Tag: Indonesia

Nenek Pakande – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan
Nenek Pakande – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Selintas, ia tak ubahnya seorang nenek tua renta. Semua rambutnya telah memutih dan berkonde. Kulit wajahnya telah keriput. Tubuhnya tidak lagi tegap, jika berjalan agak membungkuk. Tapi, ia sangat ditakuti karena kekejamannya. Kegemarannya menculik dan memangsa anak- anak!

Dialah Nenek Pakande, nenek siluman betina. Ia biasa mencari mangsa ketika menjelang malam. Anak-anak yang masih bermain di luar rumah ketika malam tiba, akan menjadi sasaran penculikannya.

Nenek itu sangat sakti. Tidak ada warga yang bisa mengalahkannya. Namun, nenek siluman itu sangat takut dengan raksasa bernama Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale. Raksasa itu juga pemakan manusia. Namun, bukan sembarang manusia yang dimangsanya. Hanya orang- orang jahat saja. Kepada orang-orang baik, Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale juga baik sikapnya. Raksasa itu tidak pernah mengganggu, tetapi malah suka membantu.

Sejak Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale pergi entah ke mana, Nenek Pakande terus berulah. Terakhir, dua anak dan seorang bayi diculiknya. Warga gusar. Mereka berkumpul dengan dipimpin Kepala Kampung. Segenap warga bersepakat untuk menghentikan kekejaman Nenek Pakande. Nenek Pakande harus diusir dari kampung mereka. Tapi, mereka tidak mengerti bagaimana caranya.

“Sebaiknya kita serang bersama-sama nenek siluman pemangsa anak-anak itu,” saran seorang warga.

Saran itu langsung disanggah seorang warga lainnya, “Jangan gegabah! Nenek siluman itu sangat sakti. Meski kita keroyok beramai-ramai, ia akan mudah mengalahkan kita.”

“Lantas, apa kita harus diam saja dan membiarkan anak-anak kita dimangsa nenek siluman itu?” ujar seorang warga lainnya.

Warga kampung bingung. Bahkan, Kepala Kampung pun tidak mengetahui bagaimana cara menghentikan kekejaman Nenek Pakande. Ia hanya bisa menyarankan, “Kita coba mencari Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale. Kita minta tolong padanya.”

“Tapi, di mana kita bisa menemukan raksasa baik hati itu, Kepala Kampung?” tanya seorang warga kampung.

Kepala Kampung terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan salah seorang warganya itu.

Mendadak terdengar suara dari tengah- tengah warga, “Aku mempunyai cara untuk mengalahkan dan mengusir Nenek Pakande dari kampung kita.”

Orang yang berkata itu bernama La Beddu. Ia seorang pemuda yang dikenal cerdik, pandai, dan pemberani. Sifat dan kelakuannya dikenal baik. Ia ramah dan suka menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

Warga kampung tidak percaya jika La Beddu mampu mengalahkan dan mengusir Nenek Pakande. Sebagian warga kampung malah mentertawakannya. La Beddu bukan sosok yang sakti, bagaimana bisa mengalahkan nenek siluman yang sangat sakti itu?

“Untuk mengalahkan kesaktian Nenek Pakande, tidak harus menggunakan kesaktian,” ujar La Beddu. “Dengan kecerdikan pun bisa.”

“Bagaimana caranya mengalahkan Nenek Pakande, La Beddu?” tanya Kepala Kampung.

“Aku membutuhkan beberapa hewan dan benda,” jawab La Beddu.

“Sebutkan apa saja yang engkau butuhkan.”

“Aku butuh beberapa ekor belut, beberapa ekor kura-kura, kulit rebung kering, garu, dan batu besar,” jawab La Beddu. “Jangan lupa siapkan juga seember busa sabun. Jika telah tersedia, kumpulkan semua di Bala Raja.”

Bala Raja adalah rumah panggung yang sangat besar yang berada paling ujung di perkampungan mereka.

Warga kampung bertambah heran. Sangat aneh barang-barang yang diminta La Beddu. Namun, karena mereka ingin terbebas dari kekejaman Nenek Pakande, mereka bergotong- royong menyediakannya. Mereka mengumpulkan semua barang itu di Bala Raja.

Pada malam Jum’at, La Beddu dan beberapa warga kampung bersiaga di Bala Raja. Nenek Pakanda biasanya mencari mangsa pada malam itu. La Beddu meminta bantuan dua kawannya yang pemberani. Keduanya diminta untuk bersembunyi di bawah rumah panggung. Tugas mereka adalah meletakkan belut-belut dan batu besar di bawah tangga Bala Raja.

Beberapa warga kampung lainnya juga bersiaga di salah satu kamar di dalam Bala Raja itu. Mereka semua bersenjata. Mereka menjaga seorang bayi yang dijadikan umpan agar Nenek Pakande datang ke Bala Raja. Semua lampu di Bala Raja dinyalakan, sementara semua lampu di rumah-rumah warga dimatikan. Setelah semua persiapan siap, La Beddu bergegas menaiki atap Bala Raja. Ia bersembunyi di tempat itu.

Nenek Pakande akhirnya muncul. Ia keheranan mendapati suasana kampung yang gelap gulita. Tak ada satu pun warga yang menyalakan lampu. Ia juga melihat rumah besar di ujung kampung terang benderang. Ia pun menghampiri Bala Raja. Mendadak ia mencium sesuatu yang membuat wajahnya berubah gembira. Bau seorang bayi!

Nenek Pakande bergegas memasuki Bala Raja. Ia tahu, bayi itu berada dalam sebuah kamar berpintu tinggi. Ia akan mendobrak pintu kamar, mengambil, dan memangsanya.

Mendadak terdengar suara menggelegar dari atas, “Hei Nenek Pakande! Apa keperluanmu datang ke Bala Raja ini?”

Nenek Pakande terkejut. Pandangannya menatap ke arah atap. “Aku mau mengambil bayi di rumah ini!” jawabnya. “Siapa kau?”

La Beddu yang menggunakan kulit rebung kering ketika bersuara, hingga suaranya terdengar keras membahana, itu menjawab, “Kau tidak bisa mengenali suaraku? Haa… haa… haaa…! Aku Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale!”

“Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale?”

“Ya!”jawab La Beddu. “Kudengar kau berulah di kampung ini! Sungguh berani engkau melakukannya! Kuminta… pergi kau dari kampung ini! Jika tidak, akan kumangsa engkau hidup-hidup!!”

Nenek Pakande sejenak terdiam. Sejenak kemudian bibirnya mencibir. “Aku tidak percaya!” serunya. “Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale sudah lama pergi. Engkau hanya mengaku-aku saja. Aku tidak mau pergi sebelum membawa bayi itu!”

“Engkau tidak mau pergi? Hmm… bagus! Aku bisa segera memangsamu. Aku sudah sangat lapar. Lihat… air liurku sudah menetes-netes!”

La Beddu menumpahkan seember busa sabun dari atap.

Melihat busa sabun yang berjatuhan itu membuat Nenek Pakande terkejut. Tetapi, ia belum melihat sosok raksasa yang sangat ditakutinya itu. Ia mencoba menyangkal, “Aku tetap tak percaya engkau adalah Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale.”

“Hmm… kau masih ingin bukti lagi rupanya…” La Beddu lalu menjatuhkan beberapa ekor kura- kura secara bergiliran. Katanya sambil menjatuhkan garu, “Lihat, kutu-kutu yang mengganggu rambut di kepalaku ini! Astaga! Sisirku jatuh pula! Grrr.J!”

Ketakutan Nenek Pakande menguat ketika melihat ‘kutu-kutu’ dan ‘sisir’ yang berjatuhan dari atap. Ia makin ketakutan saat mendengar ‘Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale’ bersiap memangsanya.

Nenek Pakande bergegas menuju pintu keluar. Ia sangat ketakutan hingga tidak melihat belut- belut yang sengaja dipasang di bawah tangga. Seketika ia menginjak, ia langsung terpeleset jatuh. Kepalanya membentur batu besar yang telah disiapkan di bawah tangga.

“Aduuh…”jerit Nenek Pakande. Ia lalu bangkit dan mengusap-usap kepalanya yang dirasanya sakit. “Baiklah, Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale. Aku akan pergi jauh-jauh dari kampung ini. Aku akan menuju bulan.”

“Hmm… bagus! Rupanya, kau memilih pergi dibanding menjadi santapan malamku! Grrrr.J!”

Sebelum pergi, Nenek Pakande masih memberikan ancamannya, “Ingat baik-baik! Dari bulan, aku akan tetap melihat anak-anak di kampung ini. Suatu saat, jika kulihat anak-anak masih berkeliaran di luar rumah menjelang malam, aku akan datang untuk menculik dan memangsa mereka!”

Nenek Pakande mengerahkan kesaktiannya. Tubuhnya melayang. Ia lalu terbang cepat menuju bulan.

Segenap warga kampung menyambut gembira kepergian Nenek Pakande ke bulan. Mereka berjanji akan mengingatkan anak-anak mereka agar tidak berkeliaran ketika hari menjelang malam. Bisa jadi, Nenek Pakande akan menangkap dan memangsa mereka!

 

KECERDIKAN SIASAT AKAN DAPAT MENGALAHKAN KEPINTARAN ATAU KESAKTIAN SESEORANG.

Kisah Ular dan Kerbau – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan
Kisah Ular dan Kerbau – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Pada zaman dahulu semua hewan dapat berbi-cara layaknya manusia. Mereka hidup bersama di dalam hutan belantara. Di antara hewan-hewan itu terdapat seekor ular yang sombong. Karena kesombongannya, banyak hewan yang tidak mau bersahabat dengan Si ular.

Pada suatu hari kerbau dan ular bertemu di pinggir hutan. Kata Si ular, “Wahai kerbau, jika kuperhatikan, tubuhmu memang besar. Namun, aku sangSi apakah kekuatanmu itu juga besar seperti besarnya tubuhmu itu.”

Si kerbau terlihat sangat jengkel mendengar ucapan Si ular. Jawabnya, “Tentu saja kekuatanku juga besar. Bahkan, kekuatanku jauh lebih besar dibandingkan kekuatan tubuhmu yang kurus, kecil, lagi panjang mirip tali itu!”

Si ular menjadi marah. “Betapa sombongnya engkau ini, hei kerbau!” hardiknya.

“Justru engkau itulah yang sombong!” sergah Si kerbau tak mau mengalah. “Tak pernah aku meragukan kemampuan kekuatanmu, namun engkau yang memulai dengan meragukan kekuat-anku. Begitu pun engkau menyebutku sombong? Bukankah engkau itulah yang terkenal sombong selama ini?”

Si ular kian marah. Katanya untuk mema-merkan kekuatannya, “Jika aku membelit tubuh hewan, meskipun hewan itu besar tubuhnya, aku jamin tubuhnya pasti remuk. Tulang-tulangnya akan hancur. Hewan itu akan mati dan akhirnya bisa kumangsa.”

Meski Si ular berbicara dengan sombongnya, Si kerbau hanya menanggapi dengan senyum sinisnya. “Hanya begitu kemampuanmu yang sangat engkau sombongkan itu?” tanyanya.

Si ular kian murka. Kemampuan dirinya yang menurutnya hebat, serasa dilecehkan Si kerbau. “Apakah menurutmu kekuatanmu itu mampu me-lebihi kekuatanku?” tanyanya dengan suara galak.

