keduanya saling bertatap pandang untuk beberapa saat. Wajah keduanya membayang kegembiraan dan kebahagiaan. Jawab Bang Maun, “Tentu saja boleh, Juragan. Saya sangat setuju.”

“Engkau Setuju?”

“Tentu saja saya setuju,” tegas Bang Maun. “Sudah waktunya anak saya itu berumah tangga. Sangat pantas dia menjadi istri Mat Salim, putra Juragan.”

“Juleha bukan untuk anakku, tapi akan kunikahi sendiri!” tegas jawab Juragan Boing.

Bang Maun dan Mpok Ida sangat terkejut. Semula mereka menyangka, Juragan Boing melamar Juleha untuk dinikahkan dengan Mat Salim. Tapi ternyata akan dinikahi Juragan Boing sendiri. Bang Maun dan Mpok Ida sesungguhnya tidak setuju jika anak mereka dijadikan istri kedua Juragan Boing. Namun, Bang Maun tidak bisa menolak lamaran Juragan Boing itu, karena ia telah menyatakan persetujuannya.

Bang Maun dan Mpok Ida hanya bisa pasrah.

“Engkau setuju?” ulang Juragan Boing.

Bang Maun perlahan menganggukkan kepala.

Juragan Boing lalu menentukan tanggal pernikahan. Ia minta rencana pernikahannya itu berlangsung dengan baik. Masalah uang, Juragan Boing meminta Bang Maun dan Mpok Ida tidak perlu khawatir. Ia akan memberikan uang yang cukup untuk rencana pesta pernikahannya.

Centeng Bokir diam-diam mendatangi Mat Salim. Rencana pernikahan Juragan Boing itu diceritakannya pada Mat Salim.

Mat Salim sangat terkejut. Ia tidak setuju jika ayahnya menikahi Juleha. Ia ingin menggagalkan rencana pernikahan ayahnya itu. Namun, ia tidak mengerti bagaimana caranya. Diam-diam ia meninggalkan rumah. Ia lalu menuju warung Mpok Ani.

“Lim, apa yang terjadi padamu?” tanya Mpok Ani ketika Mat Salim tiba di warungnya. “Wajahmu terlihat kusut begitu!”

Mat Salim menceritakan kebingungannya untuk menggagalkan rencana pernikahan ayahnya.

Mpok Ani terdiam mendengarkan. Lalu katanya, “Sebenarnya, mudah saja bagimu untuk menggagalkan rencana pernikahan ayahmu itu, Lim.”

“Bagaimana caranya, Mpok?”

Mpok Ani lalu memberinya saran. Mat Salim mengangguk-anggukkan kepala. Ia akan menjalankan saran Mpok Ani.

Hari pernikahan Juragan Boing dan Juleha tiba. Juragan Boing tiba di rumah Bang Maun. Rumah telah dihias. Upacara pernikahan tampaknya akan segera dilakukan. Penghulu juga telah datang.

“Maun, panggil calon pengantin perempuan,” kata penghulu.

Bang Maun dan Mpok Ida ke kamar Juleha. Keduanya sangat terkejut mendapati kamar anaknya itu telah kosong. Juleha tidak ada di kamarnya!

Kegemparan pun terjadi ketika Bang Maun dan Mpok Ida memberitahukan bahwa Juleha tidak ada di kamarnya. Juleha hilang! Tak terkirakan marahnya Juragan Boing. Ia minta Juleha segera dicari dan ditemukan. Rencana pernikahannya tidak boleh gagal!

Ketika semua orang bersiap-siap mencari Juleha, mendadak Juleha datang bersama Mat Salim, Keduanya bergandengan tangan.

Semuanya terkejut, terlebih-lebih Juragan Boing.

“Juleha,” panggil penghulu, “bagaimana engkau ini? Upacara pernikahan akan dilangsungkan, tapi kamu malah pergi!”

Jawab Juleha, “Pak Penghulu, sebenarnya saya tidak mau menikah dengan Juragan Boing. Saya sudah mempunyai calon sendiri.”

“Siapa calonmu, Leha?” tanya Juragan Boing.

Juleha menatap ke arah Mat Salim. “Inilah calon suami saya.”

“Salim?” seru Juragan Boing. Ia sama sekali tidak menyangka jika anaknya adalah calon suami Juleha.

“Benar, Yah,” kata Mat Salim. “Sebenarnya saya dan Juleha sudah lama mengikat janji. Kami berencana akan menikah. Namun, saya takut menceritakan masalah Ini kepada Ayah. Saya takut Ayah akan marah.”