“Seperti yang telah kusebutkan tadi, kekuat-anku jauh lebih besar dibandingkan kekuatanmu,” jawab Si kerbau. “Tidakkah engkau mengetahui jika bangsa manusia senantiasa menggunakan kekuatan tubuhku untuk membajak sawah? Tidakkah engkau melihat jika bangsa manusia menggunakan bangsaku untuk menarik barang- barang yang sangat berat? Itu semua telah jelas menunjukkan bahwa kekuatanku jauh lebih be¬sar daripada kekuatanmu. Tidak perlu aku harus membelit seperti yang engkau lakukan, karena hanya dengan dengusan napasku saja aku telah dapat meremukkan tubuh hewan yang berani menggangguku! Apakah itu masih belum cukup bukti bagimu bahwa aku lebih kuat dibanding¬kan dirimu?”

“Jangan karena tubuhmu besar lantas eng¬kau menyangka engkau lebih kuat dari aku!” seru Si ular. “Kita bisa buktikan, siapa di antara kita yang lebih kuat.”

Si kerbau menerima tantangan Si ular. “Siapa yang lebih dahulu menunjukkan kekuatannya?” tanya Si kerbau kian menunjukkan tantangannya.

“Karena tubuhku lebih kecil, baiklah aku yang memulai,” jawab Si ular.

Si kerbau mengiyakan.

Si ular lalu membelit tubuh kerbau. Dike-rahkannya segenap kemampuan dan kekuat¬annya agar dapat lebih kuat membelit. Ia terus berusaha mengerahkan kekuatannya, namun Si kerbau tampak tidak terpengaruh. Si kerbau ter¬lihat tenang-tenang saja.

“Apakah engkau telah mengerahkan sege¬nap kemampuan kekuatanmu?” tanya Si kerbau.

“Ya!” sahut Si ular dengan bangga. “Apakah engkau masih kuat menahan belitanku?”

Si kerbau tertawa. “Lihatlah sendiri,” katanya, “belitanmu masih terlalu lemah untuk melum-puhkanku. Jangankan remuk tulang-tulangku, merasa sakit pun aku tidak. Cobalah untuk lebih mengerahkan kekuatanmu.”

Sia-sia Si ular mengerahkan kekuatan¬nya karena Si kerbau tetap mampu bertahan. Si ular akhirnya menyerah setelah berusaha keras. “Sekarang giliranmu untuk menunjukkan kekuatanmu, kerbau,” katanya.

“Baiklah,” jawab Si kerbau.

Si kerbau menghembuskan napasnya kuat- kuat. Si ular merasakan kesakitan yang sangat pada tubuhnya. Semakin keras hembusan napas kerbau, makin sakit dirasakan Si ular. Si ular merasakan tulang-belulangnya remuk dan belitannya pun seketika itu terlepas. Tubuh Si ular jatuh ke atas tanah karena tak mampu lagi menghadapi hem¬busan napas kerbau.

Si ular tak berdaya …

“Bagaimana, ular? Bukankah telah terbuk¬ti jika kekuatanku jauh melebihi kekuatanmu?”

Si ular akhirnya menyadari, kesombongannya selama itu tidak berguna. Ia ternyata benar-benar tidak berdaya menghadapi kerbau. Kekuatan¬nya yang selama itu disombongkannya ternyata tidak berpengaruh pada kerbau. Ia pun menya¬dari kesalahannya.

Si ular akhirnya berjanji untuk tidak meng-ganggu kerbau hingga ke anak cucunya kemudian. Si kerbau pun juga berjanji untuk tidak meng¬ganggu ular hingga ke anak cucunya kelak. “Satu lagi pintaku,” kata Si kerbau, “Jangan engkau dan anak cucumu mengganggu para penggembala kerbau. Apakah engkau bersedia untuk berjanji?”

Si ular menyatakan kesediaannya.

Maka, sejak saat itu hingga sekarang ini ular tidak pernah mengganggu kerbau dan juga orang yang menggembalakan kerbau.

 

KESOMBONGAN DAN MEMANDANG RENDAH ORANG LAIN HANYA AKAN MERUGIKAN DIRI SENDIRI. ORANG YANG SOMBONG AKAN MENEMUI KEHANCURANNYA YANG SANGAT MENYAKITKAN DI KEMUDIAN HARI.

Balas Budi Si Burung Beo – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan
Balas Budi Si Burung Beo – Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Ambo Upe adalah seorang anak petani yang hidup pada zaman dahulu. Ia sangat rajin bekerja membantu orangtuanya. Sangat patuh pula ia pada kedua orangtuanya. Sehari-hari Ambo Upe menggembalakan kerbau.

Pada suatu hari Ambo Upe kembali meng-gembalakan enam kerbaunya. Dibiarkannya kerbau-kerbaunya itu bebas merumput semen¬tara ia beristirahat di bawah pohon asam yang rindang. Mendadak seekor anak burung jatuh di dekat Ambo Upe. Anak burung itu terlihat terluka. Ambo Upe lantas mengambil anak burung itu. Dibawanya pulang ke rumah dan diberinya obat pada luka yang diderita Si anak burung. Dengan penuh kasih sayang dirawatnya anak burung itu.

Setelah beberapa saat merawat, Ambo Upe mengetahui jika anak burung yang dirawatnya itu adalah anak burung beo. Seiring kian ber-tambahnya sang waktu, burung beo itu menjadi jinak dengan Ambo Upe. Meski burung beo itu tidak dikandangkan, ia tidak juga terbang men¬jauh. Kerap ia hinggap di bahu Ambo Upe jika dilihatnya Ambo Upe tengah duduk atau beris¬tirahat. Setiap kali Ambo Upe menggembalakan kerbau-kerbaunya, tak lupa burung beo itu turut serta dengannya.

Pada suatu hari Ambo Upe tertidur ketika tengah menggembalakan kerbau-kerbaunya. Seekor ular berbisa merayap ke arah Ambo Upe. Si burung beo yang mengetahui bahaya yang mengancam Ambo Upe segera bertin¬dak. Dengan cepat dipatuknya mata ular ber¬bisa itu. Ular berbisa itu menggeliat-geliatkan tubuhnya karena kesakitan sebelum akhirnya merayap pergi. Si burung beo lantas mengepak -ngepakkan sayapnya di dekat telinga Ambo Upe hingga Ambo Upe terbangun. Seketika me-ngetahui peristiwa yang hampir membahayakan jiwanya, Ambo Upe berterima kasih kepada Si burung beo. Dielus-elusnya kepala burung beo itu seraya mengucapkan terima kasih.

Beberapa waktu kemudian terjadi musim kemarau yang berkepanjangan. Rumput-rumput di padang penggembalaan mengering. Ambo Upe lantas berniat menggembalakan kerbau- kerbaunya di pinggir hutan yang masih banyak terdapat rumput di sana. Para penggembala lain¬nya tidak berani menggembalakan hewan gem- balaan di tempat itu karena daerah itu adalah daerah rawan. Hutan itu kerap dijadikan tempat persembunyian para perampok.

Benarlah kekhawatiran para penggembala. Beberapa saat Ambo Upe membiarkan kerbau- kerbaunya merumput di tempat itu, dua peram¬pok datang dan menyergap Ambo Upe. Mere¬ka mengikat Ambo Upe di sebuah pohon dan membawa enam kerbau gembalaan Ambo Upe ke dalam hutan.

Si burung beo melihat semua kejadian itu. Ia terbang mengikuti kemana kerbau-kerbau milik Ambo Upe itu akan disembunyikan para peram¬pok. Setelah mengetahui enam ekor kerbau itu disembunyikan di dalam gua di dalam hutan, Si burung beo lantas terbang secepatnya ke rumah Ambo Upe.

Ayah Ambo Upe keheranan mendapati burung beo peliharaan anaknya itu kembali ke rumah dan mengoceh. Sama sekali ia tidak me¬ngetahui apa yang diucapkan Si burung beo. Namun, karena Si burung beo seperti hendak mengajaknya, ayah Ambo Upe akhirnya menya¬dari akan bahaya yang tengah dialami anaknya.

Bersama beberapa tetangganya, ayah Ambo Upe lantas mengikuti ke mana Si burung beo terbang. Tak lupa mereka membawa senjata untuk menghadapi hal-hal burukyang mungkin akan mereka temui. Amat terperanjatlah mereka kemudian saat mendapati Ambo Upe terikat pada batang pohon sementara enam kerbau gemba-laannya telah menghilang.

Ambo Upe lantas menceritakan kejadian yang dialaminya. Katanya, “Aku tidak tahu dibawa kemana enam kerbau gembalaanku itu setelah aku disergap dan diikat dua perampok Itu.”

Ayah Ambo Upe dan orang-orang lainnya bersepakat untuk mencari di mana dua perampok Itu berada untuk mengambil kembali kerbau- kerbau yang telah mereka rampok. Namun, me¬reka merasa bingung hendak mencari ke mana. Mendadak Si burung beo terbang di dekat Ambo Upe dan seperti memberi isyarat agar Ambo Upe mengikutinya.

Orang-orang pun akhirnya mengikuti arah terbangnya Si burung beo. Mereka memasuki hutan. Beberapa saat berjalan, mereka akhirnya menemukan sebuah gua. Secara sembunyi- sembunyi mereka mengintai. Mereka mende¬ngar suara kerbau dari dalam gua.

“Rupanya gua ini menjadi tempat persem-bunyian para perampok serta tempat untuk me-nyembunyikan barang-barang hasil rampokan mereka,” bisik ayah Ambo Upe. “Mari kita tangkap para perampok itu!”

Dengan senjata terhunus pada tangan masing-masing, orang-orang itu pun segera me-ngepung gua. Mereka bergerak hati-hati ketika memasuki gua. Mereka dapati berpuluh-puluh ekor kerbau berada di dalam gua itu. Mereka lihat pula dua perampok itu tengah tertidur di dalam dua lubang kecil dl dalam gua. Serentak mereka menangkap dua perampok Itu dan mengikat kedua tangan mereka.

Dua perampok segera mereka gelandang dan kerbau-kerbau hasil rampokan dua perampok Itu segera mereka giring keluar dari dalam gua.

Kedatangan mereka disambut suka cita pen-duduk, terutama mereka yang telah kehilangan kerbau. Kerbau-kerbau mereka telah berhasil di-temukan kembali dan dua perampok yang selama itu meresahkan warga akhirnya dapat diringkus.

Ambo Upe sama sekali tidak menyangka, Si burung beo itu dapat membalas budi begitu besar terhadapnya. Ia hanya sekali menyelamat¬kan Si burung beo, namun berulangkali burung beo itu menyelamatkan dari berbagai bahaya yang mengancam jiwanya. Sungguh-sungguh berterima kasihlah Ambo Upe kepada burung beo piaraannya itu. Ia pun berketetapan hati untuk menyayangi hewan-hewan lainnya, ka¬rena hewan pun sesungguhnya bisa membalas budi jika mendapat perlakuan yang baik. Seperti yang ditunjukkan Si burung beo piaraannya itu.

 

KITA HENDAKLAH MENYAYANGI HEWAN KARENA HEWAN JUGA MAKHLUK HIDUP CIPTAAN TUHAN. HEWAN PUN DAPAT MLMBALAS BUDI. JIKA HEWAN KITA PERLAKUKAN DENGAN BAIK. HEWAN PUN AKAN MEMPERLAKUKAN KITA DENGAN BAIK PULA.

La Tongko-Tongko – Cerita rakyat Sulawesi Selatan
La Tongko-Tongko – Cerita rakyat Sulawesi Selatan

Pada zaman dahulu hiduplah seorang anak lelaki yang sangat bodoh. Ia pun dijuluki La Tongko-tongko karena kebodohannya itu. Sepeninggal ayahnya, La Tongko-tongko hanya tinggal berdua dengan ibunya.

Ketika menjelang dewasa usianya, La Tongko-tongko berniat beristri. Disebutkannya niatnya itu kepada ibunya. Jawab ibunya, “Terserah kepadamu. Carilah istrimu sendiri sesukamu. Semoga ada seorang perempuan yang mau engkau nikahi.”

La Tongko-tongko segera pergi mencari ca¬lon istrinya. Di tengah jalan ia berjumpa dengan seorang perempuan yang tengah menjunjung belanga. La Tongko-tongko segera mendeka¬ti perempuan iu dan berujar, “Hai perempuan penjunjung belanga, maukah engkau menjadi istriku?”

Si perempuan penjunjung belanga sangat terkejut mendengar ucapan La Tongko-tongko. Dipikirnya La Tongko-tongko adalah lelaki kurang ajar yang berani melecehkan kehormatannya. Maka, dilemparkannya belanga yang dijunjung¬nya itu ke arah La Tongko-tongko.

La Tongko-tongko berlari kembali ke ru¬mahnya seraya menahan sakit pada kepalanya karena terkena lemparan belanga. Kepada ibunya ia pun menceritakan kejadian yang dialaminya itu. “Perempuan itu malah melemparku dengan belanga ketika kutanya apakah ia bersedia men¬jadi istriku.”

Ibu La Tongko-tongko menggeleng-geleng-kan kepala mendapati betapa bodohnya anaknya. Disarankannya agar anaknya tidak mengulangi perbuatan bodohnya itu. Disarankannya pula untuk mencari perempuan lain dan bertanya dengan sopan.

La Tongko-tongko kembali mencari perem-puan yang bersedia diperistrinya. Ia menuju desa lain. Ia menemukan seorang perempuan yang juga tengah menjunjung belanga. Ia lantas mende¬kati dan berujar, “Wahai perempuan penjunjung belanga, apakah engkau bersedia aku nikahi?”

Sama halnya dengan yang dialami La Tongko- tongko sebelumnya, perempuan itu tidak men¬jawab pertanyaan La Tongko-tongko, melainkan melemparkan belanganya ke arah La Tongko- tongko.

La Tongko-tongko kembali pulang ke rumah-nya dan menceritakan kejadian yang dialaminya itu kepada ibunya.

“Engkau tidak bisa langsung seperti itu,” nasihat ibunya. “Sebelum engkau mengajak meni-kah, engkau seharusnya berkenalan lebih dahulu dengan perempuan itu. Setelah hubungan kalian akrab, engkau baru bisa mengajaknya menikah.”

La Tongko-tongko mengangguk-anggukkan kepala. Diingat-ingatnya nasihat ibunya itu sebe¬lum ia kembali meninggalkan rumahnya untuk mencari perempuan yang bersedia dinikahinya.

Dalam perjalanannya, La Tongko-tongko akhirnya tiba di sebuah pemakaman. Ketika itu ada mayat seorang perempuan yang disandarkan pada batang pohon sebelum nanti dikuburkan. Karena bodohnya, La Tongko-tongko tidak me¬ngetahui jika perempuan itu telah meninggal dunia. Ia mendekati mayat perempuan itu dan bertanya, “Wahai perempuan cantik, bolehkah aku berkenalan denganmu?”

Mayat perempuan itu tentu saja tidak men-jawab pertanyaan La Tongko-tongko.

“Kalau engkau tidak menjawab, berarti engkau setuju berkenalan denganku,” kata La Tongko-tongko kemudian. Ia pun mengajak berbincang-bincang mayat perempuan itu. Be-berapa saat kemudian ia lantas berkata lagi, “Aku rasa hubungan kita telah akrab. Bagaimana pen- dapatmu jika engkau kujadikan istri?”

La Tongko-tongko menunggu dan ketika tidak mendapatkan jawaban, ia kembali mena¬nyakan kesediaan mayat perempuan itu untuk menjadi istrinya. “Jika engkau tetap terdiam,” kata La Tongko-tongko selanjutnya, “Itu berarti eng¬kau setuju dengan ajakanku.”

Karena mayat perempuan itu tidakjuga men-jawab, La Tongko-tongko menganggap mayat perempuan itu bersedia menjadi istrinya. Segera digendongnya mayat perempuan itu dan diba¬wanya ke rumah.

Ketika La Tongko-tongko tiba di rumahnya, ibunya tengah memasak di dapur. Dengan wajah gembira ia menyatakan telah menemukan seorang perempuan yang bersedia menjadi istrinya. “Hanya saja calon istriku ini sangat pendiam orangnya,” kata La Tongko-tongko.

Tanpa memperhatikan kondiSi perempuan yang hendak diperistri anaknya, ibu La Tongko- tongko langsung menjawab, “Tidak mengapa calon istrimu itu sangat pendiam. Yang penting, ia mau menjadi istrimu. Lagipula, aku juga tidak suka mempunyai menantu yang cerewet.”

“Aku lihat calon istriku ini juga sangat me-ngantuk,” kata La Tongko-tongko lagi, “Ibu, bo-lehkah ia kutidurkan di kamarku?”

“Ya. Biarkan dia beristirahat dahulu,” jawab ibu La Tongko-tongko. “Nanti kalau masakan ibu telah matang, bangunkan ia dan ajak ia untuk makan bersama kita.”

La Tongko-tongko lantas menggendong dan meletakkan calon istrinya itu di atas ran¬jangnya. Ia pun duduk di pinggir ranjang seraya terus memandang wajah calon istrinya yang can¬tik itu. Tak berapa lama kemudian ibunya me¬manggilnya karena masakannya telah matang. Ia pun mencoba membangunkan calon istrinya itu. Tetap juga mata calon istrinya itu terpejam meski La Tongko-tongko menepuk-nepuk dan bahkan menggoyang-goyangkan tubuh calon istrinya itu. Serunya kemudian, “Ibu, aku telah membangunkan calon istriku ini, tetapi ia tidak juga bangun-bangun.”

Ibu La Tongko-tongko lantas memasuki kamar anaknya. Terperanjat ia ketika mendapati calon istri anaknya itu telah meninggal dunia. Bahkan, telah mengeluarkan bau busuk pula. “Anakku,” katanya kemudian, “Perempuan ini sudah me¬ninggal dunia. Ia telah menjadi mayat.”

“Dari mana ibu tahu jika calon istriku ini telah meninggal dunia?”

“Tidakkah engkau mencium bau busukyang menyengat ini?” kata ibu La Tongko-tongko. “Orang yang telah meninggal dunia itu pasti berbau busuk. Cepat kuburkan mayat ini!”

Dengan hati sedih La Tongko-tongko lantas menguburkan mayat perempuan itu. Menger¬tilah ia, orang yang telah meninggal dunia itu akan berbau busuk.

Selesai menguburkan mayat perempuan itu La Tongko-tongko pulang kembali ke rumahnya. Ia lantas makan bersama ibunya. Ketika tengah ma¬kan, ibu La Tongko-tongko kentut. Sangat berbau kentut ibu La Tongko-tongko itu. Ketika La Tongko- tongko mencium bau busuk itu ia pun yakin jika ibunya telah meninggal dunia. La Tongko-tongko segera menghentikan makannya dan membawa ibunya keluar rumah untuk dikuburkan.

“La Tongko-tongko! Aku ini masih hidup!”

“Tidak! Kata ibu, orang yang meninggal dunia itu pasti mengeluarkan bau busuk. Ibu telah mengeluarkan bau busuk, jadi ibu sudah meninggal dunia.”

Susah payah ibu La Tongko-tongko menje-laskan bahwa dirinya masih hidup dan bau busuk yang dikeluarkannya itu berasal dari kentutnya. La Tongko-tongko tetap menganggap ibunya telah meninggal dunia dan harus segera dikuburkannya. Beruntung bagi ibu La Tongko-tongko, ia dapat melepaskan diri dari pegangan anaknya. Ia te¬rus berlari menjauhi anaknya. La Tongko-tongko tidakjuga mengejar karena perutnya masih terasa lapar. Ia kembali ke rumahnya untuk mengha¬biskan makanannya.

Ketika La Tongko-tongko tengah makan, ia juga kentut. Ia mencium bau busuk. Seketika mendapati bau busuk itu berasal dari dirinya, ia pun menganggapjika dirinya telah mati. Segera ia mencari tempat untuk menguburkan dirinya sendiri. La Tongko-tongko menggali lubang kubur di dekat pohon mangga. Ia lalu menguburkan dirinya sendiri hingga sebatas leher.

Pada malam harinya seorang pencuri yang akan mencuri buah mangga. Si pencuri sangat terperanjat mendapati adanya kepala yang menyembul dari dalam tanah. “Siapa engkau?” tanyanya.

“Aku La Tongko-tongko.”

“Mengapa engkau di tempat ini?”

“Aku sedang menguburkan diriku karena aku sudah mati,” jawab La Tongko-tongko. Ia lalu menjelaskan penyebab anggapannya jika dirinya telah mati.

Si pencuri mengerti jika orang yang dihadapi-nya itu sangat bodoh. Ia pun berniat memperdaya La Tongko-tongko. Diajaknya La Tongko-tongko untuk mencuri kerbau. La Tongko-tongko me¬nuruti ajakan Si pencuri. La Tongko-tongko lalu memasuki kandang kerbau yang ditunjukkan Si pencuri sementara Si pencuri sendiri menunggu di luar kandang. Ketika mengambil kerbau, La Tongko-tongko sangat berisik hingga pemilik kerbau pun keluar dari rumah dan menangkap¬nya. Si pencuri langsung melarikan diri melihat La Tongko-tongko ditangkap pemilik kerbau.

Si pemilik kerbau akhirnya melepaskan La Tongko-tongko setelah mengetahui kebodoh¬annya.

Dalam perjalanannya menuju rumahnya, La Tongko-tongko kembali bertemu dengan Si pen¬curi. Waktu itu Si pencuri mengajak La Tongko- tongko untuk mencuri di sebuah rumah.

Pemilik rumah yang tengah diincar Si pencuri kebetulan tengah bersedih karena kematian salah seorang saudaranya. Karena hari telah malam, ia berniat menguburkan mayat saudaranya itu ke¬esokan harinya. Ia hanya memasukkan mayat itu ke dalam karung. Si pemilik rumah mengetahui jika ada pencuri yang mengincar rumahnya. Ia lalu bersiasat. Dimasukkan pecahan kaca ke dalam karung tempatnya menyimpan mayat saudara¬nya. Ia lalu bepura-pura telah tertidur pulas. Ia tetap berpura-pura tidur ketika La Tongko-tongko memasuki rumahnya.

La Tongko-tongko telah diberitahu Si pen¬curi agar menggoyang-goyangkan karung yang terdapat di dalam rumah itu. Jika terdengar suara bergemerincing dari dalam karung, ia diminta untuk mengambilnya. Ketika La Tongko-tongko menggoyang-goyangkan karung beriSi mayat dan pecahan kaca, ia mendengar suara bergemerincing. Ia pun langsung mengangkut karung itu dan memberikan kepada Si pencuri.