Juragan Boing terdiam merenungkan ucapan anaknya. Mendadak ia tersadar. Juleha sudah seharusnya menikah dengan anaknya, bukan dengan dirinya.

“Baiklah,” kata Juragan Boing. “Rencana pernikahan ini harus terus dilangsungkan. Juleha harus tetap menikah. Bukan dengan saya, tapi dengan Salim, anak saya.”

Keputusan Juragan Boing disambut lega. Juleha dan Mat Salim kemudian menikah. Keduanya pun hidup berbahagia.

 

BERBUAT SEWENANG-WENANG KEPADA ORANG LAIN HENDAKNYA DIHINDARI. KARENA HAL ITU HANYA AKAN MENDATANGKAN KEBURUKAN DI KEMUDIAN HARI.

Membeli Waktu Kerja Ayah – Cerita Anak Keluarga
Membeli Waktu Kerja Ayah – Cerita Anak Keluarga

Suatu hari, seorang ayah sedang melakukan beberapa pekerjaan di rumah dan putranya datang bertanya, “Ayah, bolehkah aku bertanya sesuatu?”. Ayahnya  berkata, “Ya tentu, apa itu?” Anak laki-laki itu pun bertanya, “Ayah dibayar berapa dalam satu jam untuk bekerja?” Ayahnya sedikit kesal dan berkata, ” Itu bukan urusanmu. Mengapa kamu menanyakan hal seperti itu?” Anaknya pun berkata, “Aku hanya ingin tahu. Tolong beri tahu aku, Yah.” Kemudian ayahnya memberi tahu dia, “Ayah dibayar 50 ribu per jam. ”

“Oh”, jawab anak kecil itu, dengan kepala tertunduk. Melihat ke atas, dia berkata, “Ayah, bolehkah saya meminjam 30 ribu rupiah?” Sang ayah dengan marah berkata, “Jika satu-satunya alasan kamu bertanya tentang gaji ayah adalah agar kamu dapat meminjam sejumlah uang untuk membeli mainan konyol atau omong kosong lainnya, pergilah ke kamar. Pikirkan mengapa kamu begitu egois. Ayah bekerja keras setiap hari dan tidak menyukai perilaku kekanak-kanakan ini. ”

Bocah kecil itu diam-diam pergi ke kamarnya dan menutup pintu. Ayahnya duduk dan semakin kesal dengan pertanyaan anak kecil itu. Beraninya dia menanyakan pertanyaan seperti itu hanya untuk mendapatkan uang? Setelah sekitar satu jam atau lebih, ayahnya sudah tenang dan mulai berpikir, “Mungkin ada sesuatu yang benar-benar perlu dia beli dengan 30 ribu dan dia benar-benar tidak meminta uang sangat sering.”

Kemudian ayahnya menghampiri ke kamar dan membuka pintu. “Apakah kamu tidur, Nak?” dia bertanya. “Tidak ayah, aku sudah bangun,” jawab bocah itu. “Ayah sudah berpikir, mungkin ayah terlalu keras pada kamu sebelumnya,” kata pria itu. “Ini hari yang panjang dan ayah mengeluarkan kekejamanku padamu, ini 30 ribu yang kamu minta”.

Anak itu duduk tegak dan tersenyum “oh terima kasih, Ayah!” teriaknya. Kemudian, dia meraih sesuatu di bawah bantalnya dia menarik beberapa catatan yang sedikit rusak. Ayahnya melihat bahwa anak itu sudah punya uang yang membuat ayahnya mulai marah lagi. Anak kecil itu perlahan menghitung uangnya, lalu menatap ayahnya.

“Mengapa kamu ingin uang jika kamu sudah punya beberapa?” Sang ayah mengomel. “Karena aku tidak punya cukup uang, tetapi sekarang sudah cukup,” jawab bocah kecil itu. “Ayah, aku punya 50 ribu sekarang. Bisakah aku membeli satu jam dari waktu Ayah? Tolong pulang lebih awal besok. Aku ingin makan malam dengan Ayah.” Ayahnya pun tertegun dan langsung memeluk anaknya.

KITA BOLEH BERKERJA KERAS TAPI TIDAK BOLEH MEMBIARKAN WAKTU BERLALU TANPA MENGHABISKAN WAKTU BERSAMA MEREKA YANG BERARTI DAN DEKAT DENGAN HATI KITA.