Si pencuri berniat menguasai iSi karung, tidak mau berbagi dengan La Tongko-tongko. Ia lantas berlari, Namun, La Tongko-tongko terus mengejarnya. Keduanya terus berkejar-kejaran. Si pencuri yang kelelahan akhirnya menyerah. Ia pun berniat membagi ¡Si karung dengan La Tongko-tongko.

Tak terkirakan terperanjatnya Si pencuri saat membuka karung yang ternyata beriSi mayat dan pecahan kaca. Benar-benar ia merasa sial sete¬lah bertemu dengan La Tongko-tongko. Maka dimintanya La Tongko-tongko kembali ke ru¬mahnya. Keduanya lantas berpisah. Si pencuri menuju arah barat dan La Tongko-tongko menuju arah selatan. Sejak saat itu keduanya tidak lagi pernah bertemu.

 

KITA HENDAKLAH TIDAK MEMANFAATKAN KELEMAHAN TAU KEKURANGAN ORANG LAIN. SELAIN ITU, KITA HENDAKNYA PULA BELAJAR DENGAN RAJIN AGAR TIDAK MENJADI ORANG YANG BODOH.

La Oto Ontolu – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara
La Oto Ontolu – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara

Sumantapura namanya. Ia putra sulung Raja Bulan. Suatu malam ia melihat bumi dari istana Kerajaan Bulan. Sangat indah dalam pandangannya. Ia pun ingin tinggal di bumi. Sumantapura lalu merubah diri menjadi sebutir telur besar. Ia lalu meluncur turun menuju bumi. Dipilihnya sebuah sarang tempat ayam bertelur untuk tempat turunnya. Sarang untuk bertelur ayam itu milik seorang nenek tua.

Ketika telur jelmaan Sumantapura tiba di dalam sarang, ayam-ayam terkejut. Mereka pun ramai berkotek.

Nenek tua yang sedang berada di kebunnya terkejut. Bergegas ia melihat kandang ayamnya. Ia takut ayam-ayamnya diserang atau dimangsa burung gagak. Ia terperanjat mendapati sebutir telur besar di dalam sarang tempat bertelur ayamnya.

“Telur apa ini?” gumam Nenek tua. Seumur hidupnya belum pernah ia mendapati telur sebesar itu. Ia lalu bergegas mengambil keranjang. Diletakkannya telur besar itu di dalam keranjangnya dan disimpannya di dalam gubuknya.

Keesokan paginya Nenek tua kembali ke ladang. Sebelumnya, ia telah memasak naSi dan menyiapkan lauk. Seperti biasanya, ia akan memakannya ketika istirahat tengah hari nanti.

Betapa terkejutnya Nenek tua saat kembali ke gubuknya di siang hari. Ia mendapati naSi dan lauknya telah habis. Bahkan, persediaan air di dalam tempayannya habis tak tersisa.

“Siapa yang tega melakukan semua ini?” gumam Nenek tua dengan perasaan kesal. “Sungguh keterlauan pelakunya.”

Kejadian seperti itu kembali terulang keesokan harinya. Nenek tua yang kembali ke rumahnya pada siang hari hanya mendapati tempat makanannya telah kosong. Begitu pula dengan tempayannya. Kejengkelan Nenek tua semakin menjadi-jadi. Ia berencana menjebak pelaku yang dianggapnya keterlaluan kelakuannya itu.

Pagi berikutnya Nenek tua kembali menyiapkan makanan. NaSi dan lauk. Diletakkannya di atas meja seperti biasanya. Sirih dan tembakau diletakkannya di atas meja. Tempayan telah pula diisinya air hingga penuh. Ia lalu mengambil tembilang, alat yang digunakannya untuk menyiangi rumput. Bergegas ia menuju ladangnya.

Sepeninggal Nenek tua, Sumantapura keluar dari dalam telur raksasa. Ia tersenyum senang melihat makanan telah terhidang di atas meja. Bergegas ia melihat tempayan air. Bertambah senang ia melihatnya. Sumantapura lalu mandi. Dihabiskannya air dalam tempayan itu untuk sekali mandi.

Selesai mandi, Sumantapura duduk di depan meja. Semua hidangan dimakannya hingga habis tak tersisa. Dibiarkannya peralatan makannya begitu saja. Pandangannya terbentur pada sirih dan tembakau. Belum pernah ia melihat benda itu. Ia pun mencoba memakannya. Rasanya pahit, tidak seenak makanan yang tadi dihabiskannya. Ia merasa pusing setelah memakannya. Tetapi Sumantapura terus memaksa memakannya. Rasa pusingnya semakin menjadi-jadi hingga akhirnya Sumantapura jatuh pingsan di tempat itu.

Tak berapa lama kemudian Nenek tua kembali. Sesuai rencananya, ia sengaja lebih cepat pulang untuk mengetahui siapa pelaku yang telah menghabiskan makanannya.

Nenek tua terperanjat mendapati seorang pemuda gagah tergeletak di dekat meja gubuknya. Ia khawatir pemuda asing itu telah meninggal di dalam gubuknya. Sejenak ia mengamati, Nenek tua mengetahui, pemuda itu tidak mati. Pemuda gagah itu hanya pingsan.

Nenek tua pun menyadarkan Si pemuda gagah.

“Siapa engkau ini?” tanya Nenek tua. “Mengapa engkau tega menghabiskan makanan dan airku?”

“Namaku Sumantapura, Nek,” jawab Si pemuda. “Aku putra sulung Raja Bulan.”

Nenek tua terkejut. “Engkau putra Raja Bulan?” tanyanya meyakinkan.

“Benar, Nek.”

“Mengapa engkau bisa berada di gubukku ini?”

Sumantapura lalu menjelaskan penyebab ia turun dari Kerajaan Bulan hingga akhirnya tiba di gubuk Nenek tua. Ia juga meminta maaf karena telah menghabiskan makanan dan persediaan air Nenek tua.

Nenek tua memaafkan. Ia juga mengizinkan Sumantapura tinggal bersamanya setelah Sumantapura meminta izinnya. Nenek tua menganggap Sumantapura selaku cucunya.

Sejak tinggal bersama Nenek tua, Sumantapura merasa iba pada Nenek tua itu. Tempat kediamannya hanyalah sebuah gubuk yang telah reyot. Ia ingin membalas kebaikan Nenek tua. Ia lalu mengerahkan kesaktiannya. Dirubahnya gubuk reyot itu menjadi sebuah rumah seindah istana. Lengkap dengan segala perabotannya. Berbagai keperluan rumah telah pula disediakannya.

Kehidupan Nenek tua berubah membaik, setelah Sumantapura tinggal bersamanya. Kini tempat tinggalnya sangat megah dan semua kebutuhan hidupnya telah tersedia.

Suatu hari Sumantapura terlihat terdiam. Ia nampak murung.

“Apa yang terjadi padamu hingga engkau terlihat murung, wahai cucuku?”

“Nek, rumah kediaman kita ini sangat besar lagi megah. Namun, terasa lengang karena hanya kita huni berdua,” jawab Sumantapura.

“Lalu, apa keinginanmu?”

“Aku ingin beristri, Nek.”

Nenek tua menganggukkan kepala. “Sebutkan siapa perempuan yang ingin engkau nikahi? Sebutkan, cucuku. Aku akan melamarkannya untukmu.”

Sumantapura menjawab, ‘Aku ingin beristrikan putri sulung Sang Raja, Nek.”

Nenek tua mengetahui Sang Raja memiliki tujuh putri. Kesemuanya sangat cantik wajahnya. Mereka belum bersuami. Pantas jika salah seorang putri raja itu menikah dengan Sumantapura.

Tetapi Sumantapura berpesan ketika Nenek tua nanti melamar. Katanya, “Sekali-kali janganlah Nenek menyebutkan siapa aku yang sesungguhnya. Aku akan merubah diri menjadi telur. Sebutkan namaku La Onto Ontolu ketika melamar.”

Nenek tua keheranan. Mengapa Sumantapura harus bersiasat seperti itu? Padahal, jika Sumantapura mengaku siapa dirinya yang sesungguhnya, ia yakin, putri raja akan menerima pinangan putra Raja Bulan yang sangat tampan lagi sakti itu.

Sumantapura menjelaskan, “Aku ingin mendapatkan istri yang baik hati, Nek. Istri yang bisa menerimaku tanpa mengetahui siapa diriku yang sesungguhnya.”

Nenek tua hanya bisa menuruti. Ia datang menghadap Sang Raja. Ia ungkapkan keinginannya untuk melamar putri sulung Sang Raja untuk cucunya.

“Siapa nama cucumu, Nek?” tanya Sang Raja.

“Namanya La Onto Ontolu, Tuanku Raja.”

Sang Raja tertawa mendengarjawaban Nenek tua. Baru pertama kali itu ia mendengar nama orang seperti itu. Sang Raja mempersilahkan putri sulungnya untuk menjawab sendiri.

“Aku tidak mau bersuamikan seseorang bernama aneh seperti itu,” jawab Putri Sulung Sang Raja.

Nenek tua kembali pulang. Hasil lamarannya dijelaskannya pada Sumantapura.

Sumantapura tidak nampak bersedih. Ia meminta Nenek tua melamar putri kedua Sang Raja.

Putri Kedua Sang Raja juga menolak. Begitu pula dengan Putri Ketiga, Putri Keempat, Putri Kelima, dan Putri Keenam. Mereka tidak bersedia menikah dengan lelaki bernama La Onto Ontolu.

Nenek tua bolak-balik ke istana kerajaan. Kini harapannya tinggal satu, Putri Bungsu Sang Raja. Sesuai permintaan Sumantapura, ia melamar putri bungsu itu.

Berbeda dengan enam kakaknya, Putri Bungsu Sang Raja menerima lamaran Nenek tua.

Tak urung Sang Raja terkejut karenanya. “Putri bungsuku,” kata Sang Raja. “Benarkah engkau bersedia menikah dengan seorang lelaki bernama La Onto Ontolu?”

Putri Bungsu Sang Raja mantap menganggukkan kepala. “Benar, Ayah. Bisa jadi La Onto Ontolu itulah jodoh hamba.”

Sang Raja menyerahkan sepenuhnya keputusan itu pada anak bungsunya. Jika anak bungsunya menerima, ia juga menerimanya.

Nenek tua senang mendengar keputusan Sang Raja dan Putri Bungsu Sang Raja. Sebagai tanda telah terjadinya ikatan, Nenek tua memberikan telur raksasa kepada Putri Bungsu Sang Raja.

Sepeninggal Nenek tua, Putri Bungsu Sang Raja membawa telur besar itu dan menyimpannya di dalam kamarnya.

Sejak telur besar itu berada di kamar Putri Bungsu Sang Raja, terjadi kegemparan di istana kerajaan. Persediaan air yang melimpah ruah pada sore hari untuk Putri Bungsu, keesokan harinya telah habis tak tersisa. Putri Bungsu bingung dan keheranan. Ia telah bertanya, siapa yang menghabiskan air untuknya, semuanya tidak mengetahui. Kejadian itu berlangsung beberapa hari.

Putri Bungsu berencana menyelidiki. Ia tahu, pengguna air itu akan menghabiskan air pada malam hari. Maka, malam hari itu ia berpura-pura tidur di kamarnya. Mendadak ia melihat sebuah keanehan. Dari telur besar yang disimpan di kamarnya keluar seorang pemuda. Sangat tampan wajahnya. Pemuda, yang tak lain Sumantapura itu, nampak mencoba meyakinkan jika Putri Bungsu telah tidur. Dengan langkah berjingkat-jingkat Sumantapura lalu menuju kamar mandi.

Sumantapura mandi dan menghabiskan semua persediaan air di kamar mandi itu. Setelah mandi, Sumantapura kembali masuk ke dalam telur besar.

Putri Bungsu telah mengetahui rahasia habisnya air di kamar mandinya.

Putri Bungsu mencoba mencari tahu, siapa pemuda yang bersembunyi di dalam telur besar itu. Ia mendatangi Nenek tua. Rahasia Sumantapura terbuka. Putri Bungsu memohon kepada Sang Raja agar segera dinikahkan dengan La Onto Ontolu.

Pernikahan antara La Onto Ontolu dan Putri Bungsu dilangsungkan secera meriah. Terperanjatlah enam kakak Putri Bungsu saat mengetahui siapa La Onto Ontolu. Mereka tak menyangka jika La Onto Ontolu itu pemuda yang gagah lagi sangat tampan wajahnya. Mereka menyesal telah menolak lamaran La Onto Ontolu dan bahkan menertawakannya. Bertambah penyesalan mereka saat mengetahui La Onto Ontolu sesungguhnya adalah Pangeran Sumantapura, pangeran sulung Kerajaan Bulan.

Enam kakak Putri Bungsu sangat iri dengan nasib baik adik bungsu mereka. Rasa iri mereka membesar dan berubah menjadi dendam. Mereka berencana membuat adik bungsu mereka menderita. Mereka bersama-sama memikirkan rencanajahat.

Rencana jahat itu didapatkan. Enam kakak Putri Bungsu lalu mengajak Putri Bungsu dan suaminya untuk berlibur ke laut. Mereka merencanakan mandi air laut. Tanpa curiga, Putri Bungsu menerima ajakan itu. Ia sangat suka berlibur ke laut.

“Jangan lupa,” kata Putri Sulung, “bawalah puan milikmu.”

Puan adalah tempat sirih. Putri Bungsu mempunyai puan kesayangan. Tempat sirih itu sangat indah, terbuat dari emas. Putri Bungsu tidak hanya membawa tempat sirihnya saja, melainkan juga sirih dan bekal lainnya.

Mereka akhirnya berlibur ke laut. Mereka menaiki perahu kerajaan. Ketika perahu telah di tengah laut dan Putri Bungsu sedang bersama suaminya, Putri Sulung diam-diam membuang puan Putri Bungsu ke laut.

“Astaga!” seru Putri Sulung berpura-pura, “Bungsu! Puan-mu terjatuh ke laut!”

Putri Bungsu sangat terkejut. Ia tak ingin kehilangan puan kesayangannya. Ia merengek- rengek kepada suaminya untuk menyelam dan mengambil puan kesayangannya.

“Baiklah,” ujar Sumantapura. Ia bergegas melompat ke dalam laut.

Ketika Sumantapura sedang menyelam, diam- diam kakak Putri Bungsu mengayuh perahu diam- diam. Perlahan-lahan perahu menjauh dari tengah laut, seperti terkena angin laut. Perahu akhirnya menepi ke pinggir laut.

Putri Bungsu hanya bisa menangis sedih. Ia tidak hanya kehilangan puan kesayangan, melainkan juga suami yang dicintainya. Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan hancur. Sementara itu enam kakaknya merasa puas karena telah bisa melampiaskan iri dan dendam mereka.

Putri Bungsu sendirian di kamarnya. Kesedihannya meninggi. Saat tengah malam, ia mendengar suara ketikan pada pintunya.

“Siapa?”

“Aku. Suamimu,” jawab suara itu dari luar. “Lekas buka pintu.”

Putri Bungsu tidak begitu saja percaya. Ia takut kembali diperdaya. Ia biarkan saja ketukan dan panggilan itu.

“Bungsu, aku Sumantapura, suamimu.”

“Tidak!” tegas Putri Bungsu. “Suami tercintaku telah meninggal, tenggelam di laut.”

“Aku masih hidup. Puan kesayanganmujuga telah kutemukan.”

Tetapi Putri Bungsu tetap tidak percaya. Ia khawatir orang itu hanya mengaku sebagai suaminya dan ia bermaksud jahat padanya.

“Baiklah. Jika engkau tidak percaya, aku akan kembali ke Kerajaan Bulan. Puan-mu kutinggalkan di depan pintu ini.”

Putri Bungsu akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamarnya. Benar, dilihatnya puan kesayangannya di depan pintu itu. Sadarlah dirinya jika orang yang mengetuk pintu kamarnya adalah suaminya. Tetapi, ke mana sekarang suaminya?

Putri Bungsu bergegas mencari. Suaminya telah pergi jauh. Putri Bungsu pun berteriak kuat- kuat, “Suamiku! Bawalah aku besertamu!”

Teriakan Putri Bungsu didengar Sumantapura. Bergegas ia kembali untuk menemui istrinya itu. Keduanya kembali bertemu.

“Benar engkau bersedia kubawa pulang ke Kerajaan Bulan?” tanya Sumantapura.

“Ya. Aku ingin hidup bersamamu, di manapun juga engkau berada.”

“Baiklah. Kita akan menuju Kerajaan Bulan. Tapi, ada syarat yang sangat berat yang harus engkau penuhi.”

“Syarat apakah itu, suamiku?”

“Jika engkau mengeluh dalam perjalanan kita nanti, maka seketika itu engkau akanjatuh kembali ke bumi. Apakah engkau bersedia?”

“Aku bersedia,” jawab Putri Bungsu. “Aku tidak akan mengeluh dalam perjalanan kita nanti.”

Sumantapura lalu mengajak istrinya menuju Kerajaan Bulan. Di tengah perjalanan, Putri Bungsu merasa sangat kedinginan. Tanpa sadar, ia pun mengeluh. Maka, seketika itu pula Putri Bungsu terjatuh kembali ke bumi.

Sumantapura tiba sendirian di Kerajaan Bulan. Ia merasa sedih karena tidak bisa bersama istri tercintanya. Ia ingin bersama istrinya. Maka, dimintanya adiknya untuk menjemput istrinya di bumi.

Adik Sumantapura sangat sakti. Dengan kesaktiannya, sekejap saja ia telah tiba di bumi. Ia mengajak Putri Bungsu ke Kerajaan Bulan. Tak perlu waktu lama, Putri Bungsu dan Sumantapura telah bersatu kembali.

Putri Bungsu hidup berbahagia bersama suaminya di Kerajaan Bulan.

 

ORANG YANG SABAR AKAN MENUAI KEBAHAGIAAN DI KEMUDIAN HARI.

La Moelu – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara
La Moelu – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara

Seorang anak lelaki bernama La Moelu. Ia hidup bersama ayahnya yang telah tua. Ibunya telah lama meninggal dunia, ketika La Moelu masih bayi. Karena ayahnya telah tua, La Moelu-lah yang mencari nafkah. Ia mencari ikan untuk mencukupi kebutuhan hidup dirinya danjuga ayahnya. Ikan-ikan hasil tangkapannya itu dijualnya di pasar.

Pada suatu hari La Moelu pergi memancing. Telah seharian ia memancing, tidak seekor ikan pun yang berhasil dipancingnya. Waktu senja pun tiba. La Moelu yang telah berniat pulang menjadi gembira karena mata kailnya ditarik ikan. La Moelu menarik pancingnya. Seekor ikan mungil berada di ujung kailnya. La Moelu keheranan melihat ikan kecil itu. Seumur hidupnya ia belum pernah melihat ikan kecil yang terlihat cantik itu. Maka, dibawanya ikan kecil itu untuk dipeliharanya di rumah. Ikan kecil itu dipelihara La Moelu di dalam daun yang dibentuk menyerupai mangkok.

Ayah La Moelu juga senang dengan ikan kecil yang cantik tersebut. Ia menyarankan agar La Moelu memelihara ikan kecil tersebut di dalam belanga. La Moelu menuruti saran ayahnya. Dimasukkannya ikan kecil itu di dalam belanga dengan diberinya air danjuga makanan yang cukup.

Keesokan harinya La Moelu terperanjat ketika mendapati ikan yang dipeliharanya di dalam belanga itu telah tumbuh membesar hingga sebesar belanga. Tak terkirakan gembiranya La Moelu. “Benar-benar ikan ajaib,” katanya, “tumbuhnya sangat cepat.”

Ayah La Moelu yang turut gembira lantas menyarankan agar ikan tersebut dipelihara di dalam lesung. La Moelu menuruti saran ayahnya. Dimasukkannya ikan peliharaannya itu di dalam lesung yang telah diberinya cukup air. Tak lupa, diberinya pula makanan.

Keajaiban kembali terjadi. Keesokan harinya ikan peliharaan La Moelu tersebut telah bertambah besar hingga sebesar lesung. “Bagaimana ini, Ayah?” tanya La Moelu. “Harus kita pelihara di mana ikan ini?”

Karena tidak ada lagi tempat besar yang dapat menampung ikan itu, Ayah La Moelu menyarankan agar melepaskan ikan itu ke laut. La Moelu lantas membawa ikan itu ke laut.

Ikan itu tampak gembira dilepaskan di laut. Ia berenang mengitari kaki La Moelu seolah-olah mengucapkan terima kasih. La Moelu sangat senang mendapati ikan itu sangat jinak kepadanya. Katanya kemudian, “Wahai ikan, kuberi nama untukmu Jinnande Teremombonga. Jika namamu kupanggil, hendaklah engkau muncul. Aku akan memberimu makanan jika engkau muncul ke permukaan.”

Ikan yang telah diberi nama Jinnande Tere-mombonga itu mengangguk-anggukkan kepala. Ia lantas berenang dengan gembira ke laut lepas.

Sejak saat itu La Moelu setiap hari ke laut untuk memberi makan Jinnande Teremombonga. Setibanya di pinggir laut, La Moelu akan memanggil nama Jinnande Teremombonga. Ikan Itu akan muncul ke permukaan laut dan menghampiri La Moelu dengan gembira. Ia akan menyantap makanan pemberian La Moelu. Ia bahkan kerap bermain-main dengan La Moelu yang sangat menyayanginya.

Pada suatu hari tujuh pemuda mendapati La Moelu yang tengah bercanda dengan Jinnande Teremombonga. Semula tujuh pemuda itu kagum dengan persahabatan erat antara La Moelu dan ikan besar itu. Namun, kekaguman mereka berubah menjadi niat jahat untuk menangkap Jinnande Teremombonga!

Mengetahui cara La Moelu memanggil ikan besar itu, tujuh pemuda itu pun menirunya. Mereka memanggil Jinnande Teremombonga. Seketika ikan besar itu muncul ke permukaan laut dan menghampiri mereka, ketujuh pemuda itu lantas menjerat Jinnande Teremombonga dengan jala besar yang sangat kuat. Meski Jinnande Teremombonga berusaha keras untuk melepaskan diri, namun jala itu sangat kuat hingga usaha ikan besar itu menjadi sia-sia.

Tujuh pemuda itu menyeret Jinnande Teremombonga ke pantai dan menyembelih serta memotong-motongnya menjadi tujuh bagian. Masing-masing pemuda mendapat satu bagian. Mereka lantas membawa daging ikan itu ke rumah masing-masing dengan hati riang. Menurut mereka, bagian daging ikan untuknya itu tidak akan habis dimakannya selama seminggu.

Pada sore harinya La Moelu datang ke pantai dan memanggil Jinnande Teremombonga. Namun, ikan itu tidak muncul seperti biasanya. La Moelu terus memanggil, namun ikan yang sangat disayanginya tidak juga menampakkan diri. Keheranan La Moelu akhirnya tersingkap setelah beberapa orang menceritakan kepadanya perihal telah dibunuhnya Jinnande Teremombonga oleh tujuh pemuda tadi pagi.

La Moelu sangat sedih mendengar ikan kesayangannya itu menemui kematian secara mengenaskan. Ia pun menuju rumah salah seorang pemuda penangkap ikan kesayangannya. Bertambah- tambah sedih hatinya ketika mendapati pemuda itu beserta keluarganya tengah memakan daging Jinnande Teremombonga dengan amat lahapnya. Tulang-tulang Jinnande Teremombonga mereka buang hingga berserakan di sekitar rumah itu.

La Moelu mengumpulkan tulang-tulang Jinnande Teremombonga dan membawanya pulang. Ketika tiba di rumahnya, La Moelu lantas menguburkan tulang belulang itu dl halaman belakang rumahnya. Selesai menguburkan, La Moelu berujar, “Beristirahatlah dengan tenang wahai Jinnande Teremombonga yang sangat kusayangi. Beristirahatlah dengan tenang wahai sahabatku.”

Keesokan harinya La Moelu terperangah ketika mendapati sebuah keajaiban di halaman belakang rumahnya. Ia melihat sebatang pohon tumbuh di tempat ia menanam tulang belulang Jinnande Teremombonga. Pohon yang luar biasa ajaib. Pohon itu berbatang emas, berdaun perak, dan berbuah permata! Banyak pula buahnya.

La Moelu memetik beberapa buah dan menjualnya. Ia terbelalak mendapati buah-buah itu dihargai sangat tinggi oleh pembelinya. Hasil penjualan buah-buah itu sangat mencukupi kebutuhan dirinya danjuga ayahnya. Bahkan, untuk membangun rumah yang indah pun masih juga cukup.

La Moelu yang baik hati itu pun akhirnya hidup berbahagia. Ia dikenal sebagai sosok yang kaya raya di kampungnya. Namun demikian ia tidak menyombongkan kekayaannya. Ia bahkan kerap berbagi kepada orang-orang yang datang dan meminta bantuan kepadanya. Tangannya senantiasa terulur untuk memberikan bantuan kepada yang membutuhkannya.

 

KITA HENDAKLAH MENYAYANGI HEWAN KARENA HEWAN ITU SESUNGGUHNYA CIPTAAN TUHAN SEPERTI HALNYA KITA. HEWAN YANG KITA SAYANGI AKAN MEMBALAS DENGAN KASIH SAYANGNYA PULA.

Dongeng Rusa dan Kura-Kura – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara
Dongeng Rusa dan Kura-Kura – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara

Hiduplah seekor rusa pada zaman dahulu. Ia sangat sombong lagi pemarah. Sering ia meremehkan kemampuan hewan lain.

Pada suatu hari Si rusa berjalan-jalan di pinggir danau. Ia bertemu dengan kura-kura yang terlihat hanya mondar-mandir saja. “Kura-kura, apa yang sedang engkau lakukan di sini?”

“Aku sedang mencari sumber penghidupan,” jawab Si kura-kura.

Si rusa tiba-tiba marah mendengarjawaban Si kura-kura. “Jangan berlagak engkau, hei kura-kura! Engkau hanya mondar-mandir saja namun berlagak tengah mencari sumber penghidupan!” |

Si kura-kura berusaha menjelaskan, namun Si rusa tetap marah. Bahkan, Si rusa mengancam akan menginjak tubuh Si kura-kura. Si kura-kura yang jengkel akhirnya menantang untuk mengadu kekuatan betis kaki.

Si rusa sangat marah mendengar tantangan Si kura-kura untuk mengadu betis. Ia pun meminta agar Si kura-kura menendang betisnya terlebih dahulu. “Tendanglah sekeras-kerasnya, semampu yang engkau bisa lakukan!”

Si kura-kura tidak bersedia melakukannya. Katanya, “Jika aku menendang betismu, engkau akanjatuh dan tidak bisa membalas menendangku.”

Si rusa kian marah mendengar ucapan Si kura- kura. Ia pun bersiap-siap untuk menendang. Ia berancang-ancang. Ketika dirasanya tepat, ia pun menendang dengan kaki depannya sekuat-kuatnya.

Ketika Si rusa mengayunkan kakinya, Si rusa segera memasukkan kaki-kakinya ke dalam tempurungnya. Tendangan rusa hanya mengenai tempat kosong. Si rusa sangat marah mendapati tendangannya tidak mengena. Ia lantas menginjak tempurung Si kura-kura dengan kuat. Akibatnya tubuh Si kura-kura terbenam ke dalam tanah. Si rusa menyangka Si kura-kura telah mati. Ia pun meninggalkan Si kura-kura.

Si kura-kura berusaha keras keluar dari tanah. Setelah seminggu berusaha, Si kura-kura akhirnya berhasil keluar dari tanah. Ia lalu mencari Si rusa. Ditemukannya Si rusa setelah beberapa hari mencari. “Bersiaplah Rusa, kini giliranku untuk menendang.”

Si rusa hanya memandang remeh kemampuan Si kura-kura. “Kerahkan segenap kemampuanmu untuk menendang betisku. Ayo, jangan ragu-ragu!”

Si kura-kura bersiaga dan mengambil ancang- ancang di tempat tinggi. Ia lalu menggelindingkan tubuhnya. Ketika hampir tiba di dekat tubuh Si rusa, ia pun menaikkan tubuhnya hingga tubuhnya melayang. Si kura-kura mengincar hidung Si rusa. Begitu kerasnya tempurung Si kura-kursmengena hingga hidung Si rusa putus. Seketika itu Si rusa yang sombong itu pun mati.

 

JANGAN SOMBONG DAN MEREMEHKAN KEMAMPUAN ORANG LAIN. KESOMBONGAN HANYA AKAN MENDATANGKAN KERUGIAN DAN PENYESALAN DI KEMUDIAN HARI.

Indara Pitaraa dan Siraapare – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara
Indara Pitaraa dan Siraapare – Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara

Cerita dua anak kembar pada masa lampau. Keduanya anak lelaki yang ajaib, karena ketika lahir keduanya telah menggenggam keris di tangan kanan masing-masing. Anak kembar yang pertama bernama Indara Pitaraa dan yang kedua Siraapare namanya.

Indara Pitaraa dan Siraapare tumbuh menjadi anak-anak yang nakal. Keduanya kerap mengguna-kan keris masing-masing untuk alat kenakalan mereka. Keduanya kerap merusak tanaman dan juga membunuh hewan peliharaan penduduk. Penduduk pun menjadi resah karena perbuatan Indara Pitaraa dan Siraapare. Kedua orangtua anak kembar itu juga telah dibuat pusing karena perbuatan Indara Pitaraa dan Siraapare itu.

Kedua orangtua Indara Pitaraa dan Siraapare merasa tak sanggup lagi menghentikan ulah kena-kalan dua anak kembar itu. Ibu dua anak kembar itu akhirnya menyuruh kedua anak kembarnya itu untuk pergi merantau.

Indara Pitaraa dan Siraapare sangat senang disuruh pergi merantau. Sebelum berangkat, ibu dua anak kembar itu membekali dengan tujuh buah ketupat, tujuh butir telur, tujuh ruas batang tebu, dan dua belah kelapa tua. Keduanya juga dibekali dengan tempurung kelapa yang digunakan untuk penutup kepala.

Dua anak kembar itu pun memulai perjalanan merantau mereka. Keduanya menerobos hutan belantara, menyeberangi sungai, menuruni lem¬bah, dan juga mendaki bukit serta gunung. Setiap kali melewati satu gunung, Siraapare meminta waktu sejenak untuk beristirahat. Indara Pitaraa menuruti keinginan adik kembarnya itu. Indara Pitaraa memangku Siraapare sampai tertidur. Setelah Siraapare terbangun, masing-masing dari keduanya lantas memakan satu buah ketupat, satu butir telur, dan seruas batang tebu. Begitu yang mereka lakukan hingga melewati gunung keenam. Ketika keduanya tiba di puncak gunung ketujuh, Indara Pitaraa yang belum pernah beristirahat merasa sangat lelah. Ia meminta waktu untuk beristrahat. Adik kembarnya lantas memangkunya hingga ia tertidur.

Ketika Siraapare tengah memangku Indara Pitaraa, mendadak datang angin topan yang besar. Siraapare lantas membangunkan kakak kembarnya. Indara Pitaraa menyarankan agar mereka menyimpulkan tali pinggang masing- masing agar keduanya tidak terpisah jika diterjang angin topan itu.

Angin topan dahsyat itu menerjang keduanya dan menerbangkan dua saudara kembar itu ke angkasa. Meski Indara Pitaraa dan Siraapare telah erat-erat menyimpulkan tali pinggang masing- masing, namun keduanya terpisahkan setelah terkena terjangan angin topan. Angin topan pun terus menerbangkan dan menjauhkan dua saudara kembar itu. Indara Pitaraa akhirnya jatuh di sebuah wilayah yang tengah diamuk oleh burung garuda. Siraapare jatuh di sebuah wilayah yang tengah dilanda peperangan.

Seperti halnya warga lainnya, Siraapare segera melibatkan diri dalam peperangan. Bersenjatakan keris pusakanya, Siraapare berperang dengan gagah berani. Tempurung kelapa yang diberikan ibunya sangat berguna dalam berbagai peperangan yang diikutinya itu. Aneka senjata tidak mampu melukai kepalanya karena terhalang tempurung kelapa yang dikenakan Siraapare. Dengan kegagahan, kepiawaian, dan keberaniannya, Siraa¬pare lantas dipercaya menjadi pemimpin pasukan. Berkat pimpinan Siraapare, pasukan itu menuai kemenangan. Siraapare akhirnya dipilih menjadi raja wilayah tersebut.

Indara Pitaraa jatuh di sebuah wilayah yang . sepi. Semua penduduk bersembunyi karena takut dimangsa burung garuda ganas. Indara Pitaraa ‘ melihat sebuah rumah yang indah. Ketika ia memasuki rumah itu ia melihat sebuah gendang besar. Indara Pitaraa menepuk gendang besar itu dan terdengar sebuah suara dari dalam gendang besar, “Jangan pukul gendang ini. Burung garuda ganas itu akan datang dan memangsamu!”

Indara Pitaraa terkejut. Dengan kerisnya, disobeknya kulit gendang besar itu. Ia melihat seorang gadis berada di dalam gendang besar dengan wajah pias ketakutan.

Si gadis lantas menceritakan adanya burung garuda ganas pemangsa manusia. Segenap warga dibuat ketakutan karenanya.

“Jangan engkau takut,” ujar Indara Pitaraa. “Aku akan menghadapi burung garuda ganas itu.”

Si gadis kembali menjelaskan, burung garuda iitu akan datang jika cuaca tampak mendung. Burung garuda ganas itu akan hinggap di atas dahan pohon mangga macan.

Indara Pitaraa menunggu kedatangan burung garuda ganas itu ketika cuaca terlihat mendung. Seketika melihat adanya orang, burung garuda itu pun lantas meluncur untuk menyambar. Namun, sebelum burung garuda itu menyambarnya, Indara Pitaraa telah melompat dan bertengger di dahan pohon mangga macan. Burung garuda itu kemudian meluncur menuju dahan pohon mangga macan, Indara Pitaraa telah melompat ke atas tanah. Begitu seterusnya yang terjadi hingga burung garuda gan^s itu akhirnya kelelahan. Ketika itulah Indara Pitaraa menyerang dengan menggunakan kerisnya. Burung garuda ganas itu pun mati terkena keris pusaka Indara Pitaraa.

Negeri itu pun kembali aman dan damai. Segenap warga merasa lega karena burung garuda ganas yang mereka takuti telah mati. Mereka mengelu-elukan Indara Pitaraa. Sebagai balas terima kasih, mereka menikahkan Indara Pitaraa dengan Si gadis yang bersembunyi di dalam gendang besar yang ternyata adalah putri raja.

Indara Pitaraa melanjutkan perjalanannya. Tibalah ia di sebuah negeri yang telah ditaklukkan oleh seekor ular besar. Ia tiba di sebuah rumah besar. Dilihatnya orang-orang di dalam rumah itu tengah mendandani seorang gadis berwajah cantik. Sangat mengherankan, orang-orang itu mendadani Si gadis seraya menangis.

“Apa yang terjadi?” tanya Indara Pitaraa.

Orang-orang pun menjelaskan jika mereka hendak mempersembahkan Si gadis kepada ular besar yang berdiam di sebuah gua. Jika mereka tidak mempersembahkan Si gadis, ular besar itu akan datang ke negeri itu dan mengamuk. “Ular besar itu akan memangsa semua warga negeri ini jika tidak diberi persembahan,” kata seorang warga.

“Janganlah kalian takut,” ujar Indara Pitaraa. “Biarkan ular besar itu datang ke sini. Aku akan menghadapinya.”

Tidak berapa lama kemudian ular besar itu benar-benar datang. Ia tampak sangat marah karena terlambat diberikan persembahan. Gadis yang dijanjikan warga untuk persembahan kepadanya tidak juga kunjung tiba. Ia mengancam akan memangsa seluruh warga. Ular besar itu langsung menuju rumah Si gadis dan bertemu dengan Indara Pitaraa yang terlihat siap melawannya.

Ular besar itu langsung menyerang Indara Pitaraa. Ia memagut dan menelan Indara Pitaraa. Sangat mengherankan, Indara Pitaraa dapat keluar dari tubuh ular besar itu tanpa terluka sedikit pun juga. Kembali ular besar itu memagut dan menelan Indara Pitaraa, namun kembali pula Indara Pitaraa dapat keluar dari tubuh ular besar itu dengan selamat. Berulang-ulang hal itu terjadi hingga ular besar itu akhirnya kelelahan.

Indara Pitaraa akhirnya menyerang ular besar itu dengan keris pusakanya. Serangannya me¬matikan hingga akhirnya ular besar itu pun mati. Tubuh ular besar itu terpotong-potong, daging tubuhnya terhambur hingga memenuhi wilayah yang luas.

Segenap warga negeri itu bergembira men-dapati ular besar itu telah mati. Mereka pun mengangkat Indara Pitaraa sebagai raja mereka. Indara Pitaraa memerintah dengan adil dan bi¬jaksana hingga segenap rakyat yang dipimpinnya bertambah makmur dan sejahtera.

Waktu terus berlalu. Siraapare yang tetap bertakhta sebagai raja pada suatu hari mengadakan perjalanan. Ia tiba di negeri yang dipimpin Indara Pitaraa. Pertemuan antara dua saudara kembar itu pun terjadi. Keduanya segera terlibat dalam pembicaraan penuh kerinduan. Keduanya juga sepakat untuk pulang ke kampung halaman mereka guna menengok kedua orangtua mereka. Tak berapa lama kemudian Indara Pitaraa dan Siraapare berangkat menuju kampung halaman mereka. Masing-masing membawa istri.

Syahdan, sepeninggal dua anak kembarnya dahulu, kedua orangtua Indara Pitaraa dan Si¬raapare amat berduka. Mereka terus menangis dengan menelungkupkan wajah pada bantal kapuk. Bertahun-tahun mereka menangis, hingga biji-biji kapuk yang terdapat di dalam bantal pun tumbuh menjadi tanaman kapuk karena tersirami airmata mereka. Ketika mendapati dua anak kembar mereka telah kembali, mereka segera mengangkat kepala mereka dari bantal kapuk. Tak terkirakan gembira dan bahagia hati mereka mendapati kedua anak mereka telah kembali dan keduanya telah pula menjadi raja. Bertambah- tambah kegembiraan mereka mendapati dua anak kembar mereka kembali bersama istri-istri mereka.

Sebagai wujud kegembiraan hati keduanya, kedua orangtua Indara Pitaraa dan Siraapare itu mengadakan pesta yang dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam.

 

HUBUNGAN ANTARSAUDARA HINDARLAH SENANTIASA TERUS DIPERKUAT. KEBERSAMAAN DI ANTARA SAUDARA AKAN DAPAT MENJADI KEKUATAN YANG AMPUH UNTUK MENANGGULANGI MASALAH ATAU SESUATU YANG BERAT.

Si Kentang – Cerita Rakyat Sulawesi Tengah
Si Kentang – Cerita Rakyat Sulawesi Tengah

Seorang janda miskin tinggal sendirian. Rumahnya berupa gubuk kecil. Sehari-hari ia menumbuk padi. Bukan padi miliknya, melainkan milik Sang Raja. Ia hanya buruh upahan. Upah yang diterimanya hanyalah butir-butir beras kecil. Upah itulah yang dimasaknya untuk dijadikannya makanan sehari-hari. Untuk sayuran, Si Janda mencari tanaman sayur di tepi sungai atau di pinggir hutan, ia tinggal memasaknya.

Suatu hari Si Janda pulang dari istana. Ia telah menyerahkan beras hasil tumbukkannya. Ia juga telah mendapatkan upahnya. Si Janda kembali pulang melewati pinggir sungai. Ia ingin memetik kangkung liar yang banyak tumbuh di pinggir sungai itu.

Ketika memetik kangkung liar, Si Janda melihat seekor ketang. Hewan kecil itu terlihat lucu dan menggemaskan. Mata kecilnya menatap ke arah Si Janda. Si Janda sangat tertarik. Ia lalu menangkap ketang itu dan membawanya pulang. Si Janda berniat memeliharanya.

Si Janda memelihara ketang itu di dalam belanga. Katanya, “Ini rumahmu yang baru. Engkau dapat tinggal dengan nyaman dan aman di rumahmu yang baru ini.”

Tanpa diduga Si Janda, ketang itu ternyata bisa berbicara seperti manusia!

“Terima kasih, Mak,” jawab ketang.

Si Janda sangat terkejut. Namun sejenak kemudian ia merasa senang. Kini ia mempunyai kawan berbicara. Ia tidak lagi kesepian. Setiap hari Si Janda mengajak ketang itu berbincang-bincang. Ia malah menganggap ketang itu laksana anak kandungnya sendiri. Diberinya nama untuk hewan kecil itu sesuai nama asalnya, Ketang.

Waktu berlalu. Ketang tumbuh besar.

Suatu hari Ketang nampak murung. Sikapnya lesu. Tidak bersamangat makan. Si Janda keheranan. “Apa yang membuatmu seperti itu, Anakku?” tanyanya.

“Mak,” ujar Ketang. “Apakah Mak benar-benar menganggapku sebagai anak?”

“Tentu saja, Anakku,” jawab Si Janda.

“Jika aku meminta sesuatu, apakah Mak akan mengabulkannya?”

“Jika Makmu ini mampu, Mak akan berusaha memenuhi permintaanmu, Anakku,” jawab Si Janda. “Sebutkan, apa yang ingin engkau kehendaki?”

“Mak, aku telah dewasa. Sudah saatnya aku mempunyai istri.”

Si Janda tertawa. “Jika itu maumu, mudah kulaksanakan,” ujar Si Janda. “Tunggulah sebentar. Aku akan mencarikan ketang betina untuk menjadi istrimu.”

“Mak, aku tidak ingin mempunyai istri ketang. Aku ingin beristrikan putri raja!”

Si Janda sangat terkejut. Permintaan Ketang sangat sulit ia penuhi. Raja memang mempunyai tujuh putri yang kesemuanya cantik jelita wajahnya. Namun, mana mungkin putri raja itu bersedia menikah dengan ketang?

Si Janda hanya terdiam. Ia sangat bingung.

“Mak, jika Mak tidak mau melamarkan putri Sang Raja, berarti Mak tidak sayang denganku.”

Si Janda akhirnya bersedia memenuhi permintaan Ketang. Ia lalu berangkat menuju istana raja. Dengan berani ia menghadap Sang Raja dan mengungkapkan maksud kedatangannya.

“Apa? Engkau ingin melamar putri sulungku untuk ketang peliharaanmu?”

“Tuanku Raja, ketang itu anak hamba. Ia ketang istimewa. Ia dapat berbicara seperti manusia.”

“Tidak!” tegas jawaban Sang Raja. “Aku tidak akan menikahkan putri sulungku dengan ketang peliharaanmu itu!”

Si Janda pulang dan menceritakan kejadian yang dialaminya pada Ketang. Namun, Ketang tetap memaksanya untuk kembali melamar putri raja, katanya, “Jika Putri Sulung tidak diperbolehkan untuk menikah denganku, bisa jadi putri kedua akan bersedia, Mak.”

Karena rasa sayangnya pada Ketang, keesokan harinya Si Janda kembali menghadap Sang Raja. Ia meminang putri kedua Sang Raja. Jawaban Sang Raja tetap, ia menolak pinangan Si Janda. Berturut- turut dalam beberapa hari Si Janda melamar putri ketiga, keempat, kelima, dan keenam Sang Raja. Berturut-turut pula Sang Raja menolak lamarannya.

Untuk kesekian kalinya, Si Janda kembali datang menghadap Sang Raja. “Tuanku Raja,” katanya, “perkenankan hamba melamar putri bungsu Tuanku Raja untuk Ketang, anak hamba.”

Sang Raja sesungguhnya telah jengkel menjawab lamaran Si Janda. Ia lalu memanggil putri bungsunya.

“Putri bungsuku,” kata Sang Raja. “Perempuan tua ini berminat melamarmu untuk ketang peliharaannya. Apakah engkau bersedia menerima pinangannya?”

Putri bungsu sesungguhnya mengetahui, telah enam kali Si Janda datang menghadap ayahandanya. Ia bisa merasakan, betapa sayangnya Si Janda pada ketang. Ia merasa iba pada Si Janda. Maka jawabnya, “Hamba bersedia, Ayahanda. Barangkali, Ketang itulah suami hamba.”

Sang Raja sangat terkejut. Ia tidak menyangka jika putri bungsunya bersedia menikah dengan ketang.

“Pikirkan baik-baik, Putri Bungsuku,” kata Sang Raja mengingatkan. “Engkau akan dinikahkan dengan seekor ketang!”

Tetapi, Putri Bungsu tetap menyatakan kesediaannya.

Sang Raja memikirkan cara untuk menggagalkan rencana pernikahan itu. Maka katanya, “Jika memang engkau bisa memenuhi syarat yang kuajukan, kuperkenankan putri bungsuku menikah dengan ketang peliharaanmu itu.”

“Ampun Tuanku Raja, syarat apakah yang Paduka kehendaki?”

Sang Raja meminta syarat yang luar biasa berat. Ia meminta dua belas kereta yang penuh beriSi beras, tiga ratus ekor sapi, tiga ratus ekor kerbau, tiga ratus ekor kambing, dan perhiasan intan yang tak terhitung jumlahnya.

“Itulah syarat yang kuajukan,” kata Sang Raja.

Si Janda pulang dengan hati sedih. Ia merasa tidak akan dapat memenuhi syarat yang diajukan Sang Raja, jangankan dua belas kereta yang penuh beriSi beras, sekarung kecil beras pun ia tidak punya. Jangankan beratus-ratus sapi, kerbau, dan kambing, seekor hewan ternak piaraan pun ia tidak memiliki. Apalagi perhiasan intan. Bahkan, seumur hidupnya, belum pernah ia memiliki intan meski secuil kecil!

“Bagaimana hasil lamaran kita, Mak?” tanya Ketang ketika melihat Si Janda pulang.

Si Janda menyebutkan syarat yang diajukan Sang Raja agar Ketang dapat menikahi Putri bungsu Sang Raja.

Diam-diam tanpa diketahui Si Janda, Ketang lalu berdoa, memohon kepada Tuhan.

“Ya Tuhan, jika hamba ini orang sakti, datangkan rumah indah lengkap beserta gudang-gudang beras dan kandang-kandang hewan dari langit.”

Permohonan Ketang dikabulkan Tuhan. Berselang sesaat setelah Ketang berdoa, sebuah rumah indah berdiri megah di tempat itu. Di belakang rumah itu berdiri gudang-gudang besar. Berkarung-karung beras terdapat di dalam gudang-gudang besar itu. Di samping gudang-gudang besar itu terlihat kandang-kandang hewan. Ratusan ekor sapi, kerbau, dan kambing di dalam kandang-kandang. Riuh rendah suara mereka.

Tak terbilang terkejutnya Si Janda melihat semua itu. Ia serasa bermimpi. Namun, semuanya itu nyata di depannya.

“Mak,” kata Ketang. “Apakah itu semua cukup untuk memenuhi syarat Sang Raja?”

Si Janda menggelengkan kepala. “Ingat,” katanya, “Sang Raja meminta intan dalamjumlah tak terhingga banyaknya.”

“Intan-intan itu berada di gudang paling ujung, Mak. Semuanya sudah kusiapkan,”jawab Ketang.

Terbelalaklah Si Janda saat membuka pintu gudang paling ujung. Isinya intan yang luar biasa banyaknya, memenuhi gudang besar itu.

Hari itu juga Si Janda membawa semua syarat yang diminta Sang Raja. Ketang turut serta. Ia dimasukkan ke dalam keranjang kecil.

Sang Raja tidak bisa lagi mengelak. Pernikahan antara putri bungsunya dan Ketang pun dilangsungkan. Sangat meriah pesta pernikahan itu. Putri bungsu berseri-seri wajahnya meski suaminya hanyalah seekor ketang.

Setelah menikah, Ketang tinggal di istana. Ketang tetap tinggal di dalam keranjang yang diletakkan di dalam kamar istrinya.

Putri bungsu dan enam kakaknya merasa heran dengan kelakuan Ketang. Setiap hari Ketang menghabiskan banyak air untuk mandi. Tujuh hingga delapan tempayan air bisa dihabiskan Ketang untuk sekali mandi. Persediaan air di dalam istana sering habis untuk memenuhi kebutuhan mandi Ketang.

Putri bungsu keheranan dengan kelakuan suaminya. Setelah pernikahan mereka berumur tujuh hari, Putri Bungsu ingin mengetahui mengapa suaminya begitu banyak menghabiskan air. Putri bungsu menunggu. Ketika suaminya tengah mandi, bergegas ia melihat iSi keranjang. Dilihatnya sebuah benda menyerupai ketang. Putri bungsu membawa benda itu dan dilemparnya ke tanah. Benda menyerupai ketang itu pun berubah menjadi asap dan kemudian menghilang.

Putri bungsu kembali ke kamarnya. Ia terperanjat mendapati seorang pemuda gagah yang sangat tampan wajahnya berada di kamarnya.

“Siapa engkau?” tanya Putri bungsu.

“Namaku Pangeran Lagaligo,” jawab pemuda itu. “Akulah suamimu.”

Pangeran Lagaligo menjelaskan, ¡a sengaja merubah diri menjadi seekor ketang untuk mendapatkan istri yang baik hati. Dan kini ia telah mendapatkannya.

Tak terkirakan senangnya Putri bungsu setelah mengetahui. Ia pun hidup berbahagia bersama pangeran tampan yang sangat sakti itu. Enam kakaknya hanya bisa memandang iri kepadanya. Mereka menyesal mengapa dahulu menolak pinangan Si Janda untuk dinikahkan dengan pangeran tampan lagi sakti yang menjelma menjadi ketang itu.

 

JANGAN GEGABAH DAN BURU_BURU MENILAI SESEORANG DARI PENAMPILAN LUARNYA.

Asal Mula Ikan Duyung – Cerita Rakyat Sulawesi Tengah
Asal Mula Ikan Duyung – Cerita Rakyat Sulawesi Tengah

Sepasang suami istri bersama tiga anak mereka pada zaman dahulu. Keluarga itu hidup dari hasil berkebun dan juga menangkap ikan.

Pada suatu hari sang Ayah mendapatkan ikan dalam jumlah cukup banyak. Sang Ibu lantas memasaknya untuk sarapan. Cukup banyak ikan yang tersedia untuk mereka hingga tidak habis untuk mereka makan pagi itu. Sebelum berangkat ke kebun, sang Ayah berpesan pada istrinya agar menyimpan ikan yang tersisa. “Nanti sore sepulang dari berkebun, aku akan memakannya,” kata sang Ayah.

Sang ibu menyimpan ikan tersebut di tempat penyimpanan makanan dan menutupnya rapat-rapat.

Pada siang harinya ibu dan tiga anaknya itu kembali makan. Si anak bungsu mendadak minta makan dengan lauk ikan. Tidak ada ikan yang tersisa ketika itu kecuali ikan yang diperuntukkan bagi sang Ayah. Namun Si anak bungsu tetap bersikeras meminta. Ia bahkan menangis seraya mengguling-gulingkan tubuhnya. Sang ibu yang tidak tega akhirnya terpaksa memberikan ikan yang diperuntukkan suaminya. Si anak bungsu langsung memakan ikan itu dengan lahap.

Pada sore harinya, sang Ayah pulang dari berkebun dengan perut lapar dan tubuh lelah. Seketika tiba di rumah, sang Ayah minta dihi¬dangkan makanan. Ia ingin makan dengan lauk ikan kegemarannya. Seketika tidak mendapati ikan kegemarannya, sang Ayah langsung mena¬nyakannya, “Kemana ikan yang tadi pagi kuminta untuk engkau simpan, Bu?”

Sang Ibu lalu menjelaskan kejadian yang dialaminya dan menyatakan jika ikan itu telah dimakan anak bungsu mereka.

Sang Ayah menjadi sangat marah. Ia tidak bisa menerima kenyataan jika ikan itu telah di¬makan anak bungsunya. Begitu pun ia tidak mau memaafkan istrinya meski istrinya telah berulang- ulang memohon maaf padanya. Ia bahkan meminta agar istrinya harus bertanggung jawab dengan mencari ikan sebagai ganti ikan yang telah dimakan anak bungsunya. “Jangan engkau pulang sebelum engkau membawa ikan!”

Sang Ibu pun pergi dari rumah dengan hati yang amat sedih. Ia pergi menuju laut. Sang Ibu seperti tak lagi peduli dengan laut yang akan dapat menenggelamkannya.

Keesokan harinya tiga anak itu mencari ibu mereka. Si bungsu yang masih menyusu terus saja menangis dan memanggil-manggil nama ibunya. Tiga anak itu menuju ke laut karena beranggapan ibunya tengah mencari ikan di laut.

Sesampainya mereka di pantai, tiga anak itu tidak menemukan ibu mereka. Mereka lantas memanggil-manggil nama ibu mereka. Betapa terperanjat bercampur gembiranya hati mereka saat mendapati ibu mereka muncul dari dalam laut dengan tubuh basah kuyup.

Sang Ibu lantas menyusui anak bungsunya. Setelah anak bungsunya itu puas menyusu, ia pun meminta tiga anaknya itu untuk kembali ke rumah. “Ibu / nanti menyusul, setelah mendapatkan ikan,” katanya.

Ketiga anak itu pun akhirnya kembali pulang ke rumah. Semalaman mereka menunggu, ibu mereka tidak juga pulang. Keesokan harinya, tiga anak itu kembali ke pantai. Kembali mereka memanggil-manggil ibu mereka.

Sang Ibu muncul dari dalam laut. Ia meng-hampiri tiga anaknya dan berniat menyusui Si bungsu. Namun ketiga anaknya memandang heran sekaligus takut padanya. Tubuh sang ibu tampak bersisik-sisik layaknya ikan. Si bungsu bahkan enggan disusui ibunya yang terlihat aneh itu.

Meski sang ibu terus meyakinkan jika dirinya ibu tiga anak itu, namun tiga anak itu me-ragukannya.

“Ibuku cantik wajahnya dan halus kulitnya,” kata Si sulung. “Bukan berkulit ikan sepertimu.”

Tiga anak itu berlari menjauhi sang Ibu. Mereka terus berlarian di pantai hingga sang Ibu kembali menyelam ke dalam laut. Tiga anak itu kemudian kembali memanggil-manggil ibu mereka, sang Ibu kembali muncul dari dalam laut. Namun, wujudnya semakin menakutkan. Semakin banyak sisik yang memenuhi tubuhnya. Tiga anak itu kembali berlari menjauh saat sang ibu mendekati mereka.

Begitu seterusnya. Setiap kali tiga anak itu memanggil nama ibu mereka, setiap kali itu pula sang ibu muncul dari dalam laut dengan wujud yang semakin terlihat menakutkan. Kemunculan terakhir sang Ibu sangat mengejutkan sekaligus menakutkan tiga anaknya. Seluruh kulit sang Ibu telah dipenuhi sisik dan kedua kakinya telah berubah menjadi ekor ikan.

Sang ibu telah berubah wujud menjadi manusia ikan.

Masyarakat SulaweSi Tengah percaya, sang Ibu itulah yang menjadi asal usul ikan duyung yang terdapat di laut SulaweSi Tengah.

 

PERINTAH ORANGTUA HENDAKLAH KITA PATUHI. SELAIN ITU, JANGAN SUKA MARAH KARENA KEMARAHAN HANYA AKAN MERUGIKAN DIRI KITA DI KEMUDIAN HARI